CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Swasta Ogah Inisiatif Social Distancing Imbauan Presiden
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6f892068cc95642957aa45/swasta-ogah-inisiatif-social-distancing-imbauan-presiden

Swasta Ogah Inisiatif Social Distancing Imbauan Presiden

Spoiler for Penumpukan Penumpang:


Spoiler for Video:


Virus corona (COVID-19) telah menjadi pandemik. Berbagai cara tengah dilakukan oleh dunia guna menekan penyebaran virus ini. Salah satu cara dipaparkan melalui video dengan judul ‘Bagaimana Wabah COVID-19 Bisa Berakhir’ yang menyebar di media sosial. Bahkan turut disebarkan oleh Menko Polhukam Mahfud MD.





Video berdurasi 2 menit 19 detik itu menyadur dari laporan The Washington Post tertanggal 14 Maret 2020 oleh Harry Stevens. Lewat artikelnya Harry memaparkan bagaimana bisa kurva penyebaran virus corona terus meningkat secara tajam dan menjelaskan metode agar kurva tersebut menjadi landai. Dengan kata lain ia memaparkan cara untuk memperlambat peneyebaran virus sekaligus memperkecil jumlah penderita.

Ia mengumpamakan penyakit yang menyebar dengan sebutan simulitis. Apabila orang yang terkena simulitis bergerak bebas dalam suatu populasi, maka penyakit akan menyebar dengan cepat dan kurva penyebaran akan meningkat secara drastis. Kurva akan terus meningkat hingga mencapai satu titik jenuh, kemudian akan menurun seiring dengan banyaknya orang yang sembuh dari simulitis. Kondisi ini diberi istilah Free for All.

Penyebaran simulitis tanpa efek samping tentu tidak akan membuat kita khawatir. Tapi bagaimana jika simulitis diganti dengan COVID-19. Peningkatan jumlah penderita corona yang drastis, tentu tidak seriring dengan fasilitas kesehatan. Banyak orang akan terkena corona, namun saking banyaknya, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit tidak dapat menampung atau menanganinya. Pada akhirnya banyak orang akan meninggal dunia.

Lantas bagaimana agar kurva tersebut tidak terlalu curam? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dilakukan pemerintah China dengan contoh kasus Provinsi Hubei (tempat asal mula penyebaran COVID-19). Yakni dengan metode Force Quarantine alias Karantina Paksa alias Lockdown. Force Quarantine melarang seluruh aktivitas publik, kecuali beberapa orang seperti untuk ke Rumah Sakit maupun logistik.

Dalam prakteknya, Force Quarantine adalah suatu hal yang mustahil, dan tidak efektif. Sebab tetap saja akan ada ruang atau kebocoran yang terjadi. Profesor Hukum Kesehatan Global Universitas Georgetown, Lawrence O. Gostin mengatakan Lockdown seperti ini sangat jarang dan tidak efektif. Lagipula Force Quarantine telah melanggar prinsip kebebasan manusia dengan cara yang diktator bukan?

Oleh karena itu, ada cara lain yang dapat dilakukan dan jauh lebih efektif, yakni Social Distancing. Social Distancing adalah mengurangi interaksi sosial dengan orang lain terkecuali untuk hal yang sangat penting. Semakin masyarakat tidak berinteraksi satu dengan yang lain, maka semakin kecil pula peluang penyebaran virus.

Namun bagaimana cara agar Social Distancing dapat dilakukan dengan efektif? Kita tahu, anjuran pemerintah untuk mengurangi berpergian tidaklah cukup. Orang-orang akan tetap saja keluar rumah. Mungkin karena pekerjaan, sekolah, atau berkumpul bersama orang lain di restoran dan tempat publik lainnya. Di sinilah pentingnya menutup tempat-tempat yang biasa didatangi banyak orang.

Akan tetapi, Pemerintah tidak bisa memaksa masyarakat untuk tidak berpergian. Oleh karena itu harus ada kesadaran dari pihak swasta untuk menutup sementara kantor, restoran, atau tempat lainnya yang menjadi lokasi berkumpulnya publik. Italia telah melakukannya dengan menutup restoran-restoran, begitu juga China dan AS.

Kesadaran publik harus diiringi dengan kesadaran swasta menutup ruang publik. Inilah yang dapat diartikan dengan Moderate Social Distancing.

Social Distancing akan lebih ampuh lagi dalam menekan penyebaran virus ketika regulator atau pemerintah turut membatasi fasilitas publik. Kombinasi dari kesadaran publik, swasta, dan regulasi pemerintah dapat kita sebut dengan Extensive Social Distancing.

Sumber : The Washington Post [Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and “how to flatten the curve”]

Setelah melihat paparan tentang mengurangi penyebaran virus corona dari The Washington Post tersebut, maka mari kita kembali ke video yang menyebar di medsos. Hal yang menarik adalah perbedaan video itu soal Force Quarantine atau Lockdown yang diberi istilah Partial Lockdown. Padahal Force Quarantine bukan berarti Partial Lockdown. Force Quarantine tetap memiliki celah masuk penyebaran virus karena mustahil melakukan Lockdown secara 100 %.

Selain itu, video tersebut juga memaparkan tentang Social Distancing yang amat berbeda maksudnya dengan Social Distancing Harry Stevens. Menurut video yang turut disebarkan Mahfud MD itu, Social Distancing adalah kesadaran dari diri sendiri untuk tidak berpergian. Pada faktanya definisi itu sama saja dengan Free for All. Tidak mungkin orang-orang dilarang atau sadar sendiri untuk tidak berpergian. Seperti di Indonesia, orang-orang masih ke kantor, ke restoran, bahkan ke tempat liburan.

Social distancing hanya akan berhasil ketika pihak swasta yang memiliki kantor, restoran, atau tempat berkumpul lainnya memiliki kesadaran untuk menutup tempat publik tersebut. Tentunya apabila pihak swasta mau berpikir secara jangka panjang, tidak akan mungkin mereka mengorbankan pelanggan, karyawan, atau pengunjungnya demi keuntungan jangka pendek semata.

Oleh karena itu, tindakan dari Gubernur DKI yang mempersingkat jadwal operasional TransJakarta hingga pukul 18.00 dan memperpendek rutenya sudah tepat. Ia melakukannya agar Social Distancing dapat terwujud. Namun karena pihak swasta masih menggunakan waktu pulang jam kantor secara normal serta tetap membuka ruang publik seperti restoran dan mall, terjadilah penumpukan penumpang TransJakarta saat jam pulang kantor.

Amat disayangkan ketika beberapa pihak mengkritik langkah tersebut. Padahal yang justru harus dikritik adalah pihak swasta yang tidak memiliki kesadaran untuk memfasilitasi Social Distancing hanya demi laba jangka pendek.

Sumber : CNN Indonesia [Kebijakan Blunder Transportasi Anies Berujung Amburadul]

Mungkin berbagai kebijakan dari Gubernur DKI ini pula yang menyebabkan video yang beredar di medsos mengubah istilah Force Quarantine menjadi Partial Lockdown. Seolah-olah Pemda DKI telah bertindak bagaikan diktator.

Bukankah Pemda DKI tidak menegur orang-orang yang berpergian ke luar rumah seperti Lockdown yang dilakukan di Wuhan? Gubernur DKI justru telah memberlakukan konsep Social Distancing, yakni membatasi pilihan aktivitas publik di luar rumah.

Jadi apabila ada pihak yang menolak Extensive Distancing yang diberlakukan Anies Baswedan, maka mereka justru mendukung terjadinya simulasi Free for All seperti yang dipaparkan oleh The Washington Post.

Padahal pada Minggu 13 Maret 2020, Presiden Jokowi telah memaparkan pentingnya Social Distancing untuk diterapkan dalam kondisi saat ini. Regulasi yang diterapkan Anies sebenarnya telah sejalan dengan keinginan Presiden.

Sumber : JPNN [Jokowi Pengin Social Distancing jadi Gerakan Masyarakat]

Apabila kita ingin Social Distrancing berlaku, justru hal yang pertama kali harus diluruskan adalah kesadaran dari pihak swasta untuk menutup kantor, restoran, maupun ruang publik. 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
UriNami dan 23 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh NegaraTerbaru
Halaman 1 dari 7
usaha kecil gimana pak? Kudu tutup? Utang bank, upah karyawan, beban pajak, kebutuhan hidup, utang suplier, biaya cicilan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan 10 lainnya memberi reputasi
Lihat 8 balasan
Quote:


Demi jangka panjang
profile-picture
f.shabri memberi reputasi
Memaksa kantor2 segara melakukan wfh. Semoga kantor2 bijak ya dengan dikurangi jam operasi transportasi umum.
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Semoga aja ya
gmn nasib yang tidak wfh :')))
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gabener.edan dan 2 lainnya memberi reputasi
Pembatasan transportasi umum oleh Abud malah bikin gathering distancing.

Antrian panjang hingga malam, didera hujan..


Swasta Ogah Inisiatif Social Distancing Imbauan Presiden


Swasta Ogah Inisiatif Social Distancing Imbauan Presiden
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mr.buky dan 11 lainnya memberi reputasi
Quote:


Tuntut perusahaan biar bisa wfh
profile-picture
gabener.edan memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Kantor yang bisa wfh ya silakan dilaksanakan, kalo ga bisa ya siapkan tindakan preventif ,misal sediakan hand sanitizer, tempel himbauan cegah corona, cek suhu karyawan berkala, kalo pulang kantor langsung bebersih, baju langsung cuci

Dua duanya bagus kok, jadi ga usah dibikin ribet
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aliensia dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh adhiet6
Lihat 3 balasan
Quote:


Jokowi juga minta buat gathering distance. Swastanya aja belum siap. Kenapa gak dibikin mereka pulang lebih awal?
profile-picture
profile-picture
sipit.siput dan phyu.03 memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
Quote:


Mantap gan emoticon-Angkat Beer
Quote:


Bisa diberlakukan pulang lebih awal toh emoticon-Traveller
Lihat 1 balasan
Quote:


Ribet emang, tp lebih baik drpada menumpuk di halte. Ketemu org lain juga. Setidaknya bisa lebih berkurang, bagi yg bisa perusahaannya wfh ga akan ikutan naik transportasi umum
Segera berlakukan libur paksa untuk kantor kantor terutama swasta. Gaji tapi harus tetap jalan. Supaya daya beli karyawan dan buruh tetap terjaga. Setuju? emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
skywest dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Quote:


panjang2 ternyata pendukung ketololan juga , kon tol, ini yang nulis otaknya udah dibuang ke got...emoticon-fuck
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eriksa dan 13 lainnya memberi reputasi
Para owner perusahaan sudah siap menghadapi outbreak? Atau masih menganggap sepele corona virus?
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan wbros memberi reputasi


Quote:


Ya ga hanya Abud doang yg salah, perusahaan2 swasta jg perlu disalahkan karena masih byk karyawan yg tetap disuruh masuk meskipun lg krisis virus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
c2tama dan 5 lainnya memberi reputasi
di mana2 mulai terasa sepi.. emoticon-Hammer (S)
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan ari.n memberi reputasi
Idenya gabener bener, kordinasinya blm bener.
profile-picture
profile-picture
sisitmae dan muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Ingat, seharusnya kita bisa belajar dari negara2 lain yang sudah kena outbreak.

Dan gw ngequote salah satu yang diomongin oleh orang di luar sana.

Kita punya 2 pilihan.
Apakah kita melakukan hal itu sekarang, atau kita membiarkannya saja dan terpaksa harus melakukannya di kemudian hari.

Semoga bisa bijak dalam mengambil keputusan.
profile-picture
muhamad.hanif.2 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di