CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / ... / Sains & Teknologi /
Kenapa Bisa Ada Virus Penyakit Menular? Apa Karena Revolusi Neolitikum?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea153e9c342bb60450fefe7/kenapa-bisa-ada-virus-penyakit-menular-apa-karena-revolusi-neolitikum

Kenapa Bisa Ada Virus Penyakit Menular? Apa Karena Revolusi Neolitikum?

Quote:


Hai GanSis semua!! Saya setuju sama anjuran untuk mengurangi akses media sosial. Karena dimasa Pandemi Covid-19 seperti sekarang, dunia tidak hanya dihujani wabah penyakit. Namun juga kebanjiran informasi.

Memang, saat sekarang kebutuhan informasi terutama terkait perkembangan virus Corona menjadi vital. Karena perkembangan setiap harinya bisa saja berubah-ubah. Tapi tunggu dulu, informasi seperti apa yang dimaksud?

Banyak berita tentang Covid-19 yang beredar, tapi gak harus semuanya ditanggapi. Saya memposisikan diri sebagai orang yang sangat terbatas pengetahuannya, terlebih soal Covid-19 yang notabene penyakit jenis baru. Maka itu saya pikir, lama-lama stress juga ya semuanya di ikuti. Ada spekulasi, konspirasi dan teori macam-macam. Belum lagi kalau diaduk kedalam politik.

Tapi bukan berarti kita berhenti untuk menggali informasi. Melihat banyak teori dan spekulasi darimana awalnya virus Corona ini bermula. Saya pikir, tanggung banget kalau topiknya masih sekitar China dan Amerika Serikat. Kenapa gak sekalian kembali ke jaman Neolitikum?

Quote:


Periode Neolitikum, masa dimana Manusia mengenal praktek pertanian. Suatu masa yang disebut-sebut membuat virus penyakit menyebar dengan cepat dan menjadi epidemik. Kenapa bisa?

Zaman Neolitikum, yang dimulai di Timur Tengah sekitar tahun 9500 SM, adalah masa ketika manusia menjadi petani. Suatu masa yang menandai revolusi besar peradaban manusia. Dari awalnya hanya mengumpulkan makanan, berubah menjadi menghasilkan makanan.

Ketika manusia mulai mengubah kebiasaan dalam berinteraksi dengan alam dan memenuhi kebutuhan. Dari awalnya manusia berburu dan mengumpulkan makanan. Tapi sejak mengenal pertanian, manusia mulai menjinakan hewan dan melakukan praktek Monokultur. Pada akhirnya membuat semakin cepat penyebaran virus penyakit.

Budidaya tanaman monokultur atau menanami lahan dengan satu jenis tanaman seperti halnya Padi. Memang dikenal efektif dan menghasilkan panen melimpah. Namun dibalik itu membuat virus tanaman lebih cepat menyebar dan bersintas hingga menginfeksi untuk masa tanaman berikut. Penyebaran potivirus kentang serta buah-buahan dan sayuran lainnya dimulai sekitar 6.600 tahun yang lalu.

Variola, yang merupakan infeksi virus paling mematikan dalam sejarah, pertama kali muncul di antara masyarakat pertanian di India sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Sementara itu sekitar 10.000 tahun yang lalu manusia yang tinggal di sekitar cekungan Mediterania mulai menjinakkan binatang liar. Babi, sapi, kambing, domba, kuda, unta, kucing dan anjing semua disimpan dan dibesarkan di penangkaran.

Hewan-hewan tersebut juga membawa penyakit. Berpotensi terjadi transmisi dari hewan ke manusia, lebih dikenal dengan istilah Zoonotik. Namun zoonotik seperti itu termasuk jarang terjadi. Terlebih penularan dari manusia ke manusia lebih jarang terjadi.

Kebanyakan virus penyakit hanya menyerang spesies tertentu dan tidak mengancam manusia. Pengecualian untuk Influenza dan yang terjadi saat ini Covid-19.

Oke GanSis, sampai disini apa berarti awal penyebaran virus penyakit disebabkan pada periode Neolitikum?



Fakta menjinakan hewan liar dan dipelihara dalam satu penangkaran memang memungkinkan terjadi transmisi penyakit dari hewan ke manusia. Mengingat lingkup tempat tinggal manusia dan hewan menjadi lebih berdekatan.

Pada titik ini kita harusnya sadar. Saat mengubah kebiasaan dalam berinteraksi dengan alam atau apapun itu, sedikit banyaknya akan berdampak kembali pada diri kita.

Seperti saat mulai menjinakan hewan dan menangkarkannya dalam mekanisme manusia. Seperti manusia telah membuat sebuah "kontrak" dengan alam. Menyadari bahwa ada harmonisasi alam yang diubah. Tapi itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup manusia dan tentunya untuk bertahan hidup.

Jadi tidak bisa serta merta menyalahkan periode Neolitikum. Mengingatkan populasi semakin meningkat dan budaya pertanian menjadi keharusan. Bayangkan jika tidak ada pertanian, maka bencana kelaparan agaknya lebih mengerikan. Kembali kemasa "siapa kuat dia berkuasa".

Saya pikir pendahulu kita juga telah berpikir masak-masak terkait keputusan besar yang mereka pilih. Untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekalipun beresiko tertularnya penyakit. Tapi langkah itu lebih baik, dibanding cara berburu dan mengumpulkan makanan yang sudah tidak mumpuni dengan jumlah populasi yang semakin banyak.

Dan awalnya juga tidak ada masalah dengan budaya baru yang dimulai sejak periode Neolitikum. Karena virus penyakit dari hewan lebih banyak tidak terlalu mengancam manusia.

Lantas bagaimana dengan Covid-19 ?



Seperti dijelaskan diatas. Meskipun penjinakan hewan liar oleh manusia beresiko adanya penularan penyakit antar keduanya. Namun jarang terjadi penularan Zoonotik seperti itu. Dan virus Zoonotik tidaklah terlalu mengancam manusia. (Silahkan koreksi bila salah, saya menulis berdasarkan sumber yang sudah dicantumkan dibagian bawah thread ini).

Kita ambil contoh Covid-19. Seberapa bahaya sih penyakit ini ? Kenapa sampai membuat hampir satu Bumi ter-lockdown ? Faktanya memang Covid-19 dapat sembuh sendiri. Asal mendapat perawatan yang baik guna meningkatkan daya tahan tubuh. Pada akhirnya virus akan mati sendiri.

Tapi kini yang menyebabkan Covid-19 menjadi sangat berbahaya karena populasi manusia sangat banyak. Jumlah kita terlalu banyak untuk menangkal Covid-19. Jika perang melawan musuh yang terlihat, mungkin jumlah menjadi kunci kemenangan. Tapi bagaimana dengan musuh yang tak terlihat? Saya pikir justru lebih berat.

Yang bikin penyebaran virus Corona ini salah satu faktornya karena jumlah populasi dan mobilitas manusia yang tinggi. Itu semakin mempercepat penyebaran wabah. Memang betul penyakit ini tidak begitu bahaya dan mematikan. Tapi bila jumlah pasien membludak dan rumah sakit sudah tidak menampung. Disinilah letak fatalnya Covid-19.

Belum lagi dampak ekonomi yang ditimbulkan. Banyak perut lapar yang perlu diisi.

Nah, sampai disini masalahnya jadi kompleks ya? *pusing*



Kalau dulu manusia mulai jadi petani dan peternak karena untuk memuhi kebutuhan pangan. Meski disamping itu beresiko terjadinya penularan virus penyakit.

Kini wabah penyakit sudah terjadi. Tapi dunia juga dibayangi krisis pangan. Ruwet kan. Kita sudah melakukan kesalahan apa sih, hingga kondisi begini...

Saling menyalahkan tentu tidak ada habisnya. Tapi kita perlu mencari sumber kesalahannya agar kita menyadarinya.

Pada saat kita mulai menjinakan hewan liar dan mendekatkan tempat tinggalnya dengan manusia. Artinya kita harus paham bahwa dimasa depan manusia akan akrab dengan wabah. Terlebih dengan padatnya penduduk dan perubahan iklim.

50 tahun terakhir wabah penyakit jadi sering terjadi. Bersamaan dengan lonjakan jumlah manusia yang memadati area perkotaan. Sementara deforestasi atau penebangan hutan semakin meningkat. Hewan-hewan kehilangan tempat tinggal.

Maka hewan-hewan seperti tikus, musang, ular, kelelawar dan sebagainya mulai menginvasi kota. Di kota sumber makanan tersedia, yaitu sampah sisa makanan manusia. Membuat hewan-hewan merasa nyaman tinggal diarea kota.

Sementara tingkat kebersihan dan pengendalian hama masih rendah. Beresiko bagi masyarakat miskin perkotaan. Mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk mendapat perawatan medis.

Infeksi juga lebih cepat tersebar di pemukiman kota yang padat. Dimana orang-orang menghirup udara dan memegang benda yang sama.

Ringkasnya, padatnya penduduk dan krisis iklim membuat wabah semakin parah. Contoh kasus misalnya Wabah Virus Nipah di Malaysia pada 1997-1998. Faktor utamanya disebabkan karena kerusakan alam.

Virus Nipah (NiV) dibawah oleh kelelawar dengan perantara Babi. Tentu migrasi Kelelawar ke Kampung Sungai Nipah bukannya tanpa sebab. Kebakaran hutan membuat kelelawar mencari makan ke perkebunan buah dan peternakan yang dibudidayakan.

Kelelawar buah mencari makan di Kampung Sungai Nipah. Ini karena migrasi kelelawar buah dari hutan ke kebun buah maupun peternakan yang dibudidayakan.

Sepanjang tahun 1997-1998 di Indonesia terjadi kebakaran hutan dan kekeringan karena pengaruh El Nino-- fenomena perubahan iklim secara global dengan memanasnya suhu permukaan air laut Pasifik bagian timur, menurut situs Polygeia. Itulah yang menyebabkan akhirnya kelelawar buah melakukan migrasi.

Ada juga pengaruh antropogenik, yakni pencemaran yang terjadi karena ulah manusia, seperti aktivitas transportasi, industri, dan pembakaran sampah.



Jadi kepanjangan gini thread yang saya buat. Barangkali bisa dijadikan bahan debat mengapa di dunia ini ada wabah penyakit? Mengapa manusia terinfeksi virus dari hewan? Jadi argumen kamu tidak hanya berkutat pada Tiongkok dan AS.

Diluar sana mungkin teori konspirasi lebih seksi untuk dibahas. Entahlah, mungkin kita masih lebih senang menganggap Pandemi Covid-19 hanya sebagai fenomena kesehatan dan ekonomi. Alih-alih mengakui ini merupakan dampak dari krisis iklim yang dibuat oleh manusia sendiri.

Oleh Rianda Prayoga @riandaprayoga
Binjai, 23 April 2020

Spoiler for sumber & referensi:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jannes69 dan 41 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh riandyoga
Mantap gan isinya

izin gelar tiker dulu

dikita masalahnya lebih komplek lagi gan
pokitik salah satunya

sebenernya pemerinta mau pokus kmn dulu sih? nanganin covid atau ekonomi?



emoticon-Recommended Seller
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Uwiiiw... Ane sukak pengetahuan...
emoticon-Ultah
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Karena hewan yg hidup di lingkungan kotor? emoticon-Takut
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
itu semuanya hanya rekayasa Illuminati gan.. para elit dunia.. yg ane liat d YouTube emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Yang Ane mau wabah ini semoga cepet selesai biar ane bisa kerja lagi, biar gk ada yang parnoan lagi, biar keadaan perekonomian lancar lagi terutama buat indonesia dan khususnya dunia, biar gk ada pertengkaran antar banyak negara lagi dan masih banyak hal yang biasanya kita lakuin tapi semuanya terhambat emoticon-Mewek Ya allah semoga doa kami terkabulkan dari hamba yang hina dina ini
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 7 balasan
Sebenarnya agak salah kalo mau diskusi di lounge, tapi kalo tujuannya ts memberikan informasi mungkin tepat aja karena banyak orang kesini. Saya coba ramein aja ini thread.

Mungkin banyak penyakit setelah manusia merubah gaya hidup dari hunter gatherer jadi komunitas bertani dan berternak. Tapi alasan kenapa banyak penyakit dari komunitas ini alasan karena adanya kemajuan peradaban seperti tradisi oral dan menulis. Tradisi oral dan menulis ini penting dalam sistem masyarakat yang rumit agar bisa memperkecil masalah dari interaksi manusia dalam jumlah banyak. Beda dengan orang yang membentuk kelompok kecil untuk bertahan hidup, mereka tidak butuh sistem rumit untuk menjaga keutuhan. Tentu aja dalam komunitas suatu tragedi masal akan diingat dan disampaikan ke generasi selanjutnya agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Salah satu tragedi ini adalah penyakit menular.

Apakah ada penyakit menular berbahaya ditempat yang tidak terbentuk komunitas dan tidak ada hewan domestikasi? Jawabannya ada, contoh
penyakit tidur afrika. Penyakit ini sebenarnya sudah ada ribuan tahun lalu dan menyebar lewat gigitan lalat tsetse. Cuma orang baru tau diabad 17 setelah orang inggris datang dan menulis tentang penyakit ini. Penyakit ini bukan zoonotik tapi vector borne yang artinya dibawa hewan lain kaya malaria, dan lalat tsetse jarang ada diperkotaan tapi banyak di alam liar. Dahulu sebelum kedatangan kolonial penyakit ini cuma menimpa manusia yang sedang melintasi alam liar. Saat kolonial datang, mereka melihat potensi berternak sapi karena di afrika banyak padang rumput yang subur dan menganggap orang afrika sia-sia mengabaikan potensi ini, bahkan mereka bisa meningkatkan efisiensi pertanian jika menggarap sawah menggunakan tenaga hewan. Tapi ada alasan kenapa orang afrika mengabaikan potensi ini, dalam waktu singkat 90% hewan ternak mati dengan jumlah sekitar 250.000 hewan dan membuat bencana kelaparan. Buruknya lagi orang afrika yang dulu menjauh, sekarang kena penyakit karena lalat tsetse pindah teritori membuat jutaan kematian di afrika timur. Sekarang willayah subur ini dibiarkan untuk menjadi alam liar, bagi orang afrika lebih baik kelaparan dan miskin dari pada mati karena penyakit. Kebalik ya sama banyak orang di Indonesia. Bisa dibilang kenapa afrika itu miskin dan kelaparan bukan karena sdm rendah tapi menggarap tanah seenaknya jaminan mati karena lalat ini. Dibandingkan covid, penyakit tidur afrika masih lebih mengerikan.

Jawaban untuk pertanyaan lain. Kenapa ada wabah penyakit? Penyakit menular umumnya disebabkan oleh makhluk hidup lain kaya bakteri, parasit, protozoa, dll. Singkatnya mereka juga butuh hidup dan membentuk kehidupan baru. Sama kaya manusia, untuk bisa hidup kita mengambil hidup makhluk lain. Artinya covid 19 yang dianggap bencana cuma sekedar lingkaran kehidupan yang wajar.

Mengapa manusia terinfeksi virus dari hewan? Ini lumayan sulit karena gak ada yang bisa pastikan jawabannya. Kalau gak mau repot anggap aja terjadi mutasi. Alasan lain tapi belom bisa diverifikasi (butuh koreksi), virus gak secara spesifik menyerang hewan tertentu. Mereka cuma butuh komponen khusus, selama organisme punya komponen yang dibutuhkan virus bisa menyerang siapa saja. Contoh kaya hiv, virus ini udah ada sekitar 5000 tahun lalu menyerang primata kaya simpanse dan gorila tapi tidak berbahaya. Entah bagaimana akhirnya bisa menyerang manusia dan sangat mematikan. Setelah penelitian puluhan tahun kita baru tau kalau hiv butuh komponen cd4 yang ada di t-cell untuk bisa masuk dan berubah jadi aids. Pada primata cd4 ini juga ada, cuma setelah mereka terinfeksi hiv tidak berubah jadi aids karena secara unik cd4 tiba tiba mengilang dan mencegah hiv menjadi aids. Hipotesisnya selama organisme memiliki cd4 maka hiv bisa menyerang.
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
karena takdir gan
emoticon-Betty emoticon-Betty
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Ane mah simpel aja ngeliatnya...

Wabah cuman salah satu cara alam buat ngasi tau manusia...
emoticon-Ngakak
Bahwa ia sedang tidak baik2 saja...
profile-picture
riandyoga memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
wah baru cek, ternyata uda dipindah ke forum sainstek emoticon-2 Jempol
ane pengen banget kek gitu gan ente gitu dah emoticon-anjing


×
GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di