CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Dari Jawa : Gara-Gara Weton ( Java Never Ending Story )
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e71abbe337f9316c6581744/cerita-dari-jawa--gara-gara-weton---java-never-ending-story

Cerita Dari Jawa : Gara-Gara Weton ( Java Never Ending Story )

Jantungku serasa bekerja lebih keras dari biasanya. Entahlah, sejak tadi pun aku merasa sangat tegang. Padahal, sudah sering kali aku bertandang ke rumah ini. Namun, kali ini tentulah beda, aku datang membawa keluarga besar.
Sudah sejak lima menit lalu sampai di sini, sejak itu pula aku masih duduk di mobil dengan keringat memenuhi kening, terlihat di spion. Padahal, semua rombongan sudah turun dan bersiap masuk ke dalam. Entahlah, aku begitu merasa tegang.
"Dan, sampai kapan kamu terus di dalam?" Suara bariton Ayah membuatku kaget. Beliau berdiri di samping mobil dengan bertolak pinggang.
Cerita Dari Jawa : Gara-Gara Weton ( Java Never Ending Story )
"Eh, Ayah. Ehm ... i-iya, Yah, Danesh tegang banget," jawabku jujur sambil nyengir terpaksa.
"Ya, udah, kalo tegang. Kita pulang saja lagi kalo gitu," ancam Ayah melenggang ke mobilnya.
Aku panik, dan segera turun dari mobil dengan tergesa. "Ayah."
Kini, semua telah bersiap, berbaris rapi dengan bingkisan di tangan. Kira-kira ada dua belas orang keluargaku yang mendampingi. Sementara aku, berdiri di tengah antara Ayah dan Ibu. Jangan tanya bagaimana jantungku saat ini, mungkin hendak lompat keluar.
Pintu rumah berpelitur cokelat itu terbuka, menampilkan kakak dari calon istriku yang juga memakai batik yang sama dengan yang keluargaku pakai. Aku semakin merasa tak keruan, saat kaki mulai melangkah masuk sembari menyalami semua keluarga Qia yang turut menghadiri acar lamaran ini.
Ruang tamu yang biasanya hanya ada satu set sofa, kini, di tambah beberapa kursi. Aku duduk dengan gelisah, menanti Qia keluar dari kamarnya.
Acara lamaran dimulai. Ayah berbicara lancar dengan nada lembut. Meminta pada kakak Qia--Qiekan--untuk meminang adiknya untukku peristri. Pria berwajah tegas itu tersenyum, dan menjawab dengan sama lembutnya diselingi candaan khasnya. Sementara, Qia belum juga keluar, ia masih bersama sang ibu di bilik kamar.
"Saya tak bisa menjawab 'ya' atau 'tidak'. Biarlah, adik saya sendiri yang akan menjawabnya." Qiekan berkata dengan senyum mengejek padaku.
Aku hanya bisa mendengkus dalam hati. Pria yang juga sahabatku ini tau, bagaimana gugupnya aku. Ingin rasanya maju dan meninjunya.
Tak lama, Qia keluar dari kamarnya di dampingi sang ibu. Aku terpana, Qia-ku begitu bersinar dengan kebaya pink baby dan rok batik bercorak sama dengan yang kupakai.
Aku sedikit tersentak, saat cubitan cukup keras mendarat di pinggang. Ternyata Ibu. Aku hanya meringis tak enak, apalagi Ibu membeliakan matanya sebagai kode.
Wajah Qia terlihat tambah merona, ketika sang kakak menanyakan jawaban atas pinanganku ini. Ia juga mencuri pandang sesekali dengan senyum manis seperti biasanya.
"Baiklah, Qia bersedia."
Tiga kata yang diucapkan calon istriku itu membuat semua berucap hamdallah, termasuk aku yang hampir saja melompat jika Ibu tidak kembali memperingatkan. Rasa tegang dan berdebar hilang seketika. Jika saja tak ditahan Ibu, sudah pasti Qia akan kupeluk sekarang juga. Namun, jika kulakukan, Ibu akan mencubit lebih keras lagi sambil berkata "belum halal, Le!".
Sesuai kesepakatan, ijab kabul dan resepsi akan diadakan dua puluh hari lagi. Sebelum itu, aku dan Qia dilarang bertemu, hanya boleh berhubungan lewat chat atau telepon saja. Sesuai dengan kepercayaan Jawa yang adanya pingitan sebelum acara pernikahan.

 ****
Seminggu sebelum pernikahan, aku masih bekerja seperti biasa. Terkadang rasa rindu itu muncul, ingin bertemu Qia. Namun, Ibu selalu mewanti-wanti, untuk tidak melanggar. Maka, kusibukkan diri dengan pekerjaan.
Tak terasa hari beranjak sore, pekerjaan pun sudah selesai sedari tadi. Sebelum pulang, kusempatkan sebentar menelpon calon istri. Entahlah, hari ini ingin sekali mendengar suara manjanya.
Kuraih ponsel di saku celana, menggeser layar lima inci itu beberapa kali. Hingga menemukan kontak Qia dan meng-klik ikon hijau. Beberapa dering kemudian, terdengar suara lembut calon istriku dari seberang sana.
"Assalamualaikum, Mas." Suaranya terdengar berbisik.
"Waalaikumsalam, Qi. Kamu kenapa bisik-bisik gitu?" Aku bertanya tak kalah lirih, sembari memegang perut yang tiba-tiba geli.
"Mas, ngapain nelpon? Aku takut ketahuan Ibu. Bisa berabe, tau! Chat aja, sih," keluh Qia terdengar lucu.
"Mas 'kan kangen, Qi. Masa nelpon calon istri gak boleh? Kalo ketemu, baru dilarang. Kamu jaga kesehatan ya, jangan gugup. Siapkan fisik dan mental untuk serangan--"
"Serangan apa?" Kalimatku dipotong cepat oleh Qia. Membuatku tersadar dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Bukan apa-apa. Ya, sudah, Sayang. Mas mau pulang nih, assalamualaikum," ucapku secepat mungkin, kemudian mematikan telepon secara sepihak.
Aku menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal, pikiran macam apa tadi itu? Pasti, Qia berpikiran yang tidak-tidak.
"Kamu terlalu tidak sabaran, Danesh!" gumamku pelan seraya menggelengkan kepala.
Kuputuskan segera pulang, setelah membereskan beberapa file yang berserakan di meja. Akan ku-chat nanti di rumah, menjelaskan pada Qia perkara omonganku tadi.
Tiba di rumah, aku kaget luar biasa. Nenek buyutku yang dari Jawa ternyata telah sampai. Beliau duduk di kursi goyang yang terletak di teras sembari mengunyah sirih. Ia memandang tajam ke arahku, membuat sedikit was-was.
"Assalamualaikum, Mbah Uti," ucapku seraya meraih tangannya yang terulur.
"Waalaikumsalam," sahutnya datar. Ia kembali memandang ke arah lain.
Aku merasakan keanehan, biasanya Mbah Uti akan banyak bercerita jika bertemu. Namun, kali ini ia terlihat menyimpan kemarahan, karena tak ada senyum sama sekali sedari tadi.
"Danesh masuk dulu, Mbah." Aku pamit dengan sedikit membungkukkan badan. Tak ada tanggapan sama sekali dari Mbah Uti. Apa ada yang salah denganku?
Masuk ke dalam rumah, Ibu dan Ayah duduk di ruang keluarga dengan wajah serius. Beberapa paman dan bibi juga begitu, seperti ada sesuatu masalah besar.
"Ada apa, Yah, Bu? Wajahnya kok serius banget? Ada masalah?" Aku mengambil posisi duduk sebelah Ayah.
Terlihat Ayah mengembuskan napas. Wajah Ibu pun terlihat sedih. Ada apa gerangan?
"Gini, Le. Mbah Uti ... gak setuju kamu menikah sama Qiandra." Ucapan Bapak, seketika membuatku membelikan mata.
Kaget, syok, bercampur jadi satu. Sebelum menjawab, kucoba menetralkan emosi dahulu.
"Ada masalah apa dengan Mbah Uti? Bukannya dulu beliau setuju? Seminggu lagi aku akan menikah, Ayah?" Suaraku agak meninggi.

 "Sabar, Le. Dengar dulu penjelasan ayahmu." Pakde To menenangkan.
"Kata Mbah Uti, weton-mu dan Qia itu berseberangan. Kalian gak bakal cocok menikah. Paling hanya bertahan sebentar, terus bercerai." Penjelasan Ayah membuatku tertawa tak percaya.

"Apa? Weton? Menikah itu tergantung orangnya, bebet bibit bobotnya, Yah. Bukan weton. Peraturan macam apa ini?" Aku melenggang ke kamar tak ingin lagi mendengar penjelasan. Sungguh tak masuk akal, apa hubungannya weton dengan pernikahan.

Aku frustrasi, memikirkan bagaimana kelanjutan pernikahan ini. Keluarga Qia belum diberitahu terkait masalah weton ini. Sampai-sampai chat dan pesan suara dari Qia kuabaikan dari gadi malam. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Tak mungkin dan takkan pernah, aku membatalkan pernikahan ini. Qiandra, gadis yang telah lama kusukai. Bahkan, dari ia masih kecil, aku sudah mengenalnya. Hanya karena kepercayaan pada weton, pernikahan ini terancam batal, sunggu tak masuk akal.

Setelah menimang beberapa lama, sepertinya aku harus menemui Qia. Menjelaskan duduk perkara ini pada gadis itu. Setidaknya, mungkin ada jalan keluar untuk permasalahan ini. Jujur saja, aku juga sangat menghormati Mbah Uti, tapi rasa sayang dan cintaku pada Qia tak mungkin bisa hilang begitu saja.

Aku mengirim chat pada gadisku itu. Membuat janji bertemu di kafe biasa kami berkencan. Semoga ada jalan keluar untuk masalah ini.

****

Aku masih diam sedari tadi. Memandang wajah ayu Qia yang terlihat kebingungan. Sesekali ia mencolek dan memberi kode, tapi aku masih bergeming dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala.

"Mas, kenapa diam saja? Ada apa? Apa kita gak papa bertemu seperti ini?" tanyanya beruntun dengan wajah heran.

Aku mengembuskan napas perlahan.
Bersiap menjelaskan semuanya dari awal.


"Qi, ada yang ingin mas sampaikan sama kamu. Tapi, jangan ambil kesimpulan apa-apa dulu, ya, janji?" tanyaku sebelum melanjutkan penjelasan.

Gadis berlesung pipi itu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Maka, mengalirlah ceritaku dari awal, sebagaimana yang disampaikan oleh Ayah kemarin. Terlihat wajah Qia berubah kaget, kemudian sedih. Namun, ia berusaha untuk baik-baik saja. Tanganku segera menaut jemari lentiknya, berharap ia tahu, bahwa aku tak mau berpisah.

"Begitu ceritanya, Qi. Mas bimbang harus bagaimana, di satu sisi, mas begitu menyayangi Mbah Uti dan menghormatinya. Di sisi lain, mas gak mungkin bisa melepasmu begitu saja." Akhir penjelasanku membuat Qia meneteskan air mata.

Sebenarnya aku tak ingin melukainya, akan tetapi lebih baik Qia cepat tahu, sehingga bisa sama-sama menemukan jalan keluar.

"Jangan menangis, Sayang. Sekarang kita berdoa saja, toh jodoh di tangan Allah. Mas sudah punya rencana, sebaiknya kita beri pengertian pada Mbah Uti. Mungkin, jika kita berdua yang menjelaskan, Mbah mau mengerti." Kuhapus air mata gadisku dengan ujung jari.

Lagi, Qia hanya mengangguk. Membuatku tak tahan untuk tidak memeluknya. Tak peduli kami sedang dipingit, saat ini pelukan obat terbaik.

Sore itu, aku membawa Qia pulang. Ayah dan Ibu terkejut melihatku saat itu. Mereka mungkin tak habis pikir, aku berani melanggar peraturan.
Aku membawa Qia untuk langsung menemui Mbah Uti. Gadisku itu terlihat takut, terasa dari tautan tangannya yang mengerat.

Mbah Uti sedang duduk santai di kebun belakang. Aku dan Qia menghampiri perlahan.
"Assalamualaikum, Mbah," ucapku membuat Mbah menoleh.

"Waalaikumsalam," jawab Mbah masih datar.

Aku dan Qia segera meraih tangan keriputnya dan duduk di bangku lain.

"Kamu ya, Le. Berani-beraninya melanggar larangan. 'Kan sudah dibilangin, kalo pingitan gak boleh bertemu." Mbah berkata dengan nada serak.

"Iya, Mbah. Danesh tau. Hanya saja, ada yang mau Danesh dan Qia jelaskan. Ini masalah weton itu." Aku menunggu reaksi Mbah. Namun, ia malah tersenyum. Makin membuatku heran. Sementara, Qia hanya diam dengan menahan senyum, juga?

"Selamat ulang tahun, Le," ucap Mbah Uti tiba-tiba, membuatku terkejut.

Hingga semua orang berkumpul mengelilingiku, Ayah dan Ibu juga datang membawa senampan ayam ingkung.

Aku masih belum menyadari, hingga sebuah ciuman hangat mendarat di keningku.

"Maafkan, Mbah ya, Le. Itu rencana ayah dan ibumu." Mbah Uti tersenyum dan memelukku erat.

Ternyata semua hanya prank. Mereka sengaja mengerjaiku habis-habisan.

****

Ijab kabul dan resepsi telah selesai digelar. Kini, aku dan Qia berbaring di kamar pengantin yang telah dihias sedemikian rupa. Lantainya bertabur bunga mawar merah dengan lilin aroma terapi sebagai penerang.

Aku memeluk erat tubuh Qia dari belakang. Meletakan dagu di cerukan leher jenjangnya. Wangi chamomile sungguh sangat membuat nyaman.

"Qi."

"Hmm."

"Main, yuk!"

"Yuk." Qia berbalik menghadapku, wajahnya tampak antusias.

"Yaudah, buka gih," perintahku frontal.

Qia segera meraih ponselnya di bawah bantal. Menyalakan dan membuka ... yang membuatku melongo tak percaya.
Kalian tahu apa yang Qia buka? Ternyata ia malah membuka permainan cacing. Aku syok, malam ini latihan bermain cacing dulu. Malam selanjutnya baru 'bermain' yang lain.







Kirain sad ending, ternyata happy ending emoticon-Ngakak (S)
Btw mantep ceritanya gan emoticon-Big Grin


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di