CARI
KATEGORI
KATEGORI
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
Home / REGIONAL / All / ... / Madura /
[COC Regional : Kebudayaan] 5 Tradisi Madura Yang Jarang Ditemui Di Tempat Lain
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e6b9fcdc342bb4c411e5f62/coc-regional--kebudayaan-5-tradisi-madura-yang-jarang-ditemui-di-tempat-lain

[COC Regional : Kebudayaan] 5 Tradisi Madura Yang Jarang Ditemui Di Tempat Lain

5 Tradisi Madura Yang Jarang Ditemui Di Tempat Lain
[COC Regional : Kebudayaan] 5 Tradisi Madura Yang Jarang Ditemui Di Tempat Lain

Assalamualaikum Wr. Wb.
Halo gan sist kaskuser raya dimanapun kalian berada
Sehubungan dengan adanya event COC Serentak seluruh regional se-Kaskus Raya, ane ikut serta meramaikan nih. Kali ini bertema tentang kebudayaan di Madura pastinya dong gan sist.
Silakan disimak dan ditunggu komentarnya ya gan sist... emoticon-Kiss (S)

emoticon-Kaskus Lovers emoticon-Kaskus Lovers emoticon-Kaskus Lovers


Siapa sih yang tidak tahu pulau madura, kalian tentu pasti sudah tahu kan! Jadi, saya selaku orang Madura asli saya akan menceritakan apa itu Suku Madura secara lebih mendalam dalam sebuah artikel di bawah ini!. Jangan lupa dibaca sampai selesai ya teman- teman!
Suku Madura merupakan Suku Bangsa yang mendiami wilayah Pulau Madura dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Letak Pulau Madura sendiri berada di ujung utara wilayah Jawa Timur. Antara Pulau Madura dan Jawa sekarang ini telah terhubung dengan adanya jalan tol jembatan Suramadu. Suku Madura merupakan salah satu Suku Bangsa Indonesia yang memiliki populasi cukup besar dan tersebar tidak hanya di pulau Madura melainkan di wilayah-wilayah lain Indonesia karena budaya perantauannya. Kebudayaan Suku Madura merupakan salah satu yang paling terkenal di Indonesia, pakaian adatnya yang bercorak garis horizontal warna merah dan putih merupakan yang familiar dikenal oleh kebanyakan orang.

Suku Madura mendiami 4 kabupaten di pulau Madura yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sumenep merupakan wilayah yang dipercaya sebagai pusat kerajaan Madura pada zaman dahulu. Oleh sebab itu dialek bahasa Madura yang dijadikan bahasa pemersatu adalah dialek Sumenep. Suku Madura memiliki beberapa propduk budaya yang masih mirip dengan kebudayaan suku Jawa, selain karena faktor kedekatan geografis adalah karena faktor ekspanasi kerajaan Majapahit pada zaman dulu yang juga memesuki wilayah Madura dan akhirnya terjadi percampuran Budaya. Namun, beberapa bentuk kebudayaan masih menunjukkan ciri khas dari pribumi Suku Madura sendiri. Inilah beberapa bentuk kebudayaan dan kebiasaan dari Suku Madura yang terkenal :

1. PESA’AN

[COC Regional : Kebudayaan] 5 Tradisi Madura Yang Jarang Ditemui Di Tempat Lain


PESA’AN merupakan sebutan bagi pakaian tradisional khas suku Madura. PESA’AN pada pakaian pria terdiri dari kaos yang bermotif garis dengan warna merah dan putih yang dipadupadankan dengan baju dan celana longgar berwarna hitam. Sebagai pelengkap digunakan ikat kepala yang disebut odheng dan juga senjata tradisional clurit yang diselempangkan. Sedangkan pada wanita lebih sederhana dan lebih mirip dengan pakaian Suku Jawa dengan atasan kebaya dan bawahan kain jarit.

Pada zaman dahulu PESA’AN biasa digunakan oleh para guru agama atau biasa disebut dengan molang. Warna dan motif garis yang ada pada kaos PESA’AN memiliki makna ketegasan dan keberanian serta semangat kerja keras. Oleh sebab itu Suku Madura dikenal sebagai masyarakat yang memiliki pribadi berani, keras, tegas serta memiliki etos kerja keras yang tinggi.

2. CLURIT
Suku Madura memiliki senjata tradisional yang sangat khas yang disebut CLURIT. Bentuk CLURIT mirip dengan arit pada Suku Jawa yang biasa di gunakan untuk bertani dan berkebun . perbedaannya, bentuk CLURIT lebih ramping dan lingkar lengkung yang lebih tipis serta memiliki ujung yang lebih lancip. CLURIT dilengkapi dengan gagang yang terbuat dari besi dan kayu.

Keberadaan CLURIT pada masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dari legenda pak Sakera. Konon pada zaman dahulu, pak Sakera merupakan seorang mandor kebun yang selalu membawa CLURIT ketika bekerja dan mengawasi pegawai perkebunannya. Pada masa penjajahan Belanda , pak Sakera merupakan sosok pejuang rakyat yang dengan CLURITNYA berani melawan para jagoan ( biasa disebut blater) yang sudah dibeli oleh Belanda untuk menguasai tanah Madura. Beliau merupakan sosok pemberontak dari kalangan santri yang sangat tegas menolak penjajahan Belanda. Sejak saat itu CLURIT menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Suku Madura. CLURIT merupakan simbol perjuangan dan keberanian rakyat Madura.

3. SARONEN
SARONEN merupakan alat musik tradisional khas Suku Madura. SARONEN memiliki bentuk kerucut memanjang menyerupai terompet yang dimainkan dengan cara ditiup. SARONEN awal mulanya lebih dikenal dengan nama sennenan yang artinya hari senin. Sejarah SARONEN berawal dari kyai khatib sendang yang merupakan cicit dari sunan kudus menggunakan alat ini sebagai media dakwahnya untuk menyebarkan islam di Madura. Setiap hari senin kyai khatib menggunakan alat musik tiup ini untuk mengumpulkan masyarakat Madura yang tengah berbelanja di pasar dan sekaligus menghibur mereka. Selepas mereka berkumpul dan terhibur kyai khatib menyelinginya dengan dakwah nilai-nilai islam . oleh sebab itu alat musik tiup ini awal mulanya lebih dikenal dengan sennenan. Bentuk alat musik sennenan atau saronen serta bunyi khas yang dikeluarkannya mirip dengan alat musik selompret yang digunakan pada kesenian reog pada kebudayaan Ponorogo dan biasa juga dipakai dalam kesenian kuda lumping.

Dalam perkembangannya saronen kemudian menjadi tradisi kesenian musik tersendiri. Tidak lagi hanya berbicara alat musik tiup, saronen dimainkan dengan iringan beberapa alat musik lain, diantaranya kendang, gong besar, gong kecil, kenong besar, kenong kecil serta kempul. Kesenian SARONEN biasa dimainkan ketika ada pesta adat pernikahan, pesta adat rakyat ataupun ketika penyelenggaraan turnamen karapan sapi.

4. KERAPAN SAPEH
KERAPAN SAPEH atau lebih familiar disebut dengan karapan sapi, merupakan Kebudayaan Suku Madura yang sangat khas dan terkenal. Karapan sapi merupakan kesenian pesta adat rakyat berupa perlombaan dengan menggunakan semacam gerobak yang ditarik oleh dua ekor sapi yang dan teradapat satu joki sebagai pengendali laju sapi. Sejarah karapan sapi berawal dari Syeh Ahmad Baidawi yang memperkenalkan kepada masyarakat Madura tentang cara bercocok tanam sawah dengan menggunakan alat dari sepasang bambu disebut ‘nanggala’ atau ‘salaga’. Nanggala atau salaga ini ditarik oleh dua ekor sapi yang kemudian digunakan untuk membajak persawahan. Karapan sapi pada awal mulanya digunakan untuk menyeleksi sapi-sapi terbaik yang bisa digunakan untuk membajak sawah. Namun kemudian hal ini berkembang menjadi tradisi dan kesenian sendiri.

Masyarakat Madura biasa mengadakan perlombaan karapan sapi pada sekitar bulan-bulan Agustus dan September dan finalnya biasa dilaksanakn pada bulan Oktober. Tradisi tahunan karapan sapi ini cukup bergengsi di kalangan Suku Madura kerena sapi yang menjadi juara pada perlombaan ini selain meningkatkan status daya jualnya, juga dapat meningkatkan status sosial pemilik sapi. Karapan sapi ini biasa dilaksanakan pada areal persawahan dengan panjang lintasan sekitar 100 meter. Joki-joki karapan sapi harus berusaha memacu sapi-sapi mereka untuk dapat mencapai garis finish terlebih dahulu, yang tercepatlah yang dinyatakan sebagai pemenang.

5. BHUBU’AN
Tradisi BHUBU’AN dikembangkan oleh masyarakat Suku Madura yang mendiami wilayah Bangkalan. Tradisi BHUBU’AN merupakan tradisi memberi kado pada hajat pernikahan. Pada zaman dahulu, BHUBU’AN berupa bahan pangan sembako, namun seiring perkembangan zaman, sekarang sudah lebih banyak menggunakan uang.

Pada tradisi BHUBU’AN, para tamu undangan biasanya menyerahkan kadop pemberian mereka kepada para penerima tamu. Para penerima tamu ini lantas kemudian mencatat nama dan besaran pemberian atau barang-barang apa saja yang diberikan sebagai kado pemberian. Fungsi pencatat ini nantinya sebagai administrasi bagi tuan rumah yang memiliki hajat untuk mengembalikan kembali kado pemberian tersebut pada pemberinya. Maksudnya ketika nanti si pemberi kiado sedang ada hajat, maka tuan rumah tadi akan membawa bhubu’an yang senilai dengan diberikan atau bisa lebih. Tradisi ini menunjukkan sikap sosial suku Madura yang tolong menolong.


Bagaimana tanggapan kalian sangat seru dan menarik kan thread ini. Tentu saja pasti menarik, kan Pulau Madura memang sangat bagus keduyaan dan kelestariannya. Jadi untuk kalian yang belum pernah ke Madura, jangan lupa mampir ya! Aku pastikan gak akan nyesel kok.emoticon-I Love Indonesia (S)


Quote:


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di