CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Maaf Dibayar Mahal [Cerpen]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e732067f4ae2f60470323cb/maaf-dibayar-mahal-cerpen

Maaf Dibayar Mahal [Kumpulan Cerpen]

Maaf Dibayar Mahal [Cerpen]

Maaf Dibayar Mahal

Kalila tertegun menatap lelaki di hadapannya dengan lekat. Bulir demi bulir air berjatuhan di pipinya. Hatinya berharap banyak bahwa semua ini hanyalah mimpi. 

“Kamu serius, Franz? ” Suaranya bergetar tatkala pertanyaan itu meluncur.

“Kal, maafkan aku tak bisa jujur padamu dari awal.”

Penyesalanmu tak ada gunanya saat ini, Franz, batin Kalila

“Semua biaya yang telah keluargamu keluarkan, akan kuganti,” ucap Franz sambil memberikan undangan pernikahannya dengan Salma, sahabat Kalila sejak kecil. 

Kalila tak sanggup lagi mendengar penjelasan lelaki yang sebulan lagi seharusnya resmi menjadi suaminya. Tanpa dibaca, selembar undangan berwarna merah jambu dilempar ke lantai. Langsung saja kaki jenjang miliknya gemas menginjak kertas berbungkus plastik bening itu. 

Seorang pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka. Tanpa mengucapkan apapun, Kalila meraih segelas ice lemon tea dan menyiramkannya pada wajah Franz. 

“Ini belum seberapa, Pengkhianat!” Kalila berlalu diiringi tatapan mata dari seluruh pengunjung restoran. 

***

Tiga tahun berlalu, hari ini adalah kedua kalinya Kalila menginjakkan kaki lagi di kota Bandung. Semenjak gagal menikah dengan Franz, wanita yang bulan ini genap berusia tiga puluh tahun itu langsung memutuskan untuk pindah ke Malang. Tinggal bersama uaknya.

Berbekal resep dari sang ibu, Kalila membuka usaha somay khas Bandung. Mulai dari satu gerai di dekat pintu gerbang kompleks perumahan, kemudian berkembang pesat selama dua tahun terakhir. Akhirnya, lima buah cabang di berbagai tempat telah Kalila miliki. 

“Kalila ...!” jerit seorang wanita bertubuh sintal.

“Hai, Anne! Apa kabar?”

Mereka berdua berpelukan dan saling melepas rindu. Anne adalah sahabat Kalila di bangku SMA. Andai acara reuni ini tidak terselenggara, mungkin mereka akan sulit bertemu. Kedua wanita itu kemudian larut dalam perbincangan. 

“Anyway, kamu tahu kabarnya Franz sekarang?” tanya Anne antusias. 

“Sering denger sih dari Mama, 'kan dia tinggal di rumah mertuanya, sebelah rumah Mama. Hhmm, aku gak peduli sebenarnya, sih. Memangnya dia gak datang ke reuni sekarang?”

“Belum datang. Eh, berubah banget dia. Waktu masih sama kamu, dia rapi terurus meskipun kamu belum jadi istrinya. Setahun habis nikah ... boro-boro ganteng, gak ada waktu buat diri sendiri kayanya. Si Salma, ‘kan sakit-sakitan. Katanya badan istrinya itu selalu kerasa panas tiap malam,” ucap Anne dengan wajah serius.

Sahabat Kalila itu melanjutkan, “Ternyata bukan cuma kamu korban si Franz, setelah dia nikah katanya ada beberapa cewek lagi yang ngelabrak si Franz di kantornya. Ih, malu pokoknya. Gak heran si Salma sakit, ngebatin kayanya,” kelakar Anne.

"Kamu tau dari siapa?" selidik Kalila.

Wajah Anne tampak jemawa. "Anne gitu loh! Banyak koneksi yang bisa dipercaya. Emang pantes tuh Buaya Gondrong, dapet ganjarannya!"

“Hush! Jangan ngomong gitu! Panjang umur, tuh, orangnya nongol.” Kalila memandang ke arah gerbang sekolah.

Seorang lelaki yang jauh dari kesan rapi berjalan mendekati mereka berdua. Rambutnya panjang sebahu, dengan kumis dan jambang berantakan. 

Franz menyapa, “Hai, Kal! Lama gak ketemu.”

Kalila tak menjawab sapaan itu. Tanpa disuruh, Anne pergi meninggalkan sahabatnya bersama Franz. 

“Aku mau minta maaf lagi, Kal. Atas semua kesalahan aku dan Salma.”

Tiba-tiba Kalila mengusap rambut Franz dan menepuk bahunya. “Sejak lama, udah aku maafin.”

Wanita itu memberikan sebuah bingkisan berisi somay. “Nih, buat kamu! Aku gak mau ngobrol lama-lama sama kamu. Takut ada fintah.”

“Anne, yuk kita pulang!” Teriakan Kalila ditanggapi oleh Anne, kemudian mereka berjalan menuju tempat parkir mobil.

***

Sebuah sore yang mendung di Sawojajar, Malang. Kalila terduduk setelah mendapat telepon dari mamanya.

"Mama serius?"

"Iya, Kal, orang-orang heboh semalaman. Franz teriak-teriak gak jelas. Dia masuk rumah sakit, katanya ada rasa panas di kepala." Terdengar suara dari pelantang suara ponsel Kalila. "Suami istri kena sakit aneh kayak gitu, kasian banget."

Kalila lalu berjalan memasuki kamar, setelah sambungan dengan ibunya terputus. Ia mengambil sebuah wadah plastik berkuran besar. Kemudian, ia membawa wadah itu ke dapur dan membuang isinya di bak cuci piring. 

Tangannya telah terbungkus rapat menggunakan plastik. Wanita itu mengangkat kaos milik Salma, diambil di jemuran samping rumahnya dua tahun lalu saat mudik ke Bandung.

Tampak juga berapa helai rambut tersimpan di dalam plastik bening yang telah dilubangi kecil-kecil. Rambut Franz yang diambil diam-diam oleh Kalila. Setelah dua benda itu berpindah ke wadah baru, ia menuangkan jus cabe rawit ke dalamnya. 

“Sudah kubilang, Franz, siraman lemon tea dulu itu, belum seberapa.” Sebuah senyum melengkung di bibir tipis Kalila.


Tamat


Mau baca cerita lainnya, klik ini ➡️Index
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Vevana
singkat, tapi jelass....
maksudny ini praktek ilmu hitam yah?
emoticon-Mewek
Hmm.. balasan jarak jauh pun digunakan. Nice story

emoticon-Blue Guy Cendol (L)
serem
Hmmm,kalah rupo menang dupo...emoticon-Nohope
Post ini telah dihapus oleh KS06
Oh..... Ternyata. Ya ya ya, ngerti sie
finally...emoticon-Matabelo

Index

Diubah oleh Vevana
Post ini telah dihapus oleh KS06
Post ini telah dihapus oleh KASKUS.Dev 01

Negeri Bumantara [Cerpen Songfiction]

Maaf Dibayar Mahal [Cerpen]

“Paman Adung menebar serbuk, mendunglah mega. Bibi Auza menuang air, turunlah hujan. Lalalala .... Peri menyusun warna, indah pelangi. Bidadari berjalan-jalan, turun ke bumi ....”
[color=#1c1e21][size=2][font=Helvetica, Arial, sans-serif]
Astrajingga, seorang bocah lelaki berusia lima tahun sedang asik mendendangkan sebuah lagu, terduduk di pinggir sungai yang disebut sebagai Ciwidadari. Konon dinamakan demikian karena sehabis hujan selalu muncul pelangi di hulu sungai, dan dipercaya saat itulah para bidadari turun dari kayangan untuk bermain di bumi.

“Heh, tukang menghayal!” ejek Husni yang usianya lebih tua tiga tahun dari Astrajingga.

“Pasti kamu sedang nyanyi lagu aneh itu lagi. Lalalala …,” kelakar Pepen menggoyangkan tangan dan pinggulnya. Disusul tawa mengejek dari mereka berdua.

Tangan Astrajingga mulai mengepal. Walau memiliki usia lebih muda, tetapi ia tak pernah gentar untuk melawan anak-anak yang merundungnya. Sang ayah yang telah tiada, selalu mengajarkan untuk berani mempertahankan diri.

“Sudah saya bilang, kalian jangan suka ngejek lagu buatan ibu lagi!” geram Astrajingga mendengar ejekan kedua anak itu.

“Oh, berani? Sini, maju!” Husni menantang Astrajingga.

***

Bruk!

Terdengar suara pintu rumah ditutup kencang. Sekilas Rengganis melihat Astrajingga memasuki kamarnya.

“Ada apa, Nak?” tanya Rengganis tepat ketika memasuki kamar sang putra.

Astrajingga tak menjawab.

Rengganis membuka selendang yang menutupi wajah Astrajingga secara paksa. Lebam di pelipis juga tulang pipi, serta bekas darah mengering di hidung menjadi pemandangan mengejutkan baginya.

Tak banyak bertanya lagi, sang ibu bergegas membawa air dan lap kecil, kemudian menyeka bekas darah di hidung Astrajingga. Tak ada amarah, wanita itu menatap dengan penuh kasih. Sambil menyanyikan lagu kesukaan putranya.

“Paman Alang menutup tirai, datanglah malam ….”

***

“Ayunda Putri harus pulang, ayahanda sudah teramat rindu denganmu.”

Rengganis berbincang dengan seorang sosok yang memegang jubah hijau di samping rumah.

“Aku tak bisa Arummanis, masih ada Astrajingga yang harus kujaga di sini,” lirih suara Rengganis.

“Tapi, dia bukan anak kandungmu,” sanggah Arummanis sang adik.

Tanpa mereka berdua sadari ….

“Jadi, Jingga bukan anak Ambu?” tanya Astrajingga tiba-tiba dari belakang tubuh Arummanis.

“Astaga, Nak!” Rengganis terkejut melihat Astrajingga berada di sana.

“Ambu pembohong!” teriak bocah itu sambil berlari menjauh.

Rengganis hanya bisa menangis dalam pelukan sang adik. Ya, Astrajingga memang bukanlah anak yang dilahirkan dari rahimnya. Melainkan putra dari Barna, mediang suaminya.

Rengganis awalnya iba karena melihat Astrajingga saat hendak dihanyutkan di Ciwidadari oleh sang ayah. Kala itu, ia meminta untuk pulang ke rumah Barna lalu memutuskan untuk tinggal demi merawat Astrajingga.

Setiap disusui oleh Rengganis, bayi merah itu langsung terdiam dan tampak kenyang. Padahal Rengganis belum pernah menikah. Sebuah keajaiban bagi Astrajingga yang akhirnya memiliki ibu pengganti.

Tak lama, Barna memutuskan untuk meminang Rengganis, menjadikannya sebagai istri. Mereka pun hidup bahagia bertiga meski Barna tak mengetahui bahwa istrinya bukanlah manusia biasa.

Berkali-kali sang adik dari kayangan turun ke bumi untuk membujuk, akan tetapi Rengganis enggan kembali ke tempat asalnya. Bahkan setelah Barna meninggal pun, ia tetap memilih tinggal berdua bersama Astrajingga di bumi. Manusia biasa tidak bisa tinggal di tempat asalnya.

Sang putri kayangan kini merasakan bimbang. Mencari cara untuk menjelaskan kenyataan sebenarnya pada bocah lelaki yang teramat ia sayangi.

***

Sebuah jubah berwarna emas telah Rengganis kenakan, bersama sang adik ia mencari Astrajingga. Berlomba dengan waktu, berharap semoga pelangi belum menghilang di hulu sungai.

Dari kejauhan di depan mereka, terdengar seseorang memanggil ….

“Ambu!”

Astrajingga berlari menuju sang ibunda. Tanpa ragu Rengganis menyambut putranya dalam pelukan.

“Ayunda, kenapa putramu itu bisa melihat kita?” tanya Arummanis keheranan.

Betul juga, tak ada manusia yang bisa melihat kami ketika mengenakan jubah ini, pikir Rengganis.

Ditatapnya wajah Astrajingga, tampak beda tak seperti biasa, lebih bercahaya. Manik mata yang awalnya berwarna hitam pun berubah menjadi cokelat terang seperti milik Rengganis.

“Darah amerta telah mengalir di tubuhnya melalui air susu yang ia minum dahulu ketika masih bayi. Kini ia telah lepas dari tubuh fananya, Arummanis.”

Rengganis kembali menatap Astrajingga. “Nak, sekarang kamu bisa ikut dengan Ambu. Ke tempat yang lebih indah dan damai.”

Mereka bertiga berjalan hingga tiba di hulu sungai. Beruntungnya, masih tampak pelangi indah di ujung barat. Di sisi lain, Rengganis melihat sesosok tubuh mungil tertelungkup di daerah berbatu.

‘Syukurlah, kamu telah memiliki darah amerta. Kepergianmu di dunia fana tak meninggalkan sakit bagi kita berdua. Jika tidak, Ambu tak akan pernah berhenti menyalahkan diri sendiri,' batin Rengganis.

Rengganis dan Arummanis menggandeng tangan Astrajingga, melayang di atas pelangi menuju langit. Mereka hendak pulang, ke tempat asal sang putri. Sebuah kerajaan di atas awan bernama Negeri Bumantara.

“Ambu, nanti Jingga bisa bertemu dengan Bibi Auza?” tanya Astrajingga setelah melihat peri yang sedang menjaga pelangi.

Rengganis menjawab dengan anggukan dan senyuman.

-Tamat-

Kukuh

Semburat jingga di ufuk barat menandakan senja hampir usai. Kumpulan mega bergulung indah di langit Sumedang Larang. Sebuah pemandangan tak lazim nampak di samping rumah salah seorang saudagar rempah di wilayah Sudapati. 

Seorang gadis sedang mengasah mata jamparing dengan saksama. Ia adalah Nyi Ratna Kasih, putri dari Raden Kusumah sang saudagar. Meski baru berusia enam belas, akan tetapi kelihaiannya dalam membidik hewan buruan, berkuda, dan memainkan pedang tak perlu diragukan lagi.

“Ayahanda!” pekiknya. Ia bangkit dan berlari ke arah pintu gerbang.

Tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh ayah dan dua pamannya memasuki pekarangan rumah. Mereka telah melakukan perjalanan dari Tegal Kalong, setelah dua hari yang lalu menghadiri undangan salah satu Cutak yang ingin bercerita tentang pengalamannya, saat menyaksikan penyerahan mahkota Binokasih pada Prabu Geusan Ulun sebagai penerus Kerajaan Sunda.

Tampak satu ekor kuda menyusul di belakang, membawa orang asing dengan perawakan tinggi besar dan kulit sawo matang. Usianya hanya berbeda beberapa tahun saja dengan Nyi Ratna Kasih. Dua pasang netra beradu pandang. Membuat gadis itu salah tingkah, dan memilih masuk ke dalam rumah.

Diam-diam Nyi Ratna mencuri dengar pembicaraan sang ayah dengan pemuda itu, setelah mereka duduk di pendopo rumah.

“Badea, kini kau sebatang kara, maka mulai hari ini kau akan tinggal di sini. Untuk sementara, kamarmu ada di bangunan sebelah barat. Dekat dengan gudang rempah.”

Sumuhun, Amang,” ucap pemuda bernama Badea Putra.

Entah mengapa wajah Nyi Ratna langsung memerah tatkala mendengar suara pemuda itu. Jantungnya pun berdegup kencang.

Oh, Gusti. Tak mungkin aku langsung jatuh hati, batin Nyi Ratna.

***

Dua tahun berlalu, sejak saat itu Badea dan Nyi Ratna sering berlatih memanah bersama. Dari pancaran mata sang pemuda, tampak juga kekaguman dan ketertarikan pada sang gadis berparas ayu. Terlebih ketika melihat langsung kemampuannya di dalam hutan saat berburu.

“Nyi Ratna, aku ingin memberikan sesuatu padamu,” tutur Badea di bukit belakang rumah Raden Kusumah. Sore ini merupakan kali ketiga Badea menemani Nyi Ratna di tempat rahasianya.

Sebuah batu cukup besar menjadi tempat duduk gadis yang sedang menatap ke langit. Bukit itu merupakan tempat kegemaran Nyi Ratna menghabiskan sore, menikmati rona surya tenggelam.

“Sesuatu? Apakah itu, Kakang?” Wajah Nyi Ratna melukiskan rasa penasaran.

Badea membuka kulit sapi yang menjadi pembungkus. Di dalamnya terdapat gondewa berwarna hitam terbuat dari kayu sonokeling.

Gondewa ini merupakan buah tanganku selama beberapa bulan terakhir, semoga Nyi Ratna berkenan menerima.”

Tangan Badea bergetar ketika memberikan busur panah itu pada Nyi Ratna. Sosok yang mampu menghadapi hewan buas sekalipun, ternyata bisa dibuat canggung kala menghadapi wanita.

Nyi Ratna terkesiap melihat pemberian Badea.

“Kakang, indah sekali,” ucapnya dengan mata berbinar, “terima kasih.”

Bagai pernyataan cinta yang tersirat, hari itu Badea dan Nyi Ratna mengikrarkan diri untuk menjaga hati. Tempat yang awalnya menjadi pelarian Nyi Ratna saat suntuk, kini menjadi saksi bisu kisah kasih mereka.

***

“Pantas saja minggu lalu kau menolak untuk dijodohkan dengan putra saudagar dari Kadipaten!” murka Raden Kusumah pada Nyi Ratna.

Pria berusia lima puluh tahun itu sudah menaruh curiga karena putrinya dan sang kemenakan jauh sering menghilang dari lingkungan rumah. Sore tadi, dua orang suruhan Raden Kusumah menemukan mereka sedang berada di bukit.

Raden Kusumah tak terima. Ia memberi sekantong penuh emas dan memerintahkan Badea untuk pergi sejauh mungkin. Meskipun ikatan persaudaraan masih ada pada mereka, ia tetap tega mengusir Badea dari rumahnya.

Sebelum Badea melangkah pergi, Nyi Ratna telah berhasil mengambil belati dari pinggang ayahnya. 

“Nyi Ratna, jangan ...!” teriak Badea yang berbalik dan langsung berlari mendekat ke arah kekasihnya itu.

Srek!

Nyi Ratna menggenggam belati di tangan kanan dan potongan rambut sepanjang lebih dari satu hasta di tangan kirinya.

“Aku bersumpah tidak akan pernah memanjangkan rambut lagi. Maka keluarga ningrat lain yang Ayahanda pilih, harus mau menerima menantu berpenampilan layaknya seorang pria.” Amarah memancar dari mata Nyi Ratna. 

Raden Kusumah terbelalak. Teringat ketika dua puluh tahun lalu, ia pun pernah mengucap sumpah. Tak 'kan kembali ke rumah ini, jika tidak menikahi Laksmidewi, seorang gadis dari golongan biasa. Cinta sejati yang telah memberikan permata terindah, yakni Nyi Ratna Kasih hingga harus kehilangan nyawa.

“Maafkan Ayah, Ratna.”

Kemudian Raden Kusumah merangkul putri dan kemenakan jauhnya itu. Menggenggam pundak mereka berdua. Keras hatinya, luluh seketika. Sebab mengingat betapa bijaksana sang ayah dahulu, langsung mau menerima Laksmidewi sebagai menantunya.

Di dalam rangkulan sang ayah, Nyi Ratna menatap wajah kekasihnya yang menyunggingkan senyum. Tak perlu lagi menyembunyikan rasa di hati. Kini restu telah mereka raih.

~End~



[/font][/size][/color]Catatan :

- Sumuhun : Iya
- Jamparing : anak panah
- Cutak : Camat
- Sumuhun : Iya
- Gondewa : busur[/font][/size] [/color]
Diubah oleh Vevana


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di