CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Abu Talha Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7cdc5828c9912366733af3/abu-talha-tangannya-buntung-karena-melindungi-rasulullah-dalam-perang-uhud

Abu Talha Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Abu Talha Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud

Abu Talhah radhiyAllahu ‘anhu sahabat Nabi yang tangannya buntung karena melindungi wajah suci Rasulullah saw dari serangan anak panah yang dilepaskan oleh musuh-musuh Islam ketika perang Uhud.

Biografi Abu Talhah

Namanya aslinya adalah Zaid bin Sahl, sementar Abu Talhah merupakan nama kunyahnya. Lahir di Madinah, 36 tahun sebelum hijrah atau tahun 585 M. Beliau berasal dari Suku Khajraj, kabilah Bani Najjar.

Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw melalui ayahnya, karena beliau adalah sepupu (anak paman) Rasulullah saw dari pihak ibu.

Beliau mendapat kehormatan mendapatkan tabaruk berupa beberapa helai rambut Rasulullah saw yang diberikan Rasulullah saw sendiri kepada beliau.

Baca juga: Syammas bin Utsman: Sahabat Nabi yang Syahid di Uhud

Baiat

Ummu Sulaim seorang janda dari orang yang bernama Malik yang meninggal terbunuh di Syam. Ia meninggalkan Ummu Sulaim bersama anaknya yang bernama Anas bin Malik.

Abu Thalhah segera melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim meminta Abu Thalhah agar masuk Islam sehingga menjadikan keislamannya sebagai maskimpoi.

Pada peristiwa Baiat Aqabah yang kedua di Mekkah, Abu Talhah baiat, menerima kebenaran Islam. Beliau termasuk di antar dua belas pemimpin Madinah yang baiat pada peristwa itu.

Setelah peristiwa hijrah Rasulullah saw kemudian mempersaudarakan Abu Thalhah dengan Al-Arqam bin Abi al-Arqam atau dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Baca juga: Sa’id bin Zaid: Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Penghidmatan dalam Islam

Abu Thalhah merupakan salah seorang sahabat pemberani, setia dan banyak berkorban dari kalangan Anshar, beliau terkenal dengan kemahiran memanahnya (min al-rumah, من الرماة). Beliau memperlihatkan keahlian memanahnya saat perang Uhud. 
Rasulullah saw bersabda, ﺃَﻧْﺜﺮُوا النبل ﻷَﺑِﻲ ﻃَﻠْﺤَﺔَ “Letakkan panah di depan Abu Talhah!” Hal demikian karena ia akan menggunakan panah tersebut dengan cepat dan juga akan tepat mengenai sasaran yang diinginkan.

Abu Thalhah mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan semua perang bersama Rasulullah saw.

Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah

Abu Talhah pada Perang Uhud

Perang Uhud terjadi pada tanggal 7 Syawal 3 H atau 22 Maret 625 M. Terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badr. Disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Pasukan Islam berjumlah 700 orang sedangkan pasukan kafir Qurayis berjumlah 3.000 orang. Rasulullah saw menempatkan 50 pemanah di bukit Ainain, yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair ra. Rasulullah sw memerintahkan pasukan pemanah itu menyerang musuh dengan anak panah mereka, dan apapun yang terjadi mereka tidak boleh meninggalkan pos mereka.

Ketika paruh pertama peperangan nampak dimenangkan oleh pasukan Islam, pasukan musuh berlarian menyelamatkan diri. Melihat kemenangan itu pasukan Islam yang ada di atas bukit Ainain sebagian besar mereka turun dan bergabung dengan pasukan yang tempur yang ada di bawah.

Melihat banyak pasukan dari pihak Islam yang meninggalkan pos di atas bukit, Khalid bin Walid yang saat itu memimpin pasukan kafir memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk berbalik kembali dan menyerang pasukan Islam.

Pos di atas bukit direbut oleh mereka dan pasukan Islam yang tersisa di sana dibunuh, termasuk Hamzah ra, paman Rasulullah saw.

Serangan yang tiba-tiba dari arah belakang itu membuat pasukan Islam terdesak dan cerai berai.

Sekelompok kecil pasukan Islam membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah saw. Salah satunya adalah Abu Talhah. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang. 

Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Muslim dalam lingkaran itu rebah karena tebasan pedang para prajurit Mekkah.

Sementara itu dari atas bukit para pemanah musuh melepaskan panah-panah mereka. Mereka mengincar wajah suci Rasulullah saw, mengetahu hal itu Abu Talha yang ahli dalam hal memanah, segera mengangkat tanganya untuk melindungi wajah Rasulullah saw. Anak panah satu demi satu menghantam tangan  Abu Talha, beliau sama sekali tidak bersuara apalagi menggeser tangannya.

Baca juga: Usamah bin Zaid: Sahabat yang Sangat Dicintai Nabi

Tangannya Buntung

Akibat tusukan anak panah yang bertubi-tubi, tangan Abu Talhah menjadi hancur dan terpotong. Beliau kehilangan tangan seumur hidupnya, beliau menjadi orang buntung.

Lama sesudah Perang Uhud sahabat-sahabat beliau bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau Cumiik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan, sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah saw akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.”
Kemudian, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha si Buntung.

Sahabat Abu Talhah menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam Perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah saw dari panah-panah musuh.”

“Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan, sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah saw akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.”

Abu Talhah


Wafat

Hadhrat Abu Talhah diperkirakan wafat pada tahun 34 H atau 654 M di Madinah pada usia 70, pada masa khalifah kedua, Utsman bin Affan.

Beliau seorang pemberani, pejuang hebat, dan setia dalam melindungi Rasulullah saw. Beliau melakukan banyak pengorbanan semata-mata demi membela kebenaran dan untuk mencari ridha Allah Ta’ala. [madj]


Sumber: bewaramulia.com


profile-picture
profile-picture
rioza dan jazzcoustic memberi reputasi
Diubah oleh akramdjazuli
diejek di zaman khalifah keempat dan wafat di zaman khalifah ke dua, tolong jelaskan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akramdjazuli dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:


Betul betul betul ?
profile-picture
akramdjazuli memberi reputasi
Quote:


Quote:


kurasa TS nya keliru mengira figur Abu Thalhah Al-Anshari dengan Thalhah bin 'Ubaidillah. yang dia ceritakan di perang Uhud badannya tertancap banyak panah dan tangannya buntung adalah Thalhah, bukan Abu Thalhah. dan sebenarnya masih keliru.

adapun riwayat tentang yang dialami Thalhah dalam perang Uhud, bukan tangannya yang putus, tapi jari-jarinya. sebuah hadits yang dikutip oleh Dzahabi dalam Siyar A'lamun-Nubala Vol. 1 Hal. 27 diriwayatkan secara mauquf (isnad-nya terputus pada Jabir bin 'Abdullah) melalui Yahya bin 'Ayyub, di-takhrij oleh Nasa'i. di situ tertulis: فَقَاتَلَ طَلْحَةُ قِتَالَ الأَحَد عَشَر، حَتى قُطِعَتْ أَصَابِعُهُ ("Thalhah bertempur satu lawan sebelas, hingga jari-jarinya putus"). riwayat lain yang di-takhrij Bukhari adalah dia tertikam 70 anak panah. ini lebih konyol lagi jika dia tetap hidup setelah 70 anak panah menusuk dia. dan yang terpenting adalah bahwa meskipun hadits tentang kisah ini di-takhrij Nasa'i dan Bukhari, tapi mereka tidak memasukkannya ke dalam Sunan Nasa'i dan Shahih Bukhari, melainkan di Adh-Dhu'afa'i wal-Matrukun Nasa'i.

kalo dari tarjamah Thalhah bin 'Ubaidillah, semua sepakat dia mati saat perang Jamal tahun 36 Hijriyyah. dia bersama A'isyah dan Zubair adalah satu kubu yang melawan pemerintahan 'Ali. sementara di thread ini jelas aja bingung, Abu Thalhah-lah yang mati tahun 34, dan itu memang masih di masa pemerintahan 'Utsman. yang jelas, figur Abu Thalhah dan Thalhah adalah orang berbeda.

dan dari semua tarjamah dari kitab-kitab rijal klasik tentang Thalhah di atas tidak ada satupun ditemukan atestasi bahwa dia diejek "si buntung" pada masa pemerintahan 'Ali. justru aku menemukannya dari situs Ahmadiyyah yang mengklaim narasi ejekan "si buntung" itu terdapat dalam Kitabul-Maghazi karya Waqidi. yang jadi masalah, tidak satupun salinan Al-Maghazi terwariskan alias kitab ini sudah punah. kurasa ini ekstrapolasi tradisi untuk menampilkan romantisme heroik dan nestapa Thalhah secara bersamaan.

sedangkan Abu Thalhah tidak ditemui narasi tangannya buntung. Abu Thalhah cukup misterius dan namanya lebih sering ditemui dalam beberapa isnad hadits sebagai perawi thabaqah ke-1.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tjetjepsomad dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tyrodinthor
Lihat 3 balasan
akhirnya sepuh @tyrodinthor masuk juga ke salah satu trit ts ini emoticon-Matabelo kayanya dia cuma promote blog dakwah dongengnya puh
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
Quote:


70 panah di seluruh tubuh ?

Apa epos mahabarata sudah sampai ke arab ya waktu itu ? Jangan2 kisah heroik ini terinpirasi dari cerita bisma dihujani panah oleh srikandi
profile-picture
tyrodinthor memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Assalamualikum wrwb...
Terimakasih atas perhatiannya, pada kesempatan ini saya akan memperbaiki thread ini. Dan merubahnya menjadi dua bagian.

Talhah bin Ubaidullah Tangannya Buntung Karena Melindungi Rasulullah di Perang Uhud


Talhah bin Ubaidullah radhiyAllahu ‘anhu seorang Sahabat Nabi yang baiat dimasa awal. Beliau dikena sebagai orang kaya yang dermawan. Dalam Perang Uhud, beliau setia melindungi Rasulullah saw sehingga tangan beliau terluka parah hingga cacat.

Biografi Talhah bin Ubaidullah

Talhah Bin Ubaidullah biasa dipanggil Abu Muhammad. Beliau dari kalangan Anshar, berasal dari kabilah Banu Taim Bin Murrah. Ayahanda beliau bernama Ubaidullah Bin Utsman dan Ibunda beliau bernama Sha’bah, putri Abdullah Bin Imad al-Hadhrami.

Ubaidullah, Ayah beliau tidak mendapati zaman Islam namun ibunda beliau berumur panjang, sementara ibunda beliau beriman kepada Rasulullah yang baiat sebelum Hijrah.

Silsilah mata rantai leluhur Talhah Bin Ubaidullah dan Rasulullah saw bertemu pada generasi ketujuh yang bernama Murrah Bin Ka’b [yang juga menurunkan Kilab, ayah Qushay].

Sementara itu, pertemuan jalur kakek moyang dengan Abu Bakr ialah pada generasi urutan yang keempat [yaitu bertemu pada Amru bin Ka’b bin Sa’d bin Taim].

Baiatnya Talhah bin Ubaidullah

Yazid Bin Ruman meriwayatkan: “Suatu ketika Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidullah keduanya berangkat di belakang Zubair bin Awwam dan hadir di hadapan Rasulullah saw. Beliau saw menyampaikan pesan Islam kepada mereka berdua, memperdengarkan Al-Qur’an dan menjelaskan kepada mereka perihal hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam Islam. Rasul juga menjanjikan kepada mereka berdua kemuliaan yang akan didapatkan dari Allah Ta’ala. Keduanya lalu baiat dan membenarkan Rasulullah saw.”

Talhah Bin Ubaidullah sendiri meriwayatkan: “Pada suatu ketika saya tengah berada di pasar Boshra” (atau Bushra, sebuah kota besar di negeri Syam). Ada seorang Rahib di tempat ibadah Yahudi mengatakan, ‘Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?’ “Ya, saya penduduk Makkah,” sahut saya (Talhah). “Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya. “Ahmad yang mana?”

Pendeta itu berkata: “Ia putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi terakhir. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Negeri itu subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya dan jangan mengabaikannya, wahai anak muda!” sambung pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati beliau hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar beliau langsung pulang ke Mekkah. Setibanya di Makkah, beliau langsung bertanya kepada keluarganya, “Ada peristiwa apa sepeninggalku?”

Keluarganya menjawab, “Ada Muhammad bin Abdullah Al-Amin mendakwakan dirinya Nabi. Ibnu Abu Qahafah (panggilan untuk Abu Bakar) telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya,” jawab mereka.

Setelah itu Talhah langsung mencari Abu Bakr dan bertanya, “Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?” Abu Bakr berkata, ‘Betul. Kamu pun silahkan jumpai beliau dan berimanlah karena beliau menyeru pada kebenaran.”

Talhah ganti bercerita tentang pertemuannya dengan seorang Rahib di Boshra. Abu Bakr lalu ia mengajak Talhah untuk menemui Rasulullah saw. Talhah baiat masuk Islam dan menceritakan apa yang dikatakan oleh pendeta tadi. Mendengar itu Rasulullah saw merasa bahagia. (At-Thabaqah Al-Kubra, karya Muhammad ibnu Sa’d).

Ketika Naufal bin Khuwailid Al-Adawiyah penentang Nabi mengetahui Talhah masuk Islam, dengan segera dia mengambil tali dan mengikat Talhah dan Abu Bakr dalam satu ikatan. Keduanya dijuluki Qarinain (dua orang yang bersahabat).

Saudara Thalhah yang bernama Utsman Bin Ubaidullah termasuk diantara yang mengikat. Mereka diikat supaya tidak dapat pergi menemui Rasulullah dan juga supaya keluar dari Islam.

Di dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan pula Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam berdoa, “Ya Allah, lindungilah mereka dari kejahatan Naufal al-Adawiyah.”

Ketika Talhah dan Zubair menerima Islam, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara keduanya. Ketika umat Islam hijrah ke Madinah, Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Talhah dengan Abu Ayyub Anshari.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah saw menjalinkan persaudaraan antara Talhah dengan Sa’id Bin Zaid. Berdasarkan riwayat lainnya lagi ialah dengan Ubay Bin Kaab.

Penghidmatan dalam Islam

Talhah Bin Ubaidullah tidak ikut Perang Badar namun Rasulullah saw menetapkan beliau ahli Badar dan mendapat bagian harta ghanimah-rampasan perangnya.

Sebab beliau tidak ikut Perang Badar karena Rasulullah saw menugaskan Talhah Bin Ubaidullah dan Said Bin Zaid untuk tujuan mencari informasi berkenaan dengan kafilah Quraisy dari Syam.

Ketika mereka kembali ke Madinah untuk melapor, Rasulullah saw dan pasukan Islam telah berangkat menuju medan tempur. Oleh karena itu keduanya ditetapkan ikut serta pada perang Badar.

Talhah bin Ubaidullah ikut serta pada Perang Uhud dan seluruh peperangan lainnya. Begitu pun beliau ikut serta pada saat Perjanjian Hudaibiyah.

Beliau termasuk 8 orang yang paling pertama menerima Islam, juga termasuk 5 orang yang menerima Islam dengan perantaraan Abu Bakr, termasuk 10 orang yang diberi kabar suka ketika hidupnya bahwa mereka calon ahli surga dan salah seorang yang diridhai oleh Rasulullah ketika wafatnya. Beliau juga termasuk salah satu anggota komite syura yang dibentuk oleh Khalifah Umar ra.

Ali ra meriwayatkan, “Dua telinga saya sendiri mendengar Rasulullah saw bersabda ‘Talhah dan Zubair akan menjadi dua tetangga saya di surga.’”

Jabir Bin Abdullah meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di muka bumi, maka lihatlah Talhah bin Ubaidullah.”

Talhah pada Perang Uhud

Perang Uhud terjadi pada tanggal 7 Syawal 3 H atau 22 Maret 625 M. Terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badr. Disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil.

Pasukan Islam berjumlah 700 orang sedangkan pasukan kafir Qurayis berjumlah 3.000 orang. Rasulullah saw menempatkan 50 pemanah di bukit Ainain, yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair ra. Rasulullah sw memerintahkan pasukan pemanah itu menyerang musuh dengan anak panah mereka, dan apapun yang terjadi mereka tidak boleh meninggalkan pos mereka.

Ketika paruh pertama peperangan nampak dimenangkan oleh pasukan Islam, pasukan musuh berlarian menyelamatkan diri. Melihat kemenangan itu pasukan Islam yang ada di atas bukit Ainain sebagian besar mereka turun dan bergabung dengan pasukan yang tempur yang ada di bawah.

Melihat banyak pasukan dari pihak Islam yang meninggalkan pos di atas bukit, Khalid bin Walid yang saat itu memimpin pasukan kafir memerintahkan pasukannya yang tersisa untuk berbalik kembali dan menyerang pasukan Islam.

Pos di atas bukit direbut oleh mereka dan pasukan Islam yang tersisa di sana dibunuh, termasuk Hamzah ra, paman Rasulullah saw.

Serangan yang tiba-tiba dari arah belakang itu membuat pasukan Islam terdesak dan cerai berai.

Sekelompok kecil pasukan Islam membuat formasi lingkaran di sekeliling Rasulullah saw. Salah satunya adalah Talha bin Ubaidullah. Seluruhnya tak lebih dan dua puluh orang. Lasykar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Muslim dalam lingkaran itu rebah karena tebasan pedang para prajurit Mekkah.

Sementara itu dari atas bukit para pemanah musuh melepaskan panah-panah mereka. Mereka mengincar wajah suci Rasulullah saw, mengetahu hal itu Talha segera mengangkat tanganya untuk melindungi wajah Rasulullah saw. Anak panah satu demi satu menghantam tangan Talha, beliau sama sekali tidak bersuara apalagi menggeser tangannya.

Tangannya Buntung

Akibat tusukan anak panah yang bertubi-tubi, tangan Talhah menjadi hancur dan terpotong. Beliau kehilangan tangan seumur hidupnya, beliau menjadi orang buntung.

Lama sesudah Perang Uhud sahabat-sahabat beliau bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau Cumiik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan, sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah ssa akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.”

Kemudian di zaman Khalifah ke empat, Ali bin Abi Thalib, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha si Buntung.

Sahabat Talhah menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam Perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah saw dari panah-panah musuh.”

Malik Bin Zuhair (dari pihak musuh) melontarkan panah ke arah Rasulullah, Talhah melindungi wajah Rasulullah dengan tangannya. Anak panah mengenai kelingking beliau yang menyebabkan kelumpuhan. Ketika panah mengenai jari tersebut, beliau mengeluarkan sedikit suara karena sakitnya. Rasul bersabda, “Seandainya ia mengucapkan bismillah, maka ia akan masuk surga dalam keadaan orang-orang tengah menyaksikannya.”

Riwayat lain berkenaan dengan kejadian serupa itu tertulis dalam as-Sirah al-Halbiyah bahwa Qais Bin Abu Hazim menuturkan, “Saya melihat keadaan tangan Talhah bin Ubaidullah pada saat perang Uhud yang kemudian lumpuh karena digunakan untuk melindungi wajah Rasulullah saw dari tembakan anak-anak panah.”

Aisyah dan Ummu Ishaq, keduanya putri Talhah meriwayatkan, “Pada perang Uhud ayah kami memperoleh 24 luka yang diantaranya luka yang terdapat pada kepala beliau, urat kaki juga terputus, jari beliau lumpuh dan luka-luka tubuh lainnya yang mengakibatkan beliau pingsan. Gigi bagian depan Nabi saw patah dan wajah beliau pun terluka. Nabi saw pun sempat pingsan. Talhah menaikkan Nabi saw ke atas punggungnya sambil meletakkan kaki kiri ke belakang, dengan tujuan supaya jika mendapati musuh dapat menghadapinya. Berkat sandaran tersebut Rasul dapat menaiki bukit.” (Tabaqatul Kubra)

Diriwayatkan dari Qais Bin Abu Hazim, “Marwan Bin Hakam pada perang Jamal memanah lutut Talhah maka darah mengalir dari nadi beliau. Ketika beliau memegangnya dengan tangan maka darahnya berhenti, dan ketika dilepaskan mengalir kembali.

Talhah berkata, “Demi Allah! Setelah ini tidak akan pernah lagi mengalami anak-anak panah orang-orang tersebut.” Kemudian berkata, “Abaikanlah luka ini karena panah ini Allah Ta’ala Yang telah mengirimkannya.”

Talhah bin Ubaidullah syahid pada perang Jamal, pada masa Khalifah Ali, pada tanggal 10 Jumadits Tsaani 36 Hijriah. Pada saat beliau berusia sekitar 62 atau 64 tahun.


***


Abu Talhah Setia Melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud


Abu Talhah radhiyAllahu ‘anhu salah satu Sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang setia melindungi Rasulullah dalam Perang Uhud. Beliau sungguh-sungguh dalam beramal, taat dan mencintai Rasulullah saw.

Biografi Abu Talhah

Lebih dikenal sebagai Abu Talha sedang nama asli beliau adalah Zaid. Beliau berasal dari kalangan Anshar, pemimpin kabilah Khazraj. Beliau di Madinah, 36 tahun sebelum hijrah atau tahun 585 M. Ayahanda beliau bernama Sahl bin Aswad dan ibunda beliau bernama Ubadah Binti Malik.

Secara fisik beliau digambarkan memiliki postur tubuh yang sedang, kulitnya berwarna gandum, dan beliau tidak pernah mengenakan Khidaab (pewarna) pada rambut atau janggut.

Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw melalui ayahnya, karena beliau adalah sepupu (anak paman) Rasulullah saw dari pihak ibu.

Abu Talha menikah dengan Ummu Sulaim, seorang janda dari Malik bin Nadzar yang mati terbunuh di Syam. Dari pernikahan tersebut terlahir Abdulah dan Umair. Sedangkan dari Malik bin Nadzar, Ummu Sulaim mendapatkan seorang anak yang bernama Anas.

Anas kemudian menjadi salah satu Sahabat Nabi yang termasyhur, beliau dari masa mudanya telam melayani Rasulullah saw. Dan Anas banyak meriwayatkan perilah Abu Talhah, bapak tirinya itu.

Baiat

Abu Talha menerima kebenaran Islam pada peristiwa baiat Aqabah kedua di Mekkah, beliau termasuk di antar dua belas pemimpin Madinah yang baiat pada peristwa itu.

Baiatnya beliau terjadi pada saat hendak melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim meminta Abu Talhah masuk Islam sehingga menjadikan keislamannya sebagai maskimpoi.

Hal itu diceritakan oleh Anas, katanya, “Abu Talha mengirimkan pesan lamaran kepada Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata: ‘Demi Tuhan, saya tidak menolak untuk menikahi pria seperti anda, namun anda adalah seorang musyrik sedangkan saya muslimah (Riwayat Sunan Nasai) Tidak diizinkan bagi saya untuk menikahi anda. Jika anda baiat masuk Islam, baiat tersebut akan menjadi mahar anda bagi saya, saya tidak menuntut apa apa lagi. Lalu Hadhrat Abu Talha baiat. Baiatnya beliau ditetapkan sebagai mahar.’”

Tsabit ra, seorang Sahabat sering mengatakan: “Saya tidak pernah mendengar dalam Islam berkenaan dengan seorang wanita yang maharnya sangat terhormat seperti ini, sebagaimana maharnya Ummu Sulaim.”

Setelah peristiwa hijrah, Rasulullah saw kemudian mempersaudarakan Abu Thalhah dengan Al-Arqam bin Abi al-Arqam atau dengan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Beliau mendapat kehormatan mendapatkan tabaruk (benda-benda yang memiliki berkat) berupa beberapa helai rambut Rasulullah saw yang diberikan beliau saw sendiri kepada beliau.

Penghidmatan dalam Islam

Abu Thalhah mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan semua peperangan bersama Rasulullah saw.

Beliau merupakan salah seorang sahabat pemberani, setia dan banyak berkorban dari kalangan Anshar, beliau terkenal dengan kemahiran memanahnya (min al-rumah). Beliau memperlihatkan keahlian memanahnya saat perang Uhud.

Rasulullah saw bersabda, ﺃَﻧْﺜﺮُوا النبل ﻷَﺑِﻲ ﻃَﻠْﺤَﺔَ “Letakkan panah di depan Abu Talhah!” Hal demikian karena ia akan menggunakan panah tersebut dengan cepat dan juga akan tepat mengenai sasaran yang diinginkan.

Anas meriwayatkan, “Disebabkan karena jihad sehingga Abu Talha tidak dapat melaksanakan puasa nafal, supaya tetap kuat.” Anas lebih lanjut mengatakan bahwa setelah Rasulullah saw wafat, “Saya tidak pernah melihat beliau tidak puasa kecuali pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Yakni setelah itu beliau mulai puasa nafal secara dawam.”

Abu Talha dikenal sebagai sahabat yang taat dan sangat mencintai Raulullah saw. Ada satu peristiwa yang di ceritakan oleh Anas tentang perhatian Abu Talha terhadap Rasulullah saw, Anas meriwayatkan, “Kami bersama dengan Rasulullah saw ketika Rasulullah saw kembali dari Usfan (sebuah nama tempat yang terletak diantara Mekah dan Madinah). Saat itu Rasulullah saw tengah mengendarai unta dan istri Rasul, Hadhrat Safiyah tengah duduk di belakang Rasul. Saat itu unta beliau tersandung sehingga beliau berdua ikut jatuh.”

Melihat kejadian itu, Talhah langsung melompat dari untanya dan berkata: Wahai Rasul: Aku rela berkorban demi tuan. Rasul bersabda: Pertama tama lihat dulu keadaan wanita.

Abu Talha menutupi wajahnya dengan cadar lalu menghampiri Safiyah lalu menutupi Safiyah dengan pardah (penutup aurat) lalu Abu Talhah menegakkan kendaraan Rasul. Kemudian beliau berdua menaikinya dan berangkat. Kami membuat formasi di sekeliling Rasul. Ketika sampai di dataran tinggi Madinah, Rasulullah saw bersabda: Aaibuuna taaibuuna aabiduuna lirabbinaa haamiduuna. Kami kembali, kami taubat dihadirat Tuhan kami, kami beribadah kepada Tuhan kami, dan memujiNya. Beliau terus membacakan kalimat tersebut sampai memasuki Madinah.

Abu Talhah pada Perang Uhud

Pada pesristiwa Perang Uhud Abu Talha termasuk sahabat yang setia melindungi Rasulullah saw ketika beliau saw terancam nyawanya oleh para prajurit kufar Mekkah. Abu Talha melindungi Rasulullah saw dengan menggunakan perisainya.

Mengenai hal itu diberitakan oleh Anas: “Ketika pasukan Muslim terpojok pada Perang Uhud lalu berpisah dari Rasulullah saw , sementara itu Abu Talha tetap bertahan di dekat Nabi untuk melindungi Nabi dengan perisainya. Abu Talha adalah seorang ahli memanah yang sangat keras tarikan tali busurnya. Pada perang itu beliau mematahkan dua atau tiga busur panah. Ada seorang laki laki lewat di hadapannya dengan membawa sarung anak panah laluRasulullah saw berkata pada orang itu: Berikan itu kepada Abu Talha. Rasulullah saw mendongakkan kepala untuk melihat keberadaan musuh. Abu Talha berkata: Wahai Rasulullah! Demi ayah ibuku sebagai tebusannya, janganlah baginda mendongakkan kepala sebab, panah musuh bisa jadi mengenai baginda. Cukup saya saja yang menjadi taruhannya.

Anas meriwayatkan, Abu Talha melindungi Rasulullah saw dengan satu tameng, beliau adalah seorang pemanah handal. Ketika menontarkan panah, Rasulullah memandangnya dan menyaksikan tempat tertancapnya. (Bukhari)

Wafat

Abu Talhah wafat di Madinah pada 34 Hijriyah atau 654 Masehi, dan Usman ra yang memimpin shalat jenazah beliau. Ketika wafat usia beliau 70 tahun; sedangkan, menurut penduduk Basrah, beliau wafat pada saat melakukan perjalanan laut dan dimakamkan di suatu pulau.

Beliau seorang pemberani, pejuang hebat, dan setia dalam melindungi Rasulullah saw. Beliau melakukan banyak pengorbanan semata-mata demi membela kebenaran dan untuk mencari ridha Allah Ta’ala. [madj]

Sumber: bewaramulia.com

Mohon maaf dan terima kasih atas koreksinya.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di