CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerpen Bukan Gadis Jepang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e70f132dbf7641c236a8c7b/cerpen-bukan-gadis-jepang

Cerpen Bukan Gadis Jepang

     Cerpen Bukan Gadis Jepang
Kaskus.co.id

"Sal, Faisal!" panggil Agus diikuti ketukkan pintu kamar. Sudah datang dia, kami janji akan ke Festival Jak-Japan Matsuri di Plaza Tenggara, GBK.


"Ya. Buka aja!" Badan masih terasa remuk, tapi sudah terlanjur janjian dan mumpung waktu kosong jalan-jalan cuci mata biar fresh.

"Lu, baru bangun??" Suara kesal dan matanya melotot ke arahku yang berusaha duduk dari pembaringan. Jam menunjukkan setengah 4 sore, aku tertidur 3 jam.

"Capek, Gus. Lu tau kan pasien rujukkan datang dari mana-mana ... gak ada waktu tidur malam." Aku melangkah gontai meraih handuk.

"Gue juga capek kali, Sal. Kerjaan numpuk, baru selesai tadi siang. Tapi semangat pengen ngeliat Cewek Jepang bikin capek Gue ilang!" Agus nyerocos sambil memeluk toples kacang Mete di meja, meraup segenggam memenuhi mulut, membuatku menganga.

"Apalagi makanannya, umm ... gak sabar, Sal," Ia melihatku, "Cepetan mandii!" Pelototnya melihatku masih berdiri di depan kamar mandi, kutatap sendu pada toples bening, isinya cuma separuh. Dasar rakus, perut karet. Selalu makan banyak tapi gak bengkak juga.

"Awas, ya, jangan dihabisin!" pesanku sebelum menghilang ke kamar mandi, disambut tawa ngakaknya. Si cungkring itu kalau lupa dipesanin suka kalap. Setoples kacang bisa ludes dalam waktu gak sampai lima belas menit. Gak takut sama jerawat yang mulai berkelana di muka jeleknya, eh, lumayan cakep sih, sebelas duabelasnya Raffi Ahmad.

Kaos lengan panjang abu dan celana jeans biru malam, tak lupa semprot Bvlgari Pour Homme ke belakang telinga. Hmm, aku selalu terlihat tampan dari sisi manapun, meski mata sedikit sembab karena kurang tidur, gak pengaruh. Jenggot dan kumis tipis masih bersih bekas cukur kemarin.

"Sudah. Lama amat dandan. Lu, satu-satunya Dokter Muda aneh yang gue kenal," sindir Agus yang tak sabar menunggu di pintu.

"Aneh, gimana?"

"Maunya tampil rapih, keren, tapi jomblo sejati." Ia cekikikkan. Sial! Banyak tau yang nempel, tapi kutolak.

"Lu, aja yang gak tau gimana Perawat dan Dokter Muda di Rumah Sakit ngecengin Gue."

"Ge-err!"

"Terserah, gak percaya!"

"Percaya, muka Lu, Hamish Daud, kawe."

Ku jitak kepala dari belakang. Agus ini sahabat sudah kayak saudara. Aku lebih akur sama dia di banding Bang Hanif.

Setelah pamitan sama Ayah dan Ibu yang lagi santai di ruang tengah. Kami siap lets go. Tadi habis mandi sempatin sembahyang Ashar dulu, apapun kondisi, ibadah tetap utama. Siapa yang tau terjadi sesuatu di jalan, ya kan?

Kami memilih Zona Experience, tempat mencoba kebudayaan Negeri Sakura itu. Sebelumnya kami mengisi perut di tempat booth makanan yang berjejer sepanjang jalan. Khas Jepang ada, Indonesia ada, tinggal pilih. Kami bisa puas mengisi perut. Takoyaki, Onigiri, Tempura, semua dicoba.

Agus mengelus perut yang masih rata, tampak masih kurang penuh. Kami pindah ke Abang Kerak Telur. Lama juga gak makan khas Betawi ini, mumpung ada kami pesan satu-satu. Emm, nikmat! Selain akur, kami berdua ini sangat kompak masalah lidah, apa saja enak (orang kaya tulen mah makan gak harus mahal) Ha..haa ....

Setelah kenyang mulut Agus tanpa henti komentar cantiknya gadis-gadis bermata kecil yang banyak berseliweran. Ia lelaki cerewet, tapi jujur. Apa yang di mulut sinkron sama hati. Aku lebih memilih diam, mendengarkan sambil menikmati pohon Sakura dengan beberapa lampion menggantung pada rantingnya. Kalau datang malam kayaknya lebih bagus.

Terakhir melihat langsung Sakura April tiga tahun lalu, saat musim semi di Tokyo. Bunga Sakura itu terlihat menakjubkan!

Kami mendekat sebuah Stand yang mengajari menulis Kaligrafi dengan kuas dan tinta, cukup banyak yang mau coba, kami hanya berhenti melihat.

"Faisal?!" ucap seorang gadis sudah berada tepat di samping. Aku menoleh. Tampak wajah putih bersemu merah di pipi, bola mata coklat, bibir tipis merah jambu tersenyum lebar, ia sedikit mendongak ke arahku.

"Eh, Ay-Ayumi?" Aku sempat blank, baru bersuara saat Agus menyenggol lenganku.

"Dari tadi aku lihat kamu, Sal. Kami ikuti, ternyata beneran kamu," ucapnya ceria. Ya, gadis setinggi bahuku ini masih selalu ceria. Rambut panjang lurus dan poni tajam menghias dahinya sama seperti dulu. Cantik.

"K-kamu ada di sini, Ay?" ucapku masih tergagap. Kelihatan banget lagi grogi. Agus sudah mencolek lagi minta dikenalin.

Kami berempat mengambil sisi jalan, di bawah pohon Sakura ngobrol sebentar. Ayumi datang bersama teman Jepangnya, Keisuke. Lelaki tampan, badannya setinggi aku 175cm, wajahnya mirip aktor Park Bo Gum dalam serial Encounter. Aku merasa menciut.

Tak sampai lima menit Ayumi dan temannya pamit. kusempatkan minta nomor ponselnya. Yess! Ku pandangi setiap angka yang Ayumi berikan.

"Gile, cakep bener si Jepang. Wajahnya gak ada duanya, Sal. Imut, gimana gitu."  Agus langsung komentar banyak. Ya, ku bilang juga apa. Ayumi gak ada duanya, dihatiku. Ah, berasa kumat degup jantung bertalu lagi.

"Lu, kenal dimana? Bahasa Indonesianya lancar banget. Tapi Lu minta kan nomor si Jepang tadi? Kayaknya gue love at first sight, deh."

Ucapan Agus hampir membuatku menyembur tawa.

"Apaan, sih, Lu! Semua cewek cakep mau diembat."

"Yang ini beda, Sal. Lu tau kan Gue akhir-akhir ini ngebet banget pengen punya bini dari Negeri Sakura. Sampai mimpi-mimpi, Sal!" Semangat Agus menggebu. Umur 26 tahun, CEO Percetakkan, ingin cepat menikah tapi nyari made in Jepang. Wuihh, sampai kapan, dapatnya?

"Apaan Lu, lagian Ayumi bukan orang Jepang, tau. Asli Indonesia. Tulen!" Entah sedikit emosi atau apa aku mulai gak suka Agus tertarik padanya.

"Indonesia? Ohh.. turunan ya, Sal?"

"Bukan. Dayak. Dayak asli!"

"Hah?! Kok Lu tau, emang tadi tanya dia asli mana, gitu?"

"Ya, iyalah tau. Tau banget. Dia itu mantan gue. Namanya Karenina Ayu, kami panggil dia Ayumi karena wajahnya itu," ucapku sembari meninggalkan Agus yang memasang wajah ambigu. Beralih ke booth berikutnya, mengenakan Yukata.

Terdengar Agus mengejar dan memanggil di belakangku. Pasti ia gak percaya ada gadis Kalimantan yang punya wajah secantik gadis Jepang.
Cerpen Bukan Gadis Jepang
worpress.com.jpg

Kalau tahu ia pasti nyari bini yang buatan lokal, gak jauh-jauh dari Negeri Sakura he ... Tapi, yang satu itu untukku. Akan kuraih lagi wajah menggemaskan itu di sini. Ku tempelkan ponsel di dada, nomor Ayumi ....

Bukan Gadis Jepang Part 2
Bukan Gadis Jepang Part 3 (end)

Makasiih sudah Bacaa emoticon-Big Kiss
Diubah oleh lin680
Mampir, mampir ....
Cerpen ini ada part 2-nyaemoticon-Ngacir
Cantiikemoticon-Wowcantik
Cerpen Bukan Gadis JepangBukan Gadis Jepang
Blogspot.com

Part 2


Pukul 16.20. Aku masih berkutat dengan laporan follow-up pasien inap dan rawat jalan, setelah menyerahkan ke Dokter pekerjaanku selesai untuk hari ini.

Kewajiban dan tugas semasa co-as kulakukan semaksimal mungkin, semua ilmu yang didapat dari kampus kukerahkan, sambil terus perdalam ilmu di lapangan, menghadapi pasien memerlukan tenaga dan ketulusan ekstra.


 Jika lancar bulan depan masa co-as selesai, diwisuda lagi, baru berhak dapat gelar Dokter.

Janji bertemu Ayumi nanti malam membuatku serasa mendapat suntikan suplemen penambah stamin dosis tinggi. Semua pasien hari ini berhasil kusenyumi lebar. Bagus juga efek gadis berpipi merah itu bisa menularkan bahagia untuk orang sekitarku.

Padahal harapan bisa balik dengannya masih fifty-fifty.

Kucek ponsel yang sengaja silent di dalam laci, kebiasaanku biar tak terganggu saat kerja. Miscall 9 kali dan chat 15 masuk. Dua panggilan Ibu, panggilan lain Agus.

Semua chat dari Agus! Belum kubuka ia sudah telpon lagi.
"Ya--"

"Sal! Tega Lu gak angkat-angkat telpon Gue. Chat gak dibuka, bukannya Lu online?!"

"Iya, sorry, baru lihat. Ini lagi tugas."

"Tau tugas, Lu meski masih Dokter Muda, gak sibuk-sibuk amat kan?! Sekali-kali kek nengok hapenya, siapa tau ada yang penting hubungin. Masa waktu lima menit aja gak punya?!" Suara protesnya tanpa titik koma. Kujauhkan ponsel dari telinga.

"Fix. Oke, lain kali aku cek lima menit sekali. Ada apa?"

"Dari tadi kek, tanya. Gue sakit perut, nih. Obatnya apa?"

"Hahaha ... kebanyakan sambal, tuh."

"Sial, Lu ngetawain penderitaan sahabat sendiri! Cepat bilangin apa obat patennya coba, Gue lemes nih!"

"Ah, Lu bawaannya marah mulu, tambah habis tenaga. Obat diare apa aja yang ada di rumah Lu. Cepetan diminum."

Aku semakin gak bisa menahan tawa, sebelum terputus suara sepi di seberang menggemakan suara air. Hehehe ... si Cungkring pasti mulas lagi.

Kuaktifkan nada ponsel, kalau-kalau Ayumi menghubungi. Tugas sudah selesai kuluruskan pinggang dan kaki. Ingin cepat-cepat sampai rumah.

Suara bening Nisa Sabyan mengalun.

"Gimana?"

"Gimana apanya? Obat yang di rumah ini gak mempan, Sal! Beneran Gue lemas."

"Banyakin minum air putih. Minum oralit."

"Oralit gak punya."

"Gampang, bikin sendiri. Satu gelas air dimasukkan setengah sendok teh garam sama dua sendok the gula, aduk, diminum. Jangan sampai dehidrasi, ingat banyakin minum!"

"Ya, Gue akan ikutin saran, Lu."

"Eh, Gus, lupa Gue. Coba Lu keluar ambil daun jambu biji di halaman, tuh. Lu kunyah pucuknya aja, kasih garam dikit. Coba, ya. Nanti kalau terpaksa, Lu dirawat di sini."

Bipp!

Telepon kembali terputus. Paling ia langsung ngacir. Dasar Agus!

Kugeleng kepala. Tau rasa dia, sebelum berangkat tadi pagi, Agus video call sedang makan mie instan ala ramen bikinan sendiri dengan sambal 5 sendok beserta taburan potongan cabe, katanya mencoba kepedasan level 9. Sampai nahan napas lihat kuah merahnya. Salah sendiri, sudah diingatkan masih nekad.

***

Setelah mandi badan kujatuhkan ke kasur ternyaman sedunia ini. Tenang, aku tahu sore bukan waktu yang baik untuk tidur. Menikmati langit-langit biru kamar membuatku bisa segera memulihkan tenaga setelah seharian olah raga mengitari lorong rumah sakit.

Kuraih ponsel. Mencari Chat Ayumi untuk kupandangi.

[Ketemu di 'Ramen Ya', Sal. Aku di sana pukul tujuh.]

Janji bertemu di sebuah Café ala Jepang di SenCi_Senayan City_uh, gadis itu gak jauh-jauh dari hal berbau Jepun. Aku pernah lihat tempat itu tapi gak mampir. Semakin deg-deg'an menunggu dua jam lagi bertemu dengannya.

Kembali teringat pertemuan dua tahun lalu, awal pertemuan dengan si pipi merah ini.

Kami sekeluarga baru sehari menginap di Hotel sekitaran Malioboro.

Siang itu Ibu minta diantarkan berbelanja pakaian batik. Memilih dan menawar barang satu macam saja ibu memakan waktu hampir setengah jam, kepalaku berdenyut dibuatnya. Kuputuskan berjalan-jalan dulu, Ibu akan nelpon setelah selesai.

Tidak jauh dari Toko ada penjual Es Cendol Bandung. Kebetulan tenggorokkan lumayan haus. Sebuah bangku plastik kosong kududuki sambil menunggu pesanan.

Tanpa sengaja mataku menangkap gadis memakai baju rajut pink setengah membungkuk menenggak segelas Cendol secepat kilat. Kemudian satu gelas lagi ia pesan, kali ini diseruput pelan. Oalah, itu perut apa balon?

Tak lama wajahnya terangkat, pandangan pertama jatuh padaku yang masih menganga ke arahnya. Gadis itu berwajah bening, rona kemerahan di pipinya. Ia mengangguk kecil, melempar senyum, mata kecilnya terlihat seperti bulan sabit muda. Dadaku langsung bergemuruh senyum polos tepat menembus jantungku. Gelas besar di tangan terasa ikut bergetar.

"Kehausan, ya?" Kuberanikan bertanya. Ia malah melempar senyum lebar.

"Iya," jawabnya sambil mengangguk, menggoyangkan poni tajam menyentuh alisnya.

"Abis darimana?"

"Jalan aja, Pak, eh, Kak." Hampir menyembur Cendol dari mulutku. Apa wajah ini terlihat tua hingga ia panggil pak. Aku baru ingat kalau jenggot dan kumis tipis terlupa dicukur. Ia lagi-lagi tersenyum melihat reaksiku.

"Sendiri?"

"Iya." Gelas keduanya juga cepat bersih. Sepeninggalnya rasa Es Cendolku berubah tawar. Kutinggalkan saja gelas yang masih terisi separuh, daya tariknya seperti magnet yang seakan membuatku menyesal kalau tak mengejarnya.

Perkenalan kami berlanjut hingga bertukar nomor ponsel. Yang lain protes saatku memilih mencari rumah Ayumi dibanding ikut jalan ke tempat wisata. Dibilang gak asik aku bergeming. Hati ini susah mendapatkan orang yang terasa langsung 'klik' seperti dia. Di depannya aku bisa bersikap apa adanya.

Ayumi penggemar kebudayaan Jepang, di Jogja ia ikut komunitas, nama Ayumi populer sebab wajahnya sudah menyerupai gadis Jepang meski tanpa dandan. Fotonya di wall mereka memakai Kimono dengan rambut digelung. Wuuih! Persis yang pernah aku lihat berseliweran sewaktu di Tokyo.

Liburan rencana tiga hari kutambah jadi seminggu. Keluarga lain pulang lebih dulu. Untunglah mereka memahami kalau aku harus menyelesaikan misi. Misi menyelamatkan jantung tercinta yang semakin tak karuan. Bersiap menembak Ayumi sebelum balik ke Jakarta.

Malam itu aku ajak ia dinner di Secret Garden Coffee and Chocolate daerah Wirobrajan. Duduk berhadapan membuatku terasa mati kutu, butir keringat mulai menetes di dahi. Tak membuang waktu lama untuk pemanasan aku mulai bicara serius.

"Ayumi ... aku mau bilang sesuatu ...." Sudah persiapkan mental masih aja blank, aku jadi lupa kata apa yang harus diucap.

Ia menunggu kelanjutannya sambil menyeruput Chocolate Secret Originalnya. "Ya, Sal? Ngomong aja."

"Ayumi ... mau gak jadi pacarku?" Bersamaan dengan pertanyaanku ia mengangkat kepala, mata beningnya membulat. Aku hanya bisa menelan saliva yang terasa mengering. Ia membuang pandangan ke gelas yang hampir kosong, jari putihnya menata poni yang masih rapi.

Aku tahu ia salah tingkah, sayang pipi merahnya kurang terlihat sebab cahaya temaram.

"Ngg, ... kayanya gak, Sal. Maaf, aku gak bisa ...."

Mendengar jawabannya aku cepat-cepat minum, segelas orange juice bersih malah membuat tenggorokkan semakin kering. Ayolah, Ayumi, aku lelaki yang sulit jatuh cinta, teganya kau buat jantung dan hatiku hancurkan begini, teriakkan hati ini ingin kupekikkan di gendang telinganya. Wajahku terasa memanas. Genggaman pada gelas kueratkan.

"Maaf ya, Sal. Aku gak bisa ... gak bisa nolak kamu," ucapnya kemudian sambil tersenyum nakal.

Butuh sedikit waktu untukku mencerna kata-katanya hingga aku segera mengusap wajahku yang semakin terasa memanas. Kali ini tawanya keluar lepas, memamerkan gingsul yang membuatku mengacak rambutnya, gemas.

Meski pertemuan dan kebersamaan kami singkat, aku tahu kami saling suka. Kenyamanan saat bersama seolah kami sudah akrab sejak lama. Hingga kesibukkan masing-masing mencari ilmu di bangku perkuliahan membuat kami menjarak.

Ia sangat lucu dan usil, aku suka dengan sifatnya yang terlihat apa adanya. Hingga sekarang aku belum dapat pengganti. Ya, bisa dibilang sangat susah move-on dari Ayumi.

Cerpen Bukan Gadis Jepang
Pinterest

Wallpaper profile-nya, gadis berkimono biru muda membelakangi lensa, rambut hitam bergelung. Hmm, ... ia masih seperti dulu.
Selepas Isya aku bersiap. Kemeja katun stretch maroon dengan celana Jeans hitam, terasa nyaman dan casual.

"Sal!" suara kecang dari arah pintu membuatku meloncat.

"Astaghfirrullah, Agus!"

"Hahahaha, Lu pasti lagi melamun, sampe segitu kaget."

"Gak bisa ya, ketuk dulu!" ucapku kesal.

"Kaya gak tau gue aja. Sal, pucuk jambunya ampuh, ya. Mules Gue langsung sembuh. Lu, nanti mending lanjut ambil Dokter Spesialis Herbal aja, biar tau bahan-bahan alami penyembuh penyakit, Sal. Rasanya yang alami lebih cepat nyembuhin dibandingin obat, tuh, kaya gue tadi." Agus biasa dengan banyak omongnya.
"Yah, Lu."

"Ini serius, Sal. Biar semua sadar lingkungan banyak manfaatnya buat kesehatan." Agus bicara sambil ikutan ngaca. Tiba-tiba matanya terhenti melihat tampilanku.

"Eh, Lu mau kemana, Sal? Keren amat."

"Biasanya juga keren, kaya baru liat aja," aku ngeles, bahaya kalau si Cungring ikut.

"Gue curiga Lu mau kencan," matanya menyipit ke arahku.

"Gue lagi mau jalan, biasa aja kali, Gus." Kuraih kunci mobil yang tergantung. "Sorry, Gus, Gue tinggal dulu. Lu habiskan aja tuh Mete di stoples, asal jangan dimakan sama tempatnya aja, bahaya," lanjutku tergelak meninggalkannya di kamar.

Kacang Mete, kesukaanku baru beli kamarin, masih setoples penuh. Cukuplah buat mendiamkan Agus, daripada dia ikut, bisa gagal rencana.

Bersambung ke part 3 emoticon-Ngacir


emoticon-rose

Cerpen Bukan Gadis Jepang
Blogspot.com
Diubah oleh lin680
Lihat 1 balasan
Mampiir yuk! emoticon-Keep Posting Gan
Mau lanjut ke part 3 End emoticon-Wowcantik
Bukan Gadis Jepang Part 3 (end)

Cerpen Bukan Gadis Jepang
kawaibeautyjapan.com

Masuk area Café yang terletak di area Food Court itu disambut nuansa warna coklat dan merah. Tempat sederhana tapi nyaman. Lagu Kokoro no Tomo mengalun indah menambah suasana seakan berpindah ke Negeri Sakura.

"Konbanwa ..." Gadis bersweater merah mengangguk kecil sambil tersenyum semringah menghampiri. Tangannya memegang nampan kayu.

"Ayumi?"

"Kesini, Sal." Ia mengajakku duduk di area dalam, sebuah tempat lesehan dengan meja dan rolling pembatas berbahan kayu dan bambu.

"Enak, ya tempatnya, aku belum pernah masuk sini."

"Yup, makanannya juga enak-enak, kamu wajib coba. Nih, banyak varian ramen yang bisa kamu pilih. Penutupnya ada 'Kakigori' berbagai topping. Ada Matcha, juga green tea." Ayumi menunjukkan berbagai menu, sebagian aku asing melihat nama yang tertera, tambah lagi harum strawberry dari rambutnya membuyarkan pikiran. Wangi ini masih sama.

"Sal, kok bengong? Apa aku yang pilihkan, ya?"

"Boleh-boleh," ucapku cepat.

"Hehe, tunggu bentar, ya." Tubuh mungil Ayumi menghilang cepat dari balik pembatas. Kemudian muncul lagi memamerkan senyum terindahnya di mataku.

"Ayumi kerja di sini?" tanyaku setelah kami duduk berhadapan. Ia mengangguk cepat.

"Aku dan teman yang ngelola, kerja nyambi ngerjakan tugas, Sal. Mama temanku yang punya."

Ayumi cerita kalau ia tengah menyelesaikan program Magister Manajemennya. Sebagai pengelola yang sesekali terjun membantu, ia bisa membagi waktu sambil kerjakan tugas yang setumpuk.

Menurutnya ia suka di sini, teori di bangku kuliah, bisa dipraktekkan langsung sebelum ia punya bisnis sendiri suatu hari nanti.

Cafenya cukup ramai dibantu tiga Pramusaji berseragam merah hitam tampak sibuk. Di buku menu tertulis 'No Pork No Lark' menu yang tersedia berlabel Halal.

Seorang Pramusaji mengantar dua mangkok ramen berkuah merah masih mengebul.

"Tenang aja ini gak terlalu pedas, Sal." ucapnya melihat reaksiku memandang merahnya kuah ramen.

"Ingat aja kalau aku gak begitu suka pedas?" godaku memancing.

Ia tersenyum dikulum. "Iya lah, masa lupa." Yup! Itu jawaban yang kutunggu.

"Aku juga gak bisa lupa."

"Gak bisa lupa, apa?"

"Gak bisa lupa kit--"

"Sal! Akhirnya ketemu juga." Agus tiba-tiba muncul, langsung duduk cengengesan di sampingku.

"Eh, hai Ayumi. Masih ingat gak aku Agus." Benar-benar si Cungring muncul di saat gak tepat.

Ia kemudian menyibukkan Ayumi berbagai pertanyaan dan pesanan makanannya yang aneka macam. Malam ini gagal total. Yang ramai malah suara ketawa Agus dan Ayumi yang terlihat langsung nyambung, Agus pasti tambah kege-eran sama Ayumi.

"Curang, Lu. Sal. Nomor Ayumi Lu bilang kehapus. Kok bisa janjian sama dia? Ah, Lu boongin Gue." Aku sengaja melangkah cepat ke parkiran, Agus ribut mengejar di belakang.

"Emang kehapus, Gus."

"Kehapus gimane, Lu bisa janjian sama dia? Sini minta kontaknya! Suportif dong, Sal. Pertandingan gak boleh curang." Ngomongnya semakin ngaco. Aku buka pintu mobil.

Sebelum masuk aku berbalik ke arahnya. "Nama Ayumi akan kuhapus dari hatimu, Gus. Dengar itu, udah Lu cari yang lain aja." Badanku melesat di belakang kemudi, membiarkan Agus terkaku ambigu.

"Curang Lu, Sal!"

"Biarin, cepat sana mobil Lu nanti di derek, tuh!" ucapku tergelak menunjuk mobilnya yang parkir seenaknya di bahu jalan.

***

Cerpen Bukan Gadis Jepang
blogspot.com

"Selamat, ya Pak Dokter, udah lulus registrasi, nih."

"Alhamdulillah. Makasih, Ay."

Kami bersisian duduk di bangku Taman Kota Tua. Berapakali janji bertemu yang sulit tercapai gara-gara kesibukkan, belum lagi Agus selalu nimbrung, entah dari mana Cungkring itu bisa tiba-tiba aja muncul. Salut juga sama usahanya mencuri perhatian Ayumi.

Gak lama kami ngobrol ponsel Ayumi berbunyi.

"Hai, moshi moshi ...," (halo)

Tampaknya yang nelpon Keisuke, mereka yang kelola café Ramen Ya. Hubungan mereka sangat akrab. Aku sampai bimbang dengan perasaan Ayumi, ia tampak selalu disayangi banyak orang. Temannya banyak, gak kaya aku yang cuma bisa klop sama Agus.

"Hai, arigataou, Kei-kun." (ya, terima kasih, Kei.) Lihat, senyumnya merekah selalu.

"Keisuke?"

"Iya, aku boleh datang terlambat. Kei, akan lama stay di Café."

"Hubungan kalian sangat dekat, ya?"

"Ya akrab, seperti teman biasa." Ayumi menyimpan ponsel ke minibag-nya.

"Apa aku juga teman biasa?" tanyaku membuat Ayumi mengangkat kepala, tertegun menatapku. Kemudian ia tersenyum kecil sambil melempar pandangan ke arah lain tanpa menjawab. Reaksinya membuatku semakin penasaran.

"Ayumi mau ajari aku Bahasa Jepang?"

"Boleh, kapan?"

"Sekarang."

"Sekarang??"

"Iya, aku punya kata, kamu terjemahkan ke Bahasa Jepang, ya?"

"Oke." Ia nyengir lucu.

Sekarang kami berhadapan. Ia menunggu pertanyaanku.

"Aku ... mencintaimu ...?" Ayumi terlihat terkejut. Ia menatapku lekat, menggigit bibir kemudian tersenyum canggung sebelum menjawab.

"Aishiteru ...," ucapnya pelan.

"Aku ... sangat ... mencintaimu ...?" Sambil berkata aku membuat gerakan, memegang dada, dua telunjuk dan jempol membentuk hati, lalu menunjuknya.

Terlihat Ayumi menarik napas sejenak.

"Hontou ni aishiteru ...." Sekarang suaranya sedikit bergetar seakan hendak menangis.

"Aishiteru, Ayumi-chan. Hontou ni aishiteru ...," ucapku mengalir lancar. 

Mata beningnya berkaca-kaca. Kali ini aku berhasil membuatnya terdiam tanpa kata. Perpisahan kami hanya karena alasan LDR waktu itu, hatiku mengatakan semua masih tersimpan rapi di hatinya.

"Ayumi ... sekarang aku gak cari pacar. Maukah kau menikah denganku?"

Air mata Ayumi mulai jatuh, dengan cepat ia hapus. Kemudian Ayumi mengangguk dengan pipi semakin memerah.

Aku menarik napas lega. Sejenak kami berpandangan, kemudian tertawa bersama. 


Akhirnya, masa internsifku setahun ke depan Insya Allah kujalani bersama istri tercinta ....


(Gus, semoga kamu segera mendapat yang terbaik, maaf ya ... peace!)


End.

Udah ending di part 3 emoticon-Wowcantik


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di