CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cinta Suci Larasati (Part 1)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e70fcc84601cf34fb21d90e/cinta-suci-larasati-part-1

Cinta Suci Larasati (Part 1)

"Tumben kamu ke sini, Mel, ada apa ?" tanyaku saat melihat Amel yang muncul tiba-tiba di depan mejaku. Bukannya menjawab pertanyaanku Amel malah langsung menodongku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kak Laras kenapa nggak jawab telpon dari Mak Tuo? , Kak Laras mau jadi anak durhaka ? Atau Kak Laras sudah tidak sayang lagi sama Mak Tuo dan Pak Tuo di kampung ?"
"Tunggu ...tunggu....kamu kenapa sih Mel ? ngomong kok nggak ada remnya" tanyaku sambil menenangkan Amel,
"tarik nafas dulu...lepaskan...nah sekarang coba ceritakan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu harus menyusul kakak ke sekolah" lanjutku sambil tersenyum pada Amel.
Amel adalah sepupuku. Anak dari adik Mak yang paling bontot, Tek Marni. Amel masih kuliah, sekarang ia sedang melakukan praktek mengajar atau PL di kota yang sama denganku. Selama melaksanakan PL Amel tinggal bersamaku.
"Pak Tuo kak...." jawab Amel dengan air mata yang mulai menetes.
"Kenapa dengan Abak Mel ?" tanyaku dengan perasaan cemas.
"Tadi Mak Tuo menelpon kakak berkali-kali, tapi tidak ada jawaban"
Dari tadi pagi aku memang tidak memperhatikan gawaiku. Sengaja ku silentkan dan kusimpan dalam lemari agar aku bisa fokus mengajar. Kuraih gawai bercover bunga mawar merah tersebut dari lemari. Kulihat ada banyak panggilan masuk dari Mak.
"Akhirnya Mak Tuo menelponku. Setelah menerima telpon dari Mak Tuo aku langsung kesini. Pak Tuo masuk rumah sakit lagi Kak" jelas Amel dengan sedikit terisak.
Seketika lutut ini lemes. Terbayang wajah Abak yang sedang terbaring di rumah sakit. Mak pasti sangat panik. Rumah sakit menjadi tempat langganan Abak beberapa bulan belakangan ini. Sejak dokter menvonis ada penyumbantan di jantung beliau.
"Kita langsung pulang ke kampung hari ini kak, Amel sudah memesan travel"
Aku tak bisa berkata-kata. Air mata sudah tak terbendung lagi. Deras mengalir di pipiku yang chubby.
"Kakak izin ke kepala sekolah dulu ya Mel". Aku langsung menuju ke ruang kepala sekolah.
"Motornya dititip di rumah penjaga sekolah saja, Bu Laras" kata kepala sekolahku.
"Iya Pak, terima kasih. Saya izin dulu ya Pak" jawabku sambil kembali ke ruang guru dimana Amel menungguku.
Saat aku masuk ruangan, Amel langsung menyongsongku. "Kita langsung berangkat kak, travelnya sudah di depan sekolah"
"Baiklah, kakak rapikan dulu mejanya Kamu duluan saja ke depan, nanti kakak menyusul".
Kurang lebih tiga jam perjalanan menuju kampungku. Aku dan Amel tidak pulang ke rumah, tapi langsung menuju rumah sakit dimana Abak sedang dirawat.
"Maafkan Laras ya Mak, tadi Laras sedang mengajar jadi nggak tau kalau Mak menelpon" kataku sambil memeluk Mak.
"Iya, nggak papa nak. Sana temui dulu Abak, dari tadi nanyain kamu terus. Air matanya dihapus dulu" jawab Mak sambil menghapus air mata yang mengalir dari pipiku. Amel tidak ikut masuk denganku, ia menemani Mak diluar.
Aku langsung masuk ke ruangan dimana cinta pertamaku sedang terbaring lemah. Disamping Abak ada kakak laki-laki ku satu-satunya Uda Nanda. Aku langsung memeluk Abak. Kulihat senyuman terukir dibibirnya yang pucat.
"Laras, kamu sudah sampai nak"
"Abak , maafin Laras ya baru bisa datang sekarang"
"Tadi Laras nggak dengar telpon dari Mak karena sedang mengajar"
"Untung Amel datang ke sekolah Laras" ceritaku sambil terisak.
"Sudah, jangan nangis Abak nggak apa-apa" jelas Abak sambil membelai kepalaku dengan lembut.
"Kata dokter Abak hanya kecapek an dan perlu istirahat" lanjutnya sambil tetap tersenyum.
"Laras, kamu jagain Abak dulu ya, uda mau jemput Hafiz , Uminya nggak bisa jemput sedang ada rapat dosen di kampusnya"
"Iya uda, biar Laras yang jaga Abak" jawabku sambil mencium tangannya.
"Nanda pamit ya bak, Abak jangan banyak pikiran lagi, si bungsu Abak kan sudah di sini" kata Uda Nanda sambil menyalami tangan Abak.
Abak hanya tersenyum dan mengangguk sambil membelai kepalaku.
Sebagai anak bungsu, aku memang paling dekat dengan Abak. Bukan berarti dengan Mak tidak dekat. Abak adalah cinta pertamaku, sedangkan Mak malaikat tak bersayapku.
Tiga hari lamanya Abak dirawat di rumah sakit. Selama itu juga aku menemaninya. Aku tidak mau jauh-jauh dari Abak. Kami saling bergantian menjaganya. Aku, Uda Nanda dan kakak perempuanku Uni Resti.
Alhamdulillah pada hari ke tiga Abak sudah diperbolehkan pulang, tapi belum boleh bekerja yang berat-berat dulu. Aku sudah mengajukan surat cuti alasan penting karena merawat orangtua kepada kepala sekolah. Alhamdulillah Beliau menyetujuinya. Itu artinya waktuku merawat Abak bisa lebih lama lagi.
Malam ini Abak ingin kami semua berkumpul di ruang keluarga. Uda Nanda bersama istri dan anaknya sudah di rumah sejak sore tadi. Begitu juga dengan uni Resti.
"Uni, kenapa Abak mengumpulkan kita semua ?" tanyaku pada Uni Resti saat kami membereskan sisa makan malam.
"Uni juga nggak tau, sepertinya ada berita penting yang ingin disampaikan Abak pada kita. Sebaiknya kita cepat membereskan meja makan ini, biar nggak kelamaan " jawab Uni Resti.
Aku hanya mengangguk kecil sambil terus berfikir, berita apa yang akan disampaikan Abak.
Setelah semuanya beres dan piring -piring kotor bekas makan malam tadi sudah kembali tersusun rapi di raknya, aku dan Uni Resti kembali ke ruang depan. Disana sudah menunggu Abak, Mak dan Uda Nanda. Sementara anak Uda Nanda dan Uni Resti sedang bermain di teras rumah ditemani Uni Jihan, istri Uda Nanda.
"Laras, ada hal penting yang ingin Abak tanyakan " Abak mulai membuka pembicaraan, "sini, duduk di samping Abak".
Aku terkejut saat namaku disebut abak. Hal penting apa yang akan ditanyakan Abak padaku ? Aku langsung duduk di samping beliau.
"Beberapa bulan ini Jantung Abak sering kambuh" Abak kembali membuka percakapan.
"Abak takut kalau Abak tidak bisa bersama-sama kalian lagi"
"Aaahhh....Abak nggak boleh ngomong gitu, Insya Allah kita akan selalu bersama-sama" jawabku sambil menyandarkan kepalaku ke bahu Abak.
Abak mengusap kepalaku dengan lembut.
"Apakah kamu sudah mempunyai calon menantu untuk Abakmu ini, nak ?"
Deg... jantung ini terasa copot saat Abak bertanya tentang hal yang selama ini kutakutkan.
Aku hanya bisa diam membisu. Dengan masih menunduk kugelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Abak.
"Mau sampai kapan kamu sendiri nak, usiamu sudah tidak muda lagi, Abak dan Mak sudah semakin tua dan sakit-sakitan"
"Abak ingin menuntaskan tanggung jawab sebagai orang tua sebelum menghadap Rabb ku"
Suara Abak bergetar, ku lihat tangan tua itu menyeka bening yang mulai menetes di sudut netranya.
"Maafkan Laras sudah membuat Abak dan Mak sedih"
"Laras serahkan semuanya kepada Abak dan Mak, siapapun calon yang Abak pilihkan akan Laras terima" jawabku.
Sebetulnya sudah banyak laki-laki yang dikenalkan Abak dan Mak padaku. Namun belum ada yang cocok dengan pilihanku.
"Maaf Abak, Mak Nanda boleh usul ?"
"Silahkan nak" jawab Mak
"Kalau Abak dan Mak setuju, Nanda punya seorang teman yang sedang mencari pendamping. Bagaimana kalau kita coba pertemukan dengan Laras ?" lanjut Uda Nanda.
"Boleh....boleh ....abak setuju, kapan bisa abak bertemu dengannya ?" jawab Abak dengan semangat.
Terpancar kegembiraan diwajah yang telah dipenuhi keriput tersebut.
"Kamu setuju kan Laras?" tanya Abak.
Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah..." terucap syukur dari mulut Abak, Mak, Uda Nanda dan Uni Resti.

bersambung....







GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di