- Beranda
- Komunitas
- Story
- Heart to Heart
Jodoh Dalam Doa
TS
lianasari993
Jodoh Dalam Doa
Suara adzan berkumadang dari sebuah masjid, orang mulai berdatangan ada yang jalan kaki dan menggunakan kendaraan. Wajah yang basah terkena air wudhu terlihat sangat sejuk dipandang. Celuk Sapa(memanggil,menyapa) mereka lontarkan walau hanya sekedar menanya kabar atau mengajak menuju dalam masjid.
Ini ceritaku, cerita awal di mana aku bertemu dia, wanita cantik yang selalu menggunakan cadar. Masjid ini adalah tempat awal aku melihatnya, sorotan mata yang membuat aku tertarik padanya. Cara pandangnya saat bertemu laki-laki membuatku jatuh hati.
Panggil aku Yusuf, nama yang diberikan orang tua sekaligus doa dan harapan mereka padaku. Seorang karyawan di sebuah perusahaan yang terkenal di kota tempat tinggalku. Kini usiaku mulai menginjak 25 tahun. Orang tuaku selalu menyuruhku mencari pasangan, karena selama ini aku lebih sibuk bekerja.
Ya, seperti biasa aku selalu datang ke masjid. Namun, ini berbeda dari hari-hari biasanya, karena aku melihat seorang wanita yang baru keluar dari masjid. Walaupun aku melihatnya dari kejauhan, tapi kecantikannya sudah terpancarkan. Tubuhnya terpenuhi oleh kain hanya menyisakan mata dan telapak tangannya.
Beberapa hari ini, aku selalu memandangnya dari kejauhan. Hingga aku memantapkan hatiku untuk mulai menghampiri dan berkenalan dengannya.
“Assalamualaikum.wr.wb” ucapku sopan
“Waalaikumsalam.wr.wb” ucapnya lembut
“Maaf, selama beberapa hari ini saya selalu memperhatikan kamu dari kejauhan” ucapku
Matanya menunjukkan bahwa dia tak tahu maksud yang aku ucapkan.
“Aku ingin mengenal kamu lebih jauh lagi”ucapku
Namun, dia tak menjawab ucapanku, dia menyerahkan secarik kertas dan pergi dari pandanganku. Aku melihat kertas yang dia berikan, ternyata terdapat alamat dan beberapa informasi lainnya. Herannya kartu nama yang di berikan bukanlah miliknya, karena yang tertera nama laki-laki. Mungkin itu nama bapaknya.
Keesokan harinya, setelah pulang bekerja aku memberanikan diri menuju alamat tersebut. Seperti biasa aku selalu melihat alamat lewat aplikasi dan sedikit bertanya pada orang sekitar. Hingga aku berhenti di sebuah perkampungan yang ramai orang berkumpul dan hanya jalan-jalan saja.
“Permisi pak, saya mau tanya rumahnya Bpk.H.Udin dimana ya” ucapku sopan
“Mas, lurus aja nanti di pertigaan belok kiri. Ada rumah yang dekatnya material di situ rumahnya warna hijau menghadap ke selatan pagernya item, biasanya orangnya jam segini ada di teras baca Koran sambil minum kopi ditemenin roti sepiring” ucap warga ramah
“Eh busen dah, lho tau amat” ucap salah satu warga
“Lho lupa, gue inikah hansip” ucap warga
“Oh,iya gue lupa sorry deh”ucap salah salah satu warga
“Terimakasih pak”ucapku
“Sama-sama” ucap warga serentak(bersamaan)
Sampailah, aku di rumah tersebut. Aku melihat laki-laki yang sedang duduk di teras sedang membaca koran dan menikmati secangkir kopi dengan roti sepiring di atas meja. Seperti apa yang diinformasikan warga tadi.
“Assalamualaikum.wr.wb” ucapku
“Waalaikumsalam.wr.wb, masuk saja pagernya nggak di kunci” ucapnya
Aku berjalan masuk, menjabat tangan dan duduk di kursi teras.
“Nama saya Yusuf” ucapku
“Saya mencari alamat ini” aku menyerahkan kartu nama yang aku bawa dari tadi
“Iya, itu saya sendiri. Ada apa ya” ucapnya bingung
“Begini, Bpk.H.Udin maksud kedatangan saya ke sini ingin mengenal lebih jauh putri Bpk.H.Udin” ucapku sedikit gemetaran
“Putri saya yang mana?”
“Saya hanya diberi kartu nama ini saja” ucapku
“Hanna, cepat ke sini” memanggil putrinya di dalam rumah
Ternyata wanita tersebut bernama Hanna.
“Iya,abah” ucapnya
“Ada yang mencari kamu, apa kamu mengenalnya?” ucap abah
Hanna mengangguk
“Maksud saya ke sini ingin ta’aruf dengan putri Bpk.H.Udin” ucapku memberanikan diri
“Kenapa begitu yakinnya kamu ingin ta’aruf dengan putri saya” ucap abah
“Ketaatannya kepada agama, kebaikan yang selama ini putri Bpk.H.Udin lakukan. Setiap malam saya selalu berdoa agar di pertemukan dengan jodoh saya” ucapku meyakinkan
“Baiklah, untuk selanjutnya saya serahkan kepada Hanna saja” ucap abah
“Saya menerima niat baik kamu mas” ucapnya lembut
Setelah itu aku pulang dan membawa berita gembira ini ke orangtuaku. Aku menceritakan semua kepada orangtuaku, mereka menyetujui maksud baikku. Aku bersyukur semua perjuangan yang selama ini aku lakukan tidak sia-sia. Aku yakin bahwa jodoh yang selama ini sudah di siapkan telah datang. Menurutku, kalau kita lebih mendekankan diri kita kepada sang pencipta(Allah) maka apa yang kita harapkan akan terwujud. Tetap yakin dan percaya bahwa sang pencipta(Allah) itu adil kepada umatnya, asal niat kita baik. Apapun bisa kita capai dengan mudah.
Hari berlaku dengan cepat, tidak terasa pernikahanku dan Hanna akan di gelar besok. Berbagai persiapan telah selasai, pernikahan kami hanya didatangi orang terdekat saja. Pernikahan kami di adakan di sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Keluarga Hanna tidak menyuruh untuk pernikahan yang mewah asal sederhana saja, agar tidak terlalu menghambur-hamburkan uang. Doa yang selama ini aku panjatkan membawa kebahagiaan yang tidak akan aku lupakan. Hatiku merasa bahagia dengan kebaikan ini.
Hari (H) telah tiba……
Aku mengucapkan ijab kami di depan saksi, Hanna terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang di pakainya. Wajah yang cantik tertutup cadar putih, kami bersanding di pelaminan ucapan dan doa mereka ucapkan. Aku tidak bisa menggambarkan apa yang aku rasakan, karena sulit terucapkan oleh mulut dan sulit tergambarkan oleh pena.
Aku melihat orang tuaku sangat bahagia melihat momen ini, keinginan mereka untuk aku menikah, mereka tidak menyangkan bahwa aku bisa menikah dengan wanita bercadar dan cantik seperti Hanna. Orang tuaku memperlakukan Hanna seperti anak kandungnya, aku adalah anak tunggal mereka.
nona212 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
753
7
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan