CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7392f5c342bb59fc037b3d/pasar-setan-di-pasar-bubrah-dan-beberapa-penghuni-merapi

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi


Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Pasar Bubrah. Photo by Lintang, dokpri


Aku menajamkan penglihatan. Keringat mengucur seiring jantung yang berdegub kencang. Jemari kiri Arya pun semakin erat kugenggam.

"Tak apa. Tak ada apa-apa, May."

"Tapi, Ar. Aku mendengarnya dengan jelas."

Tak ada rombongan di depan maupun belakang kami. Tapi aku merasa, ada orang berjalan di belakang kami. Berulang kali, aku menengok ke belakang.

"Ah, itu hanya perasaanmu saja." Arya membalas genggaman tanganku. Meremasnya, mungkin mencoba menenangkanku.

"Aku melihatnya, Ar!"

Ya, di sisi kiri jalan, di samping pohon besar, aku melihat seorang nenek, memakai kebaya. Dia mengangguk, tersenyum padaku.


"Ayo kita jalan lagi. Kalian masih ingin menikmati sunrise di Pasar Bubrah 'kan? Nggak perlu takut sama yang namanya lelembut, kita ini manusia. Dia tak akan bisa memperdaya kita." Ranu menimpali.


"Tapi ...."

Ranu mendahului, berjalan di depan kami. Arya menggandengku, mengajak untuk melangkah maju.

Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan. Aku, Arya, dan Ranu. Kami bersahabat sejak kelas satu SMA. Kami dekat karena sama-sama berkegiatan di pecinta alam.


Malam ini, kami mendaki ke Merapi. Melepas penat sebelum ujian akhir. Masih ada seorang sahabat kami, yaitu Anis. Dia terpaksa kami tinggal di bawah karena sedang haid. Anis penakut sekali. Dia takut melanggar mitos. Tak seperti kami, yang nekat naik, walau kami bertiga. Ganjil! Meskipun saat di pos 1, sebelum bertemu dengan nenek itu, aku melihat seorang wanita berbaju putih yang berkata, "Jangan lanjutkan! Kembali!"

Kami melangkah perlahan. Aku masih sayup mendengar suara itu. Suara yang memintaku untuk tak melanjutkan perjalanan.

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Tenda yang menyebar di Pasar Bubrah. Photo by Lintang. Dokpri

Tak terasa, kami pun sampai di Pasar Bubrah. Sudah banyak tenda yang berdiri. Tempat ini luas, tapi juga berangin cukup kencang. Kami pun segera mendirikan tenda dan menjerang air. Lumayan, untuk berlindung dari angin yang cukup kencang. Memang aku jarang tidur bila sedang mendaki. Entahlah. Sayang aja kalau melewatkan waktu di gunung dengan tidur.

Selesai membuat tenda, kami masuk tenda sembari minum kopi. Tiba-tiba, dari luar tenda, terdengar suara riuh sekali. Seperti ada banyak orang di luar tenda. Aku hanya bisa terdiam. Ranu pun keluar.

"Ran, jangan keluar!"

"Aku mau pipis, May. Mau ikut?"

"Aishh, ogah. Udah sono, buruan balik ya!"

"Iye."


"Punya receh?" tanya Arya.
Aku mencari uang receh di kantong celana. Arya menerimamya, lalu melempar keluar. Setelah itu, dia memungut kerikil dari luar.

"Masih suka kaya gitu?" tanyaku.

"Apa salahnya mengikuti tradisi? Toh kita juga nggak rugi."

Aku dan Arya kembali berbincang sembari menikmati kopi kami.

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Photo by Lintang, dokpri.

"Ar, Ranu lama amat ya?"

"Iya. Kamu tunggu sini ya, An. Biar aku cek dia di luar."

"Aku ikut!"

"Nggak usah, kamu di sini aja."

"Tapi ...."

Obrolan kami terhenti. Bukan karena Ranu kembali, tapi karena suara gamelan yang mengalun.

"Ar, kamu dengar itu?" Dadaku kembali berdegub kencang. Keringat kembali membanjiri tubuh.

Arya tak menjawab. Dia hanya menempelkan telunjuk di depan bibirnya. Dari ekspresinya aku yakin, dia juga mendengar apa yang kudengar.
Tak lama, suara gamelan hilang, diiringi angin kencang. Ranu pun tiba-tiba sudah masuk tenda.

"Kamu dari mana aja?" Kutatap pemuda berambut ikal itu.

"Pipis. Juga mampir di pasar. Beli rokok."

"Jangan ngaco kamu! Mana ada pasar di sini?" jawabku sengit.

Arya menggelengkan kepala. Dan aku baru sadar, apa yang terjadi. Kututup mulutku.

"Beli rokok di mana, Bro?"

"Di pasar depan situ."

Aku dan Arya berpandangan. Sementara Ranu, dia mengempaskan tubuh di tenda.

"Ar, gimana ini?"

"Udah, jangan dibahas dulu. Kamu mau tidur?"

Aku menggeleng. Arya mengajakku keluar tenda. Masih pukul empat pagi. Di luar pemandangan indah sekali. Langit bertabur bintang. Sementara dari ufuk timur, mulai tampak selarik cahaya keemasan.

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Menjelang sunrise di Pasar Bubrah, dokpri.

"Kamu merasa ada yang aneh dengan perjalanan kita kali ini?" Arya membuka pembicaraan.

Aku mengangguk. Ya, dari awal perjalanan, memang sudah ada yang tak beres. Berawal dari Anis yang haid, sehingga kami hanya naik bertiga. Konon, jika naik dalam jumlah ganjil, perjalanan akan tidak lancar, atau akan ada yang "menggenapi". Kami sudah disuruh berhenti, tapi kami nekad.

Kedua, dalam perjalanan ini, aku melihat beberapa makhluk halus yang menampakkan diri. Mulai dari perempuan bergaun putih, hingga nenek tua berkebaya. Entah, siapa yang menggenapi perjalanan kami.

Dan semalam ... aku yakin, Ranu terjebak di Pasar Setan. Ya, Pasar Setan Merapi di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah, sebuah tanah lapang yang cukup luas, merupakan batas pendakian di gunung ini. Dan bukan rahasia lagi, di tempat ini, memang sering ada "pasar" di malam hari.

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Plang batas pendakian di Pasar Bubrah, dokpri

Banyak orang tak sadar, mereka telah memasuki pasar lelembut. Barang yang dijual adalah barang yang sama seperti dijual di pasar pada umumnya. Alat tukarnya sama. Hanya saja, mungkin logika kita tak bisa bermain saat bertemu pasar ini. Secara logika, mana mungkin ada pasar di gunung?

Pasar Setan di Pasar Bubrah dan Beberapa Penghuni Merapi
Pasar Bubrah, photo by Lintang, dokpri

Dan sesuai tradisi, Arya langsung melempar uang koin, juga mengambil kerikil, seperti orang bertransaksi jual beli. Kita bayar, kita ambil barang.

"Wah, kalian tak membangunkanku ya?"

Ranu keluar dari dalam tenda. Dikeluarkannya sebungkus rokok. Saat dia mengambil sebatang, tangannya gemetar, matanya menatap nanar. Keringat pun menjalar, saat rokok sebatang, berubah menjadi tulang belulang. Kami hanya bisa saling pandang.

Jogja, 19 Maret 2020

Sumber referensi:
1. Pengalaman pribadi.
2. Dokumentasi pribadi
3. Di sini
4. Di sini

Dari ane, yang sudah lama nggak sunrise an di Pasar Bubrah.
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan mocha.taufan memberi reputasi
Diubah oleh mayyarossa
ayuk, siapa yang udah pernah bertransaksi di Pasar Setan?
jangan ragu untuk sharing di sini ya
itu si Panu eh Ranu takabur banget emoticon-Mad
udah untung masih bisa balik doi abis dari pasar setan..
emoticon-Embarrassment
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Quote:


Iyyak. Untung gak kesetanan.
#eh🙈🙈🙈
profile-picture
perihbanget memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Iya, Merapi tak pernah ingkar janji, ngga kaya dia
#eh

Wedang yg bikin anget sampe pagi🙈🙈🙈
Sering ke Merapi, Gan?


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di