CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e78449868cc951ce206ed61/tumbal-kesembilan

Tumbal Kesembilan

Tumbal Kesembilan

drdl2.xyz

Mata lamur wanita tua itu menatap anak gadis di depannya dengan raut khawatir. Ia menolak menyimpankan ransel anaknya yang baru saja tiba. Bahkan sedikit memaksa meminta si gadis segera kembali saja ke kota.

“Bukannya Mak ndak suka kamu pulang, Nilam. Cuma kampung ini lagi ndak aman untukmu,” katanya setengah bergumam, seolah takut akan ada yang mendengar ucapannya.

Belum setengah jam Nilam tiba, mereka sudah berdebat di ruang tamu.

“Nilam baru aja datang, masa disuruh balik lagi. Perjalanan Nilam ke sini setengah hari, Mak. Capek.”

Gadis itu terlihat sedikit kesal berjalan masuk ke bilik—kamar yang telah lama ia tinggalkan.
Badan direbahkan ke ranjang kayu yang mengeluarkan suara berderit. Kaki ia naikkan ke penghalang ujung ranjang.

Cara itu cukup membuatnya bisa mengistirahatkan badan yang lelah, duduk selama delapan jam di bus tadi malam. Lanjut naik ojek setengah jam baru ia bisa tiba di kampung kelahirannya ini.

“Minum dulu tehnya, mumpung hangat.” Ibunya masuk bilik, membawakan segelas besar teh, disodorkan langsung ke tangan Nilam.

Gadis dua puluh empat tahun itu bangun, meraih gelas langsung meminumnya tandas.

“Mak kenapa, sih, khawatir banget Nilam pulang. Apa nggak kangen sama anak?” tanyanya dengan bibir maju.

“Bukan begitu, nanti kamu juga paham apa maksud Mak. Pokoknya hari ini juga kamu harus balik.”

Wajah pias dari wanita berkeriput itu semakin tampak, saat mereka duduk bersisian. Mata yang sudah turun kelopaknya itu terharu melihat anak gadisnya ini tumbuh begitu cantik. Kulitnya yang dulu legam akibat bermain di bawah terik  matahari sekarang putih mulus, pipinya pun bening mengkilap.

Telah lima tahun tak bersua, setelah lulus sekolah gadis pandai ini merantau ke Jakarta. Namun di antara rasa bangga itu menumbuh kekhawatiran yang sangat kini di hati Mak.

“Mak ini aneh. Nilam sudah lima tahun nggak pulang, pingin liat kondisi Mak di sini, malah disuruh balik. Pokoknya Nilam balik setelah keliling-keliling, mengenang tempat Nilam dan kawan-kawan bermain dulu, Mak. Sudah terlanjur ambil cuti seminggu,” kata gadis bersweater rajut merah muda itu panjang-lebar sembari turun dari dipan.

“Nilam mau ke rumah Suci,” katanya hendak berjalan ke luar kamar menuju ruang depan.

“Jangan!” bentak Mak sedikit keras berusaha menghalangi Nilam yang akan membuka pintu.

Mata berpayung bulu lentik milik Nilam memicing penuh tanya. Ia heran, tadi begitu melihatnya datang ibunya ini cepat menarik tangannya masuk. Kemudian juga disuruh cepat-cepat balik ke kota.

Sekarang keluar rumah pun dilarang.

Dua tangan Nilam menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.

“Ih, trus Nilam harus gimana, Mak? Bikin bingung aja. Nilam mau ke tempat Suci, dia pasti kaget liat Nilam sekarang," ucapnya seraya berbalik ke kursi kayu di ruang tamu, duduk sambil melipat kaki.

Mak mengunci kancing atas pintu. Setelah sebelumnya melirik ke kaca luar, lalu Mak melangkah cepat ke kamarnya, segera kembali membawa baju lebar berlengan panjang, warnanya kubas  dan rombeng—baju yang biasa dipakai ke ladang.

“Kalau keluar pakai ini.”

Gadis bertahi lalat di batang hidung ini kembali melebarkan mata, bibir penuhnya menganga sempurna. Belum juga tangannya menyentuh baju itu, Nilam tertawa lebar sampai memegangi perut yang terasa seperti digelitik.

“Mak ini, ada-ada aja. Aneh, tau. Anak udah cantik gini mau disuruh tampil jelek, gimana, sih?” ucapnya di sela tawa.

“Sudah nurut aja, pokoknya baju ini jangan dilepas sampai kamu balik ke rumah!”

Meski merasa lucu, Nilam mengikuti saja kemauan ibunya. Raut wanita yang melahirkannya ini tampak sungguh-sungguh khawatir.

'Yang penting bisa jalan-jalan keliling kampung,' batinnya.

Nilam melapisi pakaian yang dikenakan dengan baju longgar bau deterjen itu.
Sebelum ia keluar, Mak juga menggosok arang ke pipi dan dahinya. Saat Nilam memprotes, wanita tua itu memukul tangannya.

Jadilah Nilam pasrah, sambil membayangkan apa bentuk penampilannya kini.

Ia gadis pecinta semua hal berbau Negeri Ginseng. Dari ujung kaki hingga kepala sudah persis si idolanya,  Bae Suzy. Aktris serba bisa yang menginspirasinya sampai bisa seperti sekarang.
Tumbal Kesembilan
Pinterest

Sepanjang menyusuri jalan Nilam makin risih dengan penampilan anehnya, tak lama kemudian ia melepas baju ‘kerja’ibunya itu di tengah jalan. Sebelum kain itu dilempar ke semak, ia menggosokkan wajahnya sampai dirasa bersih.

Jalan setapak yang sepi, membuat gadis itu lega tak ada yang sempat melihat penampilannya tadi. Kalau tidak, ia pasti akan malu dikira orang hilang akal.

Langkah Nilam percepat ke arah selatan, dua ratus meter ke sana ada rumah yang mau dituju sebelum ke tempat Suci.

Setelah melewati beberapa rumah dan tanah kosong pandangannya menyapu rumah sederhana yang terlihat sepi, pintu dan jendelanya tertutup.

“Neni,” panggilnya pada teman yang dulu tinggal di rumah itu.

Tak ada jawaban.

Nilam pikir rumah beratap genteng tua itu tampak tak terurus sudah kosong, di sekitar juga sepi. Ia kembali melanjutkan langkah menuju rumah Suci, teman akrabnya sejak kecil itu letaknya sedikit ke ujung kampung.

Kampung ini hanya dihuni sekitar lima puluhan rumah. Jarak satu dengan yang lain cukup jauh. Masih banyak lahan kosong berumput tinggi, ditanami pohon kelapa atau buah-buahan oleh warga.

Banyak warga berpindah ke kota atau kampung lain sebab merasa terisolasi di sini. Kampung tanpa listrik, apalagi sinyal telepon. Jalan menujunya juga setapak, berumput setinggi mata kaki. Melewati hutan panjang yang sebagiannya becek dan licin saat hujan.

Nilam melewati sebuah bangunan panjang dari kayu, tujuh ruangnya terkunci gembok coklat. Cat putih kapur di dindingnya mengelupas sana-sini, rumput di lapangan itu tumbuh rumput setinggi betis anak-anak. Itu bangunan sekolah dasarnya dulu.

Hari minggu begini tak tampak anak-anak yang dulu biasa memakai halamannya sebagai tempat bermain.

Sekolah tua itu satu-satunya tempat pendidikan yang dimiliki kampung terpencil ini.

Seingat Nilam, saat masa SD hanya dua guru yang bertugas mengajar, jumlah keseluruhan siswanya kala itu tak sampai dua puluh orang. Mereka tidak punya kepastian jam disiplin, terkadang masuk jam tujuh kemudian pulang jam sembilan pagi.

Setelah belajar sebentar, mereka akan menghabiskan waktu dengan bermain.

Fasilitasnya belum diakui, hingga saat ujian kelulusan siswanya akan bergabung dengan sekolah di kecamatan yang jaraknya ditempuh dua jam perjalanan.

Setelah lulus, Nilam dan beberapa teman melanjutkan SMP dan SMA di kecamatan. Tinggal di rumah saudara sampai tamat. Saat itu sebulan sekali ia pulang menengok Mak.

Kali ini, Nilam berharap ibunya mau tinggal bersama di kota, meski di sana ia masih mengontrak.

Awal mengadu nasib ke ibu kota, Nilam bekerja sebagai tukang keramas di sebuah salon. Suatu saat seorang teman membawanya bergabung di Komunitas Pecinta Korea. Setelah belajar banyak bahasa dan budaya negeri ginseng itu, gadis pemberani ini akhirnya bisa bekerja di sebuah K-Food sampai sekarang.

Beberapa tahun hidup di kota, mampu mengubah si gadis manis yang dulu dekil berpenampilan bak aktris.

Rambut coklat Nilam yang licin sesekali menutupi mata, karena tersibak angin. Hari yang tadi terlihat akan cerah berubah mendung dan berhawa dingin. Ia melirik jam di tangan kirinya, masih menunjuk angka sepuluh pagi.

“Suci,” pekiknya girang begitu tiba di rumah yang dituju.

Seorang perempuan muda berdaster  tengah menyapu selasar, sontak melongo heran. Melihat kehadiran Nilam, ia merasa seperti didatangi bidadari.

“Kok, heran gitu, sih? Ini Nilam. Nilam Kumalasari,” ujar Nilam menjelaskan. Begitu di dekat Suci ia langsung merangkul teman itu.

“Nilam?” Suci bergumam datar, Nilam melonggarkan pelukan. Ditatapnya lekat wajah Suci yang tampak menua. Mungkin sebab bercak hitam dan kerut di bawah matanya mulai muncul.

“Iya, aku Nilam, Ci.” Nilam memegang kedua pundaknya, menatap saksama mata Suci yang terlihat berkaca-kaca.

“Suci?” Setengah heran Nilam melihat temannya itu langsung meletakkan sapu dan melangkah ke dalam rumah.

Ia mengikuti dari belakang.

Langkah kaku Suci terhenti di ruang tamu, wajahnya murung tanpa senyum saat duduk di kursi. Nilam ikut duduk di sampingnya, menatap Suci penuh tanya.

“Kenapa kamu pulang?”

Mendengar pertanyaan itu, sontak Nilam menyembur tawa.

“Kok, tanyanya aneh, sih? Mamakku, kan, ada di sini. Masa nggak boleh pulang. Emang kenapa, sih, Ci? Mak tadi juga bersikap aneh. Sama kayak kamu.”

Suci langsung menghadapkan wajah ke arah Nilam, gadis bermata bulat itu ditatapnya saksama.

 “Kamu harus cepat pergi, Ni. Sekarang kampung kita nggak seperti dulu. Sudah nggak aman,” ucapnya terlihat ketakutan.

Nilam terpaku sejenak.

“Ada apa?” Nilam merasa ada yang tak beres melihat reaksi Suci.

Suci masih menatapnya lurus. “Semua gadis yang diinginkannya sulit lepas. Mereka pasti menghilang. Aku nggak mau kamu jadi korban,” ceracaunya dengan bibir bergetar.

“Siapa? Apa maksudnya, Ci? Aku nggak paham.” Nilam terus bertanya bersamaan dengan jantungnya mulai berdebar.

“Ki Arya, Ki Arya, Ni.” Suci berdiri dari tempat duduknya. “Kamu cepat pulang. Ikuti apa pun kata Mak, ya.”

Tangan perempuan berparas manis ini dingin dan gemetar, memegang punggung tangan Nilam yang ikut berdiri.

Nilam menggigit bibir berusaha menenangkan degup jantung yang makin cepat. Meski tak paham sepenuhnya ucapan Suci tadi, Nilam bisa menangkap adanya bahaya yang mengancamnya.

Teringat pula wajah lelaki berambut panjang, bermata besar pemilik nama yang disebut Suci tadi. Bulu kuduknya seketika meremang. Sejak masa SD ia sangat takut dengan lelaki yang dikenal memiliki keahlian supranatural itu.

Mendengar namanya saja mampu membuat tubuh melemah, karena takut.

Tumbal Kesembilan
wordpress.com

Nilam buru-buru pamit, setengah berlari kembali menyusuri jalan setapak ke arah rumahnya. Sesampai di tempat baju Mak dibuang tadi, ia melihat pakaian bermotif kembang itu masih teronggok di belukar.

Ia berusaha mengambil lagi pakaian itu. Perlahan tangannya menggapai, sedikit sulit sebab terhalang rumput tinggi.

Hup! Dapat. Segera Nilam pasang.

 Kemudian ia membungkuk ke tepi jalan, mengorek tanah kecoklatan akan diusapkan ke wajah, seperti yang ibunya lakukan tadi.

Saat akan berdiri, matanya tertumbuk pada sepasang sandal kulit yang dikenakan seseorang bertelapak kaki lebar, kuku-kukunya panjang dan hitam.

Nilam mendongak sambil berdiri perlahan.

“Sedang apa, Nak?” Suara berat itu makin memacu cepat degup jantung Nilam.

Matanya seketika membelalak begitu melihat wajah yang sedang berdiri di depannya. Lelaki berpakaian serba hitam, berkumis tebal. Matanya yang besar itu menyipit ke arahnya.

Nilam cepat-cepat menunduk hendak berlalu. Namun terhenti saat tangan lelaki itu menahan lengannya.

Di saat bersamaan langit makin gelap, muncul petir diikuti guntur setelahnya.

Nilam tak bisa bergerak, tangan itu begitu kuat menahan.

“Mau ke mana?”

“Aku mau pulang,” jawab Nilam tanpa berani memandang.

“Merdu sekali suaramu, Cantik,” goda si lelaki tua setengah bergumam.

Seketika hujan turun deras. Nilam meronta meminta dilepaskan, tapi lelaki paruh baya yang ia perkirakan Ki Arya itu terus berusaha menahannya.

Nilam berusaha sekuat tenaga, jalan ini sepi tak ada yang bisa membantunya. Beruntungnya, tak lama kemudian cengkeraman lelaki itu terlepas, tak membuang kesempatan Nilam segera mengambil langkah seribu.

Ketakutan sangat membawanya tiba di selasar dengan badan gemetar dan basah kuyup. Nilam hendak mengetuk, bertepatan saat Mak membuka pintu.

Nilam aneh saat melihat ibunya wanita tua langsung terpaku, seolah tak bernapas mengarah pandang pada sesuatu di belakang Nilam.

Dari sudut mata, Nilam melihat sosok bayangan hitam berdiri menjejeri tubuhnya.

“Jadi ini anakmu, Mak Lumpit?” Suara berat itu keluar dari seseorang yang sudah berdiri tepat di sampingnya.

Dalam sekejap tubuh dan tulang Nilam melemas. Tanpa berani memandang, raganya ikut  menegang, membelalak mata menatap Mak yang belum juga bergerak.

Bersambung
 
 
*Ini cerita novel pertama yang masih buanyak belajar, GanSis emoticon-Malu (S)emoticon-Wowcantik


Part 2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kardison dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh lin680
Halaman 1 dari 2
Kenalan sama Nilam, yuk!
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Pertama dan masih harus banyak revisi ....
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Harus banyak belajar lagi. Met baca ....
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:

Quote:

Quote:


Kebiasaanemoticon-nyantai
Suka ngeborong pejwan

Ini cerpen apa cerbung? Kalo mo aman cerpen kudu disatuin dalam cerpen yang sudah ada, jadinya kumpulan cerpen.
Kalo cerbung bisalah buat trit seperti ini, karena akan memakan banyak episode cerita.

emoticon-Jempol

Salan buat kamu eeh Nilamemoticon-pencet
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
pejwan alias page one sis...btw nitip salam jg dahemoticon-Malumalu
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
hoooo, tak kiro bakal dowo ceritane emoticon-Bingung
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:

Tuh udah ada yang jelasin juga,
Okelah ditunggu kisah Nilam selanjutnyaemoticon-pencet
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Oke, ditungguemoticon-nyantai
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
jejak dulu lah.. bakalan seru nih kayanya ... gimana nasib nya si Nilam ..
:nulisah :nyantai
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:

Ya okey jugaemoticon-nyantai
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Quote:


emoticon-Recommended Selleremoticon-Recommended Seller sekalian nitip sendal swallow jgn mpe ketuker sisemoticon-Ngakak
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
bagus nih... di tunggu up date nya
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ditunggu up nya ya ..
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ditunggu up nya gan
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Gocek cukup sekali, langsung disundul aja...

up up
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Jangan lama donk sist soalny lama kentang bnget saya nungguemoticon-Cape deeehh
profile-picture
lin680 memberi reputasi
lanjutkan.....
menarik critanya
profile-picture
lin680 memberi reputasi
Tumbal Kesembilan
wowkeren

Wanita tua itu masih tak percaya dengan pandangan di depan mata ini. Anak gadisnya pulang, bersisian dengan lelaki itu! Ia merasa akan mati seketika di tempat.

Saat matanya berkedip, kesadaran Mak tersentak melihat Nilam di depannya juga terpaku, pasi. Tangan gadis yang basah kuyup itu segera ditariknya masuk. Diperintah segera menjauh ke belakang.
Nilam menurut, ia berlari ke dapur.

Mak kembali melempar pandang pada lelaki berpakaian serba hitam, yang sudah berdiri tepat di garis pintu. Tangannya merentang, memegangi sisi kusen. Sebagian rambut panjangnya menutupi mata yang menatap Mak Lumpit tajam.

Suara hujan deras menerpa atap, menutupi degupan jantung wanita ini yang berpacu cepat. Setelah mengatur napas Mak memberanikan diri bicara.

"Tolong jangan ganggu," ucap Mak sambil menangkup tangan yang bergetar di dada.

Suara kecil tertahan Mak tak mungkin terdengar, tapi rautnya penuh permohonan terbaca jelas. Lelaki kurus tinggi itu menyengir, perlihatkan gigi coklatnya yang tak rata. Ia menyibak rambut dari wajah, mengarahkan mata ke belakang—seakan mencari keberadaan Nilam. Sesaat kemudian berbalik pergi tanpa kata.

Mak Lumpit yang sudah hampir kehilangan tenaga segera menutup pintu. Tangannya beberapa kali salah memasukkan kancing kunci ke lubangnya, sebab gemetar yang sangat. Tak percaya pada apa yang ia khawatirkan, telah benar-benar terjadi.

Badan kurus itu terduduk lemah di kursi. Tatapan kosong dan dadanya naik-turun.

Saat suara hujan mulai berkurang, Nilam muncul sambil berjalan menjingkit, bajunya yang basah ditutupi handuk lebar milik Mak.
Sebelum ke ruang depan ia celingukan, menyapu pandang ke seluruh ruang tamu, setelah merasa aman ia mendekati Mak.

"Mak," ucapnya sambil menepuk bahu kurus itu. Mak seketika terloncat berdiri.

"Ya, Gusti. Nilam!" pekiknya sambil melotot garang.

Gadis itu terdiam, sedikit takut melihat Mak begitu marah.

"Lihat! Apa yang Mak khawatirkan ini terjadi, Nilam ...," ratap tiba-tiba keluar dari bibir keriput itu.

Ia mengangkat ransel hitam anaknya yang masih tergeletak di sudut ruang.

"Cepat ganti pakaian, habis itu makan. Kamu harus balik sekarang juga, Mak akan ke rumah Supri untuk mengantar kamu."

"Iya, Mak."

Nilam menyeret ransel itu ke belakang. Meski batinnya masih menyimpan banyak tanya, ia mengikuti saja apa yang ibunya perintah.

***

Langkah cepat Mak Lumpit menyusuri jalan becek, beberapa bagian yang tergenang air ia lompati. Kepalanya penuh dengan pikiran, menemukan cara agar Nilam segera pergi dan terlepas dari manusia paling menakutkan di dukuh ini.

Terlihat sekali tatapan lelaki itu tadi, menyiratkan ketertarikan kuat pada Nilam. Bulu kuduk Mak merinding. Ia merasa bersalah tak langsung menjelaskan semua pada Nilam sejak awal, semua terjadi begitu cepat. Dan, momok bagi pemilik anak gadis membahas orang itu di dalam rumahnya.

Setiba di rumah kecil yang berdampingan dengan lima pintu kandang ayam di sebelahnya, Mak Lumpit menggedor pintu keras. Ia tahu Supri pasti masih tidur hingga hari sesiang ini.

Gedoran kelima, gagang besi yang menempel di pintu kayu bergerak. Sebuah wajah gelap, bermata sembab dengan rambut acak-acakkan muncul.

"Eh, Mak," katanya mengucek mata yang memerah.

Tanpa bicara, tubuh Mak menyelip masuk rumah, melewati lelaki berperawakan kecil yang menatapnya menganga.

"Supri, tolong, Mamak. Nilam pulang dan ketemu-" Mak mengatur napas. "Orang itu ke rumah, tadi!"

Kalimat Mak terbata-bata menceritakan kedatangan Nilam, hingga munculnya lelaki itu di samping Nilam saat hujan deras tadi.

Supri menganga mendengar penuturan Mak. Ia tahu lelaki yang Mak maksud adalah orang yang paling ditakuti akhir-akhir ini, semenjak delapan gadis raib tanpa diketahui rimbanya hingga sekarang. Semua warga mencurigai Ki Arya, tapi sayangnya tak ada bukti. Lebih lagi, semua tertunduk ketakutan jika menghadapi lelaki yang terkenal berilmu gaib itu.

Di akhir kalimat, wanita yang dikenalnya sejak kecil itu meminta ia segera mengantarkan Nilam keluar kampung, sekarang.

"Cepat Supri! Tolongin anak Mak!"

Tubuh lelaki berbaju kaos gober itu didorong Mak agar cepat mengambil kunci motor dan helm.

"Supri baru bangun, Mak. Mau mandi dulu, makan juga belum." Tangannya menggaruk-garuk dada dan leher.

"Nanti Mak bekalin makanan dari rumah, pokoknya berangkat sekarang!"

Supri, pemuda yang masih melajang di usia tiga puluh ini tak bisa menolak. Sempatkan mencuci muka sebentar, ia membonceng Mak, sekali dua ia menguap—efek masih mengantuk. Wanita tua di belakangnya itu beberapa kali memukul punggung Supri keras. Cukup membuat Supri membuka mata lebar, sebab panas merambat—bekas tangan kasar Mak Lumpit.

Bergegas mereka masuk halaman.

Di dalam rumah Nilam sudah mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih, berpadu celana panjang skinny biru tua, penampilan sederhana, tapi membuatnya terlihat sempurna.

Tumbal Kesembilan
pinterest.de

Mak juga Supri sesaat terpana. Senyum bibir berwarna bata dari gadis berambut basah itu merekah. Sekali lagi Supri menerima pukulan keras yang Mak hadiahkan ke lengannya. Ibu gadis itu kesal melihat Supri hampir meneteskan liur akibat menganga lebar memandangi Nilam.

"Supri, cepat!" bentak wanita itu membuat si lajang tertawa malu.

"Sudah makan?" tanya Mak pada Nilam.

"Sedikit, Mak. Nggak selera."

Wanita itu tergopoh ke dapur, menyendok nasi dan lauk ke dalam mangkuk kaca, membungkus cepat dengan plastik kresek hitam.

"Ini untuk makannya nanti. Jangan berhenti sebelum keluar perbatasan," pesan Mak menyurung bungkusan itu pada Supri. Pria itu menerima dengan wajah semringah, ada bau ikan goreng di depan hidungnya.

Nilam sudah bersiap, menggendong ransel dan menenteng sepatu yang akan dipakai.

Sebelum keluar rumah, ia meraih tangan wanita yang melahirkannya itu, mencium takzim.

Batinnya nyeri, baru saja pulang melihat Mak, tiba-tiba harus kembali lagi jauh. Ia memeluk Mak sambil terisak.

Mak melepas pelukan. Mengusap air mata di pipi bening itu. Jemari keriput dengan beberapa uratnya muncul itu bergetar, tangannya berhenti saat menangkup pipi Nilam. Ditatapnya mata bola itu lekat.

"Ingat pesan Mak, selama kamu belum keluar dari kampung ini, JANGAN SESEKALI MENYEBUT NAMA ITU. Semua penduduk percaya, sedikit saja disebut hidungnya akan segera mengendus. Jika ada bau perawan, orang itu bisa segera muncul. Akan bahaya kalau ia terlanjur suka, Nilam!"

Mak juga mengatakan tentang delapan gadis desa yang menghilang. Kecurigaan semua menuju pada lelaki itu, hanya takut untuk menghadapinya. Ini pertama dan terakhir Mak membahas orang itu di dalam rumahnya, sebab ia pikir Nilam juga akan segera pergi.

Melihat Nilam mengangguk patuh wanita itu mengakhiri pesan dengan mengusap kepala Nilam lembut.

"Ayo, Mak ikut Nilam ke kota," pintanya sambil terisak, kembali memeluk wanita tercinta.

"Mak suka di sini, bisa ke ladang setiap hari membuat Mak terasa sehat. Kamu berangkat saja. Mak mungkin akan menyusulmu suatu saat."

Perpisahan penuh haru dari ibu dan anak itu membuat Supri ikut meneteskan air mata. Ia yatim-piatu sejak remaja, sudah terlupa rasa tulusnya cinta orang tua.

"Cepat pergi." Menepuk pundak anak gadisnya dengan senyum kecil sebelum Nilam naik ke boncengan.

"Mak, sehat-sehat, ya. Doakan Nilam sehat bahagia," ucap Nilam sambil melambaikan tangan.

Mata lamurnya berkaca, kemudian bulir hangat itu luruh semakin deras hingga bahunya berguncang.

'Dia satu-satunya putriku, ya, Gusti. Lindungi dan selamatkan Nilamku ...,' pinta batinnya menjerit pilu.

***

Motor yang dikemudikan Supri masih separuh jalan di area kampung, melewati hutan jati berpohon tinggi menjulang.

Kampung ini dijuluki Dukuh Gelap, sebab letaknya terisolasi, tanpa aliran listrik dan sinyal telekomunikasi. Jika hendak kontak dengan keluarga lain di kota, mereka akan ke kecamatan, jaraknya jauh juga melewati jalan setapak yang melelahkan.

Hawa dingin setelah hujan tadi membuat Nilam memeluk tangan, sesekali berpegang pada besi motor yang oleng saat melewati jalan licin.

Selama perjalanan, Nilam memilih diam walaupun Supri banyak bertanya, hanya dijawabnya singkat.

Kepalanya berkecamuk rasa, perang antara pesan Mak tadi dengan dorongan kata nama lelaki itu berulang-ulang tersebut di kepala—seperti terus membisiki.

Nilam berusaha mengalihkan dengan menyenandung lagu beat K-Pop kesukaan.

"Dek Nilam kerja apa di kota?" Supri kembali bertanya. Sejak tadi ia sengaja memperlambat laju motor, demi bisa mengobrol panjang-lebar dengan Nilam.

'Kapan lagi mendapat kesempatan emas. Berdekatan begini dengan gadis yang wajahnya persis poster cewek terpajang di kamarku. Cantik dan menggoda,' pikirnya dengan jantung menari-nari.

"Di resto," jawab Nilam seadanya, di sela-sela bibirnya bersenandung pelan.

Belum tuntas ia senandungkan lagu 'Best of Me' milik BTS, nama lelaki itu makin mendesak ke ubun-ubun, mendominasi isi pikirannya.

Keseimbangan Nilam hampir hilang saat menutup telinga dan mata, mengalihkan apa yang diucapkan pikirannya. Telapak tangan ia tekan ke sisi kepala sekuat mungkin.

"KI ARYA DIRAJA ...."

Sebuah nama terlepas keluar begitu saja dari bibirnya. Nilam menutup mulut dengan telapak tangan. Detak jantungnya berpacu cepat. Rasa takutnya terbit, membayangkan apa yang terjadi setelah ini.

"Dek Nilam di sana tinggal di mana?"

Lelaki beraroma masam di depannya ini sama sekali tak menyadari. Ia masih saja bertanya, mengorek tentang si gadis yang membuat irama jantungnya berlari.

Nilam tak menjawab. Tubuhnya semakin terasa kaku, mendingin. Tak sabar ia ingin cepat keluar di gapura perbatasan kampung.

Tak sempat menegur Supri agar cepat, tubuhnya makin terasa dingin menusuk tulang. Ia memeluk tangan, berusaha menangkup bibir yang bergetar. Terdengar suara giginya gemeretuk.

Saat melempar pandang ke arah depan ia melihat tubuh seorang lelaki berpakaian serba hitam merentangkan tangan di tengah jalan.

"Whuaaa. Berhenti, Mas Supri!" pekiknya keras sambil meloncat dari motor ke semak kiri jalan.

Motor bebek keluaran 2015 itu mati seketika saat jatuh bersama Supri ke sisi jalan.

"Kenapa, Dek. Itu bahaya!" tegurnya sedikit kesal pada Nilam. Ia melihat gadis itu mengaduh kesakitan. Wajahnya pasi, terduduk di tanah sambil mengusap lengan yang mati rasa.

"Itu tadi ada—" Ucapannya terhenti menunjuk jalan depan yang sepi. Tak tampak orang yang ia lihat tadi di sana.

"Sudah, jangan ngomong aneh-aneh. Ini hutan, pamali." Supri mengingatkan.

Sempoyongan ia berdiri, mengangkat motor itu hingga tegak. Lelaki itu duduk di joknya, menyalakan starter, tapi tak bisa. Dicobanya menghidupkan pakai engkol, tetap gagal. Motor itu bergeming.

Mulai kelelahan dan putus asa, ia mengambil plastik pemberian Mak Lumpit tadi, melahapnya rakus. Isi mangkuk itu tandas seketika.

Mega gelap masih menggantung tebal di angkasa. Gerimis kecil turun bak embun pagi.

"Sial!" Beberapakali Supri mengumpat, marah pada motor yang belum juga mau menyala.

Tubuh Nilam makin menggigil. Ia duduk memeluk lutut di sisi jalan. Ransel hitam miliknya tergeletak semeter dari badan. Ia terlihat makin payah, napasnya tersengal seperti orang yang kambuh sakit asma.
Tanpa sengaja Supri melihat sesuatu aneh dengan gadis itu, ia mendekat.

"Dek, Nilam?" tanyanya hati-hati. Ia berjongkok, menyentuh bahu Nilam.

Kepala gadis berambut panjang yang menelungkup di antara lututnya itu terangkat. Tampak wajah putih dan bibirnya seputih kapas, matanya merah berair.

"Ya Tuhan!" Tersentak Supri hingga terjungkal ke belakang. Nilam berubah menakutkan di matanya. Namun, cepat ia menguasai diri, kemudian merangkak kembali mendekati Nilam. Disentuhnya dahi gadis itu. Sangat dingin.

Terlihat panik. Pria itu berlari kembali membalik arah motornya. Aneh, sekali tekan saja starter motor itu menyala. Supri menarik napas lega. Ia mengangkat tubuh Nilam ke atas motor.

"Yang kuat pegangan, ya," katanya, diangguki Nilam lemah.

Setelah ransel gadis itu digendong depan dada, Supri melaju motornya kembali ke rumah Mak Lumpit.


***

Tumbal Kesembilan
Kompasiana.com

Hari telah gelap. Di depan telaga kecil berair keruh, tampak seorang lelaki kurus duduk berlipat kaki. Badan tegap dan matanya terpejam.

Tubuh itu tak terlihat jelas, sebab pakaian yang dikenakannya serba hitam, menyatu dalam gelap malam tanpa cahaya bulan.
Satu jam sudah ia terdiam di sana. Mata besarnya kemudian membuka.

"Sangat tepat! Gadis itu ... akan jadi pamungkas tercantik," desahnya kemudian terkekeh, mengeluarkan suara serak tertahan.

Bersambung ....

Maaf ya lambat update kemarin habis kuota emoticon-Big Grin emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
anugrah93 dan bigroller20 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Sudah lanjuut emoticon-Wowcantik
buset dah...mantap mantap nih
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di