CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Karena Kehidupan Harus Tetap Berjalan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e84111ec8393a52630394c3/karena-kehidupan-harus-tetap-berjalan

Karena Kehidupan Harus Tetap Berjalan

Karena Kehidupan Harus Tetap Berjalan
foto pribadi

Melewati jalan Kabupaten di Sleman, saya sempat berpikir was-was. Karena warung Mbak Yani di Kota Baru, beberapa hari ini tutup. Sama halnya dengan warung Mbak Yani, Soto Kudus Gajah Mada di Sleman, keduanya adalah tempat sarapan favorit disaat perut belum terisi oleh makanan dari rumah. Pemilihan tempat ini untuk mengganjal perut tentu bukan tanpa alasan. Selain harganya yang murah meriah, rasanya sungguh mengena hingga merasuk ke dalam jiwa. Cocok untuk kantong karyawan biasa seperti saya yang tidak mengenal istilah Work From Home. Lebih pantas jika akronim WFH kami pelesetkan menjadi War From Heart. Kenapa begitu? Karena bagi petugas lapangan, peperangan sesungguhnya adalah perang dari hati. Tentu saya tidak akan sampai hati jika menyaksikan keluarga di rumah sampai mengelus perut karena kelaparan.

Untungnya, Soto Kudus itu buka. Sebuah kenikmatan tiada terkira di saat cacing di perut semakin memberontak karena asupan makanan sisa semalam sehabis begadang karena tutup bulan, tak tersisa meski secuilpun. Jalanan kota Jogja yang beberapa hari ini terlihat mencekam, pun mulai semarak. Jalanan kian ramai. Aroma kehidupan seakan mulai menggeliat. Tentu ini sebuah hal kecil yang cukup menggembirakan. Sebab, pemandangan ini cukup mewakili akan adanya secerca harapan. Bukankah tidak ada badai yang tak kan berlalu?

Belakangan, tema horor yang kian menggema tak lain tentang Corona, Corona dan Corona. Sebuah mahluk tak kasat mata berjenis virus yang sukses mengguncang peradaban manusia di abad milenial sekarang ini. Setiap detik, setiap menit hingga berbilang jam, tak satupun berita lepas dari pemberitahuan mengenai virus dengan julukan Covid-19. Semua kanal berita seakan berlomba sebagai pihak yang harus meng-update- perkembangan virus tersebut. Berita tentang korban jiwa yang direnggut karena virus ini, dengan segerai menyemai rasa ketakutan teramat sangat dibenak manusia.

Beragam reaksi dilakukan oleh negara-negara yang telah dijangkiti oleh virus ini. Bahkan hingga menutup wilayahnya dengan sistem lockdown. Ada pula pengarahan dari pemerintah semisal Indonesia, yang membatasi kerumunan dengan istilah Social Distancing. Sebuah istilah asing yang juga terdengar asing ditelinga masyarakat awam seperti Mamak saya di kampung.

***
Karena Kehidupan Harus Tetap Berjalan
foto pribadi

Mengutip tulisan dari Kang Iqbal Aji Daryono, seorang penulis yang tinggal di Bantul, manusia memang punya rasa takut. Rasa takut adalah bagian dari insting alamiah untuk mempertahankan hidup. Makanya, ketika kabar Corona itu meledak di hari-hari pertama, ketakutan itu langsung merebak ke mana-mana.

Tetapi, di samping insting menyelamatkan hidup, manusia juga punya kemampuan beradaptasi. Baik beradaptasi dengan lingkungan, maupun beradaptasi dengan perasaan-perasaan di dalam dirinya sendiri. Tentu saja termasuk beradaptasi dengan rasa takut akan bahaya, apalagi jika bahaya itu-sekali lagi-belum benar-benar tampak di depan mata.

Manusia normal punya banyak rasa takut. Tapi kita juga punya kebosanan kepada rasa takut. Tak bedanya kesedihan. Saat malapetaka menimpa kita, kita akan dihantam duka. Tapi waktu yang terus berjalan membuat kita lambat laun melupakan semuanya. Kita beradaptasi dengan kesedihan kita, sama persis dengan kita beradaptasi bersama rasa takut kita. Kenapa? Karena kehidupan harus terus berjalan.

***
Virus Corona boleh membahana dengan segala terornya. Menghempas hampir setiap sendi perekonomian di kota Jogja. Pasar tradisional Bringharjo yang semula ramai, tertunduk lesu dan didekap kesunyian. Demikian pula daerah Malioboro yang dulu nyaris tanpa tertidur, kini lengang seakan tanpa adanya aktifitas.

Namun, bagi saya pribadi, tidak ada alasan untuk berdiam diri dan berpasrah pada nasib. Aktifitas memang dibatasi, akan tetapi semua yang menjadi tugas dan kewajiban sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta, memaksa saya untuk sejenak sedikit abai dengan himbauan dari pemerintah maupun dinas terkait untuk stay at home saja. Karena ini pertaruhan periuk nasi di dapur. Akan menjadi dosa besar bagi keluarga bila ancaman PHK kemudian menggulingkan periuk yang merupakan salah satu jalan mempertahankan nafas kehidupan di dunia ini.

Semoga badai Corona segera berakhir, dan kehidupan kembali menjadi normal. Meski terkesan abai, perilaku hidup sehat tetap saya jalankan. Seperti selalu mencuci tangan, berjemur demi mendapatkan suntikan vitamin D gratis, atau sebisa mungkin menjaga jarak dengan orang lain. Sebab bagaimanapun jua, saya bukan Gatot Kaca yang memiliki otot kawat tulang besi. Rasa takut terjangkiti tetap ada.


Skydavee 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sebelahblog dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh skydavee


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di