CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Bengkulu /
[ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6baa02f0bdb2452b782dc5/coc-regional--kesenian--selain-di-jawa-bengkulu-juga-ada-kuda-kepang

[ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang

[ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang
Kesenian kuda kepang menjadi salah satu seni budaya yang akan menjadi andalan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) dalam menarik wisatawan melalui program Wonderful Bengkulu 2020. Karena, seni budaya ini merupakan seni warisan dan asli Indonesia.
 
Untuk itu juga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Benteng telah menggelar kegiatan perlombaan seni kuda kepang yang diikuti banyak peserta dari seluruh daerah yang ada di Provinsi Bengkulu. Seperti Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara (BU), Rejang Lebong, serta Kepahiang. Perlombaan dilaksanakan di Lapangan Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Minggu (10/3).
 
Plt. Kadisparbud Benteng, Gunawan Wibisana Rifki, S.STP, MH menjelaskan, pihaknya bukan hanya mengandalkan potensi wisata alam dalam menggaet pengunjung untuk berwisata ke Benteng. Namun melalui seni budaya juga merupakan bagian dalam upaya mendatangkan dan meningkatkan tahun kunjungan wisata. “Benteng dengan beragam sukunya, juga memiliki seni budaya kuda kepang,” jelasnya.
 [ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang

Hal ini juga harus tetap dipertahankan dan terus dikembangkan. Melalui kegiatan yang dilaksanakan dalam perlombaan kuda kepang, Gunawan berharap tali silarurahmi antara pelaku seni, masyarakat apalagi dari luar daerah Benteng bisa semakin meningkat. Tentunya dalam membantu untuk peningkatan wisata khususnya di Provinsi Bengkulu.
 
“Dengan ambil bagiannya seni kuda kepang, diharapkan pengunjung akan semakin banyak pilihan dalam mengunjungi daerah wisata terutama di Kabupaten Benteng,” katanya.
 
Sementara itu, Kabid Pariwisata, Eka Nurmeini, S.Sos mengungkapkan, peserta yang datang dari berbagai daerah merupakan bentuk dukungan untuk terus menjadikan seni kuda kepang sebagai salah satu aset wisata di Provinsi Bengkulu. Apalagi peserta juga banyak berasal dari luar Benteng, tentu merupakan bentuk dukungan dan peran aktif melalui budaya dalam memajukan dunia pariwisata di Provinsi Bengkulu.
 
“Semua daerah mengirimkan peserta untuk kegiatan kuda kepang yang dilaksanakan di Kabupaten Benteng,” demikian Eka.
 [ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang
BUNYI Gamelan, Gong, Bonang (Kenong), Saron dan Kendang terdengar seirama menggema bak bunyi musik kerajaan. Sesekali terlihat gelak canda tawa dalam bahasa jawa. Nampak beberapa orang menghisap cerutu dan didominasi kalangan uzur alias orang tua. Mereka kompak memainkan sejumlah alat musik dengan irama asik dan tembang jawa. Ya, mereka adalah kelompok pecinta dan penggiat seni tradisional leluhur tanah jawa,  “Kuda Kepang ”  yang bertahan dan melestarikannya di tanah Sumatera.
 
BAGI sebagian orang, pada jaman serba modern saat ini, seni  tradisional kuda lumping sudah ketinggalan. Bahkan, ancaman kemajuan zaman membuat seni peninggalan leluhur dari tanah jawa ini terancam hilang ditelan zaman. Untuk melestarikannya, sejumlah penggiat dan pecinta seni kuda lumping masih “telaten” menggelutinya”.
 
Sebut saja komunitas kuda lumping,” Condro Warso Aliy,”  pimpinan ” Mbah Kasno yang berada di Petai Keriting, Kelurahan Sido Mulyo, Kecamatan Seluma Selatan. “Saat ini Kuda Lumping atau jaranan hampir tersisihkan. Bahkan, anak muda juga sudah mulai langka untuk mau belajar dan mempertahankan seni ini. Tidak hanya itu, para pengambil kebijakan juga terkesan kurang peduli, hal ini dapat dilihat dengan minimnya bantuan atau setidaknya “nanggap” di setiap moment penting, hari besar, HUT RI atau kegiatan pemerintahan lainnya,” ujar Mbah Kasno, sembari sesekali mengayunkan tangannya ke alat musik jenis Saron, Minggu (1/2) malam.
 
Menurutnya, bagi mereka bermain kuda kepang, bukanlah ajang untuk mencari keuntungan atau penghasilan. Melainkan untuk menjaga,melestarikan dan mengenalkan tradisi turun menurun bagi kalangan anak muda. “Main kuda kepang bukan untuk cari uang, tapi hobby,” kata dia.
 
Meski kelompok jaranan yang mereka tekuni didomniasi kalangan orang tua, menurutnya semangat jaran kepang tak pernah hilang. Meski jaman terus berkembang, merekapun tetap pada pendiriannya memajukan dan mengenalkan jaran kepang khususnya di Kabupaten Seluma. “Latihan kami rutin setiap malam minggu. Itupun yang datang, sudah tua-tua,” ujarnya.
 [ COC Regional : Kesenian ] Selain di Jawa, Bengkulu Juga Ada Kuda Kepang
Dibagian lain, tokoh pemuda jawa yang juga menggeluti seni kuda lumping Ridwan B. Sutrisno menyampaikan kebanggannya atas pelestarian budaya jawa di tanah sumatera. “Meskipun butuh waktu, target tetap membina dan mengajak kalangan anak muda untuk tetap peduli dan menjaga warisan budaya. Dengan cara swadaya, dan mengkombinasikan seni tanpa menghilangkan aslinya, akan menarik simpati kalangan anak muda,” sampai Ridwan.
 
Menurutnya, melalui seni , juga merupakan salah satu upaya pembinaan generasi muda yang saat ini telah terjangkiti dengan sejumlah bahaya pergaulan negatif. “Dengan seni bisa menghilangkan atau lebih kepada nilai positif,” sampainya.
 
Diapun berharap, Paguyuban yang digelutinya bersama masyarakat jawa di Seluma tetap eksis tak lekang dimakan jaman. Sejarah singkat, kuda lumping atau sering disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian sejarah menceritakan, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar jhatil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial legenda reog abad ke 8.
 
Terlepas dari itu semua, asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping atau jaran kepang merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau Kavaleri. Hal ini terlihat dengan gerakan-gerakan ritmi, dinamis, dan agresif melalui gerakan dan hentakan tarian kuda lumping ditengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukannya, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magic, seperti atraksi mengunyah kaca, mengupas kelapa dengan gigi, memakan ayam mentah dan lain-lainnya.
 
Atraksi semacam ini merefleksikan kekuatan supranatural yang zaman dahulu berkembang di lingkungan kerajaan Jawa. Dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan penjajah.


[url=Kesenian kuda kepang menjadi salah satu seni budaya yang akan menjadi andalan Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) dalam menarik wisatawan melalui program Wonderful Bengkulu 2020. Karena, seni budaya ini merupakan seni warisan dan asli Indonesia.  Untuk itu juga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Benteng telah menggelar kegiatan perlombaan seni kuda kepang yang diikuti banyak peserta dari seluruh daerah yang ada di Provinsi Bengkulu. Seperti Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara (BU), Rejang Lebong, serta Kepahiang. Perlombaan dilaksanakan di Lapangan Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Minggu (10/3).  Plt. Kadisparbud Benteng, Gunawan Wibisana Rifki, S.STP, MH menjelaskan, pihaknya bukan hanya mengandalkan potensi wisata alam dalam menggaet pengunjung untuk berwisata ke Benteng. Namun melalui seni budaya juga merupakan bagian dalam upaya mendatangkan dan meningkatkan tahun kunjungan wisata. “Benteng dengan beragam sukunya, juga memiliki seni budaya kuda kepang,” jelasnya.  Hal ini juga harus tetap dipertahankan dan terus dikembangkan. Melalui kegiatan yang dilaksanakan dalam perlombaan kuda kepang, Gunawan berharap tali silarurahmi antara pelaku seni, masyarakat apalagi dari luar daerah Benteng bisa semakin meningkat. Tentunya dalam membantu untuk peningkatan wisata khususnya di Provinsi Bengkulu.  “Dengan ambil bagiannya seni kuda kepang, diharapkan pengunjung akan semakin banyak pilihan dalam mengunjungi daerah wisata terutama di Kabupaten Benteng,” katanya.  Sementara itu, Kabid Pariwisata, Eka Nurmeini, S.Sos mengungkapkan, peserta yang datang dari berbagai daerah merupakan bentuk dukungan untuk terus menjadikan seni kuda kepang sebagai salah satu aset wisata di Provinsi Bengkulu. Apalagi peserta juga banyak berasal dari luar Benteng, tentu merupakan bentuk dukungan dan peran aktif melalui budaya dalam memajukan dunia pariwisata di Provinsi Bengkulu.  “Semua daerah mengirimkan peserta untuk kegiatan kuda kepang yang dilaksanakan di Kabupaten Benteng,” demikian Eka.  BUNYI Gamelan, Gong, Bonang (Kenong), Saron dan Kendang terdengar seirama menggema bak bunyi musik kerajaan. Sesekali terlihat gelak canda tawa dalam bahasa jawa. Nampak beberapa orang menghisap cerutu dan didominasi kalangan uzur alias orang tua. Mereka kompak memainkan sejumlah alat musik dengan irama asik dan tembang jawa. Ya, mereka adalah kelompok pecinta dan penggiat seni tradisional leluhur tanah jawa,  “Kuda Kepang ”  yang bertahan dan melestarikannya di tanah Sumatera.  BAGI sebagian orang, pada jaman serba modern saat ini, seni  tradisional kuda lumping sudah ketinggalan. Bahkan, ancaman kemajuan zaman membuat seni peninggalan leluhur dari tanah jawa ini terancam hilang ditelan zaman. Untuk melestarikannya, sejumlah penggiat dan pecinta seni kuda lumping masih “telaten” menggelutinya”.  Sebut saja komunitas kuda lumping,” Condro Warso Aliy,”  pimpinan ” Mbah Kasno yang berada di Petai Keriting, Kelurahan Sido Mulyo, Kecamatan Seluma Selatan. “Saat ini Kuda Lumping atau jaranan hampir tersisihkan. Bahkan, anak muda juga sudah mulai langka untuk mau belajar dan mempertahankan seni ini. Tidak hanya itu, para pengambil kebijakan juga terkesan kurang peduli, hal ini dapat dilihat dengan minimnya bantuan atau setidaknya “nanggap” di setiap moment penting, hari besar, HUT RI atau kegiatan pemerintahan lainnya,” ujar Mbah Kasno, sembari sesekali mengayunkan tangannya ke alat musik jenis Saron, Minggu (1/2) malam.  Menurutnya, bagi mereka bermain kuda kepang, bukanlah ajang untuk mencari keuntungan atau penghasilan. Melainkan untuk menjaga,melestarikan dan mengenalkan tradisi turun menurun bagi kalangan anak muda. “Main kuda kepang bukan untuk cari uang, tapi hobby,” kata dia.  Meski kelompok jaranan yang mereka tekuni didomniasi kalangan orang tua, menurutnya semangat jaran kepang tak pernah hilang. Meski jaman terus berkembang, merekapun tetap pada pendiriannya memajukan dan mengenalkan jaran kepang khususnya di Kabupaten Seluma. “Latihan kami rutin setiap malam minggu. Itupun yang datang, sudah tua-tua,” ujarnya.  Dibagian lain, tokoh pemuda jawa yang juga menggeluti seni kuda lumping Ridwan B. Sutrisno menyampaikan kebanggannya atas pelestarian budaya jawa di tanah sumatera. “Meskipun butuh waktu, target tetap membina dan mengajak kalangan anak muda untuk tetap peduli dan menjaga warisan budaya. Dengan cara swadaya, dan mengkombinasikan seni tanpa menghilangkan aslinya, akan menarik simpati kalangan anak muda,” sampai Ridwan.  Menurutnya, melalui seni , juga merupakan salah satu upaya pembinaan generasi muda yang saat ini telah terjangkiti dengan sejumlah bahaya pergaulan negatif. “Dengan seni bisa menghilangkan atau lebih kepada nilai positif,” sampainya.  Diapun berharap, Paguyuban yang digelutinya bersama masyarakat jawa di Seluma tetap eksis tak lekang dimakan jaman. Sejarah singkat, kuda lumping atau sering disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagian sejarah menceritakan, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar jhatil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial legenda reog abad ke 8.  Terlepas dari itu semua, asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping atau jaran kepang merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau Kavaleri. Hal ini terlihat dengan gerakan-gerakan ritmi, dinamis, dan agresif melalui gerakan dan hentakan tarian kuda lumping ditengah peperangan. Seringkali dalam pertunjukannya, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magic, seperti atraksi mengunyah kaca, mengupas kelapa dengan gigi, memakan ayam mentah dan lain-lainnya.  Atraksi semacam ini merefleksikan kekuatan supranatural yang zaman dahulu berkembang di lingkungan kerajaan Jawa. Dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan penjajah.]Sumber 1[/url]
Sumber 2



GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di