CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e757cbf337f93451d6f5467/sejarah-wabah-pandemi-dan-narasi-agama-agama

Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama

Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama

Pada 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan keadaan pandemi akibat penyebaran wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Pandemi berasal dari bahasa Yunani: “pan” yang berarti semua; dan “demos” yang berarti orang. Status sebuah penyakit menular akan ditingkatkan dari epidemik menjadi pandemi manakala penyebarannya sudah melewati batas negara dan benua, serta dampak mematikannya sudah membahayakan manusia dalam jumlah tak terhingga.

Pandemi bukan hal baru dalam sejarah umat manusia, sudah berulang kali ia ada.

Di abad 20, status pandemic sering dihubungkan dengan wabah penyakit flu, seperti: ‘flu Spanyol’ tahun 1918 yang menewaskan sekira 50 juta penduduk dunia, ‘flu Asia’ tahun 1957-1958 yang mengakibatkan 1,1 juta kematian, serta ‘flu Hongkong’ tahun 1968 dengan korban tidak kurang dari 1 juta jiwa.

Sejarah niscaya mencatat tragedi kemanusiaan lainnya yang diakibatkan wabah mematikan, termasuk yang terjadi di Nusantara. Saya akan cerita pada waktunya.

Pandemi terbesar yang terekam dalam sejarah umat manusia terjadi sejak abad 6 M. Ada wabah pandemi yang tingkat mematikannya mencapai 70 hingga 100 persen. Michael W. Dols (1974), dalam artikelnya “Plague in Early Islamic History”, mengulas tiga pandemi besar yang menimpa umat manusia, yakni: Wabah Yustinianus (Plague of Justinian) (541-542 M), Maut Hitam (Black Death) (1347-1351), dan Wabah Bombay (Bombay Plague) (1896-1897).

Ini bukan berarti tidak ada lagi pandemi atau epidemik lainnya. Tak mudah mengetahui pasti seberapa mematikannya wabah di ketiga situasi pandemi di atas. Yang jelas, jumlah penduduk dunia menurun drastis setelah itu; pola kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi pun berubah.

Narasi Agama Menghadapi Bencana

Lalu, apa hubungan pandemi dengan narasi agama? Ternyata, sejarah pandemi sering melahirkan narasi yang menggambarkan kecenderungan sikap dan perilaku masyarakat beragama dalam menyikapi bencana.

Saat ini misalnya, di tengah upaya Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga, serta aksi berbagai pihak untuk menanggulangi dampak wabah COVID-19 sesuai standar kesehatan dunia, masih terselip narasi dan aksi atas nama agama yang justru kontra produktif dengan logika dan edukasi yang para ahli medis berikan.

“Saya lebih takut pada Tuhan”, “Kalau sudah tadir-Nya, di mana pun akan mati”, atau “wabah adalah cobaan Tuhan, kita harus lebih dekat dengan-Nya, bukan menjauhi-Nya”. Sepintas narasi itu terdengar benar. Agama dibenturkan dengan logika. Namun, cara pandang ini biasanya menjauhkan pemiliknya dari sikap waspada.


Padahal, otoritas kedokteran mengakui bahwa belum ada vaksin yang dapat mencegah COVID-19. Upaya yang bisa kita lakukan semata menghindar agar tidak terinfeksi olehnya. Para dokter sepakat bahwa pola penularan COVID-19 ini adalah melalui kontak antarorang (person-to-person spread), serta melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk.

Karenanya, cara efektif untuk mencegah penyebarannya adalah dengan memutus mata rantai penularan COVID-19 dari orang ke orang dari jarak dekat. Kita pun lalu mengenal istilah social distancing. Pada 15 Maret, Presiden Jokowi menerjemahkan social distancing itu menjadi seruan untuk “bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan ibadah di rumah” selama 14 hari sampai krisis wabah mereda.

Sontak seruan itu menuai reaksi sebagian masyarakat beragama. Bertebaranlah narasi bahwa seruan itu sama saja dengan upaya mengikis keimanan, menduakan rasa takut kepada Tuhan. Apalagi, ibadah di rumah berarti mengosongkan rumah ibadah, mengurangi silaturahim, dan menjauhkan diri dari Tuhan.

Virus Corona pun dinarasikan sebagai konspirasi iblis, jin, dan setan untuk menjerumuskan manusia. “Kami tidak takut Corona, kami lebih takut pada Tuhan”, ungkapan ini berkali-kali digelorakan. Sepintas tampak semangat beragama, tapi sesungguhnya menjauhkan dari esensi agama, yakni memuliakan manusia, dan menjaga bahkan satu nyawa sesama.


Dalam konteks masyarakat Muslim, narasi itu semakin mencuat ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa No. 14 Tahun 2020 tentang “Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19”. Dalam Fatwa itu MUI antara lain menyerukan untuk meniadakan shalat Jumat dan ibadah berjamaah lainnya di masjid yang terletak di ‘zona merah’ COVID-19.
Baca juga: Puisi al-Ashma’i Membuat Khalifah al-Manshur Menyerah

Alih-alih mematuhi, ada yang menganggap fatwa itu “fobia dengan masjid”, umat malah diseru menggalakkan gerakan sholat berjamaah meski di tengah wabah Corona. Seruan MUI dan ormas-ormas Islam pun seakan tidak mempan. Di satu masjid, shalat Jumat ditiadakan, tapi shalat zuhur di masjid itu yang ‘sami mawon’ melibatkan kerumunan, tetap diadakan. Logikanya di mana?

Kalau mau menelisik lebih apik, sumber-sumber Arab sesungguhnya telah mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad saw dan para sahabat menyikapi pandemi. Nabi dan orang-orang suci tidak kemudian menantang wabah atas nama tauhid, atau bersikap sembrono atas nama “hanya takut pada Allah”.

Mereka justru terdorong mengajarkan bahwa esensi agama adalah menjaga kemanusiaan, maqasid syari’ah adalah hifz al-nafs. Itulah tauhid yang sesungguhnya.

Sebagian sarjana muslim terkemuka abad pertengahan juga pernah mengalami wabah, atau yang mereka sebut sebagai tha’un, mematikan. Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 1449 M) misalnya. Ia kehilangan tiga putri yang disayanginya akibat tha’un: Fatimah, ‘Aliyah, dan Zin Khatun si sulung yang bahkan sedang hamil.

Lalu, apa yang kemudian al-‘Asqalani lakukan? Menulis karya yang ia dedikasikan untuk mengingatkan sesama tentang bahasa tha’un. Al-‘Asqalani ingin kematian ketiga putrinya tidak sia-sia; mereka harus jadi martir bagi nyawa manusia lainnya.

Al-‘Asqalani pun menulis kitab “Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un”. Ia jauhi sikap pasrah menyerah pada takdir Allah. Ia memperlakukan wabah sebagai ‘inspirasi’. Ia pun menuangkan pandangan dan sikap beragamanya yang rasional dalam memahami wabah.

Karya al-Asqalani ini telah di-tahqiq (sunting) oleh seorang filolog bernama Ahmad Ishom Abd al-Qadir al-Katib. Ia mengulas detil tentang definisi tha’un, baik secara metafisis maupun medis, jenis-jenisnya termasuk “Black Death” di Eropa, pandangan ahli medis terhadap tha’un, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban, dan tentang bagaimana muslim harus menyikapi wabah.
Baca juga: Inilah Sejarah Muhammadiyah dalam Keindonesiaan

Saya berencana mengupas kitab ini dalam program Ngariksa, Jumat depan. Jadi tidak mungkin di sini saya habiskan. Semoga tak ada aral melintang.

Belajar dari Masa Lalu

Bangsa Eropa pernah mengalami masa kelam akibat sikap fanatik sebagian umat beragama menyikapi pandemi ‘the Black Death’. Saat otoritas Eropa kehabisan ide atasi wabah, masyarakat putus asa; mereka mulai mengaitkan bahwa umat Yahudi adalah pembawa petaka, hingga Tuhan pun murka.

Narasi ini berhasil memprovokasi kelompok esktrem dalam menafsir agama. Konflik pun terjadi, ribuan Yahudi dipersekusi. Sudah jatuh tertimpa tangga.

Menghadapi Corona kini, para ahli agama perlu lebih erat bergandengan tangan dengan ahli medis dan kesehatan untuk bersama-sama meyakinkan kepada publik bahwa sejarah telah membuktikan, wabah pandemic tidak mengenal agama, ras, usia, gender, dan kelas sosial. Ia tidak pilih kasih, ia juga tidak memilih. Ia akan menyerang semua, dan karenanya harus dihadapi bersama.

Pemerintah sudah memutuskan Indonesia darurat bencana akibat Corona. Berbagai tokoh agama sudah berijtihad menunda ritual agama, meski kita semua paham bahwa itu bukan berarti menghentikan beragama.

Menarik mengutip twit Mas Kiai Lukman Hakim Saifuddin (20/3), dalam serial mawas diri: “Bila saat ini (untuk sementara waktu) dirimu tak lakukan peribadatan massal, itu justru wujud ketaatanmu mematuhi ajaranNya agar kita saling menjaga keselamatan jiwa sesama. Itu sama sekali bukan bentuk pengingkaran terhadapNya”.
Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Mari belajar dari sejarah, mari berguru dari para suhu masa lalu. Dalam situasi bencana, beragama yg paripurna bukan dengan cara mengabaikan keselamatan sesama, melainkan dengan menjaganya melalui berbagai cara, social distancing salah satunya. Bertauhid adalah meyakini bahwa Dia Maha Mutlak, Dia Mencipta, Dia juga Meniada. Kita wajib berdoa, sambal tetap mematuhi nalar dan logika dengan senantiasa berupaya.

islamic darkage


jika bangsa eropa dan nasrani sudah keluar dari masa dark age ratusan tahun lalu,

islam justru dengan bangganya, masih berada di jaman dark age,
karena mereka berpikir dark age saat ini adalah bentuk kesempurnaan agama dan kitab sucinya
sehingga tidak perlu merubah kebodohan mereka yg diwariskan turun temurun emoticon-thumbsup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ossal dan 5 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Rupanya overdosis agama juga salah satu faktor yang memengaruhi seleksi alam emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ossal dan 2 lainnya memberi reputasi
Ahhh..kadal bisa aja jilat nasrani dan nginjek uclim

profile-picture
ossal memberi reputasi

Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ossal dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 1 balasan
Pola pikir berbasic agama mengatasi wabah..emoticon-Big Grin
Hmm..Pola pikir jaman dulu..emoticon-Big Grin
profile-picture
ossal memberi reputasi
Gue salah satu umat Islam Indonesia yang bodoh, dulu gue mendukung pemulangan WNI dari Wuhan, padahal bisa jadi WNI itu bawa corona yang virusnya masih tahap inkubasi, apalagi pemeriksaan di Natuna cuma seadanya.

emoticon-Sorry

Quote:
profile-picture
muantapdjivva memberi reputasi
Lihat 2 balasan
makanya jadi
profile-picture
ossal memberi reputasi
setuju..
harus ikuti ahlinya.. berusaha buat gak tertular dan berdoa..

tapi lebih mantap lg kalo TS bahas agama lain juga emoticon-Embarrassment
kan ada juga tuh yg masih ngogot emoticon-Embarrassment
ehm emoticon-Embarrassment
profile-picture
ossal memberi reputasi
yg percaya sama sains
ya jauhkan diri dari keramaian
sering cuci tangan

yg percaya sama agama
tetap saja beribadah
percaya tuhan akan melindungi kalian

jangan maksa orang beragama untuk ikuti aturan sains
dan begitu juga sebaliknya
namanya maksa itu pasti tidak benar
mari hormati kepercayaan masing masing

emoticon-Belgia emoticon-Belgia emoticon-Belgia

profile-picture
profile-picture
profile-picture
Byebyebyebyebye dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pasti2periode
Lihat 2 balasan
Buat umat Islam harus kita akui kalau pemahaman Islam kita itu sebenernya cuma sedikit, harus lebih banyak lagi belajar, menggali, mengkaji sejarah Islam.

Bahkan gue pun baru tau kalau kalimat Adzan pernah dirubah. Gue ga bisa bayangin klo kalimat Adzan di Indonesia di modif dikit demi kemaslahatan umat, pasti ngamuk, bisa dibakar, atau minimal bonyoklah dan di pendem di penjara.

Quote:
Kalau dulu tahun 1.400 M, masih wajar, karena mikroskop belum ditemukan, sehingga orang ga tau keberadaan virus dan bakteri. Sasaran paling gampang adalah hukuman Tuhan.

Kalau saat ini, mikroskop sudah ada. Jadi orang yang masih menganggap ini hukuman Tuhan, tentunya orang yang ... ah sudahlah.

Science selalu berkembang, kemajuan science adalah seperti menyusun jigsaw puzzle yang sangat luas dengan trilyunan keping. Bisa saja science yang diketahui tahun 600 M benar pada masanya, tapi pada masa 1.400 M sudah ada sedikit perubahan letak. Dan tahun 2.020 M ada perubahan letak lagi. Bukan berarti menegasikan temuan (discovery) science lama, tapi dengan adanya temuan (invention) peralatan baru seperti mikroskop, maka kita mengetahui science yang lebih tepat.

Discovery dari kata Dis-cover, membuka tutup/tabir,sesuatu yang sebelumnya sudah ada.
Invention dari kata invent, something that has not existed before, sesuatu yang sebelumnya belum ada.
profile-picture
profile-picture
Inbox.Kosong dan cloudible8 memberi reputasi
Diubah oleh warnacemerlang
Quote:


Justru yg 'ahli agama' sudah pada 'bener' gan. Muhammadiyah ud fatwa. MUI/NU ud fatwa.
Dan Bibib ud nyuruh di rumah kan? Si UAS jg ud gx jadi. Yusuf mansur ponpresnya dliburin. Tapi kan pengikutnya aja yg masih bar bar
emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
gopalrajagembel dan pitaksemprul memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Noted, itu hanya berlaku di agama Islam ya gan. Agama laen udah pada beribadah di rumah masing2, apapula yg memanfaatkan teknologi.

emoticon-Ngaciremoticon-Angkat Beer
profile-picture
ossal memberi reputasi
tapi agama islam satu satunya agama yg memiliki ide isolasi saat wabah dibanding agama lain... yg jadi problem itu sebenarnya untuk di indinesia umat islam nya yg tidak percaya dengan pemimpin nya... d malaysia aja pada banyak yg nurut kok, btw ts pasti golongan babi sara... semakin lu jelek2in islam semakin bnyk mereka emoticon-Big Grin
Lihat 3 balasan
Quote:


Ide apa ?emoticon-Ngakak
Quote:

emoticon-Leh Uga
Imo kagak ad yg ngomporin deh, emang barbar aja x, sudah pada 'pinter' semua. Lagian pada dasarnya org2 dinegara kita banyak yg pada 'ngeyel'. Gx ad kesadaran ini penting itu penting atau

Ah sudahlah ...
profile-picture
ossal memberi reputasi
Quote:


Narkoba klo di Islam namanya khamar, yaitu segala sesuatu yg memabukan, jelas haram.

emang bener, ts ini cuman berusaha kasih pembelokan seakan Islam ga ngasih solusi, padahal hadist tentang Lockdown udah ada di Islam.

makin dijelekan, makin terungkap siapa yg paling bener.
profile-picture
ossal memberi reputasi
Diubah oleh nampeng
Quote:


yg glorifikasi siapa ? gw cuma bandingin dgn pendapat agama lain...

bahkan dulu katanya hadis tsb sempat dihina lho oleh penganut agama sebelah
profile-picture
ossal memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Quote:



Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama
Sejarah Wabah Pandemi dan Narasi Agama-Agama


apa wabah corona adalah wabah yg dikirim kpd bani israel atau umat sebelumnya ?


jangan potong2 hadits untuk menggirng opini agar islam terlihat benar emoticon-Cape d...

hadits ini tidak cocok dgn wabah corona saat ini
profile-picture
ossal memberi reputasi
Diubah oleh landcroft
Sedih gw kalau baca berita corona, pas baca komen2nya bertambahlah kesedihannya, mengapa keadaan makin darurat tapi kebodohan makin meningkat? emoticon-Turut Berduka
profile-picture
aripmuh memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di