CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e79e413c9518b06f9771c22/cemburu

Cemburu


Cemburu

Hati teriris dan meringis, kala kudapati seseorang mengirim chat mesra pada WA suami tercinta. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, mengatakan pada dunia bahwa aku tengah gulana. Bagaimana tidak, aku yang begitu percaya pada lelaki jangkung berkumis tipis itu ... kini dengan mudahnya ia berkirim pesan dengan wanita lain.

Semua terjadi bukan karena disengaja, ponsel suami yang terus-menerus bergetar membuatku penasaran. Saat itu, Mas Ilman sedang mandi sore sepulang kerja. Tak ingin dirinya curiga, kembali kuletakan benda pipih itu. Tak lupa kuhapus pesan singkat yang berhasil menjadi sebab hancurnya hati hingga berkeping-keping ini.

“Kamu sedang tak enak badan, Sayang?” tanya Mas Ilman. Mungkin karena melihat ekspresi wajahku yang mendadak murung.

“Enggak kok, Mas,” jawabku ketus. Ingin rasanya berteriak menghardiknya, tapi takut dosa.

“Oh,” ucapnya singkat. Membuatku semakin kesal saja. Dasar lelaki, tak peka!

Tampak Mas Ilman tengah berdiri mematung tepat di depan lemari dalam keadaan terbuka. Kuperhatikan tanpa kedip, tampak ia tengah memandang tumpukan baju dalam lemari tersebut. Pandangan matanya terus dinaik turunkan, kukira ia tengah mencari sesuatu di sana.

“Mas, cari apa?” Aku beranikan diri untuk bertanya.

“Mmm ... cari kemeja motif garis-garis.”

“Oh, yang ini, kan?” Aku mengangkat tangan kanan yang tengah memegang kemeja kesayangan Mas Ilman.

“Benar itu. Ketemu dari mana?”

“Ini tergeletak di atas meja rias.”

“Ya ampun! Mas lupa, tadi kan sudah mas ambil dari lemari sebelum mandi.”

“Tumben pake kemeja, mau pergi ke mana?” tanyaku masih dengan nada ketus.

“Mas mau keluar sebentar ... ada urusan,” jawabnya santai.

Deg! Hati terasa ditimpa batu bata dalam jumlah banyak. Otak dengan cekatan memutar ulang memori beberapa menit silam. Jelas terlihat, chat dari perempuan dengan nama kontak Aruni yang sempat bertengger manis di ponsel Mas Ilman terus berkeliling mengitari kepala. Membayangi ingatan yang tak mau lepas barang sedetik pun.

Duduk di pinggir ranjang, memerhatikan suami tercinta yang tengah mengenakan kemeja dipadu padankan dengan celana jeans. Rambut disisir rapi, tampak basah sisa mandi dan keramas tadi.

“Mas berangkat dulu, ya?”

“Iya!” jawabku tak bersemangat.

Tak terasa, cairan bening berlomba meluncur keluar dari sudut netra. Aku menangis!

Tangisan sedih karena dirinya tampak tak ingat bahwa harusnya hari ini kita merayakan cinta. Entahlah, hadiah apa yang ia persiapkan untukku. Beda, sikapnya tak seperti biasa.

Harusnya dari kemarin ia sudah bertanya tentang hadiah apa yang aku mau di hari jadi pernikahan kami yang ke lima ini.

Tak mau terus dihantui rasa curiga, kuambil hijab syar’i yang dilengkapi dengan cadar. Tak lupa kuganti baju dengan motif yang pasaran. Maksud hati, agar saat pengintaian nanti Mas Ilman tak mengenali.

Gemuruh mesin mobil masih terdengar, mungkin sedang dipanaskan dulu sebelum berangkat, seperti biasa. Kebetulan dua hari terakhir, Mas Ilman kerja tak membawa mobil.

Kutatap keluar dari balik kaca jendela, tampaknya suami tercinta belum mengeluarkan mobil dari garasi. Terus kutatap, sembari menunggu kabar dari Aulia tetangga dekat rumah. Ada rasa was-was, saat Aulia tak kunjung menghubungi. Takut, jika Mas Ilman keburu pergi tanpa jejak. Itu berarti, aku tak akan tahu apa yang akan ia lakukan dengan wanita bernama Aruni di luar sana. Wanita yang dijanjikan ketemuan oleh Mas Ilman seperti di chat WA tadi.

Drtttt ... drttt ....

Ponsel yang kupegang bergetar, kuangkat. Lega rasanya Aulia sudah meghubungi via telepon. Sengaja meminta tolong padanya, biar nanti dia menemaniku melakukan pengintaian.
Mobil dalam garasi berhenti bergemuruh. Tak lama, tampak Mas Ilman keluar dari sana. Tunggu! Sepertinya ia akan masuk rumah, gimana ini? Aku bingung, tadi Mas Ilman pergi tanpa mengecup keningku seperti yang biasa ia lakukan tiap hendak pergi.

Tanpa pikir panjang, aku setengah berlari menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur. Kebetulan, baju bekas tadi pun ada di sini. Segera kumenggantinya, agar saat Mas Ilman memanggil, nanti aku keluar menggunakan baju yang terakhir dilihatnya tadi.

Selesai berganti baju, tak kudengar suara Mas Ilman memanggil. Hanya suara pintu kamar yang terdengar kembali ditutup. Ada rasa lega yang diiringi dengan rasa sayatan sembilu di dalam kalbu. Lega karena aku tak perlu mencari alasan dan tak perlu takut ketahuan. Terasa disayat sembilu karena sikapnya benar-benar lain dari biasanya. Tak ada kata dan laku romantis yang ia tujukan untukku lagi. Mungkinkah karena seorang Aruni, si perempuan tak tahu diri itu? Jika saja benar, aku benar-benar tak terima ini.

Waktuku tak banyak, takut jika Mas Ilman keburu mengemudikan mobil meninggalkan pekarangan rumah. Segera kukenakan gamis dengan hijab syar’i dan cadar tanpa membuka baju yang kembali tadi kupakai agar tak tertinggal.

Keluar dari kamar, melihat kanan kiri pada ruang tengah. Takut lelaki berhidung mancung itu masih ada di dalam rumah. Aman, tak tampak ada tanda-tanda kehadirannya di sana.

Terdengar kembali bunyi suara mobil, segera kuberlari menuju pintu keluar. Benar saja, Mas Ilman telah mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Aku harus buru-buru keluar dan mengunci pintu menuju rumah Aulia yang hanya terhalang oleh satu rumah saja.

Ponsel kembali bergetar, terpampang nama Aulia di layar bagian atas. Kugeser tombol hijau tanpa menghentikan langkah.

“Ras, kamu di mana? Aku sudah lihat suamimu menuju gerbang komplek, buruan!” ujar Aulia.

"Ini aku juga lagi jalan ke rumahmu. Mobilnya sudah tinggal berangkat, kan?”

“Iya, buruan! Entar kalau suamimu sudah keluar gerbang repot kita ngejarnya.”

“Ini aku sudah ada di belakangmu.”

Aulia membalikan badan. “Ayo cepat! Kita masuk mobil, suamimu sudah keluar komplek. Sepertinya ia sudah tak ngobrol dengan satpam lagi. Ayo buruan, Rasti!” ujarnya bawel.

“Iya ... iya ....”

Segera kumemasuki mobil tanpa menunggu lebih lama lagi. Aulia mengemudikan setir dengan lihai, tapi tetap jaga jarak agar tak ketahuan.

Selama perjalanan, hati terus bergemuruh tak tenang. Mungkin karena pikiran sedang kalut membayangkan bahwa Mas Ilman kini tengah berdua dengan wanita itu. Entah bertempat di mana, aku tak tahu.

Mobil hitam yang dikemudikan Mas Ilman tampak memasuki area parkir, tepat di sebuah kafe ternama. Jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, perasaan tak menentu, keringat dingin pun terasa menjalari tubuh. Aku benar-benar merasa ketakutan, antara penasaran dan tak akan kuat jika benar Mas Ilman tengah menepati janji dengan wanita menyebalkan itu.

Lelaki jangkung dengan lesung pipit itu terus melangkahkan kaki, memasuki area kafe. Terbersit rasa untuk mencegah dirinya masuk dan bertemu dengan wanita itu. Namun urung, saat hendak membuka pintu mobil, Aulia segera mencegahku dan menyuruh diam untuk tetap tinggal di dalam mobil.

“Ayo Aulia, Mas Ilman udah masuk kafe, tuh!” ajakku.

“Ntar aja dulu, kalau udah agak lamaan. Sabar!” ujar Aulia menenangkan.

“Lho, kok gitu? Entar keburu pulang gimana?”

“Gak bakalan, tenang aja!” ujar Aulia, pandangannya fokus ... tampak ia tengah asyik membalas chat dari seseorang.

“Berbalas chat dengan siapa, kayaknya seru sekali sampai senyum-senyum gitu?”

“Rahasia!” tegas Aulia. Dimasukkannya benda pipih itu ke dalam tas selempang.

“Ayo, sekarang saja kita masuk!”

“Mmm ... baiklah, ayo kita masuk!” ajak Aulia.

“Ayo!” jawabku bersemangat.

Tanpa pikir panjang, kugeser pintu mobil Aulia. Melangkahkan kaki menuju pintu masuk kafe. Tampak lengang, di bagian depan tak kudapati siapa pun. Kaki terus melangkah tanpa henti, masuk ke bagian tengah. Sama, tak kudapati siapa-siapa di sini. Hanya tampak beberapa pelayan tengah duduk, mungkin mereka tengah menunggu pesanan. Terbukti, saat mereka menawariku berbagai macam menu di sini.

Tak berhenti sampai di situ, mata terus mengitari kafe yang entah berapa meter luasnya. Kembali kulangkahkan kaki ke bagian belakang kafe, sesaat hati terkoyak menatap dua makhluk dalam satu meja. Dia, tampak begitu jelas dengan baju kemeja garis-garis favoritnya. Sedangkan wanita itu, kenapa mataku tak begitu aneh melihat postur tubuhnya, rasanya aku mengenalnya. Namun, jika dilihat dari arah belakang mungkin akan banyak yang mirip.

Aulia tak kunjung datang menghampiri, entah sedang apa dan di mana dia saat ini. Rasa penasaran terus menggelitik hati, membuat rasa sabar terkikis tak berarti.

Menarik napas dari hidung, lalu dikeluarkan lewat mulut adalah cara penghilang penatku. Mempersiapkan diri karena akan menghampiri Mas Ilman dan sang wanita yang duduk berhadapan dengannya.

Berjalan semakin mendekatinya, dia yang menoleh ke arah samping tampak menyadari kehadiranku dan melemparkan senyum. Aku tak menghiraukan senyumannya, hati yang dirundung rasa penasaran membuatku harus mendekati mereka karena sampai saat ini wanita berkrudung pashmina hitam dan gamis merah hati itu tak kunjung melirik ke arahku.
Aku memilih meja tepat di sebelah Mas Ilman. Entahlah, apakah aku akan kuat atau tidak melihatnya tengah bersama wanita lain. Semoga saja aku bisa!

Mas Ilman terus menatap ke arahku, mungkinkah dia mengenaliku? Atau mungkin dia terpesona dengan tampilanku, karena kini ia pun tengah bersama wanita bercadar. Entahlah!

Rasa tak kuat membuatku memilih untuk berhenti. Berhenti dari rasa panas yang akan segera menjalari tubuh. Rasa sakit hati membuat diri jadi pemberani. Berjalan sedikit ke meja sebelah.

“Boleh gabung?” tanyaku.

“Boleh!” jawab Mas Ilman.

“Ini istrinya?”

“Bisa jadi.”

“Apa? Kamu tega ya, Mas, berduaan dengan wanita ini!" bentakku sembari membuka cadar.
Anehnya ... Mas Ilman tak tampak kaget. Apa mungkin karena ia lebih memilih wanita di hadapannya kini?

Terdengar derap langkah, sepertinya ada orang lain yang akan datang bertandang. Suara itu terdengar semakin dekat, hingga terdengar suara Aulia bicara dari arah belakang.

“Rasti!”

“Iya, Aulia!” jawabku sembari menoleh ke belakang, betapa terkejutnya aku melihat sang sahabat membawa kue bertuliskan selamat merayakan cinta ke-5.

“Happy Anniversary, Sayang!” ucap Mas Ilman menghampiri dan memelukku.

Bersamaan dengan itu, wanita yang ada di depan Mas Ilman membuka cadar yang dikenakannya.

“Ya ampun, Ibu!" Aku terkejut.

“Iya. Happy Anniversary, Ras!" seru ibu.

“Makasih, Bu. Jadi, semua ini sudah direncanakan untukku?” tanyaku dengan netra berkaca-kaca.

“Benar,” jawab Mas Ilman.

“Bersama Aulia dan Ibu?”

“Iya,” jawab semuanya serentak.

“Termasuk chat itu?”

“Benar, yang mengirim chat itu ibu ... menggunakan nomor teman,” jawab wanita yang telah melahirkan suamiku memberitahu.

“Maafkan Mas ya, Sayang, untuk beberapa hari ini!” Mas Ilman mengencangkan pelukannya.

“Iya Mas, ga apa. Terima kasih ya Mas! Aku pikir Mas gak ingat.”

“Nggak dong Sayang, Mas tak mungkin lupa.”

“Makasih ya, Mas!”

“Sama-sama.”

Mas Ilman mengurai pelukan. “Aku punya ini buat kamu,” ujarnya sembari memberikan kotak beludru merah berbentuk hati.

“Aku buka ya, Mas?”

“Iya boleh.”

“Ya ampun, cantik sekali, Mas!” seruku saat kulihat tampak satu set perhiasan di dalamnya.

“Kamu suka?”

“Iya. Terima kasih ya, Mas.”

“Sama-sama, Sayang.”

Ingin rasanya aku kembali memeluk Mas Ilman, tapi malu karena kini ada Ibu dan Aulia. Kini pengunjung kafe pun tampak semakin banyak. Tak lupa Ibu dan Aulia pun memberikan hadiah untuk kami, satu pasang jam tangan dari Ibu dan baju couple dari Aulia yang merupakan rancangannya sendiri.

Aku benar-benar bahagia hari ini. Jika biasanya hanya merayakan cinta bersama Mas Ilman saja. Kini, aku bisa merayakan cinta dengan ibu mertua yang sengaja datang dari luar kota dan juga sahabat tersayang. Benar-benar perayaan yang mengesankan. Rasanya aku tak akan pernah melupan ini sampai kapan pun.

Tamat


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di