CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7b0aca68cc957a960fe321/bye-max

Bye Max

Aku tinggal di sebuah kota yang bisa dibilang tidak ada orang baik di kota ini. Kasus pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan kasus-kasus kejahatan lain di kota ini sudah di anggap wajar. Suap untuk anggota polisi pun sudah biasa disini. Dan kebetulan, aku seorang pembunuh bayaran. Aku sangat menikmati kehidupan di kota ini. Dimana aku bisa nyaman dengan pekerjaanku. Aku selalu mendapat bayaran besar dari klienku, dan selalu dilindungi oleh pihak polisi. Dan juga, aku sangat menikmati penderitaan dari korbanku.

Tetapi selama masa aku bekerja, aku pernah mengalami kesulitan. Aku mendapatkan target yang berbeda dari biasanya. Aku harus membunuh orang, yang seharusnya tidak aku bunuh. Dan juga aku tidak mendapat bayaran untuk membunuhnya. Anehnya aku menerima tugas itu. Aku akan menceritakan seorang targetku yang tak pernah bisa aku lupakan. Dia merupakan seorang psikopat, yang juga tinggal di kota ini.

Max, psikopat yang akan aku ceritakan dalam cerita ini. Dia tinggalnya tidak jauh dari rumahku. Berdasarkan pandanganku, dia sepertinya memiliki gangguan psikopat primer. Psikopat primer merupakan gangguan karena keturunan. Aku tahu itu karena ayahnya Max merupakan psikopat juga. Sayangnya, Max dengan ayahnya tidak pernah sejalan dengannya. Karena itu, Max lebih memilih tinggal ditempat lain yang dekat dengan rumah sahabatnya.

Ohiya, aku belum menceritakan siapa sahabat Max. Namanya steve, dia seorang buronan dari beberapa mafia di kota ini. Bisa di bilang mereka cocok jika berteman. Max, yang tidak memiliki teman sama sekali, bertemu dengan Steve yang merupakan buronan yang memerlukan teman untuk bisa melindunginya. Steve sudah banyak menipu, bahkan mengadu domba beberapa mafia. Sehingga banyak yang tidak menyukainya.

Pertemuan pertama Max dengan Steve sebenarnya merupakan pertemuan yang luar biasa. Pada masa itu, Steve sedang dalam ketakutan. Dia ditahan oleh seseorang yang tidak menyukainya. Orang yang menahannya kebetulan adalah ayah Max sendiri. Ayahnya benci dengan orang-orang yang suka menipu. Steve sudah ditahan selama 2 hari dirumah Max tanpa sepengetahuan Max. Steve sudah mengalami luka dan trauma yang cukup parah akibat dari perbuatan ayahnya Max. Hingga akhirnya pada hari ketiga, Max mendengar teriakan steve dari dalam ruangan ayahnya yang mirip seperti ruang kerja. Ruangan yang berisi meja, kursi, dan beberapa berkas dan berangkas ada didalamnya. Lalu Max masuk ke ruangan itu, dan melihat Steve terikat di sebelah meja ayahnya Max. Jari-jari tangan kiri Steve sedang di potong-potong menggunakan gunting oleh ayahnya.

Max bertanya kepada ayahnya,”apa yang ayah lakukan dengan orang itu?”

Ayahnya lalu melihat Max, dan menjawab “apa yang kau tau tentang dia? Sudahlah.. ayah sedang menikmatinya... kalau tidak suka, jangan mengganggu.. keluar sana.”

Tidak puas dengan jawaban sang ayah, Max pun mendekat dan berusaha mengalihkan pandangan ayahnya agar berbicara dengannya dahulu. Dia pun memegang tangan ayahnya yang membawa gunting, dan bertanya, “bisa tidak kita berbicara dulu.. aku ingin tau apa salah orang ini, karena kau selalu suka menyiksa orang-orang tidak bersalah dijalanan sana.”

“orang-orang tidak bersalah katamu?! Mana ada orang yang tidak bersalah di kota ini bodoh! Keluar kau, atau kau akan.... aaahhhhh sialan kau.”

Max menusukan gunting itu ke paha ayahnya. “diam!! Biarkan dia bebas dan biarkan dia hidup...” kata Max.

Tanpa banyak berbicara lagi, Max memukul kepala ayahnya hingga pingsan, dan membantu Steve untuk pergi. Max memang sudah sering melihat Steve, dan sudah mengerti dimana Steve tinggal, dan dimana Steve bersembunyi. Maka, sehari setelah kejadian itu Max bertemu dengan Steve dan memilih tinggal dengannya.

Persahabatan mereka hanya berjalan sebulan, karena setelah sebulan itu Steve tidak terlihat lagi. Max hanya sendirian di kediaman Steve yang memiliki bau tidak sedap itu. Ayah Max juga masih menyimpan dendam terhadap Max karena menggagalkan aksinya. Tetapi, sang ayah mulai mengetahui posisi Max setelah mendapatkan kabar bahwa Steve menghilang.

Aku akhirnya di tugaskan untuk menghabisi Max di kediaman Steve. Aku tidak menyiapkan rencana apapun pada waktu itu. Aku hanya tiba di sore hari, dengan tangan kosong, dan berharap semua berjalan dengan lancar. Ketika tiba di rumah tersebut, aku mencium bau yang aku kenal. Bau mayat yang sudah mati selama beberapa hari. Aku pun mewajarkannya, dan terus berusaha mencari lokasi tepatnya dimana Max berada. Aku masih mengamati dari luar. Hingga akhirnya aku melihat satu ruangan yang ada orangnya.

Aku segera masuk dan mengincar ruangan itu. Ternyata benar ada Max disana. Tetapi dia tidak sendiri. Dia ditemani Steve yang sedang dia kuliti. Max menyadari kedatanganku dan tertawa. Dia paham aku akan mencari dan membunuhnya. Anehnya, dia malah sudah menyiapkan pistol di belakang pintu ruangan itu untukku. Tanpa berpikir panjang, aku segera mengambil pistol itu dan langsung menembakannya ke dada Max.

Max pun tersenyum. Dia berkata, “terima kasih ayah... aku sudah lelah hidup seperti ini... dan kuharap kau tau, aku juga ingin menikmati penderitaan orang tanpa di ganggu sepertimu... aku sayang ayah..”

Akhirnya Max pun mati... Dia sungguh target yang sangat tidak bisa aku lupakan...


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di