CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pendaki Malam Chapter: 1 Bag: 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6cdaca4601cf06ba4ce6e9/pendaki-malam-chapter-1-bag-2

Pendaki Malam Chapter: 1 Bag: 2

Quote:

Pendaki Malam Chapter: 1 Bag: 2


Quote:


"mobil ini adalah mobil pertama yang aku beli dari usahaku sendiri. Dulu, keluargaku tidak percaya kalau aku bisa membangun perusahaan sendiri. Mereka mengekangku dan terus memaksaku untuk meneruskan bisnis papaku. Tapi, aku tidak mau dan bersikeras untuk menolak. Hingga akhrinya aku bisa membeli mobil ini. Dan aku menjauh dari mereka. Suara-suara jemu menyakiti telingaku." ujarku

Sementara Jerica termenung seperti memikirkan penjelasan yang aku lontarkan.

"aku masuk... Aku ingin tidur!" seruku sembari menutup pintu belakang mobilku.

Aku belum mengerti bagaimana cara Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang baru. Padahal aku telah menepi dari keramaian. Manusia adalah makhluk sosial, semua orang tahu itu. Tetapi, hubungan yang terjalin bagiku hanya hubungan parasitisme. Manusia bisa menjadi parasit bagi manusia lain hanya untuk mengeruk keuntungan. Seperti ladang minyak dan emas, alam yang sudah baik ketika habis ditinggalkan.

Aku sebenarnya tidak membenci manusia, karena akupun manusia. Hanya saja, aku tidak suka dengan sikap manusia. Terlalu berlebihan terhadap sesuatu hingga akal dan logika tidak pernah digunakan semestinya. Banyak diantara mereka mengaku miskin di atas alam yang begitu kaya. Terlalu ceroboh..., mereka hanya berpikir bagaimana menjadi orang di atasnya. Hingga mereka menghancurkan diri sendiri dengan mencoba menjadi orang lain.

Aku sudah melihat bagaimana bumi ini meronta, banyak lahan-lahan yang ditinggalkan. Sudah punya aset, tapi mencari yang lain. Bahkan manusia menilai dari bagaimana caranya bekerja bukan dari hasil yang didapatkan. Petani mereka anggap pekerjaan yang begitu rendah, sehingga haluan berpindah. Menjadi buruh pabrik dan karyawan kantor begitu mereka nikmati padahal gajinya lebih kecil dari penghasilannya sebagai petani. Duduk diatas kursi dan meja, berdiam di ruangan ber AC seolah menjadi trend bahwa mereka sudah sukses dan pekerjaannya sangat menyenangkan. Padahal aku tahu, bagaimana pikiranmu.

Aku pernah ikut bertani, jadi aku tahu bagaimana mereka bekerja dan sebesar apa penghasilan mereka. Penghasilan petani tidak ada bedanya dengan penghasilan seorang manager. Dan mereka sendiri adalah manager alam untuk menghasilkan padi. Mungkin karena kotor, tenaga, dan juga bau lumpur menjadikan mereka iri terhadap tontonan televisi yang kerap kali menipu otak mereka bahwa menjadi karyawan dan buruh pabrik begitu menghasilkan serta menyenangkan.
Seandainya petani tahu jika jumlah mereka berkurang, maka dari beras akan berasal. Menurutmu dari plastik seperti yang China lakukan? Pemerintah pun tidak pernah memperhatikan alam. Mereka hanya melihat bahwa alam adalah loker uang yang bisa mengisi kantong dan perut. Ketika alam marah, baru deh berpikir tapi tidak bertindak.
Kurangnya manusia dalam memperhatikan alam membuat segalanya hancur. Memang tidak disadari, tapi dirasakan. Banyak hewan dan tumbuhan punah, mereka lebih sibuk memotret daripada melestarikan. Banyak bencana, mereka lebih sibuk membangun hal yang baru dibandingkan memperbaiki hal yang salah.

Alam menjadi korban demi uang. Limbah-limbah pabrik dengan sengaja dialirkan ke sungai-sungai. Semua orang berpura-pura buta. Ketika banjir, mereka menuduh satu orang untuk disalahkan. Dan tanpa sadar air yang Tuhan ciptakan untuk dipakai secara gratis kini mereka harus menebus setiap liter dengan lembaran.
Kini masih ada bongkahan alam yang belum terjamah oleh tangan nakal manusia, semoga aku masih bisa melihat setiap bongkohannya.

Seperti biasa, aku terbangun ketika matahari telah padam oleh dinginnya lautan. Terdengar sayupan suara orang yang mengobrol disekitarku. Mungkin itu para pengelola pantai.

Merapikan tempat tidur lalu melipatnya, kemudian aku keluar dari mobil caravanku. Benar saja, bintang sudah menyalakan sinarnya. Begitu juga dengan bulan, ia datang lebih awal untuk menyambutku.

"kamu udah bangun?" sapa Jerica menghampiriku yang sedang berdiri memperhatikan wajah alam malam ini

"aku baru bangun, aku mau puf...." ujarku
"disana ada wc..." ujar Jerica menunjuk kearah pos jaga

"wc!?" ucapku bernada tinggi

"ngigo ya?" ucap Jerica bingung

"ooooh, tidak... Aku tidak terbiasa puf di wc" ucapku

"jadi...?" tanya Jerica

"disana...." ujarku menunjuk kearah pasir yang ditumbuhi tanaman pandam

"jangan gila mas..." ujarnya sedikit tersenyum geli

"tapi serius..... Sorry ya,, aku udah gak kuat!" ujarku meninggalkan Jerica

"mas... Mas! Ini kawasan wisata, mas gak boleh seenaknya membuang kotoran disini!" ucap Jerica mengejarku

Aku terhenti sejenak

"jadi saya harus menggunakan wc?" ucapku
Jerica hanya mengangguk dan melihatkan wajah berharap

"baiklah....," kataku menyetujui
Aku berbalik arah, menyusuri ratusan pasir halus menuju kamar mandi pos jaga itu.

Jujur saja, puf di wc rasanya aneh. Mungkin aku tidak terbiasa. Tapi ya sudahlah, daripada aku membuat kekacauan lebih baik aku mengalah.

"mas..., situ kenapa sih?" tanya Jerica setelah aku keluar dari wc

"aku...?" tanyaku memastikan, Jerica mengangguk

"iyalah... Siapa lagi!" ucapnya ketus

"aku tidak paham apa maksud kamu..." kataku polos

"makan, puf, mandi, semuanya dari alam gitu?" tanya Jerica lagi

"iya... Memangnya kenapa?" tanyaku balik

"laaah, sadar gak sih mas..., kamu itu mempersulit diri sendiri tau enggak..." kata Jerica

"maksudnya?" tanyaku ulang

"air, makanan, toilet... Semuanya ada di dunia ini. Kamu tinggal menggunakannya mas, gak usah itu apa... Ribet-ribet nyari yang gak pasti..." ucapnya membuatku tersinggung

"kamu tahu apa? Hah! Beras yang kamu makan dari alam, air yang kamu minum dari alam, toilet yang kamu pake pun dari alam! Apa bedanya!?" ucapku kesal

"susah ngomong sama kamu! Kamu sakit atau apa sih mas!" ucap Jerica sebal

"kalian yang sakit!" kataku menjauh dari Jerica.

Aku melangkahkan kaki ke ujung gundukan di dekat pos jaga. Daripada berdebat aku lebih memilih duduk menatap wajah malam ini. Jerica datang untuk menghampiriku lagi.

"aku sama seperti kamu..., mencintai pantai..." ucap Jerica namun aku potong

"makanya kamu jadi pengelola?" tanyaku

"iya..., orang tuaku khawatir karena dulu disini tempatku bermain, gak inget waktu, hingga setelah lulus SMA, aku bergabung dengan pengelola disini." ucapnya

"kamu gak bisa bedain mencintai dan memanfaatkan..." ucapku ketus

"aku gak paham... Maksudnya apa ya?" tanya Jerica menatap tajam kepadaku

"kamu memanfaatkan cintamu, kamu jadikan cinta yang kamu miliki sebagai alasan untuk menghasilkan uang." kataku memberi penjelasan

"mas, coba kamu bayangin bagaimana jika pantai ini tidak ada yang mengelola? Bibir pantai pasti dipenuhi sampah! Belum lagi orang yang berniat merusak pantai ini... Apa kamu gak pernah berpikir kearah sana? Manusia itu tidak bisa disamakan mas..." ujar Jerica membantah

"dan untuk meranwatnya kalian butuh bayaran?" tanyaku menekan

"apa!? Kamu kira kami gak butuh makan? Kamu kira gak cape apa menjaga pantai... Yang luas begini? Logikanya pake dong mas!" ketus Jerica

"logika kamu yang dipake, kalau kamu menjaga pantai tapi pengunjungnya gak menjaga itu mempersulit diri kamu sendiri mbak!" kataku menatap tajam Jerica

"kamu harus memberi tahu, mengingatkan, memperingati supaya pengunjung disini menjaga pantai ini!" sambungku

"kamu kira gampang? Kalau kamu memasukan satu kotak besar kedalam satu kotak kecil, apa itu akan masuk akal?" kata Jerica mulai kesal

"balikan kotaknya! Masukan kotak kecil kedalam kotak besar!" ucapku menanggapi.

"artinya?" tanya Jerica dengan wajah jutek

"buat mereka melakukan apa yang harus kamu lakukan." kataku membuang wajah dari tatapannya

"mas... Ayolah... Mereka disini tuh buat berlibur, menikmati pantai bukan gotong royong RT kali mas!" keluh Jerica

"justru disini mereka harus belajar menjaga lingkungan, mengembalikan budaya gotong royong. Gunanya Pancasila itu apa dong?" kataku meyakinkan
"ngegampangin ya mas!" ketus Jerica

"kamu yang gak mau usaha" balasku ketus
Jerica terdiam, mungkin ucapanku mempengaruhi pikirannya.

"aku tahu, manusia tidak bisa dikendalikan, tapi kalau alam terus-terusan dirobek lama-kelamaan lama itu akan semakin hancur. Kita harus menjahit ulang ulang sekarang. Mana ada gengsi yang gak bisa dikendalikan. Orang gak bakalan berani buang sampah sembarangan kalau ada satu orang saja yang membuang sampah ke tempat sampah! Karena kesadaran itu menimbulkan gengsi yang lain!" kataku lagi meyakinkan Jerica

Jerica mulai engeh bahwa di pantai itu tidak tersedia tempat sampah. Dia menegakan kepalanya melihat sekeliling bibir pantai

"kalian membangun hal-hal baru agar meninggikan image, tapi meninggalkan masalah. Fasilitas dibangun besar-besar tapi hal kecil saja kalian tidak perduli. Dampaknya kalian yang cape sendiri. Kamu kira orang bisa membuang sampah pada tempatnya harus menginap dulu di hotel, gitu?"

"kamu benar mas, kenapa dari dulu enggak kepikiran kesana ya?" ucapnya setengah melamun

"karena itu, cinta yang kamu manfaatkan akhirnya mengubah cinta kamu menjadi obsesi. Obsesi untuk menghasilkan uang sebanyak mungkin." kataku menyadarkan Jerica

Sementara kami sibuk berdebat, waktu memilih tidak diam. Putaran waktu berjalan angin laut kembali ke daratan. Bersamaan itu pula melaju sebuah mobil BMW hitam yang aku kenal. Itu Roy sahabatku.

"hey!" seruku ke arah Roy yang berjalan menghampiriku

"whats up bro!?" ucap Roy

Kami bersapaan layaknya seorang sahabat lama tidak bertemu, membentronkan kepalan tangan, memeluk satu sama lain. Dan menanyakan kabar.

"gue liat di Insta story lu kalau ada cewek rese yang ganggu bulan madu lu disini?" ujar Roy melirik Jerica yang hanya memperhatikan kami. Aku hanya memicingkan mata kearah Jerica memberi signal pada Roy bahwa dialah orangnya.

Kemudian Roy duduk di dekat Jerica, dan aku duduk di samping Roy

"Dave sih nyebut dirinya sebagai pendaki malam. Dia anak aneh. Tapi tujuannya baik kok. Ya memang gak bisa kita mengerti. Tapi apa salahnya membiarkan anak muda yang tergila-gila dengan alam" ujar Roy dengan nada sindir

"mas ini siapa ya?" tanya Jerica tidak memperdulikan perkataan Roy

"saya Roy sahabat Dave..." ujar Roy menghela nafas

"oooh..." ketus Jerica

"Mbak ini kok seenaknya aja ngusir-ngusir orang dari pantai..."

Aku hanya tersenyum geli melihat Roy sedang membelaku

"iya... Temannya mas juga seenaknya aja tinggal dipantai ini" balas Jerica

"laaah... Apa salahnya.... siapa situ ngatur-ngatur orang." ucap Roy jutek

"saya pengelola pantai disini mas..." ujar Jerica

Roy langsung merasa tidak enak hati, menelan ludahnya sendiri dan menatapku kesal

"Lu kenapa gak bilang sih Dave... Dave!" bisik Roy padaku

"mana gue tau lu bakalan kesini..." kataku membisik Roy

"Jadi gini mbak... Dave bilang nih ke saya... Katanya saya harus bersandiwara gitu loh mbak, biar mbak kaget... Naaah kalau udah kaget. Kita bakar-bakar jagung... Ya... Kan...." ucap Roy bersandiwara

"basi!" ketus Jerica

"laaah... Emang bener! Yuk ah... Gue udah bawa jagung buat lu Dave...." seru Roy

"Astaga!!!! Mas udah makan?" ucap Jerica menepuk keningnya

"belum...." ucapku datar

"yaaaah! Lu gak dikasih makan Dave?" ucap Roy

"eh mas... Bukan gitu aku tuh lupa, emang udah disiapin kok!" ucap Jerica merasa bersalah

"ashiaaaap.... Udah ditemenin dikasih makan pula.... Enak kali hidup lu dave.. Dave..." ejek Roy

"sinting lu ya!" ketusku kepada Roy
Jerica bergegas ke pos mengambil makanan yang disiapkan untukku sementara Roy menurunkan barang-barang yang dia bawa. Roy memang sering membawakan jagung untuk karena dia mengetahu kalau aku tidak suka memakan sesuatu yang dimasak dengan bumbu.

"ini ada nasi mas.... Saya yang masak sendiri jadi gak usah khawatir ini highenis kok!" ucap Jerica

"wuuuu... Romantis sekali...." ejek Roy yang sedang merakit alat-alat untuk membakar jagung

"lu mending beresin kerjaan lu deh Roy!" ketusku lagi

"mbak... Mending nasinya mbak yang atau saya yang makan. Dia gak pernah makan makanan manusia loh mbak!" ujar Roy menyindirku

"lu kira gue kerbau apa!" elaku ketus

"Bener mas?" tanya Jerica kepadaku

"saya gak suka makan sesuatu yang dimasak berlebihan." ujarku

"ooooh..." ketus Jerica kecewa

"mending mbak makan, daripada ketahuan Dave... Bisa ngamuk doi!" seru Roy

"laaah!?" ucap Jerica spontan

"dia gak suka sama orang yang buang-buang makanan mbak! Apalagi ada nasinya!" ucap Roy menjelaskan

"iya, nanti saya makan" ujar Jerica menutup rapat rantang yang ia bawa

"dia Roy, Roy Hutagalung. Sahabatku..., Roy! Ini Jerica!" ujarku mengenalkan mereka satu sama lain

"oooh..., hai!" seru Roy tidak mengindahkan
"mas Roy kenal betul sama mas Dave yah?" tanya Jerica ikut memperhatikan Roy yang sedang mempersiapkan alat untuk membakar jagung

"gak juga, dia itu kayak palung mariana gak tau dah kayak gimana orangnya!" ledek Roy membuat Jerica harus menahan tawa

"kadang juga egonya setinggi everest! Jangan mau sama dia mbak!" seru Roy lagi

"Roy... Roy..." ucapku menggelengkan kepala

"untung aja lu gak sawan ketemu cewek hahahahaha" ledek Roy terbawa terbahak

"sawan!?" kata Jerica terkejut

"lah, biasanya liat kodok kejar-kejaran sama ular belang, hahahahaha" ucap Roy meledeku habis-habisan

"emangnya kamu gak pernah nemenin?" tanya Jerica bingung

"tuh lu, jawab noh...!" kataku puas karena Roy diberi pertanyaan menjebak

"yaaa... Gak gitu mbak, cuman ya gitu" ucap Roy gerogi

"gitu gimana mas!?" tanya Jerica lagi sedikit membentak

"gak usah nge gas monyong... Kaget gue!" kata Roy terkejut

"sory... Sory.... Gue kelepesan" ujar Roy menyadari perkataanya tidak sopan

"Gak papa!" ucap Jerica menatap dengan nada kebencian

"Roy, lu kapan beresnya?" kataku bertanya soal alat pemanggang jagung yang Roy persiapkan

"ini udah siap Dave..." kata Roy

"kenapa gak pake arang jadi aja ya?" tanya Jerica

"kayak gak tau aja sama tuh makhluk mbak!" ujar Roy memicingkan mata padaku

"bodo ah..." kataku ketus

Kami membakar jagung yang dibawa Roy, sayangnya purnama tidak hadir malam ini.

"mas Dave belum pernah ketemu cewek ya?" tanya Jerica sembari membetulkan kayu yang dibakar

"uhuk!!! Pake nanya tuh bocah lagi... Jelas aja orang dia nunggu bidadari dari langit hahahahaha" Celetuk Roy mengejeku

"yang ada bukan bidadari, tapi kuntilanak hahahaha" ledek Jerica meladeni Roy
Aku dan Roy bengong, karena gak nyangka kalau Jerica bakalan melontarkan lolucon seperti itu

"enggak... Lucu ya?" tanya Jerica polos

"hahahaha!" Roy tertawa

"loh... Kok ketawa?" tanya Jerica lagi

"katanya gak lucu, ya gue ketawa lah biar lucu" jawab Roy

"ooh...!" keluh Jerica

"kemarin aku ketemu sama purnama...." Gumamku

"terus lu rindu lagi Dave?" tanya Roy

"iya, aku kagum, bagaimana Bulan berada diantara Bumi dan Matahari, merelakan dirinya disengat cahaya yang begitu tajam, mengorbankan diri demi keindahan malam." kataku sembari menatap wajah malam

"aku juga kagum sama pantai, yang selalu menenangkan ombak yang marah di laut sana!" seru Jerica membuatku segera menengoknya

"oh ya, purnamamu selalu mengakibatkan air laut pasang." sambung Jerica

"bukan, laut justru jatuh cinta pada purnama." balasku

"keracunan dah anak orang..." ujar Roy menggerutu

"Roy, alam ini bukan hanya untuk dipelajari dan diabadikan dalam tumpukan kertas, alam ini patut kita sayangi. Seperti mereka yang mencintai kita..." kataku dengan serius

"kenapa lu dendam sama siang?" tanya Roy sedikit tinggi

"kita bisa memilih kecintaan kita, setiap manusia memiliki alasan untuk apa yang dia benci" ujarku

"lu itu gak adil Dave, sampai kapan hidup lo terjebak terus-terusan. Kita harus menghadapi realita, membiarkan semua rasa sakit di masa lalu hanyut dalam gelombang waktu" kata Roy membujuk

"Itu benar, mas Dave harus adil" celetuk Jerica
"apa yang kalian tahu adalah apa yang kalian sendiri tidak pahami... Aku tidak suka dengan taburan cahaya yang membanjiri alam ini. Seperti awan, yang tidak dapat bersembunyi saat menangis"

"justru Matahari selalu menghibur kesedihan awan dengan menghadirkan pelangi setelah badai." ucap Jerica

"dan nyanyian burung merayakan kebaikan Tuhan Roy!" seru Roy menyambung perkataan Jerica

"dan ribuan gelombang suara manusia yang mengutuk hujan? Atau rasa takut ribuan manusia terhadap makian halilintar?" tanyaku bimbang

"justru petir sedang mendidik bumi Roy, dia yang melapisi kulit bumi dengan lapisan ozon." ucap Roy

"haruskah dengan cara yang salah? Menghantam, membabi buta, bahkan menghilangkan nyawa?" keluhku lagi

"apa bedanya dengan petir di malam hari?" tanya Jerica

"manusia sedang beristirahat..." jawabku datar

"Justru itu membahayakanmu, bukan? Ketika orang lain di dalam, kamu asik diluar?"
Aku hanya termangu, hingga kami semua diam tanpa suara

"Jagungnya udah matang nih...!" seru Roy menghidupkan suasana

"iya..." ucapku lemas

"Dave!" ucap Roy sedikit membentak

"ya!" seruku kaget

"lu mikirin apa?" tanya Roy

"gue mikir.... Kenapa,,,, Tuhan menciptakan segalanya berpasangan." kataku terhela-hela

"dan lu yang memisahkan!" celetuk Roy sembari mengigit sepotong jagung

"mungkin mas Dave hanya mengagumi salah satu diantaranya..." ujar Jerica

"atau cemburu... Hehehehe" sambung Jerica tertawa kecil

"ibarat bumi dan langit, gua adalah gaya gravitasinya. Menarik semuanya jatuh ke bumi agar gua paham bagaimana rasa memiliki dan jatuh cinta" jelasku

"makanya jangan biarkan dara yang disamping lu terbang jauh, buat dia jatuh juga dong! Gitu!" celutuk Roy meledek

"maksudnya apa ya mas?" tanya Jerica polos

"aaah... Pura-pura gak ngerti nih...!" gerutu Roy

"besok gue menemui Rinjani!" ucapku megalihkan

"besok?" tanya Roy memastikan

"pacar mas?" tanya Jerica

"Iya besok..." tanyaku menatap Roy lalu menganggukan kepala

"Rinjani adalah gunung di Lombok..." kataku menjelaskan kepada Jerica perihal Rinjani

"bukannya lagi bahaya Dave?" tanya Roy memperingatkan

"gue bakalan baik-baik aja!" ujarku meyakinkan

"gila.. Lu mau bunuh diri ya!?" tegur Roy khawatir

"Lu sinting ya! Gue bukan sekali dua kali ke Rinjani Roy. Gue suka sama Rinjani." ucapku sedikit memaki

"ya... Gue kira lu mau bunuh diri gitu karena keputusasaan." kata Roy mengulik

"putus asa!? Apa sih lu gak nyambung banget.... Deh!" kataku menggertak

"Dave lu boleh bersembunyi dibawah malam tapi lu gak bisa sembunyi dari gue!! Sekarang lu cerita ngapain lu ke Rinjani?" tanya Roy ngotot

"Roy, gue emang mau ke Rinjani, ya gue suka sama Rinjani. Lu kenapa sih? Kesmbet ya?" kataku memberi jawaban yang sama pada Roy

"Lu serius kan Dave?" tanya Roy memastikan
"gue dua rius..." kataku menggerutu

"Mas Dave gak tidur?" tanya Jerica menenggarai kami yang bersitegang

"setiap purnama, aku selalu menghubungi keluarga...." ujarku

"oooh..." desah Jerica

"aku hanya tidak ingin membuat mereka mengkhawatirkanku..." ujarku bergeming
"tapi kalau mas Dave gak pulang gimana keluarga mas Dave gak khawatir?" ujar Jerica menasehati

"aku...." kataku terhenti tak ingin membuka dimensi masa lalu

"dunia ini imajinasi bagi orang yang mendalaminya" ucap Roy berdiri memasukan satu tangan ke saku celana

"imajinasi?" tanya Jerica tak mengerti

"iya, Dave contohnya. Iya selalu menterjemahkan kehidupan, memang tidak mudah kita pahami. Karena untuk menterjemahkan kita harus belajar terlebih dahulu." kata Roy mencoba menjelaskan

"rumit, kehidupan itu hanya sistem. Tujuan akhir adalah kematian. Dengan kata lain kita hanya mempersiapkan kematian dengan sebuah sistem yang bernama kehidupan" Ujarku

"sistem?" tanya Jerica semakin tidak mengerti
"ya... Kamu digerakan oleh sistem kehidupan..." kata mengulangi

"aku semakin tidak paham..." gumam Jerica mencoba memahami

"nanti ku jelaskan jika kita bertemu lagi."

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
gigilugendut69 dan 3 lainnya memberi reputasi
Thanks to reader......

Update Chapter 2 Bagian 1 agan sista.....
emoticon-I Love Kaskus

Langsung aja gan klik di mari
emoticon-Cendol Gan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di