CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Virus corona: Mengapa memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi tidak diperiksa?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e701462facb95759f52317d/virus-corona-mengapa-memeriksakan-diri-ke-rumah-sakit-tapi-tidak-diperiksa

Virus corona: Mengapa memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi tidak diperiksa?

Seiring jumlah orang terjangkit virus corona yang terus bertambah di Indonesia, masyarakat mulai berbondong-bondong memeriksakan diri ke rumah sakit.
Namun keluhan yang senada belakangan muncul, bahwa rumah sakit dianggap tidak melakukan deteksi dini yang semestinya.
Kesiapan rumah sakit di berbagai daerah menerima lonjakan pasien yang diduga bergejala kini dipertanyakan, walau pemerintah mendorong masyarakat untuk mengedepankan isolasi diri di tempat tinggal pribadi.
Kekecewaan terhadap layanan rumah sakit dalam hiruk pikuk penyebaran virus corona diutarakan Intan.
Warga Jakarta ini selama dua pekan terakhir intens beraktivitas di sekitar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang akhir pekan lalu dinyatakan positif terjangkit virus corona.
Cemas bakal tertular, Intan berinisiatif untuk memeriksakan kesehatan ke rumah sakit.
Mengaku sempat ditolak beberapa rumah sakit yang tak memiliki alat uji virus corona, ia akhirnya datang ke satu dari delapan rumah sakit rujukan di Jakarta, yaitu RSAL Mintohardjo.
Namun, kata Intan, bukan kepastian kondisi kesehatan yang ia dapatkan. Ia justru disarankan petugas medis di instalasi gawat darurat untuk mengkarantina diri di rumah selama 14 hari.
"Dari awal sampai, saya sudah ditanyai petugas, dicek suhu tubuh dan ditanyai kepentingan saya datang. Itu di depan pos, di depan pagar rumah sakit," kata Intan, Senin (16/03).
"Saya bilang mau cek karena masuk lingkungan menteri. Lalu saya dirujuk ke IGD. Di sana, saya menunggu agak lama karena banyak orang."
"Belum disuruh duduk, saya sudah ditanyai petugas. Saya ceritakan riwayat dan disuruh kantor untuk mengecek kesehatan. Mereka bilang, kalau tidak ada gejala apapun tidak perlu dicek."
Intan berkata, kecemasan terhadap potensi tertular virus corona belum hilang. Namun ia mengaku tak punya pilihan lain, kecuali menuruti saran petugas IGD tersebut.
"Saya berharap, datang ke sana minimal dicek, dipantau suhu, ditanyai seberapa dekat dan intens bertemu orang yang positif Covid-19. Saya pikir harus ada pengecekan atau minimal pendataan orang yang datang ke IGD," kata Intan.
Per 16 Maret, pukul 17.30 WIB, jumlah orang yang positif terjangkit virus corona berjumlah 134. Mereka tersebar di belasan kota, antara lain Jakarta, Depok, Bekasi, Solo, Manado, Yogyakarta, dan Pontianak.
Sebanyak 134 rumah sakit rujukan ditunjuk Kementerian Kesehatan untuk menggelar penanganan khusus pada pasien terdampak virus ini.
Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah di Denpasar, Bali, mengklaim tidak wajib melakukan uji kesehatan secara rinci, dari tes darah, rontgen, hingga tes swab terhadap setiap orang yang datang dan cemas terjangkit virus corona.
Dewa Ketut Krisna adalah juru bicara RSUD Sanglah.
"Pasien pasti akan menjalani triase, ditanya apakah punya riwayat kesehatan tertentu. Nanti keluar keputusan, apakah dia pasien dalam pengawasan atau dalam pamantauan," ujarnya via telepon.
"Tahap triase atau wawancara, pasien ditanyai identitasnya dan riwayatnya. Konsultasi itu sudah termasuk pemeriksaan. Kalau ada indikasi terkena virus baru diperiksa, bukan setiap orang datang diperiksa," kata Dewa.
Lantas bagaimana tata cara penanganan resmi rumah sakit rujukan terhadap masyarakat dalam persoalan virus corona?
Juru bicara pemerintah untuk virus corona, Achmad Yurianto, menyebut kesiapan 24 jam rumah sakit rujukan hanya ditujukan untuk pasien kasus Covid-19 yang datang disertai rujukan dari dokter atau fasilitas kesehatan lain.
"Rumah sakit rujukan tidak pernah menutup pintu dalam 24 jam untuk menerima pasien rujukan. Masalahnya ini bukan pasien rujukan, tapi tiba-tiba datang," kata Yurianto kepada pers di Jakarta, Senin sore (16/03).
"Tentu kami akan beri layanan untuk pasien nonrujukan, tapi terbatas untuk konsultasi. Kalau tidak ada kedaruratan, IGD pasti bertanya. Kalau ada kedaruratan, IGD pasti akan menerima," ujarnya.
Walau begitu, Yurianto berjanji pemerintah akan memikirkan layanan terhadap gelombang masyarakat yang mulai berdatangan ke rumah sakit akibat cemas terjangkit virus corona.
"Kami akan perbaiki ini karena ini sesuatu yang mesti direspons. Tapi kami pelan-pelan dan tidak akan merespons kepanikan masyarakat sebagai sesuatu yang dibenarkan."
"Saya pahami emosional pasien kalau datang harus dilayani, kalau perlu begitu sampai di pintu gerbang," tutur Yurianto.
Mengisolasi diri, menggunakan masker secara tepat, dan menjaga jarak dengan orang lain setidaknya satu meter adalah beberapa hal yang disarankan pemerintah untuk orang yang merasa mulai mengalami gejala virus corona.
"Orang yang pernah kontak dekat dengan yang positif Covid-19 merasa perlu memeriksakan diri. Betul, itu harus dilakukan, tapi tidak dengan cara terburu-buru, ramai-ramai datang ke rumah sakit, padahal tidak ada keluhan atau gejalanya minimal," kata Yurianto.

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51911820
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kodokuper dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
komentar ts apa
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
percuma kerumah sakit untuk skrg yg awal pasti di prioritaskan emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan 54m5u4d183 memberi reputasi
Itu cerita Intan warga Jakarta, kurang lebih sama dengan cerita nya Fachri Muchtar https://mobile.



Sebernernya kita itu siap ngak sih, gagap ngak sih ?
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Diubah oleh 54m5u4d183
Lihat 2 balasan
Mending menganggap diri kena virus, trus mengisolasi diri selama2 minggu. Kalau gejala parah muncul minta rujukan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Lysergide dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Goblok...

Bilang aja pilek sesak napas, ntar juga diperiksa intens.


Ksna tp g da keluhan ya g ada penanganan, org msh segar bugar... Yg diprioritaskan yg memiliki gejala tolol, loe masih sehat ksana ya kagak diapa apain


Ahhj... Elaahhhh... Org kyak gni bisa2ne kerja di kementrian...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrimardi dan 9 lainnya memberi reputasi
Bilang aja prnah ikut dansa valentine
Itu petugas langsung seketika pake jubah pelindung emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
galer2124 dan 2 lainnya memberi reputasi
sudah kebayang situasinya, negara padat penduduk, test kit blon siap, informasi dan intruksi nya gak jelas hrs gimana

di italy ada org mati dirumah, kondisi lockdown, tetangga gak mau nolong krn ketakutan, org yg serumah cuma pasrah krn RS penuh
emoticon-Takut
profile-picture
54m5u4d183 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


yang aneh sama orang indo
bilang gak diperiksa buat ngasih makan media, bukan biar masyarakat ke info. Orang yang diutamain yang pernah ke luar negeri, riwayat perjalanan. Kalau symptom aja emang belum jelas kok corona. Dimana mana seperti itu. Testing kits terbatas, di negara manapun seperti itu. Makanya dunia butuh lebih banyak testing kits
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lonelylontong dan 4 lainnya memberi reputasi
berita terakhir yg gw dengar kan pemerintah baru mampu nyediain 10ribu testing kit
jelas nga bakalan cukup kalau semua warga yg periksa karena khawatir sudah terjangkit
terpaksa harus ada prioritas agar suplai testing kit tidak cepat habis percuma hanya untuk memeriksa suspect negative


harus ditambah testing kit nya, tidak cukup kalau cuma 10ribu.
profile-picture
profile-picture
_Hell_ dan bhethoro.kolo memberi reputasi
Quote:


Sama kayak di tempat saya kemarin,bule mabuk tuak bikin heboh sampai jalan utama ditutup total

emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan irma.kawaii memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bilang aja pernah mukbang sop kampret.. Entar langsung garcep..

Virus corona: Mengapa memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi tidak diperiksa?
profile-picture
falin182 memberi reputasi
Media juga kimak sih negatip mulu beritanyaemoticon-Blue Guy Bata (L)

Kemarin gw ada ke rmh sakit swasta ada screening corona ko di tanya2 gitu keluhan,riwayat perjalanan lagi kalo bilang ada keluhan sesek,batuk,demam pasti di angkut ko ke IGD
profile-picture
profile-picture
lonelylontong dan bhethoro.kolo memberi reputasi
Quote:


Iya bner gan..seluruh dunia emang blm siap hadapi kasus spt ini beruntung cina dan eropa adalah negara maju masyarakat nya lebih beradab dbanding sini. Ane skrg lg bed rest drmh nih, gejala nya flu biasa tp klo masuk ke kantor temen2 pada parno
profile-picture
bhethoro.kolo memberi reputasi
lu punya duit kagak? bpjs? ga dtanggung , ditanggung pemerintah? rumah sakit yang mana dulu? intinya bayar bos! emoticon-Wakaka
Diubah oleh hhendryz
Tolong lah kalian juga realistis lah jangan goblok2 amat.

Amerika belum sanggup universal health coverage takut negaranya bangkrut.
Jerman? 15% gaji untuk ikut semacam bpjsnya

Lah kita? $2 per bulan. Mau naik aja susah bener pake dituntut2 ke MA segala.

Selisih pendapatan sebanyak itu kira2 larinya kemana? Ya salah satunya ke infrastruktur.

Tahu ga kalo rs rs pemerintah terbesar pun, alat medis esensial seperti MRI dllnya itu skema pengadaanya masih Kerja Sama Operasional - intinya itu alat punya yang jual cuma dititipin aja disitu.

Logis ga menurut loe investasi di infrastruktur untuk pandemi, seperti ruang isolasi dll, yang mungkin akan kepake 10 tahun sekali kalo yang penting penting aja masih pas2an?

Jadi sudah pasti infrastruktur medis kita emang ga memadai.
Ya loe ngarep apalagi dari $2.
Itu harga yang harus kita bayar saat kita memutuskan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau bagi seluruh rakyat indonesia. Bukan yang berkualitas

Nah dengan infrastruktur ga memadai. Rsnya cuma beberapa yang ada fasilitas, dokternya kurang alatnya kurang,
Ada orang segar bugar datang minta diperiksa macem2 karena menurut dia dia merasa ada kontak sama penderita,
Menurut loe gimana?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
RyoEdogawa dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Quote:


Yupz, wabah corona ini nyebarnya masif.

Yupz.

Well nice komen dan nice thread.
profile-picture
lickmyballs memberi reputasi
mungkin tidak setamvan babang somad
berkaca dari pengalaman di wuhan saat outbreak covid

utk pasien2 yg gejalanya ringan sebaiknya emang mengkarantina di rumah sendiri
obat2an warung utk meredakan sakit bisa dipake kalo demam minum penurun panas kalo batuk ada obat batuk terus istirahat deh sambil menjaga jarak dgn penghuni rumah laennya
yg bahaya kalo sudah sesak nafas ini yg harus ke rs utk dapet penanganan lanjutan bisa dikasi oksigen ato bahkan di intubasi kalo sudah parah jalan nafasnya terganggu

yg ringan gejalanya kalo ke rs malah bisa bahaya karena ada resiko tertular sama pasien yg positif covid
dalam kondisi tubuh yg menurun & berjejalan mudah sekali virus menyebar
ini fakta kondisi pelayanan medis kita sekarang emoticon-Belo di awal2 saja sudah kewalahan ntah gimana jadinya kalo sudah outbreak?
ya sudah jaga kondisi fisik aja sambil berdoa semoga kita gak terkena toh ini self limiting disease yg bisa sembuh sendiri kan pak menkes emoticon-Big Grin

profile-picture
profile-picture
turbotwin2020 dan coolmaxx memberi reputasi
helloooo ini pikarannya gimana ya?
orang sehat ngapain ke tempat paling menular a.k.a rumkit???
bunuh diri lu ya

plis deh tinggal di rumah
pada tau lockdown kan lu????
profile-picture
profile-picture
turbotwin2020 dan lonelylontong memberi reputasi
kalo semua dipasienkan rumah sakit meledak sesak penuh, ane dulu pas positif tipes temen kost ane kebetulan ada yg dbd ane crita ke dokter (senior) ane bilang temen kos ada yg dbd ane juga kegigit aedes (nyamuk) si dokter cuman diem ga bisa apa apa nunggu gejala muncul karena darah ane pas dicek cuman positif tipes
be smart gan kalahkan rasa takut
emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
lonelylontong memberi reputasi
Diubah oleh inovator.4id
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di