CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Novel Remaja: Eyes Open
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6cffc49a972e38c440c016/novel-remaja-eyes-open

Novel Remaja: Eyes Open

Novel Remaja: Eyes Open

Quote:


Blurb


Beberapa hal bisa memicu luka yang berarti. Aku benar-benar paham semua itu.

Memang benar jika aku bukanlah pemeran utama di cerita ini, tapi itu tak masalah selagi aku masih pandai membuat "drama" di sekeliling populasi manusia bodoh yang aku temui.

Britney Ritani King... hahaha, salah satu spesies tolol itu. Aku adalah salah satu orang yang menanti setiap kehancurannya, detik demi detik.

Maka lihatlah, akan aku remukkan seluruh harapannya meski nyawaku taruhannya.

Beginilah cara kerjaku, si pelaku pemegang kunci cerita yang berkuasa.

Quote:



bersambung....

Eyes Open: BAB 2
profile-picture
siskapws memberi reputasi
Diubah oleh loncengbiru.

Eyes Open (Bab 2)

BAB 2


Rasanya sulit bila harus melupakan tiap kenangan yang ada. Move on tidak segampang dan semudah yang orang-orang katakan. Banyak hal yang ingin Britney tanyakan kepada Arnold, namun setelah insiden Arnold memutuskannya, laki-laki itu selalu menjaga jarak. Seolah mereka tak saling kenal, seolah mereka tak pernah mempunyai hubungan. Memangnya apa salah Britney hingga Arnold bersikap demikian? Perempuan itu tidak mengerti. Arnold pergi semau dia saja.

Britney menatap poto dirinya dan Arnold cukup lama. Poto itu terpajang di dinding kamar Britney, menampilkan sosok mereka yang saling lirik sambil tertawa dengan es krim di tangan. Britney lantas menghela napas. Hanya itu yang masih Britney simpan. Sisa semua barang-barang yang Arnold berikan, sudah Britney letakkan di dalam kardus, ditaruh di gudang. Poto tersebut sebenarnya hendak Britney taruh juga di sana, tapi tidak untuk sekarang.

"Dipikir gampang, lupain semuanya," ujar Britney pelan. 

Pesan masuk dari seseorang membuat Britney terkesiap, mengalihkan perhatian Britney. Tanpa pikir panjang, Britney langsung meraih ponselnya di atas kasur.

Ferdi
Boleh ketemuan?

Britney mengerutkan alis. Perihal apa cowok itu hendak menemuinya? Seingat Britney, Ferdi bukanlah siapa-siapa. Dia bukan teman akrab Britney, boro-boro gebetan. Ferdi hanya sebatas lawan mainnya di teater sekolah.

Britney mulai mengetik pesan singkat.

Britney
Gue males keluar.

Ini hari minggu, hari yang biasanya Britney gunakan untuk rebahan berlama-lama di atas kasur. Lagipula, paling Ferdi hanya iseng saja mau menemui dirinya. Ferdi mungkin salah satu sad boy-yang-kesepian-yang-baru-saja-ditinggal-mantan, makanya ingin menemui dirinya sebagai pelampiasan. Tentu saja Britney tidak mau. Meski Britney akui dia adalah sad girl-yang-kesepian-yang-lumayan-lama-menjomblo-karena-ditinggal-mantan, tapi mencari pelampiasan bukanlah hal yang tepat.

Tidak butuh waktu lama, sad boy itu telah mengiriminya sebuah pesan baru.

Ferdi
Diary lo ada di tangan gue

Britney seketika memucat. Bagaimana bisa? Pasti Ferdi bercanda. Bergegas Britney mencari-cari diary itu di dalam tasnya. Ceroboh! Britney begitu panik ketika ia tidak menemukan buku tersebut. Pastilah benda itu tidak sengaja tertinggal di ruang teater sekolah hingga Ferdi lalu menemukannya. Britney menyesali kenapa ia begitu bodoh. Dia seharusnya tidak membawa diary itu ke sekolah.

Jangan bilang... Ferdi telah membacanya?

Britney menelan ludah. Ini tidak bisa dibiarkan. Perempuan itu harus menemui Ferdi Resyanad suka tidak suka.

Britney
Oke. Ketemuan di mana?

***


Apakah Ferdi adalah sad boy? Mungkin bisa dibilang iya. Ingin menemui Britney saja ia harus menggunakan cara licik seperti ini. Ya mau gimana lagi? Kalau bukan karena diary itu, Britney tidak mungkin mau menemuinya.

Ferdi tidak sengaja menemukan buku tersebut di ruang teater. Tentu saja Ferdi membacanya, meski baru selintas. Isinya adalah ungkapan galau dari perempuan itu. Ferdi cukup geli mengetahui bahwa Britney belum bisa move on. Ferdi jadi berpikir, emang seganteng apa mantan Britney? Ferdi belum tahu sama sekali.

Ferdi masih dibilang murid baru, jadi wajar jika ia ketinggalan informasi. Saat Ferdi pindah di SMA Jaguar, Britney sudah putus dengan mantannya. Ferdi yakin sekali, tampang mantan Britney itu dibawah standar, yang jauh berbeda bila disandingkan dengan Ferdi. Asal tahu saja, Ferdi adalah Oh Sehun dengan kearifan lokal.

Aneh saja mengetahui Britney sulit untuk melupakan mantan. Yang Ferdi tidak habis pikir, sok iye banget daki biawak itu meninggalkan Britney seenak jidat—begitu kira-kira curhatan Britney yang sempat Ferdi baca di diary.

Ferdi menghela napas. Pukul 14.25 WIB. Britney seharusnya sudah tiba, tapi perempuan itu belum menunjukkan batang hidungnya. Dengan sabar, Ferdi tidak keberatan menunggu kedatangan Britney. Ferdi tahu, perempuan memang ribet. Masalah memilih pakaian saja bisa berjam-jam, nanti kafe ini malah tutup duluan. Untung kafe yang Ferdi tempati buka 24 jam, menunggu sampai besok pun Ferdi sanggup.

Setelah lama menunggu, perempuan itu datang dengan setelan ala kadarnya. Celana jeans robek-robek, kaos oblong putih yang warnanya sudah menguning, dan sendal jepit. Rambutnya ia cepol asal-asalan. Kalau tidak ditolong dengan wajah Britney yang glowing itu, Britney bisa dikira gembel. Ah, Ferdi sedikit kecewa Britney tidak merepotkan diri untuk berdandan saat menemuinya. Miris sekali. Padahal Ferdi sudah ganteng maksimal dengan outfit seharga sepuluh juta ke atas.

Perempuan itu bahkan tidak membalas senyum Ferdi, malah bersedekap angkuh. "Balikin diary gue," pinta Britney tidak sabaran.

"Ada kok di rumah," ujar Ferdi santai. Ia memang sengaja tidak membawanya.

Britney mengepalkan tangan. "Jangan macem-macem lo ya. Lo kira ini lucu?!"

"Duduk sini," saran Ferdi sembari menepuk kursi yang masih kosong. "Nggak enak baru aja datang, udah ngamuk-ngamuk."

Britney tetap berdiri, tidak sama sekali menuruti saran Ferdi. Dengan menahan amarah, Britney menjawab ketus, "Gue ke sini cuma mau diary gue."

Ferdi berpura-pura berpikir. "Hmm, gimana ya. Masalahnya, gue baru baca dikit, belom baca sampe habis," ungkap Ferdi. "Tapi tenang aja sih, diary lo aman kok di rumah gue."

Kaki Britney seketika lemas. Muka perempuan itu jadi memerah seperti kepiting rebus. "Lo... baca?"

"Nggak sengaja sih, eh ketagihan."

Raut wajah Ferdi seolah tanpa dosa, sedangkan Britney berusaha mati-matian menahan malu. Diary yang Britney punya adalah privasi, tapi kini tidak berlaku lagi semenjak Ferdi membacanya. Britney merasa ditelanjangi.

"Balikin diary gue sekarang. Gue nggak mau tahu," pinta Britney memohon. Tangannya semakin terkepal dengan kuat. Kurang ajar. Ferdi harus segera mengembalikan buku itu ke tangan Britney.

Sayangnya, mengembalikan diary Britney bukanlah skenario yang ada di kepala Ferdi. Dia punya skenario yang lain, dan Britney harus menurutinya. Britney tidak boleh mendapatkan diary itu dengan mudah. "Dalam hidup gue, wajib ada yang namanya timbal balik. Simbiosis mutualisme." Ferdi berdiri, mendekati Britney.

Britney mengerti benar apa maksud dari ucapan Ferdi. "Lo mau apa dari gue?" tanya Britney seraya memalingkan wajah. Ingin sekali Britney menghajar wajah laki-laki ini, tapi ia tahan mengingat ini adalah tempat umum.

Bibir Ferdi mendekat ke telinga Britney, mencoba membisikkan sesuatu. "Lo jadi pacar gue."

Britney mendesis jijik. Keinginan untuk menghajar Ferdi dalam diri Britney semakin besar.

"Gue kira lo sad boy, ternyata lebih ke arah fakboi." Persetan dengan tempat umum, Britney menampar Ferdi dengan keras.

[]

Bersambung....

Eyes Open : BAB 3
profile-picture
siskapws memberi reputasi
Diubah oleh loncengbiru.

Eyes Open

BAB 3


Devarnold Raja Mahenta atau yang biasa disapa Arnold menyadari kalau ia terlalu tampan. Semenjak putus dari Britney, Arnold sadar kalau dirinya menjadi incaran ciwi-ciwi yang kurang belaian. Arnold tentu mengerti bahwa ciwi-ciwi itu baper padanya, padahal kelakuan Arnold tidak seberapa, hanya balas menyapa jika dirinya disapa, namun ciwi-ciwi itu sudah jingkrak-jingkrak heboh, besoknya mulai caper terus pada Arnold.

"Muka sebelas dua belas sama Chris Evans di usia muda ya gini," ujar Arnold bangga sambil memperhatikan penampilannya di cermin. "Gila, emang ganteng banget sih gue." Arnold bersiul sembari merapikan rambut. Kali ini dia sudah siap dengan seragam khas anak SMA Jaguar berupa kemeja putih yang dibalut blazer abu-abu beserta celana dengan warna senada. Meski sudah siap, Arnold belum mau berangkat sekolah sebelum memgirim pesan terlebih dahulu untuk mantan. Maklum, udah kangen berat nih anak muda.

Arnold
Hai, lagi apa? Aku bentar lagi berangkat sekolah nih emoticon-Smilie

Ada kegugupan yang Arnold rasakan ketika pesan itu telah terkirim pada Britney. Setelah mereka putus, untuk pertama kalinya Arnold kembali menyapa setelah sekian lama. Jantung Arnold semakin menggila menunggu balasan dari Britney yang tak kunjung muncul. "Bales dong, bales...," harap Arnold, sebab pikirnya nggak ada salahnya bukan membalas pesan dari mantan?

Meski ada rasa kecewa karena Britney belum membalas pesan Arnold, terlepas dari semua itu, Arnold masih bersyukur Britney tidak memblokir nomornya.

Sampai Arnold mengendarai motornya untuk pergi ke sekolah pun, Britney tak kunjung membalas pesan Arnold. Ingin sekali Arnold menemui perempuan itu, tapi ragu. Ia takut Britney tidak ingin menemuinya. Bermodal wajah Chris Evans sepertinya kurang cukup untuk membuat mantan Arnold luluh. Apa ia harus sekaya Bill Gates dulu? Arnold menggeleng atas pikirannya sendiri. Britney bukanlah perempuan matre yang ia kenal selama ini.

"Eh, buset." Arnold terpaksa menghentikan kendaraannya. Hampir saja ia menabrak seseorang karena sibuk memikirkan nasib hubungannya dengan Britney. Di hadapan Arnold sekarang sudah ada perempuan berseragam yang sama persis dengan Arnold. Dia berdiri sambil merentangkan tangan. Arnold mendengus. Apa cewek itu gila? Buat apa dia menghadang Arnold? Dipikir sekitaran kompleks ini jalan bapaknya? Atau jalan nenek moyangnya?

"Gue nebeng, ya!"

"Lah, lu kira motor gue motor emak lu juga?!" protes Arnold.

"Please, udah telat nih. Mobil gue tiba-tiba mogok," jelas perempuan itu.

Arnold menatap perempuan itu dengan lekat, mencoba mengingat siapa sosoknya di sekolah. Wajahnya benar-benar tidak asing. Selintas mengingatkannya pada salah satu artis Jepang.

Ah, tepat sekali itu dia! Kali ini Arnold benar-benar ingat. Tidak perlu waktu yang lama untuk mengenali perempuan ini dari parasnya. Arnold tahu siapa dia. Namanya Kenia Evelin. Primadona di sekolah Jaguar. Sering diperbincangkan oleh teman-teman Arnold karena parasnya mirip Maria Ozawa. Entah mimpi apa Arnold semalam sampai Kenia jadi menghampirinya.

Mengalihkan pandangan dari Kenia, Arnold tidak sengaja melihat mobil merah yang posisinya tidak jauh dari mereka. "Mobil lo?"

Kenia mengangguk sebagai jawaban. "Gue jadi nebeng, ya?"

Arnold menggaruk tengkuknya. "Itu mobil nggak apa ditinggal?"

"Gue udah nelpon bokap kok. Nanti suruhan bokap ke sini buat masukin ke bengkel," beritahu Kenia.

"Ya udah. Naik."

[]

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
siskapws dan 123qwerty123 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di