CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Bengkulu /
[ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok Poso
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6bad6ba2d19552aa72fdf1/coc-regional--kebudayaan--tarawa-umah-surau-masok-poso

[ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok Poso


[ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok PosoSehabis Shalat Ashar ratusan warga Desa Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu berjalan tertib menuju masjid, sementara para bocah tampak berlarian, penuh suasana meriah. Di tangan para kaum ibu dan bapak tampak membawa rantang, lauk pauk, makanan beragam jenis. Setiba di masjid kue-kue dan menu makanan yang dibawa warga itu dikumpulkan menjadi satu doa bersama, dan dilanjutkan dengan makan bersama. Setiap warga akan disuguhkan makanan melalui rantang-rantang yang telah disiapkan para ibu-ibu. Masing-masing orang harus mengetahui rantang yang dia makan milik siapa. Kemudian akan mengembalikan kepada pemilik rantang. Siti warga setempat, mengisahkan, ini merupakan tradisi yang dinamakan "Tarawa Umah Surau Surau Masok Poso" yang artinya Doa Rumah Masjid Masuk Puasa.
 [ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok Poso
RAMADHAN adalah tamu agung yang kedatangannya selalu dinanti-nantikan tanpa mengharap untuk ditinggalkan. Itulah mengapa ada banyak hal yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut kedatangannya.
 
Menyambut kedatangan Ramadhan yang agung tentu persiapan yang dilakukan tidaklah sama dengan tahun-tahun yang telah berlalu. Harus ada peningkatan yang lebih dan hal itu tidaklah mungkin akan terwujud kecuali jika kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Keberhasilan kita pada Bulan Ramadhan tahun ini, insyaallah, tergantung pada upaya kita menyambut kedatangannya, maksimal atau kah tidak.
 
“Ramadhan tahun ini insyaallah akan menjadi Ramadhan kita ya untuk pertama kalinya,” ungkap salah seorang teman yang sama-sama baru merasakan tinggal di negeri  Mesir.
 
Benar. Penulis pun merasakan bahwa ada banyak sekali perbedaan yang dialami. Terlebih Bulan Ramadhan bertepatan dengan waktunya musim panas. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya wilayah Timur Tengah yang hanya dikelilingi hamparan padang pasir tanpa pepohonan nan hijau seperti yang Allah Subhanahu Wata’ala anugerahkan untuk negeri pertiwi, Indonesia tercinta.
 
Musim panas di Negeri Seribu Menara ini, ketika pucaknya bisa sampai 50o C dan juga waktu siang lebih panjang dibandingkan waktu malamnya. Sehingga waktu puasa pun akan lebih lama. Itulah mengapa, bagikita (penulis) dan teman-teman di tahun-tahun pertama tinggal di negeri Timur Tengah harus lebih ekstra untuk mempersiapkannya.
 [ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok Poso
 
Di bulan Sya’ban ini sudah harus banyak berlatih sehingga akan menjadi terbiasa ketika tamu agung, Ramadhan,nanti datang. Hal semacamini pun sebenarnya tidak hanya bagi yang tinggaldi Timur Tengah, yaitu membiasakan diri berlatih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban yang pahalanya sangat besar di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.
 
sebenarnya bagaimana caranya agar kita menyambut tamu agung ini agar tidak terlewatkan dengan penyesalan?
 
Pertama, di pertengahan bulanSya’ban yang mulia ini kita memohon ampunan kepada Allah dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan memperbanyak puasa di dalamnya.
 
Ratusan masyarakat secara sukarela dan penuh suka cita membawa makanan tersebut ke masjid. Setiap masyarakat berpartisipasi tanpa ada unsur paksaan. Makanan dan kue yang dibawa pun tidak ditentukan, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga. "Ini intinya kebersamaan, siapa boleh membawa makanan dalam bentuk apa saja, semampunya, semua dilakukan atas unsur kebersamaan," kata Siti. Sebelumnya, kata Siti masyarakat melakukan gotong royong membersihkan masjid dan menyiapkan segala kebutuhan saat bulan Ramadhan dan persiapan shalat tarawih. Masyarakat juga telah membentuk panitia khusus yang akan mengatur jadwal tadarus, shalat tarawih, hingga memberikan takjil di masjid untuk masyarakat secara sukarela. "Selain itu melalui Tarawa Umah Surau Masok Poso, semua warga berkumpul dan memiliki kesempatan saling bermaaf-maafan, sehingga puasa dan ibadahnya khusyuk selama Ramadhan," katanya. Tradisi mandi balimau Ritual ini dilakukan ketika H-3 sebelum memasuki bulan Ramadhan.Kemudian H-1 sekitar, pukul 15.00 WIB masyarakat akan berkumpul di sungai, jika masyakat Desa Pondok Suguh biasanya akan beramai-ramai mandi wajib di sungai bendungan Air Manjunto. Tradisi 'balimau' itu hingga sekarang masih dipertahankan setiap tahun di Mukomuko menjelang atau satu hari sebelum puasa pertama. Tujuannya untuk membersihkan diri secara lahir dan batin sehingga dapat menjalankan ibadah sebaik-baiknya. Para warga akan berkumpul di sungai mandi menggunakan jeruk dan bunga-bungaan. Mandi balimau bersama ini memiliki kesenangan sendiri bagi masyarakat Mukomuko, tidak hanya sekedar melaksanakan tradisi tapi juga berkumpul bersama. Tradisi balimau yang dilaksanakan masyarakat Mukomuko sama seperti yang biasa dilaksanakan masyarakat Sumatera Barat. Karena memang daerah ini terletak berbatasan langsung dengan provinsi yang masyarakatnya dikenal dengan masyarakat Minangkabau itu.
 [ COC Regional : Kebudayaan ] Tarawa Umah Surau Masok Poso

Bengkulu yang ditetapkan sebagai provinsi pada 18 November 1968 itu, kini memiliki sepuluh kabupaten/kota, yakni Kota Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu Selatan, Kabupaten Kaur dan Kabupaten Seluma.
 
Bengkulu juga menjadi salah satu mata rantai yang selalu dicatat oleh sejarah. Salah satu alasannya karena di bumi Rafflesia ini pula, Soekarno presiden pertama Republik Indonesia pernah menjalani pengasingan oleh pemerintah kolonial, selama empat tahun, 1938-1942. Seokarno kemudian menemukan cintanya di sini. Dia terpikat hati dengan salah seorang putri warga Muahammadiyah bernama Fatmawati. Putri yang dilahirkan di Desa Malabero, Kota Bengkulu, 5 Februari 1923 ini merupakan anak tunggal dari pasangan Hasan Din (Tokoh Muhammadiyah Bengkulu) dan Siti Chadijah.
 
Seokarno menikahi Fatmawati tahun 1943, ketika itu Fatmawati tepat menginjak usia 20 tahun. Pasangan itu dikaruniai lima anak, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.
 
Ketika Seokarno menjadi Presiden Republik Indonesia, Ibu Fatmawati menjadi seorang ibu negara. Bendera pusaka merah-putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945 tak lain adalah jahitan tangan Bu Fat.
 
Pada tanggal 18 November 1968, atas dasar UU No. 9/1967 Junkto Peraturan Pemerintah No. 20/1968, Keresidenan Bengkulu diresmikan menjadi salah satu Provinsi di Republik Indonesia yang ke-26 dengan Ali Amin sebagai Gubernur Bengkulu.


Sumber 1
Sumber 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di