CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Lunatic Runaway [Cerbung Romance-Fantasy]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7438d088b3cb5d3315a20d/lunatic-runaway-cerbung-romance-fantasy

Lunatic Runaways [Cerbung Romance-Fantasy]

Lunatic Runaway [Cerbung Romance-Fantasy]


Bagian 1

Larice tiba di rooftop gedung. Tangan kanannya menjinjing sepatu berhiaskan batuan yang berkelap-kelip. Dadanya naik turun, dia pun seperti kewalahan mengatur napas.

Gadis itu berjalan ke arah tembok, kemudian melemparkan sepatu ke lantai rooftop. Tangannya tampak berusaha mengangkat tubuh, hendak menaiki pembatas itu, tetapi gagal. Saat percobaan ketiga kalinya, terdengar teriakan dari arah belakang si gadis.

“Hei! Mau apa kamu?”

Genggaman tangan Larice yang berada di atas permukaan tembok terlepas. Dia pun jatuh.

“Ka-kamu si-a-pa?” Larice menunjuk ke arah pria yang berdiri dalam kegelapan. Tidak ada tubuh utuh yang terlihat, kecuali urat-urat di pergelangan tangan yang mengeluarkan cahaya. Saat ini, dia seperti melihat tangan tanpa tubuh.

“Jawab dulu pertanyaanku!” raung pria bernama Lon itu. Ekspresi pria itu berbanding terbalik dengan nada bicaranya. Ternyata dia hanya sedang menggoda si gadis.

Dalam kegelapan, tentu Larice tidak akan melihat ekspresi Lon. Larice pun berdiri. Namun, raut ketakutan masih tampak di wajahnya. Dengan tangan gemetar, dia menepuk-nepuk bagian belakang gaun putihnya yang kotor.

“Aku Larice. Putri dari Mentri Halwin. Ja-jangan macam-macam denganku!”

“Kamu pikir, aku takut?” gertak Lon. Dia maju beberapa langkah dan berhenti di bawah sorot lampu. Ternyata, tidak ada yang aneh dengan tubuhnya.  Cahaya pembuluh darah yang tadi terlihat pun, kini berganti dengan kulit layaknya penduduk Gemeothre lain.

“Sudah! Jangan memasang wajah seperti itu. Menggelikan.” Lon tertawa terbahak-bahak. “Jika kamu mau mati, jangan loncat dari situ. Gedung ini memiliki pelindung yang tidak bisa dilihat mata telanjang. Lebih baik, kamu lewat situ.” Dia menunjuk pada sebuah pintu kayu.

Geraman, gonggongan, dan lengkingan terdengar dari balik pintu tersebut. “Para kreyna[1] akan sangat senang mendapatkan santapan yang cukup lezat.”

“Tunggu!” Larice terlihat berlari kecil menuju ke arah Lon.

Tangan Lon menghangat. Cahaya dari urat-urat di tangannya muncul kembali, tepat di bagian yang digenggam oleh Larice. Pikirannya berkecamuk. Dia mengenali sentuhan ini. Dia pernah merasakan genggaman tangan ini.

Larice tampak terkesiap. Namun, tangannya masih berada di posisi yang sama. “Aku sedang menghadapi kesulitan. Bisakah kamu membantu aku melarikan diri dari sini.”

“Yakin? Aku ini bukan orang baik,” sergah Lon.

“Aku tau, kamu berbohong.” Larice mengendurkan genggamannya. “Tanganku tidak pernah berbohong.”

“Ah, jadi kamu ‘membaca’ aku lewat tanganmu itu.” Lon mendengkus. Sikap yang dia tunjukkan, berbeda dengan perasaan hatinya. Dia yakin, gadis ini adalah seseorang yang pernah berkesan di masa lalu. Pikirannya sibuk menyusuri setiap kepingan memori.

Di manakah dia pernah bertemu dengan Larice?

***

Dua puluh tahun lalu.

Lon kecil--yang masih berusia tiga tahun--berjalan mengelilingi ruangan khusus di restoran yang disewa oleh keluarganya. Dia memegang semua yang bisa diraih. Beberapa anggota keluarga menertawakan tingkah Lon.

“Jadi, kita sepakati perjodohan ini?” tanya Tuan Halwin yang tampak ragu.

“Utangmu lunas dalam beberapa tahun, karir politikmu akan terjamin. Apa lagi yang kurang? Pertemukan mereka, di saat yang tepat. Bisa kita atur lagi, nanti.” Tawa congkak terdengar menutup ucapannya. Seperti biasa, tidak ada yang berani menyanggah ucapan Tuan Zeau.

Lon asyik memainkan sebuah bola berwarna merah. Dia melempar-lemparkan benda itu ke arah tembok.

Tampaknya, hal yang dilakukan Lon menarik perhatian seorang bocah perempuan. Gadis cilik yang usianya lebih muda beberapa bulan dari Lon, berlari.

“Bo-a a-tu![2]”

Lon terdiam mendengar teriakan bocah itu. Untuk sesaat, dia menatap dengan lekat. Ditariknya tangan si bocah perempuan. Seketika, tangan Lon bercahaya, tidak terlalu terang. Hangat menjalar di tubuhnya. Tidak ada satu pun orang yang berada di ruangan itu, memperhatikan kejadian ini.

Kemudian, Lon memberikan bola itu. “Buat ta-mu.[3]”

Bocah perempuan itu tampak gembira. Dia pun membalas genggaman tangan Lon, kemudian berlari menjauh. Teriakan kegirangan gadis cilik itu, sepertinya mampu mengalihkan perhatian orang-orang.

Tuan Zeau menggendong bocah perempuan itu, kemudian mengajaknya duduk di sebuah kursi. “Laur, kenalkan … ini Larice. Nanti kalian akan bertemu lagi, ya, ketika sudah dewasa.”

Wajah bocah berusia empat tahunan itu, mirip sekali dengan sang ayah. Laur--kakak Lon--tidak mengacuhkan ucapan ayahnya. Dia tampak sibuk dengan mainan yang berada di hadapan.

Dari kejauhan, Lon mengangkat tangan sambil membuat gerakan ‘bye-bye’. “Temu agi anti, Alisss![4]”


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Keterangan:
1. Kreyna: Hewan berbentuk seperti anjing, bertubuh besar, tingginya bisa mencapai dua meter, juga memiliki ekor api.
2. Bola aku.
3. Buat kamu.
4. Ketemu lagi nanti, Larice.


Jangan lupa rate, cendol, komen, dan share-nya ya Gan Sist. Thank you!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lin680 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Vevana
ninggalin sendal dulu 🤩
Diubah oleh Vevana
Quote:


Mau jumatan yak, takut ilang.
Bagian 2

Wajah Larice tampak muram. Gaun yang dia kenakan tidak kalah kusam, bekas tanah tampak menghiasi permukaan kain berwarna putih tersebut. Tanpa alas kaki, dia berjalan di sebuah hamparan padang rumput. Arah matahari terbenam adalah tujuannya. Nanti, jika malam tiba, dia harus mengikuti rasi bintang Varrascus[1]. Setidaknya ... itu yang disampaikan Lon.

Larice tetap menuruti pesan Lon. Meski dalam hati, sepertinya dia sangat membenci lelaki itu. Bagaimana tidak, Lon mendorongnya--yang berharap penuh dengan pertolongan lelaki itu--hingga melewati pintu ruangan yang katanya berisikan kreyna. Membayangkan suara-suara yang didengar sebelumnya saja, bisa-bisa sukses membuat gadis itu bergidik.

"Gunakan tanganmu, pegang ekornya!" pekik Lon sebelum menutup pintu.

Larice tertegun. Dia hanya meminta bantuan untuk kabur, bukan dijadikan umpan seperti ini.

"Kyaaaa! Lancang kamu, laki-laki aneh!" teriaknya, setelah melihat pintu kayu di hadapan telah menghilang, berubah menjadi padang rumput.

Larice teridam seketika. Dia berpaling, tatapannya seolah menyelidik ke setiap arah. Mungkin saja, dia tidak mau memancing kedatangan kreyna. Sungguh sial jika harus menjadi santapan makhluk itu dalam keadaan kacau seperti ini.

_Gunakan tanganku? Apa dia gila? Sebelum aku memegang ekor kreyna itu, mungkin tanganku sudah putus lebih dulu._

Larice bergidik lagi mengingat kejadian tadi, seperti sedang membayangkan hewan yang diketahui sudah punah itu. Selama ratusan tahun, hanya beberapa kasus penampakan kreyna yang bisa ditemukan. Itu pun, tidak menambah penjelasan dalam ensiklopedi hewan Planet Gemeothre.

Gadis itu melangkah sambil berjinjit, seolah tidak ingin menimbulkan suara. Tangannya tampak sibuk mengangkat gaun yang mulai terasa tidak nyaman. Tidak lama kemudian, dia menemukan batu berbentuk pipih. Akhirnya, Larice menyobek ujung gaunnya tersebut.

"Untung saja batu ini cukup tajam. Tidak rapi ... huhuhuuu .... Tidak apa-apalah, yang penting aku bisa berjalan dengan bebas," gumamnya.

Larice terus berjalan, meski langit sudah gelap. Seperti petunjuk dari Lon, dia mengikuti rasi bintang berbentuk huruf V tersebut. Saat menelan ludah, gadis berambut hitam itu seperti tercekat. Tidak ada air yang bisa ditemukan sepanjang perjalanan. Langit malam ini pun tampak cerah, mustahil dia bisa menampung air hujan. Andai bisa pun, dengan apa dia akan melakukannya?

Sejenak, dia berhenti. Kemudian, gadis itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Tampak bahunya berguncang. Samar terdengar isakan.

"Harusnya tadi aku lari keluar gedung," ucapnya sambil menatap ke langit.

Krak!

Larice tampak menghentikan tangisnya. Dia memasang telinga, menunggu bila ada suara lainnya. Dia pun menajamkan pengelihatan, menanti bila ada pergerakan sedikit pun.

"Gggrrraaauuugh!"

Suara itu muncul dari arah barat. Meski berjarak sangat jauh, tetapi suaranya terdengar sangat dekat. Cahaya seperti nyala obor, tampak jelas dari posisi gadis itu berada.

Tanah terasa bergetar ketika makhluk itu berlari. Angin pun tiba-tiba berembus kencang. Dari kejauhan, terdengar suara hewan lainnya bersahutan.

"I-tu .... Ayaaaaaaah!" Larice Cumiik kencang, tetapi tubuhnya kaku seperti patung. Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika kreyna setinggi 150 sentimeter, menghempaskan tubuhnya ke tanah.

***

"Iyuuuuuh! Basaaaah, bauuuu," rengek Larice perlahan. Cairan serupa lendir dan beraroma rumput itu, membuatnya tersadar dari pingsan yang amat singkat.

Di atas tubuhnya, seekor hewan berwarna merah dengan wajah mirip anjing, berdiri. Beberapa kali, ia menjilati baju dan wajah Larice. Hewan itu menguap dan melepaskan 'terkaman' dari tubuhnya, menampakkan gigi-gigi yang rata layaknya hewan herbivora.

"Ini bukan mimpi." Larice terduduk sambil merasakan kepala yang berat, seolah habis dihantam berkilo-kilo beban. "Astaga! Ternyata makhluk itu makannya rumput." Dia mengernyitkan dahi melihat keanehan di depan mata.

"Kukira kamu hewan yang menyeramkan." Gadis itu bangkit dan berjalan perlahan ke arah kreyna, yang sedang asyik menikmati rumput hijau. "Sekarang, aku akan mencoba lagi saran dari lelaki itu."

Diam-diam, Larice menuju ke bagian belakang tubuh hewan tersebut. Mengendap-endap, kemudian ....

"Aha! Kena kamu!" teriak Larice.

Namun, yang terjadi ... api di ekor si kreyna malah padam akibat genggaman tangannya.

Kreyna muda itu bangkit, lalu membalikkan badan. Tubuhnya tidak lebih tinggi dari Larice. Namun, apa saja bisa dilakukan hewan dengan ukuran seperti itu, 'kan? Ia menatap tajam ke arah gadis di hadapan, yang tampak gemetar.

Larice pun mundur perlahan. Tanpa terasa air matanya kembali menetes. Ketakutan seolah menguasai dirinya. Sebuah batu, membuatnya jatuh. Dia membalikkan badan dan merangkak dengan tangan dan kaki yang gemetar.

Tidak terlihat ada pergerakan dari hewan itu. Sekilas, Larice melirik. Namun, dia langsung menjatuhkan badan ke tanah.

Secepat kilat, si kreyna berhasil menindih tubuh Larice. Lagi-lagi, ia menjilati bagian kepala gadis itu.

Larice berhasil menghadapkan tubuh ke arah hewan berotot itu. Tangannya berusaha menggapai apa pun. Kemudian, dia berhasil menyentuh dada si kreyna.

Dalam hitungan detik, kreyna itu mulai tenang. Larice berhasil 'membaca'-nya. Ternyata, ia mengira sedang diajak bermain.

"Ah ... Kreyna, ternyata kamu benar-benar hewan yang baik." Larice melingkarkan tangannya ke leher makhluk berbulu pendek itu.

Sekarang, izinkan aku menyentuh ekormu, ya. Bantu aku, dengan apa pun yang bisa ekormu lakukan. Larice pun bangun.

Kreyna itu menatap lembut ke arah Larice. Api berwarna merah, kembali menyala di ekornya. Ia tidak menolak saat Larice menyentuh kepala hingga punggungnya. Begitu pula saat tangan Larice berhasil menyentuh ekor. Semua berubah terang, cahaya menyilaukan muncul dari bagian tersebut.

Larice mengerjapkan mata. Dia berusaha mengidentifikasi ruangan tempatnya berada. Namun, tidak berhasil. Dia sama sekali tidak mengenali tempat ini.

Kreyna itu duduk di sudut ruangan. Seolah, tempat ini sudah sering ia kunjungi. Tiba-tiba saja ia menyalak.

Dari sudut lainnya, seorang lelaki berambut sebahu menghampiri hewan tersebut. "Senang bertemu denganku, Jill?"

Jill si kreyna muda, menunjukkan ekspresi gembira.

"Maaf, karena aku belum sempat memperkenalkan diri. Namaku Lon. Panggil saja, Lon."

Lelaki itu menyibakkan rambut yang menutupi wajah, sambil bertanya pada Larice, "Bagaimana petualangannya? Seru?"

Keterangan:
[1] Rasi bintang berbentuk V, menunjukkan arah barat.


***Bagian 3 update besok. Jangan lupa cendol, rate, komen, dan share-nya dong Gan Sist. Biar tamba semangat nih***
profile-picture
profile-picture
lin680 dan ReniHujan17 memberi reputasi
emoticon-Sundul Up
Bagian 3

Lon menyiapkan makanan di atas meja ruang makan, yang dibuat menyatu dengan area dapur. Perabot bernuansa hitam mendominasi rumah ini. Cukup serasi dengan warna merah pada tembok, hampir di setiap ruangan.

Dari arah dapur ini, bisa terlihat bagian belakang rumah. Atapnya dibuat terbuka, tepat setengah bagian kandang Jill. Hewan itu tampak sedang tertidur pulas.

Larice keluar dari sebuah kamar, mengenakan T-shirt berwarna abu dan celana joging. Dia hanya berdiri, menatap kesal pada Lon. Sementara lelaki itu, sedang fokus di area dapur.

"Hei! Kamu yakin tidak punya baju yang lebih kecil dari ini?"

Lon melirik kemudian menggeleng. Dia membawa sepinggan penuh makanan yang baru saja diangkat dari dalam microwave. Dia pun berjalan ke arah Larice.

"Ikut ke sini. Jangan banyak bicara dan makanlah yang kenyang."

Hangat. Sensasi itu mengalir kembali saat Lon menggenggam pergelangan tangan Larice. Namun, kini tidak terlihat cahaya seperti pada kejadian sebelumnya.

Bagai kerbau dicocok hidung, Larice menurut. Dia melahap hampir semua yang disajikan. Porsinya seperti orang yang tidak makan berhari-hari.

"Kamu pasti lelah. Setelah ini, istirahatlah di kamar tadi. Ingat, pintunya jangan dikunci."

Larice yang sedang meminum segelas air, langsung tersedak. "Kenapa tidak boleh? Apa kamu bisa menjamin, tidak akan berbuat jahat kepadaku?"

"Kan, kamu sendiri yang bilang kalau aku itu orang baik. Apa salahnya sih, percaya dengan perkataanku?"

Mata Larice mulai memerah. "Kalau kamu baik, kamu tidak akan memasukanku ke ruangan itu!"

Suasana berubah menjadi canggung. Larice menangis dalam diam. Dia masih merasa bahwa apa yang dilakukan lelaki itu, sungguh keterlaluan.

"Astaga ... kamu ini cengeng juga, ya." Lon berdecak. Dia memasang wajah kesal. Andai saja apa yang terjadi tadi, bisa diberitahukan pada Larice.

Terdengar gonggongan Jill. Ketika sudah berada di kandangnya, kreyna itu tidak bisa bebas keluar masuk menembus ruang dan dimensi.

Lon bangkit, lalu merapikan peralatan makan. Dia pun berjalan diiringi gonggongan Jill yang semakin terdengar nyaring. "Sudahlah, jangan menangis terus. Kreyna sangat suka mencium aroma air mata. Jika kamu terus begitu, Jill tidak akan tenang. Lihat saja, sekali aku keluarkan dia dari kandang, dia akan menjilati kamu tanpa henti."

Larice langsung meletakkan sendok di atas piring. Dia pun mengusap air matanya. "Terima kasih untuk makanannya," ucapnya ketus. Dia berlalu, menuju kamar yang ditunjukkan oleh Lon sebelumnya.

"Ingat, jangan dikun--"

Brak!

Sambil mencuci piring, Lon menahan ledakan tawa. Dia merasa puas telah berhasil membuat gadis itu jengkel. "Rupanya, begitu sifat kamu."

***

Lima jam sebelumnya.

Lon menutup pintu kayu, lalu mengusap setiap ujungnya. Pintu itu menghilang, berganti dinding yang penuh dengan mural. Lelaki itu duduk di tempatnya semula--sebelum bertemu dengan Larice.

Beberapa saat sebelum Lon terpaksa memasukkan Larice ke dalam ruangan berpintu kayu itu, dia menyentuh lantai rooftop. Tangannya dapat merasakan orang-orang sedang berlari di tangga darurat menuju tempat mereka.

Benar saja. Kini, terdengar gebrakan pintu rooftop. Derap langkah kaki petugas keamanan pun cukup nyaring. Mereka menyisir tempat itu secara saksama.

"Ada apa ini?" Lon berjalan dari balik kegelapan. Tidak ada cahaya yang muncul dari tangannya, sebab dia memakai sarung tangan berwarna hitam.

"Ma-af Tuan Muda, saya kira Anda tidak berada di sini," ucap seorang pria berbaju seragam. Sepertinya, hanya dengan mendengar suara, dia sudah tahu bahwa itu adalah Lon.

"Tidak usah berbasa-basi," timpal Lon tak acuh.

"Apa Anda melihat seorang gadis berada di sini, Tuan? Sebab rekaman kamera pengawas, menunjukkan bahwa dia berlari ke arah sini."

Lon pun turun dari posisi duduknya. Dia merapikan rambut menggunakan tangan, lalu mengikatnya. Tanpa banyak kata, lelaki itu menatap si petugas dengan dingin.

"Ba-baik-lah kalau begitu, Tuan. Saya rasa memang gadis itu tidak berada di sini." Para penjaga keamanan pun meninggalkan tempat itu.

_Semoga dia bisa bertahan di dalam sana_, batin Lon.

Lon menuju arah tembok, tempat di mana Larice disembunyikan. Saat dia hendak memunculkan kembali pintu itu, sebuah getaran kembali dirasakan tangannya. Dia mengurungkan niat itu dan memilih untuk berpura-pura menatap ke arah bawah gedung.

"Lon, ayah kira, kamu belum sampai di sini." Sebuah sapaan yang terdengar tidak ramah itu, terdengar dari belakang tubuh Lon.

Lon membalikkan badan. "Ayah? Wow, seorang Tuan Zeau sampai repot-repot menyusulku ke sini, sendirian," sindir lelaki itu. "Apakah pesta pertunangannya sudah dimulai?"

"Bagus! Setelah semua kekacauan ini, kamu bertanya, seolah tidak memiliki beban." Tuan Zeau menarik pelipis matanya dengan jemari. Dia tampak sangat kacau.

"Kenapa? Pesta pertunangannya tidak jadi diadakan?" Terdengar nada mengejek dari pertanyaan yang dilontarkan Lon. Bahkan, dia berani menatap sang ayah. "Jika petugas kemanan gedung ini pintar, mereka akan memeriksa kamera pengawas untuk memantau kedatanganku, 'kan?"

"Tak pernah kusangka, anak yang selama ini kubersarkan, berani berbicara tidak sopan padaku," gumam Tuan Zeau, lalu membuang ludah. Temaramnya tempat ini, berhasil menyamarkan wajahnya yang mulai memerah.

"Baiklah, meski ayah tidak suka situasi seperti ini, ayah akan bertanya dengan baik-baik. Kamu betul-betul tidak melihat siapa pun naik ke tempat ini, sebelum para petugas keamanan tadi?

Lon menjawab dengan penuh percaya diri, "Tidak." Kemudian, dia membuka salah satu sarung tangannya dan berjalan ke tempat yang gelap. "Itu pun, jika Ayah percaya padaku."

Lelaki itu amat tahu kelemahan ayahnya. Sang Ayah selalu merasa tidak nyaman melihat 'keanehan' yang dia miliki.

"Sudah, ayah percaya padamu." Tuan Zeau mengibas-ngibaskan tangannya. Dia pun berbalik dan berjalan menuju arah pintu tangga darurat. Namun, langkahnya terhenti.

"Lon, asal kamu tahu. Perempuan yang ayah cari, bukan orang sembarangan. Dia adalah putri salah satu klien ayah. Dan dia ...." Tuan Zeau menghela napas. "Adalah calon tunanganmu."

Lon menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutan. Ternyata itulah jawaban dari pertanyaan hatinya, saat merasakan sentuhan tangan Larice. Dia tertawa kecil, setelah menyadari bahwa membantu pelarian gadis itu, sama dengan menyelamatkan dirinya sendiri dari pertunangan yang tidak diinginkan.

Namun, kini dia harus memikirkan apa yang akan dilakukan pada Larice. Setidaknya, dia merasa turut bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu.

***Setelah ini update seminggu sekali. Antara Sabtu/Minggu.***
profile-picture
profile-picture
lin680 dan ReniHujan17 memberi reputasi
Diubah oleh Vevana
ikut mampir
Quote:


Makasih sist
Lihat 4 balasan
Quote:


Thx


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di