CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Cerita Bersambung]Kembalikan Tubuhku, Elinda!
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7356faf0bdb22831170d30/cerita-bersambungkembalikan-tubuhku-elinda

[Cerita Bersambung]Kembalikan Tubuhku, Elinda!

Spoiler for screenshot google:


Tubuh adalah serangkaian nikmat dari Allah. Dengan semua unsur-unsur penopangnya kemudian diberikan ruh atas nama kasih-Nya untuk meramaikan kehidupan. Terbentuk utuh dan menyempurna, sampai pada akhirnya semua makhluk berinteraksi, dengan sesama penghuni bumi.

Kisah ini datang dari sebuah siklus kehidupan yang begitu banyak menyimpan misteri. Dan atas dasar kecintaan yang paling cinta kepada pekerjaan, maka kudedikasikan segalanya dalam sebuah tulisan tanpa ingin terbalaskan oleh sebuah keharusan dari hausnya kejayaan. Maka pada akhirnya tubuh harus beradaptasi dengan semua unsur-unsur alam yang menciptakan segala suasananya

~~~````~~~~~~~~```````~~~~~~`

Hujan mengguyur kotaku pada hari selasa yang paling mengesankan. Bukan karena jantung hatiku yang sedang terpikat, namun dikarenakan sebuah penawaran atas sebuah cita-cita.

Berawal dari sebuah surat tugas yang datang ke gubukku yang reot di daerah Jawa Barat, pada akhirnya aku memutuskan untuk datang dan mencoba menerima tawaran atas sebuah arti kata dedikasi.

Perjalanan kali ini sangatlah panjang untuk kali ini, sempat terlintas untuk datang dan singgah ke lain Jakarta, sebuah kota yang terkenal ekstrim, bagi sebagian orang orang yang pernah gagal di kota ini. Dan untuk membuktikan segala pemahaman dari berbagai macam bentuk kehidupan sedari masalah pangan hingga rana politik, maka pada akhirnya kaki melangkah untuk mencapai cita-cita dan berkenalan dengan Jakarta.

Semuanya menjadi satu keinginan paling menggebu, padahal hanya ingin mencari titik-titik paling tepat untuk mempelajari kehidupan, serupa dengan pengalaman dari sebuah perjalanan sebelum menutup usia, karena waktu sudah memanggil raga untuk melesat pergi.

Kemudian kuputuskan untuk mengunjungi rumah sakit jiwa itu. Sebuah tempat yang entah akan membawa gelarku ke arah mana, intinya adalah keinginan untuk mencoba begitu kuat.

Jika ditanyakan mengapa? Maka jawabannya ialah entah, aku tidak begitu mengetahui secara pasti mengapa menjadi terpikat erat dengan jiwa manusia.

Tuttt ...tuttt ...tutt ....

Kereta berjalan lebih cepat, sampai tak terasa sudah berhenti di stasiun Gambir, keluar kereta bertemu banyak orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. 

Kemudian naik bus yang mengarah ke Grogol, sebuah rumah sakit jiwa yang terkenal dan dikenal banyak orang-orang. Maka bertujulah aku kesana.

Tiba-tiba ada copet yang mencoba mengambil tas ranselku, namun kedua wanita cantik dengan begitu sigap membekuk pencopet tadi hingga semua barang-barang yang berada dalam tas selamat, kembar yang sangat identik. Sulit membedakan mana yang bernama Melinda dan mana Elinda, sebab mereka benar-benar mirip.

Namun begitu aku mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menolongku dari para copet-copet tadi.

Kemudian mereka berbelok dan memasuki jalan kecil yang ditumbuhi rerumputan. Ternyata mereka satu tujuan denganku. Satu setengah jam berikutnya kami bertemu kembali. Saat kami mulai mendekat, aku merasa ada yang lain dari gerak-gerik Melinda. Serupa nampak banyak perdebatan dalam jiwanya. Tentu saja aku merasakan, sebab akulah dokter yang harus mereka temui itu. Satu menit berlalu, agak sedikt sulit untuk membuka gerbang isi hati gadis manis yang bernama Melinda ini, namun aku melihat bayangan raut wajah seseorang yang mengintip dari celah-celah jendela. Ternyata Elinda. Dan semakin menarik perhatian ketika tiba-tiba Melinda berkata dengan lantang dan tegas.

"Elinda! Keluarlah kau dari sana. Kembalikan tubuhku secepatnya ...."

Dalam sekejap, Melinda muncul dari persembunyiannya dan berkata, "ini sudah sedari dulu menjadi bagian dari tubuhku, dokter. Aku tidak berbohong." Matanya benar-benar mengatakan kebenaran yang sebenar-benarnya.

Aku sangat terkesan, pencitraan yang ditunjukkan oleh Elinda telah membuat Melinda lebih menginginkan tubuhnya itu.

"Kembalikan ...!"

Kemudian mereka begitu gaduh berkelahi melalui mulut yang tak henti-hentinya sampai waktu berkunjung telah habis oleh pertengkaran yang tidak menghasilkan sebuah penyelesaian.

"Baiklah! Kalian boleh istirahat di kamar masing-masing."

Pernyataan dariku membuat merek berhenti berkelahi dan mengucapkan penolakan untuk tinggal di RSJ ini.

"Apa yang membuat kalian berpikir kalau kalian tidak gila?"

"Aku bisa menghitung dengan benar." Kata Elida dengan menunjukkan semua jari-jari tangan dan menghitungnya dengan benar.

"Hai! Akulah yang membuat pencopet itu pergi dengan tingkat kewarasanku yang benar-benar waras." Melinda tidak ingin kalah.

"Tapi yang mana tubuh kalian? Aku tidak melihat."

"Aku yang berwarna putih dan lebih panjang rambutnya." Kata Elinda dengan menunjukkan panjangnya rambut mereka tidaklah sama.

"Tubuhku sedang dipinjam oleh saudariku." Kata Melinda.

"Maka Melindalah yang harus pulang kerumahnya."

"Tidakkk ... Jangan pisahkan aku dari tubuhku, dokter. Ini tidak adil, aku mau tinggal bersamanya sampai tubuhku kembali."

Pada akhirnya mereka berada di salah satu ruangan RSJ ini. Namun terpisah oleh lantai disebabkan kosongnya kamar tidaklah sama dan berdekatan.

Bersambung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
delia.adel dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Halaman 1 dari 2
Diubah oleh nona212
Quote:


Ok siap ditunggu ya ...
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Posting nya nanti halaman pertama ini diedit aja ya om. Lagian akun ini gak punya kawan ...jadi gakda yg komen
Setelah pertengkaran tersebut baik Melinda maupun Elinda nampak termenung di ruangan mereka masing – masing, beribu tanya menggelayuti pikiran mereka, saling tidak menerima akan kenyataan bahwa jiwa mereka terperangkap di raga yang tidak semestinya mereka diami.

Aku pun berlalu dari ruangan dimana Melinda sedang asyik bergumul dengan berbagai pemikirannya tersebut, langkah kaki ini membawaku mendatangi sang kembaran Melinda, tingkah laku Elinda tak jauh beda dengan Melinda, tatapan kosong terpancar dari sorot mata nan tajam.

Entah sudah berapa lama Elinda termenung, ku memberanikan diri untuk membuka komunikasi dengannya, guna mengetahui keadaan sesungguhnya

”Elinda, bolehkah aku bertanya ?” Terasa kikuk bagiku untuk membuka obrolan

”Hmmm … apa ada yang melarangmu untuk bertanya kepadaku” Jawab Elinda dengan wajah datar

”Ya aku tau tidak ada yang melarang, setidaknya aku mencoba untuk memulai ini semua dengan baik – baik” Aku pun agak serba salah dengan cara komunikasi Elinda

”Jika kau tahu tidak ada larangan, kenapa kamu meminta izin seperti itu layaknya kau berbicara dengan seorang raja” Nada ketus mengiringi jawaban Elinda

”Baiklah Elinda, mungkin belum waktunya bagi kita untuk berkomunikasi lebih lanjut, tapi sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas bantuan kalian, berkat kalian barang – barang miliku tidak jadi berpindah tangan” Senyum tipis kuhiasi sebagai bentuk penghargaan atas sikap kepahlawanan para wanita kembar identik ini.

”Tentang hal itu, kau tidak perlu berterima kasih, sudah naluri alamiah jika melihat orang lain memerlukan bantuan, sebisa saya akan bantu” Wajah tersebut tetap sama, datar dan tanpa ekspresi.

”Aku rasa di jaman seperti ini, rasa perduli terhadap sesama sudah berkurang, kebanyakan mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri” Ku sentuh lembut pundak Elinda.

Elinda masih tetap dengan sikap seperti sebelumnya, tanpa ekspresi, aku rasa sudah waktunya bagiku untuk undur diri dari ruangan ini, alangkah baiknya jika ku beri ruang untuk Elinda melayangkan segala pikiran, walaupun begitu banyak pertanyaan bersemayam di nalarku, ku urungkan dahulu untuk menjaga suasana, Mantap kulangkahkan kaki ini meninggalkan ruangan nan putih bersih, di satu sisi aku masih tak percaya akan meniti karier di RS Jiwa & Akan menjumpai hal – hal di luar batas.

Next @delia.adel

SEWUJUD SAMAR

Spoiler for screenshotan:


Malam makin larut, aku masih saja mempelajari tentang dua kembar identik yang membuatku sangat tertarik sekali. Apalagi ini kasus pertama yang datang kepadaku dengan bayaran yang sangat besar. Jadi sebisa mungkin akan kuberikan penyelesaian masalah ini dengan baik.

Kubaca bolak-balik sampul berwarna coklat dari awalan mereka lahir kedunia, sampai menjelma gadis. Kupelajari sampai dimana kesalahan dari kehidupan mereka dan kenapa bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk seseorang. Membukanya dan sedikit terkejut, kupersilahkan Elinda masuk, nampak wajah kusut itu sedang mencari pengobatan hatinya dan dengan tatapan yang tidak biasa, Elinda memohon kepadaku untuk menyembuhkan saudaranya dari kutukan iblis watumerah, yang menurutnya asal muasal masalah datang dari sana.

Elinda juga memberikan penjelasan tentang masa kecilnya yang buruk saat berada di rumah nenek.

Menurut Elinda, saat ibunya pindah rumah dan berpisah dari ayahnya mereka tinggal dirumah nenek. Namun ibunya pada akhirnya harus meninggalkan mereka untuk bekerja di kota.

Usia mereka pada saat itu delapan tahun. Namun sudah harus bekerja untuk mengurus ladang. Bahkan acapkali disiksa oleh bibinya yang merasa keberatan mereka berada di rumah neneknya.

Saat malam mereka sering tidur dekat kandang kuda dibelakang rumah, karena rumah selalu terkunci saat mereka pulang dari ladang setelah bekerja berat. Hawa lapar terkadang singgah. Dan disinilah awalan mereka memiliki masalah.

Pada suatu hari, saat cuaca begitu dingin karena musim dan curah hujan begitu tinggi, Elinda kelaparan dan Melinda pergi untuk mencari makanan. Saat kembali dia mendapatkan makanan namun kepala bagian kanan nampak darah segar. Ketika ditanyakan dia tidak menjawab. Dan sejak itu otaknya sedikit terganggu, menghayalkan banyak hal yang pada akhirnya tingkat imajinasinya bisa membuat apa yang diinginkannya terkabul. Bahkan saat ibunya pulang dengan suami baru dan mereka hidup bersama-sama.

Ayah barunya menyayangi mereka, namun hanya kepada Melinda saja kasih sayangnya bahkan berlebihan. Sehingga Melinda jarang sekali bersamanya untuk ke sekolah ataupun bermain.

Sampai beranjak dewasa ayahnya masih memperlakukan Melinda dengan perbedaan. Sampai suatu hari Melinda membunuh ayahnya dan dipenjara saat usianya enam belas tahun. Sedangkan ibu hanya memeluk kedua anaknya sambil berkata, "maafkanlah aku."

Elinda melihat kejanggalan kasus pembunuhan ini, namun tidak ada yang memberi tahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Melinda.

Tangis Elinda lebih deras lagi ketika dia menceritakan keadaan Melinda setelah keluar dari penjara. Dia mulai mencari-cari tubuhnya yang hilang.

Sambung dah wkkwkw

@kolollolok
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
Diubah oleh delia.adel

Lanjutan Part "SEWUJUD SAMAR"

[Cerita Bersambung]Kembalikan Tubuhku, Elinda!

Masih asyik aku mendengarkan penjabaran oleh elinda, sebagai acuanku dalam menuntaskan permasalahan yang terjadi, sedari awal memang aku sudah menduga ada yang tidak beres dari mereka berdua, bagaimana bisa dua orang kembar identik dan merasa tubuh mereka saling tertukar, sejauh ini penjelasan elinda aku simpan baik – baik dalam memoriku, untuk kujadikan sebagai bukti untuk kutelusuri.

Elinda secara fisik memang terlihat lebih baik dari melinda, walau awalnya komunikasi di antara kami berlangsung secara singkat dan dingin, tapi saat ini sangat bertolak belakang. Aku sedikit menaruh perhatian khusus tentang pembunuhan ayah yang dilakukan oleh melinda.

”Kembalikan Tubuhku ! Elinda ! Kembalikan !” Teriakan itu terdengar jelas, aku dan elinda saling menatap satu sama lain.

”Melinda !” Teriak kami berdua, kami langsung bergegas keluar kamar dan segera menyambangi kamar dimana melinda berada.

Sungguh diluar dugaan kami berdua, kamar yang tadinya rapih berubah jadi berantakan seperti kapal pecah, nampaknya melinda telah sukses mengamuk, dua penjaga RS Jiwa ini juga terlihat kebingungan untuk menenangkan melinda, karena berbagai cara telah dilakukan mereka namun nihil hasilnya, kamar ini jadi saksi atas keberingasan melinda yang sulit ditangani.

”Melinda, tenangkan dirimu, tidak ada gunanya kau berbuat seperti ini” Elinda coba menenangkan.

”Diam kau elinda, aku tidak akan berbuat ulah jika kau mau menuruti apa yang aku mau” Melinda nampak tidak menggubris elinda sama sekali

”Baiklah melinda, semua ini bisa kita bicarakan baik – baik, percaya padaku kita selesaikan secara baik – baik” Aku pun memberanikan diri mengambil alih untuk menenangkan melinda, karena rasanya tidak mungkin aku hanya berdiam diri menyaksikan segala kekacauan di depan mataku ini.

Perlahan ku mulai mendekati melinda, kusentuh lembut pundaknya kubelai rambutnya, layaknya seorang ibu yang sedang memberikan perhatian ekstra terhadap seorang anak yang sedang merajuk, karena bagiku jika seseorang sedang dalam tingkat emosi yang tinggi tak mungkin aku meninggikan tensi emosiku, lebih baik ku redam agar dapat solusi lebih baik.

”Elinda, sini aku rasa melinda sudah lebih tenang dari sebelumnya, bantu aku untuk memapah melinda ke tempat tidurnya” Terpaksa aku panggil elinda yang sedang termenung sedih menatap melinda, elinda menghampiriku dengan langkah lunglai dan rela membantuku memapah melinda ke tempat tidurnya.

”Kenapa kau harus seperti ini melinda, kenapa ?” Kata – kata tersebut keluar dari mulut elinda, raut wajah lesu sebagai gambaran kekecewaan teramat dalam terhadap melinda, dia rindu sosok melinda yang dulu ketika mereka masih kanak – kanak. ”Aaarrgghh !!!” Teriak elinda secara tiba – tiba dan membuatku panik.

@delia.adel silahken dilanjut
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Diubah oleh kolollolok

CINCIN DARI AYAH

Spoiler for screenshot:


Melinda tertidur bagai bayi yang tidak pernah menyimpan dendam, ketika Elinda melihatnya dari balik jendela. Tubuhnya juga sudah tenang dan tidak lagi terikat seperti biasa yang dilakukannya, itu menurut cerita Elinda sejam yang lalu. Entahlah! Mengapa saat ini tubuhnya begitu cantik dan beraroma mawar. Padahal tidak ada parfum yang melekat ditubuhnya, sebab memang pada dasarnya Melinda tidak menyukai parfum. Apakah ini berasal dari ... Shit! Kenapa juga aku berpikiran hal yang tidak logis.

Namun bagiku hal ini sangatlah aneh, jika aroma tubuhnya bisa membuat orang lain ingin selalu mendekatinya. Padahal sedari tadi yang diketahui oleh para perawat, Melinda belum mau menyentuh air untuk mandi.

Aku mencoba mendekati Elinda dan mencoba membuatnya nyaman, senyaman-nyamannya. Namun agaknya Elinda tidak ingin kubuat nyaman dan berlalu tanpa satu katapun. Pandangannya kosong dan tanpa tujuan. Mencoba mengikuti langkahnya, namun tiba-tiba Melinda terbangun dan mencari tubuhnya.

"Mana tubuhku ...."

Kekuatan yang dimilikinya lebih besar dari kekuatan enam jam yang lalu. Sampai sepuluh perawat tak mampu membuatnya untuk diam. Bahkan mereka terpental sejauh tiga puluh langkah.

"Elinnndaaa ...."

Elinda mengunci pintu kamar dan bersembunyi dibalik lemari. Kali ini dia benar-benar ketakutan. Sebab aroma mawar sudah sampai dekat pintu kamarnya.

Dengan pistol yang berisi obat bius dengan dosis yang ditambahkan empat kali lipat.

"Archhh ...." Memandang ke arahku dan berjalan dengan pandangan serupa makhluk lain yang tidak bisa diprediksikan entah itu apa.

Tiba-tiba ibu Ana, dia langsung memeluk Melinda sambil mengalungkan anyaman tali yang berbandul cincin, dari suaminya, ayah dari si kembar, yang sudah berusia 18 tahun. Tubuh Melinda lemas dan pingsan tanpa daya diperlukan ibunya.

"Maafkanlah aku, Melinda."

Kami membawa Melinda masuk kamar dan menidurkannya menghadap kiblat sesuai keinginan Ibu Ana. Elinda datang setelah merasa aman. Dia memeluk ibu Ana.

"Elinda, tidurlah! Aku akan menjaganya." Kata Ibu Ana.

"Ibu, aku rindu sekali kepadamu."

"Tidurlah, Nak! Esok adalah hari yang paling berat. Satu suro ketiga."

Agak aneh dengan semua hal yang baru saja terjadi. Antara mengira-ngira kejiwaan dan mistis saling bertabrakan sekali. Hal ini adalah kasus pertama paling membingungkan dikepalanya.

Namun tetap semua kucatat sebagai bahan penelitian dan pengalaman dari sebuah pekerjaan yang sedikit membuat mataku berair karena mulai mengantuk.

Setelah berpamitan dengan mereka akupun tertidur dengan pulasnya.

Bersambung..satu suro om @kolollolok wkwkkw
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kolollolok dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh delia.adel
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
seraaaammm 🥺🥺🥺🥺
profile-picture
profile-picture
nona212 dan kolollolok memberi reputasi
Gak mutu
Quote:


Hai sayang wkwkwk 🐷
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
Diubah oleh delia.adel
Lihat 1 balasan

Cincin Dari Ayah

Rupanya semalam Elinda bermimpi sangat buruk sekali. Dalam mimpinya datang banyak sekali nama-nama yang tak dikenalnya. Namun rupa dan bentuk wajah dari nama-nama itu sama dengannya.

'Ada apakah ini?' pikiran Elinda mulai mengembara kemana-mana meminta penyelesaian yang tidak bisa ditebak oleh nalarnya.

Dia kembali mengikuti sosok nama paling akhir dan menemukan wajah Melinda.

Elinda terkejut dan bertanya kepada Melinda tentang siapakah sosok yang berada di depannya. Melinda hanya menjawab sekedarnya saja dan mengacuhkan dirinya.

Elinda mengikuti langkah Melinda sampai kepada sebuah tempat mirip pemujaan.

"Tidurlah kau disini!"

Elinda menurutinya. Kemudian pembacaan mantra dimulai dan tiba-tiba ruh Elinda seperti hendak ingin ditarik oleh Melinda.

"Tidak! Jangan Melinda."

"Kembalikan tubuhku!"

Kemudian semua cermin memantul kearah tubuh Melinda dan dia merasakan kekuatan yang begitu dasyat. Kemudian memecahkan semua cermin dan mencoba kembali untuk mengambil ruh Elinda.

Ruh Elinda pada akhirnya ditukar oleh Melinda dan kini dia menjadi Elinda seutuhnya. Sedangkan Elinda terdiam lemah sendirian diatas altar pemujaan.

Saat tubuh Elinda hendak di bunuh oleh sosok tinggi besar, dia terbangun dari mimpi dan nampak begitu shok. Dia tidak menceritakannya kepada siapapun juga. Dia merasakan bahwa dia sudah tidak ingin lagi melihat hari ini dan hari-hari selanjutnya.

Sampai waktu makan siang dia tak juga baik-baik saja. Padahal aku sudah bolak-balik ke kamarnya untuk mencoba membuat Elinda membuka percakapan. Kudekati sekali lagi dengan duduk didekatnya.

"Elinda, jika kau terkurung dalam sebuah pertanyaan besar yang tak bisa kau jawab, maka nasibmu akan sama serupa Melinda."

"Tetapi ...tapi ...."

"Ada pepatah yang mengatakan jika malu bertanya, maka kau akan tersesat selamanya."

Elinda menceritakan semua mimpi-mimpinya. Kemudian dia bertanya. "Apakah aku masih Elinda?"

"Kalian sama-sama terjebak dalam daya hayal mistis yang begitu sangat kental. Apakah kau tidak bisa membedakan mana hayal dan mana nyata?"

"Tidak bisa untuk saat ini!"

"Tatap mataku dan cubit pipiku."

Elinda melakukan apa yang kusuruh. Aku mengaduh kemudian menerangkan bahwa rasa sakit itu adalah nyata dan kenyataan. Jika seseorang di sakiti namun tidak merasakan sakitnya, maka itulah hayalan. Sebuah fatamorgana yang hanya ada dalam sudut ruangan imaji saja.

Elinda mengerti dan mulai kembali tenang. Kemudian kusuruh dia untuk membaca kitab-kitab Allah yang sudah lama sekali tidak juga dipegangnya. Hal ini terlihat dari caranya membaca dan banyak yang terlupakan dari sebuah sensasi tiap ayat-ayatnya.

Maka kubuat dia mempelajari kitab-kitab Allah sedari salat asar.

Alhamdulillah dia berhasil menenangkan dirinya dan membuat dia lebih bersemangat kembali. Bahkan dia seolah-olah menemukan sebuah solusi untuk penyelesaian diantara mereka.

Cincin ayah masih dikalungkan di leher Melinda saat Elinda masuk kamarnya. Ibu Ana nampak kelelahan dan kusuruh dia istirahat dikamarku. Kami hanya berdua saja pada akhirnya.

Tiba-tiba suara azan membuyarkan lamunanku atas kesehatan Melinda. Aku mengambil wudhu dan salah didekatnya kemudian membaca satu persatu ayat pendek yang masih mampu kuhapal.

Melinda nampak tenang dan tertidur begitu pulasnya, sambil memegang cincin tanpa terlepaskan.

"Suro sudah datang! Bagaimana dengan Melinda?"

"Dia baik-baik saja, Bu. Tidurlah kembali. Giliran aku yang akan menjaganya disini!"

Ibu ana keluar dari kamar dan bertemu denganku di lorong.

"Sebenarnya mereka tidak sakit! Hanya iblis yang menggodanya untuk membuat sebuab pertikaian."

Kubawa ibu anak masuk ke dalam ruanganku. Ada sebuah gejolak besar yang disimpannya di pelupuk mata danhatinya. Entah apa itu yang jelas sangat besar mempengaruhi kehidupannya.

Bersambung @nona212
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
Quote:


Iya om mksh sudah mengingatkan aku.
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
loh? belum tamat ceritanya?
profile-picture
delia.adel memberi reputasi
Quote:


Belum. Baru juga dimulai nya
Post ini telah dihapus oleh KS06
Quote:


Salah room mbah emoticon-Blue Guy Bata (L)

Sambungan Cincin Ayah

Ibu Ana masuk kedalam ruanganku dan menceritakan tentang khasiat pada sepasang cincin hadiah dari ayahnya.

Dahulu kala nasib mereka tidak seperti yang sekarang mereka jalani. Saat sang suami belum menceraikan dirinya, kehidupan ekonomi sangatlah cukup bahkan berlebihan. Hal ini dikarenakan setiap malam satu suro cincin kembar yang berada dikalung leher anaknya selalu dimandikan dengan darah perawan yang dengan rela memberikannya dengan ikhlas.

Namun nasib manusia kadang berada di atas kadang turun kebawah. Apalagi sejak suaminya sudah memiliki wanita lain, yaitu wanita yang selama ini menyumbangkan darah perawannya untuk ritual mandi sepasang cincin kembar itu, mereka akhirnya bertemu dan menjalin sebuah cinta.

Setelah ibu ana dicampakkan, kehidupan lebih sulit lagi. Bahkan terkadang terjadi sesuatu kepada kedua anak kembarnya yang merasa kesulitan bernapas. Mereka akan sembuh setelah pagi harinya setelah suara azan menggema. Seperti yang seringkali dilihat, setiap malam satu suro, pasti kedua anak kembar akan merasakan penyiksaan didalam raga. Namun dokter selalu berkata mereka baik-baik saja. Tidak memiliki penyakit apapun.

Dan karena ekonomi pula, dia pada akhirnya harus menitipkan anak kepada ibunya dikampung, bahkan saking susahnya mereka kesulitan berkomunikasi. Sehingga kedua anak merasakan hidup terpisah dan menderita.

Melinda selama ini mampu menjaga Elinda dengan baik sekali, tubuhnya bahkan lebih kuat untuk bekerja diladang dan menyuruh Elinda untuk istirahat. Melinda mampu menjadi sosok ibu dan ayah sekaligus dimata Elinda. Inilah yang membuat Elinda tidak bisa terlepas dari Melinda.

Suatu hari kalung mereka direbut bibinya dan menimbulkan banyak keuntungan, hingga mereka menjadi kaya-raya dan mengusir kedua anak itu dan tinggallah mereka di kandang sapi. Tanpa seseorang yang mampu membela dan melindungi. Sedangkan sang nenek hanya bisa menangis dari balik jendela kamar yang hanya sebatas mengintip saja.

Kejadian ini kemudian diceritakan kepada ibu ana melalui surat.




Saat ditemukan oleh ibu ana, kondisi anak-anaknya tidak baik-baik saja, bahkan setelah ibu ana menemukan sebuah tulisan, hati ibu ana hatinya semakin teriris-iris.


Bab satu: detik-detik malam sialan.

Sore ini aku hanya bisa memberikan adikku roti panas yang kucuri dari rumah Ibu Aryami, ada sebuah desakan yang membuat hawa liar ini kerap kali datang, membabat rasa khawatir akan segala hal yang akan menimpa kami.

Ibu telah membuang kami di tempat yang jijik dan tidak layak. Aku membencinya dan seluruh keluarganya. Lihat saja! Nanti malam akan ada kekuatan yang membuat rasa dan tubuh lebih kuat untuk mengambil hak kami dan akan membuat mereka sengsara.

[Kukatakan cukup sudah, kalian harus mengembalikan segalanya]

Namun serupa mimpi dan sedang berhalusinasi, aku melupakan siapa diriku dan dimana tubuhku. Dan ini awalnya aku berpenyakit sampai kehilangan tubuhku.

Sedangkan tubuh yang masih tersungkur tak bernyawa itu adalah nenek yang tidak pernah mencintai dengan setulus hati. Maka kubiarkan dia mati dengan sendirinya.

Aku ingin bibi mengembalikan cincin dari ayah, namun saat kurampas mereka tidak juga memberikannya, bahkan memukulku dengan lebih keras lagi. Kepalaku sudah bocor! Namun hal ini membuatku semakin gila sampai aku menghibah, mereka tak jua memberikannya.

Mereka hanya berpikir akulah yang benar-benar sakit. Dan dengan deretan pertanyaan yang tidak bisa terjawab begitu mudah melalui akal. Pada akhirnya aku menemukan solusi untuk mengambil semua milik kami, sehingga aku kehilangan tubuhku di antara semak-semak, setelah pagi harinya baru kusadari bahwa dalam tubuh Elinda ada bagian tubuhku. Aku selamat menjadi hidup kembali.



Pada bulan Purnama Remang:

Dan akhirnya dibiasakan rasaku dalam sebuah keterbatasan tubuh ini. Ruang cinta untuk Elinda, menjadi hening. Rasa sepi kian memukul-mukul ujung usia, antara mendekati kematian sampai hidup kembali dan bernapas. Sedangkan tentang tubuh dan kicauan disekelilingnya, berkali-kali menepi. Dengan sadar merangkul kegusaran, lalu membuatnya lebih tenang, namun kemudian kebimbangan itu kembali datang. Serupa Memaklumi kesementaraan, bahwa itu hanyalah isyarat kehidupan. Namun nyatanya aku benar-benar menyadari bahwa ini bukanlah tubuhku. Aku ingin tubuh Elinda.

Tetapinya menggenapkan perasaran itu seperti menguliti kisah yang belum berkesudahan. Sehari lelah ketika makna benar-benar memberi pengertian. Meletakkan kesia-siaan pada sudut waktu. Namun tubuh tidak pernah memahami, apalagi beranjak meninggalkan kerumunan tanpa identitas. Ketiadaan tanpa penjelasan yang tak sanggup kujabarkan. Semuanya memburam dalam sebuah keterkaitan.

Sajak Dingin

Mel

Membumbung tinggi
Sukmaku menyusup
Menjelma sepasang sayap
Membimbing terbang
Dengan segala kesenyapannya
Yang meninggalkan kemelut di antara hasrat

Semesta ...
Sesak terhimpit
Aku terpental
Murung
Sampai ke lembah jeratan ingin

begitulah sepi
yang mengendap dari keriuhan
menjadi kaku beranjak menuju tepian

Inilah sepi
Direjam gelisah
Lalu membunuh nada



Cincin masih digengam Melinda hingga pada akhirnya ibunya datang menjemputnya untuk kembali bersama-sama.

Namun kehidupan manusia tidak bisa diatur sekehendaknya manusia. Ternyata semua masih berdetak tidak beraturan dan pada akhirnya menjadi BooM pada akhirnya. Mel membunuh suaminya saat malam satu suro.

Ruangan hening untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba suara burung hantu berbunyi riuh, seolah-olah menandakan akan sebuah kejadian. Ibu ana keluar dari kantorku dan berlari ke arah kamar Melinda. Namun tidak terjadi sesuatu hal yang menakutkan dikamarnya.

Elinda membaca ayat-ayat suci dengan khusu dan membuat Melinda tidur begitu nyenyaknya.


@delia.adel
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
Diubah oleh nona212
Quote:


Melihat keadaan sekeliling sudah tidak lagi sama serupa waktu pada jarak diantaranya. Ibu Ana terpesona dengan Elinda yang mampu menghipnotis dirinya, untuk kembali menuju satu lagi harapan baru, yaitu dengan mendekatkan diri hanya kepada Allah. Tubuhnya bergetar ketika ayat-ayat suci menggema. Seolah menampar ibu ana kepada satu klausa yang lama tertinggalkan.

Mengambil wudhu dan mencoba mengikuti jejak Elinda.

Hari-hari berikut keadaan Melinda pada akhirnya membaik, dia sudah tidak lagi menjadi sebuah gejolak panas diantara peperangan bahtinnya. Pada akhirnya kasus ini selesai dengan mudah ketika keadaan normal dan tidak lagi menjadi sebuah masalah.

Namun apakah benar-benar tidak bermasalah?

Pagi yang dingin, hari baru untuk Melinda juga Elinda untuk memulai sebuah kehidupan baru. Mereka sudah keluar dari kamar pengap dan tidak nyaman dan kembali kehidupan nyata.

Mel bekerja di perusahaan asuransi milik almarhum ayah tirinya. Sedangkan Elinda menjadi pemilik saham dalam jumlah yang sangat besar. Ibu Ana pemimpin perusahaan.

Perusahaan dikendalikan dalam sistem savety warker di mana semua pegawai harus memiliki kredibilitas dan kualitas sebelum memasuki tahun ketiga ulang tahun kantornya.

Sesaat Melinda melihat sepintas kepada tubuhnya saat melintasi cermin kemudian berkata, "hai mengapa aku memiliki tahi lalat?" Kemudian mencoba menghilangkannya. Namun tetap tidak bisa. Kemudian menghancurkan cermin.

Mel berjalan kembali dan menemukan cermin kedua. Keadaan wajahnya masih sama. Ada sebuah tahi lalat menempel di wajahnya. Cermin kemudian di hancurkan. Sampai kepada cermin cermin yang lain yang ditemuinya, semuanya dihancurkan dengan rasa kesal.

"Mengapa tahi lalat ini ada!"

Tiba-tiba dia melihat Elinda dan terpesona. Lalu berkata, "Elinda, wajahmu cantik tanpa tahi lalat. Apakah kau telah diam-diam mengambil wajahku?"

Elinda terkejut dan berkata, "Mel, ada apa denganmu? Wajahmu pun tanpa tahi lalat."

Namun Mel tidak menyukai kebohongan Elinda dan mengacuhkannya. Rasa kesal begitu menghantui sampai-sampai dia memang merasakan bahwa El telah mengambil wajahnya ketika sedang tertidur, Mel mendadak melupakan bahwa memang tidak ada tahi lalat pada wajah mereka. Hanya saja semua cermin yang memperlihatkan wajahnya disertai dengan halusinasi yang entah mengapa tiba-tiba kembali ke dalam praduga Mel.

Elinda mencoba menelponku saat aku sedang makan siang.

[Halo, Dr Barner!]

[Ya Elinda, ada apa?]

[Apa penyebab orang mampu berhalusinasi tentang sesuatu yang tidak masuk akal?]

[Tekanan dalam hidupnya yang belum pernah di selesaikan]

[Bisakah kau membantu, kami! Mel kembali merasakan bahwa aku sudah merampas wajahnya.]

[Ok, nanti malam aku akan datang dengan semua peralatanku.]

Elinda begitu berharap semianya akan membaik, namun entah kenapa delusi Mel selalu datang pada saat yang tidak tepat. Bahkan pengaruhnya begitu sangat besar untuk kali ini. Mel tidak lagi menyukai wajahnya di cermin. Semua gedung harus tanpa cermin.

Apakah dia mampu menetralisirkan keadaan untuk kali ini ...?


@kolollolok
profile-picture
kolollolok memberi reputasi
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di