CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Istiqomah Salat Tahajjud
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e71b7d7e83c7235de0ae320/abbad-bin-bishr-sahabat-nabi-yang-istiqomah-salat-tahajjud

Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Istiqomah Salat Tahajjud

Abbad bin Bishr: Sahabat Nabi yang Istiqomah Salat TahajjudAbad bin Bishr salah satu sahabat Nabi dari kalangan Ansar, beliau dikenal sebagai sahabat yang Istiqomah dalam melaksanakan salat Tahajud. Beliau Syahid dalam perang Yamamah ketika menumpas para pemberontak di masa Khalifah Abu Bakar.

Daftar isi [hide]

1 Biografi Abbad
2 Penghidmatan dalam Islam
3 Ahli Ibadah
4 Istiqomah menjalankan Salat Tahajjud
5 Syahid pada Perang Yamamah

Biografi Abbad



Abbad bin Bisyr lahir tahun 33 sebelum hijrah (591)  di Madinah.

Berawal dari Mush’ab bin ‘Umair ra yang diutus oleh Rasulullah saw untuk menyampaikan tabligh dan tarbiyat Islam kepada penduduk Madinah.

Ketika Mush’ab menyampaikan tablighnya, beliau yang masih muda belia itu ikut hadir dan menyimak apa-apa yang disampaikan oleh Mush’ab. Dengan karunia Allah Abbad bin Bisyr pun baiat, bergabung kedalam Islam, ketika itu beliau berumur 15 tahun.


Kemudian Abbad belajar membaca Al-Qur’an kepada Mush’ab. Suaranya merdu, menyejukkan dan menawan hati. Oleh karena itu, beliau terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al-Qur’an.


Di masa hijrah, Rasulullah saw kemudian mempersaudarakan Abbad bin Bisyr dengan Ammar bin Yasir.


Baca juga: Muadz bin Jabal: Sahabat Nabi yang Menjadi Mubaligh


Penghidmatan dalam Islam

Abbad bin Bisyr turut dalam setiap peperangan bersama Rasulullah saw. Salah satu tugas beliau adalah sebagai pembawa Al-Qur’an.

Pada setiap peperangan itu beliau berada dibarisan terdepan, berjihad dijalan Allah dengan gagah berani dan mati-matian dengan cara yang amat mengagumkan.
Ummul Mukminin Aisyah mengatakan, “Ada tiga orang sahabat Anshar yang keutamaannya tidak bisa dilampaui siapapun; Sa’ad bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair, dan Abbad bin Bisyr.”

Baca juga: Syammas bin Utsman: Sahabat Nabi yang Syahid di Uhud

Ahli Ibadah

Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan Hadits yang menjelaskan ibadah beliau dan tilawat Qur’an oleh beliau, “Suatu kali Nabi saw bertahajjud di rumah saya.” (Rasulullah saw selalu cepat bangun untuk tahajjud.) Nabi saw mendengar Abbad tengah membaca Al-Quran di dalam masjid. Beliau saw bertanya, ‘Wahai Aisyah ra, apakah ini suara Abbad?’ Saya menjawab: ‘Iya.’ Rasulullah saw berdoa, اللهُم ارْحَمْ عَبادًا ‘Semoga Allah Ta’ala menyayangi Abbad.’ 

Betapa senangnya orang-orang yang melalui waktu dalam ibadah dan membaca Alquran lalu mendapatkan doa langsung dari Nabi saw. Mereka biasa bangun di malam hari dan berdoa kepada Tuhan untuk meraih ridha dan rahmat-Nya.


Beliau adalah seorang ahli ibadah yang tekun, sekaligus juga seorang pahlawan Islam yang tangguh, seorang dermawan yang rela berkorban dan seorang mukmin sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk agama dan keimannnya. Keutamaannya ini telah dikenal luas diantara sahabat-sahabat Rasulullah saw.

Baca juga: https://bewaramulia.com/said-ibn-zaid-sahabat-nabi-yang-dijamin-masuk-surga/]Sa’id bin Zaid: Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga[/url]

Istiqomah menjalankan Salat Tahajjud

Ketika perang memberantas gerombolan pengacau dan pemberontak berkecamuk pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah menyiapkan pasukan besar untuk menindas kekacauan yang ditimbulkan oleh Musailamah Al-Kadzab. Beliau termasuk dalam pasukan tersebut.

Pada suatu peristiwa, ketika Rasulullah pasukan Islam kembali dari Perang Dzatur Riqa’, karena hari telah malam beliau saw memutuskan untuk beristirahat di sebuah bukit.
Rasulullah bertanya, “Siapa yang bertugas jaga malam ini?” Abbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir berdiri, “Kami, ya Rasulullah!” kata keduanya serentak.


Keduanya sepakat, Ammar lebih dulu tidur, sementara itu Abbad di sampingnya berjaga.
Karena dirasa keadaan aman Abbad, sahabat yang ahli ibadah itu menggunakan kesempatan jaga itu untuk melaksanakan shalat tahajjud.


Ketika beliau sedang khusyu dalam salatnya tiba-tiba ada seorang musuh yang melepaskan anak panah yang tepat mengenai tubuh beliau.


Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya itu dan tetap meneruskan shalat. Orang itu memanah lagi dan kembali mengenai tubuh beliau. Abbad kembali mencabut anak panah lalu meneruskan salatnya. Untuk ketiga kalinya orang itu memanah lagi. Abbad pun kembali mencabut anak panah itu dan tetap meneruskan salatnya.


Dalam keadaan sujud, ia ulurkan tangan lalu mengguncang-guncangkan Ammar sampai terbangun. Setelah itu, ia bangun dari sujud dan menuntaskan shalat. “Gantikanlah aku untuk berjaga karena aku telah terluka,” kata Abbad.


Ammar terbangun dan musuh itu pun melarikan diri. Setelah itu, ia berpaling pada ‘Abbad, “Kenapa engkau tidak membangunkanku begitu kau terluka?” ‘Abbad menjawab, “Aku sedang shalat dan membaca beberapa ayat Alquran yang sangat mencekam hatiku hingga aku tak ingin memutusnya.”


Baca juga: Shuhaib bin Sinan: Sahabat Nabi yang Meninggalkan Harta demi Hijrah

Syahid pada Perang Yamamah

Abbad yakin berdasarkan ru-ya (penglihatan dalam mimpi) yang dia lihat bahwa dia akan mencapai kesyahidan. Diriwayatkan bahwa Abu Sa’id al-Khudri berkata: 

“Abbad bin Bisyir mengatakan kepada saya: ‘Hai Abu Sa’id! Saya bermimpi langit terbelah dan saya masuk kedalamnya, setelah itu langit tersebut tertutup lagi dan kembali seperti semula. Saya yakin penjelasan mimpi ini Allah Ta’ala akan menganugerahi saya kedudukan syahid!’

Mimpi tersebut tergenapi ketika pertempuran Yamamah. Ia mati syahid saat bertempur dengan sangat gagah berani. Namun batalionnya, yang semuanya orang Ansar mengalahkan orang-orang kafir. Beliau syahid namun peperangan dimenangkan umat Muslim. Hadhrat Abu Sa’id meriwayatkan bahwa wajahnya tidak bisa dikenali karena luka-luka pedang di wajahnya. Tubuhnya hanya dikenali karena ada tanda tertentu di badannya. 
Hadhrat Abbad bin Bishr radhiyAllahu ‘anhu syahid di Yamamah sekitar tahun 12 H atau 633 M ketika saat berusia 35 tahun. Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad terjemahan Urdu, jilid 4, h. 41, bab Nafis Academy, Karachi-Pakistan. 

Sumber: bewaramulia.com
Diubah oleh akramdjazuli


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di