CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Syatariyah (TQNS)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e77907a2525c34a22121791/thoreqoh-qodiriyah-wa-naqsyabandiyah-syatariyah-tqns

Thoreqoh

_*Penjelasan Sederhana Tentang Thoreqoh*_

Perjalanan ibadah (penghambaan diri pada Allah) itu tdk lepas dari sareat, hakikat, thoreqoh, ikhsan.

sareat itu isinya hukum islam.

hakikat itu isinya hukum iman.

thoreqoh itu menjalankan sareat dan haqiqat secara bersama sama,

dan ikhsan adalah arah yang di tuju, yaitu memperbagus ubudiyah atau pelayanan kita kepada Allah.

makrifat itu adalah pos pos yang di lewati,
makrifat itu bahasa arab artinya mengetahui, jika orang telah melewati suatu daerah maka akan mengetahui daerah yang telah di lewati, walau tdk mengetahui secara keseluruhan.

jadi menjalankan thoreqoh itu ya hanya menjalankan ibadah, tapi bukan hanya gerak laku, syarat rukunnya saja, tapi juga menjalankan hakikat atau batinnya ibadah.

lahiriyahnya ibadah itu di namakan sareat, dan batiniahnya ibadah itu di namakan hakikat.

berbicara dalam sareat dan hakikat, kalau sareat itu yg membawa rasul dan kalau hakikat itu yang membawa ajarannya adalah nabi. makanya dulu nabi musa as mau belajar ke nabi khaidir as, kalau dalam literatur pembelajarannya, kalau sareat itu wajib di ajarkn, tapi kalau hakikat itu tidak wajib di ajarkan, sebagaimana nabi itu menerima wahyu untuk dirinya sendiri, kalau rasul itu menerima wahyu untuk di sampaikan kepada orang lain.

makanya kenapa dalam khazanah keilmuan itu hakikat bersifat tersembunyi pengajarannya dan sareat itu bersifat terbuka. karena iman itu adalah batin di dalam sanubari yang tersembunyi.

dan sareat itu semua perbuatan lahir yang kelihatan.

jadi isi hakikat itu ya keimanan, ketaqwaan, sabar, ridho, ikhlas, amanah, tawakal, yakin dan semua prilaku ruhani. makanya jika sareat tanpa hakikat itu umpama badan tanpa ruh, jika hakikat tanpa sareat itu umpama ruh tanpa badan.

sareat tanpa hakikat tak akan kemana mana, tak akan ke langit, tak akan berefek apa apa, sholat ribuan taun dengan sareat tanpa hakikat ya tak merubah apa apa, karena sesuatu itu menimbulkan perubahan itu kalau sampai pada yang di tuju, kalau di tempat saja namanya tdk ada perubahan.

karena pengajarannya hakikat itu tersembunyi, yaitu warosatul ambiya, warisannya para nabi, makanya pewarisnya juga tdk membutuhkan murid atau di perintahkan mengajarkan, tidak mencari murid atau pengikut, beda dg sareat, kalau sareat itu wajib di ajarkan kepada semua orng islam.

makanya ilmu hakikat itu di ajarkan dari guru ke murid, teorinya, tdk bisa di cari di buku buku atau di sembarang tempat, kalau dalam thoreqoh 10 persen itu ilmu teori menjalankan amaliyah, dan yang 90 persennya ilham.

karena di dalamnya ilham, maka proses pembelajarannya dg di sambungkan, di sambungkan sanad silsilah keilmuan kepada guru guru sebelumnya sampai ke rasulullah saw, sampai ke malaikat jibril as, sampai ke Allah ta'ala. sambungan ini yang akan menjaga keilmuan atau ilham itu mengalir ke kita terlindung di bawah sambungan guru guru lewat baiat atau ikatan sumpah, ikatan sumpah inilah yang akan menjaga keilmuan itu murni tidak di susupi oleh iblis jin dan setan siluman. jadi ilmu terjaga smpai ke kita sebagai penerima ilmu itu.

selama murid dalam ketaatan pada guru maka ilmu itu akan murni tidak di susupi iblis, tapi ketika murid itu telah tak taat lagi pada guru, maka keilmuan itu hampir di pastikan akan di susupi iblis, taat kepada guru itu bukan memandang jasad wadagnya guru, tapi memandang guru sebagai wasilah penyambung kepada guru sebelumnya sebelumnya dn sebelumnya terus sampai kepada rasulullah saw, sampai ke malaikat jibril as, smpai kepada Allah ta'ala.

mentaati guru maka itu sama saja dg taat kepada semua guru silsilah dan kepada rasulullah dan kepada Allah, bgt juga sebaliknya tdk taat pada guru berarti tidak taat pada guru sebelumnya dn pada rasulullah saw dan pada Allah ta'la.

makanya bagi seorang murid, jika tdk sanggup untuk taat pada guru, sebaiknya tdk usah belajar thoreqoh, ya tdk beda jika kita tidak sanggup taat bayar PLN, ya sebaiknya tidak usah mengambil PLN, cukup lampu ublik saja. kalau sudah berani mengajukan diri pasang PLN ya harus siap bayar bulanan. itu contoh mudahnya.

menjalankan thoreqoh itu tdk beda dg kita pasang PLN, instalasi kabel, saklar, stop kontak, dan lampu di rumah kita itu umpama amaliyah entah itu dzikir, sholat dll, tdk bisa nyala atau listrik di pakai atau peralatan listrik di nyalakan tanpa adanya sambungan kepada PLN, walau semua instalasi kabel dan semua peralatan listrik sudah benar, selama belum di sambungkan kepada PLN, maka aliran listrik sebagai power yang menyalakan lampu dan menghidupkan peralatan listrik di rumah tak akan berfungsi walau saklarnya di ceklak ceklek jutaan kali, tetap tak akan menyala selama belum ada sambungan PLN, nah Allah itu nurussamawati wal ardhi, Allah itu sumber cahaya langit dan bumi, artinya Allah lah pemilik power langit dan bumi, jika tdk menyambung kepada Allah, maka segala instalasi ibadah tidak akan bisa ada powernya, kalau ingin ibadah kita ada powernya maka harus menyambung kepada Allah lewat sambungan yang tak putus dari para guru guru silsilah sebagai penyambung kabel yang tak putus kepada rasulullah saw dari rasulullah saw kepada malaikat jibril, dari malaikat jibril kepada Allah ta'ala.

lalu bagaimana kalau kita menyambung sendiri? dg mengirim fatekah wasilah kepada rasulullah saw? lagi saya contohkan dg PLN, bagaimana kalau kita menyambung sendiri? diam diam menyambung sendiri?
itu kalau tdk salah namanya mencuri listrik dn oleh negara akan di denda dan di kenai hukuman kurungan penjara, lo kan... kita kirim fatekhah itu sebagai syukur kita, kita bersyukur kepada mereka rasulullah saw, para nabi,malaikat, karena telah membawa hidayah iman islam kepada kita, bukan menyambung yang di maksud menyambung power itu. sebagai manusia itu kita harus berterima kasih kepada manusia lain maka kita baru di namakan syukur kepada Allah, jadi bukan menyambungkan power ibadah.

tau kan PLN? itu kalau ada yang mau minta di sambungkan listrik, listrik pusat yang berwewenang memberi ijin, apa kita menyambung sendiri? ya benar yang memberi ijin itu manager listrik pusat, baru memberikan petugasnya untuk menyambungkan listrik, bukan dg kita diam diam menyambung sendiri, bgt juga dalam thoreqoh jadi petugas itu menyambungkan sambungan atau silsilah thoreqoh itu atas ijin manager pemilik power segala power yaitu Allah, jadi tidak petugas daerah yaitu guru thoreqoh dg keinginan diri sendiri, atau dg kita menyambung diam diam, kalau sambungan diam diam, atau menyambung tanpa ijin namanya sambungannya mungqotek atau terputus.

setelah sambungan tersambung, baru kemudian instalasi atau pengamalan amaliyah di benarkan di usahakan supaya benar, agar tidak konslet, nyetrum, baru power ibadah akan ada, dan ibadah ada manfaatnya, ada manfaat yang bisa di ambil, bisa ibadah sampai pada Allah, ketika ibadah itu sudah ada manfaatnya maka ibadah itu baru bisa di pakai hal hal tertentu, di umpamakan listrik yang sudah menyambung ke PLN itu bisa di pakai muter tv, nyalakan kompor, pemanggang, kipas angin ngecas hp, nyalakan player dll yang banyak sekali, bgt juga ibadah itu jika sudah menyambung kepada Allah, maka akan banyak manfaat bisa di ambil.

#KyaiAne
Diubah oleh hidden9
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 03

Bagaimana Seorang Murid Memilih Guru?

Selain pengalaman spiritual yang berbeda-beda dari seorang Sufi dalam tarekatnya, intensitas dan kecepatan perjalanannya pun bisa berbeda-beda. Ali Nadwi misalnya menggambarkan perjalanan mistik Rumi seperti burung rajawali (falcon) yang bisa dengan cepat tiba di tangan rajanya, sedangkan 'Aththar seperti semut. Rumi sendiri misalnya mengatakan, "Seorang Sufi bermi'raj ke Arasy dalam sekejap; sang Zahid butuhkan sebulan untuk sehari pejalanan."

Meskipun jalan spiritual ini obyektif, karena dialami oleh orang-orang suci di sepanjang zaman, tetapi pengalaman masing-masing Sufi dalam menempuh perjalanan tersebut adalah subyektif. Dan karena sifat pengalamannya subyektif, maka tidak mungkin kita mengharapkan adanya keseragaman ungkapan dan nama-nama tahapan (maqamat) atau kondisi-kondisi (ahwal) dari seluruh atau masing-masing Sufi. Oleh karena itu wajar, kalau para penulis Sufi berbeda misalnya dalam menamakan maqam-maqam ataupun urutan-urutannya.

Al-Kalabadzi, misalnya menyebut maqam-maqam tersebut sebagai berikut: taubat, zuhud, sabar, Faqr, tawadhu ', taqwa, tawakkal, ridha', mahabbah dan ma'rifat, sementara al-Ghazali menyebutnya sebagai berikut: taubat, sabr, Faqr , zuhud, tawakkal, mahabbah, ma'rifat dan ridha, sedangkan al-Qusyairi sebagai berikut; taubat, wara, zuhud, tawakkal, sabar dan ridha.

Selain perjalanan tersebut digambarkan secara datar dan dalam bentuk prosa, seperti tersebut di atas, ada juga yang menggambarkannya secara simbolis dan dalam bentuk puitis. Farid al-Din 'Aththar misalnya menggambarkan perjalanan spiritualnya dengan indah dalam karya puitisnya manthiq al-Thayr sebagai perjalanan panjang dan melelahkan dari burung-burung (yang melambangkan jiwa-jiwa manusia) dalam rangka menemukan raja mereka "Simurgh". Untuk itu mereka harus melewati tujuh lembah yaitu lembah pencaharian, lembah cinta, ma'rifat, perpisahan, kesatuan, keheranan, faqir dan fana '.

Atau seperti Ibn 'Arabi yang melukiskan pengalaman spiritualnya secara detail tanpa berusaha memberi nama masing-masing tingkatnya tetapi menceritakan dengan gamblang perjalanan manusia dari tingkat indrawi menuju tingkat imajinal, dan dari dunia imajinasi ke tingkat spiritual murni. Sekurangnya ada 19 tingkatan yang digambarkan Ibn Arabi dalam kitabnya Risalat al-Anwar fima yumnah shahib al-khalwa min al-Asrar, sebelum akhirnya manusia kembali ke dunia indrawi.

Apa yang kita gambarkan selama ini tentang tarekat, adalah pengertian tarekat sebagai perjalanan spiritual, yang juga disebut suluk. Tetapi ada pengertian lain dari tarekat dalam arti persaudaraan atau ordo spiritual. Pengertian ini sebenarnya yang lebih dikenal oleh kalangan luas, seperti Tarekat Naqsabandiah, Sinusiah, Qadiriah dan sebagainya. Tentu bukan tempatnya di sini untuk membahas satu persatu tarekat tersebut, namun beberapa hal tentang tarekat ini perlu dikemukakan.

Pertama, tentang metode spiritual dan peranan sang guru (mursyid). Karena tasawuf pada hakekatnya tidak bisa dipelajari lewat buku, maka latihan spiritual berupa dzikr, atau sama ', adalah cara yang efektif untuk memahaminya lewat pengalaman batin. Dari mengajarkan murid-murid tentang ajaran-ajaran para Sufi, seorang guru akan mengajak murid-muridnya untuk melakukan perjalanan bersama melalui dzikir menuju tuhan, dengan metode yang pernah dialami oleh si mursyid. Dengan begitu sang guru berharap bahwa apa yang pernah ia alami dengan metode yang sama akan juga dialami oleh murid-muridnya. Metode ini harus diikuti dengan disiplin yang tinggi dan dengan penuh ketaatan kepada petunjuk sang guru. Ini terjadi karena sang guru merasa yakin hanya dengan cara itulah maka pengalaman seorang murid akan sesuai dengan yang direncanakan. Dalam hal ini murid tidak bisa protes atau keberatan, dan seorang murid harus bertindak seolah-olah seperti mayat dalam pangkuan orang yang memandikannya. Bisa saja membangkang, tetapi sang guru tidak bertanggung jawab atas kegagalan sang murid yang membangkang tersebut dan tidak ada jaminan bahwa usahanya itu akan berhasil. Jadi inilah kira-kira peranan sang mursyid terhadap muridnya, yakni memastikan bahwa segala hal-ihwal metodenya dijalankan sepenuhnya oleh sang murid. Baru setelah segalanya berjalan dengan baik, seorang murid bisa berharap sukses dalam upaya tersebut.

#KyaiAne
Diubah oleh hidden9


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di