CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / Heart to Heart /
[Strory Part 2] ANAK NYIUR "Titisan Kuntilanak"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e79ed5c68cc955eb103b161/strory-part-2-anak-nyiur-quottitisan-kuntilanakquot

[Strory Part 2] ANAK NYIUR "Titisan Kuntilanak"

[Strory Part 2] ANAK NYIUR "Titisan Kuntilanak"

"Thalia?" Ibu Thalia segera beranjak menuju kamar Thalia. "Thalia! Buka pintunya sayang. Apa yang terjadi di dalam," teriak Ibu Thalia panik. Tak habis pikir, karena ketakutan Ibu Thalia mendobrak pintu kamarnya.
"Dubrak!" Bunyi pintu tersentak seketika.
"Hahahahaha," tawa Thalia di atas ranjangnya. "Ibu lucu!" girang Thalia.
Dengan wajah panik, seketika itu berubah dengan wajah heran campur marah. Ibu Thalia berjalan menuju Thalia, lalu melayangkan lengan telapak tangannya pada pipi putri semata wayangnya itu. "Kau kira itu candaan? Kau berteriak hingga jantung Ibu rasanya mau copot, terus kamu tertawa kegirangan setelah dobrakan sekuat tenaga Ibu lakukan demi memastikan kamu aman atau tidak!"
Tatapan tajam dikeluarkan Thalia seperti biasanya. Seperti marah, tetapi tak ingin melampiaskan. "Hahahaha. Ibu lucu." Ucapan itu diulanginya. "Ibu tahu nggak, Ibu lucu ... Ibu lucu!" ucap Thalia tersenyum senang.
Mendengar ucapan itu diulang-ulangi, ibu Thalia heran. "Thalia? ... Thalia? Nak?" Suasana ketika itu mulai tak karuan. Raut wajah ibu Thalia yang tadi tampak marah, seketika khawatir campur takut.
"Ibu ...!" Tiba-tiba bola mata Thalia mengarah ke atas.
"Thalia?" teriak ibu Thalia langsung memeluk Thalia.
"Ibu, haus!" ucap Thalia dengan mata dan pandangannya terus ke atas. Beberapa menit setelah itu, Thalia tepar tak sadarkan diri. "Astagfirullah Thalia!" Ibu Thalia langsung menggendong Thalia dan hendak membawanya ke dokter. Malam itu pukul 23:40 dengan kondisi hujan lebat. Kilat dan gemuruh tak hentinya menemani malam yang penuh keanehan bagi keluarga Thalia.
Tengah di perjalanan, Thalia sadarkan diri sedang ibunya panik menyetir. "Ibu, berhenti di sini. Depan ada banjir bandang," ucap Thalia tampak dengan pandangan kosong.
"Sayang, kamu sudah sadar? Kita ke rumah sakit yah. Kita cek kondisi kamu."
"Nggak Bu, Thalia mau main saja. Di depan ada banjir bandang."
"Ngomong apa kamu Nak. Ini sudah malam, kondisi kamu lagi tak karuan," ucapnya dengan nada cemas. "Lagian di sini nggak ada sungai Nak. Masa ada banjir," sambungnya meragukan. Beberapa menit setelah itu, terdengar bunyi deras seperti air mengalir. Pikir ibu Thalia itu adalah suara hujan deras tengah menerpa atap mobil. Namun, semakin mendekat semakin jelas dan besar suara deras air. Memasang lampu jauh mobil, pepohonan besar tampak berjalan terbawa arus. Air berjalan, sedikit demi sedikit mendekati mobil Thalia. Airnya menyebar karena jalan tak mampu menampung besarnya aliran air yang dikeluarkan saat itu. Ibu Thalia yang cemas dengan keadaan Thalia, berakhir panik setelah diperhadapkan dengan insiden tersebut. Ibu Thalia tanpa pikir panjang langsung memutar balik mobilnya dan menancap gas hingga keluar dari kejaran sebaran aliran banjir. Usai berada jauh dari lokasi banjir, seketika ibu Thalia heran mengapa Thalia tahu adanya banjir ketika itu. Dia pun berpikir dapat menutup kemungkinan bahwa banjir terjadi di lokasi itu karena di situ memang tidak ada aliran air sama sekali. "Thalia, dari mana Kau tahu ada banjir di situ?" ucapnya tegas sambil fokus mengendarai mobil. Namun, tak ada jawaban dari Thalia. "Thalia? Jawab Ibu Nak!" Sambil menoleh ke belakang, tampak Thalia menutup mata tertidur pulas. "Oh sudah tidur rupanya."

Esok harinya Thalia terdengar berteriak dari kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 06:15 waktu sarapan untuk keluarga Thalia. Ibu Thalia yang tengah mempersiapkan sarapan, sontak kaget dan langsung naik ke kamar Thalia. Thalia terlihat tergeletak tak sadarkan diri. Dengan paniknya, ibu Thalia langsung membawanya ke rumah sakit, dan Thalia langsung di rawat oleh dokter.
"Gimana keadaanya Dok," gelisah ibu Thalia.
"Dia hanya capek saja. Mentalnya terganggu hingga ada penurunan fungsi sistem saraf di bagian otaknya. Oleh karena itu, kami sarankan dia dirawat di sini dulu hingga kami menyatakan dia bisa pulang ke rumah."
"Oh baik Dok. Saya urus administrasinya dulu."
"Silakan."

Dua hari berlalu. Ibu Thalia jarang tampak di rumah sakit. Dua hari berturut-turut Bi Inem merawatnya dan Ibu Thalia tampak hanya pada malam harinya. Itu pun, dia masih sibuk dengan kerjanya di kantor.
"Non, Bibi mau ke kantin bawah dulu yah. Bibi mau beli cemilan. Boleh kan Non?"
"Silakan Bi," tanggap Thalia dengan senyuman.
Setelah beberapa menit Bi Inem pergi, pintu terbuka dan bau anyir memenuhi ruangan Thalia. "Hallo, what happen today? Are you okay my friend?" Sapa Thalia pada sahabatnya.
"That's so funny." Ucapan nadanya sedikit serak-serak basah sambil mengangguk. Setelah menyapa, Thalia tampak bahagia dan tertawa lepas. Seperti hal bercanda, tetapi Thalia seperti tak di dunianya.
"Non, Bibi masuk yah Non," ucap Bi Inem sambil membuka pintu. "Hmm bau apa ini Non? Kok busuk gini?"
Menanggapi hal itu, tatapan tajam Thalia terlihat seperti yang dilakukannya sebelum-sebelumnya. Sementara Bi Inem menaburkan pengharum ruangan, Thalia melihat kertas yang ditenteng Bi Inem.
"Hmmm." Nada mendengkur kaluar dari mulut Thalia. Namun, hal itu tak disadari Bi Inem. "Bi, minta cemilannya dong. Itu getuk kan?"
"Oh iya Non. Bibi kebetulan beli tadi soalnya Bibi tak tahan kalau lihat getuk. Sukanya comot lebih dari satu hihi."
"Buat Thalia saja yah?" wajah memelas. Hal itu adalah yang paling dibenci Thalia. Hingganya Bi Inem yang sudah kenal Thalia dari bayi heran.
"Eh Non mau? Tumbennya Non memohon."
"Sudah bagi saja!" Kantong kresek itu direbutnya. "Kelapa, hmmmm." Thalia melahap semuanya dengan rakus hingga tiada bersisa cemilan Bi Inem.
"Eh Non lagi sakit, nggak baik loh untuk kesehatan."
"Ah diam saja kamu!" bentak Thalia. Bi Inem yang tak punya kuasa, memasang wajah merunduk.
Usai memakannya dengan lahap, seketika raut wajah Thalia berubah. "Hmm ...." Suara mendengkur terdengar lagi. Bahkan itu dikeluarkannya secara berulang-ulang.
"Non? Non kenapa?" teriak Bi Inem ketika melihat Thalia terbaring sambil mendengkur dan matanya seakan tak ingin menoleh ke atas.
"Dokter? Dok?" Mendengar teriakan Bi Inem, Dokter langsung masuk ke ruangan dan menyuntikkan obat penenang untuk Thalia. Thalia yang tak ingin di suntik, memberontak dan seketika semua barang di ruangan itu tak karuan. Kursi sofa tampak tergeser dengan sendirinya, tabung oksigen jatuh menimpa kaki Bi Inem, hingga alat-alat dokter yang di bawa oleh suster terpental tak atur arah.
"Hmmm ...." Suara dengkur dikeluarkan lagi.

Bersumbang Gan ...
Quote:


Nah seikan eh sekian dulu neh cerpennya. Nantikan part ketiganya, and ikuti terus postingan kece dari akun mohammadid. Jangan Lupa Tinggalkan Komen yah guys emoticon-Smilie


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di