CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e75906f5cf6c43b165dcf38/agan-sista-ingin-terbebas-dari-corona-lakukan-ini-no-hoaks

Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)



Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)


Siapa yang pernah berwudu dengan benar sesuai anjuran? Sesuai pelajaran yang ustad dan guru berikan. Kalau belum, silakan coba. Dijamin kuman dan virus hilang seketika. Tak percaya? Silakan buktikan.

Kalau membaca artikel dari laman liputan6.com (20/3/2020) dalam tajuk Google Doodle Tampilkan Ignaz Semmelweis, Si Penemu Manfaat Cuci Tangan yang Kontroversial. Diterangkan bahwa hari ini, Jumat (19/3/2020), menampilkan dokter asal Hongaria, Dr. Ignaz Semmelweis. Ia dikenal sebagai orang pertama yang menemukan manfaat medis dari cuci tangan.

Ketika itu pada 20 Maret 1847, Ignaz Semmelweis diangkat sebagai Chief Resident di klinik bersalin Rumah Sakit Umum Wina, di mana ia menyimpulkan dan membuktikan bahwa dokter harus mendisinfeksi tangan mereka secara menyeluruh untuk mengurangi penularan penyakit.

Gw jadi teringat sosok yang 14 tahun yang lalu telah memberikan pelajaran menyeluruh tentang bagaimana menjaga diri dari segala bentuk penyakit yang datang dari luar tubuh. Mungkin salah satunya adalah covid-19. Apa itu?

Dialah Muhammad SAW, Muhammad adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim. Muhammad memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan mewariskan pemerintahan tunggal Islam. Muhammad sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya. (Wikipedia)

Muhammad SAW yang lahir 22 April 571 dan wafat 8 Juni 632 telah memberikan tuntunan lengkap bagaimana mensucikan tubuh dari hadas besar dan hadas kecil.

Hadas besar artinya hadas yang harus disucikan dengan cara mandi. mandi yang dimaksud adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara tertentu untuk menghilangkan hadats besar.

Sementara hadas kecil yang dapat disucikan dengan cara berwudu atau tayamum. Kalau mencuci tangan saja sudah dianggap dapat mendisinfeksi tangan mereka secara menyeluruh untuk mengurangi penularan penyakit. Bagaimana halnya dengan mandi wajib dan wudu?

Marilah kita cermati tentang mencuci tangan dalam kaitannya dengan wudu. Yang pertama, dalam tatacara wudu yang sudah diajarkan secara turun temurun oleh para guru sesuai dengan tuntunan yang diberikan Muhammad SAW adalah sebagai berikut:

1. Persiapan sebelum berwudu
Quote:

Sebelum berwudu kita dianjurkan untuk mencuci bersih tangan dengan air yang suci lagi mensucikan. Artinya air yang kita gunakan adalah air yang bersih lagi suci. Maksudnya air yang belum terkontaminasi oleh apa pun.

Mencuci tangan sampai sebersih-bersihnya, karena tangan merupakan anggota tubuh yang paling digunakan untuk berinteraksi.

Setelah tangan bersih kemudian diminta untuk berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung secara bersamaan. Mengapa bersamaan?

Kalau tidak bersamaan, bisa saja kumat atau virus sementara berkumur-kumur ia masuk ke rongga hidung. Atau sebaliknya. Jadi ketika mulut dan lobang hidung dimasuki air secara bersamaan tak ada peluang untuk virus dan sebagainya bersimpan. Tak ada pilihan.

Memasukkan air ke lobang hidung bersamaan dengan berkumur-kumur dilakukan sebanyak tiga kali. Mengapa tiga kali?

Pada kumur-kumur pertama kali adalah mengeluarkan virus atau kuman yang bersarang di mulut dan lobang hidung. Jika masih ada sisa kemudian diulangi untuk yang kedua kali. Jika belum habis juga maka yang ke tiga dipastikan akan mengeluarkan semuanya.

Selesai berkumur-kumur bersamaan dengan memasukkan air ke lobang hidung seringkali yang bersangkutan akan bersin. Ini menandakan bahwa sisa kuman atau virus akan keluar dari lobang hidung dan mulut. Lalu kapan akan ada lagi kuman dan virus di lobang hidung dan mulut?

Ketika yang bersangkutan telah terjangkit virus atau kuman dalam tubuhnya maka diperlukan setidaknya beberapa waktu untuk kumanndan virus dari dalam tubuh memenuhi lobang hidung dan rongga mulut. Padahal wudu belum dimulai.

2. Wudu
Quote:

Ketika pertama kali wudu dilakukan anggota tubuh yang dicuci adalah wajah. Wajah merupakan anggota tubuh paling vital. Pada wajah ada mata, hidung, dan mulut, juga pada wajah bisa saja kuman dan virus merambat sebelum berikutnya masuk ke dalam hidung, mata dan mulut.

Pada saat mencuci wajah pertama maka air akan membasuh dan menggugurkan kuman atau viris yang menempel pada wajah. Jika belum bersih, ada cucian ke dua dan ke tiga. Dengan tiga kali cucian ke wajah juha dipastikan bahwa wajah akan bersih dari kuman dan virus.

Setelah mencuci wajah mungkin saja kuman dan virus yang dari tangan masih ada tersembunyi pada pergelangan tangan dan siku. Oleh karena itu selanjutnya pada wudu diminta untuk mencuci tangan hingga siku. Juga dilakukan tiga kali agar tangan dan siku benar-nenar bersoh dari kuman dan virus.

Mungkin saja kuman dan virus bersembunyi di rambut dan di daun telinga. Makanya pada saat wudu juga diminta membasuh kepala dam telinga agar kuman dan viris yang ada di kepala dam telinga lenyap bersama air wudu.

Dan yang terakhir, mungkin saja percikan air ke kaki akan menyebabkan kaki menjado sarang kuman dan virus selanjutnya. Maka pada wudu anggota tubuh yang terakhir dibasuh adalah kaki. Juga dilakukan tiga kali agar tidak ada kan dan virus bersembunyi di kaki.

Kalau semua sudah tercuci bersih, kira-kira adakah lagi tempat kuman dan virus tersembunyi? Kita tidak tahu dan tak bisa memastikan. Lalu apa yang harus dilakukan?

Nah, untuk sesuatu yang kita tidak tahu. Kita tidak kuasa menangkal yang tidak terlihat. Siapa lagi yang kita minta memberikan perlindungan kepada kita. Ketika kekuasaan tak lagi kita miliki, tentu saja kita berharap pada yang Maha Kuasa. Apa yang dilakukan?

3. Berdoa
Quote:

Penutu rangkaian wudu adalah berdoa, meminta disucikan dari segala yang terlihat dan dari yang tidak terlihat.

Bagaimana dengan cuci tangan? Kalau cuci tangan saja dianggap mampu menjadikan mendisinfeksi tangan mereka secara menyeluruh untuk mengurangi penularan penyakit apalagi dengan wudu.

Padahal Muhammad SAW telah mengajarkan bahwa manusia sebaiknya minimal wudu dilakukan sebanyak 5 kali selama satu hari satu malam. Artimya semakin sering wudu dilakukan akan semakin terbebas dari kuman dan penyakit yang bersarang.

Seperti yang disampaikan Gatot Nurmantyo dalam instagramnya bahwa ketika, "Di negeri asalnya covid-19-cina, yg penganut paham komunis dan sebagian besar tdk beragama beramai-ramai mendatangi Masjid dan Belajar Berwudhu hingga mengikuti Sholat Berjamaah," kata Gatot dalam instagramnya.

Bagaimana Gatot banyak dicemooh dan dibully? Tapi kalau kita cermati lagi apa yang disampaikan dan dikaitkan dengan pelajaran wudu yang telah disampaikan di atas bagaimana korelasinya. Pasti kita yang mampu mencerna dengan benar apa hikmah dibalik pelajaran wudu tersebut, yakin atau tidak, percaya atau tidak mungkin saja dalam hati akan mengakui bahwa wudu tidak hanya mencuci tangan.

Sementara mencuci tangan sangat disarankan untuk mencegah penyebaran kuman dan virus, termasuk covid-19 yang selama ini kita takuti. Mengapa sekali-sekali tidak kita coba melakukan tuntunan lengkap yang telah diajarkan oleh Muhammad SAW empatbelas abad yang silam.

Semoga dengan menjaga kebersihan tubuh dengan cara yang benar kuman dan virus tidak akan menyerang pada tubuh kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
"Hybrid Skill"


Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)

"Pak! Tolong, ini mengetik tanda bintang ini bagaimana caranya?" teriakan peserta didik.
"Ya Allah bocah, cah. Gitu ae gak bisa!" jawab gurunya.

Zaman melinial, ada anak SMP mau ikut UNBK masih bertanya, kalau mau mengetik tanda bintang pada pada keyboard komputer apa yang harus ditekan. Bagaimana mungkin? Tapi ada di sekolah kita.

Apa sebenarnya yang terjadi?

Gambaran percakapan di atas antar guru dan pengawas gladibersih UNBK 2020. Dalam kacamata normal, kira-kira gambaran peserta didik seperti itu bagaimana? Jelas dalam 6 tahun ketika berada di SD dan hampir 3 tahun di SMP mungkin tak pernah sekali pun duduk di depan komputer atau laptop. Kalau mencari tanda bintang saja pada keyboard tak ketemu. Bagaimana mungkin kita memastikan mereka kenal dan mahir dalam mengoperasikan komputer.

Hampir semua anak di Indonesia lekat dengan namanya gawai android. Dalam transaksi elektronik untuk mencek pulsa, mencek kuota internet, dan bentuk cek-cek lainnya menggunakan tanda bintang tersebut.

Padahal dengan mengetik Shif + 8 pada keyboard tertera tanda bintang. Walau tidak semua peserta didik tidak tahu. Tapi masih banyak yang bertanya pada teman-temannya.

Lenyapnya mata pelajaran TIK pada SMP makin menjauhkan apeserta didik dari praktik komputer. Mereka akan dapat ilmu dari mana soal komputer tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan masih kekehnya sekolah melarang peserta didik membawa gawai androidnya ke sekolah. Padahal fengan adanya android mereka dapat belajar dan menggali informasi dari laman-laman yang bertebaran diinternet dengan alasan disalahgunakan.

Tak akan mungkin peserta didik sekonyong-konyong langsung ahli IT jika tidak ada pembelajaran di sekolahnya. Sementara era digital semakin hari semekin melesat jauh meninggalkannya.

Jangankan peserta didiknya. Kalau mau jujur, para guru pun tak sedikit yang gagap masalah digital. Untuk membuat sebuah surat elektronik saja kadang membutuhkan bantuan orang lain. Apalagi berinteraksi secara digital dan mendalami IT.

Padahal era revolusi dari Industri 4.0 membuat teknologi digital bertumbuh pesat dan menciptakan kebutuhan untuk pekerjaan baru yang membutuhkan keahlian di bidang IT.

Seperti disampaikan Presiden Republik Indonesia Joko "Jokowi" Widodo (Jatim.indtime.com), meminta agar para guru dan dosen menciptakan metode pembelajaran baru. Hal ini bertujuan untuk mengejar kebutuhan di era digital yang semakin maju. Jokowi juga menyebutkan kemampuan baru yang harus dimiliki oleh anak didik yaitu hybrid skill.

Jokowi menyampaikan pesannya kepada para guru dan dosen saat menghadiri pengukuhan Guru Besar Kiai Asep Syaifuddin Chalim di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/2). Kesempatan itu juga dihadiri para guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). (Jatim.indtime.com, 29/2/2020)

Hybrid Skill, seperti apa sih?

Kompetensi hybrid yang dimaksud adalah kemampun teknis yang berkaitan erat dengan teknologi. Terutama komputerisasi dan digital.

Kemampuan teknis tak akan dapat diterima simsalabim. Diperlukan perangkat lunak yang menyertainya. Dan untuk peserta didik sebelumnya harus diawali dari guru sebagai ujung tombaknya. Begitu guru gagap digital, maka peserta didik pun terimbas.

Disamping kompetensi teknis yang dimaksud dalam hybrid skill maka kompetensi sosial yang perlu dikembangkan oleh peserta didik dengan cara keunggulan di bidang keriwausahaan. Peserta didik dibekali sedini mungkin tentang perlunya mandiri. Mampu bersaing secara sehat. Dan lagi-lagi pembelajaran kewirausahaan dimulai dari guru.

Jadi kunci agar para guru dan dosen menciptakan metode pembelajaran baru dan mengacu pada hybrid skill yang digadang akan mampu menciptakan lulusan yang mampu bersaing di era revolusi dari Industri 4.0 adalah perubahan kurikulum 13. Sudah selayaknya kementrian pendidikan melakukan penyempurnaan kur 13 kalau memungkinkan rombak total kur 13 yang ada.

Mengingat pada kur 13 tidak ada lagi mata pelajaran TIK bagi peserta didik. Yang ada adalah bimbingan personal dari guru TIK kepada guru dan peserta didik. Kondisi ini tidak menjamin keberlangsungan pembelajaran dan oengenalan TIK berjalan.

Tak sedikit di lapangan para guru TIK mengajar pada mata pelajaran lain. Sebagian ada yang ditugaskan untuk melakukan kegiatan sekolah yang belum menunjang adanya pemberdayaan digitalisasi baik pada guru maupun peserta didik.

Sehingga agar hybrid skill yang dicanangkan pak Jokowi dapat terlaksana salah satu kuncinya adalah perombakan kur 13. Pemberdayaan komputer yang digunakan ketika UNBK dikembalikan kepada guru TIK dengan segala eksesnya untuk membantu peserta didik mengenal dan mendalami TIK sesuai dengan jenjang pendidikannya.

Di samping itu, jaringan internet murah juga oerlu dipikirkan agar peserta didikndan guru serta masyarakat umum dapat menggunakan layanan internet untuk mengembangkan diri memenuhi hybrid skill sesuai dengan harapan kita semua.

Era revolusi dari Industri 4.0 sudah di depan mata, tergilas, tertinggal atau mampu mengikutinya tergantung daei seberapa komitnya pemerintah memberikan layanan pendidikan terkait hybrid skill dan pranata pendukungnya.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alizazet dan 2 lainnya memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Compassion, Kompetensi Tambahan dalam Kurikulum ala Nadiem, Yuk Kita Laksanakan

Bismillahirrahmanirrahim (kalimat basmallah). Dalam kalimat tersebut pembaca diperkenalkan dengan dua sifat Tuhan, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.
Manusia diminta untuk memiliki semangat kasih dan sayang.

Wahai guru se Indonesia, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Awaluddin Tjalla menyatakan akan menambahkan dua kompetensi tambahan pada kurikulum kita, yaitu computational thinking dan compassion.

Bagaimana? Siapkah, atau pensiun dini saja karena tak mampu mengimplementasikannya pada pembelajaran?

Oh, iya. Tak usah pesimis dahulu. Compassion memang sebuah istilah yang baru kita dengar dan masih asing di telinga kita. Apa sih compassion? Bagaimana mengimplementasikannya dalam pembelajaran?


Tenang saja, setiap ada penambahan muatan baru dalam kurikulum pasti akan ada pelatihan besar-besaran lagi. Jadi jangan khawatir. Kita pasti akan bertemu dan bertatap muka lagi dengan rekan sesama guru.

Seperti dilansir laman cnbcindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah Computational Thinking dan Compassion. (18 Februari 2020)

Baiklah, saya hanya coba buka arsip catatan lama tentang istilah compassion dalam pembelajaran. Semoga saja apa yang ada di kepala saya sesuai dengan makna Compassion yang dimaksudkan Pak Nadiem Makarim dan Pak Awaluddin Tjalla.

Menurut KBBI, Compassion artinya keharuan, perasaan kasihan/terharu, membangkitkan rasa kasihan. Dalam makna yang termasuk dalam istilah compassion adalah welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Pendidikan karakter telah memuat compassion sebenarnya. Masalahnya ada di mana?

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dijelaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat. Keberadaan UN dianggap jadi salah satu gagalnya pendidikan karakter di sekolah.

Sejalan dengan UU di atas, pengembangan pribadi harusnya menjadi prioritas utama. Dengan UN yang menentukan kelulusan dan tidaknya peserta didik membalik posisi bahwa tingkat kecerdasan menjadi sangat penting di antara segalanya.

Untuk memenuhi nilai yang tinggi, akhirnya seluruh upaya berfokus pada nilai. Sebuah angka yang harus diraih oleh peserta didik. Makanya tidak mengherankan ketika sekolah dan orangtua memberikan bimbingan belajar untuk peserta didiknya.

Banyak kepala sekolah yang bangga ketika sekolahnya mendapatkan nilai tertinggi ujian nasional, meskipun sikapnya dalam sosial buruk.

Kondisi ini diperparah dengan respons masyarakat yang menganggap, bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang dapat menghasilkan nilai ujian nasional tinggi. Padahal, obsesi seperti itu menguras banyak energi, biaya, dan waktu.

Buruknya, obsesi tersebut terkadang mengorbankan kejujuran. Pelaku pendidikan rela melakukan apa pun agar siswanya lulus dengan nilai baik. Akhirnya, berbagai potensi anak tidak diurus, sebab semua proses pembelajaran hanya fokus pada beberapa mata pelajaran ujian nasional saja.

Ketika UN tidak ada lagi, tidak ada salahnya jika meninjau kembali fondasi pendidikan di negeri ini yang masih berorientasi pada penalaran matematis. Bukankah tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia, yang tidak lain adalah manusia beradab?

Sebuah cerita singkat dari sesepuh suku Badui, mengapa suku Badui tak mau menyekolahkan anaknya. Katanya, mengapa anaknya harus sekolah. Dijawab, anak sekolah biar pintar. Sesepuh suku Badui menjawab, Kami tidak mau menyekolahkan anak kami. Kami tidak ingin anak kami pintar, tapi kami ingin anak kami baik.

Jawaban singkat dari sesepuh Badui dalam kisah singkat di atas sangat sederhana, tetapi menjadi kritik bagi dunia pendidikan kita. Substansi dari jawaban tersebut adalah mengharapkan output pendidikan adalah manusia yang beradab.

Untuk menciptakan manusia beradab, maka diperlukan seperangkat nilai yang harus dijadikan dasar, yakni compassion.

1. Mengembangkan Kebersamaan
Untuk mengembangkan rasa welas asih dan empati (rasa kasihan) dimulai dari membangun kebersamaan. Dengan model pembelajaran berkelompok, rasa kebersamaan dapat dibangun dengan kesadaran. Yang lebih mengerti memberikan bantuan temanya menyelesaikan pelajaran yang sedang dihadapi.

Pujian guru tidak lagi kepada peserta didik yang mendapatkan nilai terbaik, namun lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Ketika ada peserta didik yang dengan sabar membantu masalah temannya yang mengalami kesulitan belajar harus mendapatkan pujian lebih besar.

Posisi tempat duduk menghadap ke depan menandakan peserta didik harus berjuang sendiri dalam memahami pelajaran. Kerja kelompok jarang menjadi ukuran. Pujian lebih sering diberikan kepada seorang peserta didik yang mampu menjawab soal.

Proses belajar seperti ini menegasikan individu lainnya. Peserta didik yang pintar semakin sombong, sementara yang tidak mampu menjawab soal semakin terpuruk. Mereka dianggap tidak berarti di kelas. Akhirnya rasa kebersamaan perlahan pudar.

2. Rasa Persahabatan
Kita sebagai guru dan orangtua jarang memantau tingkat sosialisasi peserta didik. Menanyakan berapa jumlah teman, siapa saja temannya di sekolah, rumah temannya di mana, dan sebagainya.

Orangtua lebih sering menanyakan bagaimana ujian di sekolah, ada PR atau tidak, dapat peringkat berapa. Kalau nilai anak jelek, orangtua segera mengundang guru privat. Seolah-olah sekolah hanya perkara nilai, bukan persahabatan.

Dengan menekankan bahwa nilai sebuah persahabatan itu sangat penting kepada peserta didik dalam pembelajaran. Membantu teman yang mengalami kesulitan belajar dan membantunya juga menumbuhkan rasa persahabatan di antara peserta didik.

Penilaian dari guru terkait masalah persahabatan dapat berupa penilaian oleh sesama peserta didik. Dengan menanyakan berapa teman yang disukai, apa saja yang menyebabkan mereka disukai, dan sebagainya mampu menumbuhkan rasa persahabatan sesama peserta didik. Orientasi nilai prestasi menjadi nomor dua setelah rasa persahabatan.

3. Menumbuhkan Kepedulian
Kepedulian terhadap orang lain menjadi hal penting membantu pertumbuhan kepribadian peserta didik. Dua fondasi kepedulian dalam konsepsi compassion adalah simpati dan empati. Proses pembelajaran juga harus memberikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan rasa simpati dan empati terhadap orang lain.

Hal sederhana dapat diawali membiasakan mendoakan teman sekelas yang mendapatkan musibah. Mengajak siswa menengok teman sekelas yang sakit. Mengumpulkan sumbangan bagi teman atau kerabat dari teman yang terkena musibah.

Sebenarnya, banyak model untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati tersebut. Mungkin yang paling berkesan ketika memberikan hadiah sepatu kepada teman sekelas yang sepatunya rusak atau tidak layak.

Memberikan hadiah baju seragam, buku tulis, pulpen, dan barang-barang lain yang berharga bagi membantu teman sekelasnya yang mengalami kesusahan

Menurut penelitian Stephen Post dalam bukunya Why Good Things Happen to the Good People, remaja yang sering berbagi sesuatu dengan temannya akan berkurang tingkat stress dalam proses belajar.

Sekolah harus yakin bahwa nilai bukan ukuran segala-galanya dalam menilai kesuksesan peserta didik. Terlalu banyak potensi peserta didik yang dikesampingkan jika nilai menjadi parameter keberhasilan.

Semoga compassion dapat teraplikasi pada pembelajaran di dalam kelas. Dengan kesadaran penuh bahwa compassoin teramat penting menjadikan peserta didik menjadi orang baik seperti peringatan yang disampaikan sesepuh suku Badui tadi. Semoga.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
alizazet dan kelayan00 memberi reputasi
Diubah oleh Surobledhek746
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)


Compassion Dimulai dari Mana?

Ketika kedua orangtua bekerja di luar rumah. Sebagian besar bayi ditinggalkan di jasa penitipan bayi, atau pengasuh bayi. Sampai usia Paud, mereka cepat-cepat dimasukkan ke sekolah Paud, lalu TK, SD, SMP, dan seterusnya.

Mampukah kita orangtua menjamin, bahwa mereka ketika berada di tempat penitipan tersebut mendapatkan pembelajaran perilaku sesuai yang kita inginkan? Yang jelas prasangka baik terhadap mereka yang kita titipi anak tersebut. Namun cukupkah hanya dengan prasangka baik?

Ketika dalam asuhan pengasuh bayi, benarkah pembelajaran perilaku diberikan kepadanya? Mulai dari cara makan, cara minum, cara berbicara, cara sopan santun lainnya.

Atau ketika di sekolah Paud, lalu TK, SD, SMP, dan seterusnya terjaminkah bahwa teman-temannya menjadi pendukung bagi berkembangnya perilaku mulai? Dari sekian banyak teman yang bergaul dengannya, satu di antara sekian teman barangkali ada yang kebetulan berperilaku kurang terpuji. Dan pengaruh jelek biasanya akan lebih cepat diserap dan diikuti.

Sekian banyak pertanyaan dan prasangka kemudian menjadi pikiran bagi sebagian orangtua. Tak sedikit yang cuek bebek. Yang penting sekolah, yang penting cepat besar, lulus sekolah, bekerja, menikah dan pisah dari orangtua.

Bagaimana kontrol perilaku mereka?

Sementara ketika kedua orangtua bekerja di instansi pemerintah (PNS), pinger print teng, akan dimulai pukul delapan, dan pulang pukul empat sore. waktu tempuh diperjalanan sekian menit atau sekian jam. Kalau kota besar, terhalang macet. Hingga akhirnya sampai di rumah, sudah senja.

Persiapan mandi dan lain-lain sambil istirahat dan normal kembali nimimal 1 jam berikutnya. Tinggal kita hitung berapa waktu tersisa untuk keluarga di rumah. Termasuk anak di antaranya.

Dengan begitu, interaksi dengan keluarga menjadi berkurang. Kemudian keluarlah istilah, "Yang penting dalam komunikasi adalah kualitas dan bukan durasi." Bisa benar, bisa juga tidak.

Jika hanya menanyakan hal-hal tertentu bisa memerlukan waktu yang relatif singkat. Atau ketika jelang waktu makan malam, semua anggota keluarga berkumpul. Ada komunikasi yang terbangun. Seberapa lama waktu makan dibutuhkan? Anggaplah satu jam. Nah, dalam satu jam itulah komunikasi yang katanya kulitasnya harus baik.

Dalam waktu satu jam itu, sambil makan pula. Cukupkah untuk mengamati dan memberikan atau diskusi tentang perilaku? Kita semua bisa membayangkan atau mengalaminya mungkin.

Selesai makan, masing-masing sudah kembali ke aktifitas seperti biasa. Bapaknya kalau ada lembur pekerjaan kantor yang dibawa pulang akan melanjutkan bekerja. Demikian juga ibu. Sementara anak-anak juga ada yang belajar, ada yang mainana gawai. Hingga akhirnya masuk kamar dan tidur.

Begitu pagi, masing-masing orang berburu dengan waktu mempersiapkan segala sesuatunya agar tak ketinggaln atau terlambat. Mungkin sarapan pagi sudah jarang dilakukan bersama.

Demikian seterusnya, lalu datang akhir pekan. Masing-masing punya acara sendiri-sendiri. Ibu dengan kesibukannya mempersiapkan kebutuhan untuk satu minggu ke depan. Beres-beres rumah. Bapaknya istirahat total, atau mengejar hobi untuk rekreasi.

Sementara anak-anak sudah punya acara sendiri dengan teman-temannya.

Tak terasa, kita semakin tua, anak-anak menjadi dewasa. Perilaku mereka bagaimana? Tak sempat terpikirkan. Yang penting tak melakukan kejahatan. Titik.

Akhirnya jangan heran ketika kita sudah beranjak tua. Tinggal hanya berdua, suami istri. Anak-anak sudah tinggal sendiri dengan keluarganya. Mengikuti rutinitas yang kita ajarkan hingga mereka dewasa. Sebagian mereka lupa pada kita.

Mereka mengakui dan berterima kasih telah mengasuh dan mendidik mereka. Kadang ketika lebaran atau natalan setahun sekali berkumpul. Berkangen-kangen ria. Setelahnya? Kembali lagi dengan rutinitas seperti biasa. Sementara pada hari-hari biasa, kita jarang berkomunikasi dengan anak-anak kita.

Makanya banyak kita temukan, terutama di negara maju dan modern, kita orangtua dikembalikan seperti pembelajaran kita ketika mereka kecil. Ditipkan! Panti-panti jompo bertebaran. Para perawat dibayar dengan uang.

Lalu kemana kasih sayang, welas asih, empati, kasihan/terharu? Entahlah. Karena yang anak kita kenalkan adalah seperti itu. Jadi itulah yang mereka ketahui.

Makanya pernah pak Mendikbud mengemukakan tentang dosa pendidikan. Salah satunya adalah mengembalikan pendidikan pada jati dirinya. Yaitu compassion. Dimulai dari penghapusan UN. Karena ketika UN masih menjadikan acuan kelulusan, maka pendidikan hanya dinilai dengan angka. Perilaku menjadi tidak berarti apa-apa.

Dalam kesempatan lain beliau juga pernah mengemukakan tentang Compasion dan Computational Thinking. Untuk pembenahan perilaku menggunakan Compassion, sementara untuk peningkatan kecerdasan menggunakan Computational Thinking.

Seperti dilansir laman cnbcindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah Computational Thinking dan Compassion. (18 Februari 2020)

Pada kesempatan ini, kita hanya bahas salah satunya saja yaitu Compassion.

Menurut KBBI, Compassion artinya keharuan, perasaan kasihan/terharu, membangkitkan rasa kasihan. Dalam makna yang termasuk dalam istilah compassion adalah welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Cerita di atas adalah cerita hidup dalam kondisi normal. Walau pun kadang cerita berbeda dengan kondisi nyata. Ada yang lebih baik, tapi tak sedikit yang lebih buruk.

Lantas sebaiknya bagaimana?

Compassion adalah naluri manusia. Ketika lahir mereka dibekali dengan compassion dalam dirinya. Dalam islam disebut fitrah manusia. Lingkungan kemudian yang jadi pengaruh perubahan pertama kali. Setelah itu dibentuk kembali oleh pendidkan.

Nah, peran penjagaan, pemeliharaan terletak pada keluarga. Oleh karenanya Compassion harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sejak dini jika bisa. Peran penting ibu sebagai perawat dan pemelihara bayi hingga besar menjadi tiang utama. Berikutnya ayah, saudara, keluarga dekat, lingkungan sekitar, dan pendidikan (sekolah).

Pembiasaan Compassion di dalam rumah dimulai dari hal yang paling sederhana. Peran orangtua jelas adalah pemberi contoh teladan.

Misalnya ketika berpapasan dengan anak memberikan senyuman, berkata lembut dan penuh kasih sayang, berempati ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit. Kebiasaan, saling menyalahkan. Dan ini akan berakibat buruk bagi perkembangan perilaku anak.

Banyak sekali contoh-contoh Compassion yang dapat dibiasakan di dalam rumah. Yang jelas, pembiasaan merupakan yang terpenting. Dalam kondisi apa pun, jangan meninggalkan Compassion di dalam rumah.

Dengan begitu lambat laun Compassion tertanam dalam diri anak dan membekas hingga mereka dewasa.

Orangtua tak pernah berharap meminta balasan atas jerih payah yang diberikan, tetapi tak ingin juga ketika kita tua merana ditinggalkan anak-anak kita.



Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
alizazet dan kelayan00 memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)



Generasi Milenial di Era Revolusi Indsutri 4.0 Sebagian Besar Termarginalkan

Generasi era 4.0 harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Revolusi Industri, serba mesin, serba otomatis. Lalu generasi milenial berada di mana?

E Banking, e money, belanja online, dst menyisakan sedikit lapangan kerja buat mereka. Apalagi pertumbuhan media online begitu pesat. Sektor industri serba otomatis. Memerlukan sangat sedikit operator.

Sementara implementasi Industri 4.0 di Indonesia yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, dan kimia. Dipastikan dari ke lima komponen tersebut telah menggunakan robot atau cyber physical system (sistem siber-fisik), Internet untuk Segala (IoT), komputasi awan (cloud), dan komputasi kognitif.

Perlahan tapi pasti generasi milenial sebagian besar akan tersingkir dari dunia kerja. Kalau hanya tenaga kerja yang andal serta keterampilan khusus untuk penguasaan teknologi terkini barangkali akan diisi oleh mereka yang memiliki peluang yang besar menyelesaikan study hingga perguruan tinggi.

Sementara generasi milenial lulusan SMA dan SMK atau sederajat akan semakin jauh tertinggal dalam persaingan. Akan dikemakan mereka. Mustahil negara membiarkan sekian banyak lulusan tersebut menjadi pengangguran atau tinggal di rumah berpangku tangan pada orang tua. Suatu saat mereka harus menjadi orang tua dan menggantinan generasi terdahulu.

Ketika pemerintah mencoba mencarikan solusi berupa peningkatan kapasitas pekerja milenial itu yang akan diwujudkan melalui pelatihan, kursus dan sertifikasi. Kurikulum SMA dan SMK yang ada telah memebuhi belum?

Diharapkan industri dan institusi pendidikan mulai peduli pada isu tentang peningkatan kapasitas pekerja di era Industri 4.0 ini. Sedangkan pendidikan terkait erat dengan kurikulum dan tenaga pengajar.

Mungkin kita tidak akan menyanksikandengan kualitas dosen yang ada di perguruan tinggi. Para dosen mau tidak mau menjadi motor penggerak perubahan pada mahasiswanya agar melek IT. Namun bagaimana dengan guru di SMA dan SMK atau sederajat. Sebuah masalah baru akan muncul.

Mereka yang jauh dari akses lengkap, seperti di desa misalnya. Mereka juga generasi milenial anak bangsa. Pengembangan kompetensinya berjalan pasti terseok-seok. Sementara laju perubahan revolusi industri 4.0 melsat jauh meninggalkan mereka.

Di samping itu tidak semua lulusan SMA mampu dengan keterbatasan ekonomi keluarga melanjutkan ke perguruan tinggi.

Oleh karena itu, saat ini sebenarnya di samping mendorong generadi milenial, pemerintah juga perlu mencarikan solusi bagi generasi mileniar yang termaginalkan ini. Insentif berupa dukungan kebijakan dan reward berupa penyediaan lapangan kerja yang memadai bagi mereka.

Bagiamana pun juga generasi milenial yang tersebar di pelosok negeri adalah anak bangsa yang perlu dijaga dan dilindungi hak bekerjanya.






Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
alizazet dan kelayan00 memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)



Bagi yang Masih Bandel Belum Meliburkan Sekolahnya Dapat Sanksi Apa, Pak Nadiem?

Libur 14 hari telah ditetapkan dalam rangka cegah tangkal penyebarang covid-19. Pelajar dan mahasiswa diliburkan. Namun ada saja Dinas, Kepala Sekolah yang meminta guru dan staf masih wajib hadir ke sekolah seperti biasa. Bukankah dengan kerumunan guru dan staf di sekolah membuka peluang penyebaran covid-19?

Menindak lanjuti hal tersebut, seperti di lansir laman jpnn.com dalam tajuk Instruksi Tegas Mendikbud: Guru dan Pengajar Tidak Usah ke Sekolah. (20/3/2020) Memastikan bahwa tidak ada lagi sekolah yang mewajibkan guru dan sfat untuk hadir ke sekolah.

Mulanya pingerprint tetap berlaku, kemudian karena covid-19 mereka tetap dimintakan hador dengan menandatangani absen manual. Tetap saka bagi guru dan staf yang disiplin mentaati perintah atasan mereka tetap datang ke sekolah meskipun dalam keadaan was-was.

Masih dari laman jpnn.com, "Guru dan dosen di wilayah terdampak Covid-19 sebaiknya tidak pergi ke sekolah atau kampus sementara waktu ini. Saya mendengar banyak tenaga pengajar baik negeri maupun swasta yang masih beraktivitas normal. Saya tekankan, aktivitas bekerja, mengajar atau memberi kuliah bisa tetap dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan teknologi," tegas Mendikbud Nadiem di Jakarta, Jumat (20/3).

Instruksinya jelas, sesuai Surat Edaran MenpanRB Nomor 19 Tahun 2020 tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Instansi Pemerintah dapat menjalankan tugas kedinasan dengan bekerja di rumah/tempat tinggal.

Jadi jika masih ada sekolah yang memaksa guru dan staf untuk hadir ke sekolah seperti biasa apa sanksi yang diberikan pada mereka?

Sebagai guru dan staf tentu tak akan dapat berbuat banyak ketika ada perintah langsung dari kepala sekolah. Ketika kepala sekolah ditanya, mengapa masih hadir juga padahal siswanya sudah libur?

Jawabnya adalah karena Kepala Dinas yang meminta, sementara ketika kepala dinas ditanya mengapa masih belum memberikan edaran agar guru dan staf bekerja dari rumah saja. Alasannya sama, karena bupati belum memberikan perintahnya.

Apakah pernyataan Daniem Makarim ini akan dilaksanakan oleh semua sekolah yang ada di Indonesia? Kita lihat nanti hari senin esok (23/3/2020). Jika ternyata masih ada guru dan staf yang diminta tetap hadir pada mereka akan diberikan sanksi apa?

Dari beberapa teman yang saya tanya, ternyata esok senin basih ada beberapa SMA di Provinsi Kalimantan Selatan yang masih meminta siswa hadir ke sekolah.

Untuk memastikan libur atau tidaknya mereka masih menunggu edaran dari Disdik Provkalsel. Apakah edaran yang disampaikan oleh kementrian kurang kuat hingga masih menanti edaran dari Disdik Provinsi. Nyatanya esok pagi siswa dan guru masih hadir seperti biasa.

Jadi esok pagi senin, 23 Maret 2020 seluruh SMA yang ada di Provinsi Kalimantan selatan masih meminta guru, staf, dan siswa untuk hadir seperti biasa.

Namun berita terakhir yang dirilis kanalkalimantan.com menyebutkan, Dalam press conference yang digelar pada Sabtu (21/3/2020) sore, di Mahligai Pancasila Banjarmasin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalsel HM Yusuf Effendi mengatakan, sebagai tindak lanjut peningkatan status ini, jajarannya berkoordinasi dengan seluruh Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) di Provinsi Kalsel baik jenjang SMA maupun SMK.

Terhitung Senin (23/3/2020) nanti, semua satuan pendidikan di bawah pembinaan Disdikbud Provinsi Kalsel akan meniadakan aktivitas pembelajaran di sekolah. Sebagai gantinya, pembelajaran dilakukan di rumah siswa saja.


Dalam pesan berantai lewat WA, Baru saja (Sabtu 21 Mrt pukul 13.05) sy ditelp Kadisdik. Beliau menginformasikan bahwa
1. Gubernur meningkatkan status Kalsel dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat
2. Siswa belajar di rumah terhitung mulai Senin 23 Mrt untuk 14 hari ke depan
3. Kegiatan ujin Sekolah maupun Ujian Nasional akan dijadwalkan lagi melihat situasi
4. Surat edaran dari Disdik SEGERA menyusul.

Karena beritanya datang pada hari ini (minggu, 22 Maret 2020) tidak ada peluang bagi sekolah untuk menyampaikan pada guru, staf dan siswa untuk libur. Jadi akhirnya tetap saja senin ini semuanya hadir ke sekolah seperti biasa. Sebagian ada yang sudah menjadwalkan akan melaksanakan peringatan isra' mikraj di sekolahnya esok.

Bagaimana ini? Karena sudah terlanjur, tinggal berdoa saja semoga sehari esok tak menambah kian banyaknya penyebaran covid-19 pada guru, staf, dan siswa, khususnya di wilayah Kalsel. Semoga.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
alizazet dan kelayan00 memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Pak Jokowi, Tolong Alat Pelindung Diri (APD) Disediakan bagi Seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Segera?

Kabar duka menyelimuti seluruh hati rakyat Indonesia. Mereka yang berjasa telah bekerja keras melawan covid-19 dengan menangani pasien yang terserang covid-19 akhirnya meninggal dunia.

Mereka adalah Hadio Ali Khazatsin, Djoko Judodjoko, Adi Mirsa Putra, yang telah menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan di rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Seperti dilansir republika.co.id, Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membenarkan tiga dokter mengembuskan napas terakhir akibat terserang virus novel corona (Covid-19) usai menangani pasien yang positif terinfeksi virus itu. Karena itu, IDI meminta kebutuhan alat pelindung diri (APD) segera dipenuhi.

"Iya benar, tiga dokter yang meninggal dunia yaitu dokter spesialis saraf Hadio Ali Khazatsin, spesialis bedah Djoko Judodjoko, dan spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) Adi Mirsa Putra," ujar Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (23/3).

Keselamatan diri lebih penting daripada menyelamatkan orang lain. Sehingga standar minimal dalam prosesur perawatan dan perawatnya layak mendapat perhatian serius.

Berdekatan dan melalukan kontak langsung sebagai petugas kesehatan terhadap pasien yang terpapar covid-19 sangat riskan. Jika alat pelindung diri (APD) tidak memadai, adakah petugas kesehatan lainnya bersedia melakukan tindakan terhadap pasien covid-19?

Saat ini sudah bukan waktunya lagi saling menyalahkan dan saling mencari kambing hitam sebelum korban-korban lain berjatuhan satu persatu menjadi pahlawan kesehatan.

Bagaimana kita pasien covid-19 datang ke puskesmas untuk melakukan perawatan, tentu saja petugas puskesmas yang sedang jaga seharusnya sudah dilengkapi dengan APD yang memadai. Karena setiap anggota masyarakat yang mengalami keluhan tidak mungkin sekonyong-konyong datang ke rumah sakit.

Prosedur pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berjenjang. Puskesmas dan puskesmas pembantu adalah garda terdepan dalam layanan kesehatan. Sebelum mendapat rujukan dari dokter puskesmas biasanya pasien tidak akan dapat dibawa ke rumah sakit.

Tinggal kita menghitung, berapa puskesmas yang ada di Indonesia, berapa APD yang dibutuhkan setiap puskesmas? Selayaknya sebanyak itulah yang perlu dipersiapkan oleh pemerintah, terutama Departemen Kesehatan RI.

Pak Jokowi, tolong instruksikan agar Menteri Kesehatan melakukan tindakan segera terkait APD bagi petugas kesehatan yang ada di puskesmas, puskesmas pembantu, dan rumah sakit.

Dengan kejadian wafatnya tiga orang dokter terbaik yang menjadi pahlawan covid-19 petugas kesehatan di puskesmas dan puskesmas pembantu pasti akan mengalami trauma yang mendalam. Jiwa mereka akan terancam jika APD tidak segera didatangkan dam mampu melindungi mereka.

Tentu saja kita pasti tidak ingin ada petugas kesehatan yang melarikan diri atau menghindari melakukan perawatan ketika ada pasien covid-19 yang meminta layanan kesehatan.

Oleh karena itu, pembagian APD bagi petugas kesehatan di seluruh puskesmas, puskesmas pembantu dan rumah sakit wajib hukumnya untuk diberikan segera. Jangan berharap petugas kesehatan kreatif lagi dengan menggunakan jas hujan dan sejenisnya untuk digunakan sebagai APD karena ketiadaan APD yang standar.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
profile-picture
alizazet dan kelayan00 memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Kalau Menlu Minta WNI di Luar Negeri Segera Pulang, Laksanakan!

Entah apa yang dipikirkan, ketika begitu banyak orang terpapar covid-19 karena telah melakukan perjalanan ke luar negeri, malah ada WNI yang sengaja berangkat meninggalkan negeri ini. Dengan alasan yang beragam, seperti pelesiran atau urusan bisnis di luar negeri.

Selayaknya jika Kemenlu telah memerintahkan agar mereka segera pulang artinya ada sesuatu yang genting yang akan terjadi. Apa itu?

Negara lain sebagian besar telah mulai akan melakukan lockdown. Ketika itu terjadi, maka WNI dipastikan tidak bisa meninggalkan negeri di mana saat ini mereka berada.

Dengan alasan kekhawatiran dari Kemenlu maka mereka segera kembali ke tanah air. Seperti dilansir laman sosok.grid.id, "Karena mereka akan berpotensi mengalami stranded (telantar), karena banyak negara yang menerapkan lockdown," kata Tueku Faizasyah, Pelaksana Tugas Juru Bicara Kemlu.

Ketika permintaan ini tak dihiruakan oleh WNI yang saat ini berada di luar negeri memungkinkan nantinya akan menciptakan masalah baru bagi negera.

Masih dari laman sosok.grid.id menyebutkan bahwa para WNA yang hendak di Indonesia masih diperbolehkan asal tetap mengurus dokumen perjalanan masing-masing di perwakilan Indonesia di negaranya.

"Kami juga tidak melarang WNA, namun mekanisme masuk ke Indonesia, ini yang kita berikan semacam penyesuaian. Dengan demikian harus melalui proses pengajuan visa kembali," kata Faizasyah.

Pernyataan Kemenlu bukan bermaksud Indonesia meberapkan lockdown, namun demi kebaikan bersama sebaiknya permintaan ini diserpon dan dilaksanakan segera.

Pengalaman telah membuktikan bahwa WNI yang menjadi pasien zero adalah mereka yang baru datang dari luar negeri. Jadi jangan sampai WNI yang saat ini dari luar negeri juga menjadi carier bagi covid-19 di negeri ini.

Dengan kesadaran penuh diharapkan kegiatan yang di lakukan di luar negeri segera diselesaikan dan kembali ke tanah air sebelum batas yang diminta 20 Maret 2020. Mungkin saja ada batas toleransi. Namun intinya Kemenlu meminta demi keselamatan WNI di luar negeri dan tidak terlantar nantinya.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
alizazet memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)



Layanan Hotline, 199 Ext 9 Seperti Apa Menggunakannya?

Sebagaian besar masyarakat baru mengenal 199 Ext 9 ketika pandemi corona sampai di indonesia. Dalam informasi yang disampaikan, jika ada warga masyarakat yang mengalami gejala terpapar covid-19

Ada pun gejala awal serangan covid-19 adalah seperti ada gejala demam (>38 derajat celcius), pilek, batuk, sesak napas maka bisa hubungi 119 EXT 9 atau periksakan diri ke rumah sakit rujukan covid-19 di daerah. Dan bila tidak, Anda tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit.

Permasalahannya 199 Ext 9, mengetikanya bagaimana? Di Hp kita tidak ada Ext-nya.

Nah, pembaca cara menggunakan Ext kita harus memahami apa itu 199 Ext 9. Nomor 199 adalah kontak darurat yang disediakan layanan informasi seluler. Bila mengalami keadaan darurat kita bisa mengetik 199 untuk meminta bantuan petugas layanan darurat. Melakukan panggilan ini tidak bisa dilakukan main-main.

Sementara Ext 9 adalah layanan darurat khusus yang menangani masalah darurat berkaitan dengan covid-19.

Kontak 199 adalah kontak utama layanan darurat. Ext artinya extention. Sedangkan 9 adalah untuk bagian yang menangani covid-19. Ketika akan menggunakan 199 Ext 9 di Hp kita bisa diketik 199*9.

Jika kita ingin mengetahui perkembangan dan update covid-19, Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB telah membuat chatbot akan menjawab pesan kita secara otomatis.

Dalam Chatbot tersebut kota dapat mengetahui, kabar Covid-19 terkini di Indonesia, sebenarnya apa sih Covid-19 itu, apa saja gejala Covid-19, bagaimana cara melindungi diri, bagaimana cara melindungi orang lain, menggunakan masker perlu gak sih, dan rumah Sakit Rujukan Covid-19.

Ketika kita menulis pesan apa pun akan direspon maksimal dalam waktu 10 menit. Jadi tinggal kita tunggu saja, chatbot akan memberikan pertanyaan tentang point yang kita tanyakan.

Di samping itu dengan layanan hotline, penelepon akan ditanya apakah pernah ada riwayat ke luar negeri atau ke luar kota. Selain itu ditanyakan pula jika pernah berkontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Petugas lantas akan memberikan saran sesuai dengan kondisi pasien. Untuk pemeriksaan, penelepon akan diminta untuk datang ke puskesmas atau RSUD terdekat. Lalu petugas memberikan nomor telepon puskemas dan RSUD yang dekat dengan daerah tempat tinggal penelepon.

Jadi bagi seluruh masyarakat yang ada di Indonesai mengenali gejala covid-19 dan mengetahui rumah sakit mana yang harus dituju di daerahnya sangat penting. Seperti sedia payung sebelum hujan. Semoga kita semua terhindar dari covid-19.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
alizazet memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Ternyata Menyusun Fuzzle Solusi Bosan Pengisi Liburan

Libur 14 hari dalam rangka cegah tangkal covid-19 mungkin saja mengakibatkan kebosanan pada anak. Biasanya hari-hari sejak senin hingga sabtu belajar di sekolah. Bermain bersama teman-temannya.

Tiba-tiba saja harus terkurung dalam rumah. Beruntung jika memiliki saudara atau tetangga dengan usia yang sama. Bisa bermain bersama. Kalau sendirian? Hanya ibu seharian yang jadi teman, peluang bosan pasti ada di dalam hatinya.

Bapak/ibu orang tua, salah satu permainan di luar gawai yang dapat dilakukan untuk mengusir kebosanan anak salah satunya adalah bermain fuzzle. Bermain fuzzle di luar game fuzzle yang ada dalam gawai sangat bermanfaat proses belajar anak di rumah selama libur.

Puzzle adalah mainan menyusun gambar, gambar diacak terlebih dahulu. Sehingga anak mencoba menyusunnya di dalam bingkai dengan menghubungkan potongan-potongan kecil sehingga menjadi gambar utuh.

Dengan bernain fuzzle anak secara tidak langsung akan belajar. Pada saat bermain fuzzle merka bisa melatih konsentrasi, ketelitian dan kesabaran. Sebagian besar anak pada saat pertama kali memulai kurang tertarik. Oleh karena itu peran ibu/bapak memandu. Dimulai dengan memberikan jenis fuzzle yang paling sederhana.

Semakin keterampilan bertambah, ketika konsentrasi, ketelitian, dan kesabarannya bertambah dan telah mampu menyelesaikan fuzzle sederhanya, ketertarikan untuk menyelesaikan fuzzle denga tingkat kerumitan yang bertambah sangat diminati oleh anak.

Demikian juga ketika bermain fuzzle anak akan melatih koordinasi mata dan tangan. Kadang instruksi antara tangan dan mata berbeda. Maunya mata menyusun ini, ternyata tangan memegang benda yang lain. Dengan bermain fuzzle anak akan terbiasa melakukan koordinasi antara mata dan tangan.

Tingkat usia dan keterampilan anak seiring dengan tingkat kesulitan fuzzle yang disusun. Pada tingkatan tertentu anak akan terbiasa melatih logika. Mencocokkan pola gambar dan potongan fuzzle mampi meningkatkan logika anak terhadap bentuk dan gambar secara bersamaan.

Biasanya sebelum menyusun fuzzle dilakukan diberikan dahulu hasil gambar jika susunan fuzzle benar. Setelah itu dipisahkan/dihamburkan. Nah, ketika dilakukan penyusunan ulang akan memperkuat daya ingat anak. Mengait-ngaitkan bentuk gambar satu dengan gambar lain yang bersisian akan sangat membantu daya ingat anak.

Dengan bermain fuzzle jua anak akan terbiasa mengenali hubungan gambar yang satu dengan gambar yang lain. Kebiasaan ini mampu melatih anak dalam mengenali konsep hubungan tanpa disadarinya. Kemampuan mengenali konsep hubungan sangat berguna dalam memecahkan masalah yang akan dihadapinya di masa yang akan datang.

Yang paling terpenting dari bermain fuzzle adalah kemampuan anak dalam memilih/gambar dan bentuk. Kemampuan ini akan membantu anak dalam berfikir matematis. Berfikir secara terpola, terstruktur dengan cermat. Padahal hanya sambil bermain semuanya konsep pendidikan berjalan dalam suasana gembira pada anak kita.

Jadi bermain fuzzle tidak hanya menjadikan pengisi waktu mengurangi kebosanan anak ketika liburan. Bermain fuzzle juga sebuah sarana proses pendidikan dalam bentuk permainan. Ternyata belajar tidak saja hanya berupa membaca buku dan menyelesaikan matematika. Dengan fuzzle pun belajar di rumah dapat terlaksana.

Bapak/ibu orang tua, mau pilih yang mana? Ada fuzzle konstruksi, batang, lantai, angka, transportasi, logika, geometri, penjumlahan dan pengurangan, atau lainnya. Terserah mana yang Bapak/ibu inginkan untuk anaknya. Semuanya bermanfaat untuk anak.

Nah, Bapak/ibu orang tua sudah punya fuzzle untuk anaknya di rumah? Kalau belum, ayo buruan cari di market atau beli lewat online sebelum harganya naik seperti masker. He he.

Jika Bapak/ibu lagi bete, Bapak/ibu pun bisa mengisinya dengan bermain fuzzle. Tentunya tingkat kesulitannya pasti disesuaikan dengan kemampuan Bapak/ibu. Silakan, selamat mencoba.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
alizazet memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Corona Oh Corona, Kesadaran Kita Hilang Entah Ke mana

Hari-hari kita dengar pemberitaan tentang corona. Status media sosial isinya corona. Saran, anjuran, sampai pada instruksi untuk tanggap dan berhati-hati dengan corona. Jangan panik, dan tetap tinggal di rumah serta menjaga kesehatan.

Yang terjadi malah sebaliknya. Sekolah diliburkan. Siswa disuruh belajar di rumah. Masih ada Dinas Pendidikan, dan kepala sekolah yang mewajibkan guru dan staf turun seperti biasa. Bekerja di kantor menyelesaikan administrasi.

Siswa diminta berada di rumah. Orang tua jika tak menjadi tulang punggung keluarga mencari nafkah jangan bepergian dan memenuhi kerumunan. Malah banyak yang jalan-jalan. Libur dijadikan kesempatan untuk pelesiran. Tak mengindahkan instruksi dan anjuran.

Bukankah penyebaran corona bisa lewat mana saja. Di mana saja. Dan kapan saja. Pun begitu kita tidak dibenarkan panik. Juga tidak dianjurkan untuk menganggap remeh.

Anjuran, instruksi, dan pemberitaannya lengkap. Mulai dari gejala awal terpapar, ke mana harus meminta pertolongan, meminta perawatan, dan sebagainya.

Lucunya masyarakat kita seperti tak peduli. Penyebaran corona dianggap hoaks belaka, malah menjadi candaan dalam sekian banyak bayolan.

Bukan itu saja, seperti merasa pintar sendiri. Bayangkan, penderita corona harusnya memakai masker. Ini malah yang tidak terpapar yang memakai masker. Sementara yang sakit yang memakai masker. Logika terbaik.

Ketika ada yang sakit corona bukan ditolongi, malah jadi tontonan. Lucu sekaligus menghkawatirkan. Kebiasaan hampir sebagian besar masyarakat kita.

Saya pernah hampir menangis ketika mendengar percakapan mereka. "Kalau sudah waktunya sakit, pasti akan sakit. Kalau waktunya mati, pasti akan mati. Biar bukan corona juga sakit. Biar bukan corona juga mati."

Bagaimana mungkin cuek bebek seperti itu. Bukan soal sakit dan matinya. Tapi sebagai penderita, peluang menularkan pada orang sekitarnya itulah yang harusnya kita khawatirkan. Seandainya tidak menular. Mau sakit, silakan sakit sendiri. Mau mati monggo mati sendiri. Tapi ini corona, ia menular.

Yang paling membuat geram adalah ketika ada yang sengaja menantang, "Biarlah saya saja yang kena corona, enak mati segera daripada susahnya mencari pekerjaan begini." Sebuah kekonyolan yang mengerikan.

Kasihan petugas kesehatan, ADP masih belum merata di beberapa puskesmas di selurih Indonesia. Bayangkan jika di tempat itu ada penderita corona kritis. Apa mungkin mereka tidak ditangani? Naluri petugas kesehatan pasti tak akan mungkin membiarkan. Sementar petugas kesehatanlah yang paling rentan terpapar corona.

Kita tentu masih ingat tentang tiga dokter yang berjuang melawan corona. Mereka adalah Hadio Ali Khazatsin, Djoko Judodjoko, Adi Mirsa Putra, yang telah menghembuskan napas terakhirnya setelah menjalani perawatan di rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Maka dari itu, untuk menjaga dan mencegah penyebaran corona lebih masif mari kita gugah kesadaran bersama dengan saling mengingatkan pada orang disekitar kita. Corona bukan penyakit menakutkan, namun menyerahkan diri untuk terpapar adalah tindakan konyol yang mengorbankan diri dan orang lain.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
profile-picture
alizazet memberi reputasi
Menyimak Surat dari Suster Nini Ladza dari Italia

Menyimak surat dari Suster Nini Ladza, seorang biarawati katolik asal Plores, NTT yang bertigas di Italia seperti dirilis laman realitarakyat.com (21/3/2020)

Surat ini mengingatkan kita terutama masyarakat Indonesia untuk tidak mengabaikan himbauan terkait ancaman penyebaran virus corona (Covid-19) yang kini merenggut ribuan nyawa di seantero dunia.

Pada intinya Sr. Nini Ladza meminta masyarakat Indonesia mentaati seruan dari pemerintah. Jika diminta untuk tetap tinggal di rumah maka jangan pergi ke tempat-tempat ramai.

Jika harus keluar rumah karena kondisi mendesak agar dangat hati-hati dan menghindari kontak dengan jarak minimal 1 meter.

Dalam suratnya Sr. Nini Ladza menyampaikan bahwa Italia kini harus membalas “kebandelan” mereka dengan ribuan korban jiwa. Setiap hari harus mendengar ratusan ambulance.

Benar saja kekhawatiran Sr. Nini Ladza, karena di Italia korban meninggal karena virus Corona (COVID-19) bertambah 651 pasien. Jumlah tersebut menambah total kematian akibat Corona sebanyak 5.476 orang.

Kita semua patut menjadikan "kebandelan" orang Italia yang kurang mengindahkan dan menganggap remeh seruan pemerintah.

Seperti halnya sebagian besar masyarakat di Indonesia begitu mengabaikan seruan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Jangankan masyarakat umum, Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel saja setelah Nadiem Makarim menginstruksikan agar guru, staf dan siswa libur selama 14 masih saja meminta agar hanya siswa yang diliburkan. Sementara guru dan staf tetap hadir seperti biasa.

Sementara itu siswa dan guru di Madrasah di bawah departemen agama masih saja hingga hari ini (23/3/2020) belum meliburkan kegiatan sekolahnya.

Apalagi masyarakat awam, mereka yang berada di luar kotamadya sungguh masih banyak yang "masa bodoh" terhadap seruan yang diberikan melalui informasi di televisi, media sosial dan lainnya.

"Kebandelan" jenis beginilah yang langaung tidak langsung membuat kekhawatiran tersendiri. Tak ada tanda-tanda dari sebagian besar masyarakatnya untuk kuatir dengan adanya covid-19. Mereka sebagian besar beranggapan bahwa adanya covid-19 hanya bagi mereka yang pernah bepergian ke luar negeri.

Informasi tentang menjaga jarak, menghindari kontak dengan orang lain sementara ini yang beredar lewat media sosial dan grup-grup WA malah hanya dianggap sebagai hoaks untuk menakut-nakuti.

Kita semua pasti tak ingin ada orang-orang di sekitar kita yang terpapar covid-19, apalagi sampai meninggal dunia. Semoga jangan.

Oleh karena itu, marilah pelajaran dari Italia ini kita jadikan pelajaran untuk semua. Dengan cara memberikan pengertian dan membangkitkan kesadaran tentang pentingnya cegah tanggal covid-19 dengan social distancing yang dianjutkan pemerintah.

Sr. Nini Ladza adalah orang yang langsung menghadapi kejadian di sekitarnya. Oleh karena itu, menyimak dan mencermati isi suratnya tentang kekhawatirannya pada masyarakat seluruh Indonesia patut kita hargai dan kita laksanakan dengan kesadaran yang mendalam.
profile-picture
alizazet memberi reputasi
Penyemprotan Disinfektan di Tempat Umum? (dr. Rebriarina Hapsari Menjelaskan)

Instruksi yang dilakukan pejabat daerah untuk menyemprot disinfektan di tempat umum membingungkan. Bukankah covid-19 ditularkan lewat orang yang terpapar? Lalu apa hubungannya dengan penyemprotan tempat-tempat umum dengan disinfektan?

Seperti yang dilansin laman tribunnews.com dalam tajuk berjudul Kepada Ganjar Pranowo, Dokter Ini Sebut Penyemprotan Disinfektan Cegah Covid-19 Justru Berbahaya.

Dinyatakan bahwa, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klilin FK Undip Semarang, dr. Rebriarina Hapsari menyebutkan yang paling penting untuk dilakukan pengelapan atau penyemprotan adalah tempat-tempat yang terduga pernah disinggahi penderita terpapar covid-19.

Kalau penyemprotan dilakukan di tempat yang di wilayah itu tidak ada penderitanya pasti akan mubazir. Seperti yang dilakukan Tri Risma Harini yang turun langsung melakukan penyemprotan.

Demikian juga yang saya dengar tadi pagi ada pengumuman dari corong masjid di daerah saya akan melakukan penyemprotan. Padahal hingga saat ini belum terdengar kabar ada warga yang terpapar covid-19.

Menurut Hepi, panggilan akrab dr. Rebriarina Hapsari penyemprotan akan lebih efisien jika dilakukan pada tempat-tempat yang berpeleluang pernah dipegang oleh penderita covid-19. Karena sejatinya pengelapan atau penyemprotan adalah merusak struktur covid-19.

Apalagi jika penyemprotan di lakukan pada permukaan benda-benda yang orang normal saja tidak bersentuhan dengan benda tersebut. Banyak yang melalukan penyemprotan dinding-dinding bangunan dan sela-selanya. Kalau penyemprotan tersebut untuk membunuh nyamuk demam berdarah wajar. Mungkin saja di sudut-sudut ruang tersebut nyamuk sembunyi.

Kesalahan pemahaman demikian sebenarnya layak diluruskan. Penyemprotan di gagang pintu fasilitas umum, tempat duduk yang ada di kereta api, ekskalator mall, dan tempat-tempat umum yang biasa digunakan berinteraksi mereka yang berpeluang terpapar covid-19.

Selanjutnya Hepi menilai tidak semua tempat perlu adanya penyemprotan. "Untuk penyemprotan di tempat umum menurut saya sebenarnya tidak diperlukan, karena yang lebih efektif justru permukaan-permukaan yang mungkin sempat terkena virus, contohnya di bus kota, " ujar Hepi saat diwawancarai oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang diunggah di kanal Youtube, Ganjar Pranowo, Minggu (22/3/2020).

Jadi terkait usaha penyemprotan disinfektan yang dilakukan di tempat umum akan membahayakan kesehatan. Orang yang terhirup disinfektan ter sebut juga akan mempengaruhi paru-paru dan mengakibatkan luka di paru-paru.

Mungkin saja pengalaman atas flu burung yang menjangkit lewat burung, jadi masih memungkinkan dilakukan penyemprotan pada tempat-tempat dan fasilitas umum. Namun untuk covid-19 tidak ditularkan oleh burung.

Yang terpenting adalah bahwa penyemprotan dilakukan pada tempat di daerah yang telah terindikasi ada penderita yang terpapar covid-19. Sementara di mana daerah tersebut belum terindikasi terpapar covid-19 menjaga warga yang datang dari luar daerahlah yang teramat penting. Meminta agar warga jangan memanfaatkan waktu libur untuk ke luar daerah.

Berada di rumah, kecuali terpaksa, menjauhi kerumunan dan selalu membersihkan diri, mencuci tangan dengan hand sanitizer lebih efisien dalam rangka cegah tangkal covid-19.

Penyemprotan pada tempat umum yang permukaannya tidak pernah dikontaki oleh penderita covid-19 tidak perlu dilakukan.
profile-picture
alizazet memberi reputasi
waoowww artikel beruntun
mau stop apa ditambah lagi ini?

btw artikelnya bagus bagus kenapa gak di buat per trit saja?
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)


Kita Juga Bisa Saling Bantu

Saya paling suka melihat film Dewa Judi yang perankan oleh Chow Yun Fat, mulai dari Good Gembler, Chow Yun Fat sebagai Ko Chun si Dewa Judi, Andy Lau dan Joey Wang meraih sukses besar padah tahun 1989, yang sampai kini tetap asyik dinikmati lewat tayangan youtube.

God of Gamblers II (1990) adalah film yang dibintangi oleh Andy Lau sebagai Little Knife, Stephen Chow sebagai Saint of Gamblers, dan Ng Man-Tat sebagai Blackie Tat.

Kemudian Good of Gambler Return (1994), Film itu dibintangi oleh Chow Yun-fat, Tony Leung Ka-fai, Sharla Cheung, Charles Heung, Jacklyn Wu, dan Chingmy Yau, juga meraih sukses besar mengulang sukses sebelumnya. Dan terakhir God of Gamblers 3: The Early Stage (1997) dibintangi oleh Leon Lai, Anita Yuen, Jordan Chan, Gigi Leung dan Francis Ng.

Ke empat film tersebut bercerita tentang suka duka gambler yang terjadi di alam maya. Filimnya masih banyak penikmatnya di laman youtube. Dalam skenario surtadara. Lika liku dunia gambler yang digambarkan dalam sebuah film berbalut komedi. Walau begitu tetap nikmat untuk disaksikan hingga kini.

Kita tidak sedang mengajarkan atau merekomendasikan pembaca untuk bermain judi. Namun seorang John Juanda, asal Medan ini adalah penjudi sesungguhnya.

Seperti dirilis, pop.grid.id, John Juanda mengakui jika semua kemenangannya di turnamen poker seluruh dunia tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Karena itu pula, sebagai bentuk terima kasih, dia berencana menyediakan perawatan medis gratis bagi masyarakat saat dirinya pensiun bermain poker nanti. Rencananya, uang yang didapatkan bisa membantu sesama umat manusia yang membutuhkan bantuannya terutama soal pengobatan gratis. (24/3/2020)

Masih dalam pop.grid.id, dalam tajuk 5 Kali Menang Poker Senilai Rp 28 Miliar, Raja Judi Indonesia Ini Bawa Uang Kemenangannya untuk Bantu Sesama Umat Hingga Sediakan Perawatan Medis Gratis untuk Masyarakat. Menggugah pada kita semua, terutama para hartawan yang memiliki kelebihan harta kekayaan yang mungkin tak akan habis dimakan tujuh turunan berpikir seperti John Juanda.

Rasanya kita tak perlu memberikan penilaian negatif atas apa yang telah dilakukan hingga mampu mengumpulkan uang sedemikian banyak. Di samping itu tak perlu juga menelisisk lebih jauh kehidupan pribadi yang bersangkutan. Yang jelas, niatnya untuk membantu pengobatan gratis patut kita apresiasi.

Seperti halnya Sandiaga Uno yang bersedia membantu kebutuhan keluarga yang terdampak covid-19. Seperti dirilis laman detik.com dalam tajuk Top! Sandiaga Mau Tanggung Biaya Hidup Keluarga Pasien Corona. (23/3/2020) Kepedulian orang kaya yang ikut dalam mengatasi masalah seperti yang kita hadapi saat ini, sungguh patut dipuji dan setidaknya kita mencoba mengikuti apa yang dilakukan sesuai kemampun.

Kita juga tidak sedang membandingkan John Juanda dengan Sandiaga Uno soal uang yang didapat dari mana. Kita hanya menyandingkannya karena memiliki niatan dan usaha yang sama untuk membantu kesulitan orang lain.

Pandemi covid-19 datang tidak seperti keberuntungan atau ketidakberuntungan gambler. Pokoknya jika penderita covid-19 melakukan kontak fisik pada orang lain, maka orang tersebut akan terjangkit. Tinggal daya fisiknya kuat melawan covid-19 atau tidak.

Kita juga tidak mengetahui kapan berakhirnya. Tidak juga bisa diramalkan seperti gambler. Untung-untungan. Hanya saja menurut ustad Abdul Somad seperti dilansir hotgrid.id (23/3/2020) dalam tajuk berjudul Bongkar Teka-teki Wabah Virus Corona, Ustaz Abdul Somad Jelaskan Awal Mula Hingga Kapan Akan Berakhirnya, Kapan?

Ustad Abdul Somad menjelaskan sesuai Ustaz Abdul Somad mengungkapkan wabah virus corona akan segera berakhir di pertengahan tahun 2020. Keyakinan Ustaz Abdul Somad (UAS) terkait berakhirnya wabah virus corona pada 21 Juni 2020 lantaran telah tertuang dalam sebuah hadist. Pernyataan Ustaz Abdul Somad terkait berakhirnya wabah virus corona pada 21 Juni dibagikannya di akun Instagram pribadinya. (Hot.grid.id, 21/3/2020)

Kita boleh percaya, boleh juga meragukannya. Namun kalau kita hitung, bulan Juni masih tiga bulan lagi. Kebijakan Physical distancing atau apa pun namanya memaksa kita semua sedikit mungkin melakukan aktifitas di luar rumah.

Artinya masyarakat awam, yang tidak memiliki penghasilan bulanan akan mengalami kesulitan mendapatkan penghasilan. Jika mereka tidak keluar rumah dan bekerja, penghasilan mereka dari mana? Jangan-jangan tak ada simpanan sedikit pun untuk bertahan selama sekian hari. Apalagi sekian bulan. Dan setiap hari butuh makan.

Kekhawatiran ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tidak berpunya. Yang berkecukupan pun akan memikirkan bagaimana barang-barang kebutuhan yang ada di pasar. Apakah masih tersedia atau tidak. Kalau tersedia, berapa harganya. Mungkinkah ada yang nekad mengambil kesenpatan menimbun barang untuk mengeruk keuntungan.

Bagi mereka yang tidak berpunya, apa yang terpikir di benak mereka. Untuk makan esok apa jika tidak bekerja. Menantang covid-19 atau merelakan diri untuk terpapar juga bukan merupakan tindakan terpuji. Tidak hanya yang bersangkutan yang merasakan. Tapi mungkin saja seluruh anggota keluarga akan tertular.

Ketika menjadi pasein covid-19, bahkan petugas kesehatan pun mendapat kesulitan. Banyak sekali kaitannya dengan orang di sekitaran dan kehidupan yang terpangaruh. Tidak seperti gambler memang. Ada hitungan matematis yang harus kita perhitungkan. Segala kemungkinan dan peluangnya dapat diprediski dan dicermati.

Apa yang harus kita lakukan?

Tidak usah menjadi gambler John Juanda atau sekaya Sandiaga Uno untuk membantu tetangga. Kalau bukan tetangga membantu tetangga lainnya. Siapa lagi?

Jadi marilah mulai saat ini kita perhitungkan pendapatan dan pengeluaran kita. Jika masih tersisa kelebihannya, mulailah menghitung berapa uang atau barang kebutuhan pokok yang dapat kita donasikan membantu tetangga atau keluarga kita yang membutuhkan.

Kita galang dengan teman-teman seprofesi untuk menyisihkan kelebihan penghasilannya dalam bentuk urunan kemudian kita belikan bahan kebutuhan pokok sehari-hari.

Memberikan pekerjaan pada mereka tang membutuhkan pekerjaan selama masa physical distancing. Sekecil apa pun bantuan yang kita berikan akan sangat membantu mereka yang membutuhkan. Sambil kita menjaga kesehatan diri masing-masing dan berdoa semoga covid-19 di lingkungan kita dapat kita atasi bersama.

Sudah bukan waktunya lagi semua berharap pada pemerintah. Keterbatasan yang dimiliki pemerintah dapat kita atasi bersama dengan bergandengan tangan saling memberikan bantuan dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.



Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)

Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)


Prof Bambang Sutrisna, Meninggalnya Menyisakan Duka dan Pelajaran bagi Kita Semua

Prof Dr dr Bambang Sutrisna, MHSc adalah salah satu putra terbaik bangsa. Kita patut menundukkan kepala atas kepergian beliau.

Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Dr dr Bambang Sutrisna, MHSc, meninggal dunia di RS Persahabatan, Jakarta Timur, Senin, 23 Maret 2020, pagi. (Tagar.id, 23/3/2020)

Bagaimana perjuangan seorang tenaga kesehatan profesional pun tak mampu melawan keganasan corona. Bukan karena beliau tak menjaga kesehatan. Justru karena ada pasien corona yang harus ditanganilah yang menyebabkan beliau terpapar.

Sang anak, Leonita Triwachyuni, putri Prof Dr dr Bambang Sutrisna, MHSc, seperti dituliskan di laman tagar.id meminta dalam status instagramnya agar mengingat dan memperhatikan, bahwa ketika kita minta tinggal di rumah, jangan dianggap candaan. Dan benar-benar harus diperhatikan dan ditaati.

Begitu juga ketika menjadi pasien positif corona, jangan berusaha meninggalkan isolasi. Melarikan diri. Ketika itu dilakukan maka akan mengakibatkan kesulitan bagi orang lain. Kejadian yang menimpa Prof Dr dr Bambang Sutrisna, MHSc adalah karena pasien yang melarikan diri dari perawatan rumah sakit. Begitu sudah parah, beliau memberikan perawatan karena alasan profesionalitas dan rasa kemanusiaan.

Derita sebagai pasien corona yang diceritakan Leonita, patut kita cermati baik-baik dan dijadikan pelajaran agar kesiapsiagaan, dan taat anjuran benar-benar harus dilaksanakan.

Bagaimana rasanya ketika dalam ruang isolasi, meregang nyawa sendiri, tak ada yang menemani, perawat tak berani masuk, keluarga tak diizinkan menjenguk, dan kesedihan-kesedihan lain yang menjadikan pelajaran. Sungguh pelajaran yang sangat berharga buat kita semua yang membaca.

Bersyukur atas kesehatan yang hingga saat ini masih kita rasakan. Bisa berkumpul dan bercanda bersama keluarga adalah kebahagiaan yang tak terkira. Alangkah nikmatnya ketika sehat.

Sekali lagi, anjuran di rumah saja harus hadi prioritas utama. Untuk kita semua, beritahu keluarga, handai tolan, dan tetangga terdekat kita yang bisa dihubungi lewat apa pun juga. Menjaga diri jangan sampai terpapar corona dapat kita lakukan bersama.

Berkeliaran dan jalan-jalan di keramaian adalah tindakan sembrono, tidak hanya buat dirinya, tapinjuga buat orang-orang yang ada disekitarnya.

Bagi pihak terkait yang memiliki kewenangan untuk membubarkan kerumuman, jangan segan-segan menegur dan memberi peringatan kepada mereka yang masih berkeliaran dan melakukan kerumuman di mana pun mereka berada. Menjaga sekehatan adalah yang utama. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Apalagi corona.

Kalau anjuran MUI, salat berjamaah saja sebaiknya dilakukan di rumah, padahal hal itu wajib hukumnya. Demikian juga salat jumat yang ditiadakan dan mengganti dengan salat zuhur, maka alangkah naifnya jika masih mengabaikan seruan untuk tinggal di rumah diabaikan.

Dengan rasa hormat, dan turut berbelasungkawa pada sekian dokter yang telah berjuang menyelamatkan pasien corona, dengan ini saya berdoa semoga amal ibadah dan kebaikannya diterima oleh yang Maha Kuasa.

Demikian juga pada petugas kesehatan yang sedang bekerja, utamakan keselamatan individu, APD yang standar jangan lupa menjadi seragam sehari-hari. Petugas kesehatan, anda adalah pahlawan corona, jangan gentar dan jangan sedih. Doa kami semua rakyat Indonesia menyertai tugas-tugas anda.

Semoga kita semua diberikan kesehatan dan teelindung dari segala marabahaya, termasuk virus corona. Aamin.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Diubah oleh Surobledhek746
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)

Perawat Covid-19 Terusir dari Tempat Kosnya, Miris!

Standar pelayanan di rumah sakit memang telah teruji. Para perawat menggunakan APD sesuai peraturan. Tapi nyatanya banyak dari mereka yang terusir dari tempat kosnya setelah masyarakat mengetahui bahwa perawat tersebut bekerja menangani pasien corona.

Masyarakat memang berhak melakukan apa saja. Tapi tak sebegitunya juga hingga mengusirnya dari kos-kosannya.

Seperti dilansir laman detik.com dengan tajuk, Perawat Pasien Corona Diusir dari Kos, RS Rujukan Diminta Sediakan Rumah Singgah, bukan tentang rumah singgahnya. Perasaan tersisih dari lingkungan masyarakat inilah yang selayaknya kita jaga.

Bayangkan saja, sementara kita nikmat tidur nyenyak di rumah masing-masing, para perawat ini bertugas selama 14 hari tanpa henti, kemudian mereka diobservasi 14 hari dengan cara diistirahatkan, untuk mengantisipasi dan mendeteksi perkembangan tubuhnya.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia mendorong pihak manajemen rumah-rumah sakit rujukan pasien Corona (COVID-19) untuk menyediakan rumah singgah bagi tenaga medisnya. Hal ini disampaikan menyikapi adanya tenaga medis yang mendapat stigma di lingkungan tempat tinggalnya.

Sudah selayaknya peran serta masyarakat memberikan dukungan moral bagi kerja mereka. Bukan malah menyisihkan dari lingkungannya.

Disadari atau tidak, pada perawat ini adalah pahlawan di garda terdepan yang melalukan perawatan pasien positif corona.

Masih diberitakan laman detik.com, bahwa sebelumnya perawat pasien Corona (COVID-19) di RS Persahabatan mendapat stigma di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka dianggap pembawa virus sehingga terpaksa harus tinggal di rumah sakit karena diminta meninggalkan kamar kosannya.

Rumah singgah bagi perawat yang telah bertugas di RS Persahabatan ini memang layak dicarikan solusi segera. Kita tentu saja tidak ingin para perawat ini kemudian karena desakan stigma negatif menjadikan mereka berhenti dan tak mau lagi menangani pasien positif corona. Pasti pihak rumah sakit akan kesulitan mencarikan penggantinya.

Bagaimana pun, para perawat yang bertugas itu adalah manusia. Mereka punya rasa takut dan khawatir seperti kita. Mereka juga punya perasaan tersisih dan terbuang. Pun demikian keluhuran dan ketulusan akan pengabdian yang dijunjung tinggi oleh mereka patut kita semua apresiasi.

Tentu saja dengan tetap mengedepankan azas kesehatan dan keselamatan semua pihak, masyarakat di lingkungannya dan diri perawat sendiri di mana pun mereka berada, seyogianya jangan sampai mereka menjadi korban stigma.

Padahal kita tahu, para perawat selain yang bekerja di RS Persahabatan ini masih banyak perawat yang bertugas di rumah sakit dan perawat di seluruh Indonesia.

Marilah kita berikan dukungan moral yang pantas, mereka layak mendapat gelar pahlawan covid-19. Karena ditangan merekalah pasien corona mendapatkan perawatan.

Terkahir, bagaimana rasanya jika pada saat meregang nyawa, tak satu pun ada perawat dan petugas kesehatan yang memberikan perawatan pada kita. Pasti kesadaran kita akan penghormatan pada perawat layak kita bangkitkan lagi demi menjaga semangat para perawat menghadapi pasien positif corona.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)




Solusi Belajar Di Rumah dengan Meaningfull Learning

Sebagai guru, saya memberikan pembelajaran jarak jauh merupakan hal baru. Apalagi dengan kondisi yang kita semua sedang mengalami sedikit tekanan dengan adanya covid-29 ini.

Dalam keadaan tergesa-gesa, tiba-tiba saja libur 14 hari pasti siapa pun gurunya akan gelabakan. Persiapan belum lengkap, siswa sudah libur. Senada dengan itu, siswa dan orang tua juga mengalami nasib yang sama.

Meskipun sebagian besar siswa telah mengenal android dalam pembelajaran, namun menggunakannya secara serius sebagai sarana utama pembelajaran diperlukan adaptasi yang cepat.

Penggunaan aplikasi pembelajaran online, baik google classroom, maupun aplikasi Kihajar, Rumah belajar, dan lainnya tetap saja diperlukan adaptasi pengenalan oleh guru dan siswa.

Di samping itu diperlukan pengeluaran ekstra baik guru dan siswa berupa kuota internet untuk melakukan proses belajar mengajar berlangsung.

Siswa, guru, dan orang tua patut bernapas lega. Pembelajaran di rumah menjadi solusi bagi siswa dalam antisipasi penyebaran virus corona.

Seperti di lansir cnbcindonesia.con, Surat Edaran bernomor 4 tahun 2020 yang diteken Nadiem Makarim pada 24 Maret 2020. Surat Edaran ini berisi tentang bagaimana memprioritaskan kesehatan para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah, termasuk keputusan pemerintah membatalkan ujian nasional (UN) 2020.

Dalam surat edaran tersebut memuat setidaknya 6 point meliputi : UN 2020 yang dibatalkan, proses belajar mengajar di rumah, ujian sekolah, kenaikan kelas, penerimaan peserta didik baru, dana BOS.

Terkait proses belajar mengajar di rumah, pak Nadiem menekankan perlunya pembelajaran bermakna atau Meaningfull Learning.

Meaningfull Learning, bukanlah istilah baru pada teori pembelajaran yang ada. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya.

David Ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seorang.

Lantas apa yang dilakukan guru?
Mengingat pembelajaran yang diberikan merupakan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Maka sesuai dengan surat edaran pak Menteri siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun keluiusan.

Maka guru benar-benar merdeka mengembangkan sikap dan minat belajar serta potensi dasar siswa. Selanjutnya materi pelajaran diprioritaskan sebagai bagian dari alat yang dibutuhkan dalam kehidupan anak.

Di samping itu diperlukan kreatifitas guru yang maksimal menciptakan aktivitas langsung dan bersifat bermain yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk bermain dan bekerjasama dengan orang lain.

Agar lebih memacu motivasi siswa hendaknya mareti pelajaran bersifat konkret dan mengutamakan perilaku siswa yang relevan dengan melibatkan sejumlah alat penilaian.

Ada pun tugas yang dikumpulkan sesuai arahan Pak Nadiem tergantung situasi dan kondisi daerah masing-masing. Jika sarana dan prasarana pendukungnya lengkap maka full daring bisa berlaku bagi selurih siswa. Kalau pun tidak memungkinkan dapat dilakukan dengan modifikasi sesuai kondisi yang ada.

Yang terakhir, keamanan dan kesehatan para siswa, guru, dan seluruh warga sekolah harus menjadi prioritas utama. Kita semua tak menginginkan pengumpulan siswa pada suatu tenpat menjadikan peluang terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)





Merawat Pasien Corona tapi Mereka Dikucilkan

Mendengar dan membaca peristiwa yang menimpa para perawat yang melakukan tugasnya manangani pasien corona sungguh membuat kita mengelus dada.

Mereka yang siang malam berjuang mempertaruhkan keselamatannya demi pasien positf corona malah mendapat perlakuan tidak sedap dari lingkungannya.

Dengan alasan takut terpapar, dengan alasan jadi sebab penular akhirnya nasib miris menimpa para perawat tersebut. Dari tempat kos mereka terusir. Dari lingkungan masyarakat mereka terkucil.

Kalau bukan mereka, pata perawat ini siapa lagi yang mau berkorban? Ketika pasien dikatakan positif kemudian diisolasi. Bahkan anggota keluarga pun tak boleh mendekat. Apalagi ikut merawat.

Curhatan putri almarhum prof. Bambang Sutrisna telah memberikan pembelajaran pada kita semua. Ketika pasien meregang nyawa. Tak ada anggota keluarga yang menemani. Hanya menengok lewat jendela kaca.

Dalam jarak jangkauan yang terbatas pula. Harusnya apresiasi kita berikan sepenuhnya pada para perawat yang bertugas menangani pasien positif corona.

Demikian juga pelajaran yang diberikan dari meninggalnya almarhum prof. Iwan Dwiprahasto yang harus melakukan pemakaman secara live mengingat kekhawatiran dan antisipasi agar tidak tertular virus corona telah mengingatkan betapa betat tugas dan pengorbanan yang diemban oleh para perawat kesehatan ini.

Kita bisa membayangkan ketika salah seorang anggota keluarga kita yang kebetulan terpapar virus corona, dan para perawat tersebut tak mau melakukan tugasnya, bagaimana perasaan kita? Begitu juga perasaan para perawat saat ini bekerja.

Peristiwa seperti dilansir laman liputan6.com (25/3/2020) bertajuk, Dokter dan Perawat RS Persahabatan Diusir dari Kos di Tengah Pandemi Covid-19. Telah membangkitkan rasa sedih dan haru yang tak terkira.

Jika mereka semua telah memiliki APD yang standar saja diperlakukan begitu rupa. Bagaimana dengan para perawat dan dokter ya g bertugas di daerah?

Masih dari laman liputan6.com, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, membenarkan adanya aduan dan keluh kesah dari paramedis tersebut.

"Iya ada. Ya mereka kan sejak Rumah Sakit Persahabatan ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan itu, bukan hanya perawat, ada juga dokter, mahasiswa juga yang di situ, diminta untuk tidak kos di situ lagi," tutur Harif saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/3/2020)

Kekhawatiran dan ketakutan masyarakat terhadap kemungkinan tertularnya mereka dengan virus corona tersebut memang patut mendapat perhatian. Namun tindakan pengusiran yang dilakukan pada petugas kesehatan sungguh sangat disayangkan.

Bagaimana pun kondisinya, petugas kesehatan yang merawat pasien terdampak virus corona adalah pahlawan virus corona. Mereka berjuang dengan sepenuh kebenarian dan kemampuan merawat dan menyelamatkan pasien positif corona selama ini.

Apa pun yang mereka lakukan layak kita hormati dan kita paresiasi.




Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Sebuah Pembangkangan Baru, Anti pada Kebijakan Pemerintah

Tagar di rumah aja ternyata tak sepenuhnya ditaati warga. Apalagi mereka yang berada di desa.

"Yang penting tidak ada orang luar yang datang ke daerah kita. Tak mungkin virus corona menyebar ke tempat kita."

Mereka lupa, satu atau dua anggota keluarga mereka berbelanja ke kota. Sebagian besar pedagang membeli barang ke kota kabupaten. Dan pada saat belanja ke kota ini ada interaksi yang dilakukan.

Dengan santainya sambil jaga malam per RT yang dilakukan tiap malam segara bergiliran mereka main domino. Padahal jelas-jelas, domino yang dimainkan melingkar bersama 4 orang itu selalu bergantian di pegang oleh mereka.

Di tempat lain, suara azan yang tetap saja berkumandang setiap datang waktunya salat lima waktu. Tak ada yang berubah sama sekali. Kebiasaan salaman juga tak berubah. Dan jumatan pun masih seperti biasa. Seperti tak ada rasa kekhawatiran sedikit pun.

Sesekali terdengar suara ada yang batuk dan bersin. Deretan shaf salat pun tetap rapat seperti biasa. Ketika ditegur, jawaban mengenaskan pun keluar dari sebagian mereka. "Kalau memang takdirnya sakit, pasti akan sakit. Kalau mau mati maka akan mati."

Bukan karena tidak mengetahui bahwa virus corona berbahaya tapi sepertinya ada protes atas kebijakan pemerintah tentang isolasi diri.

Pandangan miring dari sisi ekonomi yang jelas akan mengakibatkan masyarakat kecil menerima akibat paling parah kondisi yang ada. Siapa yang layak dipersalahkan? Kebijakan dibuat untuk cegah tangkal dipandanh dari sisi berbeda. Akhirnya menciptakan protes dalam bentuk negatif.

Kesalahan persepsi tentang takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Sebuah analogi, ketika macan lapar berkeliaran di daerah kita. Mata jepala jelas melihat bahaya mengancam maka masyarakat akan sembunyi di dalam rumah.

Mengapa tak ada yang sengaja keluar melakukan penentangan bahwa takdir dimakan macan adalah sudah ditentukan. Lalu apa bedanya dengan virus corona yang menyebar bagai hantu. Tak terlihat bukan berarti tak memberikan bahaya.

Sekian ribu orang yang telah wafat menjadi korban belum mampu membuka kesadaran akan pentingnya isolasi diri dengan cara tinggal di rumah.

Kondisi penentangan terhadap kebijakan yang telah dilakukan pemerintah sebaiknya kita semua taati. Yakin saja, apa yang diusahakan adalah demi kebaikan kita semua.

Kalau sampai sekolah dan perkantoran diliburkan berarti kondisinya memang benar-benar genting jika banyak kerumunan orang dalam jumlah besar, berdesak-desakan.

Bukan hal lucu ketika rusia, pemerintahnya terpaksa melepaskan macan untuk menghalau warga yang berkeliaran. Demikian juga polisi india menggunakan pecut untuk menghalau warga. Di daerah kita polisi datang membubarkan kerumunan orang, tak sedikit yang mendapat respon yang menyedihkan.

Jangankan ingin pulang ke rumah masing-masing, sebagian hanya pergi pindah tempat berkerumun di tempat lain.

Kesadaran ketika menjadi pasien positif corona banyak pihak yang direpotkan. Terutama petugas kesehatan, yang sebagian besar terpaksa ada yang dikucilkan di lingkungan sekitarnya. Terusir dari tempat kosnya. Belum cukupkah perjuangan mereka?

Oleh karena itu #dirumahaja sebaiknta dicermati oleh semua pihak di mana pun berada. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk kesehatan dan keselamatan kita sendiri.

Sungguh "Lu jual gue beli" yang terucap dari mereka yang tak bertanggung jawab dalam menyikapi physical distancing, isolasi diri akan menyulitkan dirinya dan orang-orang disekitarnya.
Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)



Indonesia akan Jadi Episentrum Baru Virus Corona Dunia Jika ....

Mencermati respon masyarakat terhadap seruan pemerintah pusat, pemerintah daerah, guru-guru mengaji untuk mengisolasi diri berupa anjuran tetap tinggal di rumah yang hingga saat ini masih dianggap remeh.

Terlihat, masih banyak yang masih berkeliaran tanpa memperhatikan syarat-syarat penjagaan kesehatan. Kita semua patut khawatir keberhasilan physical distancig dapat berhasil dengan baik.

Aktifitas di pasar tradisional dalam kerumunan orang yang berbelanja terjadi interaksi begitu luar bisa. Antara pembawa covid-19 dengan yang sehat hampir tak bisa dibedakan.

Dari tangan yang satu ke tangan tang lain uang kembalian berputar. Bisa saja salah satu uang yang ada dalam genggaman kita, padanya ada covid-19 yang menempel siap menulari kita.

Salat berjamaah yang masih dihadiri oleh sekian banyak orang, salat jumat yang juga masih dilaksanakan dihadiri banyak jamaat. Patut kita sesali. Keyakinan bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya adalah orang sehat membuat miris hati kita.

Pemahaman dan kesadaran tentang kesehatan dan proses penyebaran covid-19 yang banyak masih belum diketahui dan dipercayai sehingga masyarakat merasa tenang-tenang saja. Padahal setiap orang akan berpeluang menjadi penyebar covid-19 tersebut.

Sementara ini yang mereka ketahui bila sudah ada pasien yang meninggal baru gempar. Baru siap-siap untuk menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Padahal sebelum terdapat pasien yang meninggal sudah berapa orang yang terjangkiti. Tak ada yang tahu sama sekali.

Pakar Kesehatan Masyarakat, Ascobat Gani memprediksi Indonesia bakal menjadi episentrum baru virus corona Covid-19, setelah Kota Wuhan, China. (Amp.suara.com, 25/3/2020)

Ascobat Gani menyebut berdasarkan pada temuan kasus virus corona meningkat tajam dari hari ke hari. Indonesia telah kehilangan kendali untuk menekan penularan virus corona yang telah menyebar luas.

"Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir, kita berada kita berada dalam kisaran tersebut," ucap Gani seperti disadur Suara.com dari Reuters, Rabu (25/3/2020).

Ascobat juga mebyebut, lonjakan drastis kasus virus corona di Indonesia disebabkan oleh respons lambat dari pemerintah yang berupaya menutupi jumlah korban sebenarnya.

Sekali lagi, kita tidak tahu siapa yang tertular dan siapa yang menularkan. Kalau anjuran semua pihak untuk tetap tinggal di rumah tak mendapat perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat. Kemungkinan beras kita akan dibuat kaget dengan lonjakan temuan penderita covid-19.

Menurut laman kompas.com Update terakhir corona di Indonesia, hingga Rabu sore ada 790 kasus Covid-19 di Tanah Air. Angka ini bertambah 105 kasus dalam 24 terakhir, sejak Selasa (24/3/2020) pukul 12.00 WIB hingga Rabu ini pukul 12.00. Indonesia di tataran dunia menempati urutan ke 37 dengan 790 terinfeksi dan 58 meninggal.

Achamad Yurianto, Juru bicara pemerintah untuk Penanganan COVID-19 seperti dirilis di laman nasional.tempo.co, meminta agar apabila masyarakat merasa sakit atau tertular dari orang lain, diminta untuk menghubungi fasilitas kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter. Menurutnya, dengan pemeriksaan yang teliti, bisa ditentukan apakah ada dugaan yang mengarah ke COVID-19 atau tidak.

"Oleh karena itu, jangan membuat keputusan sendiri, untuk meminum sesuatu obat, untuk melakukan sesuatu kegiatan, yang diyakini bisa menyembuhkan atau mencegah ini padahal belum terbukti secara ilmiah," kata Yuri, ditulis Selasa (24/3/2020)

Yurianto juga meminta agar physical distanting dilakukan di dalam rumah, sehingga penularan yang terjadi di dalam rumah dapat dikendalikan sedemikian rupa.





Agan/Sista Ingin Terbebas dari Corona, Lakukan ini! (No Hoaks)
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di