CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mbah Wiro, Arwah Penasaran Penghuni Alas Jati
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e76f4afdbf7641cbd01e786/mbah-wiro-arwah-penasaran-penghuni-alas-jati

Mbah Wiro, Arwah Penasaran Penghuni Alas Jati

Mbah Wiro, Arwah Penasaran Penghuni Alas Jati

Kisah ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh Ibuku sendiri. Saat itu aku masih duduk di bangku TK, kita baru saja pindah ke suatu perumahan yang terletak di pelosok desa di bagian Selatan Jawa Timur yakni Desa Poncokusumo di pedalaman Kabupaten Malang. Belum banyak orang yang menghuni daerah ini. Rumah warga yang berpenghuni masih bisa dihitung dengan jari. Hampir semua hunian di perumahan ini belum ditempati oleh pemiliknya.

Waktu telah berjalan 3 bulan. Keluarga kami mulai mengenal beberapa orang yang berada di kawasan ini, seperti tukang sayur, tukang pijat, tetangga dan ojek. Saat itu kami sedang dalam keadaan genting, badanku mengalami demam hingga gemetaran. Rumah sakit amat jauh, kita harus menempuh jalan menuju kota jika ingin berangkat ke sana. Sehingga hal itu tidak mungkin dilakukan karena terlalu jauh dan repot.

Lokasi di sekitar area perumahan masih sawah - sawah, semak belukar, ladang dan hutan pohon jati. Transportasi kala itu hanya ada ojek yang biasanya mangkal di pos ojekan. Biasanya ojek - ojek disini hanya narik mulai pagi sampai jam 3 sore saja, di atas jam itu mereka sudah kembali ke kediaman masing - masing. Zaman tahun 1999 belum banyak orang yang memakai handphone, paling - paling komunikasi hanya lewat WARTEL (Warung Telekomunikasi) dan telepon rumah saja. Tapi kita belum punya telepon kabel apalagi HP.

Ibuku bermaksud menelpon taksi namun hanya bisa lewat WARTEL yang bukanya jam 7 malam saja. Jam kala itu menunjukkan pukul 5 sore, para ojek yang mangkal di pangkalan sudah pulang dan saat itu juga Ibuku berpikir "Daripada kelamaan, lebih baik aku cari tukang pijat saja". Ibu pun berjalan menuju rumah tukang pijat yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

Mbah Wiro, Arwah Penasaran Penghuni Alas Jati
gambar 1:
suasana hutan pohon jati saat maghrib


Jalan menuju rumah si tukang pijat tidaklah mudah, Ibu harus melewati hutan pohon jati yang menjadi jalan pintas tercepat yang menghubungkan perumahan dengan desa tempat si tukang pijat tinggal. Karena Beliau hanya jalan kaki, waktu yang ditempuh pun tidak sebentar. Berbekal payung, dia berjalan seorang diri.

Di tengah perjalanan, hujan gerimis datang. Beliau mengembangkan payungnya. Saat melewati hutan pohon jati dan hampir sampai ke perkampungan desa sebelah, Beliau mendengar suara kakek kakek memanggilnya.

"Naaak ... nak ... tolong mbah!"

Ibu melihat ke sekelilingnya tak ada orang. Dia kembali berjalan, di langkah ketujuh Ibu berjumpa dengan seorang lelaki tua yang mengenakan topi caping dari anyaman bambu, membawa cangkul di pundaknya, kakinya penuh dengan tanah. Pria tua itu berpapasan dengan Ibuku. Ibu mencoba menyapanya, "Apakah bapak yang memanggil saya barusan?"

Lelaki itu tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Gelagat pria itu tampak aneh. Tatapan Ibuku tak bisa lepas dari Pria tua itu.

"Ada yang bisa saya bantu, kek?" tanya Ibu sambil memayunginya juga

"Tulung terno aku mulih" (Tolong antarkan aku pulang)

Ibu seolah lupa dengan apa tujuannya kesana. Bagai terhipnotis, Beliau mengikuti arah berjalan si kakek yang semakin lama berjalan semakin jauh dari tempat Ibuku berpijak tadi. Bulu kuduk Ibu berdiri ketika mendekati kakek itu. Bau kakek ini bagaikan bangkai tikus yang telah membusuk berhari - hari. Amat sangat menyengat. Ketika Ibu memandang kakek ini dari ujung kaki ke ujung kepala, benda di pundak lelaki yang semula dikira cangkul oleh Ibuku itu berangsur - angsur berubah warna menjadi memanjang seperti karung dari kain putih. Yang begitu mengagetkan adalah ada wajah di antara karung putih menjuntai yang diikat tersebut. Ibuku segera menyadari apa yang dia lihat, yakni pocong yang sedang dibawa oleh si mbah. Pria tua itu memandang wajah ibuku, wajahnya sangat menyeramkan, matanya penuh dengan belatung, rona mukanya pucat dan memar membiru di separuh bagian wajahnya. Si kakek tersenyum lebar diiringi suaranya yang sendu. Badan ibu lemas seketika, terkulai lemah tak berdaya di bawah pohon jati.

Tenggorokan ibu serasa tercekat tanpa bisa mengeluarkan suara, badannya bergetar, keringat bercucuran, berharap apa yang dilihatnya hanyalah mimpi. Tapi sayangnya apa yang dia saksikan benar benar nyata. Petani itu menyanyikan tembang jawa yang suaranya sangat kencang, membuat orang yang mendengarnya seolah terpaksa ditarik menuju alamnya.



Beruntung, suara adzan Maghrib berkumandang, lelaki tua itu menghilang beserta dengan benda misterius yang dia panggul di pundaknya. Dia pulang ke alamnya. Ibuku tak sanggup berdiri, beliau akhirnya bisa berteriak minta tolong. Untungnya ada warga yang akan pergi ke masjid yang mendengarnya. Beliau pun digotong menuju perkampungan warga yang sudah terlihat di ujung jalan.

Ibu ditanyai oleh warga dan bilang mau ke rumah si tukang pijat. Warga pun mengantarnya kesana. Sesampainya di rumah si tukang pijat, Beliau menceritakan semuanya beserta maksud kedatangannya kesana. Akhirnya Ibu diantar pulang naik sepeda motor oleh si tukang pijat, sambil diberi nasehat untuk tidak lewat tempat itu lagi. Sebab hutan pohon jati itu memang sudah tak diragukan kemistisannya. Penampakan sosok petani itu telah banyak diketahui warga.

"Untung saja Ibu segera menyadari bahwa yang dilihat itu bukan manusia, banyak warga yang hilang beberapa hari dan mengaku diajak mbah Wiro "main" ke tempatnya begitu kembali." ucap si tukang pijat

Konon katanya, sosok petani tua itu dulunya bernama mbah Wiro. Dia dulu manusia biasa, hidup di kawasan perkampungan yang sama dengan si tukang pijat. Mbah Wiro tinggal hanya bersama cucu semata wayangnya. Namun cucunya meninggal di usianya yang masih anak - anak. Di hari pemakaman cucunya, Mbah Wiro tidak rela jika cucu kesayangannya tersebut meninggal. Dia kembali membongkar makam sang cucu untuk dibawanya pulang. Saat itu penduduk sudah melarang keras perbuatan Mbah Wiro, tapi dia tetap ngotot. Beberapa hari kemudian dia menyusul cucunya dengan jalan mengakhiri hidupnya sendiri. Beliau dimakamkan di pemakaman yang letaknya tidak jauh dengan hutan pohon jati. Penduduk setempat sangat menghindari lewat jalan itu kecuali di siang hari.

Cerita ini baru Beliau sampaikan ketika aku dirasa cukup matang, yaitu saat sudah masuk SMP karena Ibu khawatir jika saat itu langsung diceritakan padaku saat itu juga maka aku akan tumbuh menjadi seorang penakut.

Sumber : kisah nyata
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kicquck dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh adnanami
Halaman 1 dari 4
Ow seperti itu kisah Mbah Wiro toh, kasian juga ya kehilangan cucu satu2nya membuat dia tak rela dan bahkan setelah meninggal pun malah menghantui disana
profile-picture
profile-picture
masnukho dan panci.gosong memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
actandprove dan 2 lainnya memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
phyu.03 dan actandprove memberi reputasi
Quote:


penunggu emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
profile-picture
actandprove dan adolfsbasthian memberi reputasi
Quote:


Aiiih... Ane salah... Bukan penunggu, tapi penghuni...
emoticon-Hammer2
profile-picture
actandprove memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan phyu.03 memberi reputasi
Quote:

Coba tanya sana sist TSnya omemoticon-Leh Uga
profile-picture
adolfsbasthian memberi reputasi
Quote:


Kan emang ada eventnya omemoticon-Jempol
profile-picture
actandprove memberi reputasi
Quote:


TSnya ndak nongol2...
emoticon-Hammer2
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Mbah Wiro itu keturunan wiro sableng ya Nami wkwkwk
Quote:


Sist @adnanami dicari sama om adolf tuhemoticon-Leh Uga
padahal udah di bantuin, malah nyesatin manusia
Quote:
hai om adolf the legend of kaskus, hormat dulu ama suhu emoticon-Nyepi hehehe

Quote:


ane nongol nih om emoticon-Big Grin bagaimana kabar banyuwangi?
profile-picture
profile-picture
adolfsbasthian dan phyu.03 memberi reputasi
Quote:
miris ...

Quote:
hai om salam kenal hehehehe

Quote:
apa yang mau ditanyain om?

Quote:
wkwkwk mbak Richy ...

Quote:


namanya juga bangsa begituan gan
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:

Lama amat perginyaemoticon-cih
Abis ngapain sihemoticon-nyantai

Banyuwangi airnya tetap wangi sepanjang masaemoticon-Kaskus Radio

Quote:

Kirain miripemoticon-Leh Uga
Quote:


hahaha bisa aja, orgnya kudu wangi juga dong. Tadi ditinggal pergi cari jodoh emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:


Lah tentu dong, sini endus2 biar tau wanginyaemoticon-Stick Out Tongue

Wilihh cari jodohnya sampe dimana emang?emoticon-Leh Uga
Quote:


ane bukan sejenis roy kiyoshi om yang suka mengendus bau wkwkwk baru depan rumah aja sih trus balik lagi hahaha sepi sih pada masuk rumah semua gara gara corona tuh emoticon-Ngakak
profile-picture
phyu.03 memberi reputasi
Quote:


Diendus biar percaya kalo gw wangilahemoticon-Cool

Pantes kaga dapat2 jodohnyaemoticon-Leh Uga
Quote:


ah ngejek nih om emoticon-Turut Berduka

kejauhan radiusnya om, mau ngendus semaleman jg g bakal tercium emoticon-Stick Out Tongue
profile-picture
profile-picture
actandprove dan phyu.03 memberi reputasi
Halaman 1 dari 4


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di