CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e9af174a2d195283b1cac3c/di-antara-dua-duda

Di Antara Dua Duda

Cerita ini nyata adanya, aku tulis spesial untuk kamu yang kini jadi suamiku dan juga untuk kamu yang kini menjadi sahabat kami.

Cerita ini tentang bagaimana awalnya aku dengan kalian hingga akhirnya salah satu dari kalian berhasil meyakinkan dan menjadikanku seorang istri.

Apapun isi cerita ini nantinya tidak akan membuat tokoh tokoh dalam cerita merasa tidak enak, risih, marah dan sebagainya karena kami sudah saling tahu dan berdamai dengan masa itu.

Namaku Lisna dan atas dasar mengenang kenangan, cerita ini ku mulai...


Di Antara Dua Duda

Di Antara Dua Duda


Pertengahan tahun 2013, hari ini aku wisuda di salah satu PTN di Sumatra. Tak bisa senang aku hari ini karena tepat hari ini juga mama dan papaku resmi bercerai karena suatu alasan.

Usiaku 22 tahun dan itu tak cukup buatku ingin mengerti siapa yang salah dalam perceraian orang tuaku. Yang jelas akibat kejadian itu mama harus angkat kaki dari tanah Sumatra dan aku memilih ikut dengannya.

Hari hari terakhir di Sumatra sengaja tak ku ceritakan karena aku pribadi memilih untuk melupakannya.
***

Seminggu setelah wisuda plus perceraian itu mama mengajakku pergi dari kota tempatku lahir dan tumbuh besar di Sumatra. Pulau Jawa adalah tujuan kami dan Surabaya adalah kotanya. Rabu pagi jam 9an tanggal 14 Agustus 2013 kami sampai di Juanda. Aku masih ingat betul harinya karena ini merupakan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pulau Jawa.

"Ma, kita tinggal di sini?" Tanyaku ke mama saat kami menunggu jemputan di tempat Kedatangan.

"Belum tahu sayang, lihat kek mana nanti ya Lis." Jawab mama sembari mengeluarkan hpnya. Dia nampak akan menelpon lagi orang yang akan menjemput kami.

Sebelumnya mama bercerita bahwa di kota ini ada saudara jauh mama, rumahnya ada di daerah Wiyung. Aku tak kenal dan tak pernah tahu tapi semoga saja orangnya baik.

Beberapa saat menunggu orang yang kami tunggu tunggu datang. Seorang ibu ibu yang nampak seumuran dengan mama. Ibu itu yang belakangan kupanggil budhe saat bertemu mama begitu heboh. Layaknya kawan lama yang sudah lama tak berjumpa, ada saja yang mereka bicarakan termasuk mengenai diriku ini. Satu hal yang membuatku merasa heran sekaligus salut sama budhe ini, dia sama sekali tak menyinggung masalah perceraian mama dan papa.

Singkat kata budhe mengajak kami ke rumahnya dengan mengendarai Avansa putih miliknya. Di perjalanan mama dan budhe masih terus saling cerita sementara aku memilih menyimak saja sambil memperhatikan jalanan Kota Surabaya ini.

Dari percakapan mereka aku dengar kalau mama hanya akan sehari dua hari saja nginep di rumah budhe. Selanjutnya rencana mama adalah Jember. Kata mama di sana ada kerjaan dan karena penasaran aku bertanya,

"Ma Jember itu di mana?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 44 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Diubah oleh megaut
nyimak karena saya duda juga.
emoticon-Cool
profile-picture
megaut memberi reputasi
ngeri nih klo
22nya masih berhububgan
Quote:

Serius gan? Pasti duren donk, duda keren emoticon-Malu

Quote:

Masih lho gan..emoticon-Big Grin
Lihat 2 balasan
Bagian 2


Hanya sehari saja aku dan mama tinggal di rumah budhe, meski beliau mencoba menahan kami untuk tetap tinggal tapi mama bersikeras untuk pergi hari ini.

"Ya sudah, kelen tunggu sebentar". Kata budhe sembari masuk ke kamarnya. Beberapa saat kemudian budhe kembali membawa tas ke ruang tamu tempat aku dan mama berada.

"Sudah ga usah repot, haha". Kata mama begitu budhe duduk di sofa.

"Haha nih ambil, ini hak kau." budhe menjawab perkataan mama sembari menyodorkan satu persatu isi dalam tasnya. Ada kunci mobil, stnk, bpkb dan sebuah amplop coklat.

Mama tersenyum menerima itu semua namun matanya nampak berkaca kaca begitupula dengan budhe. Sejenak kemudian mereka berpelukan, nangis. Aku yang melihat mereka jadi ikut nangis meski tak tahu ada apa antara mereka. Kenapa budhe begitu baik sekali menyerahkan mobilnya dan kenapa pula mama tak nampak sungkan sedikitpun menerimanya. Ah sudahlah nanti mama pasti ceritakan, yang jelas aku sangat bersyukur dengan ini, aku tahu tabungan mama sudah mulai tipis.

Avansa putih yang dipakai budhe menjemput kami di bandara kini resmi jadi punya mama. Di perjalanan ke Jember sambil nyetir mama cerita kalau di masa lalu ada urusan hutang piutang di antara mereka. Ada mungkin setelah 2 jam perjalanan mama melipir ke salah satu BRI di Probolinggo untuk masukkan uang dalam amplop yang diberi budhe tadi ke rekening sekalian mama minta gantian.

"Ini Jember masih jauh ma?"

"Sekitar 2 jam perjalanan, kamu pelan pelan saja bawa mobilnya sekalian perhatikan penunjuk jalan. Ikuti arah yang ke Lumajang atau Jember."

"Hah? Oh iya ma."


Kebiasaan mama kalau aku yang bawa mobilnya adalah tidur tapi saat ini beliau tidak seperti biasanya. Mama tetap melek dan menemani aku ngobrol, dia juga menjadi navigatorku saat ini.

"Ma kita ke Jember sebenarnya mau ke siapa ma?"

"Ada, ke tempat teman mama mau nagih juga hehe siapa tau ada kerjaan juga."

"Hm, iya ma Amin."


Tak terasa kami sudah mulai memasuki kabupaten Jember, Tanggul nama daerah yang kulalui saat ini. Mama suruh aku terus saja ikuti jalan utama sampai ketemu alun alun Rambi Puji nanti berhenti di sana. Akan ada kawan mama yang menjemput.

Singkat cerita, ada mungkin 20 menit setelah melewati daerah Tanggul, Bangsal akhirnya kami sampai di alun alun Rambi Puji. Mama kemudian menelpon kawannya dan tak sampai 5 menit kami sudah di jemput.

Bu Surya nama kawan mama itu, rumahnya dekat banget dengan alun alun. Beliau dan keluarga menyambut kami dengan baik, hanya saja saat bicara suka pakai bahasa Jawa yang tak ku mengerti sama sekali.

"Di sini memang begitu nak Lisna, ini baru bahasa Jawa nanti juga banyak yang bahasa Madura di sini, hehe." Bu Surya berkata seperti itu menyadari kebingunganku tapi dia juga meyakinkanku lama lama pasti akan terbiasa. Minimal tak bisa ngomongnya tapi ngerti artinya.

Mama menerima tawaran bu Surya untuk ikut dengannya menjadi agen asuransi karena memang basic mama itu di sana. Sementara waktu ini kami di berikan menumpang tinggal di tempat Bu Surya yang ada di persis di sebelah rumahnya. Di kota ini ada banyak angkot kata Bu Surya tapi supaya lebih leluasa mencari pekerjaan aku dipinjami motor oleh beliau.

Setelah segala urusan selesai saat itu, Bu Surya mengantarkan kami ke rumah sebelah untuk istirahat. Besok katanya beliau akan mengajak mama untuk berkenalan demgan relasinya sementara aku sendiri berencana akan mencari, melamar lowongan pekerjaan.

"Jadi besok kamu mau ke Jember lihat lihat lowongan?" Tanya mama.

"Iya ma, tapi lho ini bukannya udah di Jember ma?"

"Ini Rambi Puji sayang, kata Bu Surya juga begitu."

"Duh mama, Jember itu di mana ma?"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
valbo dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh megaut
Lihat 7 balasan
lho ceritanya ada 2 emoticon-Leh Uga
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Selalu menarik kalo ceritanya berdasarkan real life,apalagi tokoh2nya masih ada dan mengikuti cerita ini.
profile-picture
profile-picture
ariid dan megaut memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Bagian 3


Pagi ini mama baru saja berangkat ketemu prospekannya bersama Bu Surya, sementara aku rencananya akan ke kantor pos kota Jember yang kata Bu Surya alamatnya ada di dekat alun alun Jember. Dari tempat ku tinggal sekarang lurus saja terus ke Timur, ikuti jalan utama nanti pasti akan ketemu alun alunnya kota Jember.

Jam 9 pagi setelah selesai beberes aku berangkat, meski sebenarnya tak tau jalan aku beranikan diri yang penting ingat pesan mama, hati hati. Sepeda motor beat pinjaman Bu Surya ku pacu pelan pelan sedang ke arah timur. Ku usahakan untuk ingat setiap tempat yang baru saja ku lewati. Tadi ada terminal kulewati, kubaca Tawang Alun namanya. Terus saja ku melaju ke timur melewati perempatan Mangli hingga akhirnya setelah sempat juga sesekali bertanya ke orang aku sampai juga di tempat tujuan.

"Yang paket 1 aja ya mbak". kataku kepada mbak pelayan rumah makan. Perutku lapar jadi aku makan dulu di tempat makan ayam geprek sambel ijo yang kujumpai di pinggir jalan. Kebetulan aku duduk menghadap jalan raya san jadi tahu lokasi tempat makan ini berada persis di depan tempat hiburan karaoke OISAS.

Gajah Mada nama jalannya, setelah makan terus kutelusuri jalan itu hingga tak berapa lama sampai juga aku di kantor pos yang posisinya memang dekat dengan alun alun. Kuparkir motor dan langsung menuju ke sebuah papan pengumuman yang ada di halaman kantor pos. Ada banyak lowongan pekerjaan tertempel di sana. Ku baca satu persatu dan ku foto beberapa yang menarik dan sesuai minatku, yaitu adm.

Puas melihat lihat lowongan aku putuskan untuk segera pulang dan segera membuat surat lamarannya. Jalan pulang agak ribet karena tadi ada jalan satu arah yang ku lewati. Sempat bingung tapi dengan modal tanya sana sini akhirnya aku menemukan jalannya. Saat pulang ada pasar besar kulalui yang belakangan kuketahui namanya adalah pasar Tanjung.

Singkat cerita 4 surat lamaran sudah ku kirimkan ke 4 tempat via pos dan ada 2 yang memanggil untuk interview di hari yang sama dan jam yang sama. Satunya di Roski Square dan satunya lagi di PT. BX yang beralamat di daerah Sumber Sari. Aku bingung tapi karena saran mama aku coba telpon salah satunya minta jadwal interview diundur karena alasan penting mendadak. PT. BX adalah yang ku telpon karena alamatnya lebih jauh. Beruntung mereka setuju mengundur jadwal jam interviewku.

Hari interview tiba, pagi pagi sesuai jadwal diantar mama aku sudah di Roski Square, kebetulan mama aesang tidak ada prospek. Interview berjalan lancar, aku akan di telpon lagi nanti untuk keputusan final namun pihak yang mewawancara aku tadi sudah menjelaskan berapa gajiku. Kata mama kalau sudah dijelaskan seperti itu aku sudah pasti diterima tapi untuk jaga jaga aku tetap akan interview juga di BX.

Setelah selesai di Roksi, aku dan mama segera menuju BX di Sumber Sari. Beberapa kali bolak balik di alamat jalan yang di beri, sesuai dengan alamat yang tertempel di kantor pos namun tak juga kami jumpai BX itu ada di sebelah mananya. Orang orang sekitar sana yang kami tanyai pun tak ada yang tahu.

"Coba di telpon". Kata mama yang memutuskan untuk berhenti makan dulu di warung makan Pasundan dekat RRI. Tanpa menjawab aku langsung menelpon PT. BX, tak berapa lama ada suara wanita memberi jawaban.

"Selamat siang dengan PT. BX ada yang bisa dibantu?"

"Siang buk, saya Lisna yang dijadwal interview hari ini tapi maaf bu saya bingung cari alamatnya dari tadi ga ketemu."

"Sebentar ya saya cek dulu... Oh iya iya pantes saja dari tadi tidak datang. Begini bu Lisna, mohon maaf hari ini jadwal interview kantor kami kebetulan baru saja tutup dan ada beberapa kuota lowongan yang sudah habis juga."

"Maaf buk, apakah untuk posisi adm sudah isi?"

"Hm, sebentar ya... Masih ada bu, kalau Bu Lisna berminat besok pagi jam 8 bisa datang untuk interview dan beberapa tes lanjutan. Harap tidak terlambat karena akan langsung kami anggap gugur, terimakasih".

"Oh iya iya bu, terimakasih".


Mama menyerahkan sepenuhnya padaku apakah besok akan ke BX lagi atau tidak. Terus terang BX ini bikin aku penasaran seperti apa rupanya, apalagi setelah percakapan di telpon tadi. Hari ini mungkin karena naik mobil jadi kurang leluasa aku mencari alamatnya. Besok pagi pagi aku akan cari lagi, sendiri naik motor.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
valbo dan 5 lainnya memberi reputasi
Alamat ada kantornya gak ada. Jangan2 perusahaan kuyang sejahtera emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
megaut dan caseopia memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Bagian 4



Pulang dari mencari alamat BX kemarin siang orang dari Roski Square menelpon, dia sampaikan bahwa aku bisa mulai kerja sebagai staff adm mulai senin depan di sana. Ku iyakan, senang juga rasanya namun pagi ini aku tetap akan ke BX di Sumber Sari. Jam setengah 7 pagi aku sudah berangkat dari tempatku tinggal, pesan mama masih sama seperti biasanya, hati hati.

Ku ulang lagi rute yang kemaren namun kali ini lebih leluasa karena naik sepeda motor jadi bisa masuk masuk ke jalan yang lebih kecil. Feeling ku bilang BX itu ada di dekat warung pasundan tempat aku dan mama makan siang kemaren. Setelah tanya tanya dan konfirmasi lagi ke no telpon BX akhirnya aku temukan juga lokasi kantornya.

Rumah yang disulap jadi kantor, lokasinya pun di agak masuk perumahan. Pantas saja kemaren aku dan mama susah menemukannya. Kantornya di luar ekspektasiku, baru parkir saja audah ku dengar gaduh dari lantai dua namun aku tetap positif thinking. Di ruang tamunya ada banyak kursi dan sebuah meja, di sana aku disambut oleh seorang wanita yang nampak seumuran denganku.

"Selamat pagi mba, saya Wulan ada yang bisa saya bantu?"

"Oh iya mba, saya Lisna kemaren disuruh kesini untuk interview".

"Oke, tunggu sebentar saya cek dulu. Mba Lisna silahkan duduk dulu".


Mba Wulan nampak sedang mencari berkasku di meja tempatnya duduk. Setelah ketemu kemudian menjelaskan bahwa akan ada beberapa test yang akan ku ikuti hari ini namun untuk lebih jelasnya nanti akan dijelaskan pada saat wawancara kata dia.

"Tunggu sebentar ya mba Lisna, saya ke ruangan pak manager dulu." Mba Wulan tersenyum ramah tanpa menunggu jawabku dia masuk ke sebuah ruangan dan kurang dari 2 menit dia sudah kembali dan memanggilku untuk masuk ke ruangan itu. Di dalam ruangan terdapat sebuah meja dan 3 kursi, yang satu sudah diduduki oleh seorang pria ganteng dengan jas hitamnya sementara 2 kursi lainnya di seberang meja masih kosong.

"Silahkan duduk". Kata pria itu tegas namun ada senyum yang menyenangkan ketika aku sekilas menatapnya.

"Perkenalkan saya Deni selaku manajer operasional PT.BX cab Jember, dan anda adalah...?"

"Saya Lisna Putri Andriawan Pak, panggil saja Lisna".

"Hm ok saya sudah tau karena baca surat lamaranmu, hanya memastikan saja karena yang datang lebih cantik dari fotonya, hehe. Jadi begini Lisna santai ya saya jelaskan dulu tentang 3 test yang akan kamu ikuti hari ini. Sebelumnya saya infokan dulu bahwa test ini memakan waktu seharian sampai max jam 4 sore nanti, apakah kamu bisa?"

"Bisa pak".

"Oke saya jelaskan ya, tes yang pertama itu namanya observasi yang tentunya akan dilakukan diluar ruangan, nanti pada tes ini kamu akan ditemani oleh seorang konsultan dan tugas kamu hanya mengamati dan menilai saja apa yang dilakukan oleh konsultan kamu itu. Lalu tes yang kedua adalah tes tulis, nanti kamu akan diberi kertas berisi pertanyaan seputar kegiatan tes pertama. Jadi harap diperhatikan supaya kamu nanti bisa jawab. Terakhir adalah Wawancara bersama saya nanti sore dan hasilnya kamu diterima atau tidak akan langsung diberitahukan nanti. Jadi dirumah kamu sudah ga harap harap cemas lagi. Nah bagaimana, sampai di situ ada pertanyaan?

"Hm....boleh telpon mama pak, saya mau kabari kalo akan sampai sore."

"Oh iya silahkan, oh iya tadi apa kamu ga kaget dengar suara gaduh dari lantai 2?"

"Iya pak, ada apa ya?"

"Hehe itu ada salah satu staff yang ulang tahun, ya sudah kalau sudah jelas kamu sekarang bisa tunggu dulu di depan di tempatnya Wulan, nanti akan ada konsultan yang menemui kamu. Semoga sukses"


Aku mengangguk kemudian menjabat uluran tangannya lalu keluar kembali ke tempat mba Wulan. Mama ku telpon dan mengizinkan yang penting hati hati katanya. Duduk sembari menunggu aku berpikir konsultan itu apa maksudnya lalu bagaimana tes observasi itu...?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
valbo dan 5 lainnya memberi reputasi
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman teman yang menjalankan.
emoticon-Salaman
profile-picture
ariid memberi reputasi
mana duda nya?
profile-picture
profile-picture
kroaxz dan megaut memberi reputasi
Lihat 4 balasan
duda jadi rebutan, yang perjaka jomblo saja....kayak saya emoticon-Ngakak
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bagian 5


Hari ini di kantor BX rupanya bukan hanya diriku yang akan ditest. Ada beberapa orang lainnya yang nampak sedang duduk di ruang tamu. Kata mba Wulan kami semua peserta test hari ini. Aku berkenalan dengan salah satunya, kebetulan dia duduk di sebelahku. Namanya Ayu asli dari Jember, belum lama kami mengobrol kemudian datang seorang laki laki menghampiri kami.

"Hi, perkenalkan saya Bandi salah satu karyawan yang ditunjuk perusahaan untuk mendampingi kalian ditest observasi nanti, untuk yang namanya saya panggil bisa langsung ikut saya ya. Lisna Putri Andriawan.."

Pria bernama Bandi itu memanggil namaku, sejenak kami saling beradu pandang. Dia tersenyum, duh ganteng juga pikirku.

"Ayo mba Lisna ikut saya".

"Eh iya pak".
Aku berjalan mengikutinya dan ternyata dia mengajakku ke tempat parkiran motor.

"Mba Lisna bawa sepeda motor? Kalau bawa motornya taruh di sini dulu ya, nanti pakai motor saya saja, biar mba Lisna saya bonceng".

"Iya pak".
Tanpa tanya macam macam lagi aku ikuti perintahnya, setelah parkir yang benar aku boncengan dengannya. Dibawanya aku menuju arah sebuah kampus dan ketika ada warung nasi padang dia berhentikan motornya.

"Makan dulu kita Lis, kamu pilih saja lauknya, bebas, saya yang traktir hari ini saya ultah, hehe!"

"Duh engga usah pak, saya bayar sendiri saja".

"Eits nolak rejeki itu ga baik lho, ayo jangan sungkan."

"Hm..iya pak, selamat ultah ya pak".

"Hehe, terimakasih. Ayo pesan".


Aku memesan menu yang serupa dengan pak Bandi, nasi padang lauk rendang plus minumnya es teh. Pak Bandi ini selain ganteng juga supel orangnya. Selesai makan dia jelaskan tugasku nanti hanya ngikut saja, perhatikan dia tapi jangan lakukan apa yang dia lakukan. Sebenarnya aku kurang paham tapi akan ku ikuti saja.

Kemudian dia menunjukkan isi tasnya kepadaku, di dalamnya terdapat 2 buah bantal atau ikat pinggang yang kata pak Bandi merupakan alat terapi kesehatan. Nanti dia akan mengajakku ke rumah rumah warga untuk memperkenalkan alat itu dan sekali lagi dia ingatkan kalau tugasku hanya mengamati dia nanti.

"Sudah paham ya Lis? Ayo kita berangkat".

"Iya paham pak".
Jawabku sekenanya padahal aku belum benar benar paham dan masih banyak tanya di kepalaku tapi aku memilih ngikut saja lagipula barusan habis ditraktir makan ini dan pak Bandi juga lumayan enak orangnya.

Dari tempat makan aku dibawanya ke daerah Arjasa, dekat terminalnya. Setelah menitipkan sepeda motor di salah satu rumah warga kegiatan yang katanya test observasi ini dimulai. Pak Bandi mengajakku masuk satu persatu rumah warga untuk memperkenalkan alat terapi yang dia bawa, ada beberapa penolakan tapi pak Bandi nampak sudah biasa dengan hal itu. Senyumnya, semangatnya tak kendor meski ada warga yang galak. Aku sebenarnya takut tapi entah kenapa bersama pak Bandi aku merasa tenang.

Tepat jam 2 siang dia mengajakku kembali ke kantor BX untuk test tulis dan wawancara kata dia. Selama kegiatan tadi yang ku amati Pak Bandi memberikan terapi gratis kepada warga yang mau, jadi dia tanyakan dulu keluhan penyakit warga lalu kemudian memberi warga tersebut mencoba alat terapi yang dibawanya itu. Kalau enak, cocok, alatnya bisa dibeli langsung ke kantor BX. Tapi tadi seingatku ada satu warga yang dapat langsung alat itu dari Pak Bandi dengan harga yang sangat jauh lebih murah karena dia beruntung memenuhi persyaratan kata pak Bandi. Jadi kalau beli di kantor harganya 1 juta tapi tadi warga yang beruntung itu dapat cuman bayar 300 ribu saja.

Jam setengah 4 kami baru sampai di kantor BX karena tadi pak Bandi traktir aku makan lagi. Begitu sampai aku langsung diberikan kertas soal jawaban yang berisi pertanyaan tentang kegiatanku tadi bersama pak Bandi. Ada 15 soal, ku jawab sesuai yang ku tahu saja. Setelah selesai ku kumpulkan ke mba Wulan dan aku disuruhnya menunggu giliran untuk interview.

Ada nama yang dipanggil tapi bukan namaku, dia kemudian masuk keruangan interview seiring dengan keluarnya Ayu dari ruangan itu.

"Hi ayu, kamu udah interview ya?" Sapaku ketika dia mendekat.

"Hi Lis, iya aku dateng tadi masih sepi di sini."

"Gimana gimana interviewnya? Kamu di terima Ay?"

"Diterima sih Lis tapi aku ga kerja di sini deh."

"Lho kenapa Ay?"

"Soalnya.....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
valbo dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh megaut
Lihat 6 balasan
Lisna Jembernya sebelah mana
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Soalnya kantornya gak nyata pasti ya emoticon-Leh Uga









kabur dulu emoticon-Ngacir
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bagian 6


Takut jadi sales itulah yang jadi alasan Ayu tak lanjut kerja di BX meskipun dia sudah diterima. Sebelum dia pulang, kami sempat bertukar no hp lalu tak lama setelah itu namaku dipanggil masuk ke dalam ruangan untuk interview. Di dalam sudah ada pak Deni yang menungguku.

"Halo selamat sore Lisna, bagaimana kabarnya sore ini? Wah senyumnya tetap manis ya dari pagi sampai sore ini."

Aku tau itu hanya basa basinya tapi entah kenapa aku suka. Ga kuat juga lama lama memandang tatapan matanya, senyumnya, duh.. untung saja aku masih bisa menjawab dengan lancar segala pertanyaan interviewnya.

"Lisna setelah mendengar jawaban kamu dan mentotal nilai 2 test kamu tadi maka... Selamat kamu diterima masuk di perusahaan ini."

Yeay! Pekikku dalam hati, aku diterima lagi setelah kemaren diterima juga di Roski Square namun rasanya lebih semangat saja begitu tahu kalau aku diterima di BX ini walau sebenarnya masih banyak tanya dibenakku tentang perusahaan ini. Seperti mengetahui isi kepalaku, Pak Bandi kemudian melanjutkan bicaranya.

"Lis, setiap orang yang datang ke sini pada awalnya pasti akan bingung karena penampakan kantor ini. Itu wajar karena saya pun dulu demikian, merasa aneh, ini katanya kantor tapi kok ga ada komputer dan sebagainya tapi karena saya butuh kerjaan dan uang maka saya berpikir positif saja, saya putuskan untuk lanjut apalagi saat dijelaskan bahwa penghasilan di sini 8 juta/bulan."

"Wah gede banget pak"

"Yah begitulah, kamu mau?"

"Ya mau banget lah pak."

"Kamu juga bisa dapet penghasilan segitu bahkan lebih Lis tapi kita lihat dulu potensi kamu selama masa training 6 hari ke depan ini."

"Hm.. jadi gimana pak?"

"Begini Lis, kamu tadi baru diterima masuk di BX dan untuk bisa diterima jadi bagian dari BX kamu harus menjalani masa training selama 6 hari. Proses trainingnya sama seperti saat tes observasi tadi."

"Hah? Saya sendiri pak?"

"Tentu tidak donk, nanti kamu akan selalu didampingi oleh pendamping kamu saat observasi tadi."

"Dengan Pak Bandi pak?"

"Iya, bagaimana kamu siap? Kalo siap besok kamu sudah bisa mulai training hari pertama dan jam 7 pagi harus sudah ada di sini."

"Siap pak."

"Ya sudah sekali lagi selamat ya Lisna, sampai jumpa besok pagi."


Aku menggangguk dan menjabat uluran tangannya lalu kemudian keluar dari ruangan itu. Di luar ada mba Wulan, dia bertanya tentang hasil interview kemudian sumringah memberiku selamat begitu aku ceritakan hasilnya.

Sekitar jam 5 sore aku baru pulang dari BX, senang rasanya tau kalau besok aku akan ketemu lagi dengan Pak Deni dan juga Pak Bandi yang akan seharian mendampingiku. Walau tau sepertinya aku akan kerja di lapangan tapi jujur besarnya pendapatannya itulah yang membuat aku mantap untuk gabung. Tinggal bagaimana nanti mama setelah aku ceritakan apakah beliau akan izinkan atau tidak...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
valbo dan 6 lainnya memberi reputasi
dudanya deni dan bandi ya gan?
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Nitip jejak sist TS. emoticon-Paw emoticon-Peace
profile-picture
megaut memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Bagian 7


"Hati hati" Begitu kata mama, pesannya tak pernah berubah dari dulu. Mama tak pernah melarangku melakukan apa saja yang penting baginya aku harus bisa menjaga diriku sendiri di manapun. Apalagi kini kami hanya berdua..

"Ma gaji di BX ini gede banget lho, nanti bisa kita buat nyicil rumah"

"Hehe Amin, Lis. Wajar bisa besar tapi itu mama rasa penghasilan bukan gaji. Semakin banyak kamu bisa jual barang semakin banyak juga penghasilanmu."

"Lho, tapi aku melamar jadi adm kok mam?!"

"Dari ceritamu tadi keknya sih jadi sales"

"Hm.. ga apa deh ma lihat besok aja."

"Hehe iya mau jadi apa juga mama ga ngelarang yang penting kamu bukan jadi penjahat dan ingat hati hati ya Lis."

"Iya ma"

"Ya sudah sekarang kau tidur"


Aku mengangguk sembari memejamkan mata sementara mama entah masih mengerjakan apa. Belakangan ini beliau sudah sedikit sibuk dengan pekerjaannya, prospek sana prospek sini tapi tak apalah justru aku senang semoga saja dengan begitu mama bisa sedikit melupakan kejadian pahit yang baru kami alami. Meski berat tapi ada sang waktu yang akan membantu kami melupakannya.

Pagi ini jam 7 kurang 10 menit aku sudah sampai di BX, di gerbang sudah ada Pak Bandi yang menyambut.

"Selamat pagi Lisna, wah cantik sekali kamu. Oya silahkan absen dulu di tempat Wulan."

"Eh, iya pak, pagi."


Aku mengikuti arahan Pak Bandi menuju ke tempat mba Wulan tapi entah kenapa aku jadi tersipu mendengar kata Pak Bandi tadi sehingga saat absen pun aku jadi senyum senyum sendiri.

"Ada apa mba Lis, hepi ya?" Tanya mba Wulan yang sadar melihat tingkahku.

"Eh ga ada apa kok mba, hehe"

"Oh kirain, oya jangan panggil mba donk. Kita panggil nama aja ya."

"Ok ok."

"Nah kan sudah absen tuh Lis, sekarang kamu duduk dulu sebentar disini sambil nunggu anak training yang lain datang."

"Oh iya Lan."


Aku memilih mengobrol dengan Wulan sembari menunggu yang lain. Dari obrolan ku ketahui kalau Wulan asli Jember, rumahnya tak jauh dari kantor BX dan tanpa ku tanya lebih lanjut dia ceritakan sendiri tentang dirinya. Wulan bercerita kalau dia pernah menikah, ketika memasuki bulan ke 2 pernikahan suaminya kabur. Aku jadi kepo pengen tanya tanya lagi tapi sayang 2 anak training yang lain, Yulia dan Tohir sudah datang. Setelah absen kami bertiga langsung disuruh masuk ke ruangan tempat kami interview kemaren.

Selama kurang lebih sejam kami dijelaskan tentang perusahaan oleh Pak Bandi. Setelah dirasanya cukup kemudian dia mengajak kami naik ke lantai 2 untuk perkenalan dan penyambutan katanya.

"Nanti di atas ada aktivitas diikuti saja ya, kalo ada yang nyanyi nyayi, goyang goyang, games kalian ikuti saja. Kalau nanti kalian bingung itu wajar karena baru pertama kali tapi harap tetap senyum karena di atas orangnya ramah semua."

Pak Bandi berkata sebelum kami dibawanya ke lantai 2. Aku sendiri merasa penasaran namun entah bagaimana dengan Yulia dan Tohir. Satu persatu anak tangga kami naiki hingga akhirnya sampai juga di lantai 2 dan begitu kuinjakkan kaki ku lihat ada sekitar 15 orang berpakaian rapi laki laki dan perempuan yang nampak seumuran denganku berdiri senyum memandang ramah ke arah kami.

"Selamat pagi....!!" kata mereka hampir serentak menyambut aku, Yulia dan Tohir. Tak lama ada Pak Bandi datang menghampiriku, mengajakku berbaur dengan yang lain. Begitu juga dengan Yulia dan Tohir yang juga sudah diajak berbaur oleh pendamping mereka kemaren saat tes observasi.

Di lantai 2 ini aku diajak bernyanyi, bergoyang bersama. Ada juga games seru yang kami mainkan. Meski awalnya aku merasa aneh, risih tapi lambat laun aku jadi ikut menikmati apalagi ada Pak Bandi yang selalu di sebelahku. Kata dia kegiatan ini bertujuan agar kita seneng seneng dulu, bisa lupa dulu sama masalah pribadi setelah hepi baru nanti mulai kerja karena kerjaan kalau sudah dikerjakan dengan perasaan senang dan tidak dicampur campur dengan masalah pribadi pasti hasilnya akan baik.

Aku setuju dengan kata pak Bandi dan aku juga senang mengikuti kegiatan ini, maklum aku tak punya teman di Jember ini dan mereka semua sepertinya bisa jadi teman yang menyenangkan. Aku suka, aku menikmati tapi kulihat berbeda dengan Tohir dan Yulia, mereka masih nampak kebingungan apalagi si Tohir yang wajahnya mulai sinis, tak ada senyumnya sama sekali walaupun sudah diajak bercanda dengan yang lain. Setelah ada mungkin 1 jam lamanya kegiatan itu berhenti, Pak Deni mengumpulkan kami menghadap ke papan tulis putih yang tergantung di dinding lantai 2. Saat hening sejenak tiba tiba Tohir mengangkat tangan kanannya.

"Maaf pak, apa...."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di