CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / ... / Dunia Kerja & Profesi /
Pengalaman Melamar Kerja Jadi Sales Kompor Gas
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e747ee9b41d303dcd6a3f1e/pengalaman-melamar-kerja-jadi-sales-kompor-gas

Pengalaman Melamar Kerja Jadi Sales Kompor Gas

Dear, My Kindred Spirits


Pengalaman Melamar Kerja Jadi Sales Kompor Gas


Quote:


Pagi itu ane bersiap-siap untuk mengirimkan lamaran ke salah satu perusahaan di Ibu kota yang infonya ane dapet dari temen ane. Sembari menunggu motor ane panas, ane pun dandan alakadar dengan memakai celana jeans panjang, jaket dan tas yang berisi dokumen untuk lamaran kerja. Ane pun cus menuju ke kantor pos. Tapi ditengah perjalanan, ane inget ada dokumen yang belum ane fotokopi. Jadi ane pun mampir dulu ke tukang fotokopi. Setibanya ane di fotokopian, ane melihat brosur lowongan kerja yang kurang lebih seperti ini :
Quote:


Dengan keadaan ane yang saat itu lagi butuh kerjaan, ane pun tertarik dengan lowongan tersebut. Terlebih posisi yang dibutuhkan cukup prestisius dengan kualifikasi yang ngga ribet. Tanpa ada pikiran lain, saat itu ane hanya berpikir "Wah yang punya ni perusahaan pasti orang baik" sebab memberikan lowongan kerja dengan kualifikasi yang amat sederhana.

Singkat cerita ane pun batal ke kantor pos, dan langsung meluncur menuju alamat yang tertera di info lowongan tersebut (bukan seperti yang tertera di pic diatas). Setelah memanfaatkan Maps, ane pun sampai di tempat tersebut. Tapi ane sedikit agak heran, ternyata ini hanya sebuah ruko mewah dua lantai, diluar ekspektasi ane yang ngira bakalan menjumpai gedung/kantor gede. Tapi tak apalah, mungkin ini hanya tempat rekrutmennya aja, ane menghibur diri sendiri. Ternyata disana sudah banyak pelamar lain. Ane pun langsung mendekati seorang bapak yang kayanya doi ini bertugas sebagai pengawas.
"Pak, permisi saya mau ngelamar di PT PMA, bener kan ini tempatnya ?" Tanya ane.
Si Bapak menjawab "Bener mas, tapi hari ini tes nya bentar lagi selesai".
"Lah jadi gimana dong pak ?" Ane bingung O.O
"Yaudah mas taro aja lamarannya disini, nanti besok kesini lagi buat tes" lanjut si Bapak.
"Oh oke deh pak... bentar pak" ane buka tas "nah ini nih pak lamarannya" ane nyerahin lamaran yang awalnya ane tujukan ke perusahaan di Jakarta.

Besoknya ane pagi-pagi udah nyampe lokasi. Tak lama kemudian ane dan 5 orang lainnya disuruh masuk dan menunggu di suatu ruangan. Selama menunggu diruangan tersebut, ane sayup-sayup mendengar teriakan-teriakan khas seminar MLM "Dahsyat!!!" "Sukses!!!" "Dahsyat!!!" Kurang lebih gitu deh. Lalu masuklah mas-mas kurus berambut dikeatasin memakai kemeja sutra dan kayanya pakai bedak. Ane kira ini yang bakal ngarahin kita tes, tapi ternyata bukan, si doi cuman bilang ke kita agar menunggu lebih lama lagi karena yang mengarahkan tes belum datang. Lalu si mas-mas itu ngajak ngobrol kita berenam. Di tengah obrolan ini si doi mengklaim bahwa dengan kerja disini doi sudah bisa beli rumah dan mobil. Wow, ane kagum.

Akhirnya bapak yang bertugas mengarahkan kami tes datang juga. Beliau langsung bilang kepada kami, bahwa kami akan melewati tiga tahapan tes. Yaitu tes observasi, tes tulis dan terakhir tes wawancara. Kami berenam lalu dibagi menjadi tiga kelompok. Ane berpasangan dengan si gembul. Menurut penjelasan bapak tadi, dalam tes observasi ini tiap dua orang akan didampingi satu trainer. Lalu ane dan gembul diantar ke trainer yang akan mendampingi kami berdua. Ane dapet trainer seorang pria berusia 40 tahunan, rambut agak botak dan berbadan tambun, sebut saja om Danil.

Kami pun langsung bersiap untuk melakukan tes "observasi". Ane dan si gembul langsung diajak ke angkot. ya, angkot. Ditimbang dari iming2 kesuksesan yang diraih, namun kendaraan yang disiapkan menuju tempat observasi hanya menggunakan angkot cukup mulai membuat ane curiga.

Dengan kondisi berdesakan dalam angkot, sepanjang jalan ane membayangkan observasi macam apa yang akan ane hadapi nanti. Dan setelah kurleb 30 menit ane dan rombongan sampai di sebuah desa. Mungkin bertujuan untuk mencairkan suasana, Pak Danil tak langsung memulai observasi. Tapi dia mengajak ane dan gembul untuk ngopi dan ngobrol di sebuah warung kopi yang kami temui tak jauh dari tempat kami turun tadi.

Obrolan-obrolan basa-basi khas orang Indonesia terlontar dari mulut kami. Dan akhirnya setelah ane tenggak tetes terakhir dari kopi gratisan ini, kami pun bersiap melakukan observasi, disaat itu juga ane deg-degan bukan main. Sembari melangkah, Pak Danil memberi kami mandat untuk di hari pertama ini ane dan gembul tidak perlu terjun langsung dengan customer, cukup hanya memperhatikan dengan seksama bagaimana Pak Danil 'mengeksekusi' customer.

Lalu tibalah kami di sebuah rumah yang cukup sederhana. Lantas benak ane langsung menerka-nerka "rumah siapa ini?", "Apakah didalam rumah ini adalah tempat kami melakukan observasi ?", "Tapi observasi apa ?". Makin memikirkannya ane makin deg-degan.
Suara Pak Danil memberi salam kepada pemilik rumah memecah lamunan ane.

Sejurus kemudian pak Danil memperkenalkan bahwa kami adalah perwakilan dari Pertamina untuk mengecek kelayakan dan keamanan pemakaian kompor gas. Ane sesaat itu juga ngebatin "Perasaan ngga ada embel-embel Pertamina sama sekali di brosur lowongan kerja dan kantor rekrutmen nya". Setelah melakukan silat lidah yang ciamik, ketahuan lah bahwa lowongan yang saya lamar ini sebenarnya hanyalah sales kompor gas belaka. Saya merasa sangat kecewa, marah dan bego disaat yang bersamaan. Tapi jujur Pak Danil ini negosiator yang ulung, doi bisa merayu pemilik rumah untuk membeli regulator dan selang gas yang selama ini ia sembunyikan di dalam tasnya dengan harga yang sangat ngga wajar.

Sekitar 8 sampai 10 rumah kami sambangi hari itu. Kekecewaan mendalam karena merasa tertipu iklan lowongan kerja sedikit terhibur kala Pak Danil menyudahi 'observasi' di hari ini. kamipun bergegas kembali ke kantor untuk melanjutkan tahapan tes berikutnya. Ya, kami kembali berdesakan naik angkot.

Sesampainya di kantor tahapan tes berikutnya berupa tes tertulis dan wawancara hanyalah formalitas belaka bagi ane. Pasalnya ane udah bertekad bulat untuk tidak bekerja disini. Dan kejadian hari itu cukup saya jadikan sebagai bekal untuk lebih berhati-hati lagi dalam melamar pekerjaan.


~ 終わり ~


Penutup :
"Sebenarnya tidak ada yang salah sebagai seorang sales, apapun barang yang ia jual. namun cara perekrutan nya inilah yang menurut hemat saya mengandung unsur scam alias penipuan. Perlu agan ketahui, perusahaan sales kompor gas ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah, Ada yang bernama, PT PUNCAK MEGA ANGKASA ada juga yang bernama PT KAMAJAYA JASA UTAMA dan lain-lain.
Diubah oleh sellicestone


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di