CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
CERBUNG : "Hotel Slamet"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7027b688b3cb269b157e90/cerbung--quothotel-slametquot

CERBUNG : "Hotel Slamet"

CERBUNG : "Hotel Slamet"



    

Di ruang kamar aku duduk sendiri, bersandar pada tembok yang warna putihnya sudah mulai kekuningan. Ku genggam amplop berwarna cokelat, berisi sejumlah uang. Itu adalah uang sebesar tiga bulan gaji, uang pesangon. Bukan uang pesangon juga sebenarnya, mungkin sejenis uang permintaan maaf dari mantan bosku. Toko kain dan pakaian tempatku bekerja harus mengakhiri kiprahnya dalam dunia perdagangan. Karena hutang yang menumpuk, toko yang cukup besar itu dijual oleh mantan bosku itu. Dan aku kehilangan pekerjaan.

Kini sudah enam minggu aku menganggur, setiap hari aku mencari informasi lowongan pekerjaan. Sebenarnya cukup banyak lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA sepertiku. Tetapi karena jumlah pelamar dari lulusan SMA juga banyak, tentu persaingan mendapat pekerjaan juga tetap berat. Walaupun pekerjaan yang hanya menjadi pelayan toko sekalipun.

Tok...tok...tok, Riifaaat. Aku mendengar suara ketukan pintu dan orang yang memanggilku. Segera aku keluar kamar untuk menemui orang yang mencariku.

“Oalah, kamu, Pur. Masuk sini, Pur,” ucapku.

“Di teras saja, Fat. Aku cuma main saja, kok,” balas Purwanto.

“Baiklah.”

Aku dan  Purwanto duduk di teras rumahku yang sederhana ini. Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Ayahku meninggal ketika aku kelas dua SMA, sedangkan kakak perempuanku satu – satunya sudah menikah dan ikut suaminya yang bekerja di Kalimantan.

“Kamu dari rumah saja, nih?” tanyaku.

Purwanto membakar sebatang rokok yang ada di mulutnya, “Iya, Fat. Aku dari rumah saja. Aku masuk shiftmalam kemarin. Tadi sampai di rumah aku gak bisa tidur, akhirnya aku ke sini saja. Hehehe. Rokok, Fat?”

Aku mengambil mengambil sebatang rokok yang disodorkan Purwanto kepadaku. Mengikuti Purwanto membakar ujungnya, lalu menghisap asapnya. Purwanto merupakan teman satu kelas saat aku masih duduk di bangku SMP. Dia bekerja sebagai satpam di salah satu bank swasta di daerahku.

“Bagaimana pekerjaanmu, Pur? Lancar saja kan?” tanyaku.

“Lancar saja, Fat. Kerja jadi satpam kan tidak mikir macam – macam. Tinggal tugas jaga saja” jawab Purwanto sambil menghembuskan asap rokok ke udara.

“Lagipula dengan badanmu yang kekar seperti ini, mana mungkin perampok datang ke bank tempatmu bekerja. Iya, kan?” Aku mencoba menggoda Purwanto.

“Ah, tidak juga. Kalau perampok bersenjata tentu satpam di manapun juga keteteran. Kenapa? Kamu mau merampok ya, Fat? Awas, ya. Aku bekuk kamu nanti, hahaha,” Purwanto membalas dengan bergurau.

Selama beberapa saat kami diam untuk menikmati rokok masing – masing. Matahari yang masih belum terlalu tinggi, memang waktu yang pas untuk merokok dan minum kopi.

“Mau minum kopi? Aku buatkan,” tawarku.

Purwanto  membenturkan rokok ke pinggiran asbak. Mematahkan batang rokok yang sebagian sudah menjadi abu. “Ah, tidak usah repot - repot. Aku sudah ngopi di rumah sebelum ke sini. Kamu sendirian saja di rumah, Fat?”

“Iya, aku sendirian di rumah. Ibuku masih belanja di pasar.”

Burung kenari yang aku pelihara berkicau dengan lantang dan merdu. Bersahut – sahutan dengan burung kenari lain milik tetangga. Mungkin mereka saling berbincang dengan bahasa mereka sendiri.

“Ngomong – ngomong, kamu ada info lowongan pekerjaan tidak, Pur? Aku sudah sebulan lebih menganggur. Jenuh,” keluhku.

“Karena itu juga aku datang ke rumahmu ini, Rifat. Aku ada info lowongan pekerjaan untuk kamu. Mungkin saja kamu berminat,” jelas Purwanto.

“Lowongan pekerjaan apa itu, Pur?”

“Teman kerjaku semalam cerita, kalau adiknya sempat melamar di sebuah hotel kecil. Tetapi ternyata yang dibutuhkan laki – laki, sedangkan adik temanku itu perempuan. Jadi dia tidak bisa melamar kerja di sana.”

“Hotel apa itu?”

“Hotel Slamet.”

“Hotel Slamet? Di daerah mana itu, Pur?”

“Hotel kecil yang tidak jauh dari alun – alun. Ada di timur jalan lokasinya.”

Mendengar keterangan Purwanto itu, aku mencoba mencermati dalam pikiranku dimana lokasi hotel yang dimaksud oleh temanku tadi. Aku mengangguk – anggukkan kepalaku.  Sepertinya aku tahu lokasi hotel itu.

“Kamu coba saja melamar kerja di hotel itu, Fat. Siapa tahu masih belum diisi oleh orang lain. Tapi aku juga kurang tahu bagian apa yang dibutuhkan di sana,” sambung Purwanto, “tapi....”

“Tapi apa, Pur?”

“Kalau kata adik temanku itu, hotelnya agak bagaimana gitu. Hotel itu termasuk bangunan tua. Jadi terkesan....”

“Terkesan apa? Seram? Atau angker maksudmu?”

“Ya tidak, Fat. Kalau angker mana mungkin ada orang yang mau menginap di sana. Desain bangunan tempo dulu, auranya agak gimana gitu katanya, sih.”

“Ah, itu hanya perasaan orang – orang saja mungkin.”

Purwanto berdiri mendekati sangkar burung kenari milikku. Dia bersiul memancing supaya si burung kembali berkicau. Tetapi usahanya gagal, si burung hanya melompat – lompat, tanpa mengeluarkan kicauan. Tetapi saat Purwanto kembali duduk, si kenari kembali berkicau.

“Ah, burungmu tampaknya tidak ramah denganku, Fat. Lalu, selama ini kamu belum dapat panggilan kerja?” sambungnya.

“Ada, sih. Sebuah toko barang – barang elektronik. Toko besar, tetapi jauh di kota seberang. Ibuku kurang setuju jika aku kerja terlalu jauh. Jadi aku tidak datang saat dipanggil ke sana untuk wawancara,” jawabku.

“Wajar saja kalau ibumu kurang setuju, hanya kamu yang tinggal bersamanya di rumah ini. Kamu coba saja lowongan yang aku beritahu tadi. Siapa tahu rejeki kamu di situ,” ujar Purwanto sambil tersenyum padaku.

Seorang wanita mengendarai sepeda motor bebek masuk ke pekarangan rumahku. Ibuku sudah datang dengan membawa barang belanjaan dari pasar. Aku segera datang menghampirinya untuk membantu menurunkan hasil belanja ibuku yang didominasi oleh sayur – mayur.

“Lho, ada Mas Purwanto, to? Sudah lama?” sapa ibu.

“Belum lama juga kok, Bu,” balas Purwanto.

“Ayo, masuk dulu. Ibu buatkan kopi,” ibu menawarkan.

Mboten usah repot – repot, Bu. Saya mau pamit pulang,” tutur Purwanto sambil menaikkan resleting jaketnya.

“Loh, ibu datang kok malah pulang, to?” sahut ibu sembari melepaskan helm dari kepalanya.

“Iya, Bu. Saya juga pagi tadi pulang kerja, kemarin masuk shift malam. Saya permisi dulu, Bu. Rifat, aku pulang dulu.”

“Baik, Pur. Terima kasih infonya tadi. Langsung pulang ke rumah dan lekas istirahat. Gak usah mampir – mampir lagi.”

Purwanto lantas berbalik badan, melangkahkan kakinya meninggalkan rumahku.

 

 

Bersambung.

 
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
profile-picture
profile-picture
profile-picture
luwaktua dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17
Halaman 1 dari 3

Part 2

Esok harinya, pada hari Selasa aku memberanikan diri untuk melamar pekerjaan yang diberitahukan oleh Purwanto. Dengan memakai kemeja berwarna biru muda dan celana hitam, aku mengendarai sepeda motor bebek peninggalan ayahku menuju pusat kota. Tidak terlalu jauh sebenarnya dari rumahku, sekitar enam kilometer saja jaraknya. Sebenarnya aku ingin menggunakan sepeda kesayanganku. Tetapi kata ibu, supaya lebih cepat aku disuruh naik sepeda motor. Dan aku menurutinya.

Pukul tujuh lebih lima puluh tiga menit, aku sudah sampai di tempat yang aku tuju. Sebuah bangunan berwarna putih yang berada di pusat perkotaan. Bangunan ini sedikit aneh menurutku, karena cukup rendah dibanding bangunan di sebelahnya. Jika berdiri dan berjinjit, tampaknya aku sudah bisa menyentuh genteng terbawah dari bangunan itu. Selain dengan lebar bangunan yang tidak lebih dari lima belas meter, rasanya tidak lazim bila bangunan ini merupakan sebuah hotel. Tetapi di bagian atas pintu masuk tertera dengan jelas tulisan, Hotel Slamet.
Setelah parkir sepeda motor, aku melangkahkan kaki masuk ke hotel itu. Tidak jauh dari pintu masuk ada meja resepsionis dan ada seorang wanita muda seusiaku. Rambutnya hitam lurus sebahu, ada tahi lalat kecil di dagu kirinya. Bagiku dia mempunyai paras yang menarik. Dengan membawa amplop cokelat besar berisi surat lamaran, aku menghampirinya.

“Selamat pagi, Mbak,” sapaku.

“Iya, Mas. Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” balasnya dengan sopan.

“Kata teman saya, di sini ada lowongan pekerjaan untuk laki – laki. Apakah itu benar? Kalau benar saya ingin melamar pekerjaan di sini.”

Wanita muda itu sekilas melihat amplop cokelat yang aku bawa. “Iya, Mas. Benar. Memang di sini sedang membutuhkan karyawan satu orang laki – laki. Silahkan tunggu dulu di situ, saya akan memberi tahu pemilik hotel ini,” jelasnya sambil menunjuk sebuah sofa berwarna merah tua.

“Baik, terima kasih, Mbak,” jawabku. Dan wanita itupun segera berlalu.

Aku menunggu di lobi hotel, tetapi aku lebih suka menyebutnya ruang tunggu karena ruangannya yang tidak besar seperti lobi hotel pada umumnya. Hanya ada sebuah sofa dan sebuah meja kecil, berdekatan dengan meja resepsionis tadi. Sebuah lampu gantung kuno menyala redup, membantu menerangi ruangan yang sumber cahaya masuk hanya dari pintu masuk saja. Ruang ini terasa lembab.
Kesan kekunoan tempat ini begitu terasa. Di sudut ruangan ada sebuah guci keramik yang besar, tingginya hampir sejajar dada orang dewasa. Bentuknya mirip vas bunga dengan motif garis – garis berwarna biru, yang melengkung seperti tumbuhan merambat. Sedangkan pada tembok terpajang sebuah lukisan seorang wanita. Dia berambut pirang berbaju putih dengan rok yang lebar, seperti pakaian nona – nona Belanda jaman dulu. Aku mengamati lebih dalam wajah wanita pada lukisan itu. Bibirnya menampilkan sebuah seyuman yang dipaksakan. Dan..., lukisan itu bergoyang pelan! Aku terperanjak mengetahui hal itu.

“Mas....” Suara yang membuatku kaget, nyaris saja aku melonjak dari tempat duduk. Ternyata resepsionis tadi. Dia berhasil membuat jantungku berdetak lebih kencang.

“Iya...,” jawabku dengan sedikit nafas terengah – engah.

“Aduh, maaf membuat sampean kaget. Mohon ditunggu sebentar, ya. Pak Warman akan segera menemui sampean,” ucap resepsionis itu menenangkan.

Mendengar suaranya yang lembut ditambah senyum manis dari bibirnya yang tipis, jantungku yang berdetak kencang karena kaget langsung kembali normal. “Oh, iya. Baik, Mbak.” Dia kemudian kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.

Aku mencoba melihat ke bagian lain hotel ini. Ada sebuah koridor yang lebar dan sampai lurus ke belakang, aku melihat deretan pintu dan jendela. Tentu itu merupakan bagian kamar yang ada di hotel ini. Bagian depan deretan kamar itu sepertinya ruang tanpa atap. Karena terlihat lebih terang dari ruangan tempatku berada, terlebih lagi ada kolam ikan dan tanaman bunga.

Suara langkah kaki terdengar menuju ke arahku. Seorang pria paruh baya dengan kumis yang cukup tebal tetapi rapi. Rambutnya ikal, sebagian sudah berwarna putih. Tatapan matanya teduh dan bersahabat. “Anda yang mau melamar pekerjaan di sini, Mas?” Pria itu langsung mengulurkan tangan kanannya padaku.

Segera saja aku berdiri dan menjabat tangannya. “Iya, Pak. Saya bermaksud melamar kerja di sini.”

“Oh, baik. Silahkan duduk. Memang saya membutuhkan satu orang laki – laki untuk bekerja di sini. Menggantikan karyawan lain yang mengundurkan diri. Saya Warman, pemilik hotel ini. Nama sampean siapa?”

“Nama saya Rifat. Rifat Sungkono,” jawabku.

Pak Warman menatap wajahku, kemudian melirik amplop cokelat yang ada di tanganku. “Membawa surat lamaran, Mas Rifat?”

“Iya, Pak. Ini.” kuberikan berkas lamaran kerja yang sudah kupersiapkan.

Pak Warman membaca dengan cermat dokumen lamaran kerjaku. Kemudian menjelaskan pekerjaan apa yang nanti harus aku lakukan, besar gaji yang aku terima, juga jadwal kerjanya seperti apa. Semua penjelasan itu dapat aku mengerti dengan baik. Meskipun ada satu hal yang sedikit aneh, tidak boleh satu pun karyawan di hotel ini masuk kamar hotel nomor dua belas. Kamar itu juga tidak digunakan lagi untuk pengunjung. Pak Warman juga tidak menjelaskan alasannya mengapa harus seperti itu. Hal tersebut bersifat mutlak.
“Bagaimana Mas Rifat? Sudah jelas dengan semua yang aku sampaikan tadi?” tanya pak Warman.

“Iya, Pak. Saya sudah jelas semuanya,” balasku.

“Baiklah kalau sudah jelas. Mungkin Mas Rifat perlu waktu untuk berpikir. Saya mau menelepon rekan saya, mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Selama itu silahkan sampean berpikir, menerima pekerjaan ini atau tidak. Setelah saya kembali, sampean sudah harus ada jawabannya.”

Pria paruh baya yang ramah itupun berlalu, memberiku waktu untuk berpikir. Saat dia menjelaskan tadi sebenarnya aku juga sudah gambaran keputusan apa yang akan aku ambil. Jadi sekarang aku tidak perlu repot – repot lagi untuk mengambil keputusan.
“Mas...,” suara lembut perempuan.

“Iya, Mbak,” jawabku cepat.

Hah?! Siapa yang memanggilku tadi? Tak ada orang di dekatku. Perempuan resepsionis kulihat sedang ada di tempatnya sedang melayani tamu. Dari mana suara itu berasal? Suara siapa?

Wuuusshhh..., ada tiupan angin yang lembut kurasakan di telinga kananku. Seketika aku bergidik, lalu menoleh ke arah kanan, lalu ke arah kiri. Tidak ada siapa – siapa di dekatku, resepsionis juga masih sibuk di tempatnya. Bulu romaku mulai berdiri. Degup jantungku juga berpacu lebih cepat. Tidak berselang lama kedua pundakku untuk sesaat terasa kelelahan, seperti telah memanggul dua karung beras. Segera aku bersandar dan menarik nafas lebih dalam.

Kembali suara langkah kaki datang menghampiriku. Pak Warman sudah kembali, padahal waktu masih lima menit saja berlalu. Kali ini dia membawa koper berwarna hitam, rambutnya tampak basah seperti dipoles dengan minyak rambut. Dan kini dia sudah duduk di hadapanku.
“Bagaimana, Mas Rifat?” tanya pak Warman.

“Baik, Pak. Saya menerima pekerjaan ini,” jawabku.

“Ah, bagus. Saya senang mendengarnya,” balasnya dengan senyum sumringah.

“Lalu, kapan saya mulai kerja, Pak?” aku menyahutnya.

“Besok, Mas.” Dia lalu menoleh ke arah meja resepsionis. “Yuli..., ke sini kamu.”

Gadis manis dan murah senyum itu memenuhi panggilan pak Warman. Oh, Yuli ternyata namanya.

“Iya, Pak Warman. Ada yang bisa saya bantu?” ucap Yuli.

“Yuli, ini Mas Rifat. Dia karyawan baru kita. Dan, Mas Rifat, ini Yuli teman kerja satu shift dengan sampean,” ujar pak Warman memperkenalkan kami. “Mas Rifat, besok pagi sampean langsung saja menemui Yuli. Dia akan membantumu memulai pekerjaan. Saya harus pergi karena ada keperluan lain. Yuli, jangan lupa. Besok kamu atur semuanya, ya.”

“Baik, Pak Warman,” balas Yuli.

Pak Warman langsung beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan aku dan Yuli. Untuk beberapa detik ruangan itu seolah menjadi milik kami berdua sebelum ada seorang tamu hotel datang untuk check in.

“Sebentar ya, Mas. Saya urus tamu itu dulu,” tutur Yuli.

“Oh, iya. Silahkan,” jawabku.

Beberapa orang keluar dari lorong masuk tempat deretan kamar hotel. Semuanya berpakaian rapi, seperti akan berangkat kerja. Cukup ramai juga tamu di hotel kecil ini. Yuli sepertinya agak kerepotan dengan beberapa tamu yang datang menghampirinya. Aku sebenarnya ingin membantunya, tetapi aku juga bingung bisa membantunya dalam pekerjaan apa. Terlebih aku juga masih belum mulai bekerja di hotel ini.
Tetapi Yuli seorang yang cekatan dalam bekerja. Semua tamu sudah diurusnya, dan dia datang kembali kepadaku. “Maaf, Mas. Agak lama, ya? Maklum saya hari ini kerja sendiri. Sampean juga baru besok mulai bekerja.”

“Ah, tidak apa – apa. Saya bisa memakluminya, kok. Oh iya, Mbak. Untuk besok apa yang harus saya persiapkan, ya?”

“Besok masuk kerja jam tujuh pagi, Mas. Jangan terlambat. Memakai celana polos warna hitam, ya. Untuk bajunya bebas, karena ganti seragam di sini. Pakai sepatu bebas, asal bukan sepatu olahraga. Kalau bisa yang semi formal, mas. Punya, kan?”

“Oh, begitu. Baik, Mbak Yuli.”

“Kalau Mas Rifat sudah jelas semua, Mas Rifat bisa pulang dulu. Kita bertemu kembali besok.”

“Baik, Mbak Yuli. Saya permisi.”

Aku berjalan keluar dari hotel, ditemani oleh Yuli sampai di meja kerjanya. Aku senang telah mendapat pekerjaan lagi. Terlebih lagi teman kerjaku besok juga seorang wanita yang cantik.


Bersambung.










profile-picture
profile-picture
profile-picture
krisnafebriyant dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17

Part 3

Keesokan harinya aku mengendarai sepeda untuk berangkat kerja. Sudah kupertimbangkan waktu untuk berangkat, sehingga tidak takut terlambat di hari pertama aku kerja. Karena masih pagi, aku beriringan dengan pengendara sepeda lain yang mayoritas adalah anak – anak yang berangkat ke sekolah. Seperti konvoi rasanya. Menambah semangatku untuk bekerja di tempat baru, terlebih rekan kerjaku seorang gadis yang ramah dan cukup mempesona.

Pukul 06:48 pagi aku sudah ada di tempat parkir hotel tempatku bekerja. Setelah menata sepedaku dan sepeda motor milik tamu hotel, aku segera menuju ke ruang resepsionis. Aku lihat mbak Yuli dengan dua orang lain sedang berbincang.

“Selamat pagi.” Aku menyapa mereka.

“Selamat pagi,” balas mereka bertiga bersamaan.

“Wah, Mas Rifat segar sekali, nih. Mas Rifat, kenalkan. Ini mbak Ida dan mas Usman. Mereka juga karyawan di sini, dan masuk shift malam,” ujar mbak Yuli memperkenalkan kami.

“Oh, begitu. Salam kenal Mbak Ida, Mas Usman. Saya Rifat.” Tak lupa aku mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mereka berdua membalasnya dengan ramah.

Mbak Ida tampaknya sudah berstatus menjadi istri, karena aku lihat perutnya sudah agak besar. Namun dia masih muda, mungkin berusia di awal tiga puluhan. Sedangkan mas Usman masih tegolong muda, mungkin lima tahun di atasku. Aku sendiri dua tahun lalu lulus SMA. Mas Usman ini badannya padat berisi, rambutnya keriting dipotong pendek. Mirip potongan rambutnya Mike Tyson.

“Semoga betah kerja di sini, ya, Rifat. Kerja di sini santai kok.” Mbak Ida memberitahuku. “Yuli, di kamar nomor delapan tamunya sudah check out sehabis shubuh tadi. Tetapi sengaja oleh Usman kamarnya belum dirapikan. Sengaja seperti itu biar nanti dirapikan oleh Rifat. Biar buat latihan, dan jangan lupa kamu ajarin Rifat.”

“Baik, Mbak Ida,” balas mbak Yuli.

Kami berempat mengobrol santai, yang sebagian besar obrolannya lebih pada berkenalan denganku. Mereka semua orang yang menyenangkan. Dan hal itu membuatku merasa nyaman. Hingga akhirnya tepat pukul tujuh pagi mbak Ida dan mas Usman pulang. Mbak Yuli memberitahuku untuk memakai baju seragam yang ada di loker ruang ganti, aku menurutinya.

Setelah itu mbak Yuli mengajakku berkeliling hotel kecil ini, karena dia tahu waktu – waktu seperti ini tamu hotel masih belum ada yang membutuhkan kami. Dia memberitahuku semua ruangan dan kamar tamu di hotel, menjelaskan dengan dengan sabar dan detail pekerjaan yang harus aku lakukan selama bekerja. Ada enam belas kamar di hotel ini. Mbak Yuli juga memperkenalkanku dengan bu Murti, dia juga bekerja di hotel Slamet ini. Tetapi dia hanya mengurusi masalah cucian dan dapur saja, serta bekerja bila ada karyawan yang tidak masuk atau sedang libur. Bisa dikatakan dia kerja part time.

“Itu semua pekerjaan yang ada di sini, Mas Rifat. Tidak begitu berat, lebih banyak berjaga saja menurutku. Bagaimana, sudah jelas atau ada yang masih kurang mengerti, Mas?” tutur Mbak Yuli padaku.

“Iya, sudah jelas. Saya sudah paham semuanya, Mbak,” jawabku.

“Ingat, Mas. Jangan masuk ke kamar nomor dua belas. Kamar itu sudah tidak digunakan lagi. Itu juga perintah pak Warman.”

“Iya, Mbak.”

“Baiklah. Kalau begitu, silahkan Mas Rifat mulai bekerja. Kamar nomor delapan tamunya sudah check out. Sampean urus kamarnya supaya siap pakai kembali.”

Aku segera mengerjakan tugas itu. Membawa sapu, tempat sampah, serta sprei baru untuk menata kembali kamar yang telah selesai digunakan oleh tamu hotel. Sungguh bersemangat aku mengerjakannya di hari pertama bekerja. Setelah aku pastikan semuanya beres dan siap pakai, aku pergi meninggalkan kamar itu untuk ke ruang belakang mencuci sprei.

Mendekati jalan tikungan ke ruang cuci ada lima deret kamar yang ukurannya lebih besar dari yang lain. Mulai kamar nomor dua belas hingga enam belas. Hawa di tempat ini terasa sejuk dan lembab. Ditambah ketenangan yang ada, hotel ini terasa mempunyai aura lain.

“Mas Rifat...,” suara perempuan menyapaku sangat dekat dari arah belakang.

“Iya,” ku balikkan badan menjawab panggilan itu. “Hah?!”

Kedua bola mataku terbelalak, tak ada orang! Lantas, siapa yang memanggilku? Apakah Yuni? Tapi dia tak ada di sekitarku? Apakah tamu hotel? Tapi apakah mereka tahu namaku? Sekali lagi kuputar kepalaku ke kanan dan ke kiri, memastikan apkah ada orang yang tadi memanggilku. Hasilnya nihil, hanya aku sendiri di tempat ini.

Kugeser tubuhku ke samping dan bersandar di tembok. Merasakan degub jantung yang berdebar lebih cepat. Hhhuuuufffh.... Ada yang meniupkan angin dingin ke leherku sebelah kiri. Mulutku terbuka tapi aku tak bisa mengeluarkan suara. Kedua kaki sudah mendapat perintah dari otakku untuk melangkah, tetapi tak mampu bergerak, tak sanggup melangkah. Nafasku mulai tak beraturan, aku memejamkan mata untuk menguasai diriku.

Ada sentuhan dingin menempel di pipi kananku. Bukan sentuhan jari, karena lebih lembut. Lalu sentuhan apa ini? Ah, ya, aku tahu. Ini sebuah bibir yang mengecup pipiku. Ada yang menciumku. Sontak aku membuka kedua bola mataku. Hasilnya tetap sama, tak ada orang. Aku benar - benar tak percaya dengan yang aku alami. Tetapi akhirnya belenggu di kakiku lepas, sudah bisa menggerakkan kedua kakiku. Bergegas aku menuju ruang cuci.

*****

Di ruang cuci ternyata ada bu Murti sedang menyetrika sprei, juga sarung bantal dan guling. “Oh, ada Bu Murti ternyata,” ucapku sedikit gugup.
Bu Murti senyum saja melihatku membawa sprei kotor.

“Sampean cuci ya, Mas. Tinggal dimasukkan ke mesin cuci saja, lalu dipencet – pencet tombolnya” perintahnya dengan halus.

“Inggih, Bu.”

“Kenek opo, lho, Mas? Kok kethok’e ndredheg ngono?” (Ada apa, Mas? Kok sepertinya gugup?) tanya bu Murti.

“Mboten, Bu. Maklum, karyawan baru,” jawabku dengan senyum sekalian untuk lebih menenangkan diri.

Sambil menunggu mesin cuci menyelesaikan tugasnya, aku menemani bu Murti menyetrika sambil berbincang – bincang dengannya. Wanita yang sudah mempunyai satu orang cucu ini sangat menyenangkan dan suka bergurau. Sering aku dibuat terpingkal dengan candaannya. Membuatku lupa dengan kejadian aneh yang sempat aku alami. Dia paling lama kerja di hotel ini, sejak pak Warman masih muda katanya.
Tak terasa hari sudah sore, dan jam kerjaku sudah hampir habis. Aku stand by di meja resepsionis bersama mbak Yuli. Tidak banyak tamu yang check in di hari pertamaku bekerja. Tetapi aku mengerjakan semua tugasku dengan baik.

“Bagaimana, Mas Rifat, hari pertama kerja? Menyenangkan atau berat?” tanya mbak Yuli sambil tersenyum.

“Semua menerima saya dengan baik di sini. Tentu menyenangkan, dong,” jawabku yang sebenarnya tidak jujur. “Ehmm, Mbak, aku mau nanya, nih. Ini kan hotel yang tergolong kecil ya, tapi menurutku lumayan ramai juga tamu di hotel ini. Biasanya yang menginap di sini siapa saja, sih?”

“Setahuku, sih, tamu yang menginap di sini biasanya orang – orang sales atau marketing gitu. Karena dari luar kota dan kerjaannya nggak selesai dalam satu hari, ya mereka menginap di hotel ini. Biar hemat juga, kan?”

“Pantas saja banyak tamu yang tadi pakaiannya rapi. Ada mobil box produk rokok juga di parkiran.”

“Selain itu ada pengunjung yang datang berpasangan. Hanya dua atau tiga jam masuk, sudah check out. Kamu pasti paham mereka mau ngapain.”

Aku hanya tersenyum saja mendengar penjelasan mbak Yuni itu.

“Oh, iya. Sampean usia berapa, Mas?” lanjut mbak Yuni.

“Aku dua tahun yang lalu lulus SMA. Kamu hitung sendiri saja usiaku berapa, mbak.”

“Wah ternyata, masih muda aku. Kalau begitu sampean jangan panggil aku mbak, Mas Rifat. Aku baru tahun lalu lulus SMA.”
“Waduh, keenakan dong sampean kemarin aku panggil mbak.”

Kami berdua lantas tertawa bersamaan. Kami cepat akrab dan menjadi partner kerja yang kompak tentunya walau masih sehari bekerja bersama. Tak lama kemudian datang seorang laki – laki dan perempuan dari dalam ruang hotel menghampiri kami. Ternyata mereka adalah mas Anton dan mbak Wati, karyawan hotel ini juga yang masuk kerja shift sore. Setelah berkenalan dengan mereka berdua dan ngobrol beberapa saat, aku pun pulang.


Bersambung








profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17

Part 4

Senin malam, hari di mana aku masuk kerja shift malam pertamaku. Aku belum pernah kerja malam sebelumnya dan berharap aku tidak mudah mengantuk. Walaupun pekerjaanku tidak seberat kerja shift malam di pabrik, tetapi aku tetap ingin bekerja sebaik mungkin. Yuni pasangan kerjaku masih di dapur, membuat segelas kopi yang dipesan oleh tamu hotel dari kamar nomor empat. Untuk sementara aku berjaga di meja resepsionis.

“Masih ada kamar kosong, Mas?” tanya seorang pria yang datang dengan menggandeng tangan wanita memakai rok mini.

“Masih ada, Pak,” jawabku.

“Yang ukuran besar satu kamar.”

“Baik, Pak. Mohon maaf saya minta KTP anda untuk administrasi.”

“Oh, iya. Sebentar,” pria itu lantas menyerahkan KTP dan sejumlah uang biaya sewa kamar.

Aku kemudian mengantarkan tamu itu ke kamar nomor lima belas dan membukakan pintu untuk mereka “Silahkan beristirahat. Kalau membutuhkan kami, silahkan memanggil kami di depan,” ucapku dengan ramah.

Mereka hanya menjawab dengan senyuman dan bergegas masuk ke dalam kamar. Tak bisa kupungkiri, senyum si perempuan itu sangat menawan. Dipoles dengan lipstick warna merah yang menggoda.

Sebelum kembali ke meja resepsionis, aku berkeliling ke deretan kamar hotel. Membersihkan lantai dari jejak alas kaki di sepanjang koridor dengan kain pel, dan mengambil bungkus – bungkus permen yang jatuh.

“Mas...,” suara lembut perempuan yang kudengar.

“Iya, Mbak,” dengan segera aku menjawab. Tetapi, tak ada siapa – siapa. Aku yakin suara tadi bukan dari dalam kamar pengunjung. Aku tak mungkin salah dengar. Kepalaku masih berputar melihat sekeliling, meyakinkan diri bahwa ada orang di dekatku dan memanggil. Tetapi hasilnya nihil! Hanya ada aku tempat ini. Kembali hal yang janggal menimpaku, dan rasa takut mulai menyerang.

Hidungku kemudian mengendus seperti hidung seekor kucing. Ada aroma segar dan wangi yang masuk ke hidungku. Bukan aroma parfum, tetapi mungkin aroma splash cologne yang biasanya dipakai oleh anak – anak cewek SMA. Aku coba lebih peka lagi untuk mengetahui asal dari aroma itu. Perlahan kedua kakiku melangkah serta menajamkan indra penciumanku. Dan sampailah aku di depan kamar dari mana aroma itu berasal. Kamar nomor dua belas.

Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. Dengan tangan bergetar sudah kugenggam handle pintu kamar nomor dua belas, mencoba untuk membukanya. Tetapi terkunci. Kembali aku teringat pesan pak Warman pemilik hotel ini, agar tidak memasuki kamar yang menurutku penuh misteri. Sebenarnya aku merasa takut, tetapi juga penasaran. Akhirnya aku berbalik arah, kembali ke meja resepsionis.

* * *

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.50 dini hari. Aku dan Yuni stand by di ruang lobi sambil menonton televisi. Hampir 30 menit aku tertidur, tetapi aku sudah tidak mengantuk lagi. Yuni tampak sudah terbiasa kerja shift malam, dia masih terjaga.

“Kalau kamu ngantuk, tidur saja, Mas. Nggak apa – apa, kok. Jam segini juga semua tamu sudah tidur. Nggak ada kerjaan. Nanti aku bangunkan kalau sudah shubuh,” kata Yuni.

“Memang nggak masalah aku tidur, Yun? Kan lagi kerja,” tanyaku.

“Ya, nggak apa – apa lah, Mas. Kerja malam pasti merasa ngantuk. Apalagi kamu masih belum terbiasa masuk malam. Asal tidurnya gantian, jangan tidur semua. Sudah biasa, kok. Yang lain kalau masuk shift malam juga seperti itu. Yang penting kerjaan beres,” jelas Yuni.

“Oh, begitu. Aku sudah nggak ngantuk lagi. Kamu saja tidur kalau sudah ngantuk. Yun.”

“Ah, enggak. Ini filmnya bagus, nih. Sayang kalau dilewatkan. Kungfu, seru. Aku biasanya mulai ngantuk mulai jam tiga pagi, sih. Hehehe.”

Yuni masih asyik dengan tontonan di televisi, sedangkan aku merasa gelisah. Bolak – balik aku mengamati keadaan di sekitar mencari penyebab rasa gelisahku itu. Aku hanya berdua dengan Yuni, tetapi di sisi lain aku merasa ada orang lain yang mengawasi kami. Entah dia berada di sebelah mana.

Aku menyeruput secangkir kopi yang ada di depanku. “Yun, sebenarnya ada apa sih dengan kamar nomor dua belas itu? Kenapa tidak dipakai lagi?”

Dia menghembuskan nafasnya dengan kencang, “Aku juga nggak tahu, Mas. Pernah aku coba tanya pada karyawan yang lain, mereka juga tidak tahu. Tapi karena sudah perintah dari pak Warman, ya kita nurut saja. Kenapa, Mas? Ada yang aneh?”

“Iya...,” aku mengambil nafas beberapa kali. “Tadi aku membersihkan lantai, lalu ada orang yang memanggilku. Suara perempuan. Tapi tidak ada seorangpun di sana. Lalu aku mencium aroma wangi yang sumbernya dari kamar nomor dua belas.”

“Ah, masa, Mas? Serius?” Yuni sempat melirik ke arah deretan kamar hotel.

“Iya, serius. Aku sempat mencoba buka pintunya, ternyata dikunci. Sebenarnya aku takut, tapi juga penasaran.”

Yuni mengangkat kedua kaki ke sofa, lalu memeluknya. “Sebenarnya, aku juga penasaran dengan kamar itu, Mas. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.”

Kuambil remote TV, mengecilkan volume. “Maksudmu?”

“Awal – awal aku kerja di sini, aku juga mengalami hal serupa. Ada suara perempuan yang memanggilku, dan kemungkinan berasal dari kamar nomor dua belas itu. Pernah juga aku mencium aroma bunga mawar. Yang terakhir mungkin dua minggu lalu, aku mendengar suara orang menangis.”

“Terus?”

“Ya, aku lari, Mas. Takut.” Yuni mengamati keadaan di sekeliling. Dan semakin erat memeluk kedua kakinya.

“Apa kamar itu selalu tertutup, Yun?”

“Tidak juga. Pak Warman yang memegang kuncinya. Aku pernah melihatnya masuk ke kamar itu selama beberapa menit. Tetapi, Mas....”

“Tetapi apa?”

“Menurutku selain pak Warman, ada orang lain yang mengetahui seluk beluk kamar itu. Yang tahu mengapa kamar itu tidak digunakan lagi dan selalu ditutup.”

“Siapa?”

“Bu Murti.”

“Bu Murti?

“Iya.”

“Karena dia yang paling lama kerja di sini?”

Yuni melepas pelukan dari kedua kakinya, lalu sedikit bergeser mendekat padaku. “Itu alasan pertama. Alasan yang kedua, kamar itu juga selalu dibersihkan beberapa minggu sekali. Dan yang dipercaya oleh pak Warman untuk membersihkannya hanya bu Murti. Biasanya dibersihkan sore hari menjelang maghrib. Aku pernah melihatnya.”

“Misterius sekali kamar itu. Apa kamar itu ada hantunya? Hantu perempuan mungkin?” ucapku lirih.

“Sudah, ah. Jangan ngomoning yang serem – serem. Aku malah jadi ngantuk, aku tidur dulu, deh. Bangunin aku kalau mau shubuh.” Yuni mematikan TV dan menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu memejamkan mata.

Aku beranjak dari tempat duduk untuk menutup pintu kaca depan. Jam segini jarang ada tamu yang masuk. Rasa penasaran membuatku kembali melangkahkan kaki ke kamar nomor dua belas. Melalui ventilasi di atas pintu, aku ingin melihat seperti apa keadaan di dalam kamar itu. Oleh karenanya tak lupa aku membawa kursi plastik.

Tepat di depan kamar nomor dua belas, perlahan kuletakkan kursi plastik itu dan aku sudah berdiri di atasnya. Iya, berhasil! Posisi yang sangat pas untuk mengintip isi di dalam kamar. Kedua mataku sudah sejajar dengan lubang ventilasi di atas pintu. Tetapi..., aku tak bisa melihat apapun di dalam kamar ini. Hanya warna hitam saja, gelap. Ah, tetapi sebentar. Samar – samar aku bisa melihat sebuah tempat tidur yang cukup besar. Dan....

“Mas....”

Dug! Jantungku seperti dipukul dari dalam, kedua bola mata terbuka lebih lebar. Nafas menjadi terengah – engah. Kembali aku mendengar suara seorang perempuan seperti sebelumnya. Apakah itu Yuni? Ah, bukan. Itu bukan suara Yuni.

Aku masih pada posisi berdiri di atas kursi plastik dan kedua tanganku berpegangan pada bagian atas pintu. Untuk sesaat keadaan hening, bahkan aku bisa mendengar suara jantungku yang berdetak sangat kencang. Dan semakin kencang lagi ketika aku merasa ada sentuhan tangan di pinggul kananku. Lututku mulai gemetar. Jangan – jangan, itu suara....

“Mas..., lampu kamar mandi di kamarku mati, Mas. Tolong diganti,” ucap suara perempuan itu.

Aku membalikkan badan dengan perlahan, kulihat seorang perempuan muda dengan wajah menahan kantuk. Lalu dia menarik tangannya dari pinggulku. Seluruh darahku seakan turun jatuh bebas. Ada rasa lega.

“Kamar nomor delapan, Mas. Tolong segera diganti ya lampunya,” imbuhnya.

“Oh, iya. Baik,” jawabku dengan sedikit gugup.

Perempuan itu akhirnya berlalu kembali menuju kamarnya. Ternyata dia adalah tamu di hotel ini. Segera aku ke gudang mengambil lampu cadangan dan melakukan perbaikan sesuai permintaannya.


Bersambung.





profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17

Part 5

“Kamu jadi pergi, to?” tanya ibu sambil mengupas bawang merah.

“Iya, Bu. Kebetulan hari ini saya dan Purwanto sama – sama libur kerja. Mau pergi ngopi sebentar saja, Bu,” jawabku sambil membantu ibu mencuci piring.

“Kalau begitu kamu sekalian belanja sabun cuci dan sabun mandi sekalian, ya. Persediaan di rumah sudah habis. Kemarin ibu lupa belanja.

“Iya, Bu.”

“Oh, iya. Kemarin pas ibu mencuci jaketmu yang biasa kamu pakai ke tempat kerja, bau bunga mawarnya segar sekali. Memang di tempat kerjamu disediakan parfum aroma mawar, ya?”

“Bau mawar?” sesaat aku berhenti mencuci piring. Bingung dengan pertanyaan ibuku, Karena aku tak pernah memakai parfum aroma mawar.
“Oh, iya, Bu. Itu hanya pengharum ruangan di ruang ganti saja, Bu. Bukan parfum,” jawabku sekenanya supaya ibu tak lagi banyak bertanya. Aku sendiri juga tak pernah mendapati jaket yang kupakai berbau mawar.

“Oalah, enak ya, kalau tempat kerjamu wangi seperti itu.” Ibu mulai mengiris bawang merah yang telah dikupasnya. “Yo, wis. Kalau selesai cuci piring kamu lekas pergi sana. Nanti Purwanto nunggu kamu. Kamu tutup saja pintu depan, ibu di dapur soalnya. Memasak.”

Semua piring dan gelas yang bersih namun masih basah, sudah aku tata dengan rapi di rak piring. Pekerjaanku telah selesai. “Bu, sudah selesai. Aku pamit pergi dulu, ya. Nggak lama.”

“Iyo, sing ati – ati, (Iya, yang hati – hati)” pesan ibu.

“Iya, Bu.”

Aku menuju kamar untuk berganti baju sebentar. Setelah menutup pintu depan, kuputar gas sepeda motor melaju meninggalkan rumah.

*****

Warung kopi Waris, itulah nama tempat di mana aku berada. Sebuah warung kopi legendaris yang terkenal dengan kopi hijaunya. Bubuk kopinya sangat halus, pas untuk nyethe.

“Kopi susu siji, Mas, (kopi susu satu, Mas)” kataku pada pelayan warung.

“Gelas opo cangkir? (gelas apa cangkir?)” balasnya.

“Gelas.”

Tak berselang lama satu gelas kopi susu sudah ada di tanganku. Setelah membayar aku pergi ke bagian barat warung kopi yang cukup besar itu. Di sana Purwanto yang sedang nyethe, telah menungguku.

“Sudah lama, Pur?”

“Ah, belum. Rokokku saja juga belum habis sebatang.”

Sebatang rokok sudah ada di bibirku, ujung yang lain sudah menyala mengeluarkan asap. Kuhisap, kukeluarkan asapnya, sebagian aku hisap lagi menggunakan hidung, dan kusemburkan lagi asapnya.

“Tambah apik ae lek mu nyethe. (Tambah bagus saja hasilmu nyethe).”

“Biar rokoknya lebih sedap dipandang, Fat. Hehehe.” Purwanto menyudahi kegiatan nyethe-nya. “Kamu dari rumah saja?”

“Tadi mampir sebentar di toko dekat pasar. Beli sabun titipan ibu. Eh, Pur. Piala dunia sepakbola sudah mulai, nih. Siapa jagoanmu?”

“Kalau aku tetap Brasil, dong. Kemarin Perancis sang juara bertahan, kalah lawan Senegal. Kalau kamu?”

“Kalau aku tetap Italia, dong. Striker-nya bagus - bagus, ada Vieri, Totti, Del Piero, Inzaghi,” ujarku bersemangat.

Selama beberapa menit kami menikmati asap rokok masing – masing, diselingi menyeruput kopi hijau yang khas. Juga mengamati pengunjung lain yang sedang asyik menikmati rokok dan kopinya seperti kami.

“Oh, iya, Fat. Bagaimana dengan pekerjaanmu? Lancar, kan?” Purwanto kembali memulai membuka obrolan.

“Lancar, Pur. Wong pekerjaanku juga mirip sama pekerjaanmu, lebih banyak stand by-nya,” jelasku.

“Ditlateni saja, Fat. Tapi, kamu betah, to?” lanjutnya.

“Betah, dong. Teman kerja di sana enak – enak semua. Tapi....”

“Tapi apa?”

“Ada yang aneh di hotel tempat kerjaku itu.”

“Maksudmu?”

Kusandarkan punggungku ke tembok, kuhisap rokokku yang ukurannya sudah pendek. Hisapan terakhir, karena setelah itu kutekan rokok itu di permukaan asbak. “Di sana ada satu kamar yang tidak digunakan lagi. Pintunya selalu ditutup dan dikunci. Tidak ada yang boleh masuk ke kamar itu untuk selain pemilik hotel.”

“Wah, kenapa seperti itu?”

“Aku tak tahu, sudah aturan pemilik hotel. Kamar itu misterius, seperti punya aura mistis. Sepertinya kamar itu berhantu.”

“Berhantu? Jadi benar hotel itu angker?” Purwanto mencondongkan badannya ke arahku, “Memang kamu pernah melihat penampakan di sana?”

“Kalau penampakan tidak pernah, sih. Tetapi kalau suara – suara aneh, dan juga aroma wangi aku pernah mendapatinya. Merinding rasanya.”

“Hmm, tetapi mungkin saja kamar itu digunakan oleh majikanmu sebagai tempat ritual penglaris. Bisa jadi, kan?”

Selama beberapa kali kedipan mata, ku coba menelaah pendapat Purwanto. “Benar juga katamu. Itu mungkin saja. Karena walaupun hotel Slamet hanya hotel kecil, tetapi setiap hari selalu ada yang menginap di sana. Dan tamu yang menginap juga nyaman – nyaman saja. Seolah tidak ada gangguan makhluk gaib menimpa mereka.”

“Tapi kamu pernah coba melihat isi di dalam kamar itu?”

“Pernah, waktu aku masuk shift malam. Gelap, nyaris aku tak dapat melihat apa yang ada di dalam kamar itu.”

Kami berdua terdiam dan larut dalam pikiran masing – masing. Suatu hal yang sekedar untuk bahan obrolan saja, kini malah menjadi topik yang serius.

“Lalu bagaimana dengan karyawan yang lain? Apa juga pernah mengalami kejadian yang sama denganmu?” kembali Purwanto bertanya.

“Ada, tetapi mereka juga tidak mau berpikiran yang aneh – aneh. Soalnya, ya, gimana ya.... Namanya juga kerja di tempat orang. Selama tidak terlalu menggangu sekali, ya, biarin saja. Daripada kehilangan pekerjaan, Pur.”

Purwanto nampak memahami perkataanku. Dia mengambil rokok yang cethe-nya sudah kering. Dibakarnya salah satu ujung rokok itu. Aroma asapnya berbeda dari rokok biasa. Kami melanjutkan obrolan dengan topik yang berbeda, sebelum akhirnya pulang meninggalkan warung kopi itu.


Bersambung.





profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17

Part 6

Tak terasa sudah lebih dari satu bulan aku bekerja di hotel Slamet. Aku betah bekerja di sana, walaupun beberapa kejadian janggal kualami. Dan menurutku semua berkaitan dengan kamar hotel nomor dua belas. Kamar yang penuh dengan misteri dan aura mistis. Memang gangguannya tidak besar, tetapi akhir – akhir ini lebih sering dari biasanya. Bahkan sempat beberapa tamu hotel juga melihat makhluk astral berupa bayangan perempuan, di depan pintu kamar nomor dua belas.

Hari ini aku masuk shift sore, tetapi rekan kerjaku Yuli tidak masuk karena dia sedang libur. Sehingga aku ditemani oleh bu Murti yang menggantikan Yuli. Dan seperti biasa, saat pergantian shift kami bertukar informasi dengan shift sebelumnya, mbak Ida dan mas Usman. Namun aku dan mas Usman malah membicarakan timnas Brasil yang menjadi kampium piala dunia setelah mengandaskan perlawanan Jerman dua gol tanpa balas.

Saat aku mulai bekerja membersihkan kolam ikan yang berada di koridor, tampak kamar nomor dua belas lampunya menyala. Hal itu terlihat dari lubang ventilasi di atas pintu. Sembari bekerja aku sesekali mengamati apa yang terjadi dengan kamar misterius itu. Tidak lebih dari lima menit kemudian, lampu kamar itu padam dan pintu perlahan terbuka. Pak Warman pemilik hotel ini keluar dari kamar, lalu kembali mengunci pintunya. Dia berjalan melewatiku dengan menunduk. “Sebenarnya apa yang terjadi?” pikirku.

Perhatianku kemudian beralih ketika seorang pemuda keluar dari kamar nomor delapan dan menghampiriku. “Mas, kamar nomor delapan remote TV-nya tidak bisa. Mungkin baterainya habis. Tolong diganti, ya, mas,” katanya.

“Oh, iya. Baik. Tunggu sebentar ya, saya ambil baterai dulu,” jawabku.

Setelah mengambil baterai dari gudang aku menuju kamar nomor delapan. Pemuda tadi sudah menunggu di depan kamar. “Masuk saja, mas. Nggak ada siapa – siapa, kok,” perintahnya.

“Baik,” dan aku langsung masuk ke dalam kamar.

Tak ada orang di kamar ini, tapi aku melihat sebuah tas dan juga sepasang sandal yang menurutku itu milik seorang perempuan, terlihat dari modelnya. Saat aku mengganti baterai remote TV, ada suara gayung terjatuh dari kamar mandi yang pintunya tertutup kemudian diikuti jeritan kecil perempuan. Aku hanya menggeleng – geleng kepala saja. “Ngapain harus sembunyi – sembunyi, mbak. Biasa saja, lah,” gumamku.

“Sudah selesai, Mas. Remote-nya sudah bisa digunakan. Saya permisi dulu,” kataku.

“Oh, ya. Terima kasih,” balas pemuda itu sedikit gugup dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar.

Hari pun sudah mulai petang, aku berjaga di meja resepsionis. Bu Murti yang menggantikan Yuli, sedang setrika di belakang. Kondisi yang mulai gelap, aku menyalakan lampu di semua ruangan hotel. Termasuk lampu hias yang ada di taman dan kolam ikan. Saat aku memastikan lampu taman sudah menyala atau tidak, seorang perempuan berjalan membawa sprei dan satu kantong plastik yang entah itu isinya apa. Aku sangat mengenal siapa perempuan itu, dia adalah bu Murti.

Aku segera bersembunyi di balik tembok dan mengamati apa yang bu Surti lakukan. Ternyata dia masuk ke kamar nomor dua belas. Kembali ku teringat dengan apa yang dikatakan Yuli, bahwa bu Murti biasanya membersihkan kamar itu pada waktu sebelum maghrib seperti ini. Setelah lima belas menit berlalu, bu Murti tampak keluar dari kamar selesai mengerjakan tugasnya. Dan sepertinya bu Murti lupa mengunci kembali pintu kamar yang ditinggalkannya. “Kesempatan,” ucapku lirih.

Kulangkahkan kaki menuju kamar yang membuatku penasaran selama ini. Dan benar saja, pintunya tidak terkunci. Dadaku berdebar saat perlahan tanganku menarik handle pintu. Saat pintu mulai terbuka, ada aroma bunga mawar yang sangat segar masuk ke lubang hidungku. Dalam tiga langkah saja seluruh badanku sudah memasuki kamar. Aku serasa berada di taman bunga mawar, namun aku tak dapat melihat dengan jelas karena ruangan masih gelap.

Tangan kananku meraba dinding, mencari saklar untuk menyalakan lampu. Dug..., dug..., dug..., suara degub jantungku yang bisa kudengar sendiri dan semakin kencang. Beberapa kali juga tenggorokanku bergerak menelan ludah sendiri. Perasaan takut, penasaran, gugup, semua campur aduk. Dan..., byarrr! Lampu kamar menyala.

Untuk sesaat aku memicingkan kedua bola mataku, melakukan adaptasi dari keadaan gelap mejadi terang. Ah, kamar ini.... Kulihat seluruh bagian di kamar ini tanpa beralih dari posisiku berdiri. Kamar ini sebenarnya sama dengan kamar lain yang ukuran besar, yaitu kamar nomor tiga belas hingga nomor enam belas. Tetapi perabot di dalam kamar ini berbeda dari yang lain. Ada lampu tidur kuno di atas meja kecil di samping ranjang. Warna cat tembok berwarna putih gading, tidak seperti warna cat tembok kamar lain yang putih kebiruan. Mungkin karena kamar ini sudah lama tidak dicat ulang.

Ada meja rias dengan kaca besar, warna pliturnya coklat tua mengkilap. Ranjang di kamar ini juga berbeda, terbuat dari besi, bukan dari kayu seperti ranjang di kamar lain. Dan kasurnya bertabur bunga mawar segar nyaris menutupi seluruh permukaan kasur. Ternyata ini sumber wangi kembang itu. Mungkin isi kantong plastik yang dibawa bu Murti tadi adalah bunga mawar ini.

Tak luput dari perhatianku ada sebuah pakaian yang anggun dan terkesan sakral. Sebuah gaun wanita berwarna biru muda mirip pakaian noni – noni Belanda. Gaun itu digantung di tembok di sebelah lemari kayu dan tampak sangat terawat, walaupun di bagian leher gaun itu tampak robek. Seperti pernah ditarik dengan paksa.

Dan satu lagi yang menarik perhatianku. Ada satu foto seukuran kartu pos dalam sebuah bingkai, disandarkan pada lampu tidur. Kudekati foto itu untuk melihat lebih jelas. Tampak seorang gadis berdiri dengan membawa sebuah payung. Senyumnya menambah anggun parasnya. Pakaian yang dikenakan sepertinya aku tahu. Oh, ya. Gaun di tembok itu yang dipakai oleh perempuan di dalam foto ini. Aku larut dalam pikiranku sendiri, siapakah gadis ini?

“Rifaaat...!” suara tegas yang membuatku kaget. Secara refleks badanku berbalik menghadap arah suara itu. Jantungku seolah jatuh diiringi dengan kepala yang menjadi berdenyut. Bu Murti sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan mata yang cukup tajam.
“Rifat. Apa yang kau lakukan di sini?!” kembali bu Murti berkata tegas.
“Aa..., anu, Bu. Maaf, Bu. Sa..., saya...,” ucapku terbata – bata.

*****

Waktu menunjukkan pukul 21:47, aku dan bu Murti duduk berdampingan di ruang tunggu sambil menonton televisi. Jujur aku masih merasa tak enak dan bersalah atas apa yang kulakukan tadi. Aku sudah melanggar peraturan di tempat kerjaku ini.

“Saya menyesal, Bu,” keluhku membuka percakapan.

“Wis, ora opo – opo, (Sudah, tidak apa – apa)” bu Murti menenangkan.

“Apa njenengan (anda) akan lapor ke Pak Warman?”

“Sebentar lagi semua juga akan terbuka, dan akan selesai, Fat.”

“Maksud Bu Murti?”

Bu Murti mengambil remote TV, dengan ibu jarinya dia menekan tombol untuk mengecilkan volume. “Aku tahu, kamu dan lainnya yang bekerja di sini pasti penasaran mengapa kamar nomor dua belas tidak digunakan lagi dan tidak boleh ada yang memasukinya. Ada kisah yang pahit dan tragis dengan kamar itu. Aku akan menceritakannya padamu.”

Kugeser badanku lebih dekat dengan bu Murti. “Aku akan mendengarkan ceritanya.”

Bu Murti menyandarkan punggungnya ke sofa dan mengambil nafas cukup dalam. “Hotel Slamet ini dibangun oleh ayah pak Warman saat pak Warman sendiri masih remaja. Diberi nama hotel Slamet karena sesuai dengan yang membangun hotel ini. Pak Slamet adalah nama dari ayah pak Warman itu sendiri. Selepas SMA pak Warman memutuskan membantu ayahnya mengelola hotel ini. Saudara pak Warman yang lain bekerja di luar kota. Saat masih sekolah SMA, pak Warman menjalin hubungan dengan teman sekelasnya yang bernama Asti. Waktu itu aku baru mulai bekerja di hotel ini.”

“Berarti njenengan juga kenal dengan keluarga pak Warman, ya, bu?”

“Ya, aku cukup mengenal. Tukang bangunan yang membangun hotel ini salah satunya adalah bapakku.”

“Oalah, begitu ternyata.”

“Pak Warman dan Asti saling mencintai satu sama lain dan berencana meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan. Tetapi karena faktor ekonomi, keluarga Asti memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke Lampung. Sehingga Asti dan pak Warman harus berpisah. Tetapi sebelum itu, Asti berjanji akan kembali lagi bertemu pak Warman dan mewujudkan hubungan mereka menjadi suami istri. Pak Warman bersedia menunggunya.”

“Lalu, bagaimana selanjutnya, Bu?”

“Asti dan pak Warman terputus komunikasinya. Setelah empat tahun berlalu, ternyata keluarga Asti sukses menjadi petani transmigran. Akhirnya Asti pulang menemui pak Warman dan menginap di hotel ini, di kamar nomor dua belas itu. Tetapi sayangnya pak Warman sudah menikah dengan istrinya yang sekarang ini beberapa bulan sebelumnnya. Asti marah dan kecewa pada pak Warman yang menikahi wanita lain. Kekecewaannya dilampiaskan dengan menenggak puluhan butir pil terlarang hingga over dosis. Dia meninggal dengan memakai gaun yang disiapkannya untuk menikah dengan pak Warman. Aku yang pertama kali melihat jenazah Asti pada saat itu.”

Pikiranku hanyut mendengar cerita bu Murti. Sebuah kasih asmara yang berakhir tragis. “Jadi itu latar belakang mengapa kamar nomor dua belas tidak digunakan lagi?” tanyaku.

“Iya, karena setelah meninggalnya Asti pak Warman merasa arwah Asti masih berada di hotel ini. Karena pak Warman beberapa kali melihatnya di depan kamar nomor dua belas. Untuk menghormati Asti dan supaya arwahnya tidak mengganggu, maka kamar itu tidak digunakan menerima tamu hotel. Tetap dibersihkan dan diberi bunga mawar merah, bunga kesukaan Asti. Tetapi...,”

“Tetapi apa, Bu?”

“Tetapi, akhir – akhir ini arwah Asti nampaknya mulai mengganggu kehidupan keluarga pak Warman. Cukup sering menampakkan diri di rumah, dan membuat istri dan anak pak Warman yang masih kecil ketakutan. Dan kamu tahu sendiri, beberapa waktu lalu tamu hotel juga melihat penampakan Asti di depan kamar. Rencananya besok pak Warman memanggil orang pintar untuk mengusir arwah Asti dari hotel ini.”

“Memanggil orang pintar?”


Bersambung.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17

Part 7

Keesokan harinya masih masuk shift sore, Yuli sudah kembali bekerja menjadi partner-ku seperti biasanya. Hujan turun gerimis menambah dingin malam ini meskipun masih jam delapan malam. Tidak seperti biasanya juga, sedikit sekali tamu yang berkunjung ke hotel. Pekerjaanku menjadi lebih ringan dari biasanya, dan aku bisa bersantai lebih lama.

“Hari ini santai banget ya kerjaan kita, Mas,” tukas Yuli sambil mengunyah tahu goreng.

“Iya, tumben juga, sih. Lumayan juga jadi santai kerjanya,” jawabku sambil mengambil satu buah tahu goreng di meja. “Kemarin kamu libur ke mana saja? Jalan – jalan?”

“Ah, enggak. Di rumah saja bantu ibu di warung. Kemarin gimana kerja bareng sama bu Murti, Mas?”

“Biasa saja, Yul. Kemarin akhirnya bu Murti cerita panjang lebar.”

“Cerita tentang apa?”

“Tentang kamar nomor dua belas.”

“Ha? Serius?” Yuni menelan makanannya. Lalu mengambil segelas air dan meminumnya. “Seperti apa, Mas?” lanjutnya lirih.
Kuceritakan semua apa yang kemarin kudengar dari bu Murti kepada Yuli. Dia mendengarkan dengan sangat serius seperti anak kecil yang mendengarkan sebuah dongeng.

“Seperti itu ternyata. Tragis sekali,” tutur Yuli dengan nada sedih.

Sepertinya Yuli larut dengan kejadian yang kuceritakan. Dia terdiam, pandangan matanya seperti hampa dan tampak layu. Mungkin dia merasakan apa yang dirasa oleh Asti pada saat itu.

Suara langkah kaki kudengar berjalan ke arah kami. Sorang tamu hotel meminta tamahan bantal padaku. Akupun beranjak dari tempatku untuk memenuhi permintaan tamu bertubuh tambun itu. Selepasnya aku kembali ke tempat resepsionis.

Kulihat Yuli masih duduk terpaku di tempatnya. Sama seperti semula, pandangannya tampak kosong, wajahnya lebih pucat. Wah, Yuli begitu dalam merasakan apa yang dialami Asti.

“Sudahlah, Yul. Jangan dipikir terlalu dalam. Kita ambil hikmahnya dan ambil pelajaran dari kejadian yang aku ceritakan tadi,” ucapku menghiburnya. “Yuk, makan tahu goreng lagi.”

Kembali aku sudah mengunyah satu buah tahu goreng, tetapi Yuli tetap tak bergeming. Tetap diam seperti patung.

“Ayo, Yul. Kita ngemil lagi. Nanti tahunya habis aku makan kamu menyesal, lho. Atau aku suapin? Hehehe,” candaku. Tetapi tetap tak ada respon dari Yuni. “Yul, Yuli. Yul....”

Aku kibas – kibaskan telapak tangan kananku di depan wajah Yuli. Dia tak berkedip. Malah tiba – tiba berdiri dan berjalan pelan menuju arah belakang.

“Yul, Yuli. Hei....” panggilku. Dia tetap tak bergeming dan terus melangkah pelan. Aku mengikutinya.

Dia berjalan menuju ruang kamar – kamar hotel. Di bagian taman Yuli berteriak keras sambil mencabut bunga yang ditanam di sana. Beberapa tamu hotel keluar dari kamar, ingin tahu apa yang sedang terjadi. “Aaarggghhh..., hhuaaaaa.... Dasar kepar*t!” teriaknya.

“Yuni! Apa yang kau lakukan?” Aku segera menghampirinya. Menahan kedua tangannya, berusaha menghentikan apa yang dia lakukan. Tetapi tenaganya sangat kuat. Dia malah mendorongku sehingga aku jatuh tersungkur menjauh darinya.

Kembali dia mencabut tanaman yang ada di taman kecil itu. Termasuk mencabut bunga mawar, sehingga telapak tangan Yuli menjadi terluka karena tergores duri dan mengeluarkan darah. “Aaarrghhh. Dasar penipu. Jahanam. Bangs*t!” teriaknya.

Sorang tamu hotel laki – laki bertubuh tambun mendekati Yuli untuk menenangkannya. Namun sial, dengan kaki kanannya Yuli menendang perutnya. Laki – laki itu terjungkal ke arah belakang sambil menahan sakit di perut.

Dengan nafas yang terengah – engah, Yuli berjalan ke arah kamar nomor dua belas. Dia juga menendang apapun yang ada di dekatnya.

“Asti!,” suara yang lantang dari arah belakangku. Ternyata pak Warman datang bersama bu Murti yang membawa sebuah kendhi, dan seorang laki – laki tua berpakaian serba hitam.

Mendengar panggilan pak Warman, Yuli menghentikan langkahnya dan membalikkan badan. Tak kusangka, wajah Yuli menjadi seram, pucat pasi. Kelopak matanya berwarna hitam. Dan yang menakutkan lagi kedua bola matanya semua berwarna putih!

“Warman. Kau ternyata,” suara yang keluar dari mulut Yuli. Tetapi itu bukan suara Yuli, suara orang lain dan sedikit serak.

“Iya, ini aku, Asti. Tenangkanlah dirimu,” pinta pak Warman.

Yuli hanya diam berdiri, rambutnya berantakan. Sungguh penampilannya sangat menyeramkan. Tetesan darah jatuh ke lantai dari kedua telapak tangannya.

“Asti, sudahlah. Lupakanlah semua yang telah terjadi. Aku mengaku salah. Aku sudah meminta maaf,” tutur pak Warman.

“Maaf? Maaf katamu, Warman? Kau tak merasa betapa hancurnya hatiku saat itu. Dan kau hanya membujukku dengan kata maaf? Kau sungguh keterlaluan.”

“Asti, mungkin sudah garis hidup kita. Kita memang tak berjodoh. Kembalilah ke alammu, dan tenang di sana.”

“Semudah itu kau berkata, Warman? Kau telah menghancurkan hidupku!” geram suara yang keluar dari mulut Yuli.

“Asti, sudah lama kau di sini. Aku menghormati keberadaanmu di sini, tetapi kamu semakin mengganggu kehidupan keluargaku. Kini saatnya kau pergi dan kembali ke alammu. Keluarlah dari raga itu. Kasihan Yuli,” ujar pak Warman.

“Aku tak peduli. Kau harus diberi pelajaran, Warman!“ Tubuh Yuli yang dirasuki arwah Asti itu berteriak dan berlari ke arah pak Warman. “Hhuuaaa..., bangs*t kau Warman.”

Laki – laki tua berpakaian serba hitam yang datang bersama pak Warman bertindak cekatan. Dia maju dua langkah dan memukulkan sebuah selendang kecil bermotif batik ke arah Yuli. Tubuh Yuli langsung terpental ke belakang. Tetapi tubuh Yuli langsung berdiri, perlahan tapi pasti telapak kakinya menjauh dari lantai. Dia melayang.

“Kurang ajar. Dasar laki – laki tak tahu diri. Hhuuaaa....” Tak berselang lama, tubuhnya melesat sangat cepat menabrak dukun tua itu dan terus melaju hingga menubruk pak Warman. Dukun berbaju hitam menahan sakit dari benturan itu, mulutnya mengeluarkan darah segar.

Pak Warman jatuh tersungkur ditindih oleh tubuh Yuli. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Yuli di lehernya. “Asti..., le-pas-kan.... Akhh...” pekiknya kesakitan.

“Arrrgghhh, ikutlah bersamaku, Warman. Ikutlah, hahaha,” suara lantang dari mulut Yuli yang kemudian meneteskan air liur.

Braaak...! Suara sabetan selendang dari sang dukun, mengenai punggung tubuh Yuli.

“Aarrgghh....” Kepala Yuli mendongak ke atas. Bagian punggung yang terkena sabetan selendang tadi mengeluarkan asap. Mendapatkan kesempatan, pak Warman membanting tubuh Yuli yang dikendalikan arwah Asti ke arah samping lalu beranjak menjauh.

Yuli kemudian berdiri, dia mengeram bagai suara seekor harimau yang akan menerkam mangsa. “Mbah tuwek, kowe ora usah melu – melu! (Kakek tua, kamu tidak usah ikut campur)” Yuli kembali terbang rendah untuk menerjang sang dukun.

Tetapi dukun tua itu sudah mengantisipasi dengan menundukkan badan, dan kembali menyebetkan selendang batiknya. Ujung selendangnya melingkar di kaki kanan Yuli. Dengan sekali hentakan akhirnya dia berhasil mendaratkan tubuh Yuli ke lantai. “Bantu aku memegangnya,” perintahnya dengan lantang.

Aku dan pak Warman bergegas berlari untuk memegang kaki dan tangan Yuli. Hentakan kaki dan tangan Yuli yang berontak untuk melepaskan diri sangat kuat. Pak dukun mengikatkan selendangnya di dahi Yuli, yang diikuti keluarnya asap dari sela – sela rambut teman kerjaku itu. Suara teriakan arwah Asti menggelegar. Sangat menyeramkan.

“Murti! Mana kendi yang aku titipkan kepadamu tadi? Bawa kemari, cepat!” bentak pak dukun.

Bu Murti lari tergopoh – gopoh memberikan kendhi yang dibawanya. Setelah menerima kendhi itu, pak dukun membaca mantra Mulutnya komat – kamit untuk beberapa saat. “Kembalilah ke alammu, dan jangan kembali lagi. Hiyaaattt....”

Prraaakkk...! Kendhi itu dipukulkan ke kepala Yuli hingga kendhi itu pecah berkeping - keping. Seketika air yang ada di dalamnya membasahi kepala Yuli. Mulut Yuli langsung berteriak sangat kencang dan panjang. Kedua matanya yang hanya berwarna putih, melotot tajam. Apalagi diselimuti kelopak mata yang hitam. Aku bergidik melihatnya.

Tangan kiri Yuli yang kupegang, secara perlahan menjadi tidak bertenaga. Kepalanya yang basah langsung terkulai lemas, diikuti kelopak mata yang menutup.

“Bagimana, pak dukun?” tanya pak Warman.

“Arwah Asti telah pergi. Kita berhasil. Tetapi tubuh gadis ini menjadi korban, dia kehilangan banyak tenaga. Arwah Asti cukup kuat.”

“Apakah Yuli akan baik – baik saja, pak dukun?” sahutku.

“Tenang, dia akan baik – baik saja. Dia hanya pingsan. Mari kita bawa dia ke tempat yang lebih nyaman,” tutur dukun tua itu.

Kami kemudian membopong Yuli ke kamar terdekat yang sedang kosong. Bu Murti membersihkan kedua telapak tangan Yuli yang luka akibat goresan duri pohon mawar tadi dan mengeringkan kepalanya dengan handuk kecil. Sementara itu pak Warman menemani pak dukun di kamar nomor dua belas untuk membersihkan aura negatif yang masih tersisa di kamar itu.

Hampir satu jam Yuli tak sadarkan diri, akhirnya dia siuman. Sempat dia merintih kesakitan dengan luka yang ada di kedua telapak tangannya, dan juga kebingungan dengan apa yang telah terjadi padanya. Namun Bu Murti behasil membuatnya tenang agar tenaganya kembali pulih terlebih dahulu. Akupun turut senang dia tidak mengalami luka yang serius.

Setelah hari itu, sudah tidak ada gangguan lagi dari arwah Asti di hotel Slamet. Tetapi oleh pak Warman kamar nomor dua belas tetap tidak digunakan sebagai kamar menginap. Pak Warman mengubahnya menjadi ruang untuk menyimpan buku, sebagai ruang baca. Tamu hotel bisa membaca buku di ruangan itu. Hal itu dilakukan untuk mengikis peristiwa kelam yang pernah terjadi di dalamnya.


**** TAMAT *****


profile-picture
profile-picture
profile-picture
donix91 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh galih17
lanjutken gan 😎👍👍👍
Quote:


emoticon-Shakehand2
nyimaak gan
emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan
profile-picture
galih17 memberi reputasi
udeh tamat ya
profile-picture
galih17 memberi reputasi
Keren gannemoticon-Cool
profile-picture
galih17 memberi reputasi
seng tau ko pasar wage bablas nang hotel slamet sopo hayo🤣🤣🤣🤣
Quote:


Silahkan gan.. terima kasih sudah mampir.

emoticon-Shakehand2
Quote:


Sudah tamat sist... cerita yg lain sedang dalam proses.

emoticon-Shakehand2
Quote:


Terima kasih atas apresiasinya gan
emoticon-Shakehand2
Quote:


Sorry gan.. ruteku pasar kliwon, bablas Mak Tin gan .. emoticon-Jempol
Quote:


oke gan...ojo menggok gunung mbolo🤣🤣🤣
Quote:


emoticon-Wakaka
Quote:


akeh kenangan neng kota kuwi...tapi paitt...warkop,,sego pecel,,mantan,;marai kangen ae...😭😭😭😭
Quote:


Memang saiki nang endi?

emoticon-Bingung
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di