CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kecupan Pertama dan Terakhir [Aku, Kamu dan Kepergian]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea92637337f933e7a2ebcba/kecupan-pertama-dan-terakhir-aku-kamu-dan-kepergian

Kecupan Pertama dan Terakhir [Aku, Kamu dan Kepergian]

Kecupan Pertama dan Terakhir [Aku, Kamu dan Kepergian]




Terik mentari tak mampu menghangatkan hatiku yang dingin. Sejak kepergianmu, jiwaku hampa. Hidupku lengang termakan kenangan.

Hanya mampu duduk termangu di balik kaca jendela dan menatap langit yang dihiasi bayang-bayang wajahmu.


Kicauan burung nan merdu, bagaikan suaramu. Belaian halus angin, bagaikan belaian kasih tanganmu ... dulu. Semenjak itu aku sadar, kau tak lagi ada di sisiku.


***


Aku, Kamu dan Kepergian


Kecupan Pertama dan Terakhir [Aku, Kamu dan Kepergian]
Sumber google


"Will You marri me?"


Terpampang jelas tulisan di pintu rumahku. Tidak salah lagi, semua itu kerjaan Mas Gugus. Laki-laki yang menyatakan cinta lewat siaran radio dan kini ia melamarku lewat pintu.

"Huft! Dasar laki-laki itu, selalu membuatku tertawa konyol," umpatku.


Kubuka pintu perlahan, sepi. Firasatku mengatakan, akan ada surprise di rumah ini. Tapi ... tidak ada tanda-tanda yang aneh, seperti lampu dimatikan atau petunjuk arah.


(Ini bukan horor, Gaes. Tapi ane berasa nulis horor)


Oke. Tenang ... mungkin firasatku salah, tidak ada surprise, tidak ada Mas Gugus di rumahku.


Seperti biasa, sebelum masuk kamar aku harus bersih-bersih supaya tidak membawa bakteri dari debu-debu yang menempel di baju.


Klik!


Aku sedikit ragu-ragu membuka pintu kamar mandi, padahal biasanya biasa aja.



"Surprise ...."


Ternyata benar, Mas Gugus yang mempersiapkan semuanya. Dan kali ini, kesekian kalinya, ia melakukan hal konyol. Orang mah ngasih surprise di Taman, ini malah di kamar mandi. Konyol, kan?



"Mas!" ucapku saat kami sedang duduk berdua di sofa.


"Hm!"


"Emang di Taman lagi ada karnival, ya?"


"Nggak."


"Terus ngapain ngasih surprise di kamar mandi?"


"Tadi Mas numpang BAB. Eh, denger kamu buka pintu, ya udah sekalian aja Mas ngasih surprise."


Aku cemberut untuk sekedar menarik perhatiannya.


"Tenang aja, Mas udah cebok, kok," celetuk Mas Gugus.


"JOROOOOOOOOOOOOOOOOOOK!"


Aku melengos pergi ke kamar meninggalkan Mas Gugus. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil menampakkan wajah konyolnya.


Malamnya, kami berencana untuk pergi dinner merayakan aniversary ke satu tahun. Aku pikir Mas Gugus tidak serius dengan lamarannya, ternyata ia benar-benar melamarku.


"Kamu belum jawab lamaranku yang tertulis di pintu," ujar Mas Gugus dengan mulut penuh makanan.


"Uhuk ... uhuk ...."


"Kok, Kamu batuk? Aku nanyain jawaban lamaran, bukan nawarin obat batuk."


"Hm! Gimana, ya?"


"Please! Terima aku apa dadanya, eh apa adanya menjadi suamimu."

Aku kaget. Mas Gugus tiba-tiba berlutut, memohon.


"Iya, aku terima."


"Yiiiiihhaaaaaaaaa!"


Mas Gugus menggoyang-goyangkan pinggulnya, persis seperti goyang gergaji Dewi Persik. Jangan tanya aku malu atau nggak, yang pasti aku udah kebal sama yang namanya malu punya pacar seperti dia.


Selang satu minggu, akhirnya kedua orang tuaku pulang dari Kampung dan kami pun menggelar acara lamaran, sungguhan.


Kedua orang tuaku setuju dan kami merencanakan pernikahan dilaksanakan tahun bulan berikutnya.


Setelah acara lamaran tempo hari, Mas Gugus bilang ia akan pergi ke luar kota. Pimpinan di kantor tempatnya bekerja, menempatkan Mas Gugus di luar kota, karena gajinya lumayan besar. Pimpinannya tau, Mas Gugus akan menikahiku dan pastinya memerlukan uang banyak.


"Besok Mas berangkat, kamu jaga diri baik-baik, jangan telat makan nanti kamu kurus, Mas gak mau nanti kalo nikah kamu kurus. Doain supaya kerjaan Mas dilancarkan dan kita bisa nikah secepatnya."


"Iya, Mas. Aku pasti selalu doain. Mas juga jaga kesehatan di sana, jangan konyol-konyol di sana nanti banyak cewek yang suka. Jangan dandan ganteng-ganteng."


"Itu mah resiko punya calon suami ganteng!"


"Heleh! Ya udah berangkat, gih, nanti ketinggalan pesawat lagi. Aku juga mau berangkat ngajar."


"Ketinggalan pesawat gak masalah, asal jangan ditinggalin Kamu."


"Gombal!"


"Mas boleh kecup kening Kamu, ya? Buat kenang-kenangan, kan, lama nanti gak ketemu. Kalo Kamu kangen sama Mas, boleh kecup kening Kamu sendiri, di situ ada bekas kecupan Mas."


"Ya nggak mungkin lah, gimana caranya ngecup kening sendiri."


"Hahahahahah." Mas Gugus malah tertawa.



'Muach'



"I love You!" ucapku pelan.


"I love You too."



Setelah mengantarkan Mas Gugus ke mobil, aku pun berangkat mengajar.


Anehnya, hatiku resah mengijinkan Mas Gugus pergi. Entah kenapa, pikiranku menuju ke hal-hal negatif.


Sambil mengajar, aku terus membayangkan jika seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan. "Astaghfirullah!" Aku mengelus dada.


Untuk memastikan semuanya baik-baik saja, aku coba menghubungi Mas Gugus. Tidak dapat tersambung. Positif thinking, mungkin susah signal.


Setelah sampai di rumah, kembali kucoba menghubunginya. Tetap tidak tersambung.


Drrttt drrttt


Panggilan masuk ke ponselku, nomornya tidak dikenal.

"Halo! Maaf, ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu, Nafisa?"


"Iya, saya sendiri. Ini siapa, ya?"


"Saya harap Anda mengerti, jangan pernah hubungi Gugus lagi. Lusa, dia akan menikah dengan Saya!"


"Maaf, Ibu siapa? Maksudny apa, ya?"


"Saya bossnya Gugus. Dan Saya calon istrinya!"


Tut tut tut

Sambungan telepon terputus begitu saja. Aku diselimuti rasa kecewa dan tak percaya.


Saat kucari tahu lewat teman Mas Gugus, ternyata Mas Gugus dijebak dan dipaksa menikahi pimpinannya.


Sejak saat itu, aku lemah dan menjadi wanita bisu.


Selesai




Thanks For Reading
profile-picture
profile-picture
profile-picture
noprirf dan 3 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di