CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6bb23528c99104754c7f88/masyarakat-banjar-hulu-dan-kebiasaannya

Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya





Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya



"Bah, Dasar pahuluan nih! Pantas jadul!"

Ungkapan di atas adalah sebuah bentuk ucapan bagi warga masyarakat Kalimantan Selatan yang berasal dari Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, dan Balangan. Kalau ucapan itu diungkapkan secara serius dalam kemarahan biasanya akan diladeni dengan sebuah perkelahian.

Bukan cuma perkelahian tangan kosong. Dahulu sering hanya karena sebutan yang menyatakan bahwa mereka berasal dari pahuluan sudah menyulut banyak kemarahan. Pahuluan identik dengan kuno. Atau bahasa kasarnya, orang gunung. Suku badui kalau zaman Nabi dahulu. Wakar jika mereka tersinggung.

Orang Kalimantan asli kental dengan sebutan orang Banjar. Mereka terbagi dua, Banjar Kuala dan Banjar Hulu. Orang Banjar Hulu sering disebut orang pahuluan.
Quote:

Banjar kuala terdiri dari Banjar Bakula adalah wilayah yang terdiri atas tiga kabupaten dan dua kota yang meliputi sebagian dari wilayah provinsi Kalimantan Selatan. Meliputi Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tanah Laut.

Sementara Banjar Hulu sering disebut warga Banua Anam dengan wolayah gabungan enam kabupaten, yaitu Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong. mereka inilah yang memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan Banjar Kuala.

Dari enam kabupaten ini meskipun banyak terdapat persamaan dalam bahasa, namun gaya bernahasa mereka jauh berbeda. Dalam satu kabupaten saja kadang terdapat perbedaan mencolok. Lagu berbahasanya sering memanjangkan vokal kata di akhir kalimat.

Cara berbahasa inilah sering yang terdengar lucu oleh mereka yang tidak terbiasa mendengar. Apalagi kebiasaan warga masyarakat Banjar Hulu hampir sama. Entah kapan memulainya. Sepertinya jadi kebiasaan turun menurun dari kakek neneknya dahulu.
Quote:

Kebiasaan mereka adalah bercerita. Dan tokoh ceritanya pasti mirip dengan kelakuan konyol. Tokoh Palui yang kemudian diangkat menjadi tokoh dalam cerita lucu warga masyarakat Banjar hulu akhirnya menghiasi rubrik cerita lucu di koran daerah Kalimantan Selatan.

Yang mengherankan adalah padahal biasanya rutin setiap malam sehabis salah isya, mereka pasti punya tempat ngumpul yang permanen. Di depan langgar (musala), teras rumah tetangga, di gorong-gorong, post ronda atau ada yang hanya nongkrong di pinggir jalan.

Setiap orang dari mereka sepertinya masing-masing punya cerita. Kalau dimulai dengan cerita lucu, naka yang lain pun menyambung cerita yang habis dengan cerita lucu lainnya.

Kalau kebetulan yang memulai bercerita dengan cerita hantu atau mahluk halus yang lain pun punya cerita yang sejenis dengan kasus dan kejadian yang berbeda. Namanya cerita dari mulut ke mulut, soal kebenarannya wallahu a'lam. Mereka tak berpikir atau mengkonfirmasi cerita tersebut benar atau tidak. Yang penting bercerita saja.
Quote:

Kadang tokoh-tokoh utama adalah neen datuk yang sudah meninggal. Kadang ketika hidup di zaman Belanda, zaman Jepang, zaman gerombolan Kahar Muzakar, zaman PKI, hingga ketika kemarau, musim hujan. Saking kaya akan cerita, setiap musim buah punya cerita sendiri.

Di sampaing piyawai dalam bercerita, warga masyarakat Banjar Hulu juga sangat lekat dengan acara beyasinan (berkumpul malam tertentu membaca surah yasin secara bergilir setiap munggu).

Hampir di setiap desa ada acara beyasinan. Lebih sering setiap malam jumat. Bergiliran dari rumah warga yang satu ke rumah warga yang lain. Jika gilirannya sudah habis maka kembali lagi ke giliran baru.

Tradisi beyasinan hingga kini masih eksis di masyarakat Banjar Hulu. Untuk warga laki-laki acaranya setiap malam jumat setiap minggu. Sementara untuk ibu-ibu biasanya sore kamis atau sore minggu. Acara yang sama.

Beberapa tahun terakhir, kegiatan bersama warga masyarakat Banjar Hulu adalah membaca maulid Habsyi. Kegiatan ini pun dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah. Namun ada juga yang melaksanakannya di langgar (musala) sehabis salat maghrib.
Quote:

Hampir semua langgar memiliki grup maulid dengan peralatan dan perlengkapan yang disimpaj di ujung langgar.

Yang paking unik adalah ketika peringatan maulid Nabi Muhammad SAW tiba. Undangan peringatannya adalah antar langgar. Kadang dalam satu desa terdapat lebih dari 10 langgar. Mengingat luas langgar terbatas maka pengunjung peringatan tersebut meluber hingga ke pelataran dan jalan-jalan di sekitar langgar.

Tidak itu saja, seperti ada gengsi tersendiri. Maka setiap langgar akan melaksanakan kegiatan yang sama. Akhirnya sebulan penuh kalau sudah datang masa bulan Rabiul Awal. Peringatan Maulid bisa didengar hampir setiap malam dan setiap hari. Bapak-bapak pada malam hari dan ibu-ibu pada sore hari. Persis seperti beyasinan tadi.

Keunikan lain dari warga masyarakat Banjar Hulu adalah ketika ada berita kematian. Semua langgar akan mengabarkan lewat corong langgar. Dan biasanya setiap langgar diminta untuk mewakili dalam.mensalatkan mayit tersebut.

Beberapa tahun Gw sempat tinggal di wilayah Hulu Sungai Utara kadang berpikir. Begitu banyak dan padat acara tersebut bagaimana mereka mengatur waktu antara berkegiatan dan bekerjanya?

Kehidupan dengan kesederhaaan ternyata membuat mereka menyisihkan waktu antara beyasinan, maulidan, kematian, undangan perkimpoian dan lain-lain. Hampir tak terdengar keluh kesah karena banyaknya acara di desa mereka. Setiap ada acara pasti disambut dengan gembira.
Quote:

Pada malam-malam biasa sehabis maghrib, kalau kita berjalan di sekitar rumah warga pasti terdengqr sayup-sayup anak-anak belajar mengaji Al Quran. Kadang ada guru yang mengajari, kadang membaca sendiri. Kadang suara ibu-ibu juga yang mengaji.

Seiring dengan berjalannnya waktu. Modernisasi sudah masuk ke wilayah Banjar Hulu. Televisi sudah terdengar nyaring, suara musik juga mulai menghiasi rumah-rumah warga. Perlahan-lahan sayup-sayup suara orang yang mengaji mulai tergantikan.

Mereka yang dahulunya ketika berkumpul dan bertukar cerita sekarang tetap berkumpul di tempat yang sama. Namun kegiatannya beda. Hanya sesekali saling sapa dan saling berkomentar tentang apa yang dilihatnya dari gawai yang dipegangnya.

Mereka berkumpul bersama, namun berinteraksi dengan orang lain yang entah ada di mana. Obrolan lucu sudah jarnag terdengar lagi. Tidak ada lagi cerita seram yang dibagi.

Kadang ada perdebatan adalah ketika aliran politik mereka berbeda. Elit politik yang didukung berbeda barulah ada obrolan dan debat yang entah tujuannya apa. Ujung-ujungnya saling marah dan bertengkar. Padahal mereka tak tahu apa yang diperebutkan.
Quote:

Begitulah masyarakat Banjar Hulu dengan keasliannya, budaya dan kebiasaannya perlahan lenyap termakan zaman. Kebersamaan terkikis perbedaan. Ketoka dahulu persamaan terlihat akrab, padahal hanya dari sebuah cerita yang sama-sama lucu. Atau cerita yang sama-sama seram.

Sudah saatnya menggali kembali budaya yang mulai hilang tergerus zaman. Mengembalikan tradisi melepaskan gawai pada saat bersama. Membagi cerita masa lalu sepertinya sepele namun banyak pelajaran yang dapat diambil dari cerita yang ada. Terutama kebersamaan dan kekeluargaan.

Di samping itu banyaknya pendatang yang berasal dari daerah lain sangat berpengaruh terhadap tradisi yang ada. Terutama dengan adanya perusahaan-perusahaan yang banyak diisi oleh warga yang berasal dari luar wilayah Kalimantan.

Asimilasi tak seharusnya mengaburkan budaya asli dan kebiasaan masyakarat penduduk asli.




Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Perubahan zaman selalu membawa dampak.
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya

Compassion Dimulai dari Mana?

Ketika kedua orangtua bekerja di luar rumah. Sebagian besar bayi ditinggalkan di jasa penitipan bayi, atau pengasuh bayi. Sampai usia Paud, mereka cepat-cepat dimasukkan ke sekolah Paud, lalu TK, SD, SMP, dan seterusnya.

Mampukah kita orangtua menjamin, bahwa mereka ketika berada di tempat penitipan tersebut mendapatkan pembelajaran perilaku sesuai yang kita inginkan? Yang jelas prasangka baik terhadap mereka yang kita titipi anak tersebut. Namun cukupkah hanya dengan prasangka baik?

Ketika dalam asuhan pengasuh bayi, benarkah pembelajaran perilaku diberikan kepadanya? Mulai dari cara makan, cara minum, cara berbicara, cara sopan santun lainnya.

Atau ketika di sekolah Paud, lalu TK, SD, SMP, dan seterusnya terjaminkah bahwa teman-temannya menjadi pendukung bagi berkembangnya perilaku mulai? Dari sekian banyak teman yang bergaul dengannya, satu di antara sekian teman barangkali ada yang kebetulan berperilaku kurang terpuji. Dan pengaruh jelek biasanya akan lebih cepat diserap dan diikuti.

Sekian banyak pertanyaan dan prasangka kemudian menjadi pikiran bagi sebagian orangtua. Tak sedikit yang cuek bebek. Yang penting sekolah, yang penting cepat besar, lulus sekolah, bekerja, menikah dan pisah dari orangtua.

Bagaimana kontrol perilaku mereka?

Sementara ketika kedua orangtua bekerja di instansi pemerintah (PNS), pinger print teng, akan dimulai pukul delapan, dan pulang pukul empat sore. waktu tempuh diperjalanan sekian menit atau sekian jam. Kalau kota besar, terhalang macet. Hingga akhirnya sampai di rumah, sudah senja.

Persiapan mandi dan lain-lain sambil istirahat dan normal kembali nimimal 1 jam berikutnya. Tinggal kita hitung berapa waktu tersisa untuk keluarga di rumah. Termasuk anak di antaranya.

Dengan begitu, interaksi dengan keluarga menjadi berkurang. Kemudian keluarlah istilah, "Yang penting dalam komunikasi adalah kualitas dan bukan durasi." Bisa benar, bisa juga tidak.

Jika hanya menanyakan hal-hal tertentu bisa memerlukan waktu yang relatif singkat. Atau ketika jelang waktu makan malam, semua anggota keluarga berkumpul. Ada komunikasi yang terbangun. Seberapa lama waktu makan dibutuhkan? Anggaplah satu jam. Nah, dalam satu jam itulah komunikasi yang katanya kulitasnya harus baik.

Dalam waktu satu jam itu, sambil makan pula. Cukupkah untuk mengamati dan memberikan atau diskusi tentang perilaku? Kita semua bisa membayangkan atau mengalaminya mungkin.

Selesai makan, masing-masing sudah kembali ke aktifitas seperti biasa. Bapaknya kalau ada lembur pekerjaan kantor yang dibawa pulang akan melanjutkan bekerja. Demikian juga ibu. Sementara anak-anak juga ada yang belajar, ada yang mainana gawai. Hingga akhirnya masuk kamar dan tidur.

Begitu pagi, masing-masing orang berburu dengan waktu mempersiapkan segala sesuatunya agar tak ketinggaln atau terlambat. Mungkin sarapan pagi sudah jarang dilakukan bersama.

Demikian seterusnya, lalu datang akhir pekan. Masing-masing punya acara sendiri-sendiri. Ibu dengan kesibukannya mempersiapkan kebutuhan untuk satu minggu ke depan. Beres-beres rumah. Bapaknya istirahat total, atau mengejar hobi untuk rekreasi.

Sementara anak-anak sudah punya acara sendiri dengan teman-temannya.

Tak terasa, kita semakin tua, anak-anak menjadi dewasa. Perilaku mereka bagaimana? Tak sempat terpikirkan. Yang penting tak melakukan kejahatan. Titik.

Akhirnya jangan heran ketika kita sudah beranjak tua. Tinggal hanya berdua, suami istri. Anak-anak sudah tinggal sendiri dengan keluarganya. Mengikuti rutinitas yang kita ajarkan hingga mereka dewasa. Sebagian mereka lupa pada kita.

Mereka mengakui dan berterima kasih telah mengasuh dan mendidik mereka. Kadang ketika lebaran atau natalan setahun sekali berkumpul. Berkangen-kangen ria. Setelahnya? Kembali lagi dengan rutinitas seperti biasa. Sementara pada hari-hari biasa, kita jarang berkomunikasi dengan anak-anak kita.

Makanya banyak kita temukan, terutama di negara maju dan modern, kita orangtua dikembalikan seperti pembelajaran kita ketika mereka kecil. Ditipkan! Panti-panti jompo bertebaran. Para perawat dibayar dengan uang.

Lalu kemana kasih sayang, welas asih, empati, kasihan/terharu? Entahlah. Karena yang anak kita kenalkan adalah seperti itu. Jadi itulah yang mereka ketahui.

Makanya pernah pak Mendikbud mengemukakan tentang dosa pendidikan. Salah satunya adalah mengembalikan pendidikan pada jati dirinya. Yaitu compassion. Dimulai dari penghapusan UN. Karena ketika UN masih menjadikan acuan kelulusan, maka pendidikan hanya dinilai dengan angka. Perilaku menjadi tidak berarti apa-apa.

Dalam kesempatan lain beliau juga pernah mengemukakan tentang Compasion dan Computational Thinking. Untuk pembenahan perilaku menggunakan Compassion, sementara untuk peningkatan kecerdasan menggunakan Computational Thinking.

Seperti dilansir laman cnbcindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah Computational Thinking dan Compassion. (18 Februari 2020)

Pada kesempatan ini, kita hanya bahas salah satunya saja yaitu Compassion.

Menurut KBBI, Compassion artinya keharuan, perasaan kasihan/terharu, membangkitkan rasa kasihan. Dalam makna yang termasuk dalam istilah compassion adalah welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Cerita di atas adalah cerita hidup dalam kondisi normal. Walau pun kadang cerita berbeda dengan kondisi nyata. Ada yang lebih baik, tapi tak sedikit yang lebih buruk.

Lantas sebaiknya bagaimana?

Compassion adalah naluri manusia. Ketika lahir mereka dibekali dengan compassion dalam dirinya. Dalam islam disebut fitrah manusia. Lingkungan kemudian yang jadi pengaruh perubahan pertama kali. Setelah itu dibentuk kembali oleh pendidkan.

Nah, peran penjagaan, pemeliharaan terletak pada keluarga. Oleh karenanya Compassion harus dimulai dari lingkungan keluarga. Sejak dini jika bisa. Peran penting ibu sebagai perawat dan pemelihara bayi hingga besar menjadi tiang utama. Berikutnya ayah, saudara, keluarga dekat, lingkungan sekitar, dan pendidikan (sekolah).

Pembiasaan Compassion di dalam rumah dimulai dari hal yang paling sederhana. Peran orangtua jelas adalah pemberi contoh teladan.

Misalnya ketika berpapasan dengan anak memberikan senyuman, berkata lembut dan penuh kasih sayang, berempati ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit. Kebiasaan, saling menyalahkan. Dan ini akan berakibat buruk bagi perkembangan perilaku anak.

Banyak sekali contoh-contoh Compassion yang dapat dibiasakan di dalam rumah. Yang jelas, pembiasaan merupakan yang terpenting. Dalam kondisi apa pun, jangan meninggalkan Compassion di dalam rumah.

Dengan begitu lambat laun Compassion tertanam dalam diri anak dan membekas hingga mereka dewasa.

Orangtua tak pernah berharap meminta balasan atas jerih payah yang diberikan, tetapi tak ingin juga ketika kita tua merana ditinggalkan anak-anak kita.***




Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Diubah oleh Surobledhek746
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya


Lulusan Sarjana, Lengkapi Dirimu dengan "Hybrid Skill"!

Lapangan kerja makin sulit. Kompetensi yang dimiliki dengan kompetensi lapangan kerja yang dibutuhkan belum seimbang. Di era revolusi industri 4.0 seorang tenanga kerja harus memiliki hybrid skill dalam dirinya.

Hal itu terungkap berdasarkan Laporan Emerging Jobs 2019 di Indonesia oleh LinkedIn. Platform ini menganalisa jutaan input pekerjaan yang unik dalam lima tahun terakhir, dan menemukan bahwa lima pekerjaan yang paling diminati semuanya adalah yang berhubungan dengan teknologi, banyak dari pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan kemampuan manajemen dan komunikasi.(Indotelko.com)

Seperti apa sih hybrid skill itu?

Hybrid skill adalah kompetensi teknis dan kompetensi sosial yang dipadukan. Kompetensi teknis berkaitan dengan kemampuan seseorang pada bidang teknologi informatika. Sementara kompetensi sosial erat dengan keterampilan berbahasa dan bersosialisasi.

Perubahan kondisi perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia menuju era digital memaksa para lulusan sarjana menguasai kompetensi teknis berkaitan dengan teknologi informatika. Kompetensi ini tidak didapatkan dibangku kuliah. Kecuali bagi lulusan sarjana teknologi informatika.

Jika hanya diperuntukkan bagi lulusan sarjana teknologi informatika, bagaimana nasib lulusan sarjana lainnya? Mau tidak mau, kompetensi teknis harus menjadi pelajaran tambahan bagi mahasiswa. Entah didapat di kampus maupun lembaga pelatihan lainnya. Jika tidak ingin tertinggal dalam persaingan mendapatkan lapangan pekerjaan.

Demikian juga dengan kompetensi sosial, kemampuan berbahasa asing. Bahasa yang banyak dibutuhkan oleh perusahaan adalah bahasa Inggris dan Mandarin.

Kita pasti tidak ingin lapangan kerja yang ada di negeri kita diisi oleh para pekerja dari luar negeri karena daya saing kita kalah dalam kompetensi bahasa dan kompetensi teknis tersebut. Mengingat bahwa perusahaan yang banyak beroperasi di Indonesia adalah perusahaan asing.

Mencermati hal tersebut, sudah selayaknya mulai dari hulu, para mahasiswa dibekali hybrid skill oleh kampusnya. Dengan menyisihkan sekian SKS dalam perkuliahannya untuk menggodok mahasiswa meningkatkan kompetensi telnis dan kompetensi sosialnya.

Dengan demikian sudah tidak mungkin lagi kurikulum di kampus bertahan pada paradigma dan lagu lama. Mengejar ketertinggalan dalam hybrid skill bagi para mahasiswanya.

Demikian juga pada jenjang SMA, pengenalan dan pembekalan hybrid skill pada peserta didiknya sudah harus mulai giat dilaksanakan. Baik melalu pembelajaran dalam kelas maupun kegiatan ekskul di sekolahnya.

Mengingat bahwa persaingan kerja semakin sengit, maka lulusan sarjana harus mampu beradaptasi secara cepar pada lingkungan kerja. Proyek magang yang saat ini sedang digalakkan oleh kempus dengan perusahaan menjadi salah satu solusi pengenalan terhadap dunia kerja.

Keinginan terbesar adalah bahwa tenaga kerja yang akan mengisi perusahaan berupa tenaga kerja yang mudah beradaptasi.

Pemahaman yang terkini terhadap kebutuhan dan pasokan keahlian, ketersediaan tenaga kerja, dan perubahan tenaga kerja adalah tahapan awal untuk melahirkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan.

Solusi yang dapat ditempuh?

Untuk membekali diri dengan hybrid skill bagi sarjana yang saat ini belum mendapatkan pekerjaan, jika ingin ikut bersaing di lapangan pekerjaan yang ada di perusahaan mau tidak mau mulai sekarang mulai belajar dan berlatih kompetensi teknik dan kompetensi sosial. Lembaga bimbingan terkait kompetensi teknis dapat dipelajari dan dilatih di lembanga bimbingan teknologi informatika dan komunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Di samping itu kompetensi sosial juga menduduki posisi sangat penting. Hampir di semua kota di indonesia berdiri lembaga bimbingan bahasa. Dengan belajar dan berlatih kompetensi sosial pada lembaga bahasa tersebut kompetensi sosial yang diminta oleh perusahaan penyedia lapangan kerja dapat kita penuhi.

Jika tak sanggup mengejar dua kompetensi tersebut jangan berkecil hati, masih banyak lapangan kerja lainnya. Apa itu? Jika tak ingin bersaing di perusahaan penyedia lapangan kerja, para sarjana juga masih mampu membuka lapangan kerja sendiri. Menjadi bos bagi sebuah usaha, bagaimana pun kondisinya akan lebih membanggakan dari pada bekerja pas bos.

Ternyata untuk menjadi bos pada kegiatan usaha milik sendiri seinformal apa pun tetap saja membutuhkan hybrid skill. Pemasaran melalui media sosial tetap membutuhkan hybrid skill.

Oleh karena itu, era revolusi industri 4.0 memaksa siapapun untuk memiliki hybrid skill. Baik kita sebgai bosnya maupun sebagai pekerjanya. Jadi tak ada salahnya menyisihkan waktu mulai sekarang mengejar ketertinggalan mengejar hybrid skill yang belum mumpuni kita miliki.***



Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Compassion, Kompetensi Tambahan dalam Kurikulum ala Nadiem, Yuk Kita Laksanakan

Bismillahirrahmanirrahim (kalimat basmallah). Dalam kalimat tersebut pembaca diperkenalkan dengan dua sifat Tuhan, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang Maha Kasih dan Maha Penyayang.
Manusia diminta untuk memiliki semangat kasih dan sayang.

Wahai guru se Indonesia, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Awaluddin Tjalla menyatakan akan menambahkan dua kompetensi tambahan pada kurikulum kita, yaitu computational thinking dan compassion.

Bagaimana? Siapkah, atau pensiun dini saja karena tak mampu mengimplementasikannya pada pembelajaran?

Oh, iya. Tak usah pesimis dahulu. Compassion memang sebuah istilah yang baru kita dengar dan masih asing di telinga kita. Apa sih compassion? Bagaimana mengimplementasikannya dalam pembelajaran?


Tenang saja, setiap ada penambahan muatan baru dalam kurikulum pasti akan ada pelatihan besar-besaran lagi. Jadi jangan khawatir. Kita pasti akan bertemu dan bertatap muka lagi dengan rekan sesama guru.

Seperti dilansir laman cnbcindonesia.com, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan dua kompetensi baru dalam sistem pembelajaran anak Indonesia. Dua kompetensi tambahan itu adalah Computational Thinking dan Compassion. (18 Februari 2020)

Baiklah, saya hanya coba buka arsip catatan lama tentang istilah compassion dalam pembelajaran. Semoga saja apa yang ada di kepala saya sesuai dengan makna Compassion yang dimaksudkan Pak Nadiem Makarim dan Pak Awaluddin Tjalla.

Menurut KBBI, Compassion artinya keharuan, perasaan kasihan/terharu, membangkitkan rasa kasihan. Dalam makna yang termasuk dalam istilah compassion adalah welas asih, empati, kasih sayang, dan lain-lain.

Pendidikan karakter telah memuat compassion sebenarnya. Masalahnya ada di mana?

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dijelaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat. Keberadaan UN dianggap jadi salah satu gagalnya pendidikan karakter di sekolah.

Sejalan dengan UU di atas, pengembangan pribadi harusnya menjadi prioritas utama. Dengan UN yang menentukan kelulusan dan tidaknya peserta didik membalik posisi bahwa tingkat kecerdasan menjadi sangat penting di antara segalanya.

Untuk memenuhi nilai yang tinggi, akhirnya seluruh upaya berfokus pada nilai. Sebuah angka yang harus diraih oleh peserta didik. Makanya tidak mengherankan ketika sekolah dan orangtua memberikan bimbingan belajar untuk peserta didiknya.

Banyak kepala sekolah yang bangga ketika sekolahnya mendapatkan nilai tertinggi ujian nasional, meskipun sikapnya dalam sosial buruk.

Kondisi ini diperparah dengan respons masyarakat yang menganggap, bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang dapat menghasilkan nilai ujian nasional tinggi. Padahal, obsesi seperti itu menguras banyak energi, biaya, dan waktu.

Buruknya, obsesi tersebut terkadang mengorbankan kejujuran. Pelaku pendidikan rela melakukan apa pun agar siswanya lulus dengan nilai baik. Akhirnya, berbagai potensi anak tidak diurus, sebab semua proses pembelajaran hanya fokus pada beberapa mata pelajaran ujian nasional saja.

Ketika UN tidak ada lagi, tidak ada salahnya jika meninjau kembali fondasi pendidikan di negeri ini yang masih berorientasi pada penalaran matematis. Bukankah tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia, yang tidak lain adalah manusia beradab?

Sebuah cerita singkat dari sesepuh suku Badui, mengapa suku Badui tak mau menyekolahkan anaknya. Katanya, mengapa anaknya harus sekolah. Dijawab, anak sekolah biar pintar. Sesepuh suku Badui menjawab, Kami tidak mau menyekolahkan anak kami. Kami tidak ingin anak kami pintar, tapi kami ingin anak kami baik.

Jawaban singkat dari sesepuh Badui dalam kisah singkat di atas sangat sederhana, tetapi menjadi kritik bagi dunia pendidikan kita. Substansi dari jawaban tersebut adalah mengharapkan output pendidikan adalah manusia yang beradab.

Untuk menciptakan manusia beradab, maka diperlukan seperangkat nilai yang harus dijadikan dasar, yakni compassion.

1. Mengembangkan Kebersamaan
Untuk mengembangkan rasa welas asih dan empati (rasa kasihan) dimulai dari membangun kebersamaan. Dengan model pembelajaran berkelompok, rasa kebersamaan dapat dibangun dengan kesadaran. Yang lebih mengerti memberikan bantuan temanya menyelesaikan pelajaran yang sedang dihadapi.

Pujian guru tidak lagi kepada peserta didik yang mendapatkan nilai terbaik, namun lebih menekankan pada rasa kebersamaan. Ketika ada peserta didik yang dengan sabar membantu masalah temannya yang mengalami kesulitan belajar harus mendapatkan pujian lebih besar.

Posisi tempat duduk menghadap ke depan menandakan peserta didik harus berjuang sendiri dalam memahami pelajaran. Kerja kelompok jarang menjadi ukuran. Pujian lebih sering diberikan kepada seorang peserta didik yang mampu menjawab soal.

Proses belajar seperti ini menegasikan individu lainnya. Peserta didik yang pintar semakin sombong, sementara yang tidak mampu menjawab soal semakin terpuruk. Mereka dianggap tidak berarti di kelas. Akhirnya rasa kebersamaan perlahan pudar.

2. Rasa Persahabatan
Kita sebagai guru dan orangtua jarang memantau tingkat sosialisasi peserta didik. Menanyakan berapa jumlah teman, siapa saja temannya di sekolah, rumah temannya di mana, dan sebagainya.

Orangtua lebih sering menanyakan bagaimana ujian di sekolah, ada PR atau tidak, dapat peringkat berapa. Kalau nilai anak jelek, orangtua segera mengundang guru privat. Seolah-olah sekolah hanya perkara nilai, bukan persahabatan.

Dengan menekankan bahwa nilai sebuah persahabatan itu sangat penting kepada peserta didik dalam pembelajaran. Membantu teman yang mengalami kesulitan belajar dan membantunya juga menumbuhkan rasa persahabatan di antara peserta didik.

Penilaian dari guru terkait masalah persahabatan dapat berupa penilaian oleh sesama peserta didik. Dengan menanyakan berapa teman yang disukai, apa saja yang menyebabkan mereka disukai, dan sebagainya mampu menumbuhkan rasa persahabatan sesama peserta didik. Orientasi nilai prestasi menjadi nomor dua setelah rasa persahabatan.

3. Menumbuhkan Kepedulian
Kepedulian terhadap orang lain menjadi hal penting membantu pertumbuhan kepribadian peserta didik. Dua fondasi kepedulian dalam konsepsi compassion adalah simpati dan empati. Proses pembelajaran juga harus memberikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan rasa simpati dan empati terhadap orang lain.

Hal sederhana dapat diawali membiasakan mendoakan teman sekelas yang mendapatkan musibah. Mengajak siswa menengok teman sekelas yang sakit. Mengumpulkan sumbangan bagi teman atau kerabat dari teman yang terkena musibah.

Sebenarnya, banyak model untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati tersebut. Mungkin yang paling berkesan ketika memberikan hadiah sepatu kepada teman sekelas yang sepatunya rusak atau tidak layak.

Memberikan hadiah baju seragam, buku tulis, pulpen, dan barang-barang lain yang berharga bagi membantu teman sekelasnya yang mengalami kesusahan

Menurut penelitian Stephen Post dalam bukunya Why Good Things Happen to the Good People, remaja yang sering berbagi sesuatu dengan temannya akan berkurang tingkat stress dalam proses belajar.

Sekolah harus yakin bahwa nilai bukan ukuran segala-galanya dalam menilai kesuksesan peserta didik. Terlalu banyak potensi peserta didik yang dikesampingkan jika nilai menjadi parameter keberhasilan.

Semoga compassion dapat teraplikasi pada pembelajaran di dalam kelas. Dengan kesadaran penuh bahwa compassoin teramat penting menjadikan peserta didik menjadi orang baik seperti peringatan yang disampaikan sesepuh suku Badui tadi. Semoga.***
profile-picture
kelayan00 memberi reputasi
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya



Bercerita tentang Hantu pada Anak, Boleh atau Tidak Ya?

Hai ibu muda, masih ingat ketika kita kecil dahulu. Hayo, siapa yang sebelum tidur berikan cerita tentang hantu oleh ibunya? Yakin, pasti sekarang ibu muda takut sama mahluk yang namanya hantu.

Siapa yang takut sama hantu? Pasti ibu muda malu mengaku. Biasanya bila sedang rewel sulit tidur pasti ketika mendapat cerita tentang hantu langsung takut, menarik selimut. Mata yang mulanya terang akhirnya dipaksa terpejam. Tertidur juga akhirnya.

Ketika ibu muda punya anak pasti membalas dendam. Bila anaknya rewel cara paling mudah adalah memberikan rasa takut dengan menceritakan bahwa ada hantu. Anak pun akan takut dan memaksa untuk tidur. Pelangalaman masa lalu yang turun temurun tetap dilakukan.

Anak milenial takut hantukah? Ternyata karena gawai di tangan banyak tayangan yang ia lihat, baik dalam bentuk game, video, dan film yang menanyangkan tentang hantu. Mulai dari film hantu yang lucu sampai memburu hantu. Memnuat anak milenial tak takut lagi pada hantu.

Walau begitu tak sedikit yang lari dari takut hantu menjadi takut kegelapan. Banyak anak yang takut pada kegelapan. Mungkin ibu muda juga takut pada kegelapan. Apa sih yang sebenarnya dipikirkan?

Hantu, dalam istilah dimaknai dengan roh jahat yang menghuni tempat-tempat tertentu. Tempat tersebut kemudian disebut angker. Menjadi tempat yang ditakuti, baik oleh anak maupun oleh orang dewasa.

Sebenarnya hantu itu ada atau tidak sih? Namanya kepercayaan, ada yang mengatkaan hantu itu ada. Ada juga yang mengatakan bahwa hantu itu tidak ada. Kita tak bisa memaksakan juga pada mereka bahwa hantu itu tidak ada.

Demikian juga pada mereka yang tidak percaya akan adanya hantu. Beberapa orang barangkali telah mengalami kejadian ganjil yang secara akan sehat tidak bsa diterjemahkan sesuai logika. Pada mereka ini kita tidak mungkin membantah bahwa hantu sebenarnya tidak ada.

Jadi, masih takut pada hantu? Silakan takut. Namanya manusia, bebas, boleh takut boleh tidak. Jangan memaksakan orang lain untuk takut pada sesuatu yang tidak terlihat. Juga tidak boleh memaksakan tidak takut pada orang yang telah mengalami peristiwa terkait mahluk bernama hantu.

Kalau tentang kegelapan, siapa pun wajar takut akna kegelapan. Karena dalam ruang yang gelap apa pun bisa terjadi. Ketika kita berjalan bisa saja tersandung barang-barang yang akan mencelakakan atau ada binatang yang akan mencelakai kita. Namanya juga tidak melihat di sekitar kita.

Pasti semua akan sepakat, kegelapan memberikan rasa ketakutan terkait dengan terancamnya keselamatan diri kita.

Kalau kemudian menceritakan tentang hantu kepada anak bagaimana? Banyak cerita lain yang lebih bermanfaat untuk didengar oleh anak, buat apa juga menceritakan tentang hantu.

Daripada membuat anak takut pafa sesuatu yang sebenarnya belum tentu ada dan tidaknya mendingan tak usah bercerita tentang hantu. Apalagi mengait-ngaitkan tentang orang yang bunuh diri nanti matinya akan jadi hantu. Pasti tidak akan mendidik anak sama sekali.

Nah, ibu muda kalau mau bercerita sebaiknya bercerita apa? Itulah sebabnya sebagai seorang ibu yang pasti akan sangat dekat dengan anak tak ada salahnya menambah ilmu.dan wawasan tentang banyak cerita yang mendidik. Banyak membaca buku cerita sangat beguna mempersiapkan diri untuk mengasuh anak.

Bercerita sebelum tidur sangat membantu perkembangan jiwa anak di masa yang akan datang.





Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya




Supir Taksi Saat Wabah Corona

Beberapa hari lalu saya baru saja kembali dari perjalanan dinas dengan pesawat udara, dan menghadapi pemandangan cukup mengagetkan ketika keluar pintu bandara menuju ke parkiran taksi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri taksi biru berjajar menanti penumpang, bersama dengan taksi warna lainnya.

Biasanya kami para penumpanglah yang mengantri taksi, terutama berwarna biru selepas mendarat di bandara Soetta, bahkan rela hingga satu jam menanti. Sekarang benar-benar terbalik kondisinya, justru mereka yang menunggu kami dengan harapan masih menggunakan jasanya.

Sayapun langsung disergap beberapa petugas taksi yang kebingungan mencari penumpang. Akhirnya saya pilih taksi warna putih karena merekalah yang sebenarnya termasuk sulit mendapatkan penumpang dibanding si biru. Begitu masuk taksi sayapun langsung bertanya pada pak supir apa yang sebenarnya terjadi.

"Sudah lama nunggu pak? Tumben si biru ngantri panjang?" tanya saya.


"Alhamdulillah, saya dari jam empat sore kemarin, baru jam sepuluh pagi ini dapat penumpang Bapak." jawab pak supir.

"Haaaa?" Mata sayapun terbelalak mendengar jawaban beliau.

"Kemarin saja saya cuma dapat satu penumpang dari Halim, lalu coba cari peruntungan di Soetta, siapa tahu ada rezeki. Lha baru pagi ini rezeki datang," tukasnya.

"Jadi benar-benar sepi pak?"

"Ya begitulah. Ada satu penumpang saja mampir di pembantaran taksi sudah syukur,"

"Jadi bapak menginap di bandara?"

"Iya pak, sama seperti yang lain."

Astaghfirulloh. Air mata langsung menetes mendengar keluh kesah beliau. Kebayang betapa sulitnya mencari penumpang di saat seperti ini. Hari biasa saja mereka sudah bersaing dengan ojek online, apalagi pada kondisi sekarang ini. Benar-benar mengerikan melihat dampak langsung dari wabah corona yang sedang melanda negeri ini.

Dampaknya tak sekedar banyaknya jumlah korban yang sakit dan meninggal, tetapi juga merambat pada menurunnya kegiatan ekonomi yang berimbas pada berkurangnya pendapatan secara signifikan terutama pada masyarakat yang penghasilannya bergantung pada konsumen seperti supir taksi, ojol, dan usaha kecil lainnya.

Kebijakan untuk merumahkan siswa dan para pekerja juga berdampak langsung pada menurunnya penghasilan para pengemudi ojol baik roda dua maupun roda empat.

Saat saya berada di sebuah kota kecil, supir taksi online mengeluhkan menurunnya pendapatan akibat libur sekolah dan orang kerja. Biasanya dia dapat order mengantar anak sekolah pagi hari dan pulang kerja di sore hari, namun beberapa hari terakhir nyaris tak ada order dari langganannya, hanya tamu-tamu selintas seperti saya ini.

Demikian juga dengan supir rental harian, biasanya mereka selalu kebagian mengantar tamu setiap hari. Sekarang baru saya saja yang mengambil ordernya setelah beberapa hari off akibat di-cancel para pelanggan yang sudah memesan namun tak jadi berangkat.

Bahkan order ke Jogja dan Malangpun dibatalkan karena obyek wisatanya tutup sehingga konsumen terpaksa menunda liburannya dan membatalkan sewa mobilnya.

Selain taksi online dan offline, beberapa pedagang oleh-oleh terutama yang biasanya ramai dikunjungi konsumen luar kota sudah tutup mulai hari Senin kemarin.

Mereka dihimbau untuk tutup oleh pemerintah setempat untuk menghindari penyebaran virus corona akibat berdesakan di tempat yang sempit. Sayapun terpaksa mengetuk pintu toko di sebelahnya yang juga ikutan tutup, namun masih membuka toko bila dipencet belnya dan hanya melayani sedikit orang saja.

Lagi-lagi, setiap ada peristiwa seperti ini, orang kecil seperti merekalah yang menjadi korban pertamanya. Orang-orang gajian seperti saya mungkin masih bisa bertahan hidup karena pendapatannya relatif tetap, tapi bagaimana dengan mereka yang mengandalkan hidupnya pada konsumen yang tidak tentu datangnya.

Kita tak bisa hanya bilang mari berkorban demi mempercepat hilangnya wabah, karena mereka sudah terlalu banyak berkorban untuk kita yang berpenghasilan tetap.

Bersyukurlah ada upaya berbagai pihak untuk menolong mereka seperti memesan makanan online untuk mereka, melebihkan pembayaran jasa taksinya, dan berbagai upaya lainnya untuk sekedar melepas beban berat sementara waktu.

Namun diperlukan upaya jangka panjang untuk menyelamatkan mereka dari krisis yang sudah bisa dikatakan multidimensi ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan melanda negeri ini.

Virus corona tidak hanya menyerang manusia saja, tetapi juga roda perekonomian dunia termasuk negeri ini. Korbannya tidak hanya penderita tetapi juga masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya pada orang-orang kaya yang mempekerjakan mereka.

Penyelesaian masalahnya harus komprehensif, tidak sekedar menyembuhkan penderita dan melokalisasi wilayah terdampak alias lockdown saja. Jangan sampai hanya karena fokus pada penanganan wabah virus corona, dampak multidimensinya terabaikan.






Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya



Dengan Sikat Gigi, Bersih Luar Dalam

Memerintahkan anak untuk menyikat gigi sehabis makan, atau menyikat gigi sebelum tidur bagi sebagian orangtua terasa sangat sulit. Kadang jangankan menyuruh anak atau anggota keluarga lain, dirinya sendiri saja sering tidak sikat gigi sebelum tidur.

Untuk membiasakan sikat gigi pada anak memang sangat sulit. Perlu ketelatenan dan terus menerus. Bila lengah sekali, dua kali bisa-bisa kebiasaan sikat gigi sebelum tidur terlupakan. Jatuhnya kadanh sikat gigi bila ingat, kadang tidak.

Ketika sudah merasa sakit gigi baru sadar ternyata sikat gigi malam sebelum tidur sangat penting. Padahal tidak mungkin sakit gigi jika tidak ada gigi berlubang. Kalau sudah berlubang satu, alamat akan merembet-rembet ke gigi lainnya.

Pengalaman saya, yang paling cepat membuat gigi berlobang itu adalah ketika makan malamnya fengan lauk daging. Bisa daging sapi, kambing, ayam, bebek, burung, pokoknya asal daging kemudian sebelum tidur tidak sikat gigi, sementara ada daging yang terselip di sela gigi tanpa kia sadari. Tau-tau, berapa hari berikutnya ada lobang pada gigi.

Berapa kali sih idealnya kita menyikat gigi selama sehari semalam itu?

Saya pikir, semakin banyak frekuensi menyikat gigi makan akan baik bagi gigi. Ternyata menurut dokter di hellosehat.com, Menurut American Dental Association (ADA), sikat gigi idealnya dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari dengan pasta gigi selama 2 menit. Aturan sikat gigi ini terbukti mampu mengurangi plak sehingga risiko gigi berlubang jadi menurun.

Kalau hanya dua kali berarti menyikat gigi yang ideal adalah sebelum tidur dan bangun tidur. Bisa juga sering-sering menyikat gigi tapi tidak menggunakan pasta gigi, mungkin.

Nah, apa kaitan antara #sikatgigimalam, bisa bikin bersih luar dalam? Sepertin udul tulisan ini. Baiklah kita tidak akan mencoba klikbait atas judul dan isi tulisan ini. Saya hanya mencoba mengaitkan relasi antara menyikat gigi sebelum tidur yang harus menjadi kebiasaan menghasilkan mulut yang bersih.

Istilah "mulut bersih" antonimnya adalah "mulut kotor" yang sering diucapkan pada orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain, suka mengadu domba, suka menfitnah, suka nyinyir, dan sebagainya.

Saya teringat sebuah semboyan "Mens sana in corpore sano" yang biasa kita artikan sebagai dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Makna awalnya adalah "di dalam pikiran nan sehat terdapat pada tubuh nan sehat" Ujaran tersebut dalam bahasa Latin berbentuk, mens sana in corpore sano, merupakan karya sastra seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Juvenalis, pada karya bertajuk Satire X, sekitar abad kedua Masehi. (Merahputih.com)

Dalam merahputih.con selanjutnya disebutkan, John Hulley asal Inggris. Dia menggunakan semboyan klasik itu sebagai motto untuk Klub Atletik Liverpool pada 1861. Motto ini melengkapi visi elit abad kesembilan belas tentang olahraga di Inggris. Di sekolah-sekolah berasrama di Inggris, anak laki-laki kaya tidak hanya menerima pendidikan intelektual, tapi juga pelatihan fisik menyeluruh.

Sampai saat ini kita masih sering mengucapkan "mens sana in corpore sano" atau kadang ditambah dengan kata mutiara dari ajaran Islam, "kebersihan sebagian dari iman."

Artinya pada saat anggota tubuh sehat maka jiwa juga akan sehat. Atau menjaga kebersihan anggota tubuh dan lingkungan sekitar adalah sebagian dari iman. Begitu pentingnya kebersihan.

Bagimana dengan gigi? Sudah disikat, tapi "mulutnya masih kotor", suka suka menjelek-jelekkan orang lain, suka mengadu domba, suka menfitnah, suka nyinyir dan sebagianya. Ternyata dari gigi yang bersih tak menjamin mulit jadi bersih. Secara fisik memang bersih, tak ada koman yang bersarang di mulut.

Lantas bagaimana #sikatgigimalam bisa membuat mulut bersih luar dalam?

Arsitek, ternyata entah terpikir atau kebetulan meletakkan cermin pada toilet/kamar mandi. Secara normal mungkin ketika mandi dan aktifitas lain di toilet/kamar mandi bisa sambil melihat sesuatu dari bagian tubuh kita. Barangkali untuk mempadu-padankan aktifitas dengan melihat cermin.

Di balik semua itu, ada hikmah tersembunyi dari adanya cermin dalam toilet/kamar mandi. Bagi kita yang sempat berpikir ketika melihat gigi bersih setelah sikat gigi, seharusnya ingat pula "mens sana in corpore sano." Di dalam gigi yang bersih terdapat mulut yang bersih. Kalau mulit sudah bersih tak mungkin ada orang yang akan mengatakan "mulut kita kotor."

Nah, bagaimana jika di samping membersihkan gigi dengan cara #sikatgigimalam kita juga membersihkan hati agar mulut dengan gigi yang bersih tersebut dengan ucapan terbaik.

Menjaga ucapan terbaik memang sulit. Anjuran Islam jelas, jika tak bisa berkata baik sebaiknya diam. Atau slogan "Diam itu emas" dan slogan-skogan lain yang intinya adalah agar kita berhati-hati menjaga mulut kita.

Dimulai dengan sikat gigi dua kali sehari memakai pasta gigi sesuai anjuran dokter, kemudian menjaga mulut tetap bersih dengan menjaga ucapan yang mungkin akan menyakiti hati orang lain.

Mulutmu harimaumu! Tak sedkit orang yang karena ucapannya harus berurusan dengan yang berwajib dan akhirnya meringkuk dalam penjara.

Jadi sebelum menyesal, mari kita jaga gigi supaya tidak skait gigi, jaga mulut supaya tidak menyakiti.





Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya
Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya




Seandainya Waktu Bisa Diputar Ulang, Pelajaran dari "Go Back Couple"

Bermula dari Choi Ban-Do (Son Ho-Jun) dan Ma Jin-Joo (Jang Na-Ra) keduanya berusia 38 tahun dan pasangan suami-istri. Choi Ban-Do telah terbebani dengan menjadi pencari nafkah dan Ma Jin-Joo adalah seorang ibu rumah tangga dengan harga diri rendah.

Meskipun mereka saling mencintai saat mereka menikah, mereka sekarang saling membenci. Mereka berdua menyesal menikah di usia muda. Pasangan ini melakukan perjalanan melalui waktu dan mendapati diri mereka sebagai mahasiswa berusia 20 tahun, saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. (Tentangsinopsis.com)

Dengan ending yang bahagia, mengisyaratkan pada kita bahwa keinginan terbesar ketika awal pernikhan adalah ingin sakinah mawaddah wa rahmah. Nyatanya tai sedikit pernikahan yang berakhir dengan perpisahan. Dan anak-anaklah yang jadi korban.

Pelajaran terbesar dari drakor 12 episode yang saya tonton sehari semalam kelar ini menyampaikan bahwa komunikasi dalam keluarga sangat penting. Kesalahan komunikasi akan berakibat buruk. Masalah sepele jika bertumpuk-tumpuk dapat menjadi sebab berantkannya sebuah rumah tangga.

Menikah muda kadang kondisi ekonomi belum mapan dan beratnya beban pekerjaan, membuat suami kelelahan serta kurang pengertiannya istri terhadap suami memicu pertengkaran-pertengkaran kecil yang panjang.

Demikian juga bercanda yang kelewat batas terhadap pasangan, apalagi membully pasangan pasti akan menyakitkan. Niatnya sih, mulanya hanya bercanda. Bercanda yang terlalu akan berakibat buruk.

Merasakan perasaan orang lain dari kacamata kita tidak selalu benar adanya. Sesekali merasakan apa yang dirasakan orang lain, terutama pasangan layak mendapat perhatian.

Bagaimana lelahnya suami yang bekerja di luar rumah mencari nafkah, dibaringi dengan pemahaman yang benar oleh istri yang berbuat sebaik mungkin melayani suami. Demikian juga suami perlu memperhatikan istri juga lelah telah mengurus rumah dan anak, tak kenal waktu tak kenal lelah.

Sebagai seorang anak laki-laki, kewajiban utama menurit ajaran islam tetap menjadikan orang tua sebagai prioritas utama. Menyayangi ibu terlebih lagi.

Baginda Rasulullah SAW, memberikan anjuran bahwa ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang siapa yang layak dihormati dan utamakan. Beliau SAW, tiga kali menyebut ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu.

Demikian juga Baginda SAW mengajarkan untuk seorang istri, jika boleh manusia sujud pada manusia lain, maka akan aku perintahkan para istri untuk sujud dikaki suaminya.

Sebuah refleksi hubungan anak dengan orang tua, orang tua yang selalu menyayangi anaknya seumur hidupnya. Sayang anak sepanjang galah, sayang ibu sepanjang jalan, benar-benar menjadi perenungan untuk kita semua.

Walaupun tak ada orang tua yang menghayalkan akan menjadi beban anaknya ketika tua. Namun bakti anak kepada orang tua adalah balas budi yang tak boleh diingkari.

Seorang ayah, siang malam ada yang membanting tulang dan memeras keringat sepanjang hidupnya demi anak-anaknya tumbuh besar dan mandiri adalah salah satu bentuk pengorbanan yang tak mungkin mampu kita ingkari. Berbakti pada ayah, sampai kapan pun perlu dilakukan anak. Terutama anak laki-laki.

Ketika prahara rumah tangga telah terjadi. Kondisi terburuk hingga menyebabkan perceraian. Pasti akan sangat bahagia, jika waktu bisa diputar ulang. Sayagnya waktu tetap berjalan, waktu selalu meninggalkan kita setiap detiknya.

Berjalannya waktu, menjadikan penyesalan datang belakangan. Kenangan indah di masa lalu hilang bagai mimpi indah kemudian terbangun dan menyaksikan kondisi nyata yang tidak bahagia.

Seandainya waktu bisa kita putar ulang, pasti tak akan ada perceraian sebuah penikahan. Sejatinya pernikahan adalah hasil akhir dari sebuah perjalanan cinta dua anak manusia. Endingnya adalah pelaminan dan senyum kebahagiaan. Sayangnya ada yang putus dan hancur ditengah jalan.



Masyarakat Banjar Hulu dan Kebiasaannya


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di