CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7dc61ac9518b512d47244f/rai-rata

Rai Rata

Rai Rata

Baleraksa, Purbalingga, tahun 1980.

Malam sudah larut. Entah pukul berapa sekarang, aku tak tahu. Yang jelas, udara sudah terasa makin dingin, sehingga aku dan dua temanku masing-masing merapatkan jaket ke tubuh agar tidak menggigil kedinginan.

Langit juga gelap, tak ada cahaya rembulan. Sepanjang jalan menuju rumah sudah sunyi, tak ada orang lewat lagi. Padahal, untuk menuju perkampungan, kami harus berjalan kaki kira-kira tiga kilometer jauhnya. Di kanan-kiri hanya ada kebun-kebun dan tanah kosong. Harus melewati kuburan, pula.

Rai Rata

Memang begitulah suasana desa kami. Karena belum ada listrik masuk desa, maka untuk berjalan malam kami mengandalkan penerangan senter atau obor. Biasanya, yang menggunakan senter adalah para pemuda seperti kami, sedang orang tua menggunakan obor blarak, yaitu daun kelapa kering yang diikat lalu dinyalakan ujungnya.

Kami bertiga, aku, Wagiman dan Solekan, baru pulang dari menonton dangdut di desa tetangga, Karangasem. Kami sendiri tinggal di Karangsawah, Baleraksa, Purbalingga.

Sayangnya, kami tadi lupa tidak membawa senter. Kami memang pergi sejak masih siang, belum perlu senter. Biasalah, anak muda.

Namun, kini kami sadar, senter itu sangat diperlukan untuk perjalanan kami.

"Lihat, Jono," kata Wagiman, tiba-tiba memanggilku, "ada yang bawa obor di depan."

Ah, ya, benar. Di kejauhan, kulihat setitik api tampak bergerak-gerak, pasti seirama dengan lambaian tangan pembawanya.

"Ayo cepat, lumayan kita punya teman seperjalanan, bisa numpang obor," ajakku.

Kami bertiga pun mempercepat langkah. Pembawa obor itu mulai terlihat. Dari perawakannya yang kurus dan sedikit membungkuk, sepertinya dia sudah tua.

"Kakine, entosi! (Kakek, tunggu!)" seruku memanggilnya.

Kakek itu tampak sedikit melambatkan jalannya. Kami mengejar dengan mempercepat langkah. Namun, herannya, kami tidak bisa segera menyusul si kakek. Kami sampai berlari-lari kecil untuk bisa menjajari langkahnya.

Padahal kakek itu berjalan santai saja, bagaimana bisa lebih cepat dari kami yang masih muda?

"Kakine saking pundi, deneng kiyambekan? (Kakek dari mana, kok sendirian?)" Solekan bertanya, dan kupikir hanya untuk sopan santun saja.

Si kakek hanya menggumam. Lalu, tahu-tahu kami harus mempercepat langkah karena nyaris tertinggal.

"Kakine daleme pundi? (Rumah Kakek di mana?)" Aku pun ikut berbasa-basi.

Lagi, si kakek hanya menggumam tak jelas. Tiba-tiba pula, kembali kami harus mempercepat langkah, hingga nyaris berlari, karena hampir tertinggal lagi.

"Kakine sinten, sih, deneng kebat temen tindake? (Kakek siapa, sih, kok cepat sekali jalannya?)"

Kali ini, aku yakin, Solekan tidak berbasa-basi. Aku sendiri pun penasaran. Bagaimana mungkin kami selalu hampir tertinggal oleh kakek tua yang melangkah dengan santai itu?

Namun, lagi-lagi, si kakek hanya menggumam tak jelas.

Penasaran, aku mencoba mendekati si kakek, untuk melihat wajahnya. Siapa tahu sebenarnya kami mengenalnya.

Seperti paham maksudku, si kakek sedikit mengangkat obornya untuk menerangi bagian wajah. Aku, diikuti Wagiman dan Solekan, segera mengamatinya.

Dan ....

Astagfirullah!

Napasku tercekat di tenggorokan. Dada sesak, tubuh gemetar, kaki lemas. Wajah itu ... wajah itu ... rata! Hanya seperti kertas yang digambari mata, hidung, dan mulut!

"Se-setaaan ...!"

Pekikan Wagiman menyadarkanku. Segera aku berlari sekuat tenaga, tunggang-langgang menyusul Wagiman dan Solekan yang juga sudah terbirit-birit.

Setelah cukup jauh, dan kakek itu tidak terlihat lagi, kami berhenti karena kelelahan. Kami bahkan duduk menggelosor di batu-batu jalan, untuk mengatur napas.

Beberapa saat hening.

Kami masih duduk di jalan ketika dari arah depan terlihat cahaya senter yang redup.

Kami menunggu. Cahaya itu makin dekat. Dalam cahaya yang samar-samar, kami bisa melihat bahwa pembawa senter itu seorang laki-laki bertubuh sedang. Belum tua, tampaknya.

"Mas, deneng njagong ning ndalan, kenangapa? (Mas, kok duduk di jalan, kenapa?)" sapanya pada kami.

Fiuuuh ... aku bernapas lega!

Dia berbicara dengan jelas, berarti dia benar-benar manusia.

"Enten setan, Pak (Ada setan, Pak)" jawabku pelan, takut ditertawakan.

"Setan?" tanyanya lagi.

"Enggih, Pak. Raine rata (Iya, Pak. Wajahnya rata)," jawab Wagiman membenarkanku.

Bapak itu melangkah makin dekat.

"Napa kados niki? (Apakah seperti ini?)" tanyanya sambil menyorotkan senter ke wajahnya sendiri.

Allahu akbar!

Benar, wajahnya rata! Persis wajah si kakek tadi!

Tak terdengar teriakan lagi. Aku pingsan.

***

Sumber : opini pribadi dan cerita dari mulut ke mulut
Foto : dari sini










profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 20 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
halo agan sista
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
mampir sini yuk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Wahhh kena penampakan 2 kali

emoticon-Cape d...emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Ada 2 kemungkinan sri.. emoticon-Ngakak (S)

1. Muka rata kakek itu adalah hasil malpraktek operasi plastik dari Korea
2. Kakek kebanyakan pakai kosmetik pemutih wajah, sampai wajahnya luntur

emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Iya gan
Ini bukan pengalaman ane sih, cuma diceritain aja
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan fitrijunita memberi reputasi
Quote:


Hahaha agan bisa aja deh emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
sereeemmm gimana itu 🥺🥺🥺
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Entah gan
Mending pingsan ajalah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Di minumin cendol ntar bisa siuman lagi enggak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh piendutt
Quote:


Siuman dong.
cendol kan enak emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Asyeeekk banyakin makan cendol kalau gitu emoticon-Kaskus Banget
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Jangan banyak-banyak juga keles, ntar kembung emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Ya udah campurin ke kolak aja deh emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Wkwkwk gimana tuh rasanya ntar, cendol campur kolak emoticon-Cape d...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Enak dong, kolak pisang sama singkong emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Iya deh ntar dicoba ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Aseekk jangan lupa kirimin balik ya emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Huum
Kirim lewat sini ya emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut
Bergidik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 3 lainnya memberi reputasi
Quote:


Cerita ini ane dengar waktu masih kecil di desa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di