CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Mekarnya Si Teratai Putih
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e76320ffacb9568ce098419/mekarnya-si-teratai-putih

Mekarnya Si Teratai Putih


Semilir angin sore memainkan ujung jilbab lebar Arini. Air kolam yang tenang pun ikut  beriak. Mata Arini tak lepas memandangi kuncup teratai putih yang belum mekar. Arini sangat menyukai teratai. Hampir setiap sore sepulang kerja ia akan menghabiskan waktunya duduk di pinggir kolam kecil di taman ini.

Teratai bagi Arini bagaikan gambaran hidupnya. Bunga indah dengan warna yang sangat cantik. Namun berbunga hanya diatas air yang berlumpur. Seperti hidupnya yang sangat keras. Ia yang terlahir di lingkungan yang serba kekurangan. Rumah sederhana yang dipenuhi dengan onggokan barang-barang hasil memulung. Rumah kecil di gang sempit yang terletak di pinggiran ibu kota. Tetapi ia tetap terlihat cantik meskipun berada di tempat yang sederhana.

Ayahnya hanyalah seorang buruh pabrik sabun yang tak jauh dari pemukiman mereka. Selain sebagai buruh, ayahnya juga mengumpulkan barang-barang bekas sebagai tambahan gajinya yang tak seberapa. Sedangkan ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Pak Nanang, pemilik mini market dimana Arini sekarang bekerja. Meskipun hidup mereka serba kekurangan, namun mereka tidak pernah mengeluh. Karena mereka percaya dengan jalan yang sudah di takdirkan Allah.

Arini anak tertua dengan dua adiknya yang sudah beranjak dewasa. Umur mereka tidak jauh beda. Saat ini Arini sudah berumur 27 tahun, sedangkan dua adiknya Sarah dan Nina berumur 25 dan 23 tahun. Sarah sudah berkeluarga dan tidak tinggal bersama mereka lagi. Karena adiknya sudah berkeluarga terlebih dahulu, Arini sering menjadi pembicaraan orang-orang di sekitarnya.

Seperti yang terjadi pagi ini, saat Arini akan berangkat bekerja. Salah seorang tetangganya yang juga merupakan teman kecilnya menyapa Arini dan kembali menanyakan kapan akan menikah dan punya anak sepertinya.

“Mau berangkat kerja, ya Arini,” sapa Rianti sambil mengendong anaknya.

“Iya Rianti, mari saya duluan” jawab Arini sambil tersenyum.

”Tunggu Rin, ada yang mau aku tanyakan.” Rianti berusaha mencegah langkah Arini.

“Mau tanya apa ya,Ti,” tanya Arini.

“Maaf ini ya, aku cuma mau tanya kapan kamu menikah ?”

“Di kampung ini, tinggal kamu sendiri lo, yang belum menikah. Teman- teman kita yang lain sudah pada punya anak” lanjut Rianti.

Masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya Arini menjawab, “Rezeki, jodoh dan maut semua sudah diatur yang Maha Kuasa, kita tinggal menjalaninya saja.”

“Iya, aku tahu jangan sampai kamu jadi perawan tua lo. Apalagi dengan penampilanmu yang selalu memakai gamis dan jilbab lebar.”

“Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita yang tertutup rapat sepertimu.” Rianti melanjutkan celotehannya.

Lagi-lagi Arini hanya tersenyum.

“Maaf ya Rianti, aku berangkat kerja dulu takut kesiangan,” ucap Arini sambil melanjutkan perjalanannya.

Kadang –kadang Arini juga terpengaruh dengan omongan tetangganya. Ia pun sempat berpikir kalau penampilan dengan pakaian syar’i ini menghambat jodohnya. Namun ibu selalu menguatkan bahwa semua sudah diatur yang Maha Kuasa.

Aku berpakaian seperti ini sebagai bentuk ketaatan pada Rabb-ku, batin Arini.

Lompatan kodok dari atas daun teratai membuyarkan lamunan Arini. Di liriknya jam tangan bertali biru tua yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul enam berarti sudah satu jam ia berada di taman ini. Sudah waktunya ia kembali ke rumah. Namun ia kembali teringat dengan pesan yang dikirimkan Nina, adiknya. Nina memberitahukan kalau Beni dan keluarganya akan datang ba’da Magrib untuk mengkhitbahnya. Itu artinya ia akan kembali dilangkahi oleh adiknya.

Dengan menarik nafas panjang, Arini melangkahkan kaki menuju gang sempit rumahnya. Ia pasrahkan semuanya kepada Allah. Kalau memang Allah sudah menakdirkan ia menikah setelah kedua adik-adiknya, ia akan menerimanya dengan ikhlas.

Ba’da magrib, keluarga Beni datang melamar dan diputuskan pernikahan akan dilaksanakan enam bulan lagi, tepatnya bulan Desember. Arini turut bahagia, meskipun ada sedikit goresan luka di hatinya.

Arini hanya bisa mengadukan semua yang dirasakan pada sang pemilik hati di sujud panjangnya pada sepertiga malam. Ia selalu berdoa agar diberikan imam yang bisa menjadikannya seorang bidadari di dunia dan permaisuri di syorga. Arini selalu yakin dengan janji-janji Allah. Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, sebaliknya laki-laki yang baik untuk wanita yang baik-baik.

***
Sudah dua hari ini Arini tidak bekerja di minimarket Pak Nanang, karena ia harus menggantikan pekerjaan ibunya yang terbaring sakit. Nina menjaga ibu di rumah selama Arini bekerja. Sementara ayah mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan di pabrik.  

Pagi-pagi sekali setelah sholat Subuh Arini berangkat menuju rumah Pak Nanang yang berada di kampung sebelah. Sampai di sana ia langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Terlihat pemandangan yang berbeda di rumah besar ini.

Ada saudara Pak Nanang dari kampung, jawab Mbak Sumi, asisten rumah tangga yang tinggal bersama keluarga ini.

Setelah membantu Mbak Sumi mempersiapkan sarapan, Arini langsung menuju bagian belakang rumah untuk mencuci pakaian dan menyetrika. Ada bening di sudut matanya saat membayangkan ibu mengerjakan semua pekerjaan ini setiap hari. Jika sudah bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak ia berjanji akan membahagiakan ayah dan ibu. Mereka tidak perlu lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.  

Hari mulai menjelang siang, matahari bersinar dengan teriknya. Semua pekerjaan telah diselesaikan dengan baik. Saat akan bersiap-siap untuk pulang, Mbak Sumi menghampiri Arini.

“Arini, kamu di tunggu Pak Nanang di ruang keluarga” kata Mbak Sumi.

“Kira – kira ada apa ya Mbak ?” tanya Arini.

“Aku ndak tahu dik, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan Pak Nanang, karena seluruh keluarganya berkumpul disana”

“Jangan-jangan kamu mau di jodohkan sama keponakannya” jawab Mbak Sumi sambil tersenyum.

“Ahhh...Mbak Sumi bisa saja. Mana ada yang mau sama saya Mbak.”

“Siapa bilang ndak ada, seandainya saya punya adik laki-laki, pasti akan saya jodohkan dengan kamu”

“Kamu itu cantik, sholeha dan sangat menyayangi keluarga” lanjut Mbak Sumi.

“Sudah ah Mbak, nanti aku besar kepala lo, di puji terus. Aku ke depan dulu ya mbak,” ucap Arini

Dengan perasaan berdebar Arini melangkahkan kaki memasuki ruang utama. Rumah besar dengan model Eropa ini terlihat sangat indah dan asri dengan taman bunga yang berada di samping kirinya. Sambil menundukkan kepala dan mengucapkan salam, Arini memasuki ruangan tersebut.

“Assalammualikum...” ucap Arini.

“Wa’alaikumussalam, ayo duduk bersama kami di sini Arini,” jawab istri Pak Nanang.

“Baik Bu, jawab Arini sambil duduk di kursi yang masih kosong dengan posisi beseberangan dengan Pak Nanang dan istrinya.

Disana juga ada keluarga Pak Nanang yang datang dari kampung. Saat Arini duduk, matanya bersirobok dengan seorang laki-laki dengan perawakan tinggi putih yang duduk di samping Pak Nanang. Cepat –cepat ia tundukkan pandangannya. Ada debaran aneh yang ia rasakan. Siapakah laki-laki itu ? Kenapa ia merasa pernah bertemu dengan laki-laki pemilik mata teduh itu ?

“Begini, Arini....” Pak Nanang memulai pembicaraan.

“Saya ingin menanyakan sesuatu padamu,”

“Apakah kamu sudah mempunyai calon pendamping ?” tanya Pak Nanang.

Arini sangat terkejut mendengar pertanyaan laki-laki yang telah banyak membantu keluarganya selama ini. Apa maksud Pak Nanang bertanya seperti itu ?

“Maaf Pak, sampai saat ini saya belum memiliki calon pendamping” jawab Arini dengan terbata.

“Alhamdulillah, tapi apakah kamu sudah siap untuk berumah tangga ?”

“Insya Allah jika ada laki-laki yang cocok, saya siap Pak” jawab Arini.

“Apakah kamu memiliki syarat atau kriteria calon pendampingmu?” Pak Nanang kembali mengajukan pertanyaan.

“Saya tidak punya kriteria khusus Pak, bagi saya selama ia seagama dan bisa menjadi imam yang baik bagi saya, Insya Allah akan saya terima”  jawab Arini.

“Baiklah Arini, saya mendapatkan sebuah amanat dari Almarhumah kakak perempuan saya, untuk menjodohkanmu dengan anak laki-laki beliau, Hamzah”

Hamzah ? Apakah laki-laki yang duduk disamping Pak Nanang ini adalah Hamzah, anak Bu Hamidah kakak perempuan beliau ? Arini mulai bertanya-tanya dalam hati.

Bu Hamidah adalah guru ngaji Arini waktu kecil dulu. Hamzah adalah anak semata wayangnya. Arini selalu bermain bersama Hamzah, namun sayang mereka harus pindah ke kampung karena kakek Hamzah meninggal dunia. Sejak saat itu, Arini tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

”Kamu masih ingat dengan Hamzah kan ?” Tiba-tiba Pak Nanang membuyarkan lamunannya.

“Insya Allah saya ingat Pak. Tapi saya hanya ingat wajah Hamzah saat kami masih kecil” jawabnya sambil tersenyum.

“Inilah Hamzah, teman kecilmu dulu” jawab Pak Nanang sambil merangkul laki-laki yang sedari tadi membuat Arini gelisah dengan tatapan mata teduhnya.

“Assalammualikum Arini, apa kabar,” sapa Hamzah

“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah baik” jawab Arini sambil memandang Hamzah. Namun ia kembali menundukkan pandangannya saat netra mereka beradu.

Pak Nanang menceritakan kalau Hamzah sekarang menjadi pengajar sekaligus pengelola pesantren peninggalan ayah dan ibunya. Sebelum ibunya wafat, ia meminta Hamzah untuk mencari Arini. Karena saat masih kecil dulu, ibunya telah berniat untuk menjodohkan Arini dan Hamzah. Selama ini Pak Nanang selalu menceritakan tentang Arini kepada Bu Hamidah tanpa sepengetahuan Arini dan Hamzah.

Sebulan kemudian, dilangsungkan pernikahan antara Arini dan Hamzah. Pesta berlangsung dengan sederhana, atas permintaan Arini dan Hamzah. Meskipun Pak Nanang telah menawarkan untuk melaksankan pesta di rumahnya. Namun mereka menolaknya dengan halus. Mereka hanya mengundang tetangga sekitar, anak yatim dan fakir miskin.

 Arini terlihat cantik dengan gaun pengantinnya. Ia terlihat sangat bahagia karena telah menemukan pemilik tulang rusuknya yang selama ini dicari-cari, yang tak lain adalah teman masa kecilnya. Akhirnya teratai putih itu mekar dengan sempurna
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rohannarambe dan 7 lainnya memberi reputasi

Aku Hanya Perempuan Biasa (Cerpen)

Aku baru saja selesai memandikan Faris anakku, saat terdengar motor Mas Danu memasuki pekarangan. Kulirik jam di dinding, masih pukul empat tiga puluh. Tumben Mas Danu pulang cepat, biasanya setelah Magrib baru sampai di rumah.

Mas Danu bekerja di sebuah perusahan swasta. Ia termasuk karyawan yang sangat ulet. Menurut ceritanya, ia akan dipindahkan ke bagian pemasaran, tidak menjadi pegawai lapangan lagi. Aku sangat senang mendengarnya, itu artinya aku tidak perlu lagi ikut bekerja untuk membantu kebutuhan rumah tangga.

“Assalammualaikum.” Mas Danu mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalam, iya Mas sebentar,” jawabku dari dalam kamar.

Setelah memakaikan baju Faris aku segera membukakan pintu untuk Mas Danu.

“Tumben pulang cepat, Mas” tanyaku sambil mencium tangan Mas Danu.

“Aku mau istirahat dulu, tolong jangan diganggu,” sahut Mas Danu dengan sikap dingin sambil berlalu ke kamar.

“Oiya, tolong bangunkan aku setengah jam lagi,” ucapnya sebelum tubuhnya benar-benar hilang di balik pintu kamar.

“Iya Mas,” jawabku singkat.

Ada pertanyaan besar menggelayut di pikiranku, kenapa Mas Danu bersikap dingin seperti itu ? Dan kenapa ia pulang lebih cepat dari biasanya ? Apa mungkin ada kejadian di tempat kerjanya ?

Dengan masih bertanya – tanya, aku melangkah ke dapur menyiapkan air panas untuk mandi Mas Danu. Sambil menunggu air mendidih, aku mengajak Faris bermain di teras depan agar suaranya tidak meengganggu Mas Danu yang sedang istirahat.

Setengah jam kemudian aku masuk ke kamar untuk membangunkan Mas Danu. Namun aku tidak menemukan laki-laki tinggi semampai tersebut. Lalu aku menuju ke kamar mandi, siapa tahhu Mas Danu di sana. Namun di kamar mandi pun tidak ada.

“Mas, kamu dimana ?” Aku mencoba memanggil Mas Danu.

“Aku di sini, Dik. Di belakang rumah.” Terdengar suara Mas Danu dari halaman belakang.

Sambil menggendong Faris kuhampiri Mas Danu yang sedang duduk di pinggir kolam ikan.

“Ternyata Mas di sini, pantesan nggak ada di kamar”

“Mas mau mandi dulu, biar kusiapkan air panasnya” kataku sambil ikut duduk di sampingnya.

“Ndak usah, biar aku ambil sendiri nanti, kamu silakan kembali ke dalam” jawabnya masih dengan sikap datar.

Melihat sikap dingin Mas Danu, aku tidak mau berlama-lama di dekatnya. Aku kembali ke dalam rumah, meskipun pertanyaan – pertanyaan tadi masih mengganggu pikiranku.

Setelah makan malam, Mas Danu mengajakku bicara di ruang tamu. Faris telah tidur di kamar, jadi aku bisa menemani Mas Danu di depan.

“Mas mau aku buatkan kopi atau teh ?” tanyaku sebelum duduk di sampingnya.

“Ndak usah Dik, nanti saja Mas masih kenyang”

“Sini duduk di samping Mas, ada yang mau Mas omongin”

Aku tidak jadi melanjutkan langkahku ke dapur, dan langsung duduk di samping Mas Danu. Kuperhatikan sejak pulang kerja tadi, muka Mas Danu terlihat sangat kusut, sepertinya ia menyimpan beban yang sagat berat.

“Rara...” Mas Danu memanggil namaku dengan pelan sekali.

“Iya, Mas,” jawabku singkat.

Kudengar Mas Danu menarik nafas dengan sangat dalam dan menghembuskannya dengan sangat keras.

“Mas akan menceritakan sesuatu, tapi Mas mohon kamu jangan marah ya,” kata Mas Danu sambil menggenggam tanganku.

“Memangnya Mas mau cerita apa ?” tanyaku sambil menatap Mas Danu.

Manik mata kami saling beradu. Aku melihat duka yang sangat dalam dibening matanya. Aku semakin penasaran apa sebenarnya yang akan dikatakan Mas Danu.

Masih dengan menggengam tanganku, Mas Danu mulai bercerita.

“Kamu masih ingat Anita, kan ?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk. Tentu saja aku masih ingat, Anita kan anak satu - satunya Pak Brata, direktur utama di perusahaannya Mas Danu.

"Emangnya ada apa dengan Anita, Mas "

"Anita hamil, Ra" jawan Mas Danu sambil mengalihkan pandangannya.

"Hamil ? Bukannya Anita itu masih single ya Mas," tanyaku.

Mas Danu hanya mengangguk namun tetap mengalihkan pandangannya dariku.

"Mas, kamu kok diam sih, emangnya siapa yang menghamili Anita ?"

Bukannya menjawab pertanyaanku, Mas Danu malah membawaku ke dalam pelukannya. Namun kurasakan tubuh Mas Danu bergoncanng. Ternyata Mas Danu menangis.

"Loh, Mas kamu kenapa ? Kok malah nangis, emangnya ada masalah apa sih Mas?"

Lagi - lagi Mas Danu membawa aku ke dalam pelukannya. Aku berusaha melepaskan diri.

"Mas, kamu kenapa ?" Kesabaranku mulai habis.

"Jangan bilang kamu yang menghamili Anita, Mas" kataku lirih sambil melepaskan diri dari pelukannya.

"Mas, bukan kamu yang menghamili Anita kan ?" Mas Danu tetap diam.

"Aku mohon Mas, jawab aku!" kataku sambil mengguncang tubuh Mas Danu.

"Mas nggak tahu Dik," jawab Mas Danu kemudian.

"Nggak tahu ? maksudnya bagaimana Mas?" desakku.

"Mas nggak yakin apakah anak yang di kandungan Anita itu anak Mas atau bukan," jelas Mas Danu.

"Kalau memang Mas nggak berbuat, trus kenapa Mas tadi menangis dan terlihat begitu bingung ?" tanyaku.

"Tapi bukti - bukti mengarah kepada Mas, Dik"

"Bukti apa Mas ?" tanyaku dengan penuh kebingungan.

"Kamu masih ingat sebulan yang lalu, Mas menginap di luar kota saat perusahaan membuka cabang yang baru ?" Mas Danu mulai bercerita.

Aku menggangguk. Meskipun ada rasa perih yang bercampur rasa penasaran, aku tetap tenang. Aku tidak mau Mas Danu semakin tertekan.

Mas Danu kembali melanjutkan ceritanya. Malam itu, perusahaan merayakan pembukaan cabang dengan mengadakan pesta di hotel tempat mereka menginap. Mereka berpesta hingga larut malam. saat bangun pagi, Mas Danu sangat terkejut karena berada dalam satu kamar bersama Anita yang masih tergolek di sampingnya. Ia tidak tahu siapa yang membawanya ke kamar. Setelah meminum jus jeruk yang diberikan Pak Brata semalam, ia merasakan kantuk yang sangat berat. Namun ia masih samar-samar mendengar suara Anita, yang duduk di sampingnya.

Air mataku meluncur membasahi pipi. Hatiku hancur membayangkan suamiku pernah tidur seranjang dengan wanita lain.

"Maafkan Mas, dik Mas khilaf" ucap Mas Danu.

Kutepis tangan Mas Danu yang berusaha meraih tanganku. Hatiku benar-benar hancur. Kepingan-kepingan itu mulai berserak seiring dengan derasnya air mataku.

"Apa yang harus Mas lakukan, Dik ? Pak Brata meminta Mas untuk bertanggung jawab" lanjut Mas Danu sambil meremas rambutnya.

"Apakah Mas mencintai Anita ?" tanyaku sambil menatap manik matanya. Aku ingin melihat kejujuran di dalamnya.

Mas Danu hanya diam.

"Nikahi Anita dan tinggalku aku dan Faris" jawabku sambil berlari ke kamar.

"Tapi dik...." Mas Danu berusaha menahan langkahku. Namun kutepis dengan kasar.

Aku berlari menuju kamar, dan pintu langsung ku kunci. Mas Danu mengetuknya sambil memanggil namaku. Namun tak kuhiraukan. Hatiku terlanjur sakit mendengar pengakuannya tadi.

Tangisku kembali pecah, kudekap mulut agar tangisan ini tidak membangunkan putra semata wayangku yang sedang tidur pulas.

Aku hanya perempuan biasa Mas, aku belum siap untuk berbagi ranjang dengan wanita lain. Tapi teganya kau mengkhianati janji suci yang dulu kau ucapkan.

Mungkin ini jalan terbaik untuk kita. Namun kau jangan khawatir, Faris akan tetap memanggilmu ayah meskipun ia hanya bisa memandangi fotomu.

"Maaf, bisa lihat tiketnya Mbak" Kondektur bis membuyarkan lamunanku.

Hawa sejuk pegunungan mulai terasa saat bis memasuki gerbang kampung. Hamparan padi bak permadani hijau memanjakan mata di kanan dan kiri jalan. Bukit -bukit yang menjulang tinggi seolah menanti kedatanganku. Secercah sinar mentari sore yang menembus kaca memberikan kehangatan yang seakan membawaku ke sebuah tempat yang mampu menghalau semua gundah yang kurasakan.

Selamat tinggal Mas Danu, semoga kau bahagia dengan Anita. Tubuh mungil Faris yang terbungkus selimut berbulu halus kudekap dengan penuh cinta. Inilah buah cintaku bersama Mas Danu. (desifatma)








Quote:

emoticon-Cendol Gan
profile-picture
rohannarambe memberi reputasi
Ndak ada yg koment, tulisannya nggak menarik yaa....
emoticon-Matabelo
Diubah oleh desifatma77
kukasih cendol deh mbak
profile-picture
desifatma77 memberi reputasi
Quote:


Terima kasih cendolnya mbak emoticon-Cendol Gan
profile-picture
rohannarambe memberi reputasi
Happy ending...

emoticon-Malu
profile-picture
desifatma77 memberi reputasi
Quote:


emoticon-2 Jempol
next moga ada kelanjutanya gans
Sempet kesel sama sosok Rianti, dan dikehidupan nyata banyak sosok" Rianti berkeliaran 😂😅...
Pas baca ending nyess... Adem bahagia akhirnya arini bisa membungkam mulut jail Rianti 🤣🤣✊
bagus sist...👍👍
profile-picture
desifatma77 memberi reputasi
Quote:


Benar sist di luar sana banyak yang mulutnya ember kayak Rianti. terima kasih sudah mampir emoticon-Shakehand2emoticon-Peluk
Quote:


Alhamdulillah...terima kasih emoticon-Shakehand2

Keren

emoticon-Cendol Gan
profile-picture
desifatma77 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
Quote:


Terima kasih emoticon-Shakehand2
Quote:


kan udah happy ending gan....tapi kalau dilanjutin bagus juga ya.. yuk nyendol dulu gan.emoticon-Toast
Diubah oleh desifatma77


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di