CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ea05686c820841fe73e03e6/bab-35--perfect-idea

Bab 35 : Perfect Idea

Bab 35 : Perfect Idea

🌸🌸🌸

"Kamu berubah."

"......"

Lily terkejut mendapati Varo ada didalam kamar. "Bukankah kamu bilang akan pulang 3 hari lagi??." Ia bertanya bingung.

"Dan kamu biasa aja??." Varo bertanya sarkartis.

"Kita udah sibuk sama urusan masing-masing 2 bulan ini. Aku jarang di rumah dan kamu lebih banyak menghabiskan waktumu di cafetaria. Arion bahkan nggak kangen padaku."

"....."

"Aku kesepian 1 bulan di Jepang, aku juga kesepian 1 bulan di Korea dan begitu pulang nggak disambut."

"....."Pak, anda pulang nggak bilang kan!!

"Pokoknya aku minta jatah!."

Apa???

Varo menarik tangan Lily dan keduanya jatuh di tempat tidur.

"Heii...tunggu dulu....aku belum mandi..."

Varo tidak peduli dan malah asyik melepas bajunya sendiri. "Nanti kita bisa mandi bareng."

"Varo.....
......
......

3 jam kemudian, mereka berendam dalam bak mandi dengan keluhan Lily yang tiada henti.

"Ini udah jam 1 pagi. Mau sampai kapan kita berendam. Aku capek, ngantuk." Keluhnya.

"Bodo'!. Ntar kalau udah di kasur, kamu langsung tidur dan aku nggak bisa ngapa-ngapain."

"Emang kamu masih belum puas ha??." Badanku sakit semua tau!!!."

"Belum!. Aku udah jadi lajang 2 bulan ini. Kamu harus tanggung jawab."

"......"

Dasar mesum!!!!.

🌺🌺

Lily akui sejak ia mengatakan pada Varo ia ingin mulai membuka cafetaria nya dan menjadi koki, pria itu dengan sangat pengertian membantunya.

Cafetaria itu berada tepat disebelah perusahaan Varo, memiliki 4 lantai dan terlihat mencolok dibanding cafetaria lainnya. Lantai pertama dan kedua biasanya dipakai untuk pelanggan yang mau sarapan atau makan siang di sana. Sedangkan lantai tiga bisa digunakan pelanggan sebagai tempat membaca. Mereka tidak diizinkan meminjam buku itu untuk dibawa pulang, tapi biasanya para pelanggan yang suka membaca menghabiskan sebagian waktu mereka di sana dari pagi hingga sore. Lantai 4 biasanya digunakan bagi mereka yang ingin ketenangan. Dan khusus dilantai itu, pelanggan harus booking tempat terlebih dahulu dan batas waktunya adalah seharian, hanya 10 orang yang bisa berada di lantai 4.

Varo membantunya menyeleksi 30 karyawan secara ketat dan membuat mereka menandatangani perjanjian kontrak kerja.

Dalam perjanjian kerja tersebut, dilarang menyebutkan siapa pemilik dari cafetaria itu. Dan Lily hanya dianggap sebagai koki di sana.

Dalam kurun waktu 4 bulan. Cafetaria milik Lily sudah sangat terkenal di Jakarta. Selain tempatnya yang keren makanannya juga nggak kalah enak.

Banyak yang datang ke cafetaria nya bukan hanya untuk makan atau bersantai, mereka juga untuk minta izin mengiklankan cafenya, juga ada stasiun tv yang ingin syuting di sana. Meski tak berhubungan langsung dengannya (mereka menggunakan asisten yang di pilih Varo) ia juga ikut kerepotan memilah dan menandatangani surat persetujuan.

Hal itulah yang membuat Lily berubah menurut Varo. Istrinya itu, sibuk menjalani bisnisnya dan tidak perhatian lagi padanya.

"Dimana letak kurangnya perhatianku padamu. Minggu aku ada di rumah. Dari Senin sampai Sabtu aku menyesuaikan dengan jam kerjamu, kita pergi sama-sama, makan sama-sama, pulang juga sama-sama."

Varo masih cemberut. Pagi itu mereka akhirnya mendapatkan libur kerja (Varo mengambil cuti 2 minggu, Lily di paksa libur). Mereka akhirnya punya kesempatan berkumpul bersama Arion seharian."Tapi kamu nggak bisa ikut kalau aku ada kerja di luar negeri."

"Itu karena aku salah satu dari 3 koki penting di restoran, kalau aku nggak ada siapa yang masak bagian ku."

"Kan kamu punya banyak asisten."

"Tapi kan aku koki."

"Kamu kan owner."

"......" Kalau sudah bicara hal ini, mereka pasti saling jawab dan nggak akan berhenti sampai Lily mengalah.

Karena mereka berencana mengajak Arion ke Bricks 4 Kidz, ribut kecil itu pun terhenti.

Sesampainya ditempat itu, Arion langsung antusias bertemu teman balita seusianya, juga permainan lego didepannya.

Lily dan Varo mengawasi Arion tak jauh dari sana. Dan tentu saja, ribut kecil kembali dilanjutkan.

"Aku nggak mau kemana-mana sendirian terus. Bosan dikira lajang dan digoda para wanita."

Lily berkata santai sambil menyerahkan sandwich yang ia bawa. "Selama kamu jaga mata, semuanya akan baik-baik saja."

"Tapi kamu juga tetap bisa masak di rumah. Masak apapun dan pasti ku makan. Aku nggak suka kamu terlalu lelah, pulang ke rumah kamu pasti langsung tidur. Rion udah bangun dan kamu masih tidur. Dan aku....nggak suka kamu dekat sama koki pria itu. Dia lajang dan pastinya suka padamu."

"Mak...maksudmu??."

Varo berkata kesal. "Aku melihat semuanya dari rekaman CCTV. Pria itu...sering memperhatikanmu memasak, juga curi-curi pandang ketika kamu main sama Rion. Dia bahkan mendekati Rion dan untungnya Rion tidak suka padanya."

Lily menatap pria itu lama. "Jadi kamu maunya aku gimana??. Mungkin....selama ini kamu nggak tau kalau aku sering jadi bahan gosip di perusahaan mu. Dikatain biasa aja, dibilang miskin, dan ngandalin anak buat dapetin kami. Aku juga dikira hamil di luar nikah."

"....."

Lily tersenyum ketika Varo tidak bisa membalas perkataannya. "Standar, itu memang cocok untukku. Penampilanku normal, di mata orang lain, aku sama sekali nggak menarik, nggak cantik, nggak kaya, nggak pantas...jadi istri seorang Azri Alvaro. Itu faktanya."

"Tapi aku yang nggak perfect ini....dilamar oleh Azri Alvaro yang sempurna, di sukai oleh Azri Alvaro yang punya segalanya dan sepertinya...sangat dicintai oleh pria itu sekarang, mengingat rasa cemburunya yang berlebihan itu."

Varo mau tak mau menyunggingkan senyumnya mendengar kalimat terakhir itu.

"Dan aku....nggak terlalu peduli dengan pendapat mereka. Nggak lagi setelah aku memutuskan menikah denganmu. Tapi....tentu aja aku nggak akan ngebiarin si sempurna ini rusak namanya gara-gara aku. Jadi...aku bekerja keras membangun karir ku, untuk membuatmu bangga sekaligus menghapus anggapan orang lain bahwa aku tak pantas untukmu."

"Ah...dan aku juga ingin Bunda dan almarhum ayahku bangga padaku. "Anggap saja, seperti...aku sedang dalam proses menggapai cita-citaku. Dan karena kesuksesan yang sekarang masih seumur jagung. Aku nggak mau segera bangga."

Varo meraih tangan Lily dan menggenggamnya. "Tapi aku bangga padamu, aku nggak malu menikah denganmu, aku membutuhkan perhatian dan kasih sayangmu itu...adalah tujuanku menikahimu. Dan aku ingin memanjakan mu juga. Seperti istri-istri orang lain, yang jalan-jalan ke luar negeri, atau beli barang-barang mahal atau....

"Karena aku bukan tipe istri-istri yang suka bermanja-manja dan menghabiskan uang suami. Jadi...tak perlu terlalu berharap seperti itu. Kita begini saja aku udah sangat senang. Kamu nggak pernah mengeluh yang aneh-aneh atau memaksaku dan aku sangat menyukai sifatmu itu."

"Jangan terus memujiku seperti itu...aku...jadi nggak bisa marah padamu."

"Jadi...aku boleh tetap bekerja kan?."Lily tersenyum senang dan Varo hanya bisa menghela nafas dalam.

Soal debat, ia pasti kalah dari Lily.


🌺🌺


Varo bermain lego bersama Arion sementara Lily mengobrol bersama ibu-ibu yang terlihat menggendong bayi kembar, Lily juga membantu menggendong salah satunya.. Dari jauh, semakin diperhatikan semakin Varo menyukai saat Lily menggendong anak bayi-bayi itu.

"Itu...istrinya Bapak ya??." Tanya seorang bapak-bapak di samping Varo.

Pria itu mengatakan kalau ibu yang disamping Lily adalah istrinya. "Repot juga punya banyak anak kembar, apalagi masih kecil-kecil begini. Ditinggal kangen, dijagain pasti rusuh." Jelas pria itu.

"Si kecil 3 ini juga anak Bapak??." Tanya Varo penasaran. Ia juga memperhatikan 3. anak kecil yang membantu Arion menyusun Lego. Sejak tadi terlihat kalau mereka sangat akrab.

"Iya. Yang pakai baju merah itu namanya Aciel 4 tahun, anak paling tua. Dan yang pakai baju hijau muda itu namanya Luciel kembarannya, beda usianya cuma 3 menit, nah ini kembaran mereka satu lagi, wajahnya emang nggak mirip soalnya nggak kembar identik. Yang ini namanya Azriel. Dan si kembar disana itu namanya Anna dan Hanna, mereka usianya baru 7 bulan."

"Bapak emang punya keturunan kembar, anaknya kembar terus??." Lagi-lagi Varo bertanya penasaran.

Pria itu menggeleng. "Nggak ada, dari istri juga nggak ada, keluarga juga nggak ada. Mungkin emang lagi beruntung aja. Istri sekarang udah steril, kasihan kalau ngelahirin lagi, ini aja udah benar-benar repot. Kasihan juga kalau suruh jagain anak sendirian dirumah. Istri saya, juga terpaksa harus risign karena tempat kerjanya nggak ngizinin bawa anak. Saya juga barusan di pecat dari kantor, karena hal itu."

"......"

"Tapi senang juga akhirnya bisa bantuin istri jaga anak. Kami bahkan akhirnya bisa jalan-jalan sekeluarga kayak gini, yah walaupun saya tetap harus cari kerja."

"Jagain anak itu sibuk??."

Pria itu tersenyum. "Karena kami sekarang punya lima anak, tentu sibuk, apalagi 3 monyet kecil ini sudah bisa lari-larian, hahaha. Repot, tapi juga menyenangkan melihat mereka tumbuh."

Varo melirik ke arah si kecil Axciel yang sibuk memberikan Arion Lego dan yang lain sibuk membantu Arion menyusunnya. "Bapak sama ibuk kemarin kerja apa??."

"Saya dan istri saya sama-sama kerja di rumah makan Padang, bedanya istri bagian kasir nah saya kokinya. Istri saya udah risign tahun kemarin dan saya risign kemarin. Sakit...kalau gaji di potong terus, padahal saya dan istri saya udah kerja disana hampir 12 tahun."

"Mm.....Bapak mau kerja sama saya??."

"....."permintaan Varo itu membuat Bapak itu langsung terdiam.

"Saya....." Varo melirik kearah Lily lalu mendadak tersenyum. "Saya punya cafetaria dan kekurangan koki. Mungkin....Bapak dan istri Bapak bisa kerja disana kalau memenuhi syarat."

".....Bapak jangan bercanda, saya cerita nggak ada maksud apa-apa loh." Bapak itu merasa tidak enak.

"Saya orang yang sangat serius dan menilai dari semua segi yang bisa menguntungkan saya. Sekarang saya membutuhkan koki dan penjaga anak. Kita bisa melakukan kontrak kerja sama sesuai dengan gaji yang anda inginkan tapi dengan syarat-syarat yang saya tentukan. Masa uji coba 3 bulan, kontrak di perpanjang per 3 tahun. Ini kartu nama saya. Bapak dan istri Bapak bisa datang untuk wawancara besok." Varo memberikan kartu nama cafetaria Lily.

Meski tak yakin akhirnya Bapak itu mengiyakan tawaran Varo dan Varo terlihat makin senang.

Pertama, ringankan pekerjaannya.
Kedua, cari kesempatan yang tepat lalu bamm!!!, Rion akan punya adik baru, hahahaha.

🌺🌺

"Aku ingin merenovasi lantai 4." Varo berkata ketika mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.

"Kenapa??."

"Rata-rata dari staff cafetaria punya anak di bawah 5 tahun. Mereka sering mengambil libur atau datang terlambat dengan alasan mengurusi anak mereka dulu. Aku ingin lantai 4 di multifungsikan sebagai ruang bermain anak-anak. Kita juga butuh 3 orang pengawas anak-anak. Sedangkan bagian luar lantai 4 bisa dipakai untuk tempat bersantai atau rooftop cafe. Bagaimana menurutmu??."

".....Bagus juga. Kamu dapat ide dari mana??." Tanya Lily.

"Aku juga menambah satu koki untuk meringankan tugasmu." Varo mengabaikan pertanyaan Lily.

"Aku juga akan membawa Rion ke kantor besok, biar aku yang menjaganya sampai makan siang, dan setelahnya kamu yang menjaganya, sampai kita pulang kerja."

Bukankah itu...terlalu berlebihan??."Kenapa kamu mengambil alih tugasku??."

Varo menoleh sekilas lalu tersenyum. "Karena aku memikirkan yang terbaik untuk mu."

Dan tentu saja untuk ku juga.


🌸🌸🌸

Bab selanjutnya :

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d637154284c
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sales.mobil1 dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cicimasni
26
Thread sudah digembok
yak bersambung,, ditunggu lanjutannya kak
profile-picture
01am memberi reputasi
gak sabarrrr !!!
profile-picture
01am memberi reputasi
Owh...belum ada kelanjutannya lagi ...
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di