CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Siluman Harimau Gunung Lawu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e71669882d4957b7716599c/siluman-harimau-gunung-lawu

Siluman Harimau Gunung Lawu

Siluman Harimau Gunung Lawu


Gunung lawu selain terkenal dengan pasar setan yang melegenda serta jalur pendakian yang mistis juga ternyata punya cerita yang tak kalah seram. Tahun 1980-an tepatnya, di sebuah desa bernama Duwet di lereng gunung Lawu, Magetan Jawa Timur heboh sekali dengan hilangnya hewan ternak secara misterius.Kambing, sapi, ayam semuanya lenyap tak bersisa dari kandang warga.

Suatu malam, Roro mendengar suara krasak krusuk di kandang ternak kambingnya. Ketika berniat buang air kecil ke kamar mandi, dia mendengar auman hewan buas. Hal tersebut membuat Roro tidak berani bergerak karena dia yakin jika ada singa atau harimau yang lepas ke perkampungan warga.

Mata Roro mengintip dari celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Dia melihat sesuatu yang bersinar di dalam kandang, seperti macan. Suasana gelap, tapi tubuh macan itu seperti berpendar dalam gelap. Roro hanya mampu berdoa dalam hati. "Duh Gusti, paringi kulo selamet"(Ya Tuhan, berikan keselamatan padaku). Mata Roro berkedip, lalu makhluk bersinar tadi lenyap tak jelas kemana.

Roro berlari ke kamarnya, membangunkan Bapak dan Ibunya.

"Bapa, Ibu ... tangi tangi! Ning kandang ana macan. " (Ayah, Ibu ... bangun ! Di kandang ada harimau)

Ayah dan Ibu Roro terbangun dan menyiapkan tombak untuk melindungi diri. Mereka bertiga mengendap endap ke kandang untuk melihat benarkah ada seekor harimau yang lepas dari hutan dan turun ke perkampungan mereka. Dibawalah tombak itu oleh Pak Suroto, Ayah Roro. Dengan berani dia menuju kandang membawa lampu penerangan. Namun tak satupun ditemukan hewan ternaknya yang masih hidup. Hanya tersisa darah yang berceceran di bawah kandang beserta kepala kambing yang tak bernyawa.

"Tenan iki bar ono macan teko kene. Wes kok kandani warga opo durung?" (Benar, barusan ada harimau disini. Apa kamu sudah memberitahu pada warga?) tanya Pak Suroto pada Istrinya

"Yo durung to pak, wong aku yo sik tas dunung" ( Ya belum dong pak, kan aku juga baru tau)

Lasmini, istri Pak Suroto sekaligus Ibunda Roro segera mengabarkan hal tersebut pada tetangga kanan kirinya saat waktu memasuki shubuh. Warga pun gempar, semua mengunjungi rumah Roro untuk menyaksikan bahwa kandangnya kosong karena seluruh ternak kambingnya yang berjumlah 9 ekor hanya tersisa bangkai kepalanya saja.

Kejadian itu terus berulang dari satu rumah warga ke rumah lainnya. Semua orang panik, mereka berpikir bahwa jika ternaknya saja dimangsa tidak menutup kemungkinan macan itu juga kelak akan memangsa manusia.Mereka menduga ada singa atau macan yang turun dari lereng menuju ke perkampungan mereka. Tiap malam pun mereka selalu mengadakan ronda keliling kampung, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik hilangnya ternak tersebut. Mereka pun merencanakan untuk tetap terbangun di kala malam, menjaga desanya dari hal misterius yang menimpa hewan ternak mereka selama berminggu - minggu.

Tak pernah absen, wacana ronda itu diberlakukan. Tak seorang pun yang menemukan hewan buas di sekitar perkampungan warga, namun satu per satu warga mengaku peliharaannya tewas dan hilang. Bangkai ternak mereka ada yang ditemukan namun ada juga yang tak jelas kemana perginya. Terdapat tanda cakaran serta gigitan hewan bertaring di sekitar leher bangkai kambing milik penduduk.

Kejanggalan tersebut membuat warga yakin kejadian itu ada dan dilakukan oleh makhluk ghaib. Ditambah lagi dengan kesaksian Roro yang pernah melihat makhluk di kandang kambingnya tersebut memiliki cahaya yang tidak semestinya dimiliki oleh hewan buas biasa. Berundinglah para tetua desa untuk mengatasi masalah yang meresahkan ini. Mereka sepakat mengundang juru kunci gunung dan orang berdarah asli desa ini yang juga punya keahlian khusus.

Mereka melakukan wawancara pada Roro tentang makhluk itu, "Koyo opo rupane macan sing mateni wedhusmu kuwi, nduk?" tanya orang pintar yang datang ke desa Duwet itu pada Roro. Artinya "Seperti apa rupa harimau yang membunuh kambingmu, Nak?"

Roro menjawab "Wonten sinar ten awakke macan niku, putih kados sinar bulan. Jelas bentuk e niku macan, gede dawane kira-kira 2 meter" (Ada cahaya di tubuh harimau itu, putih seperti sinar rembulan. Bentuknya sangat jelas bahwa itu harimau, panjangnya kira - kira 2 meter)

Juru kunci dan orang pintar berunding setelah mendengar pengakuan Roro. Ritual pun diadakan, mereka menyuruh warga untuk mempersembahkan sesajen berupa ayam utuh, buah - buahan, bunga kamboja, pisang raja, kemenyan dan dupa yang dihidupkan hingga asapnya mengepul menebarkan bau khas yang disukai oleh bangsa lelembut. Mereka bernyanyi dalam bahasa Jawa, merapal mantra dan berusaha berkomunikasi dengan penguasa gunung Lawu.



Suasana hening, hanya ada suara si juru kunci yang merapal mantra. Angin bertiup kencang, menggoyangkan dahan pohon cukup keras, mendung tiba - tiba datang seolah menandakan ada "sesuatu" yang hadir di antara mereka.Pada ritual itu si juru kunci tiba tiba saja menari, sepertinya kesurupan. Suasana makin seram saat hujan turun deras membasahi seluruh desa itu.

Anak - anak kecil menangis bersahut - sahutan. Mereka takut oleh "sesuatu" yang tidak terlihat oleh mata orang dewasa biasa. Hal itu membuat warga semakin panik, saling menanyakan pada anak - anaknya yang menangis : "Ada apa? kenapa kamu menangis? apa yang kamu lihat?". Namun tangisan mereka semakin menjadi - jadi.

Setelah sang juru kunci menari, dia bersimpuh di bawah dengan tangan yang mencakar tanah persis seperti harimau yang mengaum. Bahasanya tidak jelas tapi paranormal bisa memahami apa maksudnya. Acara yang terlihat menyeramkan ini pun buyar saat juru kunci terbujur kaku karena pingsan sesaat. Kemudian paranormal memercikan air dari kendi, lalu dia bangun tersadarkan diri. Masyarakat setempat hanya boleh melihat dari jauh, dari balik jendela rumahnya.

Dalam keadaan basah kuyup, Sang paranormal masuk ke salah satu rumah warga dengan menggendong si juru kunci untuk membersihkan diri dan mengeringkan bajunya. Dia langsung memberikan pengumuman pada warga untuk tidak terlambat memberikan sesajen di setiap tanggal yang telah disepakati sebelumnya agar bangsa mereka tidak mengamuk dan membuat kekacauan di desa. Jika tidak, bukan hanya ternak yang akan dimangsa tapi manusianya juga.

Quote:


Cuaca berubah seketika menjadi terang, anak - anak berhenti menangis. Sinar matahari begitu terik menyinari desa Duwet hingga tanah yang basah oleh air hujan perlahan mengering dan memancarkan bau khas yang sudah sangat lama tidak muncul, yaitu bau amis. Banyak warga yang mual mencium aroma tanah yang aneh itu.

Tetua desa segera dipanggil untuk membicarakan hal penting yang rahasia. Mereka berbincang dengan raut wajah yang serius sekali. Wajah salah satu dari mereka tampak panik. Tak tau apa penyebabnya. Salah satu orang mengaku melihat macan besar mendekatinya. Tapi yang lain tidak ikut menyaksikan penampakannya, sehingga mitos mengenai adanya siluman macan di lereng Lawu memang benar. Si juru kunci juga melihat sosok pemimpin siluman macan itu. Gagah dan menyeramkan, sekali waktu sosok itu mampu menjelma menjadi manusia. Mereka mampu berkomunikasi, entah dengan cara apa.

Keesokan harinya, diadakan rapat warga untuk membahas masalah sesajen. Tiap tanggal 1 Suro para warga diharuskan melaksanakan persembahan berupa makanan dan hasil panen mereka yang dihanyutkan ke telaga. Tradisi ini masih dipegang hingga kini. Suasana mistis saat upacara persembahan tersebut tidak lagi dirasakan karena telah menjadi kebudayaan dan pertunjukan wisata di sekitar telaga setiap setahun sekali.

Kejadian hilangnya ternak itu kini tidak pernah terulang kembali. Karena setiap orang telah mematuhi apa yang disampaikan oleh si paranormal tersebut.
Diubah oleh Mata.Elang084


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di