CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Yang Tampak di Kuburan Krapyak
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e750754af7e9358382e8c00/yang-tampak-di-kuburan-krapyak

Yang Tampak di Kuburan Krapyak

Yang Tampak di Kuburan Krapyak


  


“Aduh, sudah hampir jam sembilan lewat. Hujan masih juga belum reda. Sampai rumah jam berapa ini, ya? Sudah nggak tahan, dingin,” keluh Supram.

“Iya, nih. Lupa pula tadi nggak bawa jas hujan. Apes benar kita malam ini, Pram,” timpal Bayu.

“Bagaimana kalau kita nekat saja? Nekat pulang hujan – hujan. Meskipun basah kuyup nantinya,” ajak Supram yang nama lengkapnya Supramono itu.

“Nggak mau, ah. Seminggu lalu aku baru sembuh sakit demam. Masa besok sakit demam lagi? Hujannya deres banget. Nggak mau aku, Pram,” gerutu Bayu sambil menggosok – gosok kedua telapak tangannya. Satu upaya mendapat kehangatan meskipun sangat minim.

Malam itu Supramono dan Bayu pergi berdua untuk menemui seseorang berboncengan menggunakan sepeda motor. Sepulangnya, hujan deras mengguyur membuat mereka berteduh di sebuah halaman toko yang sedang tutup. Sedangkan rumah mereka masih cukup jauh ke arah utara, mungkin sekitar dua belas kilometer.

Spoiler for Ilustrasi:


“Sepi banget ya daerah sini. Masih juga jam sembilan malam, tetapi rasanya sudah seperti jam dua belas malam.” Kepala Supram menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati rumah warga sekitar yang sudah tertutup.

“Mungkin juga karena sekarang lagi musim hujan. Hampir tiap malam juga hujan turun. Jadi mereka merasa lebih baik berdiam diri di rumah. Tapi bisa jadi...,” Bayu menghentikan ucapannya.

“Tapi apa, Yu?” sergah Supram.

Bayu merapatkan posisinya lebih dekat ke arah temannya itu. “Kamu tahu, kan, Pram. Di desa ini kan ada kuburan angker?”

“Kuburan Krapyak maksudmu?” jawab Supram.

“Iya.”

“Terus?”

“Kalau malam jam segini masih ada orang di luar rumah, bisa – bisa mereka diganggu hantu – hantu yang berasal dari kuburan itu. Bahkan, katanya ada yang sampai kesurupan.”

“Waduh.” Supram sudah mulai gelisah.

“Selain itu, katanya dulu pernah ada warga desa ini yang sedang ronda di pos kamling. Tiba – tiba ada beberapa pocong berbaris melintas di depan mereka. Orang – orang yang ronda itu langsung berlarian kabur, bahkan ada yang pingsan di tempat saking ketakutan!” tambah Bayu.

“Kamu malah nakut – nakutin, sih, Yu.”

“Siapa yang nakut – nakutin, sih, Pram? Aku hanya cerita apa yang pernah kudengar dari kuburan itu. Lha, wong aku sendiri juga ketakutan ini, Pram.”

“Ya, mestinya kamu tadi nggak usah cerita, lah, Yu. Biar kita sama – sama nggak ketakutan begini. Sudah, nggak usah cerita itu lagi. Nanti setan – setan di kuburan itu dengar, malah membuat mereka datang ke sini, nakut – nakutin kita. ” Supramono kembali menajamkan mata mengamati sekelilingnya. Takut bila apa yang diceritakan Bayu itu menimpa mereka. “Trus nanti kita bagaimana, Yu? Kuburan Krapyak kan nggak jauh dari tempat kita berteduh ini, dan kita nanti pulang juga akan melewatinya.”

“Kita kan naik motor, kita tancap gas saja. Beres, kan?”

Untuk sesaat apa yang dikatakan Bayu tadi membuat Supramono dan Bayu sendiri, mampu membendung rasa takut yang tengah mereka berdua alami. Atau dengan kata lain, menambah kepercayaan diri mereka saat melintas kuburan yang dikenal angker itu.

Supramono mengeringkan kedua punggung kakinya yang basah, akibat terkena cipratan air hujan yang jatuh ke tanah. “Hujan, udara dingin, kaki basah, jadi ingin buang air kecil, deh. Duhh, bagaimana ini...?”

“Tuh, di situ. Di balik tembok itu,” kata Bayu sambil menunjuk ke satu arah sejauh lima meter darinya.

Merasa tempat yang ditunjuk Bayu cocok, Supram bergegas untuk menunaikan hajat kecilnya itu. Tubuh Supram yang kurus, sempat bergidik saat menutup resleting celananya.

Tok.... Tok..., tok..., tok.... suara yang  samar – samar terdengar, walaupun berbaur dengan suara tetesan air hujan yang jatuh ke tanah dan ke genting rumah. Suara ketokan bambu yang tak asing saat masuk ke telinga.

Supram sudah kembali duduk di samping Bayu setelah buang air kecil. “Eh, Yu, Bayu. Kamu dengar suara itu, nggak?”

“Suara apa?”

“Itu....”

Bayu menajamkan kedua telinganya dan berkonsentrasi. “Suara orang jualan bakso itu, ya?”

“Iya. Lumayan ada pedagang bakso lewat sini. Hehehe.”

“Kamu mau beli, Pram?”

“Iya, lah. Hujan seperti ini kan enak makan bakso pedes. Biar badan jadi hangat, Yu. Sekalian biar dapat temen, kita nggak berdua saja di sini ada penjual bakso. Hehehe.”

“Waahh, bener juga kamu Pram.” tukas Bayu.

Tetapi sudah hampir sepuluh menit, pedagang bakso yang diharapkan oleh kedua pemuda itu tak juga kunjung datang. Alih – alih bisa menikmati semangkok bakso pedas, mereka berdua malah kembali diserang rasa takut.

“Aduh.... mana nih tukang baksonya? Masa dari tadi nggak lewat sini juga.” Supram mengeluh dengan memoncongkan ujung bibirnya.
Bayu menarik nafas panjang mendegar ucapan temannya itu. “Mungkin saja dia berbalik arah. Nggak jadi lewat sini, Pram.”

“Kenapa?”

“Mungkin penjual itu takut melewati kuburan Krapyak,” jelas Bayu. “Atau bisa jadi....”
“Bisa jadi apa, Yu?”

“Bisa jadi itu tadi hantu, Pram!” Tenggorokan Bayu bergerak menelan ludah setelah dia mengucapkan kalimat itu.

“Tuh, kan. Kamu mulai lagi, Yu,” ucap Supram dengan nada kesal.
 
 
*****

 

Di musim hujan, suara belasan atau bahkan puluhan ekor katak, bersahut – sahutan dalam satu irama yang konstan. Waktu terus berlalu, dari kumpulan detik menjadi menit, hingga sudah lebih dari satu jam Bayu dan Supramono berteduh di depan toko itu. Menunggu jutaan liter air itu berhenti jatuh dari langit.

Bayu berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya sejauh tiga meter ke depan. Telapak tangan kanannya ditengadahkan ke atas. “Hujan sudah reda, hanya rintik – rintik saja. Yuk, kita pulang, Pram.”

Supram hanya menganggukkan kepalanya. Lalu dia berdiri dan mengelap jok sepeda motor yang basah menggunakan telapak tangan, walau hasilnya jok motor itu tidak benar – benar kering. Bayu duduk di depan membonceng Supram. Keduanya bernafas lega akhirnya bisa mengakhiri waktu berteduh yang cukup lama.

Sepanjang perjalanan nyaris tidak ada pengendara lain yang melintas. Bisa dikatakan hanya mereka berdua yang menyusuri jalan desa yang sangat sepi itu. Bahkan tidak hanya sangat sepi, kondisi jalan juga cukup gelap karena minim penerangan. Oleh karena itu, Bayu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang.

“Waaah, sepi sekali jalan ini, gelap juga,” tutur Supram dari jok belakang.

“Iya, maka dari itu. Kita jalan santai saja. Sluman slumun slamet,” balas Bayu. Tangan kirinya sempat memegang lehernya. Membendung angin malam yang membuat kulit lehernya menjadi dingin. “Aduh, dinginnya minta ampun.”

Supramono yang dibonceng sesekali melihat ke belakang. Rasanya seperti melihat bentangan kain berwarna hitam. “Yu, Bayu. Di depan sana itu, kita akan melewati kuburan Krapyak, ya?” Rahang bawah Supram mulai bergetar juga karena kedinginan.

“Iya, Pram. Sudah, diam saja.” Bayu sebenarnya juga ketakutan. Ingin sebenarnya menutup matanya, tetapi tak bisa karena dia yang mengendarai kendaraan roda dua itu. “Aduh. Aakhhh....”

Kendaraan yang mereka tumpangi berjalan tersendat. Dug..., suara yang dihasilkan dari benturan roda depan dengan jalan yang berlubang. Untuk menghindari benturan serupa, Bayu harus cekatan bermanuver. Sepeda motor itu berjalan zig – zag mengindari aspal yang rusak berlubang. Sebagian lubang tak terlihat karena terendam air.

“Hati hati dong, Yu, kalau nyetir,” gerutu Supram.

“Aduh..., roda depan goyang.”

Ssseeeeett! Suara gesekan ban dengan aspal. Bayu mengerem sepeda motornya.

“Kenapa berhenti?” Supram mencengkeram pundak Bayu dari belakang.

“Sepertinya ban depan bocor. Coba kamu periksa, Pram,” perintah Bayu.

Supram turun dari motor untuk memeriksa kondisi ban depan. “Benar, Yu. Kempes, bocor. Gimana, nih?” Supram sudah mulai was – was.

Bayu menghembuskan nafas panjang mendengar laporan dari temannya itu. “Yo, wis. Disurung ae, (Ya, sudah. Didorong saja)” ucapnya pasrah.

“Yu, di depan itu, kan....” ucapan Supram tercekat.

“Kuburan Krapyak? Sudah, jalan saja.” Bayu sudah tahu kalau Supram mulai ketakutan. Dia sendiri juga sudah merasakan ketegangan, harus berjalan di jalanan basah dan mendorong sepeda motor. Sekaligus harus melewati jalan di depan sebuah kuburan, minim penerangan.

Dug..., dug..., dug..., Supram merasakan degub jantungnya sendiri. Tak hanya merasakan malah, suaranya pun bisa dia dengar. Suatu campuran rasa takut dan tegang. Perlahan tapi pasti, langkah mereka sudah di jalan depan area pemakaman itu. Walau kondisi cukup gelap, tetapi secara samar – samar Supram masih bisa melihat benda – benda di sebelah kirinya. Beberapa tanaman yang digunakan pagar sebagai pembatas antara jalan dengan bagian depan komplek kuburan.


Nafas yang dihirup Supram lebih dalam dari biasanya, menyesuaikan dengan kerja jantung yang lebih keras untuk memompa darah. Dia sama sekali tak mempunyai rencana untuk menolehkan kepala ke arah kuburan di sisi kirinya. Tetapi hal yang tidak diinginkannya itu malah terjadi. Antara takut dan penasaran dia melihat ke arah kuburan.

Walau tak terlihat jelas dia melihat kumpulan bangunan kecil yang berjejer setinggi lutut. Di beberapa sudut lain,  dia melihat bayangan berbentuk sebuah pohon berbunga. Sebuah pohon yang seolah menjadi ikon tumbuhan di kuburan, pohon kamboja.



Spoiler for Ilustrasi:



Kedua bola mata Supram melotot, terperangah ketika melihat sebuah benda melayang. Sebuah benda seukuran satu genggam tangan berpijar terbakar api. Dia melayang berputar secara acak di atas makam – makam itu. Supram yang semula mondorong bagiang belakang motor, tiba – tiba mencengkeram dan menahan sehingga motor itu berhenti. Bayu yang di depan akhirnya juga ikut berhenti.


Spoiler for Ilustrasi:



“Ada apa sih, Pram? Malah ngajak berhenti di sini,” ucapnya sedikit tegang.

Bayu mulai bertambah ketegangannya saat tahu Supram hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya. Tetapi Supram menjawab dengan gerakan tangan yang menunjuk ke satu arah. Kedua mata Bayu lantas mengikuti arah telunjuk Supram. Kedua tangan Bayu yang memegang setir motor langsung gemetaran.

“Mas....” Suara serak seorang laki – laki.

“Huuaaaaa....” Bayu dan Supram teriak bersamaan. Jantung mereka seakan jatuh ke perut. Motor yang mereka pegang nyaris ambruk, lepas dari pegangan mereka.


Satu sosok kakek tua, kurus, yang seluruh rambutnya berwarna putih, sudah ada di seberang Bayu dan Supram. Memakai kaos berkerah dan menggunakan sarung. Karena cukup gelap, entah apa pastinya warna kaos dan sarung yang dikenakan kakek itu.

“Kalian kenapa berhenti di sini?” tutur kakek itu.


Bayu masih bingung dengan kehadiran kakek yang secara tiba – tiba dan mengagetkannya.  Sejenak dia melihat ke arah Supram, yang tampaknya juga kebingungan. “E..., anu, Mbah. Ban sepeda motor saya kempes.”

Kakek itu mengamati secara keseluruhan tunggangan Bayu. “Oh, begitu, ya?”

“Iya, Mbah. Mungkin bocor karena melewati jalan yang berlubang di belakang sana tadi.”

“Oh..., Biar ku perbaiki. Aku ini kan tukang tambal ban di wilayah sini. Mari ikut aku, bengkel kecilku ada di sana.”


Bayu dan Supram saling pandang selama beberapa saat. Meskipun masih bingung, mereka akhirnya mengikuti langkah pria tua itu.
 
 
*****

 

Akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk kecil yang kondisinya sedikit  terang terpapar sinar lampu neon tak jauh dari mereka. Tempat ini sebenarnya masih berada di sekitar lokasi motor Bayu berhenti karena bocor. Bisa dikatakan masih berada di sudut kuburan Krapyak.

“Sebentar ya, Ngger. Mbah istirahat dulu sebentar. Habis jalan agak jauh dari rumah warga di sana. Ayo, silahkan duduk. Kalian juga pasti lelah mendorong sepeda motor,” ucap kakek itu dengan ramah.

Bayu dan Supram menurutinya duduk di sebuah kursi kayu yang cukup panjang, seukuran panjang tempat tidur. Keduanya mengamati kondisi gubuk yang disebut oleh pak tua tadi sebagai bengkel tambal ban. Ukuran gubuk berdinding bambu itu mungkin 2 x 3 meter. Dengan kondisi cahaya yang minim, mereka tidak melihat peralatan yang biasa digunakan untuk menambal ban yang bocor.

“Mbah rumahnya di mana? Kok sendirian malam – malam begini?” tanya Bayu penasaran.

“Rumahku tak jauh dari sini. Tadi ada perlu dengan warga yang rumahnya masuk di gang itu,” seraya menunjuk ke satu arah. “Lalu aku pulang ketika hujan mulai reda, dan melihat kalian kebingungan di tengah jalan tadi.”

“Oohhh,” ucap Bayu dan Supram bersamaan.

Hidung Supram bergerak, seperti hidung kucing yang sedang mengendus. Dia mencium aroma bunga kenanga, tapi entah dari mana sumbernya. Kembali dia merasa gelisah, rasa takut mulai menyerang kembali. “Yu, Bayu. Kamu mencium bau bunga kenanga, nggak?” bisik Supram ke telinga kiri temannya itu.

“Kenapa kalian? Seperti ketakutan begitu?” tanya kakek tua sambil batuk – batuk kecil.

Bayu celingak – celinguk, “Tentu takut, Mbah. Daerah sini sepi sekali, apalagi di dekat kuburan ini. Apa njenengan (anda) tidak takut, Mbah?”

Kakek tua berdiri dan tertawa ringan, lalu berpindah tempat ke sudut lain di gubuknya itu. “Apa yang yang kalian takutkan? Hantu? Pocong? Hehehe. Tertawanya seperti meremehkan. “Mengapa harus takut? Aku sudah terbiasa dengan mereka. Hehehe.”

Bayu dan Supram untuk sesaat beradu pandang, bingung dengan ucapan kakek tua itu. Rasa bingung mereka bertambah ketika tiba – tiba ada bau anyir dan busuk masuk ke hidung lubang hidung mereka. Dan mereka seakan kesulitan bernafas, nafas menjadi tersengal – sengal. Mulut mereka terbuka, tapi tak mampu bersuara. Entah mengapa selama beberapa detik kaki mereka tak bisa melangkah! Padahal otak sudah memberi perintah untuk mengambil langkah seribu saat tahu bahwa kakek tua itu sudah berubah menjadi pocong, dengan dua lubang hidungnya yang disumbat kapas.


Spoiler for Ilustrasi:


Bruuukk...! Bayu dan Supram jatuh dari tempat duduknya karena kaget. Setelah sanggup berdiri, mereka lari sekencang – kencangnya tak peduli dengan jalan yang basah atau sandal yang terlepas dari telapak kaki. Menomor duakan sepeda motor Bayu yang harus tertinggal di sana.
 
* * * * *


 
  

Bagi warga kota marmer, Jawa Timur, pasti tahu lokasi dan cerita lain kuburan ini.
 
 
Sumber foto untuk ilustrasi :
Di sini
Di sini
Di sini
Di sini
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dwikusumad dan 12 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17
Halaman 1 dari 2
Petralite di Amankan.. xixi
Quote:


Waduh km mengamankan pertalite? Nimbun BBM sist? Jangan.. ntar km dilaporin KPAI lho... hehehe.

emoticon-Malu
profile-picture
aryanti.story memberi reputasi
Quote:


Mau pertamax mahal Gan xixi
Jauuuhh amir Gan ke KPAI.. Bukan nya KUA ya? Wkwkwkemoticon-Shakehand2 emoticon-Ngacir2 emoticon-Ngacir2
Quote:


Ke KUA? Hmm, oke Jumat besok ya.

emoticon-Malu
Quote:


Asssiiikkk mau dibeliin pertamax di KUA.. Wkwkwk emoticon-Betty emoticon-Betty emoticon-Betty emoticon-Cipok
Bersambung ga Gan?
Quote:


Oke.. sah? Saaaahhh...
Quote:


Engga sist.. hehehe...

emoticon-Toast
Quote:


Saaahh aja dah Gan.. Dari pd benjol xixi
Quote:


Lagi Gan lagi... emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan
Quote:


On process bikin cerita lain ini sist. Tunggu yak..

emoticon-Maluemoticon-Ultah
profile-picture
aryanti.story memberi reputasi
Quote:

Siap 86 Gan.. Ganbattee... emoticon-Rate 5 Star emoticon-Rate 5 Star emoticon-Rate 5 Star emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om!
kurang serem gan hehe
profile-picture
ampekduo memberi reputasi
kok gimana gt ya bacanya. ikut merinding
profile-picture
galih17 memberi reputasi
Quote:


Iya gan

emoticon-Ngakak
profile-picture
muhammadafdal15 memberi reputasi
Quote:


Mgkn km kediginan sist jadi merinding. Hehehe.

emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
muhammadafdal15 dan abellacitra memberi reputasi
Quote:


Wkwkwk 🤣🤣🤣 demam emang 😍😍
Quote:


Tull gan haha cuma tulisan doang kok serem haha
profile-picture
ampekduo memberi reputasi
Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Sundul ah yg dipejwan

Ada penampakan pocongnyaaaa asikkk wkwkwkwkwk
profile-picture
muhammadafdal15 memberi reputasi
Quote:


Buseeett. Demen bgt deh liat gituan sist. Kurangin deh.. ntar kena rematik.


emoticon-Cape d...
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di