CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6dc58582d495515b27f68c/maafkan-kami-nak

Maafkan Kami, Nak.

Maafkan Kami, Nak.
majalahpama.my

Suara benda jatuh dan pecah dari kamar. Anik tergopoh-gopoh meninggalkan ikan di penggorengan.


"Dafiii!!" pekiknya melihat anak lelaki berdiri di atas pecahan cermin. Benda yang tadinya menggantung di dinding kini berserakan. Dari bawah kaki anak lima tahunan itu mengalir darah segar.

Anik berjingkat hati-hati, menggendong tubuh Dafi ke luar, mendudukannya di sofa ruang tengah.

"Ya, Allah. Dafi ... kamu ngapain manjat-manjat meja rias Mama? Lihat ini, kakinya luka, kan?" Suara Anik gemetar.

Dengan kapas dan air matang, ia bersihkan darah di kaki mungil itu.

Beberapa pecahan kaca dicabut, ia rayapi lagi dengan jari, setelah yakin tidak ada beling yang tersisa Anik menggendong Dafi ke kamar sebelah. Dafi aman di sana, sementara ia akan membersihkan kamar.

Belum lagi tangannya memutar kunci, bau menyengat, tajam, tercium dari dapur. Bau ... hangus?!

"Astagfirullah!"

Anik berlari ke dapur.

Asap keluar dari wajan. Lima ikan di dalamnya sudah menghitam, sebentar lagi api akan menjilat minyak. Panik dan gemetar Anik mematikan kompor. Mengangkat wajan ke tempat pencucian piring, menyiramnya dengan guyuran deras air keran.

Asap hitam menyengat, berbau gosong memenuhi dapur, menyesakkan rongga napas.

Wanita tiga puluh tahun itu berlari keluar, ke halaman belakang. Napasnya megap-megap. Tenaga seperti akan habis. Sejak memulai hari dini hari tadi, ia belum merasakan duduk santai. Apalagi setelah Dafi bangun, mulai dengan berbagai ulahnya.

Anik mencuci wajah agar lebih segar. Mengikhlaskan apa yang terjadi memang harus ia jalani. Saat perasaan segar mulai terasa, ia tarik napas panjang dan hembusan pelan. Harus tenang menghadapi Dafi.

Ia kembali masuk. Sapu dan serok sudah di tangan.

PRANGGG ....!!

"Ya Allah, apalagi itu?!"

Anik berlari ke ruang depan, kamar tempat Dafi tadi ... pintunya terbuka. Tadi ia buru-buru hingga lupa mengunci pintu kamar itu.

"Dafii!" Kaca meja berpenyangga stainless di ruang tamu terbalik. Pecah! Beling berhamburan hingga ke bawah kursi.

Dafi berdiri mematung, tatapan matanya mengarah ke lantai, tanpa reaksi.

Anik mulai kesal, ia menyeret Dafi kembali ke kamar. Meski amarahnya sudah di ubun-ubun ia tetap bertahan untuk tidak memukul anak itu.

"Dafi di dalam dulu, Mama mau bersihkan lantainya," ucap Anik seraya mengunci pintu dari luar. Sebelum pintu tertutup ia sempat melihat anak itu berdiri mematung, mata bulat beningnya terus menatap Anik. Pandangannya kosong, tidak menyiratkan apa pun.

Anik kembali sibuk membersihkan lantai ruang tamu. Keinginan lama mengganti meja itu dengan yang berbahan kayu selalu lupa ia sampaikan pada Irwan, hingga berakhir dengan kejadian begini.

Dua ruang yang penuh beling berhamburan menanti ia bersihkan. Pikiran dan tenaganya akan terkuras habis hari ini.

Selesai semua, Anik menyempatkan mandi, membersihkan diri. Kemudian ia kembali ke kamar. Saat pintu dibuka, tampak Dafi masih mematung menatap pintu, sama seperti saat ia menutupnya tadi.

Anik tersentak. Rasa kasihan dan haru bercampur di dadanya. Anak ini mematung di situ sejak tadi? Segera ia peluk Dafi erat, mengelus punggung dan kepalanya. Air mata tak sanggup lagi ia tahan, tertumpah mebasahi kaus Mikcey Mouse Dafi.

Merasakan anak yang ia peluk hanya terdiam, membuat Anik semakin terisak. Ia memahami, Dafi yang sebelumnya tidak lah seperti ini, ia hanya butuh perhatian dan rasa nyaman ....

***

Empat tahun lalu ....

"Ibu dan Bapak harus bersabar menerima. Terus bersemangat, karena dengan terapi dan lingkungan yang mendukung, membuat ia nyaman, Insya Allah, Dafi bisa tumbuh mandiri, " kata Dokter yang memeriksa Dafi.

Bentuk fisik Dafi normal. Abnormalitas kromosom di tubuhnya membuat Dafi mengalami gangguan pertumbuhan psikis.

Perkembangan fisiknya juga jauh terlambat. Usia 8 bulan hanya bisa terbaring. Saat seharusnya yang lain bisa mulai duduk atau merangkak—seperti anak teman yang bersamaan lahir dengannya.

Anik tidak mampu mendengar apa-apa lagi. Pernyataan Dokter atas kondisi Dafi membuat jiwanya sejenak terbang dari raga. Terasa melayang.

Dafi yang ada di gendongan tidak berani ia pandang, terselip rasa kekecewaan di hati. Bagaimana mungkin bayi yang benihnya ia jaga begitu baik. Makanan, susu dan vitamin dari Bidan tidak pernah ia lewatkan.

Hanya, di trimester pertama, tiga kali ia mengalami pendarahan yang cukup banyak. Namun, waktu itu Dokter Kandungan memeriksa menyatakan kehamilannya masih bagus dan bisa dilanjutkan.

Mimpi buruk berawal dari sini.

Tertatih ia dan Irwan, sang suami saling menguatkan. Hidup harus terus berjalan. Dan, Dafi butuh mereka sebagai penopangnya.

Irwan, menunjukkan sikap bertanggungjawab sebagai kepala keluarga. Ia menyanggupi memenuhi segala kebutuhan, sendiri.  Atas keputusan bersama, Anik memutuskan pensiun dini dari statusnya sebagai Pegawai Negeri.

Ia akan fokus memperhatikan Dafi. Penanganan cepat dan tepat akan membantu Dafi tumbuh lebih baik.

Hampir semua yang disarankan orang untuk anaknya dicoba, baik medis ataupun non medis. Alhamdulillah ada perubahan. Telatennya Anik memberi harapan baru. Umur dua tahun Dafi mulai bisa berjalan. Alhamdulillah, perubahan kecil namun sangat menakjubkan.

Bisa berjalan dan mandiri adalah harapan terbesar Anik dan suami pada Dafi.

Stimulasi terus berlanjut setiap hari di rumah oleh Anik. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari Dokter yang membantu menangani Dafi. Suaranya sudah mulai membentuk kata-kata sederhana, meski sebagian besar kurang jelas apa yang ia ucapkan.

***

Emosi Dafi yang awalnya lebih tenang, mulai bisa tantrum dan merusak barang-barang di sekitarnya. Ia juga bisa berteriak-teriak marah tidak jelas. Anik yang masih tahap belajar menanganinya merasa payah.

Fisik dan psikisnya tidak kuat bertahan seorang diri menghadapi Dafi. Anik mulai Frustrasi. Hubungannya dengan Irwan yang makin memburuk lah penyebab awalnya.

"Papa jual. Ganti yang itu," ucap Irwan santai, saat Anik menanyakan mobil CRV siapa yang ia bawa pulang. "Papa menyicil sisanya. Jadi terpaksa, uang bulanan berkurang," lanjutnya membuat telinga dan wajah Anik memerah.

"Kenapa harus ganti baru, Pa? Bukannya yang lama masih bagus. Kebutuhan kita banyak. Terapi Dafi-"

"Mobil lama sudah sering mogok, mesinnya rewel. Inikan demi mendukung kerjaan Papa, malu, bertemu klien mobil sudah jelek." 

Anik terhenyak. Sejak kapan Irwan malu, bukankah selama ini mereka terbiasa sederhana?

"Sejak kapan malu, Pa? Bukannya Papa yang dulu ajarin Anik untuk tetap sederhana setelah Papa dapat kerjaan di sana?"

"Kamu tau apa? Sudahlah pikirkan yang di rumah aja. Kerja enggak, ribut iya!" Sinis ucapan Irwan semakin memerahkan wajah Anik.

"Pa, keputusan Anik di rumah itu, ya, keputusan kita. Demi Dafi! Kenapa begitu ngomongnya sekarang?"

"Ya, karena itu, kamu cukup tau urusan rumah aja, urusan luar Papa yang atur, beres kan?!" Irwan meninggalkan Anik masuk kamar. Anik menyusul, merasa pembicaraan belum selesai.

"Anik mau tau kenapa Papa jadi berubah begini?" Suara Anik pelan dan serak.  Pintu kamar ia tutup demi menjaga Dafi yang tengah tidur tidak mendengar mereka.

Irwan acuh, setelah berganti pakaian ia melewati Anik yang masih berdiri di dekat pintu, membuka pintu kamar sambil berkata, "Bosan di rumah!"

Anik hanya bisa menangis di tempat. Seorang Irwan, lelaki baik dan bertanggungjawab. Telah bertahun-tahun ia kenal. Bagaimana ia bisa berubah menjadi seseorang lain yang asing?

Hari lain, ia lagi-lagi membuat keputusan mengejutkan.

"Bik Ijah biar istirahat dulu. Papa belum bisa nyari tambahan untuk membayarnya."

"Tapi, Pa. kalau Bik Ijah berhenti siapa yang bantu Mama di rumah. Dafi gak bisa jauh dari pengawasanku. Sedikit saja lepas ia bisa membahayakan diri sendiri."

"Ya, sebisamu, Ma. Kamu kan pernah jadi guru, taulah cara gimana buat anak itu diam. Atu-atur lah sebisamu." Anik semakin tidak paham dengan jalan pikiran suaminya.

"Dafi beda, Pa. Mama gak bis-" Anik terhenti saat Irwan mendorong piring di depannya dengan kasar dan berlalu ke kamar.

Suara pintu terhempas menelan tubuh jangkung itu menghilang.

Suasana rumah sangat tidak nyaman. Keributan selalu didengar Dafi saat papanya ada di rumah. Anak itu juga semakin sulit dipahami. Ia bisa melakukan sesuatu berbahaya tanpa rasa takut.

Anik semakin tidak bisa jauh mengawasi Dafi. Sangat berat, karena Bik Ijah sudah tak bisa membantu ia seperti sebelumnya. Semua pekerjaan telah pindah ke tangannya.

***

"Pa, kita perlu bicara." Anik memulai pembicaraan, saat Irwan baru pulang dan terlihat bersiap pergi lagi.

"Apa? Ngomong aja." Suara datar menandakan Irwan sedang tidak ingin bicara.

"Kenapa kita jadi seperti ini?" Anik menggigit bibir, ia berusaha tidak menangis.

"Hubungan kita tidak seperti dulu, kamu berubah."

"Berubah? Berubah bagaimana?" Irwan berpura-pura tidak paham.

"Papa tidak betah di rumah, sepulang kerja selalu keluar. Hari libur juga keluar. Anik tidak tahan dengan semua ... Dafi memerlukan kita."

"Dengar, ya. Urusan Dafi, urusanmu. Rumah berantakan! Tiap hari suara amukan dan teriakan di mana-mana, bagaimana aku bisa istirahat di rumah. Dafi merusak ini, merusak itu. Kamu gagal mengurus Dafi!"

"A-apa maksudmu, Pa?" Bibir Anik menggetar, "kamu tau bagaimana capeknya aku? Pekerjaan rumah, Dafi, semua di tanganku. Siapa yang bantu, Pa? Gak ada! Aku capek. Capek. Harusnya kita tanggung semua bersama, Dafi tanggungjawab kita!"

"Terserah kamu!" Irwan hendak melangkah keluar kamar. Terhenti saat Anik menarik lengannya.

"Tidak. Kita belum selesai!"

"Sudah, sudah cukup." Irwan meyentak tangan Anik. Wanita itu bersikeras tidak mau melepaskan kedua tangannya menahan tubuh Irwan.

"Pa, kamu gak boleh menghindar begini. Demi Dafi. Demi kita." Berusaha sekeras apapun Anik, tubuh kurusnya tidak mampu melawan.

Terseret sampai keluar rumah, membuat ia menyerah, melepaskan lelaki itu masuk ke mobilnya dan menghilang dari pandangan.

Anik tersungkur di tempat, tergugu sambil memukul-mukul dadanya yang disesaki berton-ton beban. Sesak. Sakit. Perih.

Dengan langkah gontai Anik Masuk ke dalam rumah. Entah bagaimana hidupnya setelah ini. Ia berharap imannya masih tersisa, agar bisa bertahan menjalani sisa hidup yang seakan kehilangan makna.

Tiba di ruang tengah, kaki Anik menginjak lantai basah. Air?

Air di mana-mana.

"DAFI?!"

Anik terlupa pada anak yang harusnya tak ditinggal sedetik pun ini. Anak lelaki itu bolak-balik dari kamar mandi di dekat ruang tengah. Membawa gayung berisi air untuk menyiram lantai, seperti menyiram tanaman.

"Dafi, stop! Sudah!" Teriak Anik menghentikan langkah Dafi yang kembali dengan gayung berisi air dari kamar mandi.

Dengan wajah merah, dan pelototan ke arah Dafi, Anik melangkah pelan di lantai yang licin, mendekati Dafi. Sebentar lagi ia meraih gayung di tangan anak itu. Belum sempat diraih, Dafi tiba-tiba berlari ke arah luar.

Terlambat. Anak itu terpeleset dengan kepala belakang membentur lantai.

"Dafii!!" Panggilnya keras.

"Dafii ...." Panik wanita itu menggotong tubuh Dafi keluar. Berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan membawa Dafi segera ke rumah sakit. 


***

Dafi mengalami retak di tengkorak belakang. Ada penyumbatan pada aliran darah ke otak. Berbagai peralatan medis menempel di tubuh mungilnya.

Dua orang dewasa duduk di samping dipan Dafi, tanpa suara. Isak Anik masih sedu, meski sudah tiga hari Dafi belum juga sadar.

Ada penyesalan atas sikapnya pada Dafi beberapa hari terakhir. Ketidaksabaran dan kekesalan pada Irwan yang  dilampiaskan pada Dafi. Anak yang sedang ia perjuangkan masa depannya.

Tanpa bisa berkata banyak, keduanya hanya berharap mendapat kesempatan bisa menyayangi Dafi lagi.


Selesai.









Diubah oleh lin680
Mengandung pelajaran
Baca, yuk!
Sedih
Anak istimewa seperti kisah Dafi di atas membutuhkan penanganan khusus dan continue, baik dari pengasuh pengganti ataupun orang tuanya.

Bisa dilakukan beberapa hal ini :

1. Sejak bayi biasakan anak mendengar alunan suara yang menentramkan hatinya. Bisa memutar musik klasik, atau alunan ayat suci.

Anak akan terbiasa dengan suasana tenang dan damai.

2. Jangan bising atau marah. Pokoknya jangan ada sesuatu yang bikin anak special ini kaget, karena bisa membuatnya trauma dan berdampak buruk kemudian hari.

3. Usahakan menenangkannya dengan penuh kasih sayang saat ia mulai tantrum atau bertindak tak terkendali.

Tetap tenang, bisa dengan menepuk-nepuk badannya pelan atau mengajaknya bicara meski ia tak merespon.

4. Ajak anak sering bergembira dan tertawa bersama, agar pusat perhatian anak tertarik pada kita.

5. Usahakan suasana nyaman dan tenang di kamar anak agar istirahatnya optimal.

Semoga bermanfaat.

emoticon-Big Kiss


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di