CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Madura /
[COC Regional : Kebudayaan] Makna Dari Tanean Lanjhang
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6ba88bc8208424791af061/coc-regional--kebudayaan-makna-dari-tanean-lanjhang

[COC Regional : Kebudayaan] Makna Dari Tanean Lanjhang

[COC Regional : Kebudayaan] Makna Dari Tanean Lanjhang
Tanean Lanjhang merupakan Permukiman tradisional masyarakat Madura, yaitu suatu kumpulan rumah yang terdiri atas dasar kekeluargaan atau kerabat yang mengikatnya. Rumah adat suku Madura Tanean Lanjhang ini juga terinspirasi dari gambaran kehidupan sosial budaya mereka. Karena itu pola dari rumah adat ini memiliki beberapa hal yang unik yang di timbulkan dari nilai-nilai falsafah kehidupan sosial masyarakat Pulau garam tersebut. Susunan rumah disusun berdasarkan hierarki dalam keluarga. Barat-timur adalah arah yang menunjukan urutan tua muda. Sistem yang demikian mengakibatkan ikatan kekeluargaan menjadi sangat erat. Sedangkan hubungan antar kelompok sangat renggang karena letak permukiman yang menyebar dan terpisah. Ketergantungan keluarga tertentu pada lahan masing masing. Di ujung paling barat terletak langgar. Bagian utara merupakan kelompok rumah yang tersusun sesuai hierarki keluarga. Susunan barat-timur terletak rumah orang tua, anak-anak, cucucucu, dan cicit-cicit dari keturunan perempuan. Kelompok keluarga yang demikian yang disebut koren atau rumpun bambu. Istilah ini sangat cocok karena satu koren berarti satu keluarga inti
Terbentuknya permukiman tradisional Madura diawali dengan sebuah rumah induk yang disebut dengan tonghuh. Tonghuh adalah rumah cikal bakal atau leluhur suatu keluarga. Tonghuh dilengkapi dengan langgar, kandang, dan dapur. Apabila sebuah keluarga memiliki anak yang berumah tangga, khususnya anak perempuan, maka orang tua akan atau bahkan ada keharusan untuk membuatkan rumah bagi anak perempuan. Penempatan rumah untuk anak perempuan berada pada posisi di sebelah timurnya. Kelompok pemukiman yang demikian disebut pamengkang, demikian juga bila generasi berikutnya telah menempati maka akan terbentuk koren dan sampai tanean lanjang. Susunan demikian terus menerus berkembang dari masa ke masa.

Apabila susunan ini terlalu panjang maka susunan berubah menjadi berhadapan. Urutan susunan rumah tetap dimulai dari ujung barat kemudian berakhir di ujung timur. Pertimbangan ini dikaitkan dengan terbatasnya lahan garapan, sehingga sebisa mungkin tidak mengurangi lahan garapan yang ada. Jadi, untuk melacak satu alur keturunan dapat dilacak melalui susunan penghuni rumahnya. Generasi terpanjang dapat dilihat sampai dengan 5 generasi yaitu di tanean lanjang. Posisi tonghuh selalu ada di ujung barat sesudah langgar. Langgar selalu berada di ujung barat sebagai akhiran masa bangunan yang ada. Susunan rumah tersebut selalu berorientasi utara-selatan. Halaman di tengah inilah yang disebut Tanean Lanjhang.

material pada bangunan ini biasanya Masyarakat pulau Garam biasa menggunakan bahan material bangunan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
Namun sebagian karena semakin berkembangnya zaman bahan material sering ditambahkan dengan bahan material yang modern.
Bagian lantai biasa nya hanya menggunakan alas tanah, tetapi ada juga yang plesteran semen biasa. Tetapi semakin kesini banyak masyarakat yang mulai menambahkan keramik pada bagian lantai. Tinggi lantai disesuaikan dengan tanah disekitar karena untuk menghindari naiknya air hujan ke permukaan lantai rumah ketika terjadi hujan.
Pada bagian atap masyarakat Madura menggunakan genting tanah, ditutupi dengan daun alang-alang atau daun nipah. Ada beberapa desain yang terkenal dibagian atap rumah adat suku Madura ini di antaranya Desain Pacenan, ada hiasan berupa ekor atau tanduk dibagian bubungan nya seperti bangunan rumah China. Desain Jadrih, memiliki dua bubungan. Desain Trompesan, biasanya atapnya dibagi menjadi tiga patahan.
Pada bagian dinding atau kerangka rumah dibuat dari kayu yang sudah dibentuk dulu sebelumnya. Kerangka dindingnya dari kayu balok, dinding nya sendiri menggunakan papan, dan kerangka atapnya terbuat dari bambu yang sudah kering dan dipotong-potong kecil memanjang. Rumah adat ini masih terlihat di sebagian besar masyarakat pelosok Pulau Garam ini, mereka terutama yang di pelosok masih menjunjung tinggi tali kekerabatan mereka dengan cara menjaga lambang-lambang yang ada di bangunan rumah adat ini.
Quote:

Rumah Adat Tanean Lanjhang ini merupakan permukiman tradisional masyarakat Pulau Garam yang letak rumah nya berkumpul dalam satu lingkungan yang pemilik nya masih terikat dalam satu sanak keluarga.

Rumah induk ini biasanya terdapat tanda di atapnya berupa hiasan 2 jengger ayam dan posisinya berhadapan seperti batu nisan pada sebuah kuburan yang biasa kita lihat. Konon hiasan model ini bertujuan untuk mengingatkan penghuni rumah tentang kematian, yang pasti setiap orang akan mengalami hal itu.
Rumah adat Madura Tanean Lanjhang ini hanya memiliki satu pintu di depan, hal ini untuk memudahkan pemilik rumah mengontrol aktivitas keluar masuk anggota keluarganya. Pada bagian pintu ini biasanya dihiasi ukiran-ukiran asli Madura pulau Garam, dengan warna hijau dan merah yang merupakan lambang perjuangan pahlawan dan kesetiannya. Dibagian dinding bagian depan biasanya ada sebuah gambar lukisan bunga, gambar lukisan ini menggambarkan keharmonisan keluarga.

Pada bagian dalam rumah berdiri 4 buah pilar yang dijadikan penyangga yang tampak kokoh dengan menggunakan kayu jati. Pilar-pilar ini disebut dengan pilar pasarean, pilar ini terhubung satu dengan lainya dan membentuk seperti bujur sangkar.



Referensi 1, 2, 3, 4


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di