CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / Buku /
Yang Paling
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e799dcd10d2950985124f11/yang-paling

Yang Paling

Cahaya sore mulai mewarnai sebagian dari langit. Dari jendela kamarnya, cahaya jingga itu menerpa wajah yang tidak jua merubah rautnya. Masih saja memandang kosong udara, tenggelam dalam lamunan dengan siku menopang badan yang tersimpuh dalam duduknya.

"Hery, Sudahlah?"

"Aku hanya menikmati waktu bangun tidurku sebentar Nit." Dia tersenyum.

Alis matanya yang menurun, seakan menunjukan senyuman itu untuk meyakinkanku kalau dia baik-baik saja.

"Kamu tadi siang menyuruhku kerumahmu hanya untuk menbangunkanmu atau, menunggu bendungan itu pecah membanjiri pipimu." tukasku dengan tawa.
Dia melihatku dan tersenyum masih dengan tatapan yang sayu.

Situasi hening kembali, cukup lama dia terdiam, Akupun sungkan memulai kata. mungkin bedanya, Aku memperhatikan dia dan dia memikirkan seseorang wanita yang dulu selalu di banggakanya.

"Hery, Kau tidak harus terus menerus seperti ini. dia mungkin memliki alasan tersendiri yang tidak harus kamu ketahui, pasti dia sudah berfikir ribuan kali untuk membuat keputusan itu."

"Bukankan cinta itu berdua. bila benar seperti yang kau ucapkan apa dia juga tidak memikirkan imbasnya kepadaku."

"Hanya dia yang tahu, Karena cara berfikir kami itu unik."
Kataku sembari menduduki kursi di depannya.

"Apa semua wanita seperti itu?"

"Tergantung," Jawabku mengasal

"Nita ! Itu tidak menjawab pertanyaanku." Sahutnya.

"Jangan karena satu wanita, Kamu lantas menilai kami semua sama."

"Aku tidak mengerti." Ujarnya tampak putus asa.

"Her, Kami itu istimewa. Tidak akan ada yang kamu mengerti meskipun kamu mencobanya, Itu hanya akan membuatmu semakin tidak bisa memahami."

"Iya, Dia Istimewa?" sahutnya.

"iya"

"Semua di ucapnya begitu saja" sahutnya kembali

Belum sempat aku berkata, dia kembali menuruskan ucapannya.

"Semua tentang Dewi layaknya racun berasa madu Nit. Senyumnya yang selalu membuatku gila ketika memikirkannya, bagaimana dia dulu memperhatikanku ketika aku bercerita, seakan dia menganggap kata-kataku layaknya perhiasan di telinganya, tentang peluknya yang bak air penyejuk katika amarah membakarku dan, dia dulu yang selalu mengatakan cinta, merasa ia yakin bahwa rasa yang di milikinya akan selalu ada. Namun, Seketika dia menjadi sosok yang tidak lagi ku kenal. Tanpa mengerti apa alasannya dia menyudahi kisah, yang mana dulu dia do'akan keabadiannya dalam sujudnya" Perkataanya semakin membuatku kaku dalam diam. Ku perhatikan rautnya yang berbinar-binar menceritakan tentang sosok kecintaannya dulu.

"Tanpa air mata dia berlalu, seakan baginya, selama ini kisah kita bukan lah apa-apa, Aku tidak lagi mengerti tentangnya. Bahkan, Aku tidak mengerti lagi tentang diriku sendiri."
Sorot mata yang awalnya berbinar, hingga berakhir dengan pejaman matanya.

"Tapi kamu masih akan tetap bisa hidup, meskipun tanpa dia Her" Ujarku.

"Iya, Aku masih tetap hidup. Hidup dalam tanda tanya yang berlari-lari di kepalaku, mencoba mencari di mana letak salahku dengan cara menyiksa."
lirih suara itu ikut menyiksaku. jarinya beralih yang memijit pelipisnya.
"Apakah selama ini sia-sia?" Tatapan mata sayu yang terlihat bingung itu semakin membuatku tidak mengerti harus berkata apa.

"Tidak ada yang salah dari perasaanmu dan tidak ada yang sia-sia dari hubungan kalian" aku menunduk, rasanya seperti merasakan apa yang dia rasakan. Dia bersama dengan wanita itu selama 7 tahun lamanya dan berpisah tanpa alasan itu bukanlah perkara mudah, untuk di hadapinya.

"Ternyata percuma Nit. Aku fikir ini akan melegakan, setiap kata yang keluar dari mulukku hanya membuat fikiranku semakin terpuruk. Tidak ada yang akan mengerti, begitu pun kau" Dia menghela nafas, menyandarkan punggung. kepala menggatung pada kursi menatap langit-langit kamarnya.

"Iya benar, aku tidak mengerti." Sahutku. Amarah ikut memenuhiku.

Dia telihat kembali menghela nafasnya, dan memejamkan mata. kita kembali terdiam, kini semakin aku memperhatikannya semakin amarahku ikut memuncak kala melihat wajah itu seakan yang memudarkan harap.

"Apakah kamu akan terus seperti ini?.Meratapi semuanya dan selalu terbenam dalam renungmu, membutakan keramaian yang kau anggap sepi bagi fikiranmu itu. Kamu hanya semakin terpuruk tanpa mencoba untuk bangkit Her, kamu hanya menikmati keadaan dengan mengais kembali semua luka yang belum kering. Hery, Kamu hanya merasa yang paling." Ujarku.

Akupun memalingkan wajah darinya, memandang keluar jendela yang terbuka di kamarnya,
berharap suasana membingungkan ini mereda.

"Kau itu mengerti apa Nit? kau yang selalu bahagia dengan kesendirianmu, tidak pernah merasakan ikatan hati dan semudah itu kau menudingku tanpa pernah merasakan yang sama Nit"

kata-katanya yang dari mulutnya berasamaan dengan amarah itu tidak lagi ku hiraukan. Dari luar jendela Suara dedaunan yang di terpa angin dari itu seakan ikut menerbangkan sadarku.

"Iya, kamu benar Her. Aku tidak mengerti apa-apa. Akupun terbiasa sendiri dan merasakan semuanya sendiri. Tapi, Aku selalu merasa takut, apabila fikiranku tak mampu lagi menampung semua itu. Akupun sering membunuh Egoku hanya demi rasa yang tak kunjung berteduh dari risau. Padahal dia begitu dekat.
Aku juga tidak mengerti bagaimana rasanya saling mengikat hati atas dasar cinta. Aku hanya mengikat perasaanku sendiri, karena dulu dia yang ku cinta telah menemukan kecintaanya. Aku ingat, saat itu aku berusaha keras menjaga kewarasanku yang tiba-tiba di hantam pilu, ketika dia bercerita tentang wanita yang di cintainya juga memilik perasaan yang sama.
setiap hari aku berusaha terihat tersenyum di depannya, Aku layaknya koin yang memiliki dua sisi berbeda hanya untuk semuanya telihat baik-baik saja seperti sebelumnya. Apa kau tahu Her? Aku selalu menganggap diriku sendiri sudah gila. Aku selalu menujukan raut wajah yang tidak sesuai dengan apa yang ku rasa. melihat dia tersenyum sungguh melegakan, namun di lain sisi itu juga sangat menyakitkan lantaran bukan aku alasannya. Andai saja namaku yang dia sebut ketika ada yang bertanya siapa wanita yang di cintainya. haha, sudah pasti itu tidak mungkinkan. dia hanya menggagapku tidak lebih dari sahabat bahkan mungkin menganggapku layaknya seorang Adik perempuannya. Tapi entah kenapa, saat ini aku tidak tahu harus menunjukan ekspresi seperti apa di depannya, mungkin semua topengku sudah terbakar di hanguskan ego. Aku merasa waktu dan kenyataan sedang mempermainkanku, Lelaki itu saat ini merasa seolah dia yang paling terluka, rasanya aku ingin menamparnya Her, dan bilang di dunia ini bukan cuma dia yang memiliki hati"

Aku beranjak dari duduku, mencoba tersenyum menahaan semuanya agar tidak keluar di depannya, segera aku mengabil tas selempang diatas kasur yang sewaktu datang kulemparkan untuk membangunkannya.

"Hari sudah gelap, Aku pulang dulu Her."

°•°•°•°•°
Diubah oleh vaatova
jadi kaya story ya kak? kenapa gak si sfth aja?
Quote:


Nanti malah membosankan takutnya emoticon-Mewek
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Loh pan kalo cerita entuh dikumpulkan satu trid si sfth sampai di gembok baruan bikin lagian
Quote:


haha maaf. masih pengguna baru jadi belum terlalu mengerti emoticon-Ngakak
Quote:


Ya sudah tidak apa-apa. Sebaiknya cerita jadikan satu di sfth. Begitu aturannya kak
Quote:



niatnya bikin kek Short story gitu.
Quote:


Iya di sfth bisa. Nah kotak komentarnya buay story'berikut sampai kotak komen habis digembok admin


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di