CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pernikahan Siluman dan Jam Pasir....."uppppsss"
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6c7df8a2d1951089022720/pernikahan-siluman-dan-jam-pasirquotuppppsssquot

Pernikahan Siluman dan Jam Pasir....."uppppsss"

Bagi banyak orang, mungkin setiap Januari adalah hal-hal serba baru. Menanggal dan meninggalkan sesuatu yang lama lagi layu, untuk digantikan yang segar dan baru. Begitu pula mungkin dengan diriku, hanya saja hampir pasti akan selalu diikuti dan disertai bayangan maut!
Sejujurnya, di mataku setiap kali Januari tiba, itu berarti akan terjadi banyak hal yang semata berisi duka dan malapetaka. Bisa kupastikan, akan ada tragedi berdarah. Sebab, akan ada satu peristiwa, nyawa yang meregang dan hilang sia-sia!
Pernikahan Siluman dan Jam Pasir....."uppppsss"
Ya, hanya segala peristiwa kesedihan yang mewarnai hari-hari di rumah ini sepanjang tahun. Duka dan air mata selalu identik melekat di keluarga ini. Kemewahan tak selalu bisa menebus kebahagiaan. Harta dan cinta, ternyata tidak pernah bisa berkawan baik. Saling memeluk, merangkul, dan bergandeng dengan erat untuk waktu lama. Andaikata ada kegembiraan dan kebahagiaan yang pernah tercipta, maka itu lebih bersifat semu dan sementara.
"Aku harap kebahagiaan ini tak lekas pergi di antara kita ...." Sudah terlalu sering kalimat palsu itu terucapkan dari bibir tipis manis kepada setiap calon pengantinku. Entah siapa-siapa saja nama mereka, aku benar-benar telah lupa.
Atau kali lain kalimat plastis seperti yang berbunyi di bawah ini:
"Aku cinta padamu, Sayang. Tetapi aku tak yakin, bisakah lelaki hina ini selamanya memiliki dirimu?"
Atau selanjutnya malah lebih melankolis.
"Maafkan aku, Cinta. Maafkan diriku yang belum bisa membahagiakanmu hingga hari ini."
Itu permohonan maaf yang terdengar paling menyedihkan, sepanjang usia pernikahan. Lalu yang lebih tragis lagi adalah, tatkala mata ini tak bisa menyaksikan kepergian dan perpisahan akibat ditinggalkan.
Awal-awal perasaanku dilanda sedih yang hebat, sering terjadi kontradiksi di dalam jiwa. Akan tetapi seiring waktu semua hal tentang itu menjadi sesuatu yang biasa dan tak menarik lagi. Sudah menjadi rutinitas belaka. Sebuah saturasi yang basi.
Begitulah, di dalam hidupku cinta datang dan pergi sesukanya. Seperti juga wanita, kekasih tambatan hati. Terutama jika semuanya telah usai dan selesai. Sebuah ritual yang begitu rapih dan telah matang direncanakan!
Sudah terlalu sering kedua tangan ini berlumuran darah. Sudah kerap kali pula, senyuman manis yang tersungging di bibir berubah menjadi seringai yang licik dan kejam. Tiada satu apa pun yang bisa melembutkan kekerasan hati yang telah membatu. Hatiku telah lama mati, terkubur dan terbujur kaku. Dingin dan membeku.
Ah, sudah terlambat untuk kembali. Aku jelas tak bisa lagi berpaling buat berpulang kepada-Nya. Percuma dan sia-sia. Tak ada tempat bagi seorang pendosa sepertiku.
***
Aku masih ingat pada kenangan pahit itu. Kenangan yang tak bakal terlupa untuk seumur hidup.
"Kamu pikir, hidup kita cukup hanya diisi dengan cinta?!" Suara lengking Saskia sepagi itu sudah memecah suasana pagi yang tenang lagi damai. Mengalahkan suara tangis Bea, bayi kami yang belum genap empat puluh hari usianya.
"Bea butuh selimut, popok, dan susu bayi, Mas!"
"Iya, aku mengerti, Kia."
"Mengerti? Mengerti apa? Ayo, jalan! Kerja, cari uang yang banyak!"
"Tapi-"
"Kali ini mau alasan apa? Lihat! Huh, alasan aja kamu sudah nggak punya, apalagi harapan! Apalagi masa depan! Apalagi kekayaan, kebahagiaan?!"
"Ini memang--"
"Eleh, sudah, cukup! Aku nggak mau dengar. Itu deritamu. Jangan seret aku ke dalam penderitaan yang tiada berakhir! Aku muak! Aku bosan!"
Sejujurnya, kata-kata pedas Saskia membuat diriku tak berdaya. Sebagai lelaki, aku sudah tak lagi punya harga diri. Sudah tidak punya lagi apa yang dinamakan kebanggaan dan kehormatan. Akibat PHK enam bulan lalu, telah memaksa diriku jadi penganggur.
Bagaimana remuknya perasaan, saat tak lagi punya uang sepeser pun? Itu yang aku alami hampir setiap hari di dalam rumah tangga belakangan ini. Hanya bisa berdiam diri, melamun, dan duduk mencangkung.
Siapa yang bisa menebak arah masa depan? Siapa pun kukira tidak ingin nasibnya tiba-tiba anjlok, bangkrut jatuh miskin dalam sekejap. Sia-sia kembali mencari pekerjaan baru yang hanya mengandalkan otot dan tenaga. Cacat kaki akibat kecelakaan kerja lantas diamputasi, memaksaku tak bisa jauh melangkah pergi.
Aku tak menyalahkan Saskia. Hidup miskin memang telah membuat kami rendah, serendah-rendahnya. Hinaan dan cibiran sudah makanan sehari-hari. Sialnya, aku tak mampu kembali bangkit untuk mengangkat derajat ke tempat lebih tinggi. Minimal sekadar bisa berdiri tegak.
Apakah benar mitos itu, bahwa suku Jawa dan Sunda tak boleh bersatu di dalam sebuah ikatan perkimpoian? Akan ada kesialan semata bila tetap memaksakan pernikahan. Tragedi Perang Bubat, konon yang memicu timbulnya tabu semacam itu. Ya, tak salah lagi di antara kami berdua memang berlatar belakang kedua suku tersebut. Lalu, kesialan demi kesialan tak pernah putus muncul merundung kehidupan, bahkan sejak hari pertama berumah tangga!
Namun, apakah berbeda harus saling membenci? Ah, entahlah. Sungguh, nasi telah menjadi bubur. Aku tak pernah menyesalinya. Jodoh di tangan Tuhan, pikirku. Satu-satunya yang aku sesali adalah, saat di suatu hari Saskia menghina harga diri. Dia menyuruhku membawa Bea dan mengusir paksa kami berdua!
"Pergi kamu dari rumah ini, Mas! Aku nggak sudi hidup terus-terusan. Kere dan menderita. Blangsak dan hidup melarat! Aku nggak sudi punya suami cacat yang melarat!"
Semua kata-kata kepedihan wanita itu, terus terngiang di telingaku sepanjang jalan. Berjalan sembari menggendong bayi yang masih butuh tetek ibunya. Entah hendak ke mana. Berjalan menyusuri kota yang kejam dan berdebu, bersama kemunafikan para penghuninya, yang hendak aku tinggalkan.
Rasanya, air mata sudah berganti darah. Sejak saat itu aku bersumpah, aku tak boleh hidup miskin dan rudin selamanya! Aku harus kaya raya, jadi raja brana. Jadi raja diraja!
Aku masih terkenang, saat bercerita kepada seseorang yang kasihan dan iba pada hidup kami menggelandang di jalan. Orang itu lantas memintaku datang, menemui seseorang yang terpandang.
Hingga akhirnya terdampar di sini, di sebuah altar pemujaan. Di sebuah gua tua, di kaki Gunung Salak. Telah terjadi negoisasi dan perjanjian gaib di antara kami. Menambah sekutu baru, setelah sebelumnya sempat pula bersemadi di Gunung Kawi. Bertemu dan berkawan baik dengan para makhluk cantik!
***
Sejak isteri terakhir wafat, aku memang selalu diharuskan menikah lagi, lagi, dan lagi. Itu perintah dan mutlak, sebab bila tidak bos bisa ngamuk. Dia atasan yang telah memberi kekayaan berlimpah! Diriku hanya diberi waktu tiga bulan, untuk sendirian. Selebihnya harus kembali bertualang, mencari istri baru. Mencari pengalaman baru.

Si Bos selalu sudi memenuhi segala permintaan, selama aku juga mau memenuhi permintaannya. Sebuah simbiosis mutualisme yang asyik. Dia akan bersedia membekali modal. Tiap malam di bawah bantal, akan selalu ada emas dan uang yang akan memenuhi pundi-pundi milikku.
Aku menjadi duda paling keren di sekitar wilayah Kebayoran. Namun tidak diperbolehkan berlama-lama hidup sendiri. Dia, sang Bos, akan berang. Murka. Aku harus patuh. Enggan melawan dan membuatnya belingsatan. Ia bisa jauh lebih kejam jika seseorang menentang. Hukumannya terasa begitu menyiksa sepanjang usia.

Begitulah. Aku tak sedang berencana untuk jatuh cinta lagi, ketika wanita itu menyerah takluk ke dalam hangat pelukan. Kenalan di sebuah mal, lalu belanja, dan berlanjut makan malam di salah satu resto terlezat, membuat Unge tak bisa melupakan diriku.

Wanita mewah, tinggi, langsing, putih, wangi, dan berparas bidadari itu, tak bisa bilang tidak ketika aku meminta dirinya untuk menjadi seorang istri. Aneh, mengapa hampir semua wanita tak bisa menolak kilau berlian dan sehelai kartu yang bisa digesek buat belanja kapan saja?

Uang memang memiliki mata bening yang cerlang cemerlang. Siapa pun yang memandang, akan silau dan terpukau. Tak terkecuali bagi Unge. Ia bertekuk lutut, pasrah menyerah ketika dihujani hadiah bertubi-tubi.

Pernikahan bagi sebagian orang adalah, cara merayakan cinta. Bisa jadi pula, sebuah mimpi yang menjelma nyata. Namun, tidak bagiku. Untukku, pernikahan adalah sebuah siksaan panjang. Atau lebih tepatnya, mirip perjudian yang dibungkus oleh romantisme. Sama sekali tak pernah ada kemenangan yang mutlak. Hanya ada kesenangan kecil, untuk menunda segala kekalahan. Tak ada jodoh yang benar-benar bisa menjadi pasangan buat seumur hidup!

Hari ini aku kembali menikah. Entah untuk yang kali ke berapa.

Akhirnya aku dinobatkan juga sebagai raja. Dua buah meja buffe di kiri-kanan balairung, telah disiapkan.
Ada pula lima belas meja berisi ice carving, bertulis 'Happy Wedding' di apit dua buah vas bunga besar terbuat dari kaca yang bening.


Ada juga deretan makanan bergaya ala pondokan atau 'food stall' unik, tersedia dalam porsi besar, cukup untuk konsumsi tamu seribu orang. Sesuai undangan yang tersebar.

Sebuah Wedding Organization berpengalaman dan punya reputasi bagus, telah berhasil mewujudkan cita-cita besarku untuk memberikan seorang ibu buat putriku yang cantik dan bergigi taring runcing, yang kini bernama Medusa. Dia bilang, selalu haus dan dahaga. Aku sangat mengerti apa maksudnya. Sabarlah, Nak.

Aku memang tak punya pilihan, sudah terikat perjanjian yang tak bisa diputuskan kecuali oleh putusnya nyawaku. Jam pasir selalu bertengger di meja pada kamar pengantin.

Padahal, kalau mau jujur, aku lebih suka hidup sendiri. Bisa bebas berperilaku. Bisa asosial dan amoral. Lebih terang-terangan menjalani hidup menjadi jahat, ketimbang terus berpura-pura, melewati hari dengan bersandiwara. Namun masalahnya menjadi lain, diri ini dituntut untuk melakukan semacam ritual yang tak bisa ditolak.

Terlebih jika jelang hari-hari terakhir, di bulan yang ganjil. Itu artinya tenggat, alert. Ada sesuatu yang menggelenyar di dalam sini, di balik dada ini. Ah, hidup memang begitu berharga, dan kita selalu bersedia membayar walaupun mahal. Seperti sekarang yang tengah aku hadapi.

Dengan kata lain, aku harus menikah lagi, harus memiliki istri. Sesuatu yang amat kubenci. Mengapa? Sebab aku tak boleh melibatkan perasaan. Tak boleh melibatkan cinta di dalamnya. Akan tetapi, apakah bisa dan sanggup? Bagiku, cukup absurd bercinta tanpa melibatkan perasaan.
Sejatinya, hidupku kosong dan hampa. Namun bila kusadari cita-citaku sejak awal untuk menjadi kaya raya dan berkelimpahan, maka agak terhibur hatiku. Sebab aku tahu: menikah bukan cuma sekadar jodoh, tetapi juga bisnis yang manis. Sementara, istri adalah apa yang kita pilih dan perjuangkan dengan segala risikonya.
Kali terakhir, aku memilih seorang janda kembang ketimbang gadis atau perawan. Alasanku satu: janda selalu lebih menantang untuk ditundukkan! Selain itu, lebih lihai dan berpengalaman. Lalu yang terpenting, selalu mau menerima takdirnya sebagai istri.

Aha! Tidak sia-sia perjuanganku. Tahun lalu aku berhasil mengawini janda beranak tiga. Tidak tanggung-tanggung, itu membuat bosku bahagia. Dia bilang, 'begitulah seharusnya cara kerja di antara kita.' Aku sangat memahami apa maksudnya. Diriku telah memberikan bonus untuknya. Sebuah paket lengkap. Telah kuserahkan dan telah kupersembahkan kepadanya tidak hanya satu, tetapi empat tubuh!

Kenangan yang benar-benar manis, dan sulit untuk dilupakan. Apakah hal ini akan terulang kembali nanti? Aku harap demikian.

Dan malam ini benar-benar menjadi suatu upacara istimewa, buat aku dan putriku. Aku bahagia, menerima ucapan selamat dan doa restu dari para tamu.

Ya, aku sungguh bahagia. Meskipun hanya jadi raja sehari di pelaminan. Di sebuah gedung serba-guna di kawasan Kelapa Gading. Sudah terbayang apa yang akan terjadi nanti. Pasti akan dahsyat dan penuh perlawanan!
...
...


Benar. Malam ini terjadi peristiwa yang luar biasa. Sudah terbayang sejak awal, di menit-menit pembuka. Jam pasir sudah aku balikkan untuk memulai sebuah ritual.

"Kamu sudah siap, Sayang?" Begitu ucapku pada pengantinku. "Kita akan melewati malam pertama--"

'Dan malam terakhirmu!' imbuh sang bosku, ikutan bicara. Hanya aku yang bisa dengar. Sial. Acara belum dimulai, dia sudah hadir duluan di kamar pengantin.

"Malam panjang penuh bulan madu."

Unge, istriku hanya tersipu malu. Menyambut belai kemesraanku. Membiarkan tangan nakalku mengupas dirinya bagai mengupas pisang yang matang!

Kami saling berpeluk, saling memagut dan bergelut. Bertukar ludah dan memilin lidah. Kemudian, entah di menit ke berapa, tiba-tiba kesadaranku perlahan mulai hilang. Ini yang paling kubenci. Di saat aku sedang melenting untuk meraih titik puncak, si bos selalu mengambil alih. Dia lantas bergegas masuk dan menguasai jiwaku. Aku hilang kesadaran, dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya!
...
...
...


Medusa, memainkan lidahnya, menjilati sisa-sisa darah di bibirnya yang basah. Di sebelahnya, kulihat tubuh Unge istriku sudah terbujur kaku. Matanya mendelik, terbelalak.

"Tidaaaak!" Aku menjerit sekerasnya. Selantangnya. Sehebat-hebatnya.

Aku menangis, menyesali apa yang terjadi. Segalanya akan selalu menjadi sebuah ulangan belaka. Akan terus menjelma sebagai sebuah kenangan buruk sekaligus pahit. Sungguh, diriku lelaki terkutuk. Terdesak kemiskinan di masa lalu, dan hidup penuh hinaan dan sarat perisakan, telah membuatku gelap mata.
Aku telah menjual jiwa anakku dan juga jiwaku sendiri kepada iblis dan para siluman keparat!






Ngejedokkk dimari sambil nunggu updatenya…

ceritanya nda berhenti disini kan gan...emoticon-Wakaka
Diubah oleh Sinryusen


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di