CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Java Never Ending Stories : Melanggar Tradisi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e71b0b6c342bb0f80015500/java-never-ending-stories--melanggar-tradisi

Java Never Ending Stories : Melanggar Tradisi

“Aku tidak setuju!” teriak Pak De Gufron sambil bangkit dari tempatnya duduk.
Malam ini keluarga besar sedang mengadakan rapat untuk persiapan pernikahanku yang akan diselenggarakan dua bulan lagi. Dalam acara yang dihadiri oleh saudara dari mama dan almarhum papa ini, suasana mendadak tegang saat mama menyampaikan bahwa resepsi pernikahan tidak hanya akan ada sepasang pengantin, tetapi dua pasang sekaligus. Selain aku, Bang FJava Never Ending Stories : Melanggar Tradisiasih juga akan menjadi pengantin, meski akad nikah sudah dilaksanakan tiga bulan lalu.

Tak disangka rencana yang sebelumnya telah dibicarakan di internal keluarga kecil kami mendapat penolakan yang luar biasa dari Pak De Gufron, kakak sulung papa. Atmosfer ruangan yang berubah panas itu, juga berpengaruh terhadap kondisi tiap personal. Paman Faisal yang hobi membanyol pun tak terdengar lagi suaranya.

“Jangan sekali-kali mengadakan pesta pernikahan dengan dua pasang mempelai, haram hukumnya! Memang tidak ada dalil dari segi agama, tapi ini sudah menjadi kepercayaan turun temurun dari para sesepuh!” Suara lelaki berusia 65 tahun itu masih meninggi.
“Pak De duduk dulu, tahan emosi. Kita bisa bicara baik-baik,” kata Bang Fasih sambil mendudukkan pelan-pelan pria yang sangat disegani oleh keluarga besar papa.
Hening sejenak. Bang Fasih segera menyodorkan air minum kepada Pak De Gufron. Diteguk sedikit demi sedikit hingga isi dalam gelas tandas. Suasana tak berubah, masih lengang. Tak satu pun yang berada di ruangan mengeluarkan suara. Semuanya menunggu titah Pak De berikutnya. Sebagai tetua, beliau sangat disegani.

Pak De menghela napas panjang, lantas mulai bicara, “aku tidak mau terjadi apa-apa dengan dua keponakanku. Mereka amanah dari almarhum Dik Kadir. Mengumpulkan dua pasang pengantin dalam satu pelaminan adalah hal yang tabu dilakukan.”
Semua orang yang berada di ruangan mendengarkan baik-baik petuah Pak De Gufron. Nada suara sudah mulai stabil, tidak menggebu-gebu seperti sebelumnya. Beliau sudah bisa mengendalikan diri.

“Jika itu sampai terjadi, maka kata para sepuh jaman dahulu, salah satu dari pasangan mempelai tersebut akan ada yang kalah. Bisa jadi dari segi usia, bisa pula dalam urusan rezeki. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi kepada Fasih dan Caca.”
“Kalian, terutama yang muda-muda, boleh tidak percaya. Namun, kepercayaan ini sudah menguat, dan menjadi keyakinan tersendiri di tengah masyarakat. Orang tua jaman dahulu jika berbicara lebih banyak benarnya. Mereka menandai dari berbagai peristiwa yang pernah terjadi.” Pak De Gufron mengakhiri kalimatnya seraya menyandarkan tubuh di sofa panjang.
Aku memahami kekhawatiran Pak De, tapi aku pun tak berani mendebat beliau, walau sejuta pertanyaan menari di pikiran. Seperti kata lelaki yang sudah beruban tersebut, anak muda sepertiku dan sepupu-sepupu yang lain akan sukar mempercayai hal itu, sebab kami selalu lebih senang mengaitkan dengan logika. Putra putri paman dan bibi saling berpandangan. Aku mengerti yang ada di benak mereka.

“Maaf, Pak De. Tika ingin menyampaikan unek-unek. Ini bukan dalam rangka mau menggurui, tapi karena kita sedang bermusyawarah, maka Tika kira tidak ada yang salah ketika saling bertukar pikiran.” Tika, anak perempuan Bibi Lilik membuka suara, lirih. Alumni pesantren besar di Pasuruan itu sangat alim dalam bidang agama.
“Urusan mati, kita semua yang ada di sini semua dalam rangka menunggu mati. Ibaratnya sedang menanti panggilan. Kebetulan Pak De Kadir sudah mendahului. Apakah dulu ketika menikah dengan bibi, beliau satu kuade dengan pengantin lain? Tidak, kan?” Pembawaan Tika sangat tenang saat menyampaikan hal itu.


Aku memandang sejenak gestur tubuh Pak De Gufron. Masih kalem, tidak ada respon yang berlebihan. Wajahnya pun tenang, tak seperti saat pertama kali mendengar rencana Mama. Tika memang sangat santun dalam bertutur, perilakunya pun sopan. Semua keluarga sangat menyukai dara yang usianya berjarak lima tahun denganku itu.

“Tentang rezeki juga sudah diatur oleh Allah, sesuai usaha kita. Bukan karena dua mempelai dalam satu pelaminan. Jika pun dalam fakta di lapangan ada kejadian demikian, percayalah itu karena memang sesuai dengan garis tangan yang telah ditetapkan di lauh mahfud.” Penjelasan yang gamblang. Dan tiada kesan menggurui sama sekali.
Sedikit banyak apa yang ada dalam isi kepalaku terwakili oleh ujaran Tika. Jodoh, ajal, rezeki, keberuntungan atau celaka adalah empat perkara yang telah ditetapkan sejak janin berada dalam usia 120 hari.
'Orang yang masih meragukan rezekinya berarti ia meragukan Tuhannya.’ Sepenggal nasihat dari seorang Habib Jindan tiba-tiba berkelebat. Diam-diam, aku berdoa, semoga apa pun keputusan yang diputuskan di tempat ini membawa manfaat dan keberkahan untukku dan Bang Fasih.
“Caca, apa ada yang ingin kamu sampaikan, Nak?” Pertanyaan Paman Antok membuyarkan lamunanku.
Aku mengitari pandangan ke sekeliling ruangan. Semua netra seperti menuntut jawaban.
“Apa pun keputusan keluarga, Caca sangat menghormati, kalau memang hal tersebut adalah untuk kebaikan. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan pendapat Tika. Dia berbicara dari sudut pemahaman agama. Bukan maksud menyepelekan Pak De.” Akhirnya aku mengeluarkan pendapat juga.
Semua orang menyampaikan pandangannya. Menimbang baik buruknya, berusaha mengambil jalan tengah dari dua argumen kuat antara Pak De Gufron dan Tika. Akhirnya, demi kenyamanan bersama dan hubungan kekeluargaan tetap terjaga, Bang Fasih mengambil langkah untuk tidak menjadi pengantin pada acara pernikahanku nanti. Ia bilang, akad nikah yang tiga bulan lalu sudah terlaksana, dianggap telah lebih dari cukup. Kulihat Kak Winda, istri Bang Fasih, mengiyakan tanda setuju.
*
“Cacaaa ....” Teriakan Paman Antok terdengar dari luar kamar.

Aku tengah menemani pihak dekor yang sedang menyiapkan kamar pengantin. Mendiskusikan konsep hiasan yang aku inginkan, tapi tak kehilangan keindahan. Gegas kutinggalkan mereka setelah pamit sebelumnya.
“Ada apa, Paman?” tanyaku saat melihat Paman Antok duduk di kursi teras rumas.
“Ada berita penting!” Kalimatnya sangat tegas. Aku berdebar menunggu kelanjutan ucapannya.
“Paman baru saja bertemu dengan seorang teman yang mahir dalam urusan menghitung nama, khususnya bagi calon pengantin. Tentu saja, paman langsung ingat bahwa kamu akan segera menikah. Namamu dan Bara segera paman sodorkan.”
Aku menunggu kelanjutan ucapan paman. Perasaanku mendadak tak enak.
“Ternyata namamu dan Bara gak cocok. Jadi, nanti ketika ijab qabul, namamu harus diubah. Caca Naina Ramadani menjadi Caca Ramadani saja. Nama Naina tidak perlu disebutkan. Jangan lupa sampaikan kepada Fasih selaku wali nikah, dan calon suamimu!”
Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Sudah selesai urusan dua pasang pengantin di pelaminan, eh, kenapa ada permasalahan baru yang tak kalah rumit? Mengubah nama bukan perkara mudah karena berhubungan dengan dokumen yang kumiliki. Ada ijazah, KTP, SIM, SK, dan ... buku nikah tentunya.
“Wah, kok, jadi ribet, Paman?” tanyaku.

Tak sama dengan Pak De Gufron, aku lebih terbuka saat berinteraksi dengan Paman Antok. Beliau memang salah satu paman yang tidak menjaga jarak dengan keponakannya. Putra putri saudaranya semua dekat dengan adik bungsu papa ini.
“Kalo namamu tak diganti, alamat hidupmu gak bahagia. Ada saja masalah yang membuat rumah tanggamu tidak harmonis. Percayalah, Ca, ini semua demi kebaikan kamu.” Paman Antok masih bersikeras dengan pendiriannya.
'Mana ada pernikahan yang tidak ada masalah di dalamnya?' batinku.
Aku kira keputusan rapat keluarga beberapa waktu lalu sudah final. Nyatanya, Paman Antok masih percaya dengan mitos demikian. Lelah rasanya memikirkan hal tak penting seperti ini. Namun, aku pun sedang malas berdebat. Ingin segera kembali menemui pihak dekorasi.

“Nanti Caca pikirkan, Paman.” Akhirnya kata itu yang meluncur dari mulutku. “Caca tinggal dulu, ya, Paman. Mau menemui tamu pihak dekorasi di kamar,” kataku seraya pamit agar urusan tidak semakin panjang.
“Oh, ya. Silakan dilanjut, Ca.” jawabnya.
Baru tiga langkah meninggalkan paman, tiba-tiba,
“Oya, Ca, biar nanti waktu hari H gak turun hujan, saran dari teman paman itu juga, celana dalam kamu diletakkan di atas atap. Yah, semacam menangkal hujan gitu,” ucap paman.

Saat itu, sungguh, aku ingin pingsan mendengar kalimat Paman Antok tersebut. ‘Tuhan, mitos macam apa ini?’





profile-picture
delia.adel memberi reputasi
waduh masih ada kepercayaan mitos nya ya..keren nih..
ini yg diletakkan di atap celana dalem baru apa bekas ya🤔
Lah kalo celana dalem caca ditaro diatas caca ngk pake celana dalem dong paman
emoticon-Wkwkwkemoticon-Wkwkwk


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di