CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7534818d9b17341d590a58/dua-wanita-dan-hujan

Dua Wanita dan Hujan

Oleh : Dina Rosita

Saat hujan tiba sore ini, aku kedatangan tamu tak diundang. Sebenarnya malas mempersilakan ia menganggu istirahatku. Namun, wanita itu bersikukuh untuk diberi tempat berteduh. Ia berkata, butuh tempat berteduh karena tak suka hujan.

Lalu, aku mengajaknya, duduk di beranda sembari menikmati secangkir kopi. Harapan, semoga setelah hujan berhenti ia bisa pergi.

Sesekali wajahnya yang tirus seperti tak pernah menyantap makanan yang bergizi itu--menoleh padaku. Entah apa yang dipikirkannya, tentangku.

Mungkin, ia sedang mengagumi kecantikan yang selalu menjadi anugerah dalam hidupku ini. Bisa jadi, si penakut pada hujan itu sedang mengagumi lekuk demi lekuk tubuhku yang mampu membuat mata para lelaki jalang--bertekuk lutut.

Aku tak pernah habis pikir padanya, mengapa ia sangat takut pada suara hujan dan suaranya yang syahdu?

Bukankah, hujan itu adalah berkah?

"Bagaimana bisa, wanita sepertimu sangat takut pada hujan?" tanyaku datar pada wanita berambut ikal itu--seolah pertanyaan tak penting. Aku menunggu jawabannya sembari menyesap kopi hitam yang tinggal setengah lagi.

Terdengar ia mengembuskan napas kasar. Seperti orang mau mati saja!
Lalu suara lirihnya pun terucap. Aku benci suaranya itu. Seperti suara yang selalu dihantui rasa kesakitan!

"Bagaimana denganmu, kau begitu mencintai hujan, berikut badainya?"

Ah, sialan! Mengapa ia malah balik bertanya padaku? Bukankah aku yang ingin tahu tentangnya? Namun, mengapa ia malah balik mencari tahu tentangku?

Sungguh tak sopan, sudah bertamu ke rumahku yang megah ini tapi masih saja bersikap seperti itu. Mengesalkan!

Aku melempar senyum memikat. Senyuman yang tak pernah ia miliki. Menciptakan cahaya bidadari pemikat hati. Sementara ia ... pengantin buruk rupa!

"Aku mencintai hujan, karena saat hujanlah aku tenggelam di sungai.
Aku mencintai hujan, karena saat hujan ... aku ditinggalkan ibuku." Suaraku terdengar bergetar, mengingat cerita masa silam. Di mana Ibu menutup mata tepat saat hujan datang.

"Aku suka hujan, karena saat hujan juga, Ayahku tiada. Bukan itu saja, hujan pun telah menjadi saksi saat aku tersesat di hutan terlarang."

Aku mengingat kembali hari-hari di mana aku mengalami masa buruk itu. Hati ini kembali tersayat, seperti sedang diiris oleh dokter bedah. Lalu mengalirkan darah yang tak bisa berhenti--membuat luka semakin dalam saja.

"Meski kau telah melampaui masa-masa sulit itu, mengapa engkau masih mencintai hujan?" Ia kembali bertanya lirih, seakan tak puas dengan ocehanku tadi. Ada bola menyala di balik sorot matanya.

"Seperti yang kamu katakan tadi, aku mencintai hujan beserta badainya. Kamu tahu, akulah sang badai dalam hujan." Kukembangkan senyuman menawan pada wanita berkulit cokelat itu. Semoga setelah ini, ia bisa menyukai hujan.

Dia, duduk terdiam di kursi rotan. Mengalihkan pandangannya pada air hujan yang berjatuhan di langit. Terlihat serpihan kaca di bola mata itu. Sementara kopi yang kuhidangkan tak sececap pun disentuhnya.

"Setelah mengalami semua itu, kau tetap menyukai hujan?" Ia kembali bertanya seakan tak puas dengan jawabanku.

Aku mengangguk sembari tersenyum dan mengerjapkan mataku yang ditumbuhi bulu mata palsu.

"Aku tetap menyukai hujan, karena hujan pulalah yang membuatku jatuh cinta. Kau tahu? Saat hujan tiba--lelaki pujaan hati--melamarku untuk menjadi istrinya. Hal yang paling membahagiakan adalah ... saat kami berdua melepas malam pertama dengan dipenuhi hasrat yang bergelora. Menyempurnakanku sebagai seorang wanita yang bertemu sang malaikatnya."

Wanita itu menoleh dan menatapku tajam. Lama sekali.

Kembali kusesap kopi dan menghabisinya. Sementara hujan turun semakin deras. Terlihat wanita itu masih tidak suka dengan hujan. Sesekali wajahnya meringis dan ada duka yang berusaha ia singkirkan.

Kuamati wajahnya yang dipenuhi dengan kerutan.

"Aku benci hujan," lirihnya tanpa ditanya. Suaranya kembali mengangguku, terdengar seperti suara anak kucing yang sedang sekarat.

"Kenapa?" tanyaku tanpa memerhatikannya. Tetap menikmati air hujan dengan deras.

"Karena setiap hujan, suamiku selalu mendekapku dalam pelukannya." Suaranya kini terdengar keras. "Karena setiap hujan, suamiku selalu ada di sisiku."

Kali ini, aku menoleh padanya yang ternyata sedang tersenyum padaku.
Aku tak habis pikir, lalu apa yang membuatnya begitu sangat membenci hujan?

"Lalu, mengapa kau membenci hujan? Kurasa, hujan tak salah apa-apa padamu?" Kutatap ia dengan heran.

Kami, lama saling beradu tatap sebelum ia melanjutkan bicara.

"Karena hujan telah datang bersama badai yang sudah membawa suamiku pergi untuk jatuh ke pelukan wanita lain," ucapnya kemudian. Senyumnya itupun berubah menjadi kilatan lidah api yang siap memanggangku.

Lalu kudengar nyanyian jiwanya yang dipenuhi amarah.

"Setiap hujan datang, aku tak pernah lagi merasakan kehangatannya! Setiap hujan datang, aku selalu kesepian! Setiap hujan datang, aku merasa dicampakkan! Setiap hujan datang, suamiku pergi dan lebih memilih untuk mendekap badai. Kamulah, badai itu!"

Seketika tubuhku terhuyung dari kursi rotan. Wanita ceking itu menerjangku.

"Kau telah mengubah malaikatku menjadi iblis!" teriaknya sambil mencengkeram leherku.

Rupanya, aku telah salah menilai. Menganggapnya seperti anak kucing tapi ternyata, ia seekor cheetah yang siap mengoyakku dalam tarian hujan.

Berkali-kali aku mencoba melepaskan diri dari tangan mautnya. Namun, tangan kurusnya itu malah semakin mencekikku dengan kuat. Seperti ada tangan Dajjal yang menyertainya.

Napasku sesak, pandangan pun berkunang-kunang, air mata memenuhi bola mata ini. Aku pun tak bisa berpikir lagi. Semua tampak hitam ... sehitam perjalanan hidupku sebagai perebut suami orang.

Tamat

Bandung, 21 Maret 2020
03.57 AMDua Wanita dan Hujan

Gambar diambil dari www.google.com
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dina.rosita
Halaman 1 dari 2
Alhamdulillah. Kak sebaiknya cerpen ditulis jadi satu di SFTH yah.
ceritanya bagus. aku dah baca semuanya
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
akhirnya bunda nulis cerita juga asyiik
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan qoni77 memberi reputasi
Quote:


Jago banget Kak Dina nulisnya yah. Kata-katanya menarik, meski itu dalam dialog tag
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Hihihi aku bangkit🤭
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Alhamdulillah ada yang paham. Ini emang dibikinnya adalah untuk menunjukkan fungsi dialog itu sebagai penyampai kata yang membuat menarik cerita. Siiipp kak Qoni
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan hadimahfudh memberi reputasi
Duh nasib jadi pelakor.
Bagus ceritanya..
emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan dina.rosita memberi reputasi
Quote:


Pelakor oh pelakor
Quote:


Oh, jadi setiap cerpen di simpan di bawahnya lagi ya kak?
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Hihihi akibat insomnia nih
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Terima kasih, Gan
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Wkwkwkwk
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
save dulu, selesai kerjaan bakalan kulanjutin baca, hehe.
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Siiiipp. Kutunggu janjimu Gan.
profile-picture
profile-picture
pucukpisang97 dan RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Cendolnya udah penuh Gaaan
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
bagus ceritanyaaa,menemani kegabutan😄
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Wah... ceritanya keren.. emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Bagus mak ceritanya aku suka... Nitip sendal dulu mak
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Hihihi terima kasih gan
profile-picture
RetnoQr3n memberi reputasi
Quote:


Terima kasih Gan Robin
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan robin.finck memberi reputasi
Quote:


Siiipp, ntar jangan lupa sandalnya diambil ya. Wkwk
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di