CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Maemunah oh Maemunah ...!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7387efc8393a605b1949d2/maemunah-oh-maemunah

Maemunah oh Maemunah ...!

 Maemunah oh Maemunah ...!
nulis.co.id

Sebagai anak sulung perempuan dengan empat orang adik. Aku terbiasa bekerja, badan selalu bergerak mengerjakan apa saja di rumah. Sejak remaja sudah jadi pengganti Ibu untuk semua adikku. 


Itu terbawa hingga sekarang. Rasanya diam itu tidak enak. Dari sebelum ayam berkokok hingga malam, saat semua sudah ngorok aku bisa masih melek dan adaaa saja yang kukerjakan. Buruknya, sikapku ini membuatku jarang bertetangga, hanya jika menengok yang sakit atau ke warung sebentar saat ada yang dibeli.

Cukup ramah dan menyapa kalau berpapasan menurutku itu sudah cukup. Makanya aku dibilang nggak asik, karena kurang gaul. Yah, gimana lagi. Aku sudah terbiasa begini.

Kerjaanku buanyyak. Dini hari sudah nyapu, ngepel, cuci pakaian dan masak nasi dikerjakan dalam waktu yang hampir sama, serba disambi. Beres satu, lanjut bikin lauk sarapan, kopi dan camilan hangat teman kopi untuk Bang Jali.

Saat si kecil, yang duduk di kelas satu itu bangun, aku bantu ia siap-siap ke sekolah.

Kadang direpotkan kalau tiba-tiba ia kehilangan kaos kaki atau dasi dari lemarinya. Bukannya sudah dipisah masing-masing biar belajar mandiri, tetap aja Maknya dipanggil-panggil juga suruh mencari.

Sebelum ke sekolah rumah harus beres. Jemurin pakaian, siram tanaman juga tak terlupa. Selanjutnya, langsung ke tempat kerja—pekerja lepas di Cantik Tailor milik Cik Aling. Jam sepuluhan pulang, sebelumnya mampir di warung sayur untuk masak makan siang. Tepat tengah hari, jemput anak.

Saat mereka tidur siang aku balik lagi ke tempat kerja sampai sore. Pulang, masak untuk makan malam. Ba'da isya setelah anak-anak belajar aku kembali melembur jahitan yang bisa dibawa ke rumah—mesin jahitku kurang canggih, jadi yang dibawa cuma yang permak biasa.

Kerja malam kulakukan sekuat mata, selama masih bisa terbuka akan terus kerja. Sampai suami protes.

"Maemunah, Maemunah. Mesin diesel aja butuh istirahat. Ya, badanmu juga, to!" Ia menggeleng-geleng kepala saat tengah malam masih menunggu 'jatah'. Padahal tanganku masih cekatan bergerak. Semangat demi selesainya kerjaan.

Sebagai istri yang patuh aku akhiri semua pekerjaan. Yah, begitulah. Untuk bagian 'ini' Bang Jali hanya sesekali protes. Ada yang lain yang bisa bikin ia meracau kayak burung di sangkar tetangga. Kalau aku tiba-tiba jadi pelupa sebab terlalu capai. Otakku kadang suka nggak sinkron dan loadingnya luaambat.

Kekuranganku ini sering jadi masalah untuk semua penghuni rumah.
Seperti kali ini. Kami sudah siap-siap berangkat ke sekolah. Anak-anak menunggu di luar, sudah ngomel Maknya ini belum muncul juga dari dalam rumah. 

"Taruh di mana, sih, Munah?" tanya suamiku mulai kesal. Ia masih pakai sarung sedang ngubek isi laci juga atas meja, ikut nyari kunci motor yang tadi malam kusimpan.

"Ya elah, Bang. Kalau Munah ingat, udah dari tadi dapat kuncinya!" Aku balas kesal.

Semua gantungan paku di dinding kusisir pakai mata, nggak ada! Di mana, sih?

Perasaan biasa naruhnya di sini-sini aja. Pakaian di lemari sudah kuangkat semua. Eh, bukannya kunci yang kutemukan tapi gulungan uang biru plus hijau empat lembar, ah lumayaann. Kapan tepatnya kusimpan disitu, aku juga lupa. Wkwkwk.

Jadi orang pelupa itu ada untungnya juga. Suka surprise kalau nemu uang yang lumayan buat beli daster Bali. Hehee.

 Maemunah oh Maemunah ...! Maemunah oh Maemunah ...!
ciricara.com                                           onsizzle.com


"Makanya, apa-apa tuh dicatat, biar nggak lupa!" Omel Bang Jali mulai ngawur. Masa taruh kontak motor juga harus kucatat, gitu? Uh, terlalu! Ia sedikit mengangkat sarungnya melangkah ke garasi sambil bergumam tidak jelas. Mungkin melihat siapa tau masih nempel di motor.

"Maaakk, ayo berangkat! Humairah piket, Mak. Nanti didenda sepuluh ribu kalau nggak ngerjakan pikett," rengek sulungku teriak dari halaman. Dua anak itu kulihat sudah pakai sepatu dan gendong tas. Dengan wajah tidak sabar.

Bapak sama anak-anaknya ribut. Aku makin bingung. Di manaa itu kunci sembunyi?!

"Hei, Maemunah, coba cek kantong celana yang kamu pakai tadi malam. Jangan-jangan ada di situ?" Bang Jali balik dari garasi sambil garuk-garuk kepala. Wajahnya yang belum mandi makin terlihat kucel.

"Sudah, Bang. Tadi Munah sudah cari di kantong ce-" Teringat sesuatu, aku langsung lari ke kamar.

Meraih jaket di gantungan belakang pintu. Ini dia! Aku remas tuh kunci, geram. Gara-gara dia sembunyi aku jadi deg-degan begini!

Segera meraih helm aku langsung ke garasi. Cepat-cepat keluarkan motor, melaju kencang dengan dua bocil yang berwajah masam di balik punggungku.

Setibanya  di gerbang tepat saat bel berbunyi nyaring. Jadilah uang sepuluh ribu kuberikan pada Humairah yang matanya sudah beranak sungai. Anak itu paling disiplin. Ia yang membantu menulis hal penting yang tak boleh terlupa di alarm ponselku.

Emm, maafkan Mak. Ya, Irah ....

Sesampainya di tempat kerja aku membuka catatan yang selalu siap di atas meja.

Membuat seragam untuk pegawai pemprov. Dua teman lainnya belum datang—kami semua pekerja lepas. Mereka biasa datang menjelang siang. Biasaa, kalau ibu rumah tangga yang penting kerjaan di rumah beres dulu, baru yang lain. Untunglah aku terbiasa menyelesaikan sebelum matahari bangun dari mimpi.

"Maemunah, ya?" Tanya seorang wanita yang baru masuk. Aku memandangnya saksama, mencari jawaban siapa gerangan wajah yang nggak asing ini.

"Eh, Yuni?" Mataku membulat. Dulu semasa SMA ia cewek tercantik di kelas. Badan tinggi, kulit putih. Masih cantik! Kami segera berpelukkan melepas kangen.

Dua belas tahun nggak ketemu, kembali cerita masa-masa dulu rasanya seakan jiwa putih abu muncul lagi. Seru!

"Aku mau bikin kebaya, Mae," katanya sambil mengeluarkan bahan brokat putih dari paper bag. Panggilanku jaman sekolah terasa keren, dibanding sekarang setelah jadi Mak.

Aku meraih kain itu dari tangannya. Ia bilang akan membuat baju untuk hari istimewa.

Kami mulai berbincang model yang ia mau, kemudian mengukur lingkar badannya.

Sebuah kebaya berekor panjang sebetis kami sepakati. Ia pamit pulang akan kembali dua minggu lagi. Aku sampai lupa tanya apa ia sudah nikah dan berapa anaknya? Ah, selalu ada yang terlupa.

***

"Pak Kadir denger-denger mau nikah lagi," kata Bang Jali berhasil membuatku tersedak. Kami lagi makan malam, lauknya ikan mas goreng.

Tulangnya yang kecil berbentuk ketapel itu berhasil nyangkut di tenggorokan. Segera kutelan nasi yang sudah dibulat kecil, ah, tulangnya langsung lenyap.

Bang Jali jahat nian, ia hanya senyum-senyum memandangku. Dua anak itu terlihat tak tahu apa-apa, terus menikmati makanan di depannya. Sudah nasib memang tak ada yang perhatikan ....

"Kok bisa, Bang? Trus gimana dengan Bu Daniah?" Aku memasang wajah penasaran.

"Mungkin sudah ikhlas. Kan sakit nggak bisa melayani. Boleh dong, Pak Kadir nyari lagi. Meski tua, badannya masih bugar. Kasian gak ada teman berbagi."

Jawaban Bang Jali terasa minyak yang disiram ke api. Aku mengepal-ngepal nasi dengan kasar. Ia seolah sangat mendukung kelakuan Pak Kadir, terdengar jelas dari tekanan kata-katanya. Huh, dasar lelaki!

"Maksud Maemunah kok teganya Pak Kadir? Istri sakit bukannya diurus. Perempuannya siapa? Kok tega begitu, masuk tanpa permisi!"


Selera makan menghilang, kudorong piring dengan kesal. Moodku jadi rusak gara-gara kepikiran Bu Daniah. Orangnya baik dan lembut, tega banget si Kadir!

Lanjut ke part akhir di kolom koment ya, GanSis.

Part 2 End
Diubah oleh lin680
Baca, Yuk!
Mari ketawaemoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
emoticon-Cendol Gan

Maemunah oh Maemunah ...! Part 2 end


"Mak, kenapa nggak pake helm?" Tegur Humairah saat kami sudah separuh jalan ke sekolah.

"Ya Allah, Irah. Kok baru bilang sekarang, sih? Di depan sana sudah sekolah kalian masa kita balik lagi," ungkapku kesal. Pantas rasanya ada yang terlupa sejak tadi.

Jantungku berpacu cepat saat melihat di perempatan ada petugas lalu lintas berjaga. Mati dah! Segera kupinggirkan motor.

Memarkirnya di situ sementara aku mengajak anak-anak untuk jalan kaki. Dua ratus meter ke depan gerbang sekolah. Lagi-lagi dua buntutku itu memasang wajah masam.

Lupaku kumat sampai berangkat nggak pakai helm. Uaseeem!

Di depan tempat jahitan Yuni sudah menunggu. Ia duduk manis di teras menyambutku dengan senyum.

"Hei, sudah lama nunggu?" Aku sedikit lambat datang gara-gara jalan kaki, trus balik lagi ke rumah ambil helm.

"Sudah selesai tiga hari lalu, Yun." Ia memandang berbinar pada hasil kain yang dulu dibawa.

"Wah, cepat juga, ya, kamu ngerjakan. Rapih, Mae."

"Ya, kalau nggak disambi yang lain bisa selesai sebelum seminggu, Yun."

Tanpa maksud sombong, emang begitu kalau modelnya nggak terlalu rumit. Makanya aku dipercaya sama Cik Aling di sini sudah enam tahun. Kerjamu cepat dan rapi, begitu pujinya yang cukup menambah besar energiku saat kerja.

Yuni mencoba kebayanya di ruang pas. Begitu keluar aku makin terpukau kecantikannya. Masih seperti sepuluh tahun lalu.

"Mau dipakai apa, Yun?"

"Akad nikah, Mae," jawabnya tersenyum cantik.

"Menikah? Kamu?" Sungguh aku nggak nyangka ia belum menikah. Aku jadi nggak enak mau tanya alasannya.

"Acaranya di mana, Yun?" Ia sudah kembali ke ruang pas.

"Di komplek Manggis, Mae." Lho, itu kan daerah rumahku?

"Rumah siapa?

"Pak Kadir?!" Jantungku hampir melompat mendengar nama yang ia sebut.

Jadi Yuni?!

Tak lama ia keluar, kebayanya dimasukkan paper bag.

"Acaranya kecil-kecilan aja, Mae. Paling ngundang tetangga."

Wajahnya terlihat biasa saat bicara. Berbeda denganku yang langsung kehilangan respek padanya. Nggak nyangka ia tega ... saat Bu Daniah sedang berjuang melawan penyakit gulanya.

Huh! Cantiknya itu segera terbang terbawa angina. Hilang dari pandanganku!

Sengaja kusebut tarif dua kali lipat upah jahitku, agar ia memutuskan hubungan denganku mulai sekarang. Kami akan bertetangga tapi aku ada di pihak Bu Daniah!

Wajahnya tercengang saat aku melengos setelah mengambil uang darinya. Sempat kulihat ia tersenyum kecil kemudian menggeleng kepala sebelum keluar. Aku makin sebal melihat punggungnya.

Konsentrasiku kembali hilang. Rasanya lama menunggu siang. Bang Jali pasti kaget kalau tahu yang akan jadi istri Kadir itu Yuni, teman kami saat SMA.

Penasaran mau lihat reaksinya.

Waktu tiba, Bang Jali pulang saat makan siang.

"Bang, tau nggak siapa yang akan jadi istri Pak Kadir?"

Wajahnya biasa saja, malah terlihat enggan menanggapi.

"Itu, si Yuni. Temen kita yang cantik, dulu sekretasis di osis."

Aku mengejar Bang Jali yang ke belakang untuk mencuci kaki-tangan. Ia melihat ke arahku sebentar.

"Tumben nih, Munah mulai suka gosip-gosip begini. Lagi nggak ada kerjaan, ya?"

Yah, si Abang bukannya kaget malah kasih ceramah. Bukannya dia juga yang duluan kasih berita Pak Kadir mau nikah lagi?

"Munah nggak sudi tetanggaan sama Yuni. Kasian Bu Daniah!" Kesalku sambil menyendokkan nasi ke piring.

"Yaah, biarin aja napa?"

Tanggapan terakhir Bang Jali ini membuatku jadi malas membahas Yuni atau Pak Kadir.

Benar juga, sih apa katanya. Kalau Bu Daniah ikhlas, kenapa nggak? Tapi aku tetap marah sama keputusan Yuni!


***

Saat akan kembali ke tempat kerja, aku lewat depan rumah Pak Kadir. Sedang banyak orang berkerumun. Tak enak hati lewat begitu saja aku berhenti, memarkirkan motor di pinggir jalan.

Tampak Bu Daniah digotong beberapa orang. Ya ampunn, kasian liat badannya yang dulu berisi sekarang semakin kurus. Dua cucunya yang masih kecil menangis keras melihat sang nenek sedang diangkat ke kamar.

Aku menerobos kerumunan sambil bertanya ada apa. Semua berusaha membuat Bu Daniah siuman. Tak lama Yuni datang membawa air putih di gelas. Sontak perutku mual melihat wajahnya tanpa raut bersalah.

Ia sampai di dekatku segera kuambil gelas dari tangannya. Tanpa melihat bagaimana reaksinya, aku mengambil duduk di depan Bu Daniah yang sudah sadar.

Anak sulungnya memijat-mijat kening yang terlihat makin banyak kerutnya. Ia duduk saat aku memberi minum.

Bu Daniah terlihat aneh. Ia meraih tangan Yuni untuk duduk di sampingnya. Aku mendelik kesal pada Yuni yang menunduk kemudia duduk persis di sisinya. Kasihan wanita tua itu. Pasti ia mau menyerahkan Pak Kadir pada Yuni yang terlihat berani tampil di depan matanya.

"Tolong kalian percepat pernikahan, rasanya aku semakin lemah," kata Bu Daniah menepuk punggung tangan Yuni yang berlipat di pangkuan. Enak banget ia mau senang di bawah penderitaan orang lain! Melihat keluarga yang lain diam aku tidak tahan lagi.

"Bu, tolong jangan begini, Bu. Masa Ibu lagi sakit, yang lain mau senang di atas penderitaan Ibu," kataku menekan kata orang lain sambil mendelik ke Yuni yang hanya tertunduk.

"Ini lebih baik, Mbak Munah. Saya takut tidak sempat melihat mereka senyum di pelaminan."

"Ya Allah, Buu. Bagaimana bisa Bu Daniah sesabar itu. menyuruh suami cepat menikahi wanita lain. Jangan menyakiti diri sendiri, Buu."

Tangisku pecah terbawa perasaan. Anehnya semua mata kini terlempar ke arahku.

"Maksud mbak Munah apa?" tanya sulungnya menatapku dengan kening berkerut.

"Lah, itu ibumu apa nggak aneh, minta Pak Kadir cepat nikahin Yuni, kan?" Aku menyapu air mata dengan lengan baju.

GEERRRR!! emoticon-Wakaka

Suasana yang tadi menegang tiba-tiba koor penuh tawa. Tepatnya menertawaiku. Ada yang sampai terpingkal-pingkal, termasuk Bu Daniah yang jadi terlihat segar karena tersenyum. Kulihat Yuni juga tersipu.

Apa yang salah??

"Yang mau nikah itu Anjar sama Yuni, Mbak Maemunah. Bukan Bapak. Gossip didengaar. Bapak setia sama Daniah." Pak Kardi datang membawa cangkir yang masih mengebul mendekati istrinya.

Ealaahh, aku salah nyambung, too.

Merasa badan semakin menciut aku putuskan ikut tertawa bersama. Beberapa yang lainnya terlihat masih kegelian.

Ternyata aku bukan hanya pelupa, tapi juga suka nyambar! Belum jelas kebenarannya sudah berani berburuk sangka.

Tanpa menunggu berlama-lama aku segera pamit. Mukaku yang panaass mau ditaruh di mana?? Malunyaaa.

Ini gara-gara kabar burung dari Bang Jali. Awaass, kau, Bangg!!

Tamat.

Ini cerpen-cerpen saat awal belajar literasi. Walau banyak typo tapi rasanya senaang. emoticon-Wakaka

Tinggalkan cendol, yaa.
 
Happy reading.



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di