CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Rel Kereta Api Angker
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e709a47c0cad753eb1552db/rel-kereta-api-angker

Rel Kereta Api Angker

Rel Kereta Api Angker



Cerita Horor, Cerita Misteri, Cerita Urban Legend, Cerita Rakyat, Cerita Setan


Rel Kereta Api Angker

Sumber:di sini



Rel Kereta Api Angker

Sumber: dokpri





Ting tong ting tong ....


Suara penutup perlintasan rel kereta api berbunyi dan aku terjebak di sini. Langit terlihat kuning keemasan, kulirik sekilas jam menunjukan pukul 17.00 WIB di pergelangan tangan. Namun, kereta belum lewat. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya kereta api lewat juga. Pintu perlintasan terbuka dan kami berhamburan melewati jalan dengan dua arah yang berlawanan.


Motor maticku melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota yang tidak terlalu ramai. Sesekali aku bersenandung untuk mengusir suasana yang semakin sepi. Kotaku kecil, tidak semegah kota tetangga. Namun, suasana desa dan masyarakat masih sangat sahaja.



Akhirnya, aku sampai di rumah. Rumah joglo terlihat berumur dengan halaman yang lumayan luas. Lampu neon berwarna kuning remang-remang menerangi.


"Assalamualaikum," ucapku pada ketukan ketiga.


Rumah nampak sepi, kemana orang rumah? Aku mencopot headset dan mematikan lagu di hp. Aku memutuskan untuk berjalan ke samping rumah dan lewat pintu belakang. Namun, rumahku tampak berbeda. Damn!
Aku tidak suka suasana dan keadaan seperti ini. Bahkan aku sangat membencinya. Namun, aku bingung, kenapa banyak orang ingin memiliki dan merasakan keistimewaan seperti milikku? Sedangkan aku lebih memilih normal.


Quote:





Dulu, ketika keadaan berubah seperti ini, aku akan panik dan menjerit ketakutan. Namun, sekarang aku mampu mengendalikan dan melawan rasa takut, karena manusia lebih mulia dari mereka. Kembali kunyalakan lagu dan memasang headset di telinga. Aku tahu ada yang melihat dan mencoba untuk berkomunikasi. Angin terasa lebih dingin, udara pengap, dan bulu kudukku meremang.


Aku pasrah! Mungkin saat melewati rel kereta api tadi, ada yang menumpang di jok belakang. Siluet bayangan yang awalnya berupa asap putih, lama kian lama berubah menjadi sosok nyata. Seorang perempuan cantik, berkulit putih pucat, tingginya mirip denganku, dan mengenakan baju jaman dulu.


Aku menghela napas dalam, selalu terjebak dalam situasi seperti ini. Beruntung telingaku masih mendengarkan lagu, sehingga membuatnya kesal dan memutuskan menghilang.


Fyuh, selamat! Keadaan rumah kembali normal dan aku berjalan ke depan.


"Assalamualaikum," ucapku sekali lagi, berharap ada yang membukakan pintu.


"Waalaikumsalam, Nduk. Baru pulang?" kata Ibu.

"Inggih, Bu," jawabku setelah mencium tangan.


Kami pun masuk dan aku berpamitan pada ibu untuk langsung ke kamar. Lelah, kutaruh tas di atas meja dan membaringkan tubuh di tempat tidur. Mataku terasa berat, hampir saja terpejam, andaikan tidak mendengar suara ketukan pintu.


"Mandi dulu, Nduk. Bersihkan badan, biar segar dan bersih," kata Ibu dari luar kamar.


"Nggih, Bu."


Setelah itu, aku tidak mendengar lagi suara Ibu. Aku bergegas ke kamar mandi dan sholat magrib. Setelah semua selesai, aku kembali ke kamar. Kuambil tas untuk melihat pekerjaan yang belum selesai.


"Nduk," panggil Ibu yang mengagetkanku. Aku menoleh dan tersenyum.


"Kerjanya nanti lagi, makan dulu. Ayah, Ibu, sama Reza udah nungguin. Wes to, tutup dulu laptopnya," ujar Ibu mengusap lembut punggungku dan aku mengangguk.


Kami pergi ke meja makan bersama, kulihat ayah dan Reza sudah duluan makan.


"Sini, makan dulu, Nduk," ucap Ayah. Aku mengangguk, duduk, dan makan.



Biasanya setelah acara makan malam, kami berkumpul di ruang tengah. Seperti sekarang, Reza dan ayah menonton acara di tv, sedangkan ibu dan aku hanya menemani saja.



"Nduk, tadi siapa yang pulang bareng kamu?" tanya Ayah tiba-tiba.


Kami selalu hapal apa yang akan terjadi selanjutnya. Di keluarga hanya aku dan ayah yang memiliki keistimewaan.


"Nggak tahu, Yah. Moza nggak ngerasa ngundang dan bawa mereka," jawabku, lalu menghela napas dalam.


Jujur saja, aku sudah lelah. Namun, ayah dan ibu selalu menasihati untuk bersyukur. Mungkin Allah memberi kelebihan untuk membantu sesama.


"Ya sudah, lain kali jangan sembrono. Jangan melamun. Kamu kan lewat perlintasan rel kereta api, mereka banyak, Nduk."


Aku terkejut dan melemah. Aku ingat, tadi memang sedikit melamun karena bosan menunggu kereta api yang lewat.


"Makasih ya, Yah, Bu." Aku mendekat dan memeluk Ibu, nyaman. Ayah hanya tersenyum.


"Aku nggak dipeluk juga, Mba?" tanya Reza.


"Males!" Kujulurkan lidah untuk menggodanya dan Reza tertawa.



Malam semakin larut, mataku mengantuk dan memutuskan untuk pamit tidur. Besok pekerjaanku padat dan berharap malam ini akan tidur nyenyak. Kalau kalian tahu, orang-orang sepertiku tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Mereka datang tanpa mengenal waktu, terkadang tubuh kasarku terlihat tidur, sedangkan sukma berjalan-jalan keluar.



*****




Suara adzan berkumandang, kami sudah bangun dan menuntaskan kewajiban sampai langit terlihat terang.


"Ayah, Bu, Mozza pamit berangkat kerja. Assalamualaikum," ucapku setelah mencium tangan keduanya secara bergantian.


"Waalaikumsalam," sahut keduanya serempak.


Motorku melaju santai sepanjang jalan, untuk sampai ke tempat kerja, aku harus melewati rel kereta api lagi. Jalanan terlihat lengang, tidak banyak aktifitas kecuali mereka yang berangkat kerja dan sekolah.



Blusss....



Tiba-tiba angin menyapa wajahku, padahal tertutup helm. Aneh. Aku mencoba biasa saja dan tetap fokus mengendarai. Setengah jam perjalanan, aku sampai di tempat kerja. Bangunan megah dengan arsitektur jaman belanda, beberapa tempat sedikit direnovasi agar terlihat modern dan tidak seram. Namun, pada kenyataanya dari cerita yang kucuri dengar, banyak karyawan yang mengalami kejadian mistis. Terutama mereka yang mendapat tugas jaga malam atau lembur.


"Hai, Za. Tumben pagi udah sampai. Rajin bener," sapa Mery pemilik wajah ayu khas jawa dengan tinggi proposional.


"Iya, kerjaanku belum selesai. Daripada nanti malam lembur, mending kerjain sekarang. Oh ya, Pak Tarjo udah datang?" tanyaku sesekali mengedarkan pandangan.

"Udah, lagi di belakang. Mau pesen kopi atau teh?" tanyanya seolah mengerti.

"Teh aja, makasih, ya. Kamu the best deh!" kataku sambil mengacungkan dua jempol.

"Heleh! Biasa aja." Mery pun meninggalkanku sendirian.

Ruangan tampak sepi, baru beberapa yang datang termasuk Mery, Sahabatku. Kami tidak menyangka bisa diterima dan bekerja di tempat yang sama.


Aku kembali fokus membaca berkas dan mengerjakan pada laptopku.


"Zaaaa," bisikan yang seolah memanggilku.


Aku berhenti dan menengok, siapa tahu Mery memanggil. Ternyata kosong, aku berbaik sangka, mungkin hanya perasaanku saja.


"Zaaaa," suara bisikannya lebih jelas di telinga, tubuhku meremang dan mulai tidak nyaman. Aku yakin pasti bukan manusia. Kuambil headset dan memutar lagu, setidaknya suara-suara itu akan hilang.



"Za! Woy! Moza!" teriak Mery sambil menggebrak meja.


Astaga! Reflek kujatuhkan bulpen dan memegang dadaku. Napasku memburu dengan detak jantung yang tidak beraturan.


"Mery! Jangan ngagetin gitu dong!" protesku padanya.

"Lagian kerja serius amat, dipanggil 10 kali nggak denger," gerutunya kesal.


"Emang, iya?"

"Auk akh! Bt'!"

Dia melengos meninggalkan mejaku dan duduk di kursinya, dua meja dari tempatku.


Suasana kembali hening dan semakin hening, aku merasakan banyak orang yang berlalu-lalang di samping meja kerjaku. Aku memutuskan berhenti dan melihat apa yang terjadi. Mungkin saja, mereka baru datang.


Damn! Mataku membelalak kaget. Ternyata itu bukan manusia, aku terlempar ke dimensi lain. Tubuhku melemas dan terpaku tidak mampu berbuat apa pun. Lidahku kelu, sekedar untuk bersuara pun sulit. Namun, aku tidak menyerah. Aku berdoa dan terus memohon perlindungan dari Allah. Ayah selalu mengajarkan banyak hal, termasuk ilmu kebatinan.

Quote:

Sumber: di sini


Meenir dan Noni belanda melakukan aktifitas yang seolah masih hidup. Masih pagi saja, diberi suguhan pemandangan seperti ini. Kalian masih mau menjadi sepertiku? Lima belas menit keadaan kembali normal, yaitu dunia nyata. Fyuh, aku bernapas lega.


"Kamu kenapa, Za? Lihat mereka lagi?" katanya memastikan, tapi wajahnya terlihat takut. Lucu.


"Ngak apa-apa."


Kejadian demi kejadian mistis selalu kurasakan. Mungkin ini kutukan! Tidak! Aku tidak boleh mengeluh dan protes lagi.




******






Langit berubah warna menjadi kuning, kami pun pulang.


"Za, bareng. Motorku di bengkel tadi, mampir ke bengkel sebelah rel kereta api, ya," ajaknya padaku.


Sial! Padahal aku selalu menghindari tempat itu. Terpaksa deh menemani Mery ke sana.


"Za, emang beneran mereka ada?" tanya Mery tepat di depan bengkel yang kebetulan sudah tutup, beruntung rumah pemilik di belakang bengkel.


"Sssttt ... diam! Mereka dengar," bisikku padanya. Kenyataannya mereka mulai bermunculan.


Quote:






Jujur, aku mual untuk menggambarkan persis, tapi memang keadaan mereka seperti itu. Tubuh yang hancur, tubuh tanpa kepala, tubuh yang membawa kepalanya dengan darah menetes, sosok hitam tinggi besar, dan masih banyak lagi. Aku tidak sanggup lagi berlama-lama di sini. Kepalaku mulai pusing gesekan energi dengan mereka.


"Ry! Mery! Udah belum?" teriakku padanya.


Mery dan tukang bengkel terlihat berjalan ke depan dan membuka bengkel.

"Kenapa? Teriak-teriak habis lihat setan?" bisiknya padaku dan aku mengangguk.

Kami bergegas meninggalkan rel kereta api. Sial! Jangan sampai ada yang ikut ke rumah lagi. Aku dan Mery berpisah di persimpangan jalan. Harapanku ternyata tidak terkabul, aku merasakan ada seseorang membonceng di jok belakang. Angin berubah menjadi dingin dan motorku melaju lambat, berat.


Beberapa kali aku melirik ke kaca spion, tapi tidak ada apa pun. Namun, di saat aku kembali melihat spion, tiba-tiba ada asap yang berubah semakin lama jelas sosoknya. Aku terkejut, bukankah itu perempuan yang sama? Aku mengatur napas dan berusaha mengendarai motor dengan santai, sambil berdoa semoga Allah melindungi.


"Zaaa," bisiknya semakin membuat bulu kudukku meremang dan terasa ada aliran listrik yang menyengat.


"Kamu mau apa? Jagan ganggu aku!"


"Aku minta tolong," ucapnya mengiba sampai menimbulkan ngilu di hatiku.


"Maaf, aku nggak bisa bantu," tolakku tanpa basa-basi. Aku lelah berurusan dengan dunia mereka.


"Tolong aku," ucapnya lirih.

Aku masih bungkam dan fokus pada jalanan yang ternyata bukan jalan menuju rumahku. Sejak kapan aku tersesat?

"Tolooonnnggg!" teriaknya memecahkan kesunyian.



Seeeetttttt!!


Reflek aku mengerem mendadak, hampir saja jatuh dan dia masih diam. Dasar setan! Aku kesal dan turun dari motor.


"Siapa kamu?"


Wajahnya yang semula seram dengan wajah berlumuran darah, berubah menjadi sosok cantik. Meskipun terlihat pucat dan dingin.


"Aku Nur, tinggal di Desa Maju."


"Lalu?"


Dia pun bercerita banyak hal tentang kisah hidupnya sampai kenapa dia mati. Aku tersentuh dan iba, tapi kutepis. Karena sosok dihadapanku bukan manusia.


"Tolong sampaikan kepada kekasihku untuk merelakanku. Aku tersiksa di duniaku," ucapnya dengan raut wajah sedih. Miris.


"Baik, aku akan menolongmu. Tapi janji jangan mengikutiku lagi!" kucoba untuk melobi, dia mengangguk dan melayang. Hilang.



Fyuh! Akhirnya, bebas juga setelah beberapa hari dia menggangguku. Dulu, dia mati karena tertabrak kereta api ketika pulang dari sawah.


Banyak orang yang tertabrak di sini, selain karena faktor lalai, juga karena rel kereta api yang jauh dari palang pintu dan rumah penduduk. Oleh karena itu, ketika ada kereta api yang lewat, tidak ada peringatan apa pun. Apalagi cerita-cerita sosok penunggu yang seolah-olah membuat mereka tuli dan sibuk mencari sesuatu di sekitaran bantaran rel kereta api.



Besok, aku akan pergi ke rumah kekasihnya Nur, sesuai dengan ancer-ancer yang dia berikan. Padahal jamannya hidup dengan sekarang sudah berubah, semoga saja kekasihnya masih hidup. Kasihan sekali, sudah mati saja masih penasaran. Aku diam berdoa untuknya, semoga kau tenang, Nur.



Sesungguhnya aku malas membantu setan-setan yang urusannya belum selesai. Alasan ini yang membuatku memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan melihat mereka. Namun, mereka selalu tahu caranya untuk mencuri perhatianku. Menyebalkan!




TAMAT




profile-picture
profile-picture
profile-picture
fiaperm dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indahmami
Halaman 1 dari 5
Pertamax
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
Reserved
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
Reserved
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan Richy211 memberi reputasi
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
Diubah oleh indahmami
Pejwan
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Quote:


Jangan takut, gan!
emoticon-Ngakak
profile-picture
iissuwandi memberi reputasi
belom baca yg penting komen
emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Kelebihan yang banyak orang tidak menyadari resikonya, resiko akan bersinggungan dengan dunia mereka. Beruntungnya dia mempunyai teman sepengertian Mery.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:



Cuss..
Langsung baca dong.

Quote:


Bener banget, gan.
Mereka yang punya kelebihan memilih normal, tapi yang normal malah pingin bisa lihat.
Padahal efek'y kalau g' kuat bisa gila diteror oleh mereka.
emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan finalboss memberi reputasi
Jadi ceritanya si moza anak Indihome ya kak ? Hmm
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Quote:


Hu'um..
Seperti itulah..
emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan kicquck memberi reputasi
Quote:


Lanjutin aja kak mami emoticon-Big Grin ini menarik kalau dilanjut
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Quote:


Waduhh..
Nunggu pm dulu lah, sambil memperbaiki.
Banyak typo itu.
emoticon-Ngakak


Apa kubuat cerbung'y di sfth?
Yaelah...
Yg cinta dua dunia aja belum lanjut.
emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan kicquck memberi reputasi
Quote:


Iya kak.. ada beberapa yang masih typo sih

Hmm hooh dibikin cerbung aja... menarik kok ini kak
Eh iya ini ga harus ngangkat horor salah satu daerah kan kak ??
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
"Zaaa ...."

Penulisan ayah dalam dialog pake kapital, kalo dalam narasi pake huruf biasa aja. Jangan dibabat rata kapital semua Ayah - ayah, bedakan ya emoticon-pencet
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Quote:



Wkwkwk..
Asal sikat ajah..
Typo dan aturan yg lain mah, nanti belakangan.
Bisa di edit sambil berjalan.
Penting eksekusi dulu.
Jangan ditiru!
emoticon-Ngakak



G' harus, asal urban legend ajah..
Sama horor da kisah nyata bila perlu.
emoticon-nulisah

Quote:


Oh iya..
Lupa, ntar ajalah..
Nungguin pm sekalian.
Banyak banget kalau soal typo mah.
emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan 2 lainnya memberi reputasi
Quote:

Sambil nunggu pm review sambil editlah, gw yakin cerita inu bakal lolos review dahemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan indahmami memberi reputasi
Quote:


Aku udah punya draft hasil editan, banyak yg ku ubah.
Selain typo dan sekawan'y.
emoticon-Belum Tidur


Aamiiinnn..
emoticon-Bangga Pake Batik
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan phyu.03 memberi reputasi
Quote:


Good luck mihemoticon-Toast
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Halaman 1 dari 5


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di