CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Memedi Usus, Apakah Kuyang Lokal?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e8024af68cc9560605eb243/memedi-usus-apakah-kuyang-lokal

Memedi Usus, Apakah Kuyang Lokal?

     Kuyang, mungkin temen2 sekalian tidak asing mendengar nama itu, kalo di search di mesin pencari makan akan nampak sosok mengerikan kepala terbang dengan isi jeroan yang melayang, mengerikan sekali sebuh cerita yang berasal dari legenda masyarakat di kalimantan ini. sosok ini diceritakan pada malam harinya beterbangan mencari wanita hamil untuk dijadikan mangsa dan di hisap darahnya. Tapi disisi lain banyak juga menceritakan bahwa sosok Kuyang ini merupakan sosok manusia yang menguasai ilmu warisan dari leluhurnya. Tapi apakah kuyang hanya ada di Kalimantan?, hmm sepertinya Pion beranggapan begitu, tapi ternyata sosok ini ada juga di daerah-daerah lain, dengan hujud serupa tapi nama yang berbeda. Orang Bali didaerah kebanyakan menyebutnya sebagai Memedi Usus sosok ini digambarkan menyerupai kuyang yaitu sosok terbang dengan kepa disertai organ2 yang menggantung, ada pula yang menggambarkan berupa usus2 yang bergelantungan di semak2 yang memanjang bagai tanaman sulur yang merambat, adajuga yang menggambarkan sebagai sosok usus2 yang hanyut di arus sungai. Tapi jangan salah sosok ini konon bisa melilit korbanynaya untuk dijadikan mangsa.. menyeramkan sekali yah?, tapi kali ini ada cerita yang dedikit berbeda.
Memedi Usus, Apakah Kuyang Lokal?
nb:gambar ilustrasi minta di mesin pencari
        
        Pagi ini Pionic24 mau berbagi cerita pengalaman lagi nih, kali ini cerita ini dituturkan oleh salah seorang kenalan Pion, orangnya sudah berumur hampir 70[sup]th[/sup] tapi masih keliatan bersemangat dan bergairah dalam menjalankan rutinitasnya sebagai petani disawah sekitar kawasan Bali selatan. Sebut saja namanya Pekak Jon (Pekak, dalam Bahasa bali artinya kakek), Pekak Jon selain bertani juga menggembala bebek, di masa mudanya dulu kadang juga menjadi buruh panjat dan ngupas kelapa. Sekarang Pekak Jon di usia senjannya lebih sering kesawah sekedar memberi makan ayam dan sapi peliharaanya tapi ada satu hobi dari Pekak Jon yang gak ilang2 meski udah dimakan usia, apalagi kalo bukan mancing belut, dari sekian ratusan bahkan ribuan pengalaman mancing ada sebuah pengalaman yang tidak pernah Pekak Jon lupakan. Gini ceritanya.
      Sekitar puluhan tahun yang lalu entah kapan Pekak Jon sudah lupa tahunnya, tapi kala itu iya asih muda, saat itu pekerjaannya sudah menjadi petani tapi tentunya petani yang berbeda dari petani sekarang, pada masnya dulu belum ada yang namanya traktor atau alat semprot hama, yang ada hanya bajak dengan tenaga sapi semuanya serba manual tidak ada pupuk kimia ini-itu jadi dipastikan tidak ada pencemaran dan semua tanaman sertaus persen organik. Jaman itu kedaan sawah yang bebas pencemaran membuat berbagai macam hewan hidup didalamnya, mulai dari ikan, belut, keong, bahkan sampai lintah dan pacet ada. Pada masa itu Pekak Jon sering mancing belut sambil mengisi waktu luangnya disawah.
Suatu ketika, saking asiknya jongkok dan konsentrasi mancing di lubang belut tak terasa langit mulai senja, matahari sudah semakin condong kebarat. hari ini Pekak Jon terlihat begitu sembringah bukan karena dapat belut yang banyak, tapi karena salah seorang rekannya dari kota meminjamkan sebuah lampu petromax, malam ini Pekak Jon bakal nyuluh (mencari belut dimalam hari) dengan pertomax pinjaman kawanya, pada jaman itu petromaks jarang ada yang punya hanya orang2 yang sedikit berada.
     Sehabis memberi makan sapi dan ayam Pekak Jon Pekak Jon beristirahat di pondokan sebelah kandang sapi niatnya mau menunggu sampai agak gelap, tapi tak terasa ia malah tertdur pulas sampai ahirnya tengah malam ia baru terjaga dari tidurnya. Pekak Jon pun bergegas menghidupkan petromax dipompanya secepat mungkin supaya nyala petromaks itu semakin terang, niatnya ia bakal pulang saja karena sudah terlalu larut malam, tapi dipikir-pikir percuma kalau lampu petromaks ini dikembalikan begitu saja, ahirnya Pekak Jon memutuskan untuk tetap nyari belut mungkin disekitar sawahnya saja.
     Malam begitu pekat dengan suasana agak mendung dan terkadang terpaan angin malam yang begitu dingin menembus kulit yang membuat bulu tubuh serasa berdiri. Malam itu terlihat Pekak Jon menenteng Lampu pertomaks menelusuri sawah, dia berjakan mengendap supaya getaran langkahnya di pematang tidak menakuti belut yang keluar mencari makan. Malam itu hanya terdengar dengusan gas petromaks dan suara binatang malam salaing bersautan, hampir beberapa menit berlalu tapi hanya 3 ekor belut kecil yang Pekak Jon dapatkan. Dengan perasaan agak kesal Pekak Jon berjalan mencari kemungkinan belut yang ada disekitarnya sampai tak terasa Pekak Jon seakin jauh dari pondokannya, pada masa itu sawah masih begitu luas lampu penerangan jalan juga tidak ada jadi kalau sudah ditengah2 sawah malam harinya seperti masuk kedalam labirin susah sekali untuk menginat jalan pulang.


Memedi Usus, Apakah Kuyang Lokal?
 nb:gambar ilustrasi sawah
   Karena memang sudah capek Pekak Jon tidak menghiraukan dirinya yang sudah kesasar, iya memutuskan untuk duduk di sebuah aliran parit kecil ditengah sawah, dari kejauhan Pekak Jon melihat sekelebat cahaya di hulu dari parit itu, sebuhah pertemuan aliran sungai kecil yang terbelah menjadi beberapa parit. Pekak Jon melihat seksama di sana sekelbat cahaya yang menyala semakin terang, “mungkin itu orang yang mengairi sawahnya, kebetulan bisa ditanyai jalan pulang”, pikir Pekak Jon yang bergegas mendekati cahaya yang dikiranya orang membawa obor. Ketika semakin dekat entah kenapa cahaya dari obor itu semakin redup dan ketika benar-benar sudah disana obor itu “Bluk!!” lenyap dengan letupan kecil, Pekak Jon terheran ternyata tidak seorangpun yang ada disanayang ada hanyalah gemricik air dari pairt yang mengalir. “sudah lah, mungkin ada yang iseng”, gumam Pekak Jon.
Pekak Jon memang orang yang bernyali besar tapa banyak prasangka ia meneruskan langkahnya, sampai saat sibuk tertunduk mencari belut dan juga jalan kembali kepondokannya, tiba-tiba tanpa aba-aba iya mendengar suara.

we gus, apa ke alih memeteng tangilemenge dini?” diterjemahkan kurang lebih “we nak, apa yang kamu cari gelap-gelap tengah malam disini?”, terdengar suara yang mungkin suara seorang laki-laki di tepat dibelakang Pekak Jon. Sontak Pekak Jon terkejut bukan main, bagaimana bisa orang ini muncul begitu saja tampa ia sadari kedatangannya. Tanpa menoleh ke belakang Pekak Jon melanjutkan menunduk mencari bilamana ada belut yang lewat, sambil menjawab pertanyaan orang itu

“Ini saya mencari belut, mumpung ada lampu petromax”, jawab Pekak Jon sambil melanjutkan jalannya membelakangi orang itu. Lama terdiam orang itu pun menjawab.

“kalau kamu mau mencari belut tidak disini tempatnya, jalanlah kamu dulu nanti saya arahkan jalannya kemana, tapi jangan tengok kebelakng, mata saya sialau melihat cahaya lampu petromaxnya kamu!” jawab orang itu.

“mungkin orang itu sering nyari belut malam, sehingga dia bisa hafal sarang belut dan jalan disekitar sawah ini. Buktinya orang itu pergi kesawah malam2 begitu tanpa bawa pencahayaan apapun, mungkin orangnya punya mata kucing” kata Pekak Jon sambil terkekeh mengingat kembali pengalamnya dulu, kemudian Pekak Jon kembali bercerita.

     Karena kepalang tanggung pulang tidak tau jalan mending sekalian saja, ahirnya Pekak Jon berjalan kedepan di pematang sempit sambil sesekali melirik kanan kiri melihat belut yang seandainya melintas, sementara suara dibelakanya mengarahkan belok kanan atau kiri menelusuri pematang sawah yang terlihat membingungkan. Tapi anehnya setiap melangkah yang terasa getaran dan suara langkah dari Pekak Jon sendiri, langkah kaki orang dibelakanya seolah senyap sekali cuma suaranya yang terdengar menyuruh belok kiri-belok kanan. Selain itu suara hewan2 malam seperti jangkrik dan kodok seolah lenyap ketika mereka melintas, tetapi mesi begitu setiap beberapa langkah ada saja belut yang nongol dan dengan tangan kosong mudah sekali ditangkap Pekak Jon, sampai tak terasa terasa penuh wadah Pekak Jon berisi belut yang gemuk2, sampai ahirnya Pekak Jonmerasa lelah dia ingin beristirahat, orang dibelakangnya bilang.

     “jangan beristirahat disini, kamu jalan lurus saja itu pondokan kamu didepan disana” kata orang itu, Pekak Jon melanjutkan jalannya, sampai timbul rasa penasaran siapa sebenarnya orang yang begitu baik hati membantunya, tapi tidak enak rasanya kalo langsung ditenggok malah dikira lancang, ahirnya sambil pura2 membersihakan kaki dari lumpur Pekak Jon membungkuk, dari sela2 kakinya yang mengagkang Pekak Jon mengintip “HAH!!..YA TUHAN!!” jantung Pekak Jon langsung berdetak kencang bulu kuduknya merinding badanya mengigil ketakutan.

     Sosok itu ternyata tidak mempunyai kaki dan tangan, hanya kepala yang diikat secarik kain putih lusuh dengan usus paru dan jeroan yang menggantung, menetes netes darah yang mengalir dari ususnya itu darah berubah menjadi tetesan api seperti tetesan plastik dibakar begitu hampir menyentuh tanah  sosok laki-laki itu ekspresinya datar, matanya mendelik memandangi Pekak Jon yang meliriknya, sepersekian detik tubuh Pekak Jon kaku suaranya seolah lenyap tidak bisa Cumiik, sosok itu tersenyum menatap Pekak Jon, taringnya keluar dari sela2 bibir mahluk itu. Kemudian tetesan darah menjalar berkobar menjadi api yang semakin besar melalap usus, hati, paru2, jantung, hingga ahirnya melalap kepala dan mahluk itu hilang bersama kobaran api yang melalapnya. Barulah setelah itu Pekak Jon mampu menggerakan badanya, dilihatnya dikejauhan cahaya seperti obor kecil yang nampak berkilauan dikejauhan sana. Bergegas Pekak Jon berlari kegubuknya menaruh petromak di sebelahnya mengunci pintu dan menutupi badannya dengan tikar dan meringkuk gemetar.
      Esoknya Pekak Jon sakit panas dingin, tubuhnya gemetar sampai ahirnya dia berobat keorang pintar, yang kata orang pintar disana, Pekak Jon baru melihat Memedi Usus yaitu sosok mahluk gaib yang berupa usus dan kepala melayang, sosok itu tidak berniat menyakiti Pekak Jon meski Pekak Jon yang salah karena berada di sawah pada saat dan waktu yang tidak tepat karena malam saat kejadian itu adalah malam Kliwon yang merupakan malam untuk mereka berjalan2. Setelah ahirnya diobati dengan obat2an tradisional ahirnya Pekak Jon membaik, penasaran dengan hasil baruannya kemarin Pekak Jon melihat isi wadah belut yang ia lempar, ternyata isinya belut dan asli memang belut, hari itu Pekak Jon memasak belut menjadi pepes, tak lupa Pekak Jon kembali menuju pertemuan arus sungai kecil yang terbelah menjadi parit dimana iya menjumpai sosok itu. Pekak Jon mendirikan sebuah altar dari kayu Dapdap diletaknnya sebungkus pepes belut lengkap dengan nasi, air serta kembang, sebagai ucapan terimakai bagi sosok itu telah memberinya hasil belut yang bisa berguna bagi Pekak Jon dan sekaligus mengantarnya pulang ke pondokannya.

Memedi Usus, Apakah Kuyang Lokal?
nb:gambar ilustrasi pertemuan sungai dan parit
    “itu semua bukan sebagai pemujaan tapi lebih kebada ucapan rasa syukur dan terimakasi, mereka sejatinya tidak menganggu hanya karena kita yang kadang tanpa sengaja melintas atau bekerja disaat waktunya mereka melakukan aktivitas” ucap Pekak Jon menjelaskan

      Kini sawah di daerah itu telah banyak beralih menjadi kawasan perumahan dan villa, meski lahan telah beralih fungsi dan penduduk disana sudah beralih profesi menjadi pegawai kantoran tetap saja cerita2 masa lampau menghiasi kehidupan masyarakat, bukan sebagai saran menakuti orang tetapi sebagai cerminan kita untuk bisa menghargai dan berprilaku sesuai dengan moral yang ada.

“oh ya Pekak Jon, mungkin tidak sosok itu adalah manusia yang mempraktikan ilmu, semisal Ngereh mungkin?”. Tanyaku pada Pekak Jon

“entah lah, Pekak tidak tau mungkin saja begitu. Kamu saja yang cari tau, kan kamu suka baca Lontar” saut Pekak Jon sambil tertawa menangkat pancing yang umpannya habis menyisakan kail dari tepi kolam pemancingan warga ini.

“ogah ah, nanti Pion takut kebawa mimpi ditemuin sosok itu , mending timbang dulu nih berapa kilo dapet ikan” kataku sambil berlalu membawa ikan yang sudah didalam kresek.

        Nah begitu ceritanya.. mudah2an tidak membuat agan2 semua kebosanan.. mudah2an agan semua suka bacanya.. sekian dulu ya, mohon maaf bila ada salah kata dan ketik, kalo ada yang pernah ngalamin cerita gini boleh dibagi dibawah sini, ahir kata Ponic24 mengucapkan terimakasi wasalamemoticon-Hai



profile-picture
profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan 9 lainnya memberi reputasi
Sosok itu ternyata tidak mempunyai kaki dan tangan, hanya kepala yang diikat secarik kain putih lusuh dengan usus paru dan jeroan yang menggantung

ngeri beut gan emoticon-Takut
profile-picture
pionic24 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
hahahaaa, kuyang ny baik hati


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di