CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Sekarang Ditolong, Besok Menolong Walau Dengan Setimba Air
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea681249a972e0c91188182/sekarang-ditolong-besok-menolong-walau-dengan-setimba-air

Sekarang Ditolong, Besok Menolong Walau Dengan Setimba Air

Sekarang Ditolong, Besok Menolong Walau Dengan Setimba Air

Hai GanSis, Kaskus kembali mengadakan event kompetisi menulis. Kali ini temanya tentang "kebaikan kecil, berdampak besar". Ringkasnya kita disuruh menceritakan kebaikan kecil yang ada dihidup kita dan itu bermakna besar.

Susah sih, karena saya ini orangnya gimana ya. Takut nanti disanka riya. Alias bingung mau cerita kebaikan apa, karena jumlah kebaikan saya masih sedikit.

Tapi saya berusaha mungkin untuk mengingat hal-hal baik dalam hidupku. Bagiku kebaikan tetaplah bermakna besar. Meski secara prakteknya hanya suatu yang biasa. Tapi dampaknya yang berarti besar.

Saya pernah ditolong orang berbaik hati dengan bantuan satu timba air bersih. Sederhana memang barang bantuannya, tapi itu menyangkut keselamatan saya.


Saat itu pagi yang sibuk di kota Binjai. Jalan depan rumah saya cukup ramai, meski bukan jalan protokol di kota ini. Sebuah jalan yang menghubungkan area pemukiman dari arah barat menuju ke pusat kota.

Seperti biasa orang-orang ramai berangkat kerja, sekolah dan sebagainya. Tiba-tiba suasana jadi ramai. Bukan ramai m lalu lalang kendaraan. Tapi karena kerumunan orang.

Quote:


Tiba-tiba berjalan gontai seorang perempuan menuju tepian jalan, bersama anak berseragam SD. Sepertinya mereka Ibu dan Anak, mau antar sekolah. Samar-samar ada darah keluar dari luka diwajah ibunya.

Quote:


Saya dan keluarga yang sudah keluar rumah mendekati kerumunan warga yang seolah berdemo didepan rumah saya.

Quote:


Ternyata setelah diamati. Anak laki yang dimaksud tadi ponakan saya. Dia masih diseberang jalan, shock sepertinya.

Quote:


Singkat cerita, ibu dan anaknya segera diamankan eh ditolong maksudnya. Masalah siapa salah siapa entar dulu. Yang penting luka tersebut dibersihkan dulu. Yaa, pertolongan pertama dulu.

Dibuka kran air depan rumah saya untuk bersih-bersih ibu dan anaknya. Lukanya tidak terlalu parah. Berutung masalah kemudiannya dapat diselesaikan dengan damai.

Quote:


Halaman rumah saya menjadi basah bekas air dari keran tadi. Saya mengelap kaki saya yang terkena percikan airnya. Terlihatlah bekas luka dimata kaki saya.

Quote:


Teringat kejadian beberapa bulan lalu di tahun 2014. Dalam kegiatan PKL masa SMK. Masih dikota yang sama.


Tiba-tiba didepan ada becak yang biasa orang gunakan jualan makanan di Binjai, bentuknya seperti becak barang dipasang stelling atau etalase. Enaknya disebut gerobak becak. Kalau ditabrak sepeda motor, pasti motornya yang terpental. Seperti yang saya alami.

Quote:


Gak tahu awalnya, tiba-tiba aja saya sudah menabrak becak tadi. Lalu wajah saya sudah mencium aspal. Beruntung kaca helm salah satu pabrikan sepeda motor asal Jepang yang saya kenakan sangat tangguh menjadi pemisah antara wajah dan aspal. Alhamdulillah, Wajah saya gak apa-apa. Padahal terasa banget pas jatuh menghantam aspal.

Quote:


Ternyata kakiku sudah tertimpa motor. Awalnya biasa saja. Tapi buat angkat motor tadi sudah gak ada tenaga. Shock barangkali.

Lihat teman boncengan, laki. Ternyata dia sudah ada didepan saya berjarak 3 m mungkin. Belakangan diketahui si kawan terpental dari belakang. Karena saya tadi tarik rem cakram depan mendadak. Sukurnya dia pakai helm dan gak apa-apa.

Tapi saya yang kenapa-napa. Warga disekitar tkp berusaha mengejar becak tadi. Belakangan diketahui becak tersebut dibawa oleh Bocah. Kamu tahulah kalau bocah bawa kendaraan gimana.

Akhirnya saya dibantu melepaskan kaki yang tertimpa motor. Si kawan yang bantu berdirikan motor.

Sempat takut awalnya, ini patahkah? Retakkah? Atau apa? Cemas banget kala itu. Terlebih posisi mata kaki yang terkena. Rawan sekali menurutku.

Tapi setelah kejadian itu saya masih bisa berdiri. Ya normal saja, seperti gak ada kejadian. Tapi begitu lihat kaki, darah mulai keluar. Sementara becak tadi gak berhasil dikejar.

Sekonyong-konyong saya menepi dipinggir jalan atau lebih tepatnya didepan rumah orang yang sama sekali gak saya kenal. Sedikit gambaran tempat, di Binjai itu saluran paritnya masih terbuka. Jadi banyak didepan rumah orang membuat titi dilengkapi tempat duduk. Biasa disebut "bok".

Disitulah saya beristirahat. Sedikit bersukur, karena gak banyak kerumunan warga yang melihat. Terus terang saya kurang nyaman dikerumuni banyak orang.

Quote:


Singkat cerita keluarlah seorang ibu pemilik rumah mempersilahkan untuk mengambil air dari rumahnya. Kemudian saya ditemani bapak tadi menunjukan kamar mandinya. Belakangan diketahui bapak tadi tengah bekerja merenovasi rumah tersebut. Oia, kamar mandi berada di luar, jadi tidak merepotkan.

Saya gak paham betul prosedur pertolongan pertama pasca kecelakaan lalu lintas. Spontan saja saya cuci di air mengalir. Tapi setelah itu berobat juga kok, dikasih alkohol, suntik dan obat.

Ternyata orang-orang baik itu masih ada ditemukan disekitar kita. Sekalipun belum kenal sama sekali, tapi mau membantu. Mungkin hanya sesuatu sederhana terlihatnya.

Tapi bagiku itu berdampak besar. Sudah dikasih tempat istirahat saja sukur. Ini sampai diizinkan pinjam kamar mandi pada saya yang notabene orang asing. Sukur saja saat itu belum ada Covid-19. Belum ada kecurigaan diantara kita.

Jauh deh dari bayangan saya selama ini soal kecelakaan lalu lintas. Banyak yang mengurumuni tapi gak segera ditolong. Beruntung saya gak mengalami hal yang demikian.

Dari situ saya berpikir, kapan saya bisa balas budi baik mereka. Mau kasih uang, entar malah dikira menghina. Rumahnya saja besar. Ya gak sopanlah jika dengan uang. Rasanya ucapan terima kasih sudah cukup baik saat itu. Yakali saya sempatkan dulu beli kue untuk ucapan terima kasih.



Terpenting saat itu buru-buru berobat, saya uda parno dan panik. Dan niat balas budi itu selalu ada. Walau pada akhirnya Allah SWT memberi kesempatan berbuat baik yang sama pada orang yang lain.

Yah, seperti kejadian dipagi hari depan rumahku yang sudah diceritakan diatas. Hikmah yang saya ambil, bahwa kebaikan itu terkadang seperti "piala bergilir". Walau tidak kembali dengan orang yang sama. Namun caranya kembali tetap sama, bahkan dilebihkan nikmatnya. Hari ini kita ditolong, besok kita menolong. Yang Maha Kuasa telah mempersiapkan skenario yang akan bikin kita merinding. Saya pikir ini seperti Dejavu.

Rianda Prayoga @riandaprayoga
Binjai, 27 April 2020


Spoiler for cendol:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
swiitdebby dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh riandyoga


×
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di