CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea9294a28c9911c9a513e41/resolusi-love-part-1

Resolusi Love Part 1

“Aku membenci kantor ini, tapi cinta dengan seluruh isinya.”

Rasanya ingin segera pulang. Kewarasan Tiar bisa kadaluwarsa kalau terus-terusan begini. Baru saja selesai satu pekerjaan, muncul yang lain. Namun, rutinitas ini adalah cita-cita wanita berkulit kuning langsat itu. Duduk di balik meja kerja dengan setelan rapi yang terlihat sebagai wanita mapan.

“Kenapa muka di tekuk begitu?” Maya---rekan kerja Tiar---bertanya ketika melihat Tiar menjatuhkan badan di kursi depan meja kerjanya. Dia partner kerja Tiar selama setahun terakhir.

“May, ini jam berapa?” Tiar menekuk muka dengan malas.

“Jam 5,” jawab Maya seenaknya tanpa melihat jam dinding.

“Pagi apa sore?”

Maya memutar bola matanya. “Lo mulai gila ya? Jelas sorelah.” Sekali lagi Maya menjawab dengan gemas sambil membereskan meja kerjanya.

“Gue tanya, kenapa malah ikut nanya?” Tiar menggerutu tak bersemangat. Karena semangatnya sudah sirna dengan melihat porsi kerjanya yang luar biasa. Energinya terkuras habis akhir-akhir ini.

“Kapan kita bisa pulang menatap matahari, May?” Tiar mulai mengeluh lagi. Rasanya tidak ada yang benar dengan pekerjaannya. Apalagi tentang keberadaannya di kantor ini. Gadis itu melihat penampilannya di cermin. Rambutnya masih rapi seperti pagi tadi, make up juga tidak berantakan meskipun sedikit luntur.

“Lo habis diapain sama Pak Alex?” Maya mengerutkan keningnya. Dia hafal sekali, setiap Tiar keluar dari ruangan Alex, air matanya yang meleleh pasti sudah kering begitu sampai di meja kerjanya. Terlihat dari cermin yang masih menempel di tangan kiri Tiar.

“Sebel gue. Pengajuan gue di tolak ‘Ibu Suri’. Dan itu karena kondisinya tidak sama dengan yang didapat kantor pusat.”

Sebenarnya, Tiar sangat ingin melempar berkas invoice suplier yang dikembalikan padanya. Ibu Suri adalah sebutan untuk ibu komisaris yang galaknya tiada ampun. Iya, karena galaknya, seluruh anak buahnya memberi julukan Ibu Suri. Dan Alex, dia adalah Branch Manajer untuk cabang kami. Atau, jongos elite yang diberi kuasa untuk memerintah kami para jongos kasta sudra. Parah sekali, kan? Untungnya cakep, tinggi, berkulit putih, good looking. Pokoknya idaman sangat buat kaum hawa. Satu lagi, kabarnya dia masih jomblo. Kalau informasinya tidak meleset.

“Eh, sumpah deh. Akhir-akhir ini si bos juga lebih sering ngamuk.” Maya membenarkan gerutu Tiar.
Tiar menunduk meratapi berkas yang ada di atas mejanya. Memang benar sekali, setiap masalah rasanya sudah sepaket dengan korek beserta bensin. Begitu tersulut sedikit, berkobarlah seisi kantor.

Gadis itu sadar, tidak harapan yang dia nantikan di kantor ini. Perbaikan nasib juga rasanya mustahil. Sesuatu yang pasti hanya keadaan emosinya yang semakin memburuk.

“Ini Mbak Rena ke mana sih?” Tiar melihat meja seberangnya kosong. Ruangan itu terisi oleh empat orang, tiga di antaranya adalah Maya, Rena, dan Sinta.

“Katanya sakit. Tadi gue lihat OB ngasih surat ijinnya ke Pak Alex,” jawab Maya.

“Kasihan banget, cuti karena sakit. Gue pikir cuti cari pacar. Biar enggak jomblo terus.” Duh ke-ngenas-an kedua juga bagi Tiar. Meski umur sudah seperempat abad lebih, belum ada satu pun cowok yang digandeng.

“Nggak usah komentar. Boro-boro punya pacar. Kehidupan sosial gue raib di telan kantor ini.” Maya tersenyum masam saat mengucapkan kalimat itu.

“Sama, gue juga May. Apa jangan-jangan kutukan di sini kali, ya?” Kali ini Tiar setuju dengan kata-kata Maya. Berbeda sekali dengan bayangannya saat masih pengangguran dulu. Bekerja itu terlihat asyik, mandiri, pegang duit, bisa jalan-jalan, dan bebas membeli apa pun.

“Hus! Sembarangan. Urusin tuh laporan di meja. Hari gini masih aja percaya mistis.” Maya mengambil selembar kertas untuk mencetak dokumen sembari mengutak-atik komputernya.

“Apa gue resign aja ya?” celetuk Tiar yang di sambut tatapan tajam dari Maya dan Sinta yang dari tadi diam menyimak pembicaraan. Resign itu adalah kata sakral yang tidak boleh diucapkan sembarangan. Salah tempat bisa jadi panjang urusannya.

“Ngapain Mbak Tiar?” Sinta terlihat khawatir, karena dia masih di bawah asuhan Tiar sampai empat bulan ke depan. Alias lepas training. Dan belum banyak ilmu yang diserap oleh Sinta. Sehingga dia terlihat panik saat mendengar Tiar berbicara seperti itu.

“Bilang aja, gue resign biar dapet jodoh,” kata Tiar dan disambut dengan tawa keras dari Sinta dan Maya.

“Siapa yang cari jodoh?”

Bapak Alex yang terhormat tiba-tiba keluar dari ruangannya. Semoga dia tidak mendengar percakapan di ruangan itu, terutama masalah out.

Muka Tiar merah padam ketika Pak Alex meletakkan map beserta tumpukkan kertas di dalamnya lalu keluar tanpa menunggu respons mereka.

Oh, my God. Teriak Tiar tertahan di dalam hati. Betapa map itu sangat mengganggu matanya, juga orang yang menaruhnya.

*************
Bersambung...

Part selanjutnya
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93208e3d3970
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 31 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Queenencis

Daftar Part Resolusi Love

profile-picture
riwidy memberi reputasi
Diubah oleh Queenencis

Resolusi Love (Part II): Resolusi Sebulan Sekali, It's Ok!

Part sebelumnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c9911c9a513e42

“Nggak jadi cari jodoh?” celetuk Mbak Rena saat Tiar meletakkan tas di meja kerjanya. Pasalnya, kemarin Mbak Rena cuti saat mereka memperbincangkan masalah jodoh. Lantas, dari mana dia mendapat informasi? Sudah pasti salah satu di antara mereka ada yang membocorkan pada Mbak Rena.

“Ada yang salah?” Tiar menjawab seanggun mungkin setelah meletakkan tas LV cokelatnya di meja. Blazer cokelat terlihat senada dengan roknya membuat penampilannya sedikit lebih menarik.

“Semalam Maya bocor ke gue. Katanya elo kepergok bos mau cari jodoh.” Tiar tidak bisa menahan senyum mendengarnya. Mengingat betapa malunya dia kemarin saat Pak Alex tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Dan sekarang, Tiar hanya tersenyum tidak jelas di depan Mbak Rena.

“Jadi?”

“Apa? Emang kenapa kalo kepergok cari jodoh?” Tiar melotot tajam, menyembunyikan rasa malu yang masih menggelitik hatinya.

“Kapan cuti?” Mbak Rena melanjutkan aksi cecarnya, “buat cari jodoh.”

“Tuh kan. Kumat.” Mbak Rena tak henti merecoki Tiar dengan pertanyaan ajaibnya. Senyum puas tersungging dari mulutnya saat melihat Tiar hanya bisa manyun tanpa bersuara. Sementara tangannya sibuk membetulkan kabel printer yang terhubung dengan komputer.

“Pagi...,” Maya yang baru tiba di kantor, melenggang masuk ruangan dan disusul oleh Sinta.

“Asyik banget ngobrolnya, Mbak,” sapa Sinta.

“Gue cuma mau memastikan. Siapa tahu pas gue menderita di kasur, kalian malah sudah asyik pacaran.”

“Lihatlah, Mbak Rena tidak mau kalah start.” Senyum simpul Tiar tidak bisa disembunyikan saat Mbak Rena mengomel membalasnya. Hari ini masih seperti kemarin untuk Tiar. Meja kerja yang sama, rak, tatanan yang tidak berubah sama sekali. Monoton, seperti hidupnya. Bahkan bolpoin dan pensil pun tetap konsisten pada tempatnya. Menyedihkan sekali pikirnya.

“Enak kali ya, kalau punya cowok. Setiap ada masalah bisa cerita ke doi,” kata Tiar sambil menerawang jauh setelah urusannya dengan kabel selesai. Jangan tanya sampai di mana imajinasinya, yang jelas jauh sekali. Sesuatu yang indah tengah melintas di pikirannya. Mungkin, sisi lain di hatinya memang membutuhkan seseorang yang mampu mengisi ruang yang selama ini kosong. Berharap orang itu mampu memberi warna pada hidupnya. Di usianya yang sudah matang, rasa cemas mulai menghantui. Bagaimana jika sampai rambutnya memutih nanti, tidak ada satu pun kaum adam yang mau bersamanya?

“Memangnya cowok itu tempat buang sial?” Mereka menoleh saat Tomas masuk ruangan tanpa permisi ataupun mengetuk pintu. Suaranya membuyarkan lamunan Tiar.

“Eh, kok tersinggung. Elo cowok ya?” Kalau urusan seperti ini Mbak Rena bisa paling pedas berkomentar. Namun, yang diledek sepertinya tidak menghiraukan sama sekali. Dan dia sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

“Punya kopi?” Tomas sengaja tidak membalas komentar Mbak Rena dan mengaduk-aduk kotak kecil di sebelah dispenser. Dia berharap menemukan apa yang dicarinya. Nyatanya tidak ada sesuatu di dalam kotak putih dengan pelapis hitam di kedua sisinya itu. Tiar melempar sebungkus kopi kemasan padanya.

“Eh, stop!” Tiar menghentikan Tomas saat dia akan mengisi cangkirnya dengan air dari dispenser ruangannya.

“Kenapa?” tanya Tomas bingung.

“Jangan ambil di situ. Kaum hawa nggak ada yang bisa refill galon.” Alih-alih menurut, pura-pura tidak dengar, iya. Dasar Tomcat payah. Nama panggilan Tomas yang diberikan oleh Tiar.

“Pelit amat sih. Ntar gue buat jungkir balik tuh galon. Buat kalian,” katanya mantap.

“Halah gombal doank. Paling-paling juga nyuruh OB,” cecar Maya.

“Pantesan kalian semua nggak ada yang punya pacar. Galak semua gitu.”

“Biarin. Minimal gue pernah pacaran. Emang elo,” kata Tiar sambil menunjuk Tomas dengan menggerakkan dagunya, “Gue doain jadi jomblo abadi baru tau rasa lo.”

“Kalau ngomong hati-hati ya,” Tomas tidak mau mendengar kata-kata Tiar. Sebagai balasannya, dia mulai menggoda Sinta. Anak baru yang tidak akan seberani Tiar dan Mbak Rena untuk memberi komentar pedas kepada Tomas. Melihat itu, Tiar seakan tidak rela. Dia tidak ikhlas jika Sinta jatuh ke dalam rayuan Tomas.

“Sin, lo mau daftar nggak?” Tiar kembali merecoki mereka. Tetapi, Sinta yang dipanggil justru bengong.

“Daftar apa Mbak?” tanyanya bingung.

“Daftar jadi bininya Tomas. Paling pagi sore suruh cuci, jemur, setrika baju,” ledek Tiar sambil tertawa. Apalagi melihat Tomas yang raut wajahnya semakin jelek.

“Mbak Tiar mau?” Sinta bertanya balik kepada Tiar. Dia mulai hafal dengan perdebatan sengit yang terjadi jika Tomas bertemu dengan Tiar.

“Ntar kalau dia udah jadi bos,” sahut Tiar ringan.

“Ooo, jadi selera Lo om om bos sekarang?” candanya sambil tertawa. Tomas seperti mendapat peluru tambahan untuk menyerang gadis yang sibuk mencecarnya.

Karena sebal, Tiar melempar tisu ke mulutnya lalu menekan tombol power komputer di meja kerjanya. Gadis itu mengaduk tas dan mengeluarkan ponselnya. Setangkai sedap malam yang dia beli saat berangkat tadi dia letakkan pada vas di sebelah kiri komputer. Tiar suka aroma sedap malam.

“Alex tuh masih nganggur.” Tomas masih melanjutkan bicara meskipun Tiar sudah memasang muka paling jelek sedunia.

“Beneran Pak Alex masih jomblo, Kak Tom?” Sinta mulai penasaran. Secara pria matang, cakep, dompetnya tebal dan tidak pernah terlihat jalan dengan wanita mana pun.

“Kenapa? Lo mau daftar? Jangan donk, ntar gue patah hati,” balas Tomas yang tidak lucu sama sekali. Memang lidah lelaki itu terlalu licin untuk membuai para wanita, tetapi anehnya, tidak ada satu pun wanita yang berhasil Tomas rayu.

“Jangan!” bisik Tiar yang dapat di dengar Sinta. Sinta mengerutkan keningnya mendengar itu. “Sayang banget Sintanya dapet elo.” Tiar melanjutkan kalimatnya yang terputus dan membuat semua orang menoleh padanya. Mbak Rena dan Maya tertawa mendengar bisikan Tiar. Suaranya mampu didengar mereka walaupun pelan.

Meskipun penuh dengan keributan, pada dasarnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Salah satu alasan yang membuat Tiar bertahan di kantor ini adalah pertemanan mereka.

“Nggaklah, Kak. Takut gue sama Pak Alex. Ganteng iya, tapi galaknya nggak ketulungan,” ucap Sinta menanggapi Tomas.

“Pantes pada nggak berani jadi ceweknya.” Tiar bergumam sendiri menarik kesimpulan dari kalimat Sinta. Padahal itu hanya ucapan spontan. Tanpa berpikir dan tidak bermaksud apa pun.

“Emang setua apa Tom?” tanya Tiar kepada Tomas.

“Ya kira-kira tiga puluhan lebih dikitlah.” Tomas menjawab sambil meminum kopi buatannya sendiri.

“Lebih sembilan setengah? Bujang lapuk itu mah.” Tiar menanggapi jawaban Tomas.

“Uzur.” Maya ikut meramaikan aksi hujat mereka. Mbak Rena hanya bisa membekap mulutnya karena tiba-tiba Pak Alex keluar dari ruangannya.

“Morning all,” sapanya.

“Morning, Sir,” sahut mereka kompak.

“Tumben Tomas di sini?”

“Minta kopi, Pak,” jawab Tiar.

“Buat kopi, Pak,” kata Tomas meralat jawaban Tiar sambil mengangkat gelasnya. Karena Tomas tahu, kata yang keluar dari mulut temannya adalah sumber musibah baginya. Beruntung yang diajak bicara hanya mengangguk kemudian berlalu dari ruangan itu dan melontarkan senyum singkat sebelum meninggalkan mereka.

“Gila, kalo lagi waras keren habis.” Maya hampir berteriak.

“Lo mau? Bungkus May,” cibir Tiar.

“Halah. Paling kalau di tembak dia, elo juga klepek-klepek.” Maya tidak mau kalah dan Tiar hanya menggidikkan bahu.

“Telinga gue geli banget nih denger omongan elo,” komentar Tiar sambil duduk di kursi kerjanya setelah memasukkan beberapa map di filling cabinet. “Udah diem semua. Lo tau, yang di sini semua jomblo. Kita taruhan aja, siapa yang paling cepat dapat pacar, gue traktir deh,” kata Tiar sedikit songong.

“Gue setuju. Dan senangis-nangisnya kita di sini, belum boleh mengundurkan diri sebelum dapat pacar,” tambah Mbak Rena.

"Gue nggak setuju.” Semua melotot ke arah Tomas. “Kalian tidak boleh keluar kerja sebelum kita komplit dapat pacar semua,” lanjutnya tanpa dosa dan tetap optimis akan mendapat pacar paling cepat. Dasar Tomas, padahal kesaktiannya mendekati cewek tidak semulus playboy kampung. Dia masih kalah jauh.

“Wah itu kejam, Bro.” Tiar tidak terima. Cita-cita Tiar adalah secepatnya angkat kaki dari sini. Dia berharap nasib baik berpihak kepadanya. Di terima di perusahaan BUMN misalnya.

“Siapa yang setuju usul Gue?” Tomas mencari masa.

“Gue setuju.” Maya langsung mengacungkan jempol ke muka Tomas.

“Gue juga setuju.” Mbak Rena mengikuti jejak Tomas.

“Lo di pihak siapa?” Tiar bertanya kepada Sinta.

“Dua lawan tiga tetap kalah,” kata Sinta sambil menggidikkan bahu.

“Ok. Nggak usah lama-lama. Akhir bulan nanti kita semua udah dapat pacar. Kalau perlu si Bos kita cariin pacar,” ucap Tiar yang terdengar sinis mengaminkan usul Tomas. Resolusi sebulan sekali juga enggak akan membuat miskin. Hanya resolusi gila yang muncul dalam obrolan mereka.

“Siapa yang mau nyariin saya pacar?”
Wajah Tiar memerah. Dia tidak berani menoleh barang sedikit pun. Lagi-lagi suara Pak Alex menggema dari belakang.

Oh my God. Jemputlah saya sekarang juga.


Part selanjutnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb6e9a5259af
profile-picture
riwidy memberi reputasi
Diubah oleh Queenencis
Monggo
profile-picture
riwidy memberi reputasi
emoticon-Ngacir Tubrukan
profile-picture
riwidy memberi reputasi
emoticon-Kiss (S)
profile-picture
riwidy memberi reputasi
keren euy cerbungnya. semoga lanjut dan banyak fans ya.

pertama ni trit nya. sip.
profile-picture
Queenencis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Keren tulisannya selalu enak dibaca 😍 benci dengan tempatnya, tapi cinta dengan seluruh isinya, mungkin termasuk jatuh cinta pada salah satu penghuninya
profile-picture
Queenencis memberi reputasi
Diubah oleh suciasdhan
Lihat 1 balasan

Resolusi Love (Part III) Paranoid

Part sebelumnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93208e3d3970

'Iya, nanti sore saya bisa.' Send.

Tiar menggenggam erat telepon selulernya. Bagai kupu-kupu terbang yang hinggap pada bunga yang sedang mekar. Perasaan lega mengguyur segenap hati Tiar. Tanpa di duga tanpa di sangka, orang yang pernah mencuri hati Tiar semenjak kuliah, mengajaknya bertemu. Sepertinya memang alam semesta berpihak pada Tiar. Gadis itu mengulum senyum sambil meletakkan ponsel di meja.

“Ngapain lo senyum-senyum nggak jelas?” Maya melihatnya penuh tanda tanya.

“Rahasia.” Tiar tersenyum penuh teka-teki. Kali ini adalah kesempatan emas bagi Tiar. Di tengah suasana kantor yang semakin panas, berita ini seperti oase di padang pasir.

“Sudah, ngaku aja mau kencan. Pakai bohong segala.” Maya masih curiga.

“Tuh Sinta kali udah dapet gebetan.” Tiar mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sinta melotot mendengar tuduhan Tiar. “Belum Mbak, kalau mau dicariin juga boleh.”

“Sama Tomas mau?” tanya Tiar super halus dengan nada yang dibuat semanis mungkin.

“Ogah.” Sinta langsung menolak begitu mendengar nama Tomas.

“Si Tomcat kurang apa coba?” Tiar masih senang menggoda Sinta selain membicarakan kejelekan bos yang suka semena-mena kepadanya.

“Kurang kurus Mbak.” Tiar tidak bisa menahan pipinya agar tidak melebar, tapi gagal. Begitu pun Maya.

***

“Gila, gila, gila.” Tomas masuk setengah frustrasi. Dan ketiga wanita itu langsung menutup mulutnya. Mereka bingung melihat Tomas dengan ekspresi seperti itu

“Kenapa Tom?” Tiar melirik Maya ketika berbicara pada Tomas mengisyaratkan sebuah tanda tanya besar. Maya mengangkat bahu sebagai jawaban. Tomas tidak menghiraukan pertanyaan Tiar. Dia berjalan menghampiri Mbak Rena.

“Ren, gue butuh data pelanggan yang ikut program cashback tahun lalu,” mintanya kepada Mbak Rena.

“Lo kenapa?” tanya Mbak Rena sambil mengambil berkas yang di minta Tomas. Tentu saja Mbak Rena kebingungan dengan tingkah Tomas. Dia seperti ketempelan setan.

“Pantesan ya Alex uring-uringan.” Tomas mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. “Dua bulan ini omset kita turun drastis katanya. Dan rupanya team marketing sudah di tekan sejak minggu kemarin.” jawabnya panik.

Mereka masih mencerna kata-kata Tomas. Banyak spekulasi melintas di kepala para wanita itu. Tapi enggak mungkinkan perusahaan ini bakalan bangkrut? Tanpa sadar Tiar menyuarakan isi pikirannya. Sebenarnya jika itu terjadi, Tiar bisa dengan mudah lepas dari perusahaan ini. Tapi mengapa hatinya justru merasa berat dengan kondisi seperti ini. Bagaimana dengan karyawan yang lain?

Maybe..., Alex enggak punya wewenang buat handel pengadaan barang. Semua di handel dari pusat. Orang-orang pilihan ibu suri.” Tomas menyelesaikan penjelasannya.

“Terus?” Tiar belum bisa mencerna apa yang akan terjadi. Pikirannya sangat kalut.

“Dasar Oneng. Masih berani tanya?” Tomas melihat Tiar dengan gemas. “Yang jelas, kita tidak bisa mengatur segalanya sesuai dengan kebutuhan kantor ini,” lanjutnya.

“Kasihan juga ya si Bos.” Tiar ikut prihatin kalau kondisinya seperti ini. Tiba-tiba saja keinginannya punya pacar menguap. Bakal ada lembur berjilid-jilid ini. Dengan porsi kerja seperti ini punya pacar akan semakin menyiksa. Apalagi kalau pas apes, dapat pacar posesif. Lenyap sudah jam tidurnya yang berharga.

“Iya, dan hasil tahun kemarin cabang kita turun di peringkat lima. Peringkat lima Guys. Lo bayangkan gimana ke depannya?" Tomas menunjuk kelima jarinya satu per satu sambil menekankan kalimatnya sendiri.

“Wah bisa-bisa marketing kita jadi rendang nih,” timpal Tiar.

“Bukan cuma marketing. Salah satu dari kalian bisa di tendang juga,” imbuh Tomas.

“Tumben Lo cerdas,” kata Tiar setelah berhasil mencerna kata-kata Tomas. Ini yang bikin Tiar dan teman-temannya khawatir. Terus terang dia masih butuh pekerjaan. Kata resign yang selalu mereka ucapkan selama ini hanya sebuah pelampiasan. Tapi peringkat lima memang penurunan yang drastis dari sebelumnya yang peringkat dua. Kami yakin kinerja semua karyawan di sini sangat maksimal. Begitu juga Tomas dan kawan-kawan.

Tiar melihat Tomas sudah masuk ke ruangan Pak Alex. Ya Tuhan, sepi sekali. Kenapa jadi mencekam begini sih? Telepon di meja Tiar berbunyi. “H-hallo,” jawab Tiar yang sedikit tergagap.

“Ke ruangan saya sekarang.” Telepon di tutup tanpa sempat Tiar menjawab. Tiar menarik napas sebelum masuk ke ruangan maksiat itu.

“Barang dari PT Perdana,” kata Pak Alex setelah pantat gadis itu menempel di kursi depan mejanya. Tiar tercengang mendengar pertanyaan yang begitu keras dilontarkan kepadanya. “Berapa kita dapat diskon?” Pak Alex benar-benar mengerikan jika sudah seperti ini.

“Barang yang mana, Pak? Ada beberapa pembelian di sana.” Tiar berusaha mengatur suaranya. Lututnya sedikit bergetar mendengar raut suram yang mengarah tepat di depan mata.

“Terakhir yang di tolak.”

“18,18%, Pak.”

“Dari mana bisa dapat angka itu?” tanya Pak Alex keras. Seperti ini yang membuat Tiar merasa mual. Team pengadaan barang siapa yang di tanya siapa? “Pantes aja ditolak. Pusat dapatnya dua puluh persen,” cecarnya lagi.

“Dua puluh persen dari harga netto, Pak. Kalau PPn include jatuhnya 18,18%.”
Kenapa sih nggak tanya langsung ke team yang bersangkutan. Paranoid dapat peringkat lima? Itukan intern perusahan saja. Kalau di luar, perusahaan ini masih sangat mendominasi.

Rasa kasihan Tiar ke Si Bos hilang sudah ditelan kuntilanak. Tidak ada lagi rasa hormat yang mampu dia berikan kepada pimpinannya itu. Gadis itu sangat tidak terima diperlakukan seperti ini. Jelas-jelas ini bukan salahnya.

“Muka lusuh lagi,” gumam Mbak Rena saat melihat Tiar keluar dari ruangan kebesaran yang ada di kantor itu.

“Gue lagi badmood.” Itu tanda kalau memang Tiar sedang tidak bisa di ganggu.

***

Tepat Jam tujuh malam Tiar baru sampai di restoran tempatnya bertemu Radit. Semangatnya sudah lenyap, tidak seperti siang tadi saat menerima pesan dari Radit.

“Maaf, lama ya nunggunya?” Tiar merasa bersalah ketika menghampiri meja lelaki yang sudah terlihat bosan.

“Nggak kok.” Lelaki itu menyunggingkan senyum simpul.

Tiar tahu raut wajah Radit sudah kusam. Gadis itu terlambat setengah jam dan tiba di sana masih dengan pakaian kantor. Tiar tahu dia terpaksa tersenyum untuknya.

“Kak, sorry ya?” kata Tiar dengan wajah memelas agar lelaki yang duduk di depannya itu bisa sedikit memberi maaf untuknya.

“Iya.”

“Kalau gitu senyum donk.”

“Bukannya dari tadi juga senyum?”

“Yang ikhlaslah, Kak.” Radit terkekeh melihat Tiar merajuk.

“Baru pulang? Sampai larut begini?" Radit melihat setelan kerja yang masih melekat di tubuh Tiar. Gadis itu mengangguk dan menjatuhkan badannya di kursi yang mereka pesan. Akhirnya bisa juga melepas penat. Dia mengambil buku menu yang disodorkan kepadanya.

“Ini belum larut. Nanti deh aku ceritain kenapa jam segini baru kelar.”

“Mau pesan apa?” tanya Radit yang masih menekuri daftar menu. Nada bicaranya sedikit melunak.

“Ayam penyet level sepuluh.” Tiar menggembungkan pipinya lalu menghembuskan nafasnya. Radit hanya mengerutkan dahinya melihat itu.

“Ada masalah?” Dia tahu betul. Makanan pedas sama dengan tumpukan masalah dikepala Tiar.

“Capek.” Tiar menggeleng pelan. Sulit menjelaskan pada orang lain. Pandangan mata Tiar tertuju pada sebuah meja. Lelaki yang duduk di sana seperti tidak asing. Tiar memasang dan melebarkan matanya dengan baik. What the hell? Mata Tiar sukses membola. Disaat seperti ini dan di tempat ini? Tiar berusaha menutup wajahnya dengan buku menu yang masih dia pegang.

“Wah wah, lama tak jumpa,” kata Radit ketika orang yang dihindari Tiar mendekat. Apalagi ini? Pak Alex berada di sini dan Radit menyapanya.

“Lho, kamu di sini Tiar?”

Ingin Tiar jawab 'nggak, lagi di kolong meja pak bos' tapi yang keluar justru “Bapak kok ada di sini?”

“Jadi ini acaranya?” Kalimat itu bukan lagi terdengar seperti pertanyaan, melainkan sindiran. Dia menolak halus pekerjaan mendadak dari Pak Alex sore tadi. Setengah mati dia menjelaskan bahwa dirinya sedang ada acara penting yang tidak bisa ditinggalkan.

“Kalian kenal?” tanya Radit yang belum paham dengan situasi di depannya.

“Oh, kenal.” Pak Alex mengangguk mengiyakan pertanyaan Radit.

“Oh,” katanya singkat. Reaksi Radit tidak dapat ditebak. Hanya oh. Dan itu membuat Tiar semakin tidak enak hati.

“Kok Bapak kenal?" Tiar balik bertanya kepada Pak Alex.

“Sohib,” jawab Radit yang menyerobot dengan mantap.

What?Sohib?Ok. Fine. Gue mati kutu.


Part selanjutnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...1d3049881658e8
Diubah oleh Queenencis

Resulosi Love (Part IV) Weekend

Part sebelumnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b3cb6e9a5259af

Tiar menghempaskan badannya di atas kasur begitu masuk ke kamar. Sebelum itu, dia telah mengganti setelan kerjanya dengan celana pendek dan kaos oblong super nyaman yang biasa dipakainya. Di tempat kerja Tiar tidak ada istilah hari Sabtu libur. Hari Sabtu tetap masuk, tetapi setengah hari. Penempatan di kota kecil ini mengharuskan ia menyewa rumah sendiri. Maklum, apartemen masih jarang. Sedangkan Maya, sahabat Tiar memilih tinggal di rumah kakak perempuannya. Tak terasa gadis itu terlelap setelah beberapa saat berguling di tempat tidur.

Seperti mimpi, Tiar terbangun dari tidur siangnya yang hanya sekejap. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjuk pukul lima sore. Sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela. Terasa sedikit silau saat menerobos retinanya. Gadis itu menyipitkan mata. Sinar senja semburat oranye itu menerpa anak rambut dengan lembut. Dalam hati dia ingin berteriak senang. Mentari sore memang indah. Selamat sore kawan. Gumam Tiar dalam hati.

Gadis itu turun ke dapur, tetapi tidak melihat ada sesuatu yang bisa dijadikan makan malam di sana. Tidak mungkin juga jika malam ini Tiar berpuasa. Bahkan diet juga tidak terdaftar di dalam kamus hidupnya. Tanpa diet badannya sudah proporsional. Tiar masih menimbang, membeli bahan makanan atau makanan siap saji? Entahlah, yang jelas dia harus menggerakkan kaki ke luar rumah agar tidak kelaparan malam nanti.

May ke mall yuk. Send.

Beberapa menit kemudian balasan dari Maya masuk.

Tiar sorry, kakak gue sakit. Ga bisa kemana-mana.


Yah, apa boleh buat? Setelah mandi Tiar ke supermarket sendiri. Menyedihkan. Weekend belanja sendiri. Kalau mempunyai calon teman hidup, pasti tidak begini ceritanya. Usaha mencari pacar juga gagal terus. Tapi nasib Maya enggak jauh beda. Berteman dengannya bertahun-tahun kok nasibnya tetap sama ya? Diam-diam Tiar tertawa sendiri, bagaimana bisa dia sangat terobsesi punya pacar? Di usianya sekarang? Pasangan hidup memang seharusnya menjadi prioritasnya. Tapi jika Tuhan belum mengizinkan jodoh itu datang, maka tidak ada yang bisa memaksakannya.

“Sendirian? Kok senyum-senyum?” Tiar menoleh ke sumber suara. Astaga Pak Alex.

“Bapak...,” mendadak otaknya lumpuh, "kok ada di sini?" kata Tiar setelah berhasil mengeluarkan suara.

“Sendirian aja?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Tiar.

“I-iya, Pak,” jawab Tiar. Dia gugup bukan karena takut, tetapi aneh rasanya bertemu dengan bosnya di luar jam kerja. Nanti kalau ada yang melihat bisa menjadi bahan gosip orang seluruh kantor. Mereka hanya berasumsi sesuai apa yang dilihat. Tiar berdiri di sini bersama si bos.

“Nih.” Pak Alex mengambilkan sarden untuk Tiar karena melihat gadis itu sampai berjinjit mengambilnya. Letaknya memang agak tinggi, tapi Tiar pun bisa meraihnya dengan sedikit usaha.

“Makasih Pak,” ucap Tiar menerima kaleng sarden dan memasukkan ke dalam keranjang belanjanya.

“Iya,” jawabnya singkat. “Tinggi kamu berapa sih Tiar?”

“Eh, kenapa Pak? Mau ngeledek ya?” tuduhnya blak-blakan. Pak Alex justru tertawa mendengar pertanyaan spontan yang terlontar dari mulut Tiar. Berbeda sekali dengan Pak Alex yang selalu ditemuinya di kantor. Pak Alex yang otoriter, galak, tidak mau di bantah tapi ganteng dan pintarnya selangit.

“Berapa?” ulangnya ketika tidak ada jawaban dari Tiar.

“Seratus enam puluh setengah,” jawab Tiar mantap.

“Harus ya, setengahnya di jelaskan?” tanya Pak Alex sambil mengangkat alis.

“Harus donk, Pak.”

“Makanya, nggak nyampe. Kurang tinggi tuh.”

Ini ngeledek atau menghina sih?
“Pak, kalau saya terlalu tinggi, susah cari jodoh,” kata Tiar sedikit cemberut.

“Saya tidak susah cari jodoh," balasnya santai.

Kini Tiar yang mempertanyakan kewarasannya. Diakan cowok. Semakin tinggi semakin cakep. Semakin banyak wanita yang berusaha mendongakkan kepala hanya sekedar menatap ujung hidungnya.

“Bapak itu kan laki-laki, semakin tinggi semakin banyak cewek yang ngelirik.” Akhirnya Tiar mengucapkannya. “Sedangkan saya, semakin tinggi semakin jauh cowok melihat.” Lebih tepatnya malas. Lagi pula, konon katanya, cewek itu lebih baik pendek. Biar bisa dicium keningnya. Ya Tuhan, pepatah dari mana itu?

“Pacarnya nggak di bawa, Pak?” Tiar melihat Pak Alex hanya fokus dengan handphone-nya. Untung dia itu bos. Pucuk pimpinan, kalau bukan sudah Tiar lempar memakai kaleng sarden. Seperti bicara dengan tembok.

“Mau ngambil apa lagi?” tanyanya membuat Tiar mengerutkan dahi dan merasa terhina. Satu karena ucapannya tidak di dengar. Dua, lagi-lagi body shaming.

“Nggak ada lagi.” Tiar tidak tahu harus bagaimana lagi kalau sampai di tolong untuk kedua kalinya. Tidak enak, bukan? “Pak,” Tiar memanggil bosnya yang kembali sibuk dengan handphone-nya lagi.

“Ya?”

“Kalau Bapak mau duluan silakan,” kata Tiar sopan.

“Ngusir nih?” tuduh Alex tanpa basa basi. Sama to the point-nya dengan Tiar.

“Nggak. Siapa yang ngusir?” Mana berani Tiar mengusir bosnya. Dia masih takut dengan turunnya surat peringatan atau surat pemberhentian kerja.
Apa yang gue lakukan? Gue nggak ngusir lho ya, jangan salah paham. Tapikan tidak mungkin belanja berdua sama dia. Dan dia bisa tiba - tiba jadi monster kalau moodnya jelek, kata Tiar dalam hati.

“Bapak sendirian?” tanya Tiar sambil menoleh ke kiri dan kanan berharap ada seseorang yang menyeretnya pergi.

“Menurut kamu, ada siapa di sebelah saya?”

“Nggak ada siapa-siapa,” kata Tiar singkat. Tanda bahwa dia tidak mau basa-basi lagi.

“Saya sendiri.”

Hening. Tiar malas berkomentar dan hanya mengangguk. Dia Menghindari prasangka yang mungkin saja menjadi boomerang untuknya.

“Pacar kamu mana?” Aduh, pertanyaan ini yang selalu membuat jantung melorot sampai lutut. Lagi pula, kenapa Pak Alex masih mengikutinya?

“Nggak punya pacar, Pak,” jawab Tiar tak acuh sambil memasukkan tisu ke keranjang belanjanya. “Bapak mau belanja apa?” tanya Tiar ketika melihat Alex tidak mengambil benda apa pun di sana.

“Saya tidak belanja. Tadi mau beli makan lalu lihat kamu loncat-loncat ngambil sarden. Terus saya kesini.”

Shit! Muka Tiar pasti merah padam.

“Nggak sama Radit?”

Tiar memejamkan mata mendengar pertanyaan itu. Jika bukan karena dia yang menguras waktunya kemarin, mana mungkin Tiar sendirian belanja. Minimal Tiar berani mengirim pesan untuk Radit. Bisa saja berujung belanja berdua untuk saat ini.

“Kamu sudah makan, Tiar?” Suara Pak Alex memutus lamunan Tiar.

“Eh, Bapak makan duluan aja. Jangan sampai kena maag Pak,” kata Tiar sok perhatian setengah mengusir.

“Yuk.”

“Hati-hati Pak.”

“Kamu ikut saya.” Mata Tiar tak bisa berhenti melotot. Tiar mengira Pak Bosnya pamit. Alex sudah membalikkan badan tetapi ditahannya sampai Tiar mau jalan mengikuti. Otak Tiar mungkin sedang lumpuh dan tidak bisa mencerna ini. Apa kata orang kantor kalau kepergok makan berdua sama bos di malam minggu.

Oh, nooo... Gue harus cari alasan biar bisa lari.

“Biasa makan di mana?”

“Di mana aja juga bisa, Pak.” Tiar menghela napas ketika jaraknya dengan Pak Alex sudah terpaut empat atau lima langkah di belakangnya. Kenapa juga harus ada basa-basi seperti ini?

“Hemm.” Hanya itu tanggapannya dan si bos masih berkutat dengan ponselnya.

“Pak. Saya duluan aja ya. Kepala saya pusing.”

“Kamu sakit?”

“Nggak tahu nih Pak, tapi saya mau tidur di rumah saja. Pusing.” Tiar berharap bosnya tidak curiga dengan alasan yang dia buat asal.

“Kalau nggak mau makan ya sudah sana pulang.”

Shit! Benar kan, setannya datang. Tiar permisi dengan muka masam tapi lega.

Part selanjutnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3a7215b655dad6
Diubah oleh Queenencis

Part V Karyawan Benci Bos, Tapi Suka Dengan Gosipnya

Part sebelumnya https://www.kaskus.co.id/show_post/5...1d3049881658e8

Tiar dan Maya sudah duduk di salah satu meja di rumah makan cepat saji. Maya meminta menu pada pelayan yang berdiri tidak jauh darinya. Tempat ini terlalu ramai saat jam makan siang.

“Lo mau makan apa?” Maya membolak-balik daftar menu tanpa melihat temannya dengan muka masam yang kentara.

“Terserah deh,” jawab Tiar lemas. Efek hari Senin di kantor yang kerjanya bagaikan sistem kebut semalam. Otak sama badan mereka pegal semua.

“Ayam krispi atau ayam kremes?” Sekali lagi Maya bertanya.

“Bedanya apa? Bukannya sama aja?” Kali ini Tiar mengangkat sebelah tangannya lalu menopangkan ke dagu dan melirik daftar menu yang masih berada di tangan Maya.

“Ayam krispi itu kaya di KFC, kalo ayam kremes, tepungnya terpisah.”

“Ayam krispi aja.”

Tiar melambaikan tangan pada pramusaji yang melintasi meja mereka. Menu yang telah ditulis, dia berikan padanya.

“Ini nih, kelakuan. Giliran makan aja gue nggak di ajak.” Tanpa permisi, Tomas ikut duduk di meja Tiar. “Rena sama Sinta mana?”

“Tuh.” Tiar memberi isyarat kalau orang yang di maksud sudah di belakang Tomas. Bisa dibilang ini adalah hari senin, tapi mereka kompak memakai atasan merah muda meskipun tanpa disengaja.

“Gue sama Sinta udah di pesenin belom?” tanya Mbak Rena.

“Udah. Ayam kremes semua, kan?”

“Sippp.” Mbak Rena menarik kursi dan bergabung dengan Tiar. “Kencan lo gimana?” Tembak Mbak Rena tanpa basa-basi ketika Tiar meneguk air minumnya. Tomas, Maya, dan Sinta seketika mempertajam pendengarannya.

Tiar sedikit geli melihatnya. Kalau urusan makan sama gosip saja mereka nomor satu. Benar-benar angin segar di tengah ruwetnya rutinitas hari senin.

“Sama siapa sih, Tiar?” Maya terpancing berkomentar. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun. Belum ada sejarahnya Tiar mau diajak kencan.

“Cerita donk. Pelit amat kabar baik nggak di bagi-bagi.” Kini giliran Tomas yang siap mendengar dan membagi infonya ke semua orang. Salah satu high quality jomlo bakalan laku.

“Apanya yang kencan. Berantakan. Gue jadi hopeless deh.” Tiar melihat Maya menahan senyum dan yang lain membelalakkan mata. “Seneng ya lo semua!” tuduh Tiar cemberut.

“Cerita donk,” pinta Sinta.

***

“Jadi, malam itu”---

“Kapan?” Tomas seenaknya saja memotong cerita ketika Tiar sedang memikirkan kata yang tepat untuk memulai. Juga menyiapkan mental atas bulyan mereka.

“Tomcat! Kunci dulu mulut lo itu.” Kebiasaan Tomas membuat Mbak Ren sedikit naik darah. Sebel, greget, gemas bercampur menjadi satu. Maya cengar-cengir melihat Mbak Rena yang selalu perang sama Tomas.

“Lupa gue kapannya. Kamis apa Jumat malam ya?” Tia mengingat lagi kapan nasib sial itu datang.

“Udah, nggak penting kapan harinya. Ceritain aja.” Maya sudah tidak sabar menunggu.

“Jadi, gue sama Radit ada janji buat ketemu.” Tiar mengawali ceritanya lagi. Maya melotot tidak percaya ketika mendengar nama Radit.

“Dari sore nih ya, kayaknya nasib nggak berpihak sama gue. Jam enam guys, gue di suruh ngecek seluruh harga jual sama Alex. Gila nggak?!”

“Wah, parah tuh,” cecar Mbak Rena.

“Trus kencan lo batal?” Sinta pun tidak sabar.

“Entar. Belum selesai. Seribu alasan gue keluarinlah buat menghindar dari tugas itu. Trus jam tujuh entah lebih atau kurang gue baru sampai di tempat gue janjian. Masih pakai baju kantor.”

“Lalu?”

“Tomcaaaattt! lo bisa nggak sih nggak motong cerita?” Mbak Rena gemas.

“Dia cerita muter-muter. Nggak perlulah dijelasin awal dia berangkat, pakai baju apa segala.”

“Biar feelnya dapet, Brooo. Mau dilanjutin nggak nih?” Tiar menimpali sambil melihat reaksi mereka yang sudah nggak sabar.

“Mau.” Mereka berempat menjawab dengan kompak sekali. Tingkat ingin tahu yang tinggi atau radar gosip yang melampaui batas?

“Ok, gue lanjut. Waktu itu gue udah ketemu sama Radit. Kita udah pesen makanan, ngobrol-ngobrol dikit, yah, basa-basilah. Namanya juga lama nggak ketemu.” Tiar menarik nafas sebentar lalu mengambil minumannya. “Terus, tiba-tiba buyar deh. Lo tahu siapa yang datang?” Tiar mengedarkan pandangan kepada teman-temannya.

“Mantannya?” sahut Mbak Rena.

“Tunangannya.” Tomas lebih kejam dari Mbak Rena. Maya dan Sinta hanya geleng-geleng kepala.

“Si bos,” kata Tiar mantap. Mbak Rena sampai melotot. Sinta tersedak minumannya sendiri, dan Maya sama Tomas sudah heboh nggak karuan. Mereka saja seperti itu, apalagi Tiar yang sedang di sana.

“Hah, Alex kencan?” Mbak Rena penasaran. Hanya Mbak Rena dan Tomas yang berani panggil Alex tanpa embel-embel bapak.

Tiar menggeleng lemas. “Dia sendirian. Radit yang lihat dia duluan. Terus dia ngajak gabung tuh. Ternyata Pak Alex temennya waktu kuliah.”

Threesome donk.” Tomas tertawa dengan raut menyebalkan.

“Anjirrr lo.” Tiar melempar tatapan permusuhan untuk Tomas.

“Hah? Kok kita nggak pernah lihat si bos ya Tiar?” Maya berusaha mengingat. Secara, Tiar dan Maya berteman sudah lama.

“Iya jelas nggak pernah lihat, dia temenan pas ngambil S2 di London.”

Mulut Maya membentuk o besar tanpa suara. Tiar pun sangat tidak menyangka mengapa dunianya sesempit ini.

“Kenal Radit di mana, Mbak?”

Tiar menoleh pada Sinta. Gadis itu juga sama seperti yang lain, menyimpan rasa ingin tahu yang besar. Apalagi ini sudah bukan tentang Tiar tapi menyangkut bos mereka.

“Itu kakak tingkat waktu kita kuliah S1, Sin. Cakep orangnya. Tiar naksir berat tuh.” Maya yang angkat bicara disela-sela makan.

“Terus Alex gimana? Lihat elo?” Tomas terlihat lebih santai daripada yang lain. Padahal Tiar tahu, dia paling semangat menunggu kisahnya selesai.

“Ya biasa. Slowly kalau di luar kantor. Nggak kayak bos. Maybe demitnya ilang,” jelas Tiar yang masih mode dongkol. Kalau istilah preman 'senggol bacok'. Seram banget wajahnya. Tapi, yang namanya geng rusuh tetap saja bisa tersenyum melihat Tiar seperti itu.

“Coba kalau Citra yang ketemu Alex. Pasti bakalan drama deh.” Tomas adalah informan yang andal kalau masalah gosip. Dia juga sengaja menambah bumbu yang siap meledakkan makan siang mereka.

“By the way, doi naksir ya sama si bos?” Tiar juga penasaran. Tingkah laku sekretaris satu itu kadang berlebihan jika di depan Pak Alex. Bisa terlihat sangat feminin bak putri Indonesia.

“Kelihatan banget kali.” Mbak Rena sebel banget dengan tipe orang yang suka cari perhatian semacam Citra. “Nih ya, kapan hari itu gue kan pulang paling akhir, di antara kalian maksudnya. Di parkiran gue lihat tuh anak mepet Alex buat nganterin dia pulang,” jelas Mbak Rena yang membuat Tiar dan Sinta melongo.
Mereka tidak menyangka ada cewek seberani itu. Padahal si bos kan terkenal angker di kantor. Apa mungkin karena statusnya sebagai sekretaris?

“Tuh orang nekat banget ya? Nggak malu apa?” Tiar tidak habis pikir, di mana etikanya? Semisal diberi tawaran untuk pulang dengan bosnya, mungkin gadis itu memilih jalan kaki.

“Ya namanya juga modus. Terus respons si bos gimana?” Benar kata Maya. Modus.

“Emang dasar si Bos ya, May, nggak bisa nolak apa?”

“Nggak enak kali Mbak.” Tiar berkomentar sok bijak. Mengingat dirinya juga pernah diajak makan malam waktu di supermarket itu. Bisa saja kalau di luar kantor memang orangnya biasa, enggak galak, bahkan asyik diajak bicara.

“Yah, doain aja mereka berdua jodoh.” Mereka melotot ke arah Tomas. Tidak percaya atas apa yang keluar dari mulut lelaki itu.

“Kalo gue ngedoain mereka, yang doain lo siapa?” Nyinyir Mbak Rena super kalem tapi berhasil membuat Tomcat merah padam. Dan Tiar tidak bisa mengeluarkan senyum kalem. Meja itu penuh dengan keributan. Beruntung tinggal beberapa pengunjung yang ada di restoran ini.
Diubah oleh Queenencis


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di