CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e82bcd5c8393a471f450535/aku-masih-cinta-dia

[CERBUNG] AKU MASIH CINTA DIA

Tampilkan isi Thread
Halaman 6 dari 7
Quote:


Jangan sampe kita main petak umpet emoticon-Hoaxemoticon-Xabi
profile-picture
rohannarambe memberi reputasi
Quote:


Haha. Ini ngomong doang mau krisan. Tapi gak jadi emoticon-Ngakak
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
sabar ya Rudi, sedikit lagi ... 😍
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Ya mak sedikit lagi pasti emoticon-Xabiemoticon-Pelukemoticon-Big Kiss
Quote:


Mana krisannya ini mah? Di tungguin ?
profile-picture
adediana memberi reputasi
Kisah cinta segitiga, ya? Suka latar belakangnya tentang pantai. 😁😁
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Gak jadi, udah lupa apa yg mau di krisan emoticon-Ngakak
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Ya dik suka pantai?
Quote:


Ya elah banyak tuh mah sis yang butuh dii krisan.
profile-picture
adediana memberi reputasi
Quote:


Udah keren, gak perlu di krisan lagi emoticon-2 Jempolemoticon-2 Jempol
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Sarannya aja siapa Indra sebenarnya?
Quote:


Jangan keras2 mak 😭
profile-picture
evihan92 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Part4

Saat bangun tidur melihat Rudi sudah selesai shalat. Kuperhatikan dia dengan seksama tak ada yang salah dari dirinya tapi mengapa hati ini tak bergetar. Walau sudah lama kita bersahabat malah aku marah padanya karena dia dengan berani langsung melamar kepada ayah dan ibu padahal sebelumnya sudah ditolak.

"Kamu sudah bangun? Shalat dulu ini sudah hampir jam lima, nanti kamu telat shalatnya," ucapnya lembut. Aku segera bergegas ke kamar mandi dan segera melaksanakan shalat subuh. Saat ini badanku sudah segar dengan guyuran air dipagi hari.

Setelah selesai shalat aku melirik Rudi yang duduk di sofa, dia memegang layar pipih dan memandanginya dengan seksama.
Segera mengambil kerudung instan dan ingin segera keluar untuk bantu ibu memasak. Saat memegang handle pintu tiba-tiba Rudi bersuara

"Sinta, aku ingin bicara sesuatu padamu," ucapnya.

Aku pun berbalik dan duduk di tempat tidur,

"Aku tahu kamu masih marah padaku karena nekat menikahimu tanpa persetujuanmu, yakinlah jika cintaku yang akan menjagamu," ucapnya.

Aku hanya diam tak mampu berkata apapun, sebenarnya memang aku yang salah karena cinta buta. Mengacuhkan cinta nyata di depan mata. Dia menghampiri dan mengulurkan tangan ke arahku. Aku kaget.

"Izinkan aku buktikan jika cintaku tak main-main padamu."

Aku gugup saat dia berkata begitu, akupun menerima uluran tangannya dan tersenyum berusaha ikhlas dengan semua ini. Bagaimanapun juga dia adalah suamiku sekarang, dan aku wajib patuh padanya.

Kami pun keluar kamar berdua tanpa ada rasa marah lagi di dada. Ayah dan ibu tersenyum saat melihat kami keluar kamar.

"Sarapan dulu nak," ucap ayah. Mas rudi hanya mengangguk.

"Manten baru pasti capek mangkanya baru bangun," ucap kakakku sambil mengedipkan mata. Aku merenggut mendengarnya. Aku lihat ibu menyenggol kakak agar berhenti berkata ngawur.

"Oh ya Ayah dan Ibu izinkan aku membawa Sinta ke rumah kecilku," kata Rudi membuatku kaget. Jadi aku akan jauh dari ayah dan ibu itu membuatku sedih.

"Ya gak papa, Nak. Kan Sinta sekarang sudah jadi istrimu, jadi dia sudah jadi tanggung jawabmu," ucap ayah lembut.

---------###-----------


Setelah tiga tahun kami bersama aku merasa bersyukur berjodoh dengan Mas Rudi, dia suami yang perhatian, pengertian dan selalu membuat aku tersenyum bahagia di buatnya.

Sekarang aku hamil lagi anak kedua kami, anak pertama kami kuberi nama RUSI singakatan dari Rudi dan Sinta. Bahagiaku bertambah sejak kehamilanku yang kedua, Rudi sangat memanjakanku. Hingga suatu hari saat pergi belanja, aku bertemu dengan Indra. Ya Allah hati ini berdetak begitu cepat. Dia menatapku dan kaget melihat perutku sudah membesar.

"Sinta," panggil Indra.
Aku pura-pura tak mendengar dan menghindar darinya, tak ingin hati ini terjebak dengan pesonanya lagi. Indra yang tinggi, putih wajah tampan dengan hidung bangirnya membuatku tak bisa melupakannya begitu saja. Tapi aku sadar wanita bersuami sepertiku tak boleh bertegur sapa dengan laki-laki lain apalagi dia mantan.

Aku bergegas menuju kasir dan hendak keluar, tiba-tiba tangan ada yang memegang aku kaget dan reflek menoleh. Rudi? Tapi tadi bukannya Indra yang mengejar. Aku melihat Indra tak jauh di belakang Mas Rudi, Ya Allah semoga saja Rudi tak sadar jika ada Indra di sini.

"Sudah belanjanya, Sayang?" tanyanya dan membawakan semua barang belanjaan.

Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang.
Tak peduli dengan pandangan Indra seperti ingin membunuh. Siapa yang salah, dia yang tak kabari aku selama ini, hampir lima tahun sanggupkah aku menunggunya jika orang tua sudah menginginkan aku mempunyai pasangan saat itu.

----------###---------


Saat senin pagi aku mengajak Rusi bermain di taman tiba- tiba Indra sudah ada di sebelah. Duduk di bangku tempat aku mengawasi Rusi bermain ayunan.

"Aku butuh penjelasanmu, Sinta," ucap Indra. Berdiri hendak menjauh darinya tapi dia memegang pergelangan tanganku. Menariknya kuat tapi tak bisa lepas. Aku menatapnya dengan amarah yang membuncah.

"Apalagi yang perlu aku jelaskan, kau sudah tak pulang dan melamarku pada ayah dan ibu jadi mereka menjodohkanku dengan Rudi, dan sekarang jangan pernah ganggu aku dan Rudi ingat itu baik-baik." Gertakku.

"Aku merantau agar bisa menikah denganmu, Sin," ucapnya pelan. Aku hanya diam melengos dari pandangan matanya yang nanar. Jangan tanya lagi, hatiku mulai goyah melihat dia menatap masih dengan cinta. Apakah aku masih cinta dia?

"Saat semua sudah aku miliki kenapa kamu sudah menikah di sini, aku kecewa padamu."

"Terserah apapun yang kamu pikirkan aku tak peduli, aku sudah menikah dengan Rudi jadi kau tak berhak lagi mengharap cintaku" ucapku tegas. Aku beranjak pergi dari hadapannya tiba-tiba aku dengar dia berkata.

"Aku akan merebutmu lagi dari Rudi, karena kamu masih tetap menjadi ratu di hati dan tak tergantikan."

Aku menoleh menatapnya tak percaya seorang Indra yang aku kira sudah mempunyai wanita lain di seberang sana tapi ternyata dia masih mengharapkan wanita yang sudah bersuami sepertiku. Aku terpaku menatapnya berbalik arah. Dia pun menoleh.

"Ingat itu baik-baik Sinta, kupastikan kamu akan menjadi milikku lagi." Tegas suaranya membuatku semakin mematung tak bisa bergerak. Apa maksud dia?


Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Jomes747 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Takut dikira ghibah nanti 😢
profile-picture
profile-picture
laylasyah dan evihan92 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Quote:


Sini cerita sini saja gak ghibah kan hanya curhat sma gak sih?emoticon-Ngakak
profile-picture
novikikirizkia memberi reputasi
Quote:


Beda dong, beda tipis emoticon-Ngakak
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Apa bedanya coba?
profile-picture
novikikirizkia memberi reputasi
Quote:


Kalo ghibah kan jelek2nya, klo curhat kan bnyak isi hati. Iya bukan si? Wkwk
profile-picture
laylasyah memberi reputasi
Quote:


Ya betul mantaapemoticon-Pelukemoticon-Big Kiss
profile-picture
novikikirizkia memberi reputasi

Part 5

Rusi tiba-tiba menarik tangan mengajak untuk pulang. Masih termangu di tempat tadi berdiri. Bingung dengan kata-kata yang barusan diucapkan oleh Indra. Hingga sampai rumah pun masih termangu dan berpikir apa yang akan dia lakukan pada Rudi? kenapa dia begitu yakin jika aku akan meninggalkan Rudi demi dia.


Tiba-tiba benda pipih yang digenggam berbunyi, pesan wa masuk. Aku buka ada pesan dari nomer yang tak dikenal, setelah dibuka pesan itu membuatku marah. Di sana ada foto seorang wanita setengah telanjang bersama Mas Rudi. Menahan amarah di hati membuat itu semakin sakit. Selama ini sudah pasrah dan ikhlas dengan pernikahan ini, ternyata dia menipuku, suami brengsek tak perlu penjelasan lebih lanjut lagi aku sudah terlanjur sakit hati.

Masuk kamar mengemasi semua barang milikku, juga barang Rusi. Tak mau berlama-lama di rumah bersama seorang pria yang sangat membuat sakit hati.

Tiba-tiba pintu depan terbuka, tanda jika Rudi sudah datang tapi aku tak peduli walaupun dia sudah berada di rumah ini. Aku semakin mempercepat mengemasi barang-barang. Tak ingin di cegah oleh seorang lelaki yang sudah menjatuhkan harga diri dan martabatku. Saat akan keluar kamar tiba-tiba Mas Rudi memegang tangan sambil menatapku heran.

"Kamu mau kemana, Sinta?" tanyanya.

"Sinta mau pulang, Mas," ucapku ketus.

"Maksudmu?"

"Ternyata Mas Rudi selama ini hanya kedok sayang sama Sinta, Mas Rudi sudah menghianatiku!" Aku menghirup napas dan mengeluarkannya kasar, "Mas Rudi memang brengsek," gertakku.

"Apa yang kamu katakan, Sinta? Aku tak pernah menghianatimu aku sayang kamu dengan tulus,"

"Bullshit," ucapku sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi dengan kasar.

"Aku tak tahu apa yang kamu ucapkan tapi yakinlah jika aku sangat cinta kamu dan tidak akan pernah menghianatimu," kata-katanya membuatku tersentuh tapi aku tak boleh lemah dia sudah bermain api dalam keluarga kami.

"Lalu apa maksud dalam foto ini?" Aku pun lalu menyerahkan benda pipih yang sejak tadi aku genggam di tangan. Mas Rudi terlihat kaget dan sepertinya dia marah.

"Dik ini bukan aku, ini fitnah," ucapnya tegas.

"Siapa yang mau fitnah kamu, Mas?"

"Mas, tak kenal dengan wanita ini,"

Aku tak pernah melihat dia semarah itu, mungkin untuk sesaat bisa percaya dengan tingkahnya, tapi aku juga harus waspada jika ini benar terjadi tak mungkin masih mau bersamanya dan diberi adik madu untukku. Apa mungkin ini ulah, pikiranku melayang pada kejadian tadi sore di taman. Indra?
Diubah oleh laylasyah
Halaman 6 dari 7


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di