CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea8d683af7e9324bd7e0ee2/makluk-planet-lain

Makluk planet lain

Di penghujung malam, dimana matahari sudah tak terlihat lagi. Zay tenggelam dalam inspirasinya.

Waktu yang tepat untuk berimajinasi, selain tak banyak yang mengganggu juga bisa fokus sama satu titik yang dituju

Wajahnya terlihat serius, terbayang di kepalanya potret seorang gadis yang ia temua di surau tadi sore. Gadis solehah nampaknya.

Gadis itu terlihat menggunakan kain putih membalut seluruh tubuhnya dan menggunakan penutup kepala berwarna merah. Kata orang fungsinya untuk menutupi rambut.

Zay bertanya-tanya kenapa rambut di tutup, padahal itu adalah mahkota bagi wanita. Sesuatu yang harusnya dia banggakan. Ia tak abis fikir, tak juga menemukan jawaban..

Ingatan typografinya masih berguna sempurna. Sesuatu yang membedakannya dari teman-temannya. Tak banyak juga teman-temannya yang iri pada kelebihannya.

Ada yang bilang ia elien, datang dari pelanet yang belum diketahui keberadaanya.

Tak banyak juga yang memuji bakat alamiahnya itu..

Zay selalu bisa mengingat kejadian dengan detail. Seperti gambar. Seolah waktu terhenti. Hanya dunianya yang berjalan

Waktu masih kelas dua SD, zai dan teman-temannya pernah tersasar di hutan. Niat hati mau cari burung, mereka menyusuri hutan belantara yang jarang di masuki penduduk kampung. Selain tak banyak yang beraktifitas disana hutan itu Juga terkenal angker.

Malampun tiba, mereka tak tau lagi jalan pulang. Sudah banyak jalan setapak yang mereka lalui. Sudah dua sungai yang mereka seberangi.

Dingin mulai menusuk ke tulang-tulang. Satu persatu, anak-anak menangis sejadi jadinya.

Salah satu dari anak itu menangis sambil guling-guling di tanah. Ialah robi Anak manja yang belum pernah jauh dari bapaknya, alasan dia ikut karna di ancam oleh iwan, makhluk paling besar di komplotan itu. Sekaligus jadi ketua geng.

Ada juga yang nangis seperti tak sadarkan diri, mirip seperti orang kesurupan. Matanya tertutup, kepala mendongak ke atas. Mulutnya terbuka tak tau apa yang ia ingin ungkapkan. Sankin menghayati dalam tangisnya, hingga dia tak sadar, ingusnya menggelembung seperti balon. Kemudian ditariknya kedalam.

Pemandangan yang lucu, tapi tidak untuk situasi ini.

Seperti domba-domba tersesat, anak anak itu putus asa. Tak ada lagi hatapan pulang kerumah. Mereka menangis sejadi jadinya, seolah meminta pertolongan dari kerajaan ghaib.

Tidak dengan zay, dia hafal betul jalan yang mereka lalui. Seperti punya radar yang bisa menunjuk arah. Dia membawa teman-temannya pulang seperti mengembala domba. Di tuntunnya satu persatu, melewati batang batang pohong yang menjulang tinggi. Suara-suara dari hewan kecil yang menakutkan.

Bagus, ketakutan setengah mati mendengar suara dari balik semak semak itu.

Ia berlari jauh ke depan secepat peluru.
Kemudian berhenti dan balik badan.
Menyadari tak satupun temannya yang lari.
Dia berbalik berlalu seperti tadi. Dan berkumpul dengan teman-temannya.

Zay menuntun domba-domba itu menyusuri hutan, hingga sampai rumah.

Salah satu alasan mereka menuduh zay berasal dari planet lain adalah karna zay tak punya rasa takut.

Bagi zay, itu bukan sesuatu hal yang harus di permasalahkan. Ia percaya semua orang mempunyai kelebihan.

Gadis itu masih saja membingkai di kepalanya. Tak ada obat untuk menyingkirkannya.


Zay memejamkan matanya. Tangannya meraba-raba seperi melambai tapi dengan gerakan yang lambat.

Nafasnya tenang, rasanya kepala itu sudah penuh dengan gambar gadis ayu yang dia temui tadi. Seperti dia bisa menghisap daya dari semesta, ia melanjutkan lukisannya.

Entah jin mana yang menemaninya melukis malam itu, lukisannya selesai satu malam dengan hasil nyaris sempurna.

Belum sempat berkenalan tapi auranya sangat berbeda. Seolah ia memakai susuk yang ampuh.

Matanya tak berkedip melihat pemandangan yang baru ia saksikan.

Gadis ayu itu memang menarik
Pesonanya membuat siapapun yang melirik akan terhanyut dalam buaian cinta yang begitu indah.

Bukan cuma zay yang terpikat. Amin, Teman masa kecilnya juga harus terlibat dalam masalah itu..

….......

Amin tak berdaya di tempat tidurnya, mulutnya selalu menganga seperti mau berbicara.

Sudah dua hari ini dia belum makan, penyakit yang di deritanya tak ada satupun yang tau.
Dokter tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada amin..

Dukun silih berganti berusaha mengobati amin

Ibunya melemas, badannya menyusut. Lebih dari lima kilo berat badan ibunya turun. Menangisi anak satu satunya seharian.

Ayahnya bingun mau berbuat apa. Lelah sudah dia mencari sesorang yang mampu menyembuhkan penyakit anaknya.

Ketabat berdatangan, berusaha menguatkan keluarga kecil itu.
Tak banyak juga yang memberika banyuan, berupa uang tunai.

Gosil-gosip tetangga lirih mengucap hidup amin sebentar lagi, memang tubuhnya begitu kurus. Kecil kemungkinan untuk bertahan hidup.

Zay, robi, iwan dan hamid tidak tau mau berbuat apa. Mereka hanya setia menunggui di tangga rumah amin, untuk berjaga jaga kalau ada butuh sesuatu. Atau hanya untuk di suruh..

Mereka tak tau apa yang menyebabkan amin jatuh sakit begini..

Orang pintar dari seberang pulau datang menengok kondisi amin. Maksud hati ingin menyembuhkan pula.

Ia bertanya :
"Dari sejak kapan anak ibuk jatuh sakit begini" tanya orang pintar sambil mengelus-elus jenggotnya yang memutih.

"Sudhaaaa dua mhinggggu enam hhhhari mbah." Katanya sambil terisak.

"Anak ini, bukan sakit biasa. Tak ada dokter yang mampu menyembuhkannya".
Katanya berlagak tegas dengan muka di tekuk ke atas.

Hmm, orang itu seperti sedang mikir mengangguk-anggukan kepalanya, melihat kira kanan sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang.


"Saya cuma butuh air keruh dari sungai di hulu kampung ini" lanjutnya. Ambil dua liter taruh di baskom.

Dengan sigap, ibu amin. Mengambil baskom ke dapur.

Di pintu ada zay, roby iwan dan hamid menunggu di kasih tugas.

"Nak, tolong ambilkan air sungai itu." Pinta buk, zainab dengan nada putus- putus. Jarinya menunjuk ke arah sungai.

Zay tau, maksud ibu amin. Ia mengabil baskom itu, dan lari secepat mungkin menuju sungai..

Kakinya lincah meski tanpa alas kaki. Baginya nyawa sahabatnya itu. Di atas segalanya.

Ia melaju kencang ke arah sungai.

Heyy!.
Ia menemukan gadis memakai penutup kepala itu lagi.
Ia memanggil. Suaranya serak namun terdengar jelas.

Gadis itu tak enoleh sedikitpun, ia masih saja asik bermain air di sungai bersama temannya.

"Hey kamu!" Katanya lagi.
Kamu yang berbaju putih, ia menunjuk ke arah gadis itu.

Mungkin deru air yang terlalu kencang hingga mengalahkan suaranya, fikir anak itu.

Ia mencoba mendekati gadis itu, kemudian menyapanya kembali.

Ini pertemuan kedua mereka. Jauh berbeda dengan yang pertama.

Yang pertama di hiasi bunga di hati.
Membuatnya susah tidur semalaman.

Namun ia tak terfikirkan paras gadis ayu itu saat ini. Baginya nyawa sahabatnya lebih berharga.

Ia semakin mendekat. Dadanya berdebar-debar. Napasnya berat. Panjang anjang dan mendengus bagai banteng.

Matanya terus mengawasi gadis itu, yang tak menyadari keberadaanya.

Emosinya makin meningkat. Ia tau, meskin belum sepenuhnya yakin. Gadis inilah yang membawa sakit buat sahabatnya.

Tiba-tiba gadis itu menoleh, ia terdiam di tempat. Mata mereka beradu. Zay kembali melihat mata itu lagi.

Tubuhnya melemas. Raganya rasanya tak kuat lagi menopang tubuh. Ia mematung. Kepalanya pening. Sangat pening. Dan tiba-tiba dia terjatuh. Dan terseret air sungai..







Jangan lupa follow ig: RADEN_S001.
twiter : _R_A_D_E_N_

profile-picture
profile-picture
noprirf dan denbagoes01 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di